cover
Contact Name
Rizky Saputra
Contact Email
rizkysaputra01b@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
komunikologi@uinsu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial
ISSN : 25287583     EISSN : 26218267     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Komunikologi : Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial merupakan jurnal di bawah pengelolaan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2023)" : 6 Documents clear
Makna Komunikasi Pertunjukan Tari Gandai Pada Masyarakat Suku Pekal (Studi Kasus Desa Sibak. Kecamatan Ipuh. Kabupaten Mukomuko) Saputra, Ezi; Hadiprashada, Dhanurseto; Muzni, Nurlianti
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.16282

Abstract

AbstrakTari gandai merupakan tari yang masih sering dipertunjukan di berbagai acara pada masyarakat Suku Pekal di Desa Sibak, akan tetapi kebanyakan masyarakat tidak mengetahui secara utuh makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna komunikasi pertunjukan tari gandai pada masyarakat Suku Pekal di Desa Sibak. Teknik pengumpulan data melalui, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian berjumlah lima orang yang diperoleh menggunakan teknik purposive samplin. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa simbol-simbol yang digunakan penari (anok gandai) saat pertunjukan tari gandai berupa gerakan. Pada tahap pembukaan peneliti mendapatkan satu makna, sedangkan pada tahap pertunjukan miliki lima gerakan yang memiliki makna, dan tahap penutupan terdapat satu gerakan memiliki makna. Selain itu terdapat juga makna pada busana yang dipakai penari (anok gandai), berupa selendang, kebaya, serta kain panjang dan sedangkan tempat pertunjukan sebagai penunjuk penggunaan tari gandai untuk acara apa. Pertunjukan tari gandai memiliki makna sebagai pedoman kehidupan dalam hubungan persaudaraan, perjalanan cinta, dan hubungan dalam rumah tangga. AbstractGandai dance is a dance that is still often performed at various events for the Pekal people in Sibak Village, but most people do not fully understand the meaning contained therein. This study aims to determine the meaning of communication in the gandai dance performance to the Pekal people in Sibak Village. Data collection techniques through interviews, observation, and documentation. There were five informants in the study who were obtained using a purposive sampling technique. The results of this study indicate that the symbols used by the dancers (anok gandai) during the gandai dance performance are in the form of movements. In the opening stage the researcher gets one meaning, while in the performance stage there are five movements that have meaning, and in the closing stage there is one movement that has meaning. Apart from that, there is also meaning in the clothes worn by the dancers (anok gandai), in the form of shawls, kebayas, and long cloths and while the place of the performance serves as an indication of the use of the gandai dance for what event. Gandai dance performances have meaning as a life guide in brotherly relationships, love journeys, and household relationships.
Analisis Wacana Kritis Objektivikasi Anak Perilaku Sharenting di Instagram Risa Saraswati Ramadhanti, Galuh Aulia; Hidayat, Dadang Rahmat; Yudhapramesti, Pandan
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.16982

Abstract

AbstrakPerilaku sharenting yang mengarah pada objektivikasi anak sering ditemui di media sosial Instagram. Perilaku ini sering dilakukan oleh selebriti Instagram, yaitu selebgram. Selebgram sebagai orang tua yang memiliki anak mengunggah foto, video, dan keterangan teks tentang keseharian anak mereka. Informasi yang dibagikan juga tidak jarang terkait dengan informasi privasi anak mereka. Salah satu selebgram yang melakukan perilaku sharenting di Instagram adalah Risa Saraswati. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis Van Dijk guna untuk membongkar wacana teks yang diproduksi dengan berdasarkan kognisi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui objektivikasi anak pada perilaku sharenting di Instagram Risa Saraswati. Penelitian ini menemukan empat macam objektivikasi anak yang dilakukan pada perilaku sharenting di Instagram pada analisis teks, yaitu objektivikasi anak pada tumbuh kembang anak, objektivikasi anak sebagai endorsement, objektivikasi anak pada tingkah lucu anak, dan objektivikasi anak menjadi selebgram. Pada analisis kognisi, Risa Saraswati tidak sadar secara penuh tentang dampak yang didapat dari mengunggah konten anak secara visualisasi maupun keterangan teks dimedia sosial. Risa Saraswati berpikir bahwa membagikan foto dan video anak di Instagram merupakan cara yang baik untuk berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat dekat lainnya. Pada analisis konteks sosial, penelitian ini menemukan banyak masyarakat, khususnya pengguna Instagram yang mendukung perilaku sharenting yang mengarah pada objektivikasi sharenting dengan komentar yang dominan positif terhadap unggahan Risa Saraswati tentang anaknya di Instagram. Hak privasi anak dikesampingkan oleh orang tua mereka. Hak anak dianggap menjadi bias karena usia anak yang belum dapat menentukan pilihannya. AbstractSharenting behavior that leads to objectification of children is often found on Instagram social media. This behavior is often carried out by Instagram celebrities, namely celebrities. Celebgrams as parents who have children upload photos, videos, and text descriptions about their children's daily lives. The information shared is also often related to the privacy information of their children. One of the celebrities who does sharenting behavior on Instagram is Risa Saraswati. This research uses Van Dijk's critical discourse analysis method in order to dismantle the discourse of texts produced based on social cognition. This study aims to determine the objectification of children in sharing behavior on Risa Saraswati's Instagram. This study found four kinds of objectification of children carried out on sharenting behavior on Instagram in text analysis, namely objectification of children to child development, objectification of children as endorsements, objectification of children to funny behavior of children, and objectification of children to celebrities. In the cognitive analysis, Risa Saraswati is not fully aware of the impact that can be obtained from uploading children's content through visualization and textual information on social media. Risa Saraswati thinks that sharing photos and videos of children on Instagram is a good way to communicate with family and other close relatives. In analyzing the social context, this study found that many people, especially Instagram users, support sharenting behavior which leads to the objectification of sharenting with predominantly positive comments on Risa Saraswati's uploads about her child on Instagram. Children's right to privacy is overridden by their parents. Children's rights are considered to be biased because the child's age has not been able to determine his choice.
Analyzing the Art of Persuasion in Advertising: A Study of Grand Prix's Bliblihome Launch with Ringgo and Sabai Maisarah, Maisarah; Fanani, Achmad
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.17939

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis iklan Grand Prix: Peluncuran Bliblihome bersama Ringgo dan Sabai dari sudut pandang ethos, pathos, dan logos. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan data berupa adegan dan teks dalam iklan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ketiga elemen ethos, pathos, dan logos digunakan secara seimbang dalam iklan tersebut. Elemen ethos terlihat dalam penggunaan selebriti Ringgo dan Sabai sebagai duta merek yang dapat dipercaya dan berwewenang. Sementara itu, elemen pathos ditunjukkan melalui adegan yang membangkitkan perasaan positif pada penonton. Akhirnya, elemen logos muncul dalam informasi yang jelas dan rinci tentang produk Bliblihome yang sedang dipromosikan dalam iklan. Secara keseluruhan, penggunaan ketiga elemen ethos, pathos, dan logos dalam iklan Grand Prix: Peluncuran Bliblihome bersama Ringgo dan Sabai digunakan secara seimbang untuk memengaruhi penonton dalammembentuk persepsi mereka terhadap merek dan produk yang dipromosikan dalam iklan tersebut.AbstractThis research aims to analyze the advertisement of Grand Prix: Bliblihome Launch with Ringgo and Sabai from the ethos, pathos, and logos perspectives. The method used is descriptive qualitative by using data in the form of scenes and texts in the advertisement. The research findings show that the three elements of ethos, pathos, and logos are used in a balanced manner in the advertisement. The element of ethos is seen in the use of celebrities Ringgo and Sabai as trustworthy and authoritative brand ambassadors. Meanwhile, the element of pathos is shown through scenes that evoke positive feelings in the audience. Finally, the element of logos appears in clear and detailed information about the Bliblihome product being promoted in the advertisement. In conclusion, the use of the three elements of ethos, pathos, and logos in the advertisement of Grand Prix: Bliblihome Launch with Ringgo and Sabai are utilized in a balanced way to influence the audience in shaping their perception of the brand and product being promoted in the advertisement.
Sosialisasi Penanganan Pandemi Pemerintah Indonesia Dengan Pendekatan Budaya dan Media Irawan, Alpha
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.18127

Abstract

AbstrakPandemi Covid-19 membawa dinamika tersendiri di masyarakat. Pemerintah berupaya untuk mengatasi permasalahan pandemi dari berbagai aspek, mulai dari sisi Kesehatan hingga sosialnya.  Guna melancarkan kebijakan-kebijakan terkait hal ini, pemerintah melakukan proses sosialisasi di masyarakat. Sebagai negara multikultur, Indonesia memiliki keragaman budaya dan kehidupan sosial. Keragaman ini yang menjadi penguat atau bahkan bisa menjadi penghambat proses sosialisasi. Artinya, aspek sosio kultural yang ada di Indonesia menjadi tantangan sendiri dari proses sosialisasi oleh pemerintah. Oleh sebab itu, penelitian ini menjawab satu pertanyaan utama, yaitu bagaimana strategi sosialisasi penanganan pandemi Pemerintah Indonesia jika dilihat dari pendekatan sosio kultural?  Tulisan ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus. Kemudian untuk meningkatkan kepercayaan pada hasil analisis, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Hasilnya menunjukan bahwa ada kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam sosialisasi kebijakan. Masyarakat turut berperan aktif dalam pengentasan wabah di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa budaya partisipasi di masyarakat masih kental dan dapat dimaksimalkan untuk mensosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah selanjutnya, terutama dalam hal pandemi. AbstractThe Covid-19 pandemic brings its own dynamics in society. The government is trying to overcome the problem of the pandemic from various aspects, from the health side to the social side. In order to launch policies related to this, the government carries out a socialization process in the community. As a multicultural country, Indonesia has a diversity of cultures and social life. This diversity becomes a reinforcement or can even be an obstacle to the socialization process. This means that the socio-cultural aspects that exist in Indonesia are a challenge in itself from the socialization process by the government. Therefore, this study answers one main question, namely how is the socialization strategy for handling the pandemic by the Indonesian government when viewed from a socio-cultural approach? This paper was prepared using a qualitative method and a case study approach. Then to increase confidence in the results of the analysis, this study uses triangulation techniques. The results show that there is collaboration between the government and the community in policy socialization. The community plays an active role in alleviating the epidemic in Indonesia. This shows that the culture of participation in the community is still strong and can be maximized to disseminate further government policies, especially in the case of a pandemic.
Pengalaman Interaksi Pengguna Remaja Curhat dengan ChatGPT Norsely, Febfi; Arviani, Heidy; Achmad, Zainal Abidin
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.16653

Abstract

AbstrakChatGPT adalah sebuah kecerdasan buatan yang diluncurkan oleh OpenAI pada November 2022. Meskipun awalnya dirancang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan umum dan membantu dalam pekerjaan sehari-hari, pengguna mulai menggunakan ChatGPT sebagai tempat untuk curhat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki fakta, penyebab, dan konsekuensi dari fenomena penggunaan ChatGPT sebagai platform curhat bagi remaja. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, dengan memanfaatkan studi fenomenologi Alfred Schutz. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, terdiri dari gambar, kata-kata, dan teks yang menggambarkan fenomena curhat pada ChatGPT. Hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa remaja awalnya menggunakan ChatGPT hanya untuk bersenang-senang atau iseng. Namun, seiring waktu, mereka mulai mengembangkan ketergantungan pada ChatGPT sebagai tempat untuk berbagi keluh kesah mereka. Mereka merasa nyaman dan aman dalam berbicara kepada ChatGPT, karena tidak perlu khawatir tentang penghakiman atau konsekuensi sosial yang mungkin terjadi saat berbagi masalah pribadi dengan orang lain. Penelitian ini memberikan wawasan tentang mengapa remaja cenderung menggunakan ChatGPT sebagai wadah curhat. Faktor-faktor seperti rasa aman, anonimitas, dan ketersediaan ChatGPT yang 24 jam membuatnya menjadi sumber dukungan emosional yang terjangkau dan mudah diakses. Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan ChatGPT sebagai satu-satunya tempat untuk berbagi masalah dapat memiliki konsekuensi negatif, seperti isolasi sosial dan ketergantungan emosional pada teknologi. AbstractChatGPT is an artificial intelligence launched by OpenAI in November 2022. Although initially designed to answer general questions and assist in daily tasks, users have started using ChatGPT as a platform for confiding. The aim of this research is to investigate the facts, causes, and consequences of using ChatGPT as a confiding platform for teenagers. A qualitative approach is employed in this study, utilizing Alfred Schutz's phenomenological study. The data collected in this research are qualitative, consisting of images, words, and texts that depict the phenomenon of confiding in ChatGPT. The results of interviews with informants indicate that teenagers initially use ChatGPT just for fun or as a pastime. However, over time, they begin to develop a dependence on ChatGPT as a place to share their grievances. They feel comfortable and secure speaking to ChatGPT, as they don't have to worry about judgment or potential social consequences when sharing personal issues with others. This research provides insights into why teenagers tend to use ChatGPT as a confiding vessel. Factors such as a sense of security, anonymity, and the 24/7 availability of ChatGPT make it an affordable and easily accessible source of emotional support. However, it is important to note that relying solely on ChatGPT as the primary outlet for sharing problems can have negative consequences, such as social isolation and emotional dependency on technology.
PENGGUNAAN WHATSAPP MAHASISWA MAGISTER ILMU KOMUNIKASI USU DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN DOSEN DITINJAU DARI PERSPEKTIF ETIKA KOMUNIKASI Pohan, Syafruddin; Kamil, Ermila; Sundari, Fitri; Harmaini, Yulie Hanna
Komunikologi: Jurnal Pengembangan Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial UIN Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/komunikologi.v7i2.18188

Abstract

AbstrakWhatsApp adalah salah satu media sosial yang sangat digemari untuk berkomunikasi secara digital. Dengan fiturnya yang banyak dan lengkap saat ini WhatsApp menjadi kebutuhan banyak orang dari berbagai kalangan, baik untuk komunikasi sosial maupun komunikasi profesional. Komunikasi melalui WhatsApp kebanyakan dilakukan secara teks dan kerap kali menimbulkan kesalahpahaman penerima teks. Oleh karena itu, etika berkomunikasi juga dibutuhkan ketika berkomunikasi dengan menggunakan WhatsApp. Pengguna WhatsApp yang paling banyak saat ini adalah generasi Z. Generasi Z memiliki pola atau karakteristik komunikasi yang lebih santai dalam menyampaikan gagasannya dan juga tidak mau ditegur secara terang-terangan. Hal ini terkadang menimbulkan masalah ketika berkomunikasi dengan dosen. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk meneliti etika komunikasi dalam berWhatsApp dengan subjek mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergolong dalam generasi Z dimana mereka mempelajari mengenai etika komunikasi namun mereka memiliki sifat dasar untuk berkomunikasi secara santai. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengumpulkan data secara wawancara dan kajian ilmiah lainnya. Pendekatan post-positivistik digunakan untuk melihat fenomena yang ada. Hasil dari penelitian ini merangkum tujuh etika dalam berkomunikasi via WhatsApp yaitu memberikan salam, memperkenalkan diri, menjelaskan maksud dan tujuan, memperhatikan waktu pengiriman pesan, mengikuti peraturan, tidak menyela dan mengucapkan salam penutup. AbstractWhatsApp is one of the most popular social media for digital communication. With its many and complete features, WhatsApp is now a necessity for many people from various circles, both for social communication and professional communication. Communication through WhatsApp is mostly done by text and often leads to misunderstanding of the recipient of the text. Therefore, communication ethics are also needed when communicating using WhatsApp. The most common user of WhatsApp today is generation Z. Generation Z has communication patterns or characteristics that are more relaxed in conveying their ideas and also do not want to be reprimanded openly. This sometimes causes problems when communicating with lecturers. So this study aims to examine communication ethics in WhatsApp with the subject of Communication Science students who belong to generation Z where they learn about communication ethics but they have a basic nature to communicate casually. This research uses qualitative methods by collecting data through interviews and other scientific studies. The post-positivistic approach is used to look at existing phenomena. The results of this study summarized seven ethics in communicating via WhatsApp, namely giving greetings, introducing yourself, explaining the purpose and purpose, paying attention to the time of sending messages, following the rules, not interrupting and saying closing greetings.

Page 1 of 1 | Total Record : 6