JURNAL SUMBER DAYA AIR
Jurnal Sumber Daya Air (JSDA) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Water, and Water resources as well as related topics. All papers are peer-reviewed by at least two referees. JSDA is managed to be issued twice in every volume. The Scope of JSDA is: the fields of irrigation, environmental quality and water, swamp, beach, water building, water supply, hydrology and geotechnical fields, hydrology and water management, water environment, coastal fields, fields of cultivation and sabo fields.
Articles
9 Documents
Search results for
, issue
"Vol 10, No 2 (2014)"
:
9 Documents
clear
Simulasi Pencapaian Target Rencana Aksi Nasional Mitigasi Gas Rumah Kaca Sektor Air Limbah
Bambang Priadie
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1115.507 KB)
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.133
Pemanasan global yang ditimbulkan oleh efek rumah kaca merupakan fenomena yang hangat dibicarakan belakangan ini, sehingga upaya minimasi emisi gas rumah kaca menjadi salah satu upaya yang mendapat perhatian besar dalam pengelolaan lingkungan, termasuk Indonesia yang ikut meratifikasi protokol Kyoto. Upaya Pemerintah Republik Indonesia dalam mengurangi gas rumah kaca tersebut telah dilakukan melalui Rencana Aksi Nasional Penurunan Gas Rumah Kaca (Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011) dan Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Tahun 2012-2020 (Peraturan Menteri PU Nomor: 11/Prt/M/2012) melalui strategi mitigasi dengan penerapan teknologi pengolahan air limbah dengan sistem biodigester. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui besaran emisi gas rumah kaca dari sektor air limbah domestik di Indonesia selama 10 tahun ke depan melalui skenario pengelolaan limbah domestik secara business as usual (BAU) dan skenario mitigasi. Metode perhitungan emisi gas rumah kaca dari sektor pengelolaan limbah domestik berdasarkan Intergovernmental Panel on Climate Change (2006), dan perhitungan limbah penduduk berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (2013). Hasil perhitungan menunjukkan bahwa target penurunan emisi gas rumah kaca sektor air limbah berdasarkan skenario mitigasi dapat dicapai pada tahun 2022-2023 sebesar 1,9 2,32 Juta Ton CO2 Eq atau dua tahun lebih lama dari target sesuai Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011.
Penilaian Kesesuaian Pembangunan Dam Parit Bertingkat Untuk Antisipasi Kekeringan: Studi Kasus Di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan
Nani Heryani
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1336.261 KB)
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.129
Upaya pendayagunaan sumber daya air di lahan kering harus dilakukan seoptimal mungkin untuk meningkatkan ketersediaan air, memperpanjang masa tanam, dan menekan risiko kehilangan hasil. Hal ini dapat diimplementasikan melalui aplikasi panen hujan dan aliran permukaan yang dapat dipergunakan untuk irigasi sektor pertanian, peternakan dan perikanan, serta untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Penelitian ini dilakukan di Desa Limampoccoe, kecamatan Cenrana, kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan, pada bulan Februari sampai dengan bulan Oktober 2012. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengkarakterisasi kondisi biofisik wilayah dalam menilai kesesuaian pembangunan teknologi panen hujan dan aliran permukaan melalui dam parit, serta mengembangkan model pengelolaan air melalui panen hujan dan aliran permukaan untuk mengantisipasi kekeringan. Kegiatan ini dilaksanakan melalui: 1) penyusunan peta lokasi penelitian (penggunaan lahan dan target irigasi) berdasarkan hasil analisis peta rupa bumi yang divalidasi dengan pengamatan lapang, 2) identifikasi kondisi hidrologi untuk mengetahui debit aliran sungai tempat dam parit dibangun, 3) aplikasi pembangunan teknologi panen hujan dan aliran permukaan melalui dam parit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi panen hujan dan aliran permukaan dapat meningkatkan intensitas tanam dari pola tanam padi-bera-bera menjadi padi-kacang tanah-bera, dan padi-semangka-bera.
Model Keruangan Konservasi Sumber Daya Airtanah Menggunakan Pendekatan Bentuk Lahan Di Lereng Selatan Gunungapi Merapi
Bambang Hargono
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1500.31 KB)
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.134
Wilayah Perkotaan Yogyakarta memiliki penduduk terpadat dan terbanyak. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan akan air yang tinggi. Walaupun daerah lereng selatan Gunung Merapi memiliki curah hujan yang tinggi, penurunan muka air tanah sudah berlangsung lama dengan intensitas rata-rata mencapai 30 cm setiap tahun. Untuk itu diperlukan konservasi sumberdaya air di wilayah Perkotaan Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini yang pertama adalah untuk mengetahui model wilayah hidrologis berdasarkan bentuk lahan untuk mengetahui neraca air di sebagian lereng selatan Gunungapi Merapi, yang kedua, untuk mengetahui wilayah yang kekurangan air, dan kapan terjadinya, dan yang terakhir, menyusun rekomendasi mengenai konservasi yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan air di sebagian lereng Selatan Gunungapi Merapi. Metode yang digunakan adalah penentuan wilayah lokasi penelitian berdasarkan satuan bentuk lahan, dan interfluv sungai, analisis ketersediaan air, perhitungan neraca air dan kapan terjadi kekurangan air, dan analisis untuk menentukan upaya konservasi. Berdasarkan hasil analisis, masih terdapat kekurangan air di beberapa wilayah Perkotaan Yogyakarta pada periode tertentu dengan asumsi kebutuhan air 120 L/orang/hari dan 50 L/orang/hari. Upaya konservasi yang diusulkan adalah melakukan manajemen air hujan.
Pengembangan Model Faveur Untuk Penilaian Kriteria Retensi Pada Green Roof Di Perancis
Safitri Lisma
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1506.562 KB)
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.130
Pemanfaatan green roof meningkat secara signifikan selama 10 tahun terakhir di Prancis. Tidak terumuskannya kriteria hidrologis untuk merancang dan mengevaluasi pemanfaatan green roof untuk pengelolaan air hujan khususnya di Prancis menjadi masalah tersendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sebuah tools dalam model FAVEUR untuk menilai kinerja kriteria retensi green roof. Dalam penelitian ini kriteria retensi green roof dihitung dalam 3 skala waktu yaitu tahunan, musiman dan setiap kejadian hujan. Simulasi model FAVEUR dengan variasi parameter untuk ncalc=500 menghasilkan nilai kriteria retensi rata-rata : tahunan antara 301-470 mm (48-75% dari curah hujan tahunan), retensi musim panas antara 218-327 mm (35-52% dari curah hujan tahunan), retensi musim dingin antara 84-143 mm (13-23% dari curah hujan tahunan). Selanjutnya untuk kriteria retensi kejadian hujan, nilai maksimum selalu berbanding lurus dengan kapasitas retensi dalam interval 12-100 mm, nilai minimum selalu sama dengan 0 dan rata-rata antara 5.13-44.46 mm. Kriteria retensi ini menunjukkan korelasi yang baik dengan kapasitas intersepsi (Cint). Berdasarkan korelasi tersebut, disusunlah 48 persamaan polinomial kriteria retensi dalam tiga skala waktu berbeda. Selanjutnya, berdasarkan hubungan kriteria retensi green roof dan karakteristik fisik green roof terhadap kapasitas intersepsi, sebuah tools penilaian kinerja hidrologis green roof telah berhasil disusun dalam format Excel. Tools ini dapat menunjukkan kinerja hidrologis green roof khususnya kriteria retensi dengan memvariasikan karakteristik fisik green roof seperti jenis vegetasi, ketebalan substrat dan kapasitas air maksimum substrat (CME).
DAMPAK KENAIKAN MUKA AIR LAUT TERHADAP KESESUAIAN LAHAN RAWA PASANG SURUT TABUNGANEN KALIMANTAN SELATAN
L. Budi Triadi
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2059.3 KB)
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.128
Kesesuaian lahan daerah rawa sangat dipengaruhi oleh kondisi fluktuasi muka air laut, curah hujan, potensial drainase dan intrusi air laut. Dengan adanya pengaruh perubahan iklim global yang menyebabkan naiknya muka air laut, akan merubah hidrotopografi lahan rawa, yang mengakibatkan perubahan jenis tanaman yang sesuai pada lahan tersebut.. Perubahan kesesuaian lahan tersebut dialami oleh daerah rawa yang dekat dengan muara sungai seperti daerah rawa Tabunganen. Daerah rawa Tabunganen yang berada di sekitar muara sungai Barito akan menerima dampak perubahan kenaikan muka air laut secara langsung. Penelitian ini menggunakan GIS untuk mendapatkan peta keseuaian lahan eksisting dan dampak kenaikan muka air laut melalui cara tumpang susun peta-peta tematik, antara lain peta irigasi dan drainase, peta kedalaman gambut dan pirit, serta peta salinitas. Dengan diketahuinya dampak kenaikan muka air laut tersebut terhadap deliniasi kesesuaian lahannya, maka dapat dilakukan antisipasi dengan melakukan adaptasi jenis tanaman terhadap tren perubahan kesesuaian lahan yang terjadi.
Pengaruh Ukuran Sampel Makrozoobentos Bioindikator Terhadap Penilaian Tingkat Pencemaran Air Sungai
Syamsul Bahri
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (924.671 KB)
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.135
Di Indonesia telah banyak dilakukan penelitian tentang biomonitoring atau bioasesmen dengan makrozoobentos untuk menilai kualitas air sungai. Penelitiannya bersifat aplikatif dari metode yang digunakan di daerah sub-tropik, termasuk di antaranya penggunaan angka hitung tetap untuk proses sub-sampling. Tujuan penelitian ini adalah i). Mendapatkan perkiraan angka jumlah makrozoobentos representatif ketika sampling dari sungai dengan metode mengaduk-aduk dasar sungai dengan kaki, ii). Mendapatkan angka hitung tetap yang digunakan untuk proses sub-sampling, iii). Mengetahui penyimpangan penilaian tingkat pencemaran air sungai, akibat kesalahan dalam penentuan besaran angka hitung tetap makrozoobentos hasil sub-sampling secara random terhadap hasil sensus. Manfaat penelitian adalah menjadi acuan dalam memprediksi angka jumlah makrozoobentos representatif yang diambil menggunakan alat Dip-net dari dasar sungai dan acuan penggunaan angka hitung tetap untuk proses sub-sampling secara random. Penelitian eksperimental ini menggunakan desain acak sempurna satu faktor perlakuan, yaitu variasi jumlah individu makrozoobentos terhadap jumlah genusnya. Berdasarkan hasil penelitian i). Prakiraan angka jumlah makrozoobentos representatif dari sampel yang diambil dari sungai dengan teknik diaduk-aduk dengan kaki adalah lebih besar dari 500 individu, ii). Angka hitung tetap organisme makrozoobentos untuk proses sub-sampling secara random berkisar antara 200 - 500 individu, iii). Bila menetapkan angka hitung tetap di bawah 200 individu, maka akan terjadi penurunan penilaian kelas kriteria kualitas air.
Identifikasi Level Risiko Pantai Di Provinsi Bali Berdasarkan Analisis Spasial Bahaya Dan Identifikasi Level Kerentanan
Huda Bachtiar
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1263.238 KB)
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.131
Kajian level risiko pantai di Provinsi Bali dilakukan berdasarkan hasil studi analisis spasial bahaya dan hasil studi identifikasi level kerentanan dengan metode pairwise comparison. Semakin tinggi tingkat kerentanan dan bahaya yang dialami maka risiko bencana dan kerusakkan yang terjadi akan semakin tinggi. Skematisasi scenario model dilakukan dengan membagi model menjadi tiga scenario dengan periode simulasi pada tahun 2012 dan pada tahun 2030. Berdasarkan hasil simulasi, peta potensi risiko menunjukan Bali Selatan memiliki potensi risiko yang relatif tinggi dibandingkan area lainnya di Provinsi Bali untuk setiap skenario model. Skenario 1 pada tahun 2012 luas area level sangat tinggi sekitar 3.08 km2 dan skenario 3 pada tahun yang sama sekitar 4.44 km2. Terjadi perluasan potensi risiko level sangat tinggi sekitar 1.36 km2. Pada tahun 2030 level sangat tinggi di Kota Denpasar mengalami perluasan, dimana skenario 1 tahun 2012 yang tadinya memliki luas area risiko 3.08 km2 setelah tahun 2030 menjadi 3.11 km2. Demikian juga dengan skenario 3 pada tahun 2030, dimana level sangat tinggi pada tahun 2012 yang memiliki luas area 4.44 km2 pada tahun 2030 menjadi 4.79 km2. Hal tersebut terjadi karena selain adanya akumulasi faktor bahaya untuk setiap skenario juga akibat adanya peningkatan level kerentanan pada tahun 2030.
Dampak Kenaikan Muka Air Laut Terhadap Kesesuaian Lahan Rawa Pasang Surut Tabunganen Kalimantan Selatan
L. Budi Triadi
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32679/jsda.v10i2.115
Kesesuaian lahan daerah rawa sangat dipengaruhi oleh kondisi fluktuasi muka air laut, curah hujan, potensial drainase dan intrusi air laut. Dengan adanya pengaruh perubahan iklim global yang menyebabkan naiknya muka air laut, akan merubah hidrotopografi lahan rawa, yang mengakibatkan perubahan jenis tanaman yang sesuai pada lahan tersebut.. Perubahan kesesuaian lahan tersebut dialami oleh daerah rawa yang dekat dengan muara sungai seperti daerah rawa Tabunganen. Daerah rawa Tabunganen yang berada di sekitar muara sungai Barito akan menerima dampak perubahan kenaikan muka air laut secara langsung. Penelitian ini menggunakan GIS untuk mendapatkan peta keseuaian lahan eksisting dan dampak kenaikan muka air laut melalui cara tumpang susun peta-peta tematik, antara lain peta irigasi dan drainase, peta kedalaman gambut dan pirit, serta peta salinitas. Dengan diketahuinya dampak kenaikan muka air laut tersebut terhadap deliniasi kesesuaian lahannya, maka dapat dilakukan antisipasi dengan melakukan adaptasi jenis tanaman terhadap tren perubahan kesesuaian lahan yang terjadi.