cover
Contact Name
Ahmad Taufiq
Contact Email
jurnalpusair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpusair@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL SUMBER DAYA AIR
ISSN : 19070276     EISSN : 2548494X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Sumber Daya Air (JSDA) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Water, and Water resources as well as related topics. All papers are peer-reviewed by at least two referees. JSDA is managed to be issued twice in every volume. The Scope of JSDA is: the fields of irrigation, environmental quality and water, swamp, beach, water building, water supply, hydrology and geotechnical fields, hydrology and water management, water environment, coastal fields, fields of cultivation and sabo fields.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2012)" : 8 Documents clear
ANALISIS SPASIAL POTENSI BAHAYA DAERAH PANTAI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI PULAU BALI Huda Bachtiar
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1901.264 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.370

Abstract

Pulau Bali merupakan salah satu pulau yang memiliki nilai infrastruktur dan nilai ekonomi tinggi. Namun demikian, ada potensi bahaya yang dapat mengancam infrastruktur tersebut sebagai akibat perubahan iklim. Untuk itu diperlukan informasi mengenai wilayah yang memiliki potensi bahaya cukup tinggi. Potensi bahaya dihitung berdasarkan parameter-parameter bahaya akibat perubahan iklim, diantaranya kenaikan muka air laut, kejadian ENSO, dan gelombang badai. Berdasarkan hasil simulasi pada tahun 2012, Kabupaten Buleleng merupakan wilayah yang memiliki potensi bahaya paling tinggi dengan luas area bahaya mencapai 20,67 km2, sedangkan wilayah yang memiliki potensi bahaya paling rendah adalah Kabupaten Denpasar dengan luas area sekitar 3,12 km2. Hasil simulasi kondisi ekstrem menunjukan luas area potensi bahaya di Kabupaten Buleleng mencapai 32,55 km2 sedangkan estimasi area yang terancam di Kabupaten Denpasar mencapai 4,51 km2. Untuk simulasi jangka panjang yaitu pada tahun 2030, luas area bahaya di Kabupaten Buleleng mencapai 37,26km2. Secara umum, hasil simulasi menunjukan bahwa luas area yang terancam bahaya tergantung pada profil topografi pantai, akumulasi parameter bahaya, dan waktu.
ANALISIS HASIL PEMANTAUAN ELEVASI MUKA AIR DI LAHAN GAMBUT KABUPATEN MUARO JAMBI PROVINSI JAMBI Eleonora Runtunuwu
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1795.068 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.366

Abstract

Upaya memenuhi kebutuhan air tanaman di lahan gambut membutuhkan pengaturan elevasi muka air yang tetap terkondisikan pada level tertentu. Penelitian ini mengembangkan sistem pemantau elevasi muka air terpadu di lahan gambut yang spesifik lokasi. Telah dilakukan penelitian di Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi, yang meliputi instalasi satu stasiun Automatic Weather Station, 19 piezometer, 4 rambu ukur dan 2 pintu air. Titik referensi yang digunakan untuk lokasi ini adalah 19,68 m di atas permukaan laut. Pembukaan dan penutupan pintu air pada waktu yang tepat mengakibatkan elevasi muka air dapat dipertahankan pada kondisi 50-60 cm terhadap kedalaman muka air tanah yang sesuai dengan kebutuhan kelapa sawit. Masalah pada musim kemarau, pasokan air dari saluran drainase ke lahan yang menurun secara gradual. Oleh karena itu, pintu air perlu ditambah terutama pada tersier barat dan timur masing-masing dengan ukuran lebar 4,3 m dengan kedalaman 1,6 m agar elevasi muka air lahan dapat lebih mudah diatur. Pengembangan sistem pemantau elevasi muka air terpadu di lahan dan saluran dengan menggunakan titik referensi yang spesifik lokasi sama akan memberikan informasi elevasi muka air yang lebih akurat. Data rekaman elevasi muka air runut waktu ini dapat digunakan dalam penyusunan rancang bangun teknik pengelolaan air lahan gambut untuk pertanian.
PENGKAJIAN PEMANFAATAN KELEBIHAN AIR IRIGASI UNTUK PLTM PADA BENDUNG GERAK SERAYU DENGAN UJI MODEL HIDRAULIK Kirno Kirno
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1958.043 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.371

Abstract

Data debit harian yang melimpas di Bendung Gerak Serayu saat kemarau menunjukkan bahwa selain untuk memenuhi kebutuhan irigasi sebesar 32 m3/s masih ada debit air yang terbuang ke hilir yang memiliki potensi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mini-Hydro (PLTM). Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi daya listrik optimum yang bisa dihasilkan serta mengantisipasi dampak negatif dari pembangunan PLTM. Untuk menganalisa kebutuhan energi PLTM, diperlukan data debit harian terutama data debit sisa kebutuhan irigasi (Q) dan beda tinggi muka air di hulu dan di hilir bendung (?h) yang dapat diperoleh dengan uji model hidraulik fisik (UMH Fisik). Pada pemanfaatan debit limpasan ini, ada ketentuan yang tidak boleh dilanggar, antara lain: tidak mengganggu kebutuhan debit irigasi, tidak menimbulkan kerusakan morfologi sungai, muka air di hulu bendung di tetapkan +12,90 m untuk kondisi normal (daerah irigasi tertinggi) dan +13,20 m untuk kondisi tidak normal (untuk menghindari air empangan di hulu bendung). Hasil UMH Fisik menunjukkan bahwa Q semakin kecil maka ?h semakin besar; dan jika Q semakin besar maka ?h semakin kecil. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dari segi hidraulik Pembangunan PLTM dapat dilakukan karena memiliki Q serta ?h yang memadai untuk mengoperasikan PLTM. Berdasarkan data, debit harian pada musim kering lebih besar dari 32 m3/s, artinya terdapat sisa debit yang dapat digunakan untuk mengoperasikan setidak-tidaknya satu unit turbin PLTM dan tidak mengganggu kebutuhan debit irigasi, serta tidak berdampak terhadap morfologi sungai di sekitar bendung gerak.
DIRECT COMPARISON OF GLOBAL PRECIPITATION AND ATMOSPHERIC WATER VAPOR ISOTOPOLOGUE FROM SPACE AND MODEL Samuel J Sutanto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7302.492 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.367

Abstract

Stable isotopes in atmospheric water are important climatic tracers used to derive information on the moisture recycling, paleoclimate from ice cores, cloud physics, troposphere-stratosphere exchange, climate studies, hydrological cycle, etc. Some traditional methods to measure stable isotopes in the atmosphere are labor intensive and spatially limited. Nowadays, measurements of isotopes in the atmosphere are becoming visible using satellites to retrieve the data in one hand and using global climate models on the other hand. Therefore, this study has been carried out to compare the isotopes measurements using both the latest satellites measurements (SCIAMACHY and TES) and some global climate models (GissE, ECHAM, MUGCM) for direct comparison. The results from both satellites measurements and models simulations show that there are some isotope effects such as latitude effect, continental effect, and altitude effect. Interaction between surface and atmosphere can also be seen from the analysis. The stable isotopes comparison from satellites, models and ground observation is in a good agreement (-100 The tropics and -260 The polar regions). The discrepancy of isotope from precipitation and water vapor also agrees well (-60 to -75 in tropics). In addition, a slope analysis from a correlation of total precipitable water and isotope ratio shows that measurements near from the surface is following Rayleigh-type rainout process and measurements in the middle troposphere is influenced by a mixing process.
TINGKAT KOROSIFITAS AIR TERHADAP INFRASTRUKTUR SUMBERDAYA AIR MENURUT DIN 4030 DAN LANGELIER SATURATION INDEX Moelyadi Moelyo
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1709.672 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.372

Abstract

Terjadinya perusakan infrastruktur sumberdaya air oleh efek korosi, disebabkan terjadinya perubahan sifat kimia, fisika dan biologi dalam air. Fenomena ini perlu diteliti secara mendalam, namun secara teoritis dapat dinyatakan sebagai dampak dari pencemaran air dan fenomena lingkungan keairan yang mampu mengubah karakteristik air menjadi bersifat korosif. Indikasi korosifitas air dapat dilihat dengan makin meluasnya perusakan oleh air terhadap material yang ada. Penilaian tingkat korosifitas air dapat dilakukan berdasarkan beberapa metode, diantaranya kriteria korosifitas pada beton, perhitungan Langelier Saturation Index (LSI), Standard Methods for Examination Water and Wastewater dan penentuan kehilangan metal serta laju korosi. LSI merupakan suatu indeks yang dikaitkan dengan keasaman aktual dari air terhadap keasaman air setelah terjadinya penjenuhan oleh kapur (CaCO3). Penelitian yang dilakukan di Waduk Sermo, pada lokasi hulu, tengah, hilir luasan waduk serta outlet waduk, menunjukkan bahwa air Waduk Sermo belum termasuk kategori air yang dapat merusak beton, karena parameter pH, CO2 agresif, amonia, magnesium dan sulfat yang masih di bawah kriteria yang dapat merusak beton (DIN-4030, 1969). Akan tetapi, angka LSI hampir di semua lokasi dan titik pengamatan waduk menunjukkan angka LSI negatif, yang berarti air cenderung bersifat korosif sedikit terutama air bagian dasar waduk.
PENGELOLAAN BANJIR BERBASIS MASYARAKAT (STUDI KASUS: KABUPATEN BOJONEGORO) Oky Subrata
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2093.111 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.368

Abstract

Aspek utama pengelolaan banjir berbasis masyarakat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur adalah kesiapsiagaan dan tanggap darurat. Pengelolaan banjir ini merupakan kegiatan non struktural yang dilaksanakan di dua desa yaitu Kedung Sumber dan Semen Pinggir. Banjir yang terjadi di kedua desa tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Desa Kedung Sumber berada di Hulu Kali Pacal dengan banjir bandangnya sedangkan Desa Semen Pinggir di Hilir Kali Pacal dan merupakan pertemuan dengan Sungai Bengawan Solo dengan banjir genangannya. Makalah ini menyajikan kegiatan pengelolaan banjir yang menerapkan dua metode pendekatan sosial yang berbeda. Desa Kedung Sumber menerapkan Participatory Rural Appraisal (pedesaan), sedangkan Desa Semen Pinggir menerapkan Participatory Urban Appraisal (perkotaan). Kegiatan pengelolaan banjir ini terdiri dari identifikasi sejarah banjir, pembuatan peta ancaman banjir dan jalur evakuasinya, pembentukan organisasi siaga bencana, pembuatan prosedur tetap evakuasi korban banjir dan pengelolaan stasiun hujan telemetri yang mengirim SMS sebagai awal sistem peringatan dini banjir. Kesimpulan antara lain menunjukan bahwa metode pendekatan sosial yang tepat diperlukan dalam pelaksanaan survei sosial dan pelibatan masyarakat sebagai narasumber dan pelaku utama menjadi kunci keberhasilan kegiatan. Ada dua kelemahan dari kegiatan ini. Pertama, belum adanya evaluasi terhadap organisasi siaga bencana yang didirikan. Kedua, penekanan kegiatan diutamakan pada alat peringatan dini yang hanya berlaku di musim penghujan.
COVER JSDA COVER JSDA
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1893.858 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.450

Abstract

-
STRATEGI PENGENDALIAN BANJIR KOTA SEMARANG Hermono S Budinetro
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3168.751 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v8i2.369

Abstract

Karakter fisik Kota Semarang, di sebelah selatan terdiri daerah tinggi yang berbukit, dan di sebelah utara adalah daerah rendah yang datar. Karena kondisi tersebut daerah kota sebelah utara selalu terancam oleh banjir dan genangan, terutama genangan akibat masuknya air laut ke daratan, yang biasa disebut rob. Penurunan muka tanah, dan naiknya muka air laut, menyebabkan bertambahnya tinggi dan lama genangan akibat banjir. Telah dilakukan studi pengendalian banjir dan genangan dengan konsep Menahan banjir di hulu, menjaga di tengah dan menarik ke hilir serta menjaga agar air dari laut tidak naik ke darat. Di daerah hulu telah diidentifikasi lokasi yang mungkin dibangun dam pengendali banjir, di daerah tengah dilakukan dengan tanggul dan normalisasi sungai sehingga dapat menghidarkan banjir kiriman dari hulu. Di daerah hilir diusulkan, konsep pengendalian banjir dan genangan dengan konsep on-land defense, off-land defense atau kombinasi on dan off-land defense. Dari hasil analisis dengan metode weighted factor yang melibatkan berbagai faktor yang terkandung didapat konsep kombinasi on-land dan off-land yang paling optimal dalam pengendalian genangan akibat rob, dengan total nilai -13 dan tanah reklamsi yang dapat dimanfaatkan seluas 3.286 ha.

Page 1 of 1 | Total Record : 8