cover
Contact Name
Ahmad Taufiq
Contact Email
jurnalpusair@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpusair@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL SUMBER DAYA AIR
ISSN : 19070276     EISSN : 2548494X     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Sumber Daya Air (JSDA) is a journal aims to be a peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original research papers, review articles and case studies focused on Water, and Water resources as well as related topics. All papers are peer-reviewed by at least two referees. JSDA is managed to be issued twice in every volume. The Scope of JSDA is: the fields of irrigation, environmental quality and water, swamp, beach, water building, water supply, hydrology and geotechnical fields, hydrology and water management, water environment, coastal fields, fields of cultivation and sabo fields.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2013)" : 8 Documents clear
PENYUSUNAN MODEL KONSEPTUAL HUBUNGAN ANTARA PROSES LIMPASAN DENGAN PENCUCIAN UNSUR HARA Nani Heryani
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1395.982 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.361

Abstract

Model konseptual hubungan proses aliran air dengan ketersediaan air dalam DAS hanya mencakup proses di dalam DAS yang memengaruhi kimia air atau yang memberi pertanda kimia dalam aliran. Penelitian dilakukan di DAS mikro Cakardipa, DAS Ciliwung Hulu, Jawa Barat. Tujuan penelitian yaitu menyusun model konseptual hubungan antara proses limpasan atau aliran air dengan ketersediaan air dan pencucian hara. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: pemasangan jaringan alat pengamatan hidrokimia dan hidrometrik, analisis separasi hidrograf secara geokimia dan hidrometrik, analisis dinamika aliran bawah permukaan, analisis hubungan konsentrasi unsur hara (hidrokimia) dan debit. Berdasarkan hasil-hasil analisis tersebut disusun model konseptual hubungan antara proses aliran air dengan ketersediaan air di dalam DAS dan pencucian hara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan separasi hidrograf secara geokimia terdapat kontribusi air tanah (groundwater) sebesar 47,3%, air lahan(soil water) sebesar 28,0%, dan curah hujan sebesar 24,7%, sedangkan separasi hidrograf secara hidrometrik menunjukkan bahwa dengan curah hujan sebesar 46,5 mm selama 8 jam 35 menit menghasilkan debit dengan volume sebesar 2.377 m3. Potensial air dan jalur aliran tempat air mengalir juga memengaruhi perbedaan konsentrasi kimia air yang melalui lereng hingga ke sungai. Akumulasi unsur hara cenderung tinggi pada bagian hilir DAS. Hubungan antara konsentrasi unsur kimia air dengan debit adalah linier, dalam hal ini terjadi penurunan unsur hara pada saat terjadi peningkatan debit.
HUBUNGAN ANTARA KEKERINGAN DAN PARAMETER TELEKONEKSI DI DAS BENGAWAN SOLO Wanny K Adidarma
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.362

Abstract

Besaran hujan mengalami perubahan akhir-akhir ini baik secara regional maupun global yang sangat dipengaruhi oleh fenomena seperti El Nino Southern Oscillation atau ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang besarnya dinyatakan oleh indeks dari parameter telekoneksi. Pada saat fenomena tersebut dinyatakan dalam bentuk indeks, maka perhitungan lebih mudah dilakukan karena membentuk deret data seperti halnya hujan dan disebut parameter telekoneksi karena ada hubungan yang kuat antara atmosfer dan perilaku samudra (suhu dan tekanan). Deret data hujan kawasan bulanan dapat menggambarkan kondisi kekeringan melalui perhitungan indeks kekeringan metode Standardized Precipitation Index (SPI) dan dipadankan dengan deret parameter telekoneksi. Korelasi linier antara indeks kekeringan dengan parameter telekoneksi tersebut menjadi makin kuat apabila dikelompokkan menurut musim, apalagi jika dikelompokkan lagi hanya untuk kejadian dengan tingkat kekeringan parah saja. DAS Bengawan Solo yang dibagi menjadi empat bagian, dua di hulu (DAS Solo Hulu dan DAS Madiun) serta dua di hilir (Wilayah Bojonegoro dan Wilayah Lamongan). El-Nino dan IOD sangat kuat hubungannya (koefisien korelasi lebih dari 0,7) dengan kekeringan di hulu lebih nyata daripada hilir DAS.
COVER JSDA Mei 13 COVER JSDA Mei 13
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.578 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.408

Abstract

-
PRAKIRAAN DISTRIBUSI EROSI DAN SEDIMENTASI DI DAS CIMANUK DENGAN MENGGUNAKAN PREDIKSI HUJAN DARI SATELIT DAN MODEL SEDIMEN DISTRIBUSI SPASIAL Agung Bagiawan
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2639.557 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.363

Abstract

Perubahan tata guna lahan sangat berdampak pada perubahan karakteristik hidrologi, hal tersebut teramati dan terindikasi pada meningkatnya banjir, terjadinya kekeringan, menurunnya ketersediaan air, serta meningkatnya laju sedimentasi. Perubahan karakteristik aliran tersebut perlu dipelajari dan diprediksi agar dapat dilakukan antisipasi, dan mitigasinya sehingga perencanaan, pembangunan dan pengoperasian sarana dan prasarana yang telah atau sedang dibangun nantinya dapat dioperasikan secara optimal dan berkelanjutan serta berbagai kebijakan pengelolaan dapat diambil untuk mengurangi bencana yang dapat timbul karenanya. Tujuan dari penelitian ini adalah menginformasikan kondisi erosi dan sedimentasi di DAS Cimanuk sehingga langkah dan kebijakan pengelolaan dapat ditentukan. Model aliran, erosi dan sedimentasi telah berhasil dikembangkan dan diterapkan di DAS Cimanuk untuk memetakan perubahan besarnya erosi dan pergerakan aliran yang membawa sedimentasi dari lahan ke sungai. Peta yang dihasilkan dari model tersebut telah dapat menggambarkan erosi yang terjadi di DAS Cimanuk dalam skala spasial (tempat) dan temporal (waktu) yang mana hasilnya mendekati dan sesuai dengan kondisi erosi dan sedimentasi yang terjadi di lapangan pada tiap-tiap sub DAS di Cimanuk. Hasil model yang telah berhasil menggambarkan perubahan besarnya erosi dan sedimentasi untuk tiap-tiap bulan tersebut dapat memberikan masukan kepada pengelola DAS untuk mengantisipasi/ menurunkan laju erosi dan sedimentasi yang terjadi dengan menyiapkan program konservasi lahan di sub Das Cimanuk pada lokasi yang terlihat mengalami erosi yang berat.
IDENTIFIKASI LEVEL KERENTANAN PROVINSI BALI DENGAN METODE PAIRWISE COMPARISON Huda Bachtiar
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1621.533 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.359

Abstract

Identifikasi kerentanan di Provinsi Bali telah dilakukan menggunakan metode perbandingan berpasangan. Metode ini berdasarkan proses analisis hirarki, yaitu membandingkan suatu elemen objek dengan pembobotan untuk mengklasifikasikan suatu level. Parameter yang ditinjau dalam identifikasi kerentanan ini adalah tata guna lahan, infrastruktur, elevasi, kemiringan, dan kerentanan total. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengevaluasi level kerentanan terhadap parameter yang ditinjau. Identifikasi level kerentanan total tahun 2012 menunjukkan daerah Bali Selatan (Denpasar) memiliki level tinggi karena besarnya populasi penduduk dan lengkapnya fasilitas infrastruktur pendukung pariwisata, sedangkan level rendah terdapat di daerah Bali Utara. Pada tahun 2030, level tinggi dari kerentanan total di Kota Denpasar meluas karena meningkatnya jumlah penduduk dan rencana pengembangan tata guna lahan. Selain itu, level kerentanan di Kabupaten Badung berubah dari level rendah menjadi level moderat karena adanya perluasan area pariwisata. Berdasarkan hasil simulasi dapat diketahui wilayah dengan tingkat kerentanan paling tinggi, yaitu wilayah yang memiliki genangan paling luas. Dalam hal ini, deliniasi wilayah-wilayah tersebut harus tampak jelas pada peta sehingga dapat diterapkan dalam rencana tata ruang kota/wilayah.
DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN IRIGASI MENJADI PERMUKIMAN TERHADAP KINERJA SISTEM DRAINASE PERKOTAAN (STUDI KASUS KAWASAN GAYUNGSARI SURABAYA) Joyce Martha Widjaya
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1386.22 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.364

Abstract

Kawasan Gayungsari, daerah banjir di Surabaya Selatan, adalah salah satu kawasan permukiman hasil alih fungsi lahan bekas daerah irigasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya pemanfaatan saluran irigasi sebagai saluran drainase, elevasi lahan lebih rendah dari elevasi muka air di saluran, bahkan masih ada sawah di kawasan itu. Untuk menanggulangi masalah banjir ini, dilakukan evaluasi dan perencanaan ulang sistem drainase. Solusi yang diusulkan adalah menggunakan sistem polder, dengan menerapkan prinsip kebijakan keseimbangan aliran masuk dan keluar, sehingga delta Q nol. Model analitis rasional, membuktikan bahwa tanpa mengisolir atau meminimalisir kawasan permukiman terhadap kiriman air dari luar, luapan banjir tidak dapat dieliminasi, karena tidak mampu menampung debit kiriman air dari luar yang sifatnya tidak terkontrol. Hasil studi menyatakan bahwa saluran irigasi tidak dapat dikonversikan langsung menjadi saluran drainase kota, karena pola distribusi dimensi dan beda tinggi dasar saluran serta beda tinggi muka air, menjadikan disfungsinya saluran drainase. Untuk mengeliminasi dampak banjir, diusulkan agar dilakukan penataan daerah layanan pada skala makro kota untuk menghasilkan kompartemen polder yang terisolasi. Sistem ini membutuhkan upaya penyesuaian dimensi dan elevasi saluran drainase yang dinormalisasi, pemompaan, penataan ulang lansekap dan kolam retensi.
PEMETAAN ALUR SUNGAI BAWAH PERMUKAAN DENGAN RESISTIVITAS ELEKTRIK DI DAERAH GUNUNGKIDUL Adang Sadikin
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1647.284 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.360

Abstract

Secara geologi, sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul bagian Selatan merupakan penyebaran Formasi Wonosari, yang disusun oleh batugamping. Permukaan tanah kawasan ini merupakan daerah kering yang mengalami kesulitan sumber air baku, meskipun sebenarnya di daerah ini terdapat cukup banyak sumber air berupa sungai bawah permukaan atau gua atau luweng berair. Tahun 1982 MacDonald telah mendokumentasikan 160 gua dan luweng dari 246 yang telah diketahui masyarakat, beberapa di antaranya telah dimanfaatkan seperti Gua Bribin dan sungai bawah permukaan Baron. Di daerah bagian barat Kabupaten Gunungkidul masih sangat sedikit informasi yang diperoleh, salah satunya dari penuturan masyarakat nelayan pencari udang (lobster) terdapat Gua Bekah yang berair tawar. Gua ini terletak di dasar tebing yang memiliki kedalaman lebih dari 80 m. Eksplorasi tahap awal dilakukan dengan metode resistivitas secara dua dimensi. Hasil interpretasi menunjukkan terdapat indikasi gua dan sungai bawah tanah berair tawar. Iso-pach kedalaman gua dari permukaan tanah yang bergelombang berkisar antara 80 m sampai 200 m di bawah muka tanah. Pemanfaatan air dari gua Bekah dapat dilakukan melalui pemipaan yang dipasang pada tebing sampai masuk ke gua, atau melalui pengeboran. Posisi pengeboran disarankan berdasarkan hasil interpretasi untuk pembuatan sumur bor adalah pada koordinat 110o2223.6388 BT 8o42.874 LS.
USAHA MEREDUKSI BANJIR DI BENGAWAN SOLO HILIR Sarwono Sarwono
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1709.181 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v9i1.365

Abstract

Bengawan Solo Hilir yang terletak di Wilayah Provinsi Jawa Timur memiliki sumber daya strategis, yaitu sebagai pemasok air yang sangat besar di Jawa Timur. Di sisi lain permasalahan yang terjadi di Bengawan Solo Hilir adalah banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Oleh karena itu diperlukan upayaupaya untuk penanggulangannya. Salah satu upayanya adalah dengan memanfaatkan rawa Jabung sebagai waduk retensi yang dilengkapi dengan inlet dan outlet, dikombinasikan dengan pembangunan bendung gerak Babat (Babad Barrage) dan saluran pengelak banjir (flood way) Sedayu Lawas yang berfungsi untuk mengalihkan sebagian debit banjir Bengawan Solo dialirkan langsung ke Laut Jawa. Dengan ketiga fungsi bangunan pengendali banjir tersebut diharapkan mampu mereduksi banjir di Bengawan Solo khususnya bagian hilir. Namun saat ini dengan kombinasi bangunan air tersebut di atas belum mampu mereduksi banjir sebagaimana yang diharapkan. Maka diperlukan usaha untuk meningkatkan kapasitas debit aliran salah satunya melalui saluran banjir Sedayu Lawas dengan jalan memodifikasi inletnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8