cover
Contact Name
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
Contact Email
wayang.nusantara@isi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
endahbudiarti30@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry
ISSN : 23564776     EISSN : 23564784     DOI : -
Core Subject : Art,
Wayang Nusantara adalah jumal ilmiah pewayangan yang diterbitkan oleh Jurusan Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjuk:an, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Terbit pertama kali bulan September 2014 dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Maret dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Analisis Wacana Kritis (CDA) Lakon Mintaraga dalam Pagelaran Wayang Kulit Aris Wahyudi; Farhan Khumaini; Krystiadi Krystiadi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.12421

Abstract

AbstractMintaraga play, so called Arjuna Wiwaha play, is an important performance in wayang tradition. Its significance is equal to Dewaruci or Sastrajendra play as it is considered as classical play containing Javanese spiritual teachings. Having been analysed using critical discourse analysis (CDA), this study reveals new values that represent the socio-political reality of the era. The values are rejections of social hegemony, particularly caste, which closely linked to the power system.AbstrakLakon Mintaraga yang sering disebut lakon Arjuna Wiwaha merupakan lakon penting dalam tradisi wayang. Keberadaannya sering disejajarkan dengan lakon Dewaruci atau lakon Sastrajendra yang dipandang sebagai lakon sepuh yang mengandung ajaran spiritual Jawa. Realitas di atas, setelah ditelaah dengan analisis wacana kritis (CDA), ternyata diperoleh nilai-nilai baru yang mempresentasikan realitas sosial politik yang mewakili nafas zamannya. Nilai-nilai tersebut adalah penolakan terhadap hegemoni sosial terutama tentang kasta yang berkaitan erat dengan sistem kekuasaan.
Prabu Bogadhenta dalam Lakon Bogadhenta Gugur oleh Ki Hadi Sugito: Sebuah Kajian Mitologi-Ritual Mikael Satrio Murbo Suseto; Aris Wahyudi; Ign. Krisna Nuryanta Putra
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.8037

Abstract

AbstractThis study aims to discover the distinct characteristics of King Bogadhenta wayang character from a mythological-ritual perspective. Narratively, King Bogadhenta has supernatural power which cannot be found in other wayang characters. This unique supernatural power is his tears that can mutually revive King Bogadhenta himself, his wife, and his elephant. The process of his death actually shows his supernatural power, which other characters in wayang did not have. Referring to Baratayuda war as a ritual, Prabu Bogadhenta’s death has a particular significance in a mythological-ritual context. With the of ‘epic-ritual-myth’ and ‘laku-mantra-offering’ analysis, this study reveals that King Bogadhenta has performed Tantric rituals and he has Indra’s characteristics. His death becomes an offering in Baratayuda war ritual. When King Bogadhenta is killed by Arjuna, the son and reincarnation of Indra and also the manifestation of Shiva, King Bogadhenta’s death is perfected. In relation to the Baratayuda war as ritual, it means that King Bogadhenta has successfully achieved his ritual and life perfection. The perfection of the Baratayuda ritual cannot be accomplished by war victory; rather, King Bogadhenta, as a devotee of Shiva, was able to bring his god into existence and returned to his origin through his death in Tegal Kurusetra.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan makna tokoh wayang Prabu Bogadhenta dalam perspektif mitologi-ritual. Dikisahkan Prabu Bogadhenta memiliki kesaktian yang tidak dimiliki oleh tokoh wayang lainnya. Kesaktiannya yaitu air mata yang dapat saling menghidupkan antara Prabu Bogadhenta, istri, dan gajah miliknya. Berdasarkan peristiwa kematiannya didapatkan persoalan mengenai kesaktiannya yang tidak dimiliki oleh tokoh lain dalam tradisi wayang. Selain itu, mengacu pada perang Baratayuda sebagai sebuah ritual maka kematian Prabu Bogadhenta memiliki makna tersendiri dalam konteks mitologi-ritual. Data penelitian diperoleh dengan melakukan transkrip rekaman audio Lakon Bogadhenta Gugur sajian Ki Hadi Sugito, pengamatan terhadap lakon-lakon yang memiliki hubungan dengan tokoh Prabu Bogadhenta, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian berdasarkan konsep ‘epik-ritual-mite’ dan konsep ‘laku-mantra-sesaji’ menunjukkan bahwa Prabu Bogadhenta melakukan ritual Tantrik dan memiliki aspek Indra. Kematiannya menjadi aspek sesaji dalam ritual perang Baratayuda. Prabu Bogadhenta gugur di tangan Arjuna sebagai putra dan reinkarnasi Indra, sekaligus sebagai manifestasi Syiwa yang mampu menyempurnakan Prabu Bogadhenta. Mengacu pada perang Baratayuda sebagai ritual, maka Prabu Bogadhenta telah berhasil dalam ritualnya dan mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan ritual Baratayuda tidak dicapai dengan kemenangan, namun Prabu Bogadhenta sebagai pemuja Syiwa mampu menghadirkan dewa yang dipujanya dan kembali kepada dewa asal-muasalnya yaitu Indra melalui kematiannya di Tegal Kurusetra.
Karakter Cablaka pada Tokoh Bawor dalam Pakeliran Gaya Banyumasan Lakon Wahyu Windu Wulan Slamet Sakti Hidayat; Hanggar Budi Prasetya; Ign. Krisna Nuryanta Putra; Krystiadi Krystiadi
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.12366

Abstract

AbstractThis study aims to scientifically prove the cablaka characteristics of Bawor character in Banyumasan wayang performance Wahyu Windu Wulan play presented by Ki Sugino Siswocarito. This study tries to see how the cablaka characteristics of Bawor character is reflected in the play. For the purpose, cablaka concept is used. The results have proven that when the puppet master presents Bawor character, he employs the techniques. Its cablaka characteristics are reflected through the depiction of living environment which is far from royal etiquette; namely in terms of the character’s behaviors, opinions, way of thinking, and way of communication with others, the other characters’ opinions about the character, other characters’ reactions to the character, and the character’s reactions to other characters who are honest, innocent and childish. The cablaka characteristics of Bawor character in wayang performance is evident from the language used, such as using rough, spontaneous, straightforward ngapak dialect giving the impression of being impolite and rude, but also serious, funny, pleasing and comical.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara ilmiah mengenai karakter cablaka tokoh Bawor dalam pakeliran gaya Banyumasan lakon Wahyu Windu Wulan sajian Ki Sugino Siswocarito. Masalah utama yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana karakter cablaka tokoh Bawor tercermin dalam lakon tersebut. Untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, langkah pertama yang dilakukan yaitu studi pustaka, dilanjutkan pengumpulan data, pengambilan sampel data. Langkah selanjutnya adalah transkripsi ucapan dalang dilanjutkan analisis menggunakan konsep cablaka. Berdasarkan hasil analisis, terbukti bahwa pada saat dalang menampilkan tokoh Bawor, karakter cablaka tercermin melalui gambaran lingkungan kehidupannya yang jauh dari tata krama keraton; perilaku, pendapat mengenai dirinya sendiri, jalan pikiran tokoh, cara tokoh lain berbicara dengannya, pendapat tokoh lain tentangnya, reaksi tokoh lain terhadap tokoh, dan reaksi tokoh terhadap tokoh lain yang menunjukkan sifat jujur, lugu, dan murni seperti anak-anak. Karakter cablaka tokoh Bawor dalam pakeliran terlihat melalui bahasanya yang menggunakan dialek ngapak dan kasar, ceplas-ceplos (‘spontan’), thok melong (‘tanpa basa-basi’), lugas yang terkesan tidak memiliki sopan santun dan kurang ajar; mbloak (‘serius tapi lucu’), dablongan (‘seenaknya sendiri’); dan sifatnya yang suka mbanyol (‘melawak’).
Struktur Lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Redi Suta Yasa: Sebuah Perbandingan Sakti Sedono; Aris Wahyudi; Ign. Krisna Nuryanta Putra
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.13460

Abstract

AbstractThis study aims to find similarities and differences in dramatic structures of Murwakala play by Ki Awin and Murwakala play by Ki Redi Suta Yasa. Dramatic structure model by Bakdi Sumanto is used in the analysis. The results of the study show that there are similarities and differences between the Murwakala play by Ki Awin and by Ki Resi Suta Yasa. The similarities are story movement, several character names, identical characters and themes. While the differences lie in the number of story movements, number of scenes, number of characters, and character names. The differences indicate that the Betawinesse Murwakala play by Ki Awin has developed and changed, leading to a more complex narrative than the Surakarta Murwakala play by Ki Redi Suta Yasa.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan persamaan dan perbedaan struktur dramatik lakon Murwakala Ki Awin dan lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa. Data penelitian ini berupa rekaman audio-visual lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa dan lakon Murwakala hasil wawancara dengan Ki Awin. Konsep struktur dramatik model Bakdi Sumanto digunakan dalam analisis. Untuk mencapai hasil yang diinginkan metode komparasi sebagai strategi analisis digunakan dalam tulisan ini. Adapun langkah awal yang dilakukan adalah studi pustaka dan wawancara untuk menentukan point of view penelitian dan menentukan data. Data terpilih lalu dideskripsikan dalam bentuk balungan lakon. Langkah terakhir adalah membandingkan lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Redi Suta Yasa. Unsur yang dibandingkan dalam penelitian ini ialah alur, tokoh, dan tema. Hasil penelitian menunjukkan antara lakon Murwakala Ki Awin dan Ki Resi Suta Yasa terdapat persamaan dan perbedaan. Adapun persamaan dari keduanya yaitu dalam hal pergerakan cerita; beberapa nama tokoh; tokoh identik; dan tema. Sedangkan perbedaannya terletak pada jumlah pergerakan cerita, jumlah adegan, jumlah tokoh, dan nama tokoh. Munculnya perbedaan menunjukkan bahwa lakon Murwakala Ki Awin dari Betawi telah mengalami perkembangan dan perubahan ke arah cerita yang lebih kompleks dibanding lakon Murwakala Ki Redi Suta Yasa dari Surakarta.
Konsep Kepemimpinan Mangkunegara IV dalam Cerita Patih Suwanda Aneng Kiswantoro
Wayang Nusantara: Journal of Puppetry Vol 6, No 2 (2022): September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/wayang.v6i2.11354

Abstract

AbstractThis study aims to identify behaviors reflecting guna kaya purun leadership values in Premier Suwanda. Literature study was used to determine the research perspective and summary of Premier Suwanda’s journey was obtained from various sources, spoken and written. The analysis was then conducted using the concept of guna kaya purun according to the Serat Tripama. The results show that purun, guna kaya concept is very useful for leadership principle. Capability (purun) in all matters is the first and foremost thing and the key to life. A sense of capability (purun) will motivate us to complete everything with intelligence, ownership, and ability (guna kaya) to achieve the best possible results. As a leader, people must utilize their best capacities and abilities to benefit others.AbstrakPenelitian ini bertujuan menemukan perilaku yang mencerminkan guna, kaya, purun dalam diri tokoh Patih Suwanda sebagai nilai-nilai kepemimpinan. Langkah awal penelitian ini adalah studi pustaka untuk menentukan point of view penelitian, selanjutnya meringkas perjalanan Patih Suwanda berdasarkan berbagai sumber baik lisan, buku, karya, maupun dokumen lainnya. Selanjutnya dilakukan analisis menggunakan konsep guna kaya purun menurut Serat Tripama. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep purun, guna, kaya sangat baik untuk kita jadikan prinsip kepemimpinan. Kesanggupan (purun) dalam segala hal merupakan hal pertama dan utama serta kunci dalam hidup. Apabila kita memiliki rasa sanggup (purun) maka akan mendorong kita untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan kepintaran, kepemilikan, dan kemampuan (guna, kaya), untuk mencapai hasil sebaik- baiknya. Sebagai seorang pemimpin, maka gunakanlah kapasitas dan kemampuan kita semaksimal mungkin supaya berguna bagi orang lain maupun sesembahan kita.