Desa-Kota : Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Pemukiman
Desa-Kota, adalah jurnal perencanaan wilayah, kota, dan permukiman, yang tujuan utamanya adalah untuk memperdalam pemahaman tentang kondisi perkotaan, perdesaan, dan kewilayahan, serta perubahan dan dinamika yang terjadi di area tersebut, baik dari perspektif empiris, teoretis, maupun kebijakan.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5, No 1 (2023)"
:
15 Documents
clear
Peran Kota Tua Ampenan dalam Mendukung Konsep Pariwisata Berkelanjutan di Lombok
Erika Nurfathi Adnan;
Soedwiwahjono Soedwiwahjono;
Lintang Suminar
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67415.35-48
Pariwisata kini menjadi sektor yang kembali menarik perhatian. Maraknya pariwisata Indonesia disebabkan kekayaan dan potensi yang dimiliki Indonesia. Momentumini tentu harus berjalan dengan berkelanjutan agar tidak mengurangi kekayaan dan potensi yang dimiliki oleh Indonesia. Pariwisata berkelanjutan merupakan aktivitas pariwisata yang mempertimbangkan sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pengembangannya. Lombok merupakan salah satu pulau di Indonesia dengan kekayaan alam dan budaya. Dalam pengembangan pariwisatanya, Lombok telahmenetapkan konsep berkelanjutan untuk memberikan pengalaman budaya dan alam yang berkualitas. Dalam hal ini telah ditetapkan Kawasan Inti Pariwisata sebagai fokus pengembangan pariwisata, salah satunya adalah Kota Tua Ampenan. Kota Tua Ampenan menawarkan sejarah perkembangan perkotaan di Pulau Lombok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kesesuaian Kota Tua Ampenan dalam menunjang konsep pariwisata Lombok yang berkelanjutan. Kesesuaian ini nantinya didasarkan pada komponen pariwisata, yaitu atraksi, amenitas, aksesibilitas, dan kelembagaan. Komponen-komponen ini kemudian ditinjaukembali berdasarkan aspek berkelanjutan, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pengukuran bagaimana Kota Tua Ampenan mendukung pariwisata Lombok yang berkelanjutan dilakukan menggunakan teknik analisis skoring. Penelitian ini menghasilkan bahwa komponen pariwisata berkelanjutan di Kawasan Pariwisata Kota Tua Ampenan mendukung konsep pariwisata Lombok yang berkelanjutan.
Dukungan Kinerja Pengelolaan Sampah terhadap Kesesuaian Penerapan Konsep Keberlanjutan Lingkungan di Kota Mataram
Muh. Haikal Al-Giffari;
Galing Yudana;
Lintang Suminar
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.68925.118-132
Kota kini bukan sekedar tempat bermukim, melainkan juga sebagai pusat pelayanan yang harus dapat melayani masyarakat kota dan daerah sekitarnya. Dalam perkembangannya, suatu kota tidak terlepas dari permasalahan dan hambatan seperti kebutuhan terhadap pembangunan, menurunnya ketersediaan sumber daya, kurangnya fasilitas umum, dan permasalahan lingkungan. Salah satu permasalahan yang kerap hadir di perkotaan dan belum mampu diatasi dengan maksimal adalah permasalahan terkait pengelolaan sampah. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan permasalahan bagi perkembangan suatu kota. Kota sebagai pusat pelayanan berpotensi meningkatkan pertumbuhan penduduk dan kegiatan di dalamnya, sehingga secara tidak langsung produksi sampah yang dihasilkan akan meningkat. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengelolaan sampah yang memadai sehingga dapat mempermudah perkembangan suatu kota kedepannya. Kota Mataram merupakan Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat dan menjadi salah satu pusat pelayanan yang ada. Pada tahun 2021, Kota Mataram memiliki jumlah penduduk sebanyak 495.681 jiwa dengan luas wilayah sebesar 6.130 Ha. Dengan jumlah penduduk 495.681 jiwa, timbulan sampah di Kota Mataram cukup tinggi sehingga perlu adanya pengelolaan sampah yang memadai dalam mengurangi dan menangani sampah serta mengurangi dampak negatif dari produksi sampah yang ada. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini mengkaji kesesuaian kinerja pengelolaan sampah dalam mendukung penerapan konsep keberlanjutan lingkungan di Kota Mataram. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui perhitungan skoring pada tiap indikator dalam variabel yang akan menentukan tingkat klasifikasi kesesuaian kinerja pengelolaan sampah dalam mendukung penerapan konsep keberlanjutan lingkungan di Kota Mataram. Terdapat enam komponen yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu aspek teknis, aspek kelembagaan, aspek pembiayaan, aspek kebijakan, aspek peran masyarakat, dan target kinerja pengelolaan sampah. Berdasarkan hasil, kinerja pengelolaan sampah di Kota Mataram berada pada tingkatan klasifikasi kurang sesuai dalam mendukung penerapan konsep keberlanjutan lingkungan.
Karakteristik Aktivitas Perdagangan dan Jasa sebagai Aktivitas Pendukung Perguruan Tinggi: Studi Kasus Kecamatan Kartasura dan Kecamatan Laweyan
Talitha Benny Dikta;
Hakimatul Mukaromah;
Paramita Rahayu
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67488.49-63
Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo memiliki arahan pengembangan pendidikan serta perdagangan dan jasa berdasarkan RTRW Kabupaten Sukoharjo Tahun 2011-2031. Pengembangan pendidikan dapat ditinjau dari keberadaan kawasan pendidikan Desa Gonilan, Desa Pabelan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, sertaKelurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Kartasura dimanaterdapat dua perguruan tinggi di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan aktivitas perdagangan dan jasa di kawasan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan perkembangan aktivitas pendidikan memberikan peluang peningkatan perekonomian dan perubahan lahan nonterbangun menjadi terbangun. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deduktif dan menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif spasial untuk mengetahui perubahan penggunaan lahan yang terjadi serta deskriptif statistik untuk mengetahui persentase peningkatan aktivitas sejak tahun 2011. Pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data primer melalui observasi dan kuesioner kepada pelaku usaha, serta data sekunder melalui dokumen dan citra satelit. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa aktivitas perguruan tinggi berperan penting dalam perkembangan aktivitas perdagangan dan jasa selama 2011-2022. Peningkatan jumlah mahasiswa sebesar 29% berpengaruh terhadap persebaran dan luas sarana perguruan tinggi sebesar 42%. Aktivitas perguruan tinggi memberikan peluang peningkatan perekonomian 45% yang sebagian besar dimanfaatkan masyarakat sekitar. Perkembangan aktivitas perguruan tinggi dan peluang perekonomian pada kawasan berdampak terhadap peningkatan luas sarana perdagangan dan jasa sebesar 52%.
Kesesuaian Kawasan Terminal Tirtonadi dan Stasiun Solo Balapan, Surakarta dari Perspektif Konsep TOD
Bagus Raditya;
Soedwiwahjono Soedwiwahjono;
Kusumastuti Kusumastuti
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.63521.133-147
Transit-Oriented Development (TOD) merupakan konsep pembangunan perkotaan yang mengintegrasikan sistem transit dan penggunaan lahan untuk mendorong pergerakan nonmotor. Integrasi dicapai melalui desain kawasan yang kondusif untuk perjalanan nonmotor, keberagaman penggunaan lahan yang menciptakan lingkungan perkotaan yang hidup, serta kepadatan yang membangkitkan penggunaan sistem transit. Kota Surakarta sudah mewacanakan pembangunan TOD melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surakarta 2011-2031 tetapi belum ada rencana lebih rinci mengenai pembangunan TOD. Dengan berjalannya rencana pembangunan sistem transit, maka meningkat pula kebutuhan pembangunan TOD di simpul-simpul transit Kota Surakarta. Untuk mengintegrasikan sistem transit dan penggunaan lahan, serta untuk mengetahui bagaimana TOD dapat dibangun, maka perlu diketahui keadaan kawasan di sekitar titik transit, dilihat dari prinsip-prinsip TOD. Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi merupakan simpul transit terbesar di Kota Surakarta yang berada pada kawasan yang direncanakan sebagai pusat pelayanan pemerintahan dan perdagangan dan jasa, menjadikannya menawarkan potensi kawasan untuk dibangun menjadi TOD. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran seberapa jauh prinsip TOD ditemukan di simpul transit Kota Surakarta melalui studi kasus di Terminal Tirtonadi dan Stasiun Solo Balapan. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang menggunakan metode statistik deskriptif melalui pendekatan deduktif. Penelitian ini menemukan bahwa dalam kawasan penelitian, hanya prinsip kepadatan yang sudah memenuhi konsep TOD dengan keadaan prinsip desain di kawasan masih belum dapat menawarkan keamanan dan kemudahan untuk pergerakan non motor, serta keadaan prinsip keberagaman masih belum dapat menciptakan kawasan dengan daya tarik tinggi.
Konsep Hutan Bakau sebagai Konsep untuk Mitigasi Tsunami di Banda Aceh, Indonesia
Suci Senjana;
Tasliati Djafar;
Rufia Andisetyana Putri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.70756.163-171
Pada tahun 2004, tsunami Samudra Hindia melanda Kota Banda Aceh, ibu kota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dengan gelombang setinggi 11 meter. Peristiwa ini menjadikan banyak pihak sadar dan memberi perhatian untuk melindungi kota dari ancaman bahaya alam tidak terduga di masa depan. Berkembang penelitian-penelitian yang mengusulkan solusi berbasis alam, terutama penggunaan vegetasi untuk dapat mendukung tanggul dalam mengurangi kecepatan aliran air tsunami, diantaranya melalui penggunaan tanaman bakau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan penggunaan hutan bakau untuk mendukung tanggul struktural dalam meningkatkan kapasitas mitigasi tsunami di garis pantai Banda Aceh. Studi ini diawali dengan survei dan observasi wilayah pesisir Kota Banda Aceh yang dilanjutkan dengan penggunaan metode projective design strategy untuk membuat perencanaan skenario hutan bakau pada perencanaan lanskap garis pantai Kota Banda Aceh. Analisis data sekunder dengan menggunakan literatur membantu menyusun kerangka kerja konseptualisasi hutan bakau di Kota Banda Aceh. Tanaman bakau sebagai elemen lanskap dan penerapannya sebagai hutan bakau menjadi fokus penelitian ini. Alih-alih membandingkan mana yang harus dipilih antara tanaman bakau dan tanggul, penelitian ini meninjau bagaimana keduanya digunakan dan bermanfaat bagi masyarakat dan ekosistem. Hasil dari penelitian ini adalah konsep skenario pemanfaatan hutan bakau dengan jarak 1,5 km dari bangunan dan mendampingi fungsi tanggul serta jalur evakuasi dalam usaha mengurangi kerusakan akibat tsunami yang mungkin akan terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini tidak mengkritik penggunaan tanggul struktural, tetapi mengembangkan pengetahuan bagi para praktisi dan pemangku kepentingan untuk menyelidiki opsi dalam melengkapi strategi perencanaan dan desain kota dalam isu ini untuk berpartisipasi dalam pembangunan berkelanjutan.
Penataan Permukiman Kumuh di Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo dan Dampaknya terhadap Kualitas Hidup Masyarakat
Hariz Fakhri;
Winny Astuti;
Isti Andini
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67515.64-76
Permukiman kumuh merupakan kawasan dengan kualitas infrastruktur yang tidak terjamah oleh pertumbuhan dan pembangunan perkotaan. Penataan permukiman kumuh merupakan proses penyelesaian permukiman kumuh dengan fokus penataan pada tujuh komponen, yaitu penataan bangunan, jalan lingkungan, air bersih, sanitasi, drainase, pengelolaan persampahan, dan proteksi kebakaran. Upaya penyelesaian permukiman kumuh dapat memberikan dampak bagi kualitas hidup masyarakat setempat. Kondisi kualitas hidup yang diteliti pada penelitian ini adalah kondisi sosial dan ekonomi pada masyarakat Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo, Kota Surakarta. Pemilihan kawasan tersebut didasarkan pada kondisi kawasan permukiman kumuh yang sudah selesai pada tahapan penataan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penataan permukiman kumuh terhadap kualitas hidup pada Kawasan HP 00001 Kelurahan Mojo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Penggunaan metode penelitian kuantitatif dilakukan pada pengujian hipotesis untuk melihat perubahan kualitas hidup dengan analisis paired sample t-test. Metode penelitian kualitatif dilakukan untuk melihat dampak penataan permukiman kumuh terhadap kualitas hidup dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, kuesioner, dan wawancara terhadap masyarakat Kawasan HP 00001. Hasil dari pengumpulan data kuesioner tersebut menjadi input untuk analisis paired sample t-test. Dari hasil pengujian hipotesis paired sample t-test, didapatkan kesimpulan bahwa pada Kawasan HP 00001 terdapat perubahan kualitas hidup baik dari kondisi ekonomi maupun sosial. Perubahan yang terjadi pada kondisi sosial yaitu kondisi kesehatan, perilaku, interaksi sosial, dan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Perubahan yang terjadi pada kondisi ekonomi yaitu perubahan pada pendapatan dan kepemilikan aset masyarakat. Adapun pekerjaan dan kepuasan kerja masyarakat tidak mengalami perubahan sebelum dan sesudah penataan permukiman kumuh. Hal tersebut mengakibatkan adanya dampak signifikan dan dampak tidak signifikan. Dampak signifikan terjadi pada kondisi kesehatan, perilaku masyarakat, interaksi sosial, keamanan terhadap bahaya kebakaran, pendapatan, dan kepemilikan aset. Dampak tidak signifikan terjadi pada pekerjaan dan kepuasan kerja.
Hubungan Perubahan Kerapatan Vegetasi dan Bangunan terhadap Suhu Permukaan Lahan: Studi Kasus di Aglomerasi Perkotaan Surakarta
Prasetyo Wibisono;
Nur Miladan;
Rizon Pamardhi Utomo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.63639.148-162
Tingginya tingkat urbanisasi pada suatu kota menimbulkan permasalahan yang kompleks, diantaranya meningkatnya aktivitas masyarakat yang berdampak pada berkurangnya lahan vegetasi pada kawasan perkotaan. Seringkali ditemukan bahwa kerapatan vegetasi wilayah suburban lebih tinggi daripada di pusat kota. Dengan demikian, terdapat perbedaan suhu yang cukup signifikan antara wilayah suburban dan pusat kota. Hal tersebut memicu terbentuknya pulau panas di perkotaan atau yang biasa disebut Urban Heat Island (UHI). Salah satu fenomena UHI dapat dilihat di Kota Surakarta. Peningkatan perubahan tutupan lahan terbangun dan peningkatan konsentrasi aktivitas masyarakat di Kota Surakarta dapat memicu peningkatan suhu permukaan kota. Bertolak pada masalah tersebut penelitian ini berupaya mengetahui hubungan perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan di aglomerasi perkotaan Surakarta terhadap suhu permukaan lahan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam rentang waktu 2000-2021, kerapatan vegetasi mengalami penurunan setiap tahunnya. Berbeda dengan kerapatan vegetasi, kerapatan bangunan pada kawasan penelitian mengalami peningkatan setiap tahunnya. Perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan juga diikuti terjadinya peningkatan suhu sebesar 4,24°C. Hal tersebut terjadi akibat peningkatan lahan terbangun tiap tahunnya yang tidak diimbangi dengan peningkatan lahan bervegetasi sebagai peneduh dalam wilayah perkotaan. Berdasarkan analisis regresi linear berganda, diketahui bahwa adanya perubahan kerapatan vegetasi dan bangunan memiliki hubungan sedang terhadap terjadinya perubahan suhu permukaan dengan pengaruh sebesar 30,2%. Berdasarkan uji T parsial, diketahui bahwa perubahan kerapatan vegetasi dan kerapatan bangunan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan suhu permukaan secara terpisah.
Pemanfaatan Ruang Publik Kawasan Kuliner sebagai Destinasi Wisata di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat
Nadhifa Fadhila;
Istijabatul Aliyah;
Chrisna Trie Hadi Permana
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.69452.172-183
Seiring dengan bertambahnya kebutuhan hidup manusia, kebutuhan ruang untuk melayani aktivitas manusia sehari-hari semakin meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, masyarakat dituntut inovatif memanfaatkan ruang. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner. Namun, pemanfaatan ruang publik tersebut dapat menimbulkan beberapa masalah seperti meningkatnya kemacetan kawasan serta masalah kebersihan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi eksisting pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di Kawasan Kuliner Kota Padang Panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Proses identifikasi kondisi eksisting pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di kawasan kuliner kota dilakukan dengan melakukan observasi terhadap kondisi fisik ruang publik, kebutuhan wisatawan dan masyarakat setempat, kebijakan dan regulasi yang berlaku, serta hal-hal yang terkait dengan iklim sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi pemanfaatan ruang publik sebagai destinasi wisata kuliner di Kawasan Kuliner Kota Padang Panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang publik yang dimanfaatkan sebagai destinasi wisata kuliner di kawasan kuliner kota memiliki desain, bentuk, dan aktivitas beragam. Kawasan kuliner memiliki desain ruang publik tertutup, ruang publik terbuka, dan ruang publik semi terbuka. Desain ruang publik tersebut memiliki dua yaitu persegi (square) dan memanjang (linier). Dengan adanya ruang publik tersebut, masyarakat memiliki keragaman aktivitas, baik aktivitas utama maupun aktivitas kuliner yang ada di kawasan kuliner. Selain itu, kawasan kuliner memiliki desain yang unik dan menarik, keragaman kuliner, hingga lingkungan yang menarik sehingga memiliki daya tarik wisata bagi para wisatawan serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Potensi Peningkatan Perekonomian Pelaku Usaha Lokal sebagai Dampak Perubahan Guna Lahan pada Kawasan Wisata: Studi Kasus Kawasan Wisata Rowo Jombor, Kabupaten Klaten
Zaimul Azzah Aszahro;
Isti Andini;
Winny Astuti
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.67560.77-89
Kawasan Wisata Rowo Jombor merupakan salah satu pembentuk citra wisata Kabupaten Klaten. Upaya revitalisasi Waduk Rowo Jombor dan penyusunan Masterplan Kawasan Rowo Jombor 2037 bertujuan untuk mengembalikan fungsi waduk yang menurun akibat pendangkalan dan mengembangkan objek wisata, sarana, dan prasarana penunjang wisata di Waduk Rowo Jombor. Pengembangan atraksi, objek wisata, sarana, prasarana destinasi wisata yang memindahkan aktivitas dari atas air ke daratan akan berdampak bagi perubahan guna lahan di sekitar kawasan sebagai manifestasi peningkatan aktivitas masyarakat terutama dalam bidang perekonomian. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi peningkatan perekonomian pelaku usaha lokal sebagai dampak perubahan guna lahan di Kawasan Wisata Rowo Jombor. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis proyeksi perubahan penggunaan lahan dan proyeksi peningkatan perekonomian. Adanya perubahan penggunaan lahan untuk mengakomodasi pengembangan dan pembangunan objek wisata dan sarana penunjang wisata pada tahun 2037 diproyeksikan akan meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal sebesar 462% melalui peningkatan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja baru, dan penyerapan tenaga kerja pada objek wisata maupun sarana penunjang wisata. Kontribusi terbesar terhadap peningkatan perekonomian disumbangkan oleh peningkatan pendapatan pelaku usaha pada atraksi Embung Purbosari yang diproyeksikan mengalami perluasan penggunaan lahan wisata sebesar 5,71 ha dengan peningkatan pendapatan sebesar lebih dari Rp 2.576.556.906,10.
Kajian Aksesibilitas dan Konektivitas Stasiun Transit KRL Manggarai dan Depok terhadap Jalur KRL Regional Jakarta-Depok
Adjrina Fildzah Pelawi;
Paramita Rahayu;
Hakimatul Mukaromah
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.20961/desa-kota.v5i1.63805.1-14
Masifnya pergerakan akibat fenomena urbanisasi pada kawasan perkotaan Jabodetabek memicu peningkatan permintaan terhadap jaringan transportasi. Permintaan akan jaringan dan moda transportasi kemudian membentuk koridor perkotaan, termasuk Jakarta-Depok. Berbagai jaringan dan moda transportasi saling terhubung melalui jaringan transportasi lokal yang berkembang. Salah satunya adalah Kereta Rel Listrik (KRL) jalur Manggarai-Depok yang memiliki aktivitas komuter yang tinggi. Keberadaan stasiun transit membutuhkan adanya konektivitas dan aksesibilitas lokal yang baik. Jalur Manggarai-Depok dipilih berdasarkan tingginya jumlah penumpang serta status stasiun yang merupakan stasiun kereta kelas besar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, studi literatur, dan kuesioner. Teknik analisis yang dilakukan adalah teknik analisis spasial deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menitikberatkan pada kajian terhadap tingkat aksesibilitas dan konektivitas kawasan stasiun transit ke titik stasiun sebagai bagian dari jalur transportasi regional KRL Jakarta-Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas jaringan jalan lokal pada area delineasi dengan radius 800 m dari stasiun sangat tinggi. Sementara itu, jaringan jalan primer yang berupa jalan arteri sekunder memiliki nilai yang tinggi untuk Stasiun Manggarai dan memiliki nilai aksesibilitas sedang untuk Stasiun Depok. Konektivitas yang menghubungkan kawasan delineasi dengan berbagai pusat kegiatan perkotaan pada kawasan yang lebih luas memiliki nilai sangat baik. Dapat dikatakan kedua stasiun transit terhubung dengan baik, baik secara lokal maupun dengan kawasan perkotaan yang lebih luas. Oleh karena itu, aksesibilitas dan konektivitas Stasiun Manggarai dan Stasiun Depok mampu mendukung pergerakan regional pada koridor perkotaan Jakarta-Depok.