cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp" : 11 Documents clear
Peran Aromatase Inhibitor pada Pasien Resisten Clomiphene Citrate Noor Pramono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.747 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.214

Abstract

Latar belakang : Penyebab anovulasi oleh WHO diklasifikasikan menjadi 3 kategori berdasar tempat lesinya. WHO tipe 2 (normogonadotropic hypogonadism), paling banyak menjadi penyebab anovulasi, dan paling sering oleh karena PCOS. Induksi ovulasi yang digunakan adalah clomiphene citrate, sebagai lini pertama terapi; dan bila resisten, gagal, dilanjutkan dengan terapi alternatif. Resisten clomiphene citrate (resisten CC) adalah pasien yang gagal berovulasi setelah menerima 150 mg/hari atau 200 mg/hari selama 5 hari, atau tetap anovulasi setelah terapi CC standar (100 mg perhari untuk 5 hari selama 2-3 siklus). Terapi alternatif untuk pasien resisten-CC banyak cara, di antaranya adalah aromatase inhibitor (AI). Review ini bertujuan untuk mempelajari farmakologi, cara kerja, cara pemberian, keberhasilan, dan efek samping AI. Metode : Telaah pustaka Hasil : Generasi ke-3 AI adalah Exemestane, Letrozole (L), dan Anastrozole (A), untuk terapi kanker payudara. L dan A dikenal untuk induksi ovulasi. Induksi ovulasi dengan A 1 mg/hari atau L 2.5 mg/hari selama 5 hari mempunyai keberhasilan yang sama. Pemberian L pada hari ke 3–7 menstruasi, menghambat aromatase di ovarium,terjadi akumulasi androgen intraovarium, sekresi E2 ovarium tertekan akan mengurangi umpan balik negatif-estrogen pada hipothalamus dan pituitari. Terjadi peningkatan sekresi FSH dari pituitari anterior. Akumulasi androgen di dalam folikel akan meningkatkan sensitivitas folikuler terhadap FSH, folikulo genesis yang terjadi menghasilkan folikel multipel. Akhir fase folikuler, pengaruh AI menurun, dan kadar E2 meningkat, terjadi pertumbuhan folikel. Oleh karena AI tidak mempengaruhi pusat reseptor esterogen, kadar E2 yang meningkat berakibat umpan balik negatif normal pada sekresi FSH, folikel yang lebih kecil dari folikel dominan mengalami atresi, dengan hasil ovulasi monofolikuler. L tidak mempunyai efek samping anti estrogenik perifer, dan half-life 48 jam, obat hilang dari tubuh 10 hari setelah obat terakhir, sehingga jarang terjadi simtom antiestrogenik. Efek samping utama adalah hotflash, nyeri otot ringan, dan keluhan gastrointestinal. Terapi A dan L tidak didapati OHSS maupun kehamilan multipel. Tidak mempunyai pengaruh negatif terhadap endometrium maupun mukus serviks. Angka kehamilan dan angka kelahiran hidup cukup tinggi. Dengan L didapatkan untuk angka ovulasi 70-85%, kehamilan 20-27%, tidak menunjukkan adanya peningkatan risiko anomali fetal atau keluaran kehamilan yang merugikan. Angka kehamilan dan kelahiran hidup lebih tinggi daripada CC. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa L lebih unggul dari CC untuk terapi PCOS yang belum pernah menggunakan induksi ovulasi sebelumnya atau resisten CC. Tidak ada beda efektivitas dengan laparoskopi drilling ovarium. Simpulan : Salah satu terapi alternatifpasien resisten CC adalah dengan L 2,5 mg atau A 1 mg perhari pada hari ke 3-7 menstruasi. L dan A tidak berpengaruh negatif pada endometrium maupun mukus serviks, angka ovulasi 70-85%, kehamilan 20-27%, kelahiran hidup cukup tinggi, tidak meningkatan risiko anomali fetal, tidak didapatkan OHSS maupun kehamilan multipel.
Perbandingan Efektivitas Klinik Larutan Gentian Violet dengan Mikonazol Krim pada Terapi Otomikosis Enny Astuti; Pujo Widodo; Dian Ruspita; Muyassaroh Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.296 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.215

Abstract

Latar belakang : Kejadian otomikosis sekitar 9–40% dari seluruh kasus otitis eksterna. Penatalaksanaan otomikosis meliputi ear toilet secara berkala dan medikamentosa dengan antimikotik yang dapat diberikan secara topikal atau dikombinasi secara sistemik. Antimikotik topikal dapat berupa larutan maupun krim. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas klinik larutan gentian violet 1% dengan mikonazol krim 2% pada terapi otomikosis. Metode : Penelitian quasy eksperimental, dengan desain pre dan post test. Subjek adalah penderita otomikosis. Penegakan diagnosis otomikosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pengecatan jamur dari Swab CAE. Subjek terdiri dari 2 kelompok terapi yaitu kelompok gentian violet (GV) dan mikonazol krim, dievaluasi keluhan (gatal, discad, nyeri, kurang dengar dan tinitus) dan tanda klinik (discad, edem dan debris CAE) pada hari ke–3,7,10 dan 14. Subjek diberi terapi lanjutan berupa aplikasi ulang GV atau mikonazol, sebelumnya dilakukan ear toilet untuk evaluasi. Pengecatan jamur ulang pada hari ke–7 dan 14. Uji statistik dilakukan menggunakan uji Chi square dan dan Manova. Hasil : Didapatkan 55 subjek otomikosis, 28 subjek kelompok GV dan 27 subjek kelompok mikonazol krim. Jenis kelamin laki-laki ada 25 subjek (45,4%) dan perempuan 30 subjek (54,6%). Kelompok usia terbanyak 41-50 tahun, sebanyak 19 subjek (34,60%). Hasil analisis pasca terapi menunjukkan perbedaan perbaikan keluhan gatal (p=0,009), discad (p=0,005),nyeri (p=0,012), kurang dengar (p=0,015), tinnitus (p=0,009). Terdapat perbedaan tanda klinik: edem CAE (p=0,009), discad (p=0,011), debris (p=0,008). Tidak terdapat perbedaan perubahan hasil pengecatan jamur pada hari ke-7 (p=0,422), dan hari ke-14 (p=1,000). Simpulan : Terapi larutan gentian violet lebih memberikan perbaikan keluhan dan tanda klinik dibanding terapi mikonazol, tetapi tidak berbeda dalam perubahan pengecatan jamur pasca terapi.
Faktor Risiko Kurang Pendengaran Sensorineural Pada Penderita Penyakit Jantung Koroner Muyassaroh Muyassaroh; Ika Windi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.149 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.216

Abstract

Latar belakang : Kurang pendengaran sensorineural (KPSN) dapat terjadi pada penderita jantung koroner yang mendapat pengobatan aspirin atau yang disertai dengan penyakit penyerta hipertensi, diabetes melitus atau hiperlipidemia. penyakit kardiovaskuler dan gangguan arteri perifer berhubungan dengan gambaran audiogram berupa penurunan ambang dengar pada frekuensi rendah Metode : Design penelitian belah lintang. Penelitian di unit jantung RSUP Dr. Kariadi Semarang. Pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling. Sampel yang telah ditentukan sebanyak 78. Semua sampel dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dengan hasil KPSN. Penggunaan aspirin dosis rendah, riwayat hipertensi, DM, hiperkolesterol, hiperlipidemi didapatkan dari kuesener dan Rekam medik. Dilakukan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium darah. Analisis data dengan uji Chi square dan regresi logistik. Protokol penelitian telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran FK UNDIP / RSUP Dr. Kariadi Semarang. Hasil : Didapatkan 78 subyek terdiri dari 47 (60,3%) laki-laki dan 31 (39,7%) perempuan. Sebagian besar subjek penelitian (70,6%) berusia 51–60 tahun. Kejadian KPSN pada penyakit jantung koroner sebanyak 46 (59%). Hipertensi (p=0,743, RP=1,167, 95%CI=0,463–2,944), DM (p=0,219, RP=1,905, 95%CI=0,677–5,36), Hiperlipidemi (p=0,414, RP=1,462, 95% CI=0,587–3,638) tidak bermakna terhadap kejadian KPSN. Didapatkan perbedaan bermakna pada penggunaan aspirin dosis rendah (p=0,023, RP=0,3, 95% CI=0,104–0,868). Simpulan : Hipertensi, DM, Hiperlipidemi bukan merupakan faktor risiko KPSN. Penggunaan aspirin dosis rendah merupakan faktor protektif terhadap KPSN.
Pengaruh Pemberian Metilprednisolon Oral Terhadap Perubahan Kadar C-Reactive Protein Penderita Kanker Kepala Leher yang Diberikan Radioterapi Hesti Palupi; Muyassaroh Muyassaroh; Dwi Antono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.786 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.217

Abstract

Latar belakang : Radioterapi dapat memberikan efek inflamasi terus menerus pada kanker kepala leher (KKL). C-reactive protein (CRP) merupakan protein fase akut sebagai parameter status inflamasi terkini. Metilprednisolon bekerja pada efektor akhir untuk menginhibisi inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengaruh pemberian metilprednisolon terhadap kadar CRP pada penderita KKL yang mendapat radioterapi. Metode : Penelitian intervensi yang membandingkan perubahan kadar CRP pasien KKL dengan radioterapi antara kelompok yang diberikan metilprednisolon (n=15) dan yang tidak diberikan metilprednisolon (n=15) pada sebelum, 7 kali radioterapi dan 14 kali radioterapi. Hasil : Hasil penelitian didapatkan peningkatan bermakna kadar CRP pada kelompok metilprednisolon dan kontrol setelah 7 kali radioterapi (p<0,05). Perbedaan bermakna perubahan kadar CRP antara kelompok metilprednisolon dan kontrol setelah 14 kali radioterapi (p<0,05). Simpulan : Pemberian metilprednisolon dapat mempengaruhi perubahan kadar CRP pasien KKL yang diberikan radioterapi
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Perkembangan Ketrampilan Makan Bayi Usia 6-12 Bulan Budi Nurcahyani; Maria Mexitalia; J Susanto; M Sakundarno
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.192 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.218

Abstract

Latar belakang : Walaupun WHO tahun 2001 telah mengeluarkan deklarasi tentang ASI eksklusif sampai bayi usia 6 bulan, tetapi sebagian besar bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif. Ketrampilan makan bayi yang diawali dengan belajar menyusu ibu, secara bertahap diikuti dengan belajar mengkonsumsi berbagai jenis makanan pendamping ASI dan selanjutnya beraneka ragam makan lain yang biasa dikonsumsi oleh anak yang lebih besar atau orang dewasa. Perkembangan motorik kasar, motorik halus, motorik oral, merupakan dasar penilaian ketrampilan makan dan pemberian makanan tambahan pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan perkembangan ketrampilan makan pada bayi. Metode : Desain penelitian ini adalah longitudinal prospektif dengan subyek bayi usia 6 -2 bulan di Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang-Semarang. Subyek penelitian terdiri dari 69 bayi. Diikuti lama pemberian ASI eksklusif, cara pemberian makan, jenis makanan yang diberikan. Kemudian dinilai perkembangan motorik oral, motorik kasar, motorik halus dan ketrampilan makan setiap bulan sampai anak usia 12 bulan. Hasil : Dari total sampel 69 bayi, terdapat 23 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 4 bulan dan 46 bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Rerata pemberian ASI eksklusif selama 2,31 bulan. Pemberian ASI eksklusif paling lama pada ibu dengan pendidikan sedang. Perkembangan motorik kasar, motorik halus, motorik oral pada penelitian ini memiliki kisaran umur yang luas. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok bayi yang mendapat ASI eksklusif 4 bulan dan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif dengan perkembangan ketrampilan makan pada bayi usia 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan. Pada usia 12 bulan didapatkan semua bayi mempunyai ketrampilan makan sesuai umur. Simpulan : Tidak ada perbedaan yang bermakna pada perkembangan ketrampilan makan antara kelompok bayi yang mendaptkan ASI eksklusif 4 bulan dan kelompok bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif.
Hubungan Radioterapi dengan Kejadian Depresi pada Pasien Lansia dengan Kanker Kepala Leher Gendis Sekarnegari
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.458 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.219

Abstract

Latar belakang : Laju pertumbuhan penduduk usia lanjut mengalami peningkatan yang konstan terutama di negara-negara berkembang. Pertumbuhan ini diiringi dengan prevalensi penyakit yang meningkat, salah satunya kanker kepala dan leher. Radioterapi yang merupakan modalitas utama kanker kepala dan leher dapat memberikan efek yang buruk bagi keadaan psikososial pasien, termasuk depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan antara radioterapi dengan skor Geriatric Depression Scale (GDS) pada dua kelompok sampel; pasien yang belum dan sedang menjalani radioterapi. Metode : Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional pada 28 pasien usia lanjut dengan kanker kepala dan leher di Instalasi Radioterapi RSUP Dr. Kariadi Semarang sejak bulan April hingga Agustus 2015. Karakteristik sosiodemografis dan data klinis yang mencakup diagnosis kanker, stadium dan frekuensi radioterapi adalah data sekunder yang diambil dari catatan medik, diikuti oleh wawancara berbasis kuesioner. Analisis statistik menggunakan Independent T-test dan uji korelasi Pearson. Hasil : Rerata total skor GDS berbeda secara signifikan pada pasien yang belum menjalani terapi dan pada pasien yang sedang menjalani terapi dengan skor masing-masing 2,64 dan 6,64 (p=0,01). Terdapat hubungan signifikan positif kuat antara radioterapi dengan kejadian depresi (p=0,006, r=0,507). Stadium kanker memiliki korelasi yang sangat lemah terhadap skor GDS (r=0,141) Simpulan : Terdapat hubungan antara kejadian depresi dengan paparan terhadap radioterapi pada pasien usia lanjut dengan kanker kepala dan leher
Hubungan Antara Tingkat Depresi pada Penderita Kanker Payudara Lanjut Lokal dengan Kadar Kortisol Serum Darah Selamat Budijitno
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.897 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.220

Abstract

Latar belakang : Stress neurologis, melalui sitokin-sitokin internal di dalam sawar otak akan menyebabkan sekresi kortisol oleh kelenjar adrenal melalui HPA axis. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan bahwa terdapat korelasi antara pengaruh depresi terhadap kadar kortisol pada penderita tumor payudara stadium III B. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian klinis CrossSectional, yang dilakukan pada 40 pasien wanita penderita kanker payudara duktal invasif stadium lanjut lokal (stadium IIIA, IIIB, dan IIIC). Tingkat depresi diukur dengan quesioner standar Beck Depression Inventory (BDI). Kadar kortisol dihitung dengan metode ELISA, dan diambil dari serum sampel pada jam 09.0010.00. Hasil : Kadar kortisol rerata 254,98; SD 48,65 ng/ml, hasil BDI minimum 4, maksimal 9, dengan median 7. Berdasarkan hasil Spearman corellation terdapat hubungan bermakna antara nilai BDI dengan kadar kortisol (p<0,001, r=0,868). Simpulan : Sesuai dengan teori yang ada, kadar kortisol berhubungan erat dengan ekspresi kortisol. Proses sitokin-sitokin internal di otak pada pasien dengan IDC masih berlangsung sesuai teori, tetapi hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut lagi. Pada penelitian ini juga terbukti quesioner BDI mempunyai korelasi yang kuat untuk pengukuran tingkat depresi yang dilihat dari parameter kortisol.
Pengaruh Pesan Gizi Singkat dan Pendidikan Gizi terhadap Praktik Makan Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga Rohani Simanjuntak
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.843 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.221

Abstract

Latar belakang : Rendahnya tingkat kecukupan energi dan protein pada pasien rawat inap di rumah sakit disebabkan oleh rendahnya asupan makanan rumah sakit. Pesan gizi singkat dan pendidikan gizi dapat mempengaruhi praktik makan pasien sehingga meningkatkan pengetahuan, sikap, tingkat kecukupan energi dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian pesan gizi singkat dan pendidikan gizi terhadap praktik makan pasien rawat inap di RSUD Salatiga. Metode : Quasi experimental dengan rancangan pre-test post-test design with control group. Kelompok perlakuan (38 responden) mendapatkan makanan rumah sakit (3 hari) disertai pesan gizi singkat dan pendidikan gizi dari ahli gizi (2 hari). Kelompok kontrol (38 responden) hanya mendapatkan makanan rumah sakit (3 hari). Skor pengetahuan dan sikap diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Tingkat kecukupan energi dan protein diperoleh dari hasil konversi asupan makanan rumah sakit (comstock) dan asupan makanan luar rumah sakit (recall 24 jam). Hasil : Tidak ada perbedaan skor pengetahuan, sikap, tingkat kecukupan energi dan protein sebelum intervensi antara kelompok perlakuan dan kontrol. Setelah intervensi, pada kelompok perlakuan ada peningkatan skor pengetahuan dari 60±15,54 menjadi 92,5+8,48, skor sikap dari 19,5±5,5 menjadi 24±4,79, tingkat kecukupan energi makanan rumah sakit dari (53,4±8,8)% menjadi (92,5±11,3)%, tingkat kecukupan energi total dari (51,9±11,9)% menjadi (98,7±13,1)%, tingkat kecukupan protein makanan rumah sakit dari (50,3±15,3)% menjadi (103,0±17,9)% dan tingkat kecukupan protein total dari (51,02±16,8)% menjadi (107±19,0)%. Tidak ada peningkatan skor pengetahuan, sikap, tingkat kecukupan energi dan protein pada kelompok kontrol.Pemberian pesan gizi singkat dan pendidikan gizi meningkatkan skor pengetahuan, sikap, tingkat kecukupan energi dan protein dari makanan rumah sakit dan total. Pemberian pesan gizi singkat dan pendidikan gizi tidak berpengaruh terhadap tingkat kecukupan energi dan protein makanan luar rumah sakit (p= 0,76 dan p=0,86). Simpulan : Pemberian pesan gizi singkat dan pendidikan gizi meningkatkan skor pengetahuan, sikap, tingkat kecukupan energi dan tingkat kecukupan protein makanan rumah sakit dan total.
Penelitian Kualitatif tentang Pengobatan Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seks di Salatiga Lestari Astuti; Rose Nurhudhariani; Reny Eka
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.407 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.222

Abstract

Latar belakang : Dinas Kesehatan Kota Salatiga memiliki data Infeksi Menular Seksual tahun 2013 sebesar 1096 kasus. Tahun 2014 dari bulan Januari sampai November sebesar 1085 kasus. Kasus Infeksi Menular Seksual di Puskesmas Sidorejo Lor mengalami kenaikan dari tahun 2013 yaitu terdapat 96 kunjungan Infeksi Menular Seksual. Sedangkan pada tahun 2014 terdapat kunjungan Infeksi Menular Seksual sebanyak 133. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi upaya Wanita Pekerja Seks melakukan pengobatan Infeksi Menular Seksual, perilaku Wanita Pekerja Seks dalam menjalani aktivitas seks tanpa menularkan Infeksi Menular Seksual pada pelanggan dan dukungan pengelola resosialisasi dan tenaga kesehatan terhadap upaya penatalaksanaan pengobatan Infeksi Menular Seksual pada Wanita Pekerja Seks. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam. Jumlah informan adalah 3 Wanita Pekerja Seks yang positif terkena Infeksi Menular Seksual di Resosialisasi Sarirejo Kota Salatiga. Hasil : Didapatkan informasi tentang cara pengobatan Wanita Pekerja Seks terhadap Infeksi Menular Seksual yakni melalui pengobatan medis yang dilakukan oleh tenaga kesehatan serta ada beberapa yang memiliki kebiasaan dengan meminum jamu dan cebok menggunakan daun sirih. Selama menjalani pengobatan, Wanita Pekerja Seks mengurangi aktivitas seksnya dan selalu menggunakan kondom. Dukungan pengelola resosialisasi dan petugas kesehatan sangat besar terhadap pengobatan Wanita Pekerja Seks
Low Insulin-like growth factor I (IGF-I) level underlying recurrent infection in congenital cystic adenomatoid malformation (CCAM) and MyelodysplasticSyndrome with Chromosome 5q Deletion U N Wijayanti
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 3 No. 2 (2015): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.83 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v3i2.223

Abstract

Background : Insulin-like growth factor I (IGF-I) is a polypeptide hormone produced mainly by the liver in response to the endocrine GH stimulus, but it is also secreted by multiple tissues for autocrine/paracrine purposes. IGF-I is partly responsible for systemic GH activities although it possesses a wide number of own properties (anabolic, antioxidant, anti-inflammatory and cytoprotective actions). IGF-I is a closely regulated hormone. Low IGF-1 level are observed in GH deficiency or GH resistence. If acquired in childhood, these condition result short stature. Currently the best characterized conditions of IGF-I deficiency are Laron Syndrome, in children; liver cirrhosis, in adults; aging including age-related-cardiovascular and neurological diseases; and more recently, intrauterine growth restriction. Most GH resistence in childhood is mild to moderate, with causes ranging from poor nutrition to severe systemic illness. The purpose of this case report is to summarize the decreasing list of roles of IGF-I underlying pathological desease. Case : The patients were hospitalized with short stature weight 18 kg, height 118 cm (under 3SD), The patient suffering chronic infection sience 2 years old with repeatly bronchiectasis infection. She has n't had menarche and episode Of hypoglycemia until nowand result examination Trigliseride : 95 mg/dl (normal : 30-150 ),Hemoglobin 8,1 g/dl, WBC 5,3 thousand/µl, Platelet 109 thousand/µl, Glucose 80 mg/dl, HDL: 21 mg/dl, LDL : 45 mg/dl, TSHs : 2,0 µIUmol/l, FT4: 12.16 ¾mol/l, Estradiol : < 11.80 pg/ml , FSH : 0.54 mlU/ml, LH : < 0.07 mlU/ml GH : 4.63 ng/ml, IGF-1 : < 25 ng/ml, Cranium scan no found tumor hypothalamic and pituitary, Bone marrow examination supports the diagnosis of MDS with multilineage dysplasia , MSCT of the thorax showed suspect cystic bronchiectasis, would be a Congenital Cystic AdenomatoidMalformation.and cytogenetic analized showed Chromosome number of single cell : 46, There were 20 cell been analized and 8 of cell were been counted Kariotipe : 46,XX,del 5q31. Conclusion : Low IGF-1 level in this patient due to severe systemic illness (recurrent infection of congenital cysticadenomatoid malformation (CCAM) and deletion 5qMyelodisplatia syndrome (MDS)and poor nutrition.

Page 1 of 2 | Total Record : 11