cover
Contact Name
Maya Nuriya Widyasari
Contact Email
medica.hospitalia@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
medica.hospitalia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp" : 12 Documents clear
Gangguan Pendengaran Pada infeksi Citomegalovirus Kongenital Tri Juda Airlangga; Rossa Martiastini; Retta .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.897 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.314

Abstract

Citomegalovirus merupakan penyebab gangguan pendengaran non genetik yang merupakan infeksi virus intrauterin dan bersifat kongenital. Infeksi CMV pada kehamilan, berpotensi menimbulkan kecacatan permanen seperti sensorineural hearing loss (SNHL), gangguan penglihatan, epilepsi dan global delay development Infeksi citomegalovirus dapat bersifat simptomatik dan asimptomatik yang sangat sulit dideteksi keberadaannya bila tidak dilakukan pemeriksaan awal fungsi pendengaran. Diperlukan pemeriksaan skrining, dan diagnosis serta  follow up fungsi pendengaran pada bayi baru lahir yang berisiko maupun positif terinfeksi CMV. Sifat gangguan pendengaran yang ditimbulkan yang fluktuatif mengakibatkan perlunya pemeriksaan yang berulang dan konsisten setiap 3 bulan merupakan kendala yang dihadapi dalam deteksi ini. Kata Kunci : CMV asimptomatik, SNHL fluktuatif, BERA
Efektivitas Klinis Ofloksasin Topikal Dibanding Ciprofloksasin Oral Pada Terapi Otitis Media Supuratif Kronik Aktif Deasy Mediawaty; Pujo Widodo; Dian Ayu Ruspita
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.44 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.315

Abstract

Latar belakang : Otitis media kronik atau sering disebut Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung > 12 minggu. Prevalensi OMSK di seluruh dunia sebanyak 65-330 juta dan 60% di antaranya menderita kurang pendengaran yang signifikan. Angka kejadian OMSK aktif mencapai 3,8% dari pasien THT-KL. Gejala OMSK aktif berupa banyaknya discaj, kurang pendengaran, nyeri, pusing berputar, telinga tidak nyaman. Tanda OMSK aktif berupa discaj di liang telinga, perforasi membran timpani, dan gangguan pendengaran. World Health Organization (WHO) mencanangkan strategi untuk mengatasi OMSK secara serius berkaitan dengan komplikasi yang dapat disebabkan. Pilihan terapi medikamentosa yang tepat diperlukan untuk mengatasi OMSK aktif. Ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang banyak digunakan. Efektivitas diantaranya dibuktikan dengan perbaikan gejala dan tanda klinis. Tujuan : Membuktikan efektifitas ofloksasin topikal, ciprofloksasin oral dan efektifitas ofloksasin topikal dibanding ciprofloksasin oral terhadap perbaikan gejala dan tanda klinis. Metode : Penelitian intervensi dengan rancangan pretest and posttest control group design, randomized control trial Klinik THT-KL BKIM Semarang pada bulan Juni-Agustus 2016. Penderita OMSK aktif dilakukan anamnesis lalu dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pendengaran dilanjutkan randomisasi. Penderita diberi ofloksasin topikal 10 tetes/12 jam atau ciprofloksasin tablet 500 mg/12 jam per oral. Hari ke 4, 10 dan 14 setelah terapi penderita kontrol. Analisis uji komparatif menggunakan uji parametrik dan non parametrik. Hasil : Jumlah subyek penelitian 108 orang ; ofloksasin topikal 54 orang (50%) dan ciprofloksasin oral 54 orang (50 %). Gejala dan tanda klinis setelah terapi lebih rendah dibanding sebelum terapi pada kelompok ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral dengan nilai kemaknaan p < 0,05. Gejala klinis kelompok ofloksasin lebih baik dibanding ciproloksasin secara bermakna (p<0,05). Tanda klinis kedua kelompok terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Simpulan : Ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral terbukti efektif memperbaiki gejala dan tanda klinis penderita OMSK aktif. Ofloksasin topikal efektif memperbaiki gejala klinis dibandingkan ciprofloksasin oral. Kata kunci : Otitis media supuratif kronik, ofloksasin, ciprofloksasin, gejala dan tanda klinis
Pengaruh Pemberian Suplementasi Zink Terhadap Kadar Albumin Serum Dan Hemoglobin Pada Lansia Meutia Setyowati Mahanani Lestari; Erwin Prasetyo Ardy; Dwi Ngestiningsih; Amallia N Setyawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.41 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.316

Abstract

Latar belakang: Lansia rentan mengalami penurunan albumin dan hemoglobin akibat defisiensi nutrisi, degenerasi organ, serta peningkatan oksidan dalam tubuh. Zink adalah mikromineral esensial yang berperan sebagai kofaktor enzim, hepatoprotektor, antioksidan serta penyusun ALA dehydrogenase, sebuah metalloenzim penting pada sintesis heme. Pemberian suplementasi zink diharapkan dapat meningkatkan kadar albumin dan hemoglobin lansia. Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian suplementasi zink terhadap kadar albumin dan hemoglobin serum pada lansia Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre and post test control group design. Sampel adalah lansia berusia diatas 60 tahun yang tinggal di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang.Sebanyak 31 lansia yang setuju mengikuti penelitian dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan (16 orang) diberi suplemen zink 40 mg perhari dan senam lansia, sedangkan kelompok kontrol (15 orang) diberi plasebo dan senam lansia. Pemberian suplementasi dilakukan setiap hari selama delapan minggu sedangkan senam lansia dua kali seminggu selama delapan minggu. Sebelum dan setelah penelitian, dilakukan analisa kadar albumin dan hemoglobin serum. Uji statistik menggunakan Wilcoxon dan paired t-test Hasil: Kadar albumin pada kedua kelompok penelitian mengalami kenaikan. Pada kelompok perlakuan kadar albumin meningkat sebesar 0,5 ± 0,23 g/dL (p<0,001) sedangkan pada kelompok kontrol meningkat sebesar 0,2 ± 0,61 g/dL (p= 0,175). Peningkatan hemoglobin hanya ditemukan pada kelompok perlakuan, yaitu sebesar 0,7 ± 0,14 (p=0,002). Pada kelompok komtrol, kadar hemoglobin turun sebesar 0,2 ± 0,66 (p=0,667) Kesimpulan: Pemberiansuplementasi zink dapat meningkatkan kadar albumin dan hemoglobin serum lansia. Kata kunci: Penuaan, lansia, zink, albumin, zink
Hubungan Lingkar Lengan Atas Ibu Hamil Genap Bulan Dengan Ukuran Plasenta Dan Berat Bayi Lahir Eunika Lusiana; Hertanto Wahyu Subagio; Besari Adi Pramono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.329 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.317

Abstract

Latar belakang: Status gizi ibu yang tercermin dari Lingkar Lengan Atas (LILA) sangat mempengaruhi status gizi bayi terutama Berat Bayi Lahir (BBL). Malnutrisi intrauterin mengakibatkan morbiditas dan mortalitas perinatal serta terjadinya penyakit degeneratif yang dikenal dengan Foetal Origin Adult Disease (FOAD). Plasenta merupakan organ untuk mencari riwayat malnutrisi intrauterin.Tujuan: Mencari hubungan LILA ibu hamil dengan ukuran plasenta (berat plasenta dan luas plasenta) dan BBL.Metode: Lima puluh subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, diambil secara consecutive sampling, dari pasien yang melahirkan  selama bulan April – Mei 2016 di RS Dr. Kariadi, Puskesmas Halmahera, Puskesmas Ngresep dan RSIA Bunda. Data  meliputi LILA, berat plasenta, luas plasenta dan BBL. Untuk mempelajari hubungan antara variabel independen (LILA, berat plasenta dan luas plasenta) dengan variabel dependen (BBL) dilakukan analisis uji korelasi. Analisis regresi linier multiple digunakan untuk mengetahui hubungan antara seluruh variabel independen dengan dependen secara simultan.Hasil: Ada hubungan antara LILA dengan BBL (r = 0,762; p = 0,0001), berat plasenta (r = 0,673; p = 0,0001) dan luas plasenta (r = 0,636; p = 0,0001). Pada analisis multivariat ternyata LILA, berat plasenta dan luas plasenta secara berturut-turut berpengaruh terhadap BBL. Nilai r2 = 0,237, artinya pengaruh LILA, berat plasenta dan luas  plasenta terhadap BBL sebesar 23,7%.Simpulan: LILA berhubungan secara positif dengan BBL, berat plasenta dan luas plasenta.Kata kunci: LILA, BBL, berat plasenta, luas plasenta.
Hubungan Dislipidemia Dengan Kadar Malondialdehyde (MDA) Pada Sindroma Nefrotik Sensitif Steroid Relaps Sylvi Anitasari; Muhammad Heru Muryawan; Galuh Hardaningsih Kamilah Budi Rahardjani; R. Rochmanadji Widajat
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.814 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.318

Abstract

Latar Belakang : Peroksidasi lipid yang terjadi pada pasien sindroma nefrotik (SN) yang mengalami dilipidemia dapat mempercepat laju dari penyakit ginjal. Stres oksidatif, yang berujung pada pembentukan Spesies Oksigen Reaktif (SOR), turut menyumbang pada proses degeneratif ini. Malondialdehyde (MDA) digunakan sebagai biomarker untuk mengukur stres oksidatif. Tujuan : Membuktikan hubungan antara dislipidemia dengan kadar MDA pada SN sensitif steroid relaps. Metode : Penelitian cross sectional pada anak dengan SN yang memenuhi kriteria inklusi di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RSUD sekitar Semarang periode Februari 2016 sampai Juni 2016. Pengukuran terhadap MDA, kolesterol total, trigliserida, Low Dencity Lipoprotein (LDL) dan High Dencity Lipoprotein (HDL) dinilai saat pasien SN sensitif steroid sedang relaps. Digunakan uji korelasi dan regresi linear untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil : subyek penelitian sebanyak 37 anak yang terdiri 28 (75,7%) laki-laki dan 9 (24,3%) perempuan. Didapatkan korelasi positif antara MDA dengan kadar kolesterol total (r = 0, 386; p =Â 0,018), trigliserida (r = 0,036; p = 0,033) dan LDL (r = 0,196; p = 0,045). Sementara korelasi negatif didapatkan pada HDL (r = -0,31; p = 0,000). Pada regresi linear didapatkan kolesterol total memiliki hubungan korelasi terkuat dengan MDA dibandingkan variabel lain (r = 0,386). Besarnya angka koefisien determinasi adalah 0,188 atau sebesar 18,8%, dimana kenaikan MDA dapat dijelaskan dengan peningkatan kolesterol total, LDL dan Trigliserida. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara dislipidemia dengan kadar MDA pada SN sensitif steroid relaps. Kata kunci : Sindroma nefrotik, dislipidemia, malondyaldehyde
Faktor-Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Kegagalan Inisiasi Menyusui Dini Gatot Irawan S; Faiza Risty A.S; Kamilah Budhi R.
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.999 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.319

Abstract

Pendahuluan : Proses pemberian air susu ibu (ASI) segera setelah bayi lahir, 30 menit hingga satu jam setelah bayi lahir disebut Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi dikatakan berhasil dalam melakukan IMD jika bayi dapat melekat dan dapat menyusu pada puting payudara ibu dalam 30 menit hingga satu jam pertama setelah lahir. Dan dikatakan gagal jika proses tersebut tidak dapat dilalui. Namun, tidak semua bayi dapat melalui proses ini. Tujuan : Untuk menentukan faktor-faktor resiko yang mempengaruhi kegagalan inisiasi menyusu dini berdasarkan faktor maternal, neonatal dan persalinan. Metode : penelitian case control, dilaksanakan di R.S. Dr. Kariadi, Semarang antara bulan Januari hingga Maret 2016.Faktor resiko yang diteliti adalah usia ibu saat melahirkan, keinginan untuk melakukan IMD, jumlah paritas, tingkat pendidikan ibu, dan usia gestasi sebagai faktor maternal, durasi persalinan kala II, warna cairan amnionsebagai faktor persalinan dan berat badan lahir, skor Apgar yang sebagai faktor neonatal. Data diambil dari rekam medis pasien dan berdasarkan wawancara dengan orang tua yang dilakukan di bangsal perinatologi R.S. Dr. Kariadi. Hasil : Subyek penlitian terdiri dari 60 bayi yang terdiri dari 30 bayi yang berhasil melakukan IMD sebagai grup kontrol dan 30 bayi yang gagal dalam melakukan IMD sebagai grup kasus. Pada penelitian ini 18,3% subyekdengan durasi persalinan kala II > 1 jam dan 81,7% subyekdengan durasi persalinan kala II ≤1 hour. Faktor Maternal dan neonatal tidak bermakna secara statistik sebagai faktor resiko yang mempengaruhi kegagalan IMD, tetapi faktor persalnan terutama durasi persalinan kala II lebih dari 1 jam merupakan faktor resiko yang bermakna terhadap kegagalan IMD (OR=6; 95% CI 1,030– 30,725, p=0,02). Kesimpulan : Durasi persalinan kala II lebih dari 1 jam merupakan faktor resiko yang mempengaruhi kegagalan IMD. Kata kunci : inisiasi dini, menyusu, air susu ibu
Sensitivitas Dan Spesifisitas Mdct Angiografi Dalam Mendiagnosis Aneurisma Intrakranial Antonius Gunawan S; Heni Fatmawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.047 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.320

Abstract

Latar belakang: Deteksi yang cepat untuk menemukan ruptur aneurisma intrakranial (AI) sangat penting karena ruptur AI menyebabkan perdarahan subarahnoid (PSA) spontan yang merupakan kegawatan medis dan menyebabkan kematian atau kecacatan berat. Multidetector computed tomography angiography (MDCTA), sebagai alat diagnostik non invasif, telah digunakan secara luas dalam imaging pembuluh darah otak. Tujuan: mengetahui kemampuan sensitivitas dan spesifisitas MDCTA untuk mendeteksi lokasi dan ukuran aneurisma intrakranial. Metode: Studi cross-sectional pada pasien dengan dugaan aneurisma intrakranial yang telah dilakukan pemeriksaan MDCTA dan Digital Substraction Angiography (DSA) dari data rekam medik di RSUP Dr. Kariadi Semarang mulai Oktober 2012 – November 2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Dua orang dokter spesialis radiologi yang independen mengevaluasi hasil MDCTA dan DSA untuk menentukan lokasi dan ukuran aneurisma. Analisis statistik menggunakan sensitivitas dan spesifisitas. Hasil: Penderita aneurisma intrakranial terbanyak berusia 40-60 tahun 73,7%, perempuan 78,9% dan 52,6% berukuran 3-7 mm serta 80,5% berlokasi di sirkulasi anterior. Sensitivitas MDCTA dalam mendeteksi aneurisma baik yang berukuran kurang dari 3 mm, 3-7 mm dan lebih dari 7 mm pada penelitian ini adalah 100, 100, 100 %, sedangkan nilai spesifisitas adalah 100, 100 dan 93,3%. Kesimpulan: Penggunaan MDCTA untuk mendiagnosis aneurisma intrakranial mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi sehingga dapat menjadi pilihan pertama dalam tehnik imaging. Kata kunci: Aneurisma intrakranial, MDCTA, sensitivitas, spesifisitas
Evidence Base Practice Efek Seft (Spiritual Emotional Freedom Tehnique) Therapy Terhadap Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Ruang Persiapan Iar Rso Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta Yuswinda K
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.028 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.321

Abstract

Tindakan pembedahan merupakan salah satu tindakan medis yang akan mendatangkan stresor terhadap integritas seseorang. Reaksi yang muncul berupa reaksi stres baik fisiologis maupun psikologis akan tetapi yang paling menonjol adalah reaksi secara psikologis berupa kecemasan. SEFT atau Spiritual Emotional Freedom Technique adalah sebuah metode terapi yang bertujuan menghilangkan atau membuang energi negatif dari dalam tubuh sehingga seseorang akan menjadi sehat fisik dan  psikis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas pemberian SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) pada kecemasan pasien preoperatif di Ruang Persiapan IAR RS Ortopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Jenis penelitian ini menggunakan desain pretest-posttest. Populasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah pasien pre operatif dari bangsal kelas II dan kelas III RSO. Prof. Dr. Soeharso Surakarta berusia 20-60 tahun dan mengalami kecemasan. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling dan didapatkan sampel 8 orang. Analisa data dilakukan berdasarkan data yang diperoleh pre-post intervensi SEFT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi. Kata Kunci: SEFT, Kecemasan pasien pre operasi
Dampak Smartphone Dengan Kejadian Myopia Pada Anak Di TK Melati Sambiroto Semarang Sri Suparti
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.225 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.322

Abstract

Latar belakang: Dengan adanya teknologi baru permainan tradisional berganti dengan bermain, belajar menggunakan Smartphone. Kebiasaan bermain atau belajar menggunakan smartphone akan mengalami kelainan refraksi. Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab kebutaan dan hambatan penglihatan saat beraktivitas. Kelainan refraksi antara lain: Hipermetropia, Astigmatisma, Myopia. Metode: Penelitian ini penelitian observasional analitik dengan menggunakan disain cross sectional .Sampel pada penelitian ini anak TK Melati Sambiroto Semarang sebanyak 42. Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan obyektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil: Lama penggunaan Smartphone menunjukan prosentase (81.8%) lebih dari 2 jam /hari dengan (p=0.000). Genetik menunjukan prosentase (81.3%) mengalami myopia dengan (p=0.004). Posisi penggunaan Smartphone menunjukan prosentase (68.0%) tidak duduk tegak dengan (p=0.012) Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan bermakna antara lama menggunakan smartphone dan faktor genetik dengan kejadian myopia. Posisi penggunaan Smartphone menunjukkan ada hubungan dengan kejadian myopia. Kata Kunci: Anak, Smartphone, Myopia
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif oleh Staf di RSUP DR. Kariadi Semarang Sri Rejeki; Erna Widyastuti; Farida Sukowati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.17 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.323

Abstract

Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 pencapaian ASI eksklusif nasional sebanyak 42%, angka tersebut jauh dari target yang diharapkan sebesar 80% (Kemenkes,2015). Salah satu hambatan tercapainya ASI eksklusif adalah saat ibu kembali bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan di RSUP Dr.Kariadi Semarang. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.Kariadi Semarang. Metode penelitian bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah tenaga kesehatan yang mempunyai anak umur 6-12 bulan. Tehnik pengambilan sampel dengan tehnik total sampling sejumlah 45 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data univariat dan bivariat dengan menggunakan Chi Square dengan hasil analisis semua variabel yang diteliti nilai P > 0,05 sehingga tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dukungan manajemen, dukungan rekan kerja dan fasilitas menyusui dengan praktik pemberian ASI eksklusif. Dari hasil penelitian ini diharapkan tenaga kesehatan mengikuti kelas menyusui sehingga timbul kepercayaan diri dan motivasi yang tinggi untuk memberikan ASI eksklusif. Serta diharapkan RSUP Dr.Kariadi menyediakan fasilitas khusus menyusui yang sesuai standar dan membuat kebijakan yang mendukung ASI eksklusif untuk pegawainya. Kata kunci : Pengetahuan ,Sikap, Dukungan Manajemen, Dukungan Rekan Kerja,  Fasilitas Khusus Menyusui, Praktik Pemberian ASI Eksklusif

Page 1 of 2 | Total Record : 12