cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 3 (2025)" : 11 Documents clear
PERBEDAAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN PASTA GIGI HERBAL DAN NON-HERBAL TERHADAP PENURUNAN INDEKS PLAK PADA PERMUKAAN GIGI PADA ANAK-ANAK Tiara Yustisia; Riky Hamdani; R. Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17917

Abstract

ABSTRACT Background: Indonesia’s dental and oral health problems is 57.6% and age 5-9 was the largest propostion reached 67.3%. The OHI-S index also reached  high number, 1.46 while the national target was  ≤ 1.2. One of the ways to prevent this problems is by brushing teeth with toothpaste to reduce plaque accumulation. There are alternative options in choosing toothpaste, herbal toothpaste and non-herbal toothpaste. Purpose: The study is aimed to analyze the effectiveness between herbal and non-herbal toothpaste in reduce score plaque on children’s teeth. Method: This study is used literature review method, which is to read, analyze, evaluated and summarizing a particular topic for synthesizing and analyzing arguments of others with a narrative review procedure. Literature was search used Google Scholar, Science Direct and PubMed. Results: Mean of herbal toothpaste is up to 37.5% with the smallest decrease is 5% by combination of akarkara and others and  the highest is 76.9% by combination of betel leaf and lime. Mean of non-herbal toothpaste is up to 32% with the smallest decrease is 7.71% by comersial toothpaste and the highest is 67.3% by fluor. The review showed that most of articles stated that there was a significant difference in ndex plaque between herbal and non-herbal toothpaste. Conclusion: The public is expected to use this study results as a consideration in choosing the appropriate toothpaste for children, it is recommencded to choose toothpaste with herbal ingredients because it  can reduce childrens’s plaque index more than toothpaste with non-herbal ingredients.Keywords: children, herbal toothpaste, non-herbal toothpaste, plaque index  ABSTRAKLatar Belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia mencapai angka 57,6% dengan usia 5-9 tahun sebagai proporsi terbesar, yaitu 67,3%. Indeks OHI-S juga mencapai angka yang tinggi, yaitu 1,46 sedangkan target nasional OHI-S adalah ≤ 1,2. Masalah ini dapat dicegah salah satunya dengan cara menyikat gigi menggunakan pasta gigi untuk mengurangi penumpukkan plak. Terdapat pilihan alternatif dalam memilih pasta gigi, yaitu pasta gigi herbal dan pasta gigi non-herbal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan efektivitas antara pasta gigi herbal dan non-herbal dalam menurunkan indeks plak pada permukaan gigi anak-anak. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode literature review, yaitu membaca, menganalisis, mengevaluasi dan meringkas materi ilmiah tentang topik tertentu dengan tujuan merangkum, mensintesis dan menganalisis argumen orang lain dengan prosedur narrative review. Penelurusan literatur menggunakan Google Scholar, Science Direct dan PubMed. Hasil: Pasta gigi herbal mampu menurunkan indeks skor plak rata-rata sebesar 37,5% dengan penurunan terkecil 5% oleh bahan kombinasi akarkara dan lain-lain, serta yang tertinggi sebanyak 76,9% oleh bahan kombinasi daun sirih dan jeruk nipis. Pasta gigi non-herbal mampu menurunkan indeks skor plak rata-rata sebesar 32% dengan penurunan terkecil 7,71% oleh pasta gigi komersial dan yang tertinggi sebesar 67,3% oleh fluor. Hasil review menunjukkan bahwa mayoritas artikel menyatakan bahwa terdapat perbedaan nilai plak secara signifikan antara pasta gigi herbal dan non- herbal. Kesimpulan: Masyarakat diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai pertimbangan dalam memilih pasta gigi yang sesuai untuk anak-anak, disarankan memilih pasta gigi dengan kandungan bahan herbal karena mampu menurunkan indeks skor plak lebih banyak pada permukaan gigi anak-anak. Kata Kunci: anak-anak, indeks plak, pasta gigi herbal, pasta gigi non-herbal
DEEP LEARNING IN FORENSIC ODONTOLOGY: A BIBLIOMETRIC ANALYSIS Endah Sekar Palupi; Anis En Nabiilah
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17923

Abstract

ABSTRACT Background: Forensic odontology supports human identification, age estimation, and disaster victim identification (DVI), yet conventional approaches can be affected by examiner subjectivity, population variability, and limitations in image/data quality. Bibliometrics is useful for mapping research patterns, collaboration, and thematic structures in rapidly growing fields. Deep learning is increasingly applied to dental imaging and forensic tasks. Objective: To map the research landscape of deep learning in forensic odontology using a bibliometric approach. Methods: Scopus-indexed publications (2005–2025) were retrieved using (“forensic odontology” OR “forensic dentistry” OR “dental identification”) AND (“deep learning” OR “artificial intelligence” OR “machine learning”). Data were analyzed in RStudio with bibliometrix/Biblioshiny to assess publication trends, leading sources, country contributions, author keywords, co-occurrence networks, and thematic mapping. Results: The search identified 171 documents from 89 journal sources involving 682 authors (mean 4.98 authors/document), with 23.39% international collaboration. A total of 391 author keywords were recorded; the mean document age was 2.03 years, with 16.54 citations per document and an annual growth rate of 21.02%. Publication output rose sharply after 2019, peaking in 2024–2025. Forensic Science International was the most productive source; country contributions were led by India, followed by Brazil and China. Thematic mapping positioned AI/deep learning as the methodological core, primarily linked to dental age estimation and identification using panoramic radiography/CBCT. Conclusion: Deep learning research in forensic odontology is expanding rapidly; future work should emphasize cross-population external validation and standardized data/protocols.Keywords : bibliometric, deep learning, forensic odontology ABSTRAK  Latar belakang: Odontologi forensik berperan dalam identifikasi individu, estimasi usia, dan konteks DVI, tetapi pendekatan konvensional masih dipengaruhi subjektivitas pemeriksa, variasi populasi, serta keterbatasan kualitas. Bibliometrik membantu memetakan pola, kolaborasi, dan struktur intelektual ketika literatur berkembang cepat. Deep learning saat ini makin luas digunakan untuk analisis citra dental dan aplikasi forensik. Tujuan: Menganalisis lanskap riset deep learning dalam odontologi forensik melalui pendekatan bibliometrik. Metode: Data diambil dari Scopus (2005–2025) menggunakan kunci (“forensic odontology” OR “forensic dentistry” OR “dental identification”) AND (“deep learning” OR “artificial intelligence” OR “machine learning”). Data dianalisis dengan RStudio menggunakan bibliometrix/Biblioshiny meliputi tren publikasi, sumber, negara, kata kunci, co-occurrence, dan thematic map. Hasil: Teridentifikasi 171 dokumen dari 89 sumber jurnal, melibatkan 682 penulis (rata-rata 4,98 penulis/dokumen) dengan 23,39% kolaborasi internasional. Terdapat 391 author keywords; usia dokumen rata-rata 2,03 tahun dengan sitasi rata-rata 16,54/dokumen serta pertumbuhan tahunan 21,02%. Produksi ilmiah meningkat tajam sejak 2019 dan mencapai puncak pada 2024–2025. Jurnal Forensic Science International menjadi sumber paling dominan, dan kontribusi negara dipimpin India, diikuti Brasil dan Tiongkok. Pemetaan tema menegaskan AI/deep learning sebagai pusat metodologis dengan fokus aplikasi utama pada estimasi usia gigi dan identifikasi berbasis radiografi panoramik/CBCT. Kesimpulan: Riset deep learning dalam odontologi forensik tumbuh pesat, namun penelitian selanjutnya perlu menekankan validasi eksternal lintas populasi, dan standardisasi data/protokol. Kata kunci : bibliometrik, deep learning, odontologi forensik
DENTAL HEALTH STATUS BASED ON DMFT AND TOOTH BRUSHING BEHAVIOR AS AN EFFORTS TO PREVENT PULP AND PERIAPICAL TISSUE DISEASES Sri Purwanti; Ananda Putri Latifah; Adelvia Pramudita Balqis; Nasya Andini Salsabila
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17913

Abstract

ABSTRACTBackground: The most common dental health problem in Indonesia is dental caries, with a prevalence of 45.3%. Indonesian people experience oral and dental health problems at a rate of 57.6%, with a DMF-T score of 7.1%. The prevalence of dental caries among children aged 10–14 years is 73.4%. Pulp and periapical tissue diseases are the most frequent conditions, with 17,480 cases, and they rank first among oral and dental diseases with a total of 405 cases. Objective: To describe dental health based on the DMFT index and toothbrushing behavior among students of SDN Karang Mekar based on characteristics such as frequency of dental visits, frequency of toothbrushing, frequency of toothbrush replacement, and the habit of brushing teeth after consuming sweet foods. Methods: This study used a descriptive observational survey with a cross-sectional approach. The target population consisted of 240 students aged 10–12 years. The sampling technique used was purposive sampling, involving 50 students who completed a questionnaire. Respondent data were then analyzed descriptively using statistical tests. Results: The frequency distribution of dental health status based on dental visits showed that 35 students (65%) were dominated by those who visited the dentist 1–2 times per year. The most common toothbrushing frequency was twice daily, reported by 28 students (52%). Almost all students replaced their toothbrushes when the bristles were no longer straight, accounting for 38 students (70%). Conclusion: The majority of students had fairly good toothbrushingKeywords: Behavior, Dental Health, Pulp Disease ABSTRAKLatar Belakang: Masalah kesehatan gigi paling umum di Indonesia adalah karies dengan presentase 45,3%. Masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut sebesar 57,6%, dengan skor DMF-t 7,1%. Prevalensi karies gigi pada usia usia 10-14 tahun sebesar 73,4%. Penyakit pulpa dan jaringan periapikal merupakan penyakit terbanyak yaitu sebanyak 17.480 dan penyakit pulpa serta jaringan periapikal menduduki peringkat pertama untuk penyakit gigi dan mulut yaitu sebanyak 405. Tujuan: Memberikan gambaran kesehatan gigi berdasarkan DMFT dan perilaku menyikat gigi pada siswa SDN Karang Mekar berdasarkan karakteristik frekuensi kunjungan ke dokter gigi, frekuensi menyikat gigi, frekuensi mengganti sikat gigi dan frekuensi kebiasaan sikat gigi setelah makan makanan manis. Metode: Menggunakan survei deskriptif observasional dengan metode pendekatan cross sectional. Target populasi dalam penelitian ini sebanyak 240 siswa yang berusia 10-12 tahun. Teknik sampel yang digunakan yaitu purposive sampling yang berjumlah 50 siswa yang akan mengisi kuesioner. Data responden kemudian dilakukan analisis secara deskriptif menggunakan uji statistik. Hasil: Distribusi frekuensi gambaran status Kesehatan gigi pada kunjungan ke dokter gigi didapatkan hasil 35(65%) didominasi yang berkunjung ke dokter gigi sebanyak 1 atau 2 kali setahun, frekuensi menyikat gigi terbanyak 2x sehari sebesar 28(52%). Hampir semua siswa mengganti sikat gigi ketika bulu sikat tidak lurus lagi sebanyak 38(70%). Kesimpulan: Mayoritas siswa memiliki kebiasaan menyikat gigi cukup baik, siswa menyikat gigi diwaktu yang dianjurkan. Durasi dan penggantian sikat gigi yang dilakukan merupakan durasi ideal. Siswa mengganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali, dan mengganti sikat gigi ketika bulunya tidak lurus lagi. Kata Kunci : Perilaku, Kesehatan Gigi, Penyakit Pulpa
HUBUNGAN PUBLIC SPEAKING DENGAN PEMAHAMAN PASIEN RADIOGRAFI PANORAMIK DI RSUD SYARIFAH AMBAMI RATU EBU BANGKALAN Amelia Az Zahra; Winda kusumawardani; Ero Wahjuningdiah; Berliana Devianti Putri; Karnoto Karnoto; Muhaimin Muhaimin
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17918

Abstract

ABSTRACT Background: Panoramic radiography is an imaging examination used to visualize the teeth and oral cavity using X-rays. This examination requires proper patient positioning and clear instructions to prevent imaging errors, such as the appearance of artifacts. Providing effective instructions can be initiated through good public speaking skills. Effective communication between radiographers and patients is essential to achieve optimal image quality. Radiographers who deliver clear instructions and explanations can assist patients in understanding the examination procedures they will undergo. Objective: This study aimed to analyze the relationship between public speaking indicators—respect, empathy, audible, clarity, and humble—and patient understanding during panoramic radiographic examinations. Methods: Data were collected using a questionnaire completed by outpatients undergoing panoramic radiography. The data were then statistically analyzed using the chi-square correlation test. Results: Based on the correlation analysis between public speaking and patient understanding, among the five indicators of effective communication (respect, empathy, audible, clarity, and humble), two indicators showed a significant relationship with patient understanding (p-value < 0.05), while the remaining three indicators had p-values > 0.05, indicating no significant relationship. Conclusion: Most respondents were aged 21–30 years and were female, and they perceived radiographer communication as effective with a generally good level of patient understanding. The chi-square test results demonstrated that the clarity and humble indicators had a significant relationship with patient understanding, whereas respect, empathy, and audible showed no significant association. Keywords : panoramic radiography, patient understanding, public speaking ABSTRAK  Latar Belakang:Radiografi panoramik merupakan pemeriksaan untuk melihan gigi dan rongga mulut menggunakan sinar X. pemeriksaan radiografi panoramik memerlukan pemosisian dan isntruksi yang tepat agar tidak terjadi kesalahan foto seperti munculnya artefak. Pemberian instruksi yang baik dapat dimulai dengan public speaking. Komunikasi yang efektif antara radiografer dan pasien diperlukan agar mencapai tujuan yaitu hasil foto yang baik. Radiografer yang memberikan instruksi dan penjelasan dengan baik dapat membantu pasien dalam memahami prosedur pemeriksaan yang akan dilakukannya. Tujuan: Penelitian betujuan untuk menganalisis hubungan public speaking indikator respect, empathy, audible, clarity, humble dengan pemahaman pasien saat pemeriksaan radiografi panoramik. Metode: Pengambilan data menggunakan kuisioner yang diisi oleh pasien rawat jalan radiografi panoramik yang kemudian hasilnya diolah secara statistika menggunakan uji korelasi chisquare. Hasil: Berdasarkan hasil uji korelasi antara public speaking dengan pemahaman pasien, diketahui dari lima indicator komunikasi efeltif (respect, empathy, audible, clarity, humble) terdapat dua indicator yang berhubungan dengan nilai p value< 0.05 dan tiga indicator lain memiliki p value>0.05 sehingga tidak ada hubungan dengan pemahaman pasien. Kesimpulan: Mayoritas responden berusia 21–30 tahun dan berjenis kelamin perempuan, serta menilai komunikasi radiografer telah efektif dengan tingkat pemahaman pasien yang tergolong baik. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa indikator clarity dan humble memiliki hubungan signifikan dengan pemahaman pasien, sedangkan indikator respect, empathy, dan audible tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Kata kunci : pemahaman pasien, public speaking, radiografi panoramik
COVER DAN DAFTAR ISI_Dentin_Vol. 9 No.3 (2025) Dentin FKG ULM
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17925

Abstract

APAKAH PASIEN SKIZOFRENIA MERAWAT KEBERSIHAN GIGI DAN MULUTNYA? Galuh Dwinta Sari; Chandra Wijaya; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Aulia Azizah
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17914

Abstract

ABSTRACTBackground: Mental disorders can have a major impact on life and have a negative impact on social interactions. South Kalimantan Province has a prevalence of 5.1% of household members experiencing mental disorders. People with mental disorders have manifestations of psychomotor disorders such as limitations in movement and activities which can trigger dental and oral health problems such as caries. Objective: To determine the description of the severity of caries in patients with mental disorders at Sambang Lihum Hospital. Method: Quantitative descriptive research with cross sectional design. The sampling technique uses simple random sampling. The population is mental patients who are treated and are undergoing rehabilitation therapy at the Sambang Lihum Hospital as many as 127 people. The sample size by Slovin formula which obtained the results of 62 respondents. Results: Based on the DMF-T examination, the caries severity level of the respondents was in the very high category with a DMF-T frequency of 856 and a DMF-T index of 13.8. The caries index in men and women has a very high category. The highest DMF-T index and frequency distribution were in the age group >65 years. Psychiatric diagnoses with the highest DMF-T index were diagnoses of schizophrenia, schizotypal disorder, and delusions with a DMF-T frequency of 505 and a DMF-T index of 14.85. Conclusion: The average caries severity rating of patients with mental disorders at Sambang Lihum Hospital is in the very high category with the highest diagnoses belonging to those with a diagnosis of schizophrenia, schizotypal disorder and delusions.Keywords: caries severity, mental disorders, schizophrenia ABSTRAK Latar Belakang: Gangguan mental dapat berpengaruh besar bagi kehidupan dan berdampak buruk pada interaksi sosial. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki prevalensi 5,1% anggota rumah tangga yang mengalami masalah gangguan jiwa. Orang dengan gangguan jiwa memiliki manifestasi gangguan psikomotor seperti keterbatasan bergerak dan beraktivitas yang dapat memicu timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies. Tujuan: Mengetahui gambaran tingkat keparahan karies pasien dengan gangguan jiwa di RSJ Sambang Lihum. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Populasi adalah pasien gangguan jiwa yang dirawat dan sedang menjalani terapi rehabilitasi di RSJ Sambang Lihum sebanyak 127 orang. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus slovin yang diperoleh hasil sebanyak 62 responden. Hasil: Tingkat keparahan karies berdasarkan pemeriksaan DMF-T pada responden memiliki kategori sangat tinggi dengan frekuensi DMF-T sebesar 856 dan indeks DMF-T sebesar 13,8. Indeks karies pada laki-laki dan perempuan memiliki kategori sangat tinggi. Distribusi frekuensi dan Indeks DMF-T tertinggi berada pada kelompok usia >65 tahun. Diagnosis kejiwaan dengan indeks DMF-T tertinggi berada pada diagnosis skizofrenia, gangguan skizotipal, dan waham dengan frekuensi DMF-T sebesar 505 dan indeks DMF-T sebesar 14,85. Kesimpulan:  Gambaran tingkat keparahan karies pasien dengan gangguan jiwa di RSJ Sambang Lihum rata-rata berada pada kategori sangat tinggi dengan diagnosis tertinggi dimiliki oleh mereka yang didiagnosa skizofrenia, gangguan skizotipal dan waham.Kata Kunci: gangguan jiwa, keparahan karies, skizofrenia
TEKNIK PEMBUATAN FIXED FIXED BRIDGE PFM PADA KEHILANGAN GIGI 41, 31, DAN 32, PADA RESORPSI ALVEOLAR DAN RONGAK KECIL Alga Meisha Purwanto; Winda kusumawardani; Sri Redjeki Indiani; Sianiwati Goenharto; Anisa Nur Halimah; Narta Nikita Indiani; Widya Ulfa
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17919

Abstract

ABSTRACT Background: Tooth loss is often accompanied by alveolar bone resorption and reduced edentulous space, leading to changes in bone morphology and imbalance of the dental arch. Alveolar resorption refers to the reduction in bone volume and height in the area of missing teeth, while reduced edentulous space is defined as a narrower space than the ideal dimension for prosthetic replacement. One method to restore function and aesthetics in cases of tooth loss is the fabrication of a fixed-fixed bridgeusing Porcelain Fused to Metal (PFM). Objective: To describe the fabrication technique of a fixed-fixed PFM bridge for the replacement of missing teeth 41, 31, and 32 associated with alveolar bone resorption and reduced edentulous space. Case: The working model presented missing teeth 41, 31, and 32 accompanied by alveolar bone resorption and reduced edentulous space, for which a fixed-fixed PFM bridge was planned. Conclusion: The fabrication of a fixed-fixed Porcelain Fused to Metal bridge for the replacement of teeth 41, 31, and 32 with alveolar bone resorption and reduced edentulous space begins with receiving the working model, followed by wax-up of the coping to cover the resorbed area. The line angles are slightly shifted toward the proximal surfaces to create the visual impression of wider teeth. This is followed by metal coping finishing and subsequent application of slurry, opaque, dentin, enamel, translucent, and pink ceramic at the cervical pontic area. The process is completed with staining and glazing to enhance porcelain color and luster, and final polishing of the collar to achieve a smooth and esthetic result.Keywords : alveolar bone resorption, fixed-fixed bridge, narrow space, pink ceramic, porcelain fused to metal (PFM) ABSTRAK  Latar Belakang: Kehilangan gigi sering disertai resorpsi tulang alveolar dan rongak kecil yang menyebabkan perubahan bentuk tulang dan ketidakseimbangan lengkung rahang. Resorpsi alveolar adalah penurunan volume dan tinggi tulang di area gigi yang hilang. Rongak kecil adalah jarak edentulous yang lebih sempit daripada ukuran ideal. Salah satu cara mengembalikan fungsi dan estetika pada gigi yang hilang adalah dengan pembuatan gigi tiruan jembatan fixed-fixed bridge dengan bahan Porcelain Fused to Metal (PFM). Tujuan: Untuk menjelaskan teknik pembuatan teknik pembuatan gigi tiruan jembatan PFM pada kehilangan gigi 41, 31, dan 32 yang disertai resorpsi alveolar dan rongak kecil. Kasus: Pada model kerja terdapat kehilangan gigi 41, 31, dan 32 disertai resorpsi tulang alveolar dan rongak kecil yang akan dibuatkan fixed-fixed bridge PFM. Kesimpulan: Tahapan pembuatan gigi tiruan jembatan fixed fixed bridge dengan bahan Porcelain Fused to Metal pada kehilangan gigi 41, 31, dan 32 yang mengalami resorpsi alveolar dan rongak kecil diawali dengan penerimaan model kerja, pembuatan wax-up coping menutupi area yang mengalami resorpsi dan line angle dibuat sedikit ke arah proksimal guna memberikan kesan gigi lebih lebar secara visual, finishing pada koping logam, kemudian dilanjutkan dengan pengaplikasian slurry, opaque, dentin, enamel, translucent, dan pink ceramic pada area servikal pontik. Setelah itu dilakukan proses staining dan glazing untuk menyempurnakan warna dan kilap porselen, lalu tahap akhir berupa pemolesan pada collar hingga diperoleh hasil yang halus dan estetis. Kata kunci : fixed-fixed bridge, pink ceramic, porcelain fused to metal (PFM), resorpsi tulang alveolar, rongak kecil
Lactobacillus sp. IDENTIFICATION IN CARIES-AFFECTED STUDENTS IN SMP NEGERI 1 SUNGAI PINANG KABUPATEN BANJAR Rosihan Adhani; Isnur Hatta; Muhammad Genadi Askandar; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17915

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Karies adalah penyakit infeksi yang menyerang jaringan keras gigi. Karies adalah penyakit multifaktorial, yang dipicu oleh interaksi antara inang, mikroorganisme/agen, substrat, dan waktu. Salah satu agen patogen yang paling utama adalah Lactobacillus sp. Agen ini sebagian besar ditemukan pada lesi karies aktif, dapat menghasilkan asam laktat dan merupakan organisme yang toleran terhadap lingkungan asam. Paparan timbal juga merupakan faktor yang dapat memperburuk karies. Timbal adalah antagonis kalsium dan dapat menghambat metabolisme kalsium dalam remineralisasi gigi. Timbal dapat mengendap ke dalam air minum setelah mengkristal di udara, dibantu oleh hujan. Paparan ini sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat yang masih bergantung pada air sungai yang tidak disaring untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi koloni Lactobacillus sp. pada anak-anak yang terkena karies dan menilai perbedaan antara anak-anak yang mengonsumsi air sungai dan anak-anak yang mengonsumsi air sumur. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain kelompok kontrol menggunakan pendekatan potong lintang, yang dilakukan di SMP Negeri 1 Sungai Pinang Kabupaten Banjar, November-Desember 2017. Populasi penelitian terdiri dari 60 siswa, yang dikategorikan menjadi dua kelompok (masing-masing 30 siswa): kelompok pengguna air sungai dan kelompok pengguna air sumur. Indeks DMF-T dan sampel usap gigi dicatat untuk dianalisis. Sampel usap kemudian dikirim ke laboratorium untuk diolah dengan pewarnaan dan menggunakan metode Huccer untuk menilai koloni Lactobacillus sp. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara jumlah koloni Lactobacillus sp. dan indeks DMT pada anak-anak pengguna air sungai dan anak-anak pengguna air sumur.Keywords: indeks DMF-T, karies, konsumsi air, timbal ABSTRACTBackground: Caries is an infectious disease affecting a tooth’s hard tissues. It is a multifactorial disease, initiated by the interaction of host, microorganisms/agents, substrates, and time. One of the most pathogenic agents is Lactobacillus sp. This agent is mostly found in active lesions of caries, can produce lactate acid and is an acidic-environment tolerant organism. Lead exposure is also a factor that can worsen caries. Lead is a calcium-antagonist and can hamper the metabolism of calcium in remineralization of tooth. Lead can precipitate into drinking water after being crystallized in the air, assisted by rain. This exposure is especially worrying to the community which still depends on unfiltered water from the river to fulfill their daily needs. Purpose: This study was proposed to identify Lactobacillus sp. colony in caries-affected children and assess the difference between river water consuming and well-water consuming children. Methods: This was an observational analytics with control group design study using cross sectional approach, performed in SMP Negeri 1 Sungai Pinang Kabupaten Banjar, November-December 2017. The population was 60 students, categorized into two groups (30 students each): river water consuming and well-water consuming groups. The samples’ DMF-T indexes and teeth swab samples were recorded for analysis. The swab samples were then delivered to laboratories to be treated by staining and using Huccer methods to assess the Lactobacillus sp. colony. Results: The results showed that there was a significant difference between colony count of Lactobacillus sp. and DMT-index in both river water consuming and well-water consuming children.  Keywords: caries, DMF-T index, lead, water consumption
POTENSI HAZARD DI LABORATORIUM GIGI PADA PEMBUATAN PERANTI ORTODONTI LEPAS DAN REKOMENDASI PENGENDALIANNYA Sinkka Adekia Wulandandari; Winda kusumawardani; Sri Redjeki Indiani; Sianiwati Goenharto; Anisa Nur Halimah; Narta Nikita Indiani; Widya Ulfa
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17920

Abstract

ABSTRACT Background: Dental laboratories, as facilities for the fabrication of removable orthodontic appliances, present various occupational hazards, including mechanical, chemical, physical, and biological risks that may endanger dental technicians. The fabrication process involves the use of diverse materials and equipment, such as acrylic resin, metal wires, alcohol burners, and high-speed cutting machines, all of which may cause injuries or work-related health problems. Therefore, hazard identification and control measures are essential to minimize the risk of occupational accidents and adverse health effects. Objective: This study aims to identify potential hazards that may occur during the fabrication of removable orthodontic appliances in dental laboratories and to provide effective and practical control recommendations to ensure a safe and productive working environment. Case: In dental laboratory practice, work-related complaints and accidents frequently occur, including cuts from sharp instruments, skin irritation due to exposure to acrylic monomer, respiratory problems caused by acrylic dust, and discomfort resulting from noise and heat generated by machinery. In addition, non-ergonomic working postures contribute to back pain and fatigue, while biological contamination risks may arise from dental impressions or patient models that are not adequately sterilized. The development of hazard control posters can help reduce these occupational risks. Conclusion: Potential hazards in dental laboratories include mechanical, chemical, physical, and biological hazards, each of which may compromise technician safety. Specific control measures tailored to each type of hazard are necessary to prevent occupational accidents and to maintain a safe working environment.Keywords : dental laboratory, hazard, removable orthodontic appliances  ABSTRAK  Latar Belakang: Laboratorium gigi sebagai tempat untuk pembuatan peranti ortodonti lepas memiliki potensi bahaya seperti bahaya mekanis, kimia, fisik, dan biologi yang dapat menimbulkan risiko bahaya bagi teknisi gigi. Proses pembuatan peranti ortodonti ini melibatkan berbagai bahan dan peralatan, seperti resin akrilik, kawat logam, spiritus, serta mesin pemotong berkecepatan tinggi, yang semuanya berpotensi menimbulkan cedera maupun gangguan kesehatan kerja. Oleh karena itu, identifikasi bahaya serta upaya pengendalian menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan dan dampak negatif terhadap kesehatan pekerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang mungkin terjadi selama proses pembuatan perant ortodonti lepas di laboratorium gigi, serta memberikan rekomendasi pengendalian yang efektif dan aplikatif agar lingkungan kerja tetap aman dan produktif. Kasus: Dalam praktik di laboratorium gigi, sering terjadi keluhan dan kecelakaan kerja seperti luka gores akibat alat tajam, iritasi kulit karena paparan monomer akrilik, gangguan pernapasan akibat debu akrilik, serta rasa tidak nyaman karena kebisingan dan panas dari mesin. Selain itu, posisi kerja yang tidak ergonomis menyebabkan nyeri punggung dan kelelahan, sementara risiko kontaminasi biologis dapat muncul dari bahan cetak atau model pasien yang belum disterilkan dengan baik, pembuatan poster yang berisi tentang pengendalian bahaya dapat meminimalkan terjadinya risiko tersebut. Kesimpulan: Potensi bahaya di laboratorium gigi meliputi bahaya mekanis, kimia, fisik, dan biologi yang masing-masing dapat mengancam keselamatan teknisi. Diperlukan pengendalian spesifik sesuai jenis bahaya untuk mencegah kecelakaan kerja dan menjaga lingkungan kerja tetap aman. Kata kunci : hazard, laboratorium gigi, peranti ortodonti lepas
ADVANCING FORENSIC ODONTOLOGY: UTILIZING INTRAORAL SCANNERS FOR AGE AND SEX DETERMINATION Yessy Andriani Fauziah; Eveline Yulia Darmadi; Yudhistira Prawira Utama; Dwi Setianingtyas
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17916

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Odontologi forensik memainkan peran penting dalam identifikasi manusia, terutama dalam memperkirakan usia dan menentukan jenis kelamin. Metode tradisional seperti pencitraan radiografi dan cetakan gigi telah banyak diterapkan, namun metode tersebut memiliki keterbatasan dalam hal presisi, konsistensi, dan kepraktisan dalam skenario forensik yang kompleks. Perkembangan pesat kedokteran gigi digital telah memperkenalkan pemindai intraoral (IOS) sebagai alternatif yang menjanjikan, yang mampu menghasilkan data gigi 3D yang sangat akurat. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontribusi pemindai intraoral terhadap odontologi forensik, dengan penekanan pada penggunaannya dalam estimasi usia dan jenis kelamin. Metode: Tinjauan naratif dilakukan dengan mencari publikasi di PubMed, Scopus, dan ScienceDirect dari tahun 2016 hingga 2024. Kata kunci yang digunakan meliputi "pemindai intraoral," "cetakan digital," "odontologi forensik," "estimasi usia," dan "penentuan jenis kelamin." Hasil: Pemindai intraoral dapat memberikan representasi digital yang tepat dan konsisten dari anatomi gigi dan langit-langit mulut. Penggunaan forensik yang dilaporkan meliputi analisis dimorfisme seksual pada lipatan langit-langit mulut dan bentuk lengkung gigi, serta identifikasi indikator terkait usia seperti pola erupsi dan keausan oklusal. Keunggulan utama meliputi peningkatan akurasi, perekaman non-invasif, dan pengarsipan digital jangka panjang yang andal. Namun, keterbatasan tetap ada, termasuk ukuran sampel yang terbatas, perbedaan antar sistem pemindai, dan tidak adanya pedoman forensik yang terpadu. Kesimpulan: Pemindai intraoral menunjukkan potensi yang cukup besar untuk mendukung estimasi usia dan jenis kelamin dalam odontologi forensik. Bukti saat ini menunjukkan bahwa pemindai intraoral dapat meningkatkan presisi dan konsistensi relatif terhadap teknik tradisional, namun studi yang lebih luas dan prosedur standar diperlukan untuk memperkuat penerapannya dalam forensik.Kata Kunci: Odontologi forensik; Pemindai intraoral; Estimasi usia; Penentuan jenis kelamin; Kedokteran gigi digital ABSTRACTBackgrounds: Forensic odontology plays a crucial role in human identification, especially in estimating age and determining gender. Traditional methods such as radiographic imaging and dental casts have been widely applied, yet they present limitations regarding precision, consistency, and practicality in complex forensic scenarios. The rapid development of digital dentistry has introduced intraoral scanners (IOS) as a promising alternative, capable of generating highly accurate three-dimensional dental datasets. Objectives: This review aims to explore the contribution of intraoral scanners to forensic odontology, with emphasis on their use in age and gender estimation. Methods: A narrative review was performed by searching PubMed, Scopus, and ScienceDirect for publications from 2016 to 2024. Keywords included “intraoral scanner,” “digital impression,” “forensic odontology,” “age estimation,” and “sex determination.”. Results: Findings from the literature indicate that intraoral scanners can deliver precise and consistent digital representations of dental and palatal anatomy. Reported forensic uses include analyzing sexual dimorphism in palatal rugae and dental arch forms, along with identifying age-related indicators such as eruption patterns and occlusal wear. Key advantages compared with conventional approaches include enhanced accuracy, non-invasive recording, and reliable long-term digital archiving. However, limitations persist, including restricted sample sizes, differences among scanner systems, and the absence of unified forensic guidelines. Conclusions: Intraoral scanners show considerable promise for supporting age and gender estimation in forensic odontology. Current evidence suggests they may improve precision and consistency relative to traditional techniques, yet broader studies and standardized procedures are required to solidify their forensic applicability.  Keywords: Forensic odontology; Intraoral scanner; Age estimation; Sex determination; Digital dentistry.

Page 1 of 2 | Total Record : 11