cover
Contact Name
A.A. Diah Indrayani
Contact Email
diahindra17@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
diahindra17@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
ISSN : 1979634X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2020)" : 20 Documents clear
TUJUAN HIDUP DALAM KACAMATA KITAB SARASAMUCCAYA Wiraputra, Anak Agung Gede
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1396

Abstract

Weda merupakan sumber ajaran agama Hindu. Selain kitab suci Weda, agama Hindu juga mengenal yang dinamakan kitab smerti. Kitab Sarasamuccaya merupakan kitab smerti yang kaya akan ajaran susila di dalamnya. Salah satu ajaran terkait susila dalam kitab Sarasamuccaya adalah Catur Purusartha atau Catur Warga yang dikenal sebagai empat tujuan hidup manusia, seperti dharma (kebenaran), artha (harta/tujuan), kama (nafsu/keinginan), dan moksa (tujuan akhir/kelepasan). Tulisan ini berusaha untuk mengungkap ajaran Catur Purusartha atau Catur Warga yang terdapat dalam kitab Sarasamuccaya dengan perangkat berupa teori struktur dan teori religi yang didukung oleh metode analisis isi dan deskriptif analisis. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa dasar tujuan hidup manusia pada hakikatnya adalah untuk senantiasa selalu mengusahakan berbuat baik dan menolong diri sendiri dari penderitaan, sehingga dapat mewujudkan hidup yang lebih baik. Adapun pembahasan tujuan hidup (Catur Purusartha atau Catur Warga) dalam kitab Sarasamuccaya, yaitu: ajaran dharma diuraikan dalam segmen keagungan dharma, sumber dharma, dan pelaksanaan dharma. Artha diuraikan melalui keutamaan dana punia. Kama atau nafsu diuraikan dalam pembahasan kama (nafsu) dan perempuan nakal. Terakhir, ajaran kelepasan (moksa) diuraikan dalam konsep dan hakikat orang bijaksana. Keseluruhan pembahasan tersebut merupakan pedoman praktis yang sangat berguna untuk mewujudkan kehidupan yang utama.  
AKSARA WREASTRA DAN WIJAKSARA DALAM AKSARA BALI (STUDI STRUKTUR DAN MAKNA DALAM AGAMA HINDU) Widiantana, I Kadek; Wiradnyana, I Made
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1392

Abstract

Humans as socio-cultural creatures can never be separated from the use of symbols, including symbols related to linguistics, which are used as sacred symbols in Hinduism in Bali, namely scripts, both Wreastra and Wijaksara Scripts. Hindus in Bali, for the most part, consider that the Wreastra script is only an ordinary script, which has no philosophical meaning, making researchers interested in studying the philosophical meaning in the Wreastra Script that is accompanied by the study of Wijaksara Script.Starting from this background, there are several research problem formulations, namely what is the meaning of the Wreastra and the Wijaksara Scripts in Hinduism. To answer these problems, the researcher use structural theories, semiotic theories, and theories of meaning. This type of research is qualitative research, with a philosophical-symbolic approach.The results of this study are the Wreastra and Wijaksara scripts have a meaning as worship to the God with all its manifestations adjusted to the script used. The application of the Wreastra and Wijaksara scripts in religious ritual activities in Bali as part of socio-religious activities can be seen from its use in the Rerajahang Kajang, Ulap-Ulap and Pecaruan rites.The conclusion that can be drawn is that the Wreastra and Wijaksara scripts have a high philosophical meaning of God, so that in writing and its use is not arbitrary, always starting with prayer of worship to the God.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM TEMBANG BALI Putra, I Gusti Ngurah Arya
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1397

Abstract

Masyarakat Bali dalam hidupnya tak pernah terlepas dengan sebuah sastra. Dalam sastra itu sendiri memiliki beberapa bentuk yaitu Gancaran, Tembang, dan Palawakya. Tembang (Prawiradisastra,1991:64) yaitu seni suara yang dibangun dari bermacam-macam laras dan nada sebagai bahannya. Tembang yang dikenal masyarakat bali yaitu sekar rare, sekar alit, sekar madya, sekar agung dan tembang pop bali pun juga termasuk yang sangat digemari. Dengan adanya tembang membantu dalam transfer nilai pendidikan karakter. Nilai karakter ialah suatu penggabungan dalam pengelolaan pemikiran, sikap maupun budi pekerti dalam menentukan apa yang baik dilakukan maupun yang tidak baik dilakukan, dalam bentuk permikiran, perkataan maupun perbuatan sehingga terciptanya sifat atau pribadi individu yang khas. Diharapkan agar tembang ini bukan hanya sebagai sarana pelipur lara atau penuangan ekspresi jiwa tetapi mampu berguna sebagai sarana penanaman nilai pendidikan karakter bagi seseorang. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif dengan menggunakan metode analisis.
GURU SUSRUSA DALAM TEKS ADIPARWA Saitya, Ida Bagus Subrahmaniam
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1393

Abstract

Catur guru berarti empat guru atau orang yang berpengetahuan dan memberikan pencerahan serta mampu untuk mengarahkan orang lain. Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Catur guru terdiri dari guru rupaka, guru pengajian, guru wisesa, dan guru swadyaya. Di dalam ajaran Pañca Nyama Brata terdapat ajaran guru suśrusa. Guru suśrusa berarti mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran dan nasihat-nasihat guru. Di dalam teks Ādiparwa diceritakan saat Sang Āruṇika melaksanakan kewajibannya untuk menjaga sawah yang diperintahkan oleh gurunya Bhagawān Dhomya. Murid yang lain, Sang Utamanyu diperintahkan menggembala sapi, dalam melaksanakan tugasnya ia sangat lapar dan haus maka ia minta-minta terhadap orang-orang, namun perbuatan itu dilarang oleh Bhagawān Dhomya. Selanjutnya Sang Utamanyu meminum sisa susu sapi dari anak sapi yang digembala juga dilarang oleh gurunya sehingga ia meminum getah daun waduri yang menyebabkan Sang Utamanyu menjadi buta. Perbuatan tersebut merupakan perwujudan ajaran guru suśrusa yang tulus kepada seorang guru. Ajaran guru suśrusa juga ditunjukkan oleh Sang Weda kepada sang guru. Ia diperintahkan untuk memasak dan menghidangkan berbagai hasil masakannya dan perintah Bhagawān Dhomya dilaksanakan sebaik mungkin. Ajaran guru suśrusa berkaitan erat dengan guru bhakti. Bhakti bukan hanya kepada Tuhan saja, ajaran bhakti juga diterapkan kepada orang tua. Bhīṣma dengan bhakti-nya kepada ayahnya Raja Śantanu rela untuk brāhmacari selama hidupnya dan tidak menjadi raja di Hāstina agar ayahnya dapat mengawini Gandhawati. Wujud bhakti kepada orang tua juga ditunjukkan oleh Sang Garuḍa untuk membebaskan ibunya Dewi Winatā dari perbudakkan yang dilakukan oleh Dewi Kadrū berserta anak-anaknya.
STRATEGI SEKOLAH DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI DHARMAGITA DI SMK KHARISMA, MENGWI, BADUNG Artayasa, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1398

Abstract

Sebagai Sekolah Kejuruan yang nota bena adalah siswa yang berjiwa interprenersif sangat sulit untuk menanamkan karakter dari segi agama, kearifan lokal apalagi dengan megeguritan atau mekidung karena pada zaman sekarang serba modern dan serba spontan apalagi perkembangan yang sangat pesat yaitu perkembangan IT. Perkembangan IT sangat cepat mempengaruhi sehingga banyak siswa yang terjerumus ke hal positif maupun negatif. Para guru, pihak sekolah sangat sulit menerapkan atau mengajarkan, mendidik dengan Dharmagita karena banyak siswa yang menganggap bahwa Dharmagita tersebut kuno, tradisonal, katrok dan lain sebagainya. Padahal dalam Dharmagita terkandung kalimat yang bermakna dalam hidup ini. Dengan adanya strategi sekolah untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa di SMK Kharisma tertarik untuk diteliti, sehingga dapat dirumuskan masalahnya dengan rumusan masalah 1) Bagaimanakah Bentuk Dharmagita Dalam Menanamkan Karakter Siswa Di SMK Karisma Mengwi Badung ? 2) Bagaimana Strategi Sekolah Dalam Menanamkan Pendidikan Karakter Siswa SMK Karisma Mengwi Badung ? sebagai rambu-rambu atau meramal untuk menjawab rumusan masalah maka teori yang digunakan adalah ; Teori Perubahan Sosial, Teori Fakulti. Dengan metode pengumpulan data ; observasi langsung, wawancara tidak berstruktur, pustaka, dokumentasi. Serta tehnik analisis data menggunakan : Pengelompokan Data, Reduksi Data, Transformasi Data, Pengecekan Keabsahan temuan, Penyajian Data, Penyimpulan dan Verifikasi.Hasil penelitian yang didapatkan adalah Kidung yang diberikan di SMK Kharisma Mengwi Badung dengan menyampaikan nilai-nilai karakter yang terkandung didalamnya, karena dengan cerita-cerita yang terdapat dalam kidung tersebut suasana menjadi baik, hening, dan mudah diresapi oleh Siswa. Selain itu juga yang paling sering diberikan di SMK Kharisma, Mengwi, Badung dan sekaligus latihan mengidungkan yaitu dalam persembahyangan         Strategi Pembelajaran Individual ;  Siswa yang mengalami kesulitan, seorang guru terutama guru Agama Hindu membimbing secara pribadi atau individu dalam artian guru Dharmagita mengajari, memberitahukan dengan satu persatu sampai bisa, kalau sudah bisa kemudian lagi dilakukan dengan bersama-sama         Strategi dengan Persahabatan Seorang Guru Dharmagita dalam pergaulannya sehari-hari dengan menganggap Siswa sebagai sahabat, karena selalu sebagai sahabat maka Siswa tersebut merasa  nyaman, tidak sungkan untuk bertanya, lebih aktif, tidak ada keragu-raguan. Para Siswa bebas mengemukakan unek-uneknya yang ditanggapi dengan iklas, senyum, oleh gurunya.
PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 80 TAHUN 2018 TENTANG PELINDUNGAN DAN PENGGUNAAN BAHASA, AKSARA, DAN SASTRA BALI SERTA PENYELENGGARAAN BULAN BAHASA BALI Muliani, Ni Kadek; Muniksu, I Made Sukma
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1394

Abstract

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan mengadakan interaksi sosial. Bahasa daerah (bahasa Ibu) merupakan salah satu warisan kekayaan intelektual yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Keragaman bahasa daerah memberikan nuansa unik terhadap Indonesia di mata dunia. Bahasa daerah sudah sepatutnya dibina, dikembangkan dan dilestarikan supaya tidak mengalami kepunahan.Bahasa Bali (Bahasa daerah Provinsi Bali) dilindungi oleh Pergub no.80 tahun 2018 yang mengatur tentang penggunaan bahasa daerah secara intens di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan kerja. Kemampuan bahasa akan semakin terasah apabila sering diterapkan. Penggunaan bahasa Bali sebagai bahasa pergaulan sehari-hari mendorong generasi muda untuk semakin mencintai bahasa daerahnya.
ANALISIS PENOKOHAN DALAM GEGURITAN BATUR TASKARA Giri, I Putu Agus Aryatnaya; Arta, Putu Eddy Purnomo
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1399

Abstract

The main character in Geguritan Batur Taskara (GBT) is Batur Taskara. Whereas the secondary figures are Raja Patali, Maya's Wife, and Batur Taskara's son. As well as complementary figures are the servants of the king, Empu Bajra Satwa, Pranda Wife, and Hyang Wirocana. Analysis of characterizations in GBT, among others; 1) Batur Taskara is the main character in Geguritan Batur Taskara because he fully supports the story / gets the most portrayal of the figures from other figures. When viewed from the psychological aspect, the Batur Taskara figure is described as a figure who is not good because it always creates chaos in Patali. However, Batur Taskara is not always portrayed as a figure who always does evil. In the end he regretted all the evil deeds he had done and wanted to repent. 2) Raja Patali, from the psychological and sociological aspects, was a king who was highly respected by his people because he ruled in a strict and peaceful manner. 3) Maya's wife is the wife of Batur Taskara who is described as an evil and very devious woman. With her beauty and guile, she tried to win Batur Taskara's heart. 4) Batur Taskara's son is portrayed as an intelligent child and very loyal to his mother, 5) The king's servants are portrayed as being very loyal but rash in their actions. 6) Empu Bajra Satwa has a very high sense of humanity and love because even though he knows that Batur Taskara has committed many crimes, he still wants to accept Batur Taskara as his student, 7) Pranda This wife also has a sense of humanity and love that very high because they are willing to accept Batur Taskara in Pasraman very friendly. 8) Hyang Wirocana is a figure of God who lives in a grave with a good character because he forbids Batur Taskara from returning to Patali at Badra Wada because he could find death.
SIWA TATTWA PURANA [RITUAL-RITUAL KEHIDUPAN DAN KEMATIAN] Putra, I Gde Agus Dharma; Indrayani, A.A. Diah
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1387

Abstract

Siwa Tattwa Purana berarti cerita kuna tentang hakikat Siwa. Kekunaan cerita tentang hakikat Siwa ini, diawali dengan penggambaran Sang Hyang Jagatpati yang sedang berada di Siwa Loka. Jagadpati adalah nama lain Siwa. Siwa Tattwa Purana menyediakan informasi dan pengetahuan perihal Padma Bhuwana, Ritual Kehidupan sampai dengan Ritual Kematian. Padma Bhuwana adalah peta mistis-geografis sebagai petunjuk arah. Ritual Kehidupan menurut Siwa Tattwa Purana berawal dari penyatuan Smara dan Ratih di Cantik Gedong Mas. Upacara saat di dalam perut adalah Pagedong-gedongan. Setelahnya silanjutkan dengan upacara saat dua belas hari, saat sebulan, tiga bulan, enam bulan, mulai berjalan dan tumbuh gigi, matatah, menikah, lalu Apodgala. Ritual Kematian dapat dilakukan pada orang yang ada jasadnya, dan tidak ada jasadnya. Ritual kematian ini dilakukan mulai dari tingkatan Atiwa-tiwa, Nyekah, Mukur, Ligya sampai dengan Angluwer.
MAKNA ETIKA SEBAGAI LANDASAN MENTAL SPIRITUAL PENDIDIK YANG PROFESIONAL DI ZAMAN MILENIAL Aryana, I Made Putra
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1395

Abstract

Artikel ini menguraikan tentang pendidik dalam menerapkan etika sebagai landasan mental spiritual di zaman milenial. Membahas pentingnya etika sebagai landasan mental dan spiritual pendidik Hindu untuk mengendalikan emosi dan tingkah laku dalam menjalankan tugas-tugas pendidikan dan pengajaran di zaman milenial. Dibahas menggunakan metode observasi, studi kepustakaan dan wawancara. Sikap seorang pendidik yang profesional, yakni menjauhi larangan-larangan Agama Hindu yang dapat menghambat perkembangan profesi dan perkembangan peserta didik. Berdasarkan analisis, seorang pendidikan yang profesioanal di zaman milenial ini wajib memegang teguh etika sebagai landasan mental spiritualnya. Landasan tersebut terdapat ajaran-ajaran Hindu antara lain, Panca Sraddha, Catur Purusa Artha, Trikaya Parisudha, Dharma Laksana.
PERUBAHAN PANGAKSAMA ISTA DEWATA DALAM SASTRA JAWA KUNA KAJIAN TEOLOGI-SASTRA Adnyana, Gede Agus Budi
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1391

Abstract

Pangaksama dalam sastra Jawa Kuna, menunjukan ista dewata yang dipuja oleh rakawi Jawa Kuna di dalam menuliskan karya sastranya. Secara pasti pangaksama merubah seluruh teologi sastra dari paham Waishnawa menjadi paham Siwaisme yang kenal  akan kekuatan magis. Perkembangan dari fase- fase sastra Jawa Kuna, secara keseluruhan merujuk pada keyakinan Siwa sebagai ista dewata yang utama. Bagian terpenting dari sastra itu sendiri adalah untuk menemukan kebijaksanaan dan sastra di sini sebagai penuntun serta petunjuk untuk mengarah kepada kesadaran rohani.

Page 1 of 2 | Total Record : 20