cover
Contact Name
A.A. Diah Indrayani
Contact Email
diahindra17@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
diahindra17@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
ISSN : 1979634X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
KONSEP PENDIDIKAN PADA KITAB ADI PARWA DALAM APLIKASINYA PADA PASRAMAN PRAKERTI BHUANA KELURAHAN BENG-KABUPATEN GIANYAR Dian Saputra, I Made; Budi Adnyana, Gede Agus
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i1.2373

Abstract

Hinduism is a religion that has a lot of literature or literary works which are fundamentally a form of text with values that can be used as a guide for life for its people. Thus, the various Hindu centers, which are scattered with different variants, have one distinctive feature as a form of manuscript that tells humans in order to become better. One of them is the Adi Parwa book which contains a lot of the concept of Hindu Education as a whole. The studies conducted tend to analyze the Adi Parwa Book as an independent manuscript without separate supporting parts and narratives. A fact shows that Adi Parwa was built not with a single homogeneous plot, but with fragments and sequences that are related and unrelated to the main narrative. Thus it can be said that Adi Parwa is a collection of long narratives with many episodes that tell about different objects and subjects, with a more specific structural link between teachers and students. So Adi Parwa is more precisely a manuscript with many narratives, plots, characterizations, objects as the center, the focus of the story, and stands with many sacred mandates in it. This tends to be forgotten. Viewing Adi Parwa's study as an independent book with a single plot is a mistake. Because Adi Parwa tells many things in many different plots, and ends with different accuracy. If the study is only carried out by looking at Adi Parwa as a complete narrative with one plot, then we will not find any values and mandates.
SEGMENTAL DAN SUPRA SEGMENTAL DALAM KIDUNG MALAT COWAK DI DESA PADANGBULIA Dharma Pradnyan, I Gusti Made Swastya
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v7i2.1031

Abstract

Malat Cowak a traditional literary works shaped hymn often sing Padangbulia society. This kidung serves as a companion religious ceremonie’s such as, pitra yadnya and manusia yadnya. But when song, chants significant they can only be interpreted by readers based on the dictionary meaning only. As an active reader, a work of literature, especially the kidung, various kinds of theories and methods in the process of interpretation of the meaning. One way is to analyze the sound system that ties each end of words in one verse. Study of the sound system in linguistics is based on the study of phonology. Science that examines the sound system can be done with two analysis: analysis of segmental and suprasegmental.
AJARAN PANCA SRADHA DALAM GEGURITAN BATUR TASKARA Aryatnaya Giri, I Putu Agus; Ardini, Ni Luh; Kertiani, Ni Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i2.2364

Abstract

Geguritan Batur Taskara (hereinafter abbreviated as GBT) is one of the many literary works of geguritan in Bali, which is a Balinese cultural heritage, with the values of religious education, both moral values, philosophy / tattoos, and ritual values contained in in the literary work. The purpose of this research is to analyze the philosophical teachings / tattwa in Geguritan Batur Taskara using descriptive qualitative research methods. The conclusion of the research shows that the value of philosophy (tattwa) exists and is contained in the GBT with an outline of the five main points of belief in Hinduism called Panca Sradha. The five Sradha include; believe in the existence of Ida Sang Hyang Widhi Wasa (God Almighty), believe in the existence of atma (ancestral spirits), believe in the law of karmapala, believe in samsara (Punarbawa), and believe in moksa
GURU SUSRUSA DALAM TEKS ADIPARWA Saitya, Ida Bagus Subrahmaniam
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1393

Abstract

Catur guru berarti empat guru atau orang yang berpengetahuan dan memberikan pencerahan serta mampu untuk mengarahkan orang lain. Dalam agama Hindu, guru merupakan simbol bagi suatu tempat suci yang berisi ilmu (vidya) dan juga pembagi ilmu. Catur guru terdiri dari guru rupaka, guru pengajian, guru wisesa, dan guru swadyaya. Di dalam ajaran Pañca Nyama Brata terdapat ajaran guru suśrusa. Guru suśrusa berarti mendengarkan atau menaruh perhatian terhadap ajaran-ajaran dan nasihat-nasihat guru. Di dalam teks Ādiparwa diceritakan saat Sang Āruṇika melaksanakan kewajibannya untuk menjaga sawah yang diperintahkan oleh gurunya Bhagawān Dhomya. Murid yang lain, Sang Utamanyu diperintahkan menggembala sapi, dalam melaksanakan tugasnya ia sangat lapar dan haus maka ia minta-minta terhadap orang-orang, namun perbuatan itu dilarang oleh Bhagawān Dhomya. Selanjutnya Sang Utamanyu meminum sisa susu sapi dari anak sapi yang digembala juga dilarang oleh gurunya sehingga ia meminum getah daun waduri yang menyebabkan Sang Utamanyu menjadi buta. Perbuatan tersebut merupakan perwujudan ajaran guru suśrusa yang tulus kepada seorang guru. Ajaran guru suśrusa juga ditunjukkan oleh Sang Weda kepada sang guru. Ia diperintahkan untuk memasak dan menghidangkan berbagai hasil masakannya dan perintah Bhagawān Dhomya dilaksanakan sebaik mungkin. Ajaran guru suśrusa berkaitan erat dengan guru bhakti. Bhakti bukan hanya kepada Tuhan saja, ajaran bhakti juga diterapkan kepada orang tua. Bhīṣma dengan bhakti-nya kepada ayahnya Raja Śantanu rela untuk brāhmacari selama hidupnya dan tidak menjadi raja di Hāstina agar ayahnya dapat mengawini Gandhawati. Wujud bhakti kepada orang tua juga ditunjukkan oleh Sang Garuḍa untuk membebaskan ibunya Dewi Winatā dari perbudakkan yang dilakukan oleh Dewi Kadrū berserta anak-anaknya.
PENGARUH PENGGUNAAN CAMPUR KODE DALAM BERTUTUR BAHASA INDONESIA TERHADAP IDENTITAS BANGSA Intan, Nenden Nur
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i2.2446

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan campur kode dalam bertutur bahasa Indonesia terhadap identitas bangsa dengan menggunakan metode deskripsi kualitatif. Strategi yang digunakan adalah analisis isi, yaitu menganalisis hasil dokumen yang diberikan oleh responden mengenai tindak tutur campur kode terhadap identitas bangsa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara membagikan kuisioner melalui media google formulir kepada responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan campur kode dalam bertutur bahasa Indonesia. Biasanya ciri menonjolnya berupa situasi informal dan bisa juga terjadi karena keterbatasan bahasa yang tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan memasukkan unsur bahasa lain dalam tuturannya. Dari hasil penelitian, dinyatakan ada beberapa faktor terjadinya campur kode, di antaranya 1) Terjadi secara spontan. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan faktor lingkungan yang sering menggunakan campur kode, kemudian tanpa sadar diikuti. 2) Sudah menjadi kebiasaan. Masyarakat bilingual yang terbiasa menggunakan dua bahasa akan tanpa sadar mencampurkan dua unsur bahasa menjadi satu, hal tersebut terus berulang, sehingga menjadi kebiasaan. 3) Sulit menemukan arti bahasa Asing dalam bahasa Indonesia. Jika campur kode terjadi karena memang seseorang memiliki keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan memasukkan unsur bahasa lain, maka itu adalah hal yang wajar. Tetapi, lain halnya jika mengikuti pergaulan tanpa mementingkan identitas dari bahasa Indonesia itu sendiri, maka bahasa Indonesia semakin lama akan semakin memudar dan akan mengikis identitas nasional. Oleh karena itu, kita harus menjaga bahasa Indonsia agar jati diri bangsa Indonesia tidak luntur.
ANALISIS STRUKTUR INTRINSIK CERPEN LUH BULAN KARYA IBW WIDIASA KENITEN Wiguna, Gede Merta; Mandra, I Wayan; Saputra, Made Dian
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v8i2.974

Abstract

Cerpen merupakan salah satu karya sastra fiksi yang masih berkembang hingga saat ini. Cerpen itu dibangun oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik dimana unsur intrinsik tersebut meliputi tema, alur, insiden, tokoh dan penokohan, lattar/setting, dan amanat, sedangkan unsur ekstrinsik berupa nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen tersebut. Sebagian orang hanya menikmati cerpen dengan membacanya, tanpa pernah ingin mengetahui lebih jauh unsur yang membangun karya sastra tersebut. Maka dari itu sangatlah penting untuk menganalisis unsur intrinsik yang membangun cerpen itu sendiri.
HUBUNGAN GEGURITAN BRAYUT DENGAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT BALI Indrayani, A.A. Diah
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1232

Abstract

Literature and culture have the same object that is a human being which existed in a community as a social fact and as a cultural creature. They have a special place in a society due to their close relationship. The figure can be found on a various art creations in Bali such as painting, sculpture and traditional song. Meanwhile, the government promotes family planning as a program to the citizen. The problems discussed on this research is how  the relation between geguritanBrayut and social and cultural of the Balinese.The methodology of this study is a qualitative research through non-interactive research by analyzing a textual research which is not related to the community on its organic environment. The research approach used in this study is thematic philosophy. The theory applied in this research are theory of deconstruction and semiotic.The result of this research shows that the relation between GeguritanBrayut with social and culture of  Balinese community can be seen on their marriage concept according to Hindu belief, family prosperity, child nurture, the genetic system (matrilineal and patrilineal).
ANALISIS NILAI RELIGI DALAM GEGURITAN MANIGUNA Desi Sentana, Gek Diah; Suniarmika, I Wayan Dharma; Nadia Sari, Ni Ketut Ayu
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i1.2378

Abstract

The existence of Balinese literary works until now still has a place in the hearts of Balinese literary lovers, so that the existence of Balinese literary works has lived along with the times. There are many ways a writer can express his thoughts and ideas, one of which is by writing a literary work in the form of a geguritan. Balinese purwa (classical) literary works need to be preserved, nurtured and developed, because they contain noble values which are very important, meaning for the life of the people, especially the Balinese. The value theory from Yudibrata is used to reveal the importance of Geguritan Maniguna as a classic literature that records culture from a long period of time and contains various cultural paintings, ideas, ethics, advice, entertainment and including religious life, especially regarding religious values that exist. inside it.
WACANA IDA RATU GEDE MAS MACALING DALEM NUSA PENIDA KLUNGKUNG Saputra, I Made Dian
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v8i1.1037

Abstract

Masyarakat Hindu di Bali memandang waktu sebagai sebuah hal yang penting. Waktu atau Kala hadir sebagai ruang yang dihubungkan dengan mitos magi. Hubungan tersebut dapat dilihat pada mitos Sasih Keenem yang diyakini merupakan fase waktu datangnya epidemi atau wabah. Seringkali mitos Sasih Keenem juga dihubungkan dengan wacana Ida Ratu Gede Mas Mecaling sebagai sosok magi penebar wabah dan bencana dijagat Bali. Menariknya, citra Ida Ratu Gede Mas Mecaling Dalem Nusa Penida justru seolah-olah menjadi mitos hidup dan “sesembahan” bagi mereka para balian, pengiring, dan penekun ilmu kebatinan. Belakangan marak sekali orang-orang ngayat (memuja) beliau sebagai objek pemujaan, dan lebih menariknya beragam versi wacana magi tentang beliau berkembang dalam masyarakat. Atas dasar tersebut, menjadi menarik hal tersebut dikaji dalam tulisan ilmiah berikut sehingga menemukenali nilai dan makna dalam lingkar kajian wacana magi.
ANALISIS STRUKTUR SATUA I DURMA Madja, I Ketut
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i2.2369

Abstract

n literary works, in general, discuss the unity of the elements in it. These elements are seen as forming the literary work itself, both in relation to other elements and the overall framework contained in the literary work. Likewise with satua (story) I Durma as a literary work, it cannot be separated from the elements that make it up, such as how the plot or plot, characters and characterizations are, so that it can be said to be a satua (story). Setrukur aims to reveal and explain carefully and thoroughly, in detail and as deep as possible the linkages and interconnections of all elements and aspects of literary works that together produce a comprehensive meaning. For every literary researcher, analysis or study of the structure of the literary work to be studied from anywhere is also a priority task.

Page 11 of 16 | Total Record : 151