cover
Contact Name
A.A. Diah Indrayani
Contact Email
diahindra17@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
diahindra17@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
ISSN : 1979634X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
MEMBACA DUNIA SUREALIS IBW. WIDIASA KENITEN DALAM KUMPULAN CERPEN BUDUH NGELAWANG Juliana, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i1.2381

Abstract

Buduh Ngelawang's short story collection is one of the literary works that was born from the hands of a teacher named IBW. Widiasa Keniten. Apart from being a teacher, he is also active in writing literary works in both Balinese and Indonesian. His works should be appreciated and given comments in order to add to the repertoire of literary criticism in the field of modern Balinese literature itself. In Buduh Ngelawang's short story collection, the author builds a new world in modern Balinese literature that has never been done before. The author offers a new model in structuring the modern Balinese literary form, namely the surreal form. On this occasion, Buduh Ngelawang's short story collection will be analyzed based on Tzevetan Todorov's narratological structure theory. In the narratological analysis, the semantics (in absensia) aspect will be discussed. The semantic aspect relates to the involvement of denotative meaning and connotative meaning as a way to express meaning.
KAJIAN FILOLOGI DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM LONTAR TUTUR AJI SARASWATI Sentana, Gek Diah Desi
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1074

Abstract

Kesusatraan sebagai suatu hasil karya pengarang atau pengawi berupa tulisan yang mengandung nilai-nilai budhi pekerti yang luhur serta memiliki nilai keindahan. Kesusastraan Bali dibagi menjadi dua, yaitu kesusastraan Bali Purwa dan kesusastraan Bali Anyar (modern). Kesusastraan Bali purwa yaitu kesusastraan yang tertua di Bali, yang sering disebut dengan kesusastraan rakyat yang menjadi sebuah tradisi turun-temurun hingga saat ini. Sedangkan kesusastraan Bali Anyar adalah hasil karya cipta seseorang yang menceritakan kehidupan masyarakat yang sudah dipengaruhi oleh dunia luar. Salah satu kesusastraan yang termasuk bagian dari kesusastraan Bali Purwa yaitu, kesusastraan berupa lontar sebagai warisan budaya, yang ditulis oleh para leluhur di atas daun lontar (daun ental). Dari keunikan masing-masing karya sastra tersebut, tertarik untuk mengkaji lontar TuturAji Saraswati yang akan dibahas pada tulisan ini mengenai perbandingan dan nilai pendidikan yang terkandung dalam lontar TuturAji Saraswati. Karena dalam lontar tersebut mengandung pengetahuan tentang aksara Bali. Lontar Tutur Aji Saraswati digunakan untuk mengetahui aksara bali yang terdapat dalam Bhuana Agung dan BhuanaAlit, begitu juga untuk mempermudah kita mempelajari sastra-sastra yang terdapat dalam Wariga, Usadha, Tutur, Agama dan intisari beserta penjelasannya.
WACANA PUNAHNYA BAHASA DAERAH DALAM PERGAULAN GLOBALISASI Astawa, I Nyoman Temon
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1076

Abstract

Wacana akan punahnya suatu bahasa dicemaskan oleh banyak pihak, hal ini berangkat dari keprihatinan akan matinya banyak bahasa. Ada alasan mendasar mengapa kepunahan suatu bahasa sangat dikhawatirkan. Bahasa memiliki jalinan yang sangat erat dengan budaya sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena begitu eratnya jalinan antara bahasa dan budaya, tanpa bahasa budayapun akan mati.  Hal ini bisa terjadi karena bahasa adalah penyangga budaya; sebagian besar budaya terkandung didalam bahasa dan diekspresikan melalui bahasa, bukan melalui cara lain. Ketika berbicara tentang bahasa, sebagian besar yang dibicarakan adalah budaya.
URGENSI PENDIDIKAN KARAKTER (Kajian Filsafat Pendidikan) Putra Aryana, I Made
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i1.2372

Abstract

This article aims to examine the importance of character education to create Indonesian people who have knowledge, have noble morals, have personality and character. The writing of this article uses the librarian method and in-depth study of the literature. The issue of the character of students and the character of the nation is currently the most important issue for the world of education in the country. Education includes two main interests, namely the development of individual potential and the inheritance of cultural values. There are three foundations that make up the philosophy of education, namely: the ontological, epistemological and axiological foundation. A person who is studying education is required to think about essential problems regarding education. Various problems of the nation today can only be fixed by individuals of the younger generation with character: smart, quality, ethical, disciplined, honest, hard work and moral. It is hoped that the development of Indonesia's young generation can become the identity of the nation's children in the era of globalization and acculturation of world culture, and can encourage independence in an effort to increase the competitiveness of Indonesia's young generation. The back and forth of the nation's future is very much determined by the quality of human resources who are intelligent, have character, have good character, in accordance with the philosophy and goals of national education.
PUNIA DALAM TEKS PEPARIKAN NILACANDRA Widiantana, I Kadek; Indrayani, A.A. Diah
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i2.2363

Abstract

Punia is one of the dharma paths taken by Hindus. However, the phenomena that occur in society, punia tends to things that are material in nature. So that it narrows the essence of the punia itself. In this regard, one of the literary works that discusses the nature of punia is nilacandra peparik. This research is a qualitative research. The type of data used in this research is qualitative data with the literature study method. In the nilacandra peparik text, there are 4 essence of punia that should be carried out. Punia is based on ability, punia given is based on sincerity without expecting results, punia is not merely material.
RELEVANSI SUSASTRA HINDU DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER Wiguna, I Made Arsa
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v7i2.1030

Abstract

This paper aims to present the idea of the relevance of Hindu’s literature with character education which is currently being encouraged to raised up back in the learning process. Education in general and religious education is basically aimed at forming good character. But today there’s a phenomenon of moral degradation among teenagers, although there’s also the others which has a good moral and character. One of the effort that can be choose to support character education is by reviving religious literature. Literature in Indonesia has existed since the entry of Hindu’s influence to the archipelago. Even in the range of X century, King Dharmawangsa Teguh initiated a project known as “mangjawaken byasamata” or to translating to the Java language the teachings of Bhagavan Vyasa. Hindu’s literature nowadays is still well preserved especially in Bali. Bali as the savior of Hindu’s literature and not only protecting literary works but also developed forms of other literary works. Hindu’s literature to support the efforts of the character education is Sarasamuccaya and Canakya Nitisastra. The values in it, is still relevant in today’s life and a valuable asset for character education. Its need to practice and accustom these teachings so that the purpose of education to humanize humans, and to realize humans could be achieved.
AKSARA WREASTRA DAN WIJAKSARA DALAM AKSARA BALI (STUDI STRUKTUR DAN MAKNA DALAM AGAMA HINDU) Widiantana, I Kadek; Wiradnyana, I Made
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1392

Abstract

Humans as socio-cultural creatures can never be separated from the use of symbols, including symbols related to linguistics, which are used as sacred symbols in Hinduism in Bali, namely scripts, both Wreastra and Wijaksara Scripts. Hindus in Bali, for the most part, consider that the Wreastra script is only an ordinary script, which has no philosophical meaning, making researchers interested in studying the philosophical meaning in the Wreastra Script that is accompanied by the study of Wijaksara Script.Starting from this background, there are several research problem formulations, namely what is the meaning of the Wreastra and the Wijaksara Scripts in Hinduism. To answer these problems, the researcher use structural theories, semiotic theories, and theories of meaning. This type of research is qualitative research, with a philosophical-symbolic approach.The results of this study are the Wreastra and Wijaksara scripts have a meaning as worship to the God with all its manifestations adjusted to the script used. The application of the Wreastra and Wijaksara scripts in religious ritual activities in Bali as part of socio-religious activities can be seen from its use in the Rerajahang Kajang, Ulap-Ulap and Pecaruan rites.The conclusion that can be drawn is that the Wreastra and Wijaksara scripts have a high philosophical meaning of God, so that in writing and its use is not arbitrary, always starting with prayer of worship to the God.
KAJIAN PSIKOLOGI HUMANISTIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL DUA GARIS BIRU KARYA LUCIA PRIANDARINI IRMA, CINTYA NURIKA
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i2.2121

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan aspek-aspek psikologis berdasarkan kajian psikologi humanistik tokoh utama dalam novel Dua Garis Biru karya Lucia Priandarini. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik yang digunakan adalah teknik pengumpulan data, teknik triangulasi dan teknik analisis data merujuk pada analisis interaktif Miles dan Huberman. Analisis data dilakukan dengan menandai dan menentukan teks novel, mengklasifikasikan teks novel, dan menyimpulkan hasil klasifikasi teks novel yang selaras dengan kajian psikologi humanistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama mampu memenuhi aspek kebutuhan humanistik. Tujuh aspek kebutuhan humanistik antara lain kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan akan dihargai, kebutuhan intelektual, kebutuhan estetis, dan kebutuhan mengaktualisasikan diri. Kata Kunci: Psikologi, Kajian Humanistik, Novel Dua Garis Biru
AKSARA BALIDALAM PAWINTENAN WIWA DI GRIYA AGUNG BANGKASA DESA BONGKASA KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v8i2.973

Abstract

Tradisi yang melekat dalam keseharian orang Bali adalah tradisi-tradisi yang Hinduistik, keselarasan antara local genius yang bersanding dengan religiusitas Hindu Bali menjadikan tradisi yang berkembang di Bali memiliki berbagai macam makna, begitupula dengan keberadaan aksara Bali memiliki peranan sangat penting dalam tradisi umat Hindu di Bali, Khususnya yang berkaitan dengan tradisi serta ritual. Masyarakat Hindu di Bali sangat antusias melaksanakan tradisi maupun ritual yang tidak terlepas dari peranan aksara. Salah satu tradisi tersebut ialah PawintenanWiwa. PawintenanWiwa adalah pawintenan yang dilaksanakan sebelum seseorang naik menjadi panditaBhawati hanya pada warga Mahagotra Sanak Sapta Rsi. Guru Nabe atau Panglingsir Griya Agung Bangkasa melaksanakan Pawintenan Wiwa ini. Pawintenan Wiwa di dalam pelaksanaannya menggunakan aksara Bali.Penelitian ini membahas tiga permasalahan yakni bentuk, fungsi, serta makna aksara Balidalam Pawintenan Wiwa di Griya Agung Bangkasa, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Ketiga rumusan masalah tersebut dianalisis dengan menggunakan tiga teori yakni teori Linguistik Struktural, teori Fungsi Bahasa, dan teori Makna. Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan tematis-filosofis. Penelitian ini menggunakan pengumpulan data dengan metode observasi, wawancara, dan studi pustaka.Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa (1) Bentuk aksara Bali yang dirajah pada tubuh (angga Sarira), berdasarkan bentuknya aksara Bali dibawah adalah termasuk aksara-aksara yang tergolong aksara Wijaksara (aksara Swalalita yang diberi pangangge atau busana) dan aksara Modre. Dalam pawintenan ini banyak ditemukan berbagai bentuk salah satunya aksara Wijaksara yang terdiri dari eka aksara, dwi aksara, tri aksara, panca aksara, dasa aksara, catur dasa aksara dan sodasa aksara. Aksara yang digunakan dalam rarajahanrurub serta aksara Bali dirajah pada tubuh menggunakan aksara-aksara yang konotasinya melambangkan simbol-simbol dewa pada tubuh manusia dan lebih banyak menggunakan aksara Wijaksara serta aksara Modre tentunya dipercaya memiliki kekutan religius magis berbeda dengan aksara Bali lumbrah menggunakan aksara Wreastra; Ragam aksara Bali yang digunakan berdasarkan daerah artikulator adalah guttural (kerongkongan), palatal (langit-langit), cerebral (lidah), dental (gigi), serta labial (bibir). Lebih spesifik lagi yakni dalam ranah tradisional, penyebutan daerah artikulasi tersebut dinamakan dengan kantia, talawia, murdania, dantia, dan ostia. (2) Fungsi aksara Bali pada Pawintenan Wiwa adalah Fungsi Referensial, Fungsi Religius, Fungsi Magis. (3) Makna Aksara Bali Pada Pawintenan Wiwa adalah Makna Sosial Budaya, dan Makna Teologi.
RASA BAHASA DALAM BAHASA BALI Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1231

Abstract

Rasa bahasa di dalam percakapan menggunakan Bahasa Bali sangatlah penting, karena ketika berbicara jika rasa bahasanya sudah sesuai dengan unggul-ungguling Bahasa Bali akan dapat menimbulkan rasa senang. Tetapi sebaliknya jika rasa bahasanya tidak sesuai dengan anggah-ungguhing, maka akan menimbulkan rasa tidak enak/ janggal.Bahasa Bali jika dilihat dari rasa bahasanya dapat dibagi menjadi 3 yakni (1) Rasa bahasa dalam bentuk kata meliputi : (a) kruna alus mider,  (b) kruna alus madia, (c) kruna alus singgih, (d) kruna alus singgih, (e) kruna alus sor, (f) kruna mider, (g) kruna andap, dan (h) kruna kasar. (2) Rasa bahasa dan bentuk kalimat meliputi : (a) lengkara alus singgih,  (b) lengkara alus madia, (c) lengkara alus sor, (d) lengkara andap, dan (e) lengkara kasar. (3) Selanjutnya Bahasa Bali dilihat dari rasa bahasanya dibagi menjadi (a) bahasa alus, (b) bahasa madia, (c) bahasa andap, dan (d) bahasa kasar.

Page 9 of 16 | Total Record : 151