cover
Contact Name
A.A. Diah Indrayani
Contact Email
diahindra17@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
diahindra17@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
ISSN : 1979634X     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Arjuna Subject : -
Articles 151 Documents
AJARAN BHATARA KUMARA DALAM TUTUR KUMARA TATWA DAN PENGARUH TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA Artayasa, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i1.2377

Abstract

Hindus considered Bhatara Kumara in Bali as a protector or guardian deity for newborn children. Offering and worshiping Bhatara Kumara is very important to do every day to protect or give children gifts. However, in Tutur Kumara Tatwa, Bhatara Kumara teachings are not only for children but for all people. The teachings conveyed are a form of self-control in this life. The teaching or education in Tutur Kumara Tatwa certainly has implications for human life, especially in Bali. Children's education is essential to do from an early age to develop good character. Good character is not only for children but also applies to all human beings. According to Tutur Kumara Tatwa, character education from Bhatara Siwa to Bhatara Kumara originated from a field where Bhatara Kumara was grazing called Argakuruksana. Bhatara Kumara felt like life in solitude. During his life as a shepherd, he had experienced many ups and downs. It is what can be learned as teaching or values in life that can affect human life. Bhatara Kumara was blessed or awarded by Bhatara Shiva to stay young, achieving eternal happiness. Bhatara Kumara is represented as the god of a baby. It means that babies should have received character education from their parents. Bhatara Kumara's role in human life, especially for Bali's Hindu community, is seen as the God of children from birth to Telung Oton's age (630 days). Bhatara Kumara is placed in Pelangkiran and is believed to be the child's protector or guardian
PERANAN KEARIFAN LOKAL PERMAINAN TRADISIONAL DALAM PENDIDIKAN Putra, I Kadek Marsiana; Dewi PF, Kadek Aria Prima
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v8i1.1036

Abstract

Permainan tradisional yang semakin hari semakin hilang di telan perkembangan jaman, sesungguhnya menyimpan sebuah keunikan, kesenian dan manfaat yang lebih besar seperti kerja sama tim, olahraga, terkadang juga membantu meningkatkan daya otak. Berbeda dengan permainan anak jaman sekarang yang hanya duduk diam memainkan permainan dalam layar monitor dan sebagainya.Secara tidak langsung anak-anak akan dirangsang kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional. Namun sayangnya seiring kemajuan jaman, permainan yang bermanfaat bagi anak ini mulai ditinggalkan bahkan dilupakan.Anak-anak terlena oleh televisi dan video game yang ternyata banyak memberi dampak negatif bagi anak-anak, baik dari segi kesehatan, psikologis maupun penurunan konsentrasi dan semangat belajar.Menguatnya arus globalisasi di Indonesia yang membawa pola kehidupan dan hiburan baru, mau tidak mau, memberikan dampak tertentu terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat. Termasuk di dalamnya berbagai macam permainan tradisional anak.
BRATA DALAM GEGURITAN SALAMPAH LAKU KARYA IDA PADANDA MADE SIDEMEN Guna Yasa, Putu Eka
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i2.2368

Abstract

This paper discusses the types and benefits of brata in one of the literary works written by Ida Padanda Made Sidemen entitled Geguritan Salampah Laku. Methodologically, this study starts from the stage of providing data followed by data analysis to presenting the results of data analysis. At the data provision stage, the literature method is used, namely collecting primary data in the form of lontar manuscripts collected by the Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali and secondary data in the form of an appendix to the assessment of Geguritan Salampah Laku. At the data analysis stage, a qualitative descriptive analysis method was used which was supported by the Semiotic theory to reveal more clearly the types and benefits of the brata contained in Geguritan Salampah Laku. The results of the data analysis are presented using ordinary or informal words so that readers can know and even practice them practically. Based on the study conducted on Geguritan Salampah Laku, it can be seen that brata has been discussed from the beginning, middle, to the end of the literary work. In the first part, there is brata amaṅun puasa sawĕguṅ which is performed by Ida Padanda Made Sidemen by eating only once a day. The benefits of brata are closely related to the success of the learning process undertaken by Ida Padanda Made Sidemen in the learning process at Gria Mandara, Sidemen, Karangasem. Furthermore, Geguritan Salampah Laku also explained brata in general through Ida Padanda Nabe's message to Ida Padanda Made Sidemen. The benefit of doing brata for a priest is the success of the chanting mantras as well as changing the quality of human birth (yoni) in the next life. At the end, Geguritan Salampah Laku also contains brata rahina tan suptāturu or not sleeping while the sun is still rising and working for life. The benefits of brata are actually the key behind Ida Padanda Made Sidemen's creativity in creating various works, both in the form of literature, sculpture, and architecture whose usefulness can still be felt today
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER YANG TERKANDUNG DALAM TEMBANG BALI Putra, I Gusti Ngurah Arya
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 10, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v10i1.1397

Abstract

Masyarakat Bali dalam hidupnya tak pernah terlepas dengan sebuah sastra. Dalam sastra itu sendiri memiliki beberapa bentuk yaitu Gancaran, Tembang, dan Palawakya. Tembang (Prawiradisastra,1991:64) yaitu seni suara yang dibangun dari bermacam-macam laras dan nada sebagai bahannya. Tembang yang dikenal masyarakat bali yaitu sekar rare, sekar alit, sekar madya, sekar agung dan tembang pop bali pun juga termasuk yang sangat digemari. Dengan adanya tembang membantu dalam transfer nilai pendidikan karakter. Nilai karakter ialah suatu penggabungan dalam pengelolaan pemikiran, sikap maupun budi pekerti dalam menentukan apa yang baik dilakukan maupun yang tidak baik dilakukan, dalam bentuk permikiran, perkataan maupun perbuatan sehingga terciptanya sifat atau pribadi individu yang khas. Diharapkan agar tembang ini bukan hanya sebagai sarana pelipur lara atau penuangan ekspresi jiwa tetapi mampu berguna sebagai sarana penanaman nilai pendidikan karakter bagi seseorang. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif dengan menggunakan metode analisis.
PENDIDIKAN SUSILA DALAM KISAH ĀRANYA KĀNDA RAMĀYĀNA SEBAGAI PEDOMAN MENJALANI KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA Permana, I Dewa Gede Darma
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i2.2779

Abstract

AbstrakPendidikan susila merupakan salah satu pengetahuan yang wajib dipelajari oleh setiap manusia di dunia, tidak terkecuali suami-istri dalam kehidupan berumah tangga. Terlebih pendidikan susila merupakan salah satu pedoman dalam  membentuk keluarga yang harmonis. Dalam ajaran agama Hindu, kisah Āranya Kānda Ramāyāna merupakan cerita luhur yang menjadi bagian dari kitab suci Weda. Di dalamnya terdapat cerita yang menegangkan ketika Dewi Sītā sebagai istri dari Śrī Rāma, diculik oleh raksasa Ravana. Berkaca dengan hal tersebut, penelitian ini tertarik mengkaji lebih dalam mengenai kisah Āranya Kānda Ramāyāna tersebut, untuk menemukan pendidikan susila untuk kehidupan rumah tangga. Dalam penelitian ini, dirumuskan juga beberapa permasalahan, yaitu terkait pendidikan susila dalam kehidupan berumah tangga, kisah Āranya Kānda Ramāyāna, serta pendidikan susila yang terkandung didalam kisah Āranya Kānda Ramāyāna sebagai jawaban dari tantangan kehidupan berumah tangga. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif,, dan studi kepustakaan, serta menggunakan analisis data dari Miles and Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, kisah Āranya Kānda Ramāyāna mengandung berbagai nilai-nilai etika dan moralitas baik untuk suami dan istri. Dengan mengetahui pendidikan susila tersebut, tentu bermanfaat sebagai pedoman dalam membentuk kehidupan rumah tangga yang harmonis.Kata Kunci: Pendidikan Susila, Āranya Kānda, Rumah Tangga Harmonis  Abstract            Moral education is one of the knowledge that must be learned by every human being in the world, including husband and wife in married life. Moreover, moral education is one of the guidelines in forming a harmonious family. In Hinduism, the story of Āranya Kānda Ramāyāna is a sublime story that is part of the Vedic scriptures. In it there is a tense story when Dewi Sītā as the wife of Śrī Rāma, was kidnapped by the giant Ravana. Reflecting on this, this study is interested in studying more deeply about the story of the Āranya Kānda Ramāyāna, to find moral education for domestic life. In this study, several problems were also formulated, namely related to moral education in married life, the story of Āranya Kānda Ramāyāna, and moral education contained in the story of Āranya Kānda Ramāyāna as an answer to the challenges of married life. By using qualitative research methods, and literature studies, and using data analysis from Miles and Huberman. The results of this study indicate that the story of Āranya Kānda Ramāyāna contains various ethical and moral values for both husband and wife. By knowing the moral education, it is certainly useful as a guide in forming a harmonious household life.Keywords: Moral Education, Āranya Kānda, Harmonious Household
EKSISTENSI PENGAJARAN BAHASA BALI DALAM MENARIK MINAT SISWA DI SMK NEGERI 2 DENPASAR Widiastari, Ni Luh Putu Diah
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i1.979

Abstract

Pengetahuan merupakan hal terpenting dalam kehidupan, karena segala pengetahuan yang didapatkan tidak hanya dari lingkungan sekitar, pengetahuan bisa didapatkan dari pengalam dan kejadia-kejadian yang ada. Dari segala pengetahuan yang ada tidak akan lepas dari pendidikan, yang dimana dalam hal ini pendidikan dari orang tua kepada anak merupakan sebuah kewajiban, hanya saja banyak yang tidak menyadari bahwa orang tua sebenarnya merupakan guru yang pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam membangun dan mendidik moralitas anak-anak. Tulisan ini berusaha untuk mengungkap pengajaran bahasa Bali menjadi sebua media untuk menarik minat siswa dalam pelajaran bahasa Bali dengan perangkat teori behaviouristik, konstruktivisme dan motivasi yang didukung oleh metode deskriptif kualitatif. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan bahwa pengajaran bahasa Bali yang dianggap membosankan, menakutkan, dan kuno oleh siswa mampu berubah menjadi meyenangkan, gampang dimengerti dan bisa mengikuti zaman. Pada dasarnya, kunci dari kegiatan belajar mengajar adalah adanya saling dukung mendukung antara guru dan siswa, kemudian guru sebagai seorang pendidik mampu menejemen kelas dengan membuat pelajaran menjadi menyenangkan, inovatif dan kreatif sehingga diminati oleh siswanya. Eksistensi dari pengajaran yang dilakukan oleh guru dengan mengambil mata pelajaran bahasa Bali sangatlah bergantung kepada adanya desain pembelajaran dan media pembelajaran guna menarik minat siswa untuk belajar dan mengenal bahasa Bali sebagai bahasa ibu yang mereka miliki.
UNSUR INTRINSIK DAN PERMASALAHAN SOSIAL DALAM CERPEN ULIAN LACUR KARYA NENGAH RUSMADI Nuryana, I Wayan
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i2.1236

Abstract

Short story is one of literature in the form of prose. Short story is a work that is built through various intrinsic elements and extrinsic elements. Element element of the short story will build a short story in totality and is artistic. Short stories have intrinsic and extrinsic elements, intrinsic element is the element of the story builder that comes from within the short story itself. If likened to a building, then the intrinsic element is the components of the building. The intrinsic elements are themes, plot, figure, background, point of view and mandate. In addition to intrinsic elements also analyze the social value in this story which contains social problems such as poverty, faded empathy and so forth. As for the benefits of peeling a short story is very diverse, from the first did not know to know, who did not understand to understand, analyze / peel thoroughly a short story is very useful for writers and readers. Writers and readers will very easily understand the contents contained in a short story, especially for people who like to short stories.
Struktur Formal Kekawin Kumudawati Wiyasa, I Putu
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 11, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v11i2.1465

Abstract

Kakawin Kumudawatī adalah kakawin  yang mengambil tema  dari cerita Tantri. Kakawin Kumudawati menceritakan kisah sepasang angsa dan juga sepasang empas yang berteman baik di telaga Kumudawatī. Kakawin ini tergolong baru dan digolongkan ke dalam Kakawin Minor karena Kakawin Kumudawatī ini tergolong baru, maka sangat menarik dikaji dari segi struktur formalnya. Adapun struktrur formal kakawin  yang akan dikaji meliputi guru laghu, wrĕta, mātra, gana, canda, carik, pada, pupuh, dan alamkara.Analisis struktur formal Kakawin Kumudawati dilakukan agar dapat mengetahui keteraturan Kakawin Kumudawati dalam pembentukan kaidah-kaidah guru-laghu, wrĕtta-matra, pada dan Gaṇa. Guru dan Laghu dalam  Kakawin Kumudawatī terkomposisi atas tiga-tiga kelompok menjadi satu satuan yang disebut gana. Satuan Gana kemudian  disusun menjadi matra. Jumlah suku kata (wreta) dan matra membentuk canda. Dari komposisi canda tersebut kemudian dimasukkan kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno membentuk Kakawin Kumudawatī. Kakawin Kumudawati menggunakan lima metrum yaitu metrum Jagaddhita, Basantatilaka, Kilayumanĕdĕng, Rajani, dan Indrawangsa.
MITOS PAN BALANG TAMAK DI DESA NONGAN KECAMATAN RENDANGKABUPATEN KARANGASEM: SASTRA LISAN Pebriyani, Ni Komang Ari; Duija, I Nengah; Subagia, I Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v9i1.1072

Abstract

The gap of Pan Balang Tamak character who was usually known by Balinese people in general happened in Nongan Village, Rendang Distric, Karangasem Regency. Beyond Pan Balang Tamak character precisely was respected by showing himself in the term of Balang Tamak temple in Nongan Village. The connection of Pan Balang Tamak myth with the folklore material in the village including the tradition which use janggi in the meeting, village rules, Pan Balang Tamak temple, Bale Pegat temple, Shrine in Subak Petian, and Karang Suung. There is a widening story then like Pan Balang Tamak myth according to the family of the landlord in Subak Petian area which connected with the family tree of Pasek Prateka and Pan Balang Tamak myth which connected with Rejang Buah dance and Baris Kumbang they arise as the result of the behavior of Pan Balang TamakÂ’s daughters.
TRADISI MABEBASAN SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BAHASA BALI Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1077

Abstract

Tradisi mebebasan merupakan cabang seni yang bersumber pada puisi Bahasa Jawa Kuna atau Bahasa Kawi. Bahasa Kawi sebagai bahasa pokok untuk dibaca dan ditembangkan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali, dan kadang-kadang diberi ulasan dengan Bahasa Bali atau Bahasa Indonesia jika situasi kontekstual menuntutunya. Terkait dengan hal di atas dapat disimpulkan bahwa Bahasa Kawi sebagai Bahasa Sumber, Bahasa Nusantara yang paling tua, dan sebagai bahasa sastra religius. Bahasa Bali berkedudukan sebagai sebagai bahasa daerah besar dan berfungsi sebagai bahasa pergaulan, bahasa sasaran untuk menerjemahkan Bahasa Kawi dan sebagai bahasa pengulas. Sedangkan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengulas sama seperti Bahasa Bali.

Page 10 of 16 | Total Record : 151