cover
Contact Name
Ahmad Sulaiman
Contact Email
sulaiman_ahmad@umm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cognicia@umm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Cognicia
ISSN : 2746 8976     EISSN : 26858428     DOI : 10.22219
The scope and the focus of the journal is conceptual proposal and empirical studies in many aspects of cognitive psychology (motivation, cognition and metacognition) with the application in various field such Industrial and Organizational Psychology, Developmental Psychology, Educational Psychology, Spiritual Psychology and Social Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 364 Documents
INTENSI MENIKAH KEMBALI PADA SINGLE MOTHER Naf’ah, Ana Nihlatun
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1819

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan intensi menikah kembali pada single mother. Subjek pada penelitian ini adalah single mother sebanyak 77 subjek dengan rentang usia 21 – 85 tahun. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik sampel purposif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang memakai skala intensi menikah kembali dengan model skala likert. Analisa datanya menggunakan perhitungan Z-score dengan maksud kategorisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan 58% (45 subjek) memiliki intensi menikah kembali rendah, dan 42% (32 subjek) memiliki intensi menikah kembali tinggi. Dari ketiga aspek pembentuk intensi, hasil penelitiannya adalah behavior belief (42%), normative belief (28%) serta behavior control (30%). Pada intensi menikah kembali rendah, behavior control (52%), normative belief (51%) dan behavior belief (50%). Sedangkan pada intensi menikah kembali tinggi, behavior belief (50%), normative belief (49%) dan behavior control (48%). Kata kunci: Intensi menikah kembali, single mother This study aimed at describing single mothers’ intention of getting remarried. The subjects of this study were 77 single mothers aged 21 up to 85 years old. Using purposive sampling technique, this quantitative-descriptive study employed Likert-type getting-remarried intention scale. The data were then analyzed by calculating the z-score for categorization. The results of the study showed that 58% of the subjects (45 people) had low intention of getting remarried, while 42% of them (32 people) had high intention. Furthermore, three aspects varied in triggering the intention, they were behavior belief (42%), normative belief (28%) and behavior control (30%). For the low intention of getting remarried, the behavior control was 52% of significance, the normative belief was 51%, and the behavior belief was 50%. Meanwhile, for the high intention, the behavior belief was 50%, the normative belief was 49%, and the behavior control was 48%. Keyword: Intention of getting remarried, single mother
INTERAKSI SOSIAL ANTARA REMAJA YANG TINGGAL BERSAMA ORANG TUA DAN REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN Lusiana, Iis
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1842

Abstract

Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa hidup dalam suatu lingkup masyarakat baik itu lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis yang di dalamnya saling mengadakan hubungan timbal balik antar individu satu dengan individu yang lainya, salah satu ciri bahwa kehidupan sosial itu ada yaitu dengan adanya interaksi, interaksi sosial menjadi faktor utama di dalam hubungan antar dua orang atau lebih yang saling mempengaruhi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan interaksi sosial remaja yang tinggal bersama orang tua dan remaja yang tinggal di panti asuhan. Subjek penelitian adalah remaja SMK 2 Muhammadiyah Malang yang berjumlah 100. penelitian ini menggunakan skala interaksi sosial. Teknik analisis data yang di gunakan adalah t-test dua sample. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan (t=2.293 sig 0,024<5%) antara remaja yang tinggal bersama orang tua dan remaja yang tinggal di panti asuhan. Hal ini mununjukkan bahwa tempat tinggal atau dengan siapa remaja tersebut tinggal akan mempengaruhi interaksi sosialnya Kata kunci: interaksi sosial, remaja, panti asuhan Human is social creature who commonly live in society whether physical or psychological environment which both inside has mutual relations between one individual with another. One character that social life existed is interaction. Social interaction becomes primary factor in relations between two people or more which influenced each other. The research aimed to find out social interaction difference in adolescents who live with parents and adolescents who live in orphan house. Research subjects are students in SMK 2 Muhammadiyah Vocational School of Malang consisted of 100 people. The research uses social interaction scale. Data analysis technique used are two samples t-test. Research result shows that there is significant difference (t=2.293 sig 0,024<5%) between adolescents who live with parents and adolescents who live in Orphan House. It shows that living place or whom with the adolescents live will influence their social interaction. Keyword: Social interaction, adolescent, orphan house
MINAT MEMBELI DI MEDIA ONLINE DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN Rubianti, Liana
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1845

Abstract

Dewasa ini, banyak masyarakat yang menggunakan situs jejaring sosial yang tidak hanya dijadikan sebagai sarana komunikasi tetapi juga dijadikan sebagai sarana untuk melakukan pembelian suatu produk. Minat masyarakat pun berbeda-beda dalam melakukan pembelian, salah satunya di media online yang mengundang banyak perhatian, khususnya para mahasiswa. Kepribadian dapat menjadi variabel yang berguna dalam menganalisis minat membeli seseorang dalam pemilihan suatu produk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji perbedaan minat membeli di media online ditinjau dari tipe kepribadian ekstrovert atau introvert. Metode pengambilan sampel menggunakan convenience sampling, dengan alat ukur berupa skala minat membeli dan skala Eysenck Personality Inventory (EPI). Jumlah subjek penelitian adalah 107 mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan minat membeli di media online ditinjau dari tipe kepribadian dibuktikan dengan hasil uji Independent Sample T Test diperoleh nilai F sebesar 0.881 dengan p value 0.02 lebih kecil dari 0.05. Bahwa tipe kepribadian ekstrovert lebih berminat dalam membeli di media online (30.27%) dibandingkan dengan tipe kepribadian introvert (28.04%).Kata kunci: Minat membeli, tipe kepribadianToday, many people who use social networking sites are not only used as a means of communication but also as a means to make a purchase of a product. Public interest was different in making a purchase, one of them in the online media is attracting more attention, especially the students. Personality variables may be useful in analyzing a person's interest in the selection of buying a product. The purpose of this research was to test the differences in interest in online media buying in the review of extrovert or introvert personality type. The sampling method using a convenience sampling, using a scales of buying interest and scale Eysenck&rsquo;s Personality Inventory (EPI). The number of subjects ware 107 students. The results showed that there are differences in interest in online media buying in terms of personality types evidenced with Independent Sample T Test results, obtained F value of 5,259 with a 0.02 p value less than 0.05. Extrovert personality types showing interest in buying at online media (30.27%) in comparison with the introvert personality types (28.04 %).Keyword: Interest in buying, personality types
RELIGIOUS COPING DENGAN STRESS PADA MAHASISWA Anggraini, Baiq Dwi Suci
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1846

Abstract

Mahasiswa merupakan masa dimana individu dianggap mampu oleh masyarakat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Permasalahan tersebut akan menimbulkan konflik dengan dirinya maupun terhadap orang lain di sekitarnya. Konflik dan permasalahan yang beragam tersebut menyebabkan munculnya situasi stress apabila individu tidak mampu menghadapinya. Maka dibutuhkan kemampuan strategi dalam memahami dan mengatasi sumber sress yang efektif agar individu lebih mampu memaknai secara positif ketika menghadapi kondisi stress yang dialaminya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara religious coping dengan stress pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa skala, yaitu skala religious coping dan skala tingkat stress dengan model skala likert. Jumlah subjek sebanyak 380 mahasiswa laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara religious coping dengan tingkat stress dibuktikan dengan hasil perhitungan korelasi product moment. Semakin tinggi tingkat religious coping positif maka akan semakin rendah tingkat stress pada mahasiswa (r = 0,295; p = 0,000; p < 0,01).Kata kunci: Religious coping, stres, mahasiswaCollege students are individual who considered by society that able to solve many problems. The problems will cause internal or and external conflicts. The conflicts and problems will cause stressful event occur if they can not cope it. Therefore effective strategy coping is needed to understand and cope stressor in order to positively stand stress event. The purpose of this study was to determine the relationship of religious coping with stress in college students. This study uses a scale methods, religious coping scale and stress levels scale to the likert scale. The number of subjects as much as 380 college students which is consist of male and female. The results showed that there is a correlation between the religious coping to the level of stress demonstrated by the calculation of the product moment correlation. The higher of positive religious coping then the stress level is lower (r = 0,295; p = 0,000; P < 0,01).Keyword: Religious coping, stress, student college
KEMAMPUAN ADAPTASI DENGAN KEPUASAN KERJA PADA KARYAWAN Handayani, Nurlia
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1847

Abstract

Kepuasan kerja merupakan perasaan seseorang yang merupakanrepresentatif dari sikap terhadap pekerjaannya, dan sangat berpengaruhterhadap kinerja seorang karyawan. Penelitian ini dilakukan untuk melihathubungan kemampuan adaptasi dengan kepuasan kerja. Penelitian inimenggunakan populasi karyawan swasta, BUMN, dan PNS (kecuali tenagapengajar dan medis), dan mengambil 62 subjek dengan teknik simplerandom sampling. Teknik pengambilan data menggunakan 2 kuisionerdengan model skala Likert, yaitu MSQ dan kuisioner kemampuan adaptasiyang disusun berdasarkan indikator penelitian Adaptif Performance. Hasilpenelitian menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antarakemampuan adaptasi dengan kepuasan kerja. Hal tersebut dilihat dari nilai r= 0,255 dengan p < 0,05.Kata kunci: Kepuasan kerja, kemampuan adaptasi, karyawanJob satisfaction is a representative feeling that shows someone&rsquo;s attitudetowards their job and accordingly affects their performance greatly. Thisresearch aimed at investigating correlation between adaptability and jobsatisfaction. The subject were 62 people including private employees,BUMN employees, and vivil servants (teachers and medical-relatedemployees excluded) that) that were chosen using purposive samplingtechnique. The data were taken using two questionnaires of Likert Scale,MSQ and adaptability questionnaire which was designed based on researchindicator of Adaptive Performance. The findings revealed a significantpositive correlation between adaptability and job satisfaction. It wasconcluded from the value of r=0,255 with p<0,05.Keyword: Job satisfaction, adaptability, employees
RESILIENSI REMAJA YANG MEMILIKI ORANG TUA BERCERAI Karina, Canggih
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1848

Abstract

Perceraian adalah cerai hidup atau perpisahan hidup antara pasangan suami istri sebagai akibat dari kegagalan mereka menjalankan perannya masing-masing. Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap goncangan yang penuh konflik dan perubahan suasana hati apalagi jika permasalahan yang dihadapi adalah mengenai perceraian orang tuanya. Resiliensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk bertahan bahkan menjadi lebih kuat ketika menghadapi tekanan hidup yang sulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat resiliensi remaja yang memiliki orang tua yang bercerai. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan menggunakan the 14-Item Resilience Scala (RS-14) yang disusun oleh Wagnild & Young (2009) dengan metode skala likert yang memiliki rentang indeks validitas 0,371-0,704 dengan tingkat reliabilitas cronbach&rsquo;s alpha 0,878. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dan didapatkan jumlah subjek sebanyak 72 orang remaja dengan rentang usia 14-22 tahun yang memiliki orang tua yang bercerai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kemampuan resiliensi pada remaja yang memiliki orang tua bercerai adalah rata-rata bawah (30,56%).Kata kunci: Resiliensi, remaja, perceraian orang tuaDivorce is a separation event in living life between husband and wife as a result of their failure to carry out their respective roles as parent. Adolescence is a critical stage that is very vulnerable against jolts of conflict and mood changes, moreover if the problem is about his / her parent&rsquo;s divorce. Resilience is an ability to overcome even become stronger in facing difficulties in life stressors. The purpose of this study was to determine resilience level of teens who have parents who are divorced . This resenarch uses descriptive quantitative method using the 14 - Item Resilience Scale (RS - 14) with a likert method that has validity index range 0,371-0,704 and has cronbach alpha reliability 0,878. The sampling technique used was purposive sampling and found the number of subjects were 72 adolescents, aged 14-22 years who have divorced parents. The results showed that the ability of resilience in adolescents with divorced parents are in below average level (30.56 %).Keyword: Resilience, adolescent, parental divorce
SELF-CONTROL REMAJA YANG MENGIKUTI KARATE DENGAN YANG TIDAK MENGIKUTI KARATE Puspahayati, Queen Jales
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1849

Abstract

Seorang remaja memiliki tugas perkembangan yang harus dikuasai, salah satunya adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok darinya dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan harapan sosial. Olahraga karate tidak hanya mengajarkan pukulan ataupun tangkisan, tetapi juga mengajarkan untuk dapat mengontrol diri, dapat menerima diri sendiri dan orang lain dengan apa adanya, harus dapat mempertinggi prestasi-prestasi yang sudah ada, mampu bertanggung jawabkan apa yang sudah dilakukannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan self-control (yang diukur dengan self-control scale Goldfried) antara remaja yang mengikuti karate dengan yang tidak mengikuti karate. Pengukuran ini dilakukan pada 300 sampel yang terdiri dari 150 remaja karate dan 150 remaja yang tidak karate dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil dari analisis data, diperoleh nilai t sebesar 11.647 dengan nilai signifikan (p) sebesar 0,000 < 0,01. Maka hal ini dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan kontrol diri yang sangat signifikan (p= 0,000 < 0,01) yang dapat ditinjau dari aktivitas remaja, dimana remaja yang mengikuti karate memiliki kontrol diri yang lebih baik dengan nilai rata-rata sebesar 162.06 dibandingkan dengan remaja yang tidak mengikuti karate dengan nilai rata-rata sebesar 143.17. Kata kunci: Kontrol diri, karate, remaja An adolescent has a developed task that able, should be mastered by adolescent is learning what group expects to her or him and then he/she want to figure her/his behavior so that it is suitable with social expect. Karate sport can&rsquo;t teach strike or resistance, But also teach to get self control, can be accepted self and another person with usual, must be get high achievement , be able responsibility has to do it. The aim of research is to find out the different self control (measured by self-control scale Goldfried) between adolescent joining the karate or not. The measurement of this present study was done with 300 sample consists of 150 karate adolescent, and 150 un-karate adolescent by using purposive sampling technique. Therefore, the result of the data analysis can be obtained ttest = 11.647 with significant score (p) = 0,000 < 0,01. It can be concluded that there was significance self-control (p= 0,000 < 0,01) that can be seen from adolescent activity, where adolescent karate have well-self control with average 162.06 rather than un-karate adolescent with average 143.17. Keyword: Self-control, adolescent, karate
KEBERSYUKURAN DENGAN JOB INSECURITY PADA KARYAWAN Ernawati, Linda
Cognicia Vol. 2 No. 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i2.2009

Abstract

Perubahan dalam dunia ekonomi dan bisnis seringkali terjadi. Diantara perubahan tersebut adalah restrukturisasi, merger, dan downsizing yang dijumpai pada beberapa perusahaan. Akibat dari perubahan yang terjadi adalah job insecurity pada karyawan. Bagaimana karyawan mengalami job insecurity berkaitan dengan faktor personal atau disposisional. Kebersyukuran merupakan salah satu faktor disposisional yang dapat mengurangi terjadinya job insecurity pada karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubugan antara kebersyukuran dengan job insecurity pada karyawan. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Sampel dalam penelitian ini adalah 214 karyawan dari tiga perusahaan yang diambil dengan teknik sampel insidental. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala GRAT dan JIS-I, selanjutnya dianalisa dengan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan negatif signifikan antara kebersyukuran dengan job insecurity pada karyawan (r = -0,168, p = 0,014 < 0,05) hal ini berarti bahwa semakin tinggi kebersyukuran maka semakin rendah job insecurity pada karyawan. Kebersyukuranmemberisumbangan efektif sebesar 2,82% terhadap job insecurity. Kata kunci: Kebersyukuran, job insecuritySome changes in the economic and business world happen quite often. These changes are restructuring, mergers, and downsizing which can be found in some companies. The consequence of these changes is job insecurity felt by employees. Employees&rsquo; job insecurity can be caused by personal or dispositional factors. Gratitude is one of dispositional factors that can reduce the occurrence of employees&rsquo;job insecurity. This research aimed to find the correlation of gratitude and job insecurity. This research was acorrelational research and the subjects were 214 employees of three companies. They were recruited by incidental sampling technique. Instruments used to gather the data were GRAT and JIS-I scales. The data analysis method was the product moment correlation method. The result indicated there is significant negative correlationbetween gratitude with job insecurity among the employees (r = -0,168, p= 0,014 < 0,05.). This means that the higher the level of gratitude then the lower the level of job insecurity among them.Keywords: Gratitude, job insecurity
ORIENTASI KELEKATAN DAN REAKSI DUKA CITA AKIBAT KEMATIAN HEWAN PELIHARAAN Fitriyana, Risa Nur
Cognicia Vol. 2 No. 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i2.2011

Abstract

Memelihara hewan merupakan aktivitas umum yang dilakukan oleh manusia. Peningkatan jumlah kepemilikan hewan peliharaan berdampak pada peningkatan jumlah pemilik hewan peliharaan yang mengalami kehilangan hewan peliharaan akibat kematian. Kematian hewan peliharaan keberadaannya dinilai dapat memenuhi fungsi dasar kelekatandan berperan sebagai figur kelekatan akan menimbulkan reaksi duka cita bagi pemiliknya. Penelitian ini menguji pengaruh orientasi kelekatan cemasdan orientasi kelekatan menghindarterhadap reaksi duka cita akibat kematian hewan peliharaan. Subjek penelitian yang hewan peliharaannya mati dalam 2 tahun terakhir (N = 159) mengisi skala Pet Attachment Questionnaire dan Core Bereavement Items. Orientasi kelekatan cemasdan orientasi kelekatan menghindarmemiliki pengaruh signifikan terhadap reaksi duka cita akibat kematian hewan peliharaan (F = 22,234, p < 0,001), akan tetapi kontribusi yang diberikan kecil (adj. R2 = 0,213). Sebesar 21,3% variasi reaksi duka cita dipengaruhi oleh orientasi kelekatan cemasdan orientasi kelekatan menghindar.Orientasi kelekatan cemas berpengaruh lebih besar pada reaksi duka cita akibat kematian hewan peliharaan.Kata kunci: Orientasi kelekatan cemas, orientasi kelekatan menghindar, reaksi duka citaRaising animals is part of daily activities. More and more people own a pet. And as the pets died, the owner might feel remorse and grief. The death of a pet is considered to meet the basic functions of attachment as the pet served as an attachment figure.This research examined the impact of pet anxiety attachment and pet avoidant attachment toward grief over the loss of a pet. Participants whose companion animal died within past 2 years (N = 159) completed the Pet Attachment Questionnaire and Core Bereavement Items. Both pet anxiety attachment and pet avoidant attachment were found to impacted subjectss&rsquo; grief. The result&rsquo;s contribution was statistically significant (F = 22,234, p < 0,001) but relatively low (adj. R2 = 0,213). Results indicated that 21,3% of the variance in grief can be accounted for the linear combination of pet anxiety attachment and pet avoidant attachment. Furthermore, the pet anxiety attachment&rsquo;s contribution toward grief were higher. Keywords : Pet anxiety attachment, pet avoidant attachment, grief
EFIKASI DIRI TERHADAP JOB INSECURITY PADA KARYAWAN KONTRAK Amalia, Rizki
Cognicia Vol. 2 No. 2 (2014): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i2.2012

Abstract

Saat ini dalam bidang industri dan organisasi sekarang ini sistem karyawan kontrak sering digunakan dibanyak perusahaan di Indonesia. Fenomena karyawan kontrak ini dapat menyebabkan munculnya ketidakamanan kerja, ketidakamanan dalam hal ini yaitu ancaman akan kehilangan pekerjaan. Seorang karyawan yang merasa khawatir akan kehilangan pekerjaannya berhubungan dengan efikasi diri yang dimiliki oleh seorang karyawan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan efikasi diri dengan job insecurity pada karyawan kontrak. Teknik pengambilan data menggunakan teknik purposive sampling dimana pengambilan subjek berdasarkan ciri-ciri atau karakteristik yang telah ditentukan. Jumlah subjek sebanyak 40 orang karyawan kontrak disalah satu perusahaan. Hasil analisis data diperoleh nilai r = -0,564 p = 0,000 (sig<0,01) artinya penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan job insecurity pada karyawan kontrak. Efikasi diri dengan job insecurity memiliki sumbangan yang efektif sebesar 31,8% dan sisanya 68,2% dipengaruhi oleh faktor lain. Katakunci: Efikasi diri, job insecurity, karyawan kontrak In the industrial and organizational systems outsourcing currently used in many flare in Indonesian companies. The phenomenon of outsourcing to cause an job insecurity, insecurity in this case the threat of job loss. An employee is worried about losing his job related to self-efficacy which is owned an employee. The purpose of this research was to determine the correlation self-efficacy with job insecurity in outsourcing employee. The data analyzed used purposive sampling technique in which taking based on the characteristics of the subject have been determined. Number of subjects as much as 40 outsourcing employees at one company. The results of a data analyzed values obtained r = -0,564 p= 0,000 (sig<0,01) it means this research which was very significant between self-efficacy with job insecurity. Self efficacy in term job insecurity equal to 31,8% and 68,2% had been influenced by other factors. Keywords: Self-efficacy, job insecurity, outsourcing employee