cover
Contact Name
Ahmad Sulaiman
Contact Email
sulaiman_ahmad@umm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
cognicia@umm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Cognicia
ISSN : 2746 8976     EISSN : 26858428     DOI : 10.22219
The scope and the focus of the journal is conceptual proposal and empirical studies in many aspects of cognitive psychology (motivation, cognition and metacognition) with the application in various field such Industrial and Organizational Psychology, Developmental Psychology, Educational Psychology, Spiritual Psychology and Social Psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 364 Documents
SELF DISCLOSURE TERHADAP PASANGAN MELALUI MEDIA FACEBOOK DI TINJAU DARI JENIS KELAMIN Nugroho, Ditya Ardi
Cognicia Vol. 1 No. 2 (2013): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i2.1660

Abstract

Self disclosure merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab kepada orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan self disclosure terhadap pasangan melalui media facebook di tinjau dari jenis kelamin. Desain yang digunakan adalah desain deskriptif kuantitatif dan menggunakan skala self disclosure. Jumlah subyek 60 orang, usia 16 - 18 tahun, kelas X. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan self disclosure melalui media facebook ditinjau dari jenis kelamin. Self disclosure pada perempuan lebih tinggi daripada self disclosure laki - laki. Perbedaan dari kedua kelompok sangat signifikan.Kata kunci: Self disclosure, jenis kelamin, facebook
STRES PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN Kristanti, Kristanti
Cognicia Vol. 1 No. 2 (2013): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i2.1661

Abstract

Stres merupakan suatu respon yang tidak menyenangkan, suatu keadaan dan tuntutan yang melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya dan dapat berpengaruh pada kondisi mental dan psikis seseorang. Pada sebagian besar remaja hambatan-hambatan dalam kehidupan mereka akan sangat mengganggu kesehatan fisik dan emosi mereka, menghancurkan motivasi dan kemampuan menuju sukses disekolah dan merusak hubungan pribadi mereka dan banyak dari remaja yang mencapai masa dewasa dengan berbagai permasalahan yang disebabkan kurangnya perhatian, kasih sayang dan bimbingan dari orang tua. Stres pada remaja sama halnya yang terjadi pada orang dewasa, stres bisa berefek negatif pada tubuh remaja hanya saja perbedaannya ada pada sumbernya dan bagaimana mereka meresponnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stres pada remaja yang tinggal dipanti asuhan Nurul Abyadh dengan usia 15-18 tahun dengan jumlah subyek (N = 50). Metode Pengumpulan data menggunakan skala stres remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stres pada remaja yang tinggal dipanti asuhan Nurul Abyadh tergolong stres sedang tetapi tidak tinggi. Hal ini membuktikan bahwa subyek cukup mampu mengendalikan stresnya.Kata kunci: Stres, remaja, panti asuhan
SUBJECTIVE WELL BEING DITINJAU DARI FAKTOR DEMOGRAFI (STATUS PERNIKAHAN, JENIS KELAMIN, PENDAPATAN) Ningsih, Didin Agustin
Cognicia Vol. 1 No. 2 (2013): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i2.1662

Abstract

Subjective Well Being (SWB) merupakan penilaian umum atas emosi positif dan negatif (afektif) dan kepuasan hidup (kognitif) seseorang terhadap keseluruhan kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan SWB ditinjau dari faktor demografi (status pernikahan, jenis kelamin dan pendapatan). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan dilaksanakan kota Malang. Sampel penelitian ini adalah dewasa muda usia 18-40 tahun telah bekerja baik yang sudah menikah atau belum menikah dengan jumlah 401 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik sampling insidental (non probability sampling). Metode pengumpulan data menggunakan skala Likert, yaitu skala Subjective Well Being. Metode analisa data yang digunakan adalah Anava faktorial 3 jalur untuk mengetahui perbedaan SWB ditinjau dari faktor demografi jenis kelamin, status pernikahan dan tingkat pendapatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan SWB apabila ditinjau dari faktor demografi status pernikahan, jenis kelamin dan tingkat pendapatan.Kata kunci: Subjective well being, status pernikahan, jenis kelamin, pendapatan
SUMBER-SUMBER RESILIENSI ORANG TUA REMAJAYANG MENGALAMI KEHAMILAN PRANIKAH Ratnasari, Ayu Devi
Cognicia Vol. 1 No. 2 (2013): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i2.1663

Abstract

Persoalan hamil pranikah berdampak luas bagi remaja dan orang tua yang mengalaminya. Sebagai orang tua yang di hadapkan permasalahan seperti ini di butuhkan suatu pemikiran yang bijaksana, karena orang tua juga di tuntut bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan jalan keluar yang terbaik terhadap masalah yang di hadapinya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran resiliensi, sumber-sumber resiliensi serta karakteristik individu yang resilien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jumlah subjek 2 pasang suami istri. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan seorang yang resilien mampu mengembangkan ketiga sumber-sumber resiliensi seperti individu yang resilien memiliki dukungan eksternal (I Have), kekuatan pribadi individu (I Am), dan yang terakhir adalah kemampuan interpersonal yang dimiliki individu (I Can). Laki-laki menunjukkan perilaku yang didasari oleh rasionalnya sedangkan wanita didasari oleh emosional. Sehingga laki-laki mampu mengatasi masalahnya sebelum mendapatkan bantuan orang lain sedangkan wanita mampu mengatasi masalahnya setelah mendapatkan bantuan dari orang lain.Kata kunci: Resiliensi, orang tua, kehamilan pranikah
TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI MENOPAUSE Fitriya Sari, Liza Mega
Cognicia Vol. 1 No. 2 (2013): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i2.1664

Abstract

Religiusitas merupakan suatu keyakinan yang diyakini oleh seseorang dan dianggap akan membawa seseorang itu kepada jalan Tuhan dan menunjukan mereka kepada kebaikan. Kecemasan adalah suatu hal yang dialami oleh seseorang dikarenakan perasaan tertekan atau terpojok akan suatu hal yang mereka takuti dampaknya pada kehidupan seseorang tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat religiusitas dengan kecemasan menopause pada wanita. Desain yang digunakan adalah desain non-eksperimen kuantitatif dengan menggunakan tekhnik acak pada subjek penelitian. Jumlah subjek 50 orang ibu-ibu yang berusia antara 38-54 tahun. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan antara tingkat religiusitas terhadap kecemasan menghadapi menopause. Ketika tingkat religiusitas seseorang itu tinggi maka akan rendah tingkat kecemasannya dalam menghadapi menopause, tapi ketika tingkat religiusitas seseorang rendah maka akan tinggi kecemasannya dalam menghadapi menopause.Kata kunci: Religiusitas, kecemasan, menopause
MOTIVASI BERJILBAB PADA GAYA HIDUP ANAK REMAJA ISLAMI Sudjiwanati, Sudjiwanati
Cognicia Vol. 1 No. 2 (2013): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v1i2.1674

Abstract

Fenomena berjilbab pada anak remaja merupakan suatu model pakaian dan kewajiban kaum muslimah,.untuk menutupi aurat. Kewajiban berjilbab pada anak remaja dapat memotivasi dalam berpartisipasi sosial menjadi wanita Islami. Dibuktikan dengan hasil penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi memakai jilbab terhadap gaya hidup anak remaja dengan metode analisis data menggunakan analisis faktor dan analisis regresi. Hasil analisis data bahwa variabeb motivasi memakai jilbab thitung sebesar 6.006 dengan signifikansi t sebesar 0,000, karena thitung lebih besar ttabel (6.006>2.048) atau signifikansi t lebih kecil dari 5% (0,000<0,05), maka disimpulkan bahwa motivasi memakai jilbab berpengaruh signifikan terhadap variabel Gaya Hidup anak remajaKata kunci: Motivasi, gaya hidup, remaja islami The phenomenon of veiling in adolescents is an underwear model and obligations of the Muslim,. To cover nakedness. Liabilities covered in adolescents can motivate the women's social participation became Islamic. Evidenced by the results of the study in order to determine the effect of motivation to wear the veil against adolescent lifestyle to the method of data analysis using factor analysis and regression analysis. The results of the data analysis that variabeb motivation for wearing the hijab thitung 6006 with a significance of 0.000 t, for greater thitung ttable (6006> 2048) or the significance of t less than 5% (0.000 <0.05), it was concluded that wearing the veil affect motivation significant variables Lifestyle teenager. Keyword: Motivation, lifestyle, teens Islamic Fenomena berjilbab
GAYA CINTA PADA REMAJA AKHIR Fitriani, Ria
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1815

Abstract

Remaja akhir yang berusia 17-22 tahun ditandai dengan adanya kematangan atau kesiapan menuju tahap kedewasaan dan lebih fokus pada masa depan baik dalam bidang pendidikan, pekerjaan, seksual, dan individu. Kesiapan remaja akhir dalam menjalani hubungan juga mulai terlihat lebih serius dan ini berhubungan dengan gaya cinta yang digunakan dalam mencari landasan hidup di suatu hubungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kecenderungan gaya cinta yang ada pada remaja akhir. Sedangkan penelitian ini menggunakan metode survey kuantitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah incidental sampling (non probability sampling). Metode pengumpulan datanya menggunakan skala LAS (Love Attitude Scale) dengan model skala Likert. Kemudian analisanya menggunakan Analisa deskriptif berupa prosentase dengan analisa Chi-Square. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa seseorang atau individu khususnya remaja, mempunyai enam gaya cinta tersebut, namun kebanyakan ada lebih dari dua atau tiga gaya cinta yang mendominasi dalam dirinya. Kata kunci: Gaya cinta, remaja akhir Late teens aged 17-22 years marked by a maturity or readiness towards the stage of maturity and focus more on the future, both in the areas of education, employment, sexual, and individuals. Readiness late teens to live a relationship also began to look more serious and is associated with love styles used in the search for life on the basis of a relationship. The purpose of this study was to determine the trend of love styles that exist in the late teens. While this study used a descriptive quantitative survey methods. The variable in this study is to use a variable that is the style of loveThe sampling technique used is incidental sampling (non-probability sampling). Methods of data collection using the LAS scale (Love Attitude Scale) with Likert scale models. Later analysis using descriptive analysis in the form of percentages by Chi-Square analysis. From these results it can be concluded that the individual or individuals, especially teenagers, have six styles of love, but mostly there are more than two or three styles that dominate the love in him. Keyword: Love style, late teens
PENINGKATAN RELASI SOSIAL MELALUI SOCIAL SKILL THERAPY PADA PENDERITA SCHIZOPHRENIA KATATONIK Hidayati, Diana Savitri
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1816

Abstract

Angka penderita Schizophrenia di Indonesia pada 25 tahun yang lalu diperkirakan 1/1000 penduduk dengan proyeksi 25 tahun mendatang mencapai 3/1000 penduduk. Seorang penderita schizophrenia harus didorong untuk bergaul dengan orang lain dengan maksud agar ia tidak mengasingkan diri lagi, karena bila menarik diri penderita dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Social skills therapy berguna untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis dan komunikasi interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek dari penerapan Social skills therapy kepada penderita Schizophrenia katatonik terutama terhadap relasi sosialnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian berupa studi kasus. Hasil pelaksanaan social skills therapy adalah subyek penelitian mampu menunjukkan respon berupa uluran tangan untuk berjabat tangan dan subyek mampu mengadakan interaksi timbal balik berupa senyuman ketika diberi pertanyaan. Sessi terapi yang sempat terhenti menyebabkan perubahan yang telah terbentuk pada subyek kembali seperti semula saat terapi belum dilaksanakan. Hasil dari intervensi berupa social skills therapy akan lebih baik bila sessi terapi dilaksanakan secara berkesinambungan dan pihak keluarga juga ikut berperan aktif dalam pelaksanaan terapi. Kata kunci: Relasi sosial, social skill therapy, penderita schizophrenia katatonik. Number of people with Schizophrenia in Indonesia in the last 25 years is estimated to 1/1000 with a projected population of 25 years reaches 3/1000 population. A person with schizophrenia should be encouraged to get along with others with the intention that he does not alienate himself, because when he pulled away he can form bad habits. Social skills therapy is useful for improving social skills , ability to meet yourself, practical exercises and interpersonal communication. This study aimed to examine the effects of the adoption of the Social skills therapy to patients with catatonic schizophrenia , especially the social relations . This study uses a case study research . The results of the implementation of social skills therapy are able to study subjects showed a response in the form of a helping hand to shake hands and the subjects were able to hold a reciprocal interaction in the form of a smile when asked a question . Therapy session was stopped cause changes that have formed on the subject back to normal when therapy has not been implemented . Results of a social skills intervention therapy would be better if the therapy sessions conducted continuously and the family also play an active role in the implementation of the therapy . Keyword: Job satisfaction, adaptability, employees
INTENSI PERILAKU PROSOSIAL ANAK DITINJAU DARI GAYA PENGASUHAN Utomo, Dailinar
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1817

Abstract

Perilaku anak dibentuk melalui gaya pengasuhan orang tua. Adanya penelitian yang menyatakan bahwa perilaku yang diharapakan oleh orang tua pada anaknya adalah perilaku prososial menyebabkan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensi perilaku prososial anak dari setiap gaya pengasuhan. Penelitian ini bersifat kuantitiatif dengan menggunakan forced choice scale. Subyek penelitian adalah anak berusia 10-12 tahun atau siswa kelas 5 dan 6 sekolah dasar berjumlah 60 anak untuk setiap gaya pengasuhan, yaitu pengasuhan otoriter, pengasuhan otoritatif, pengasuhan permisif indulgen dan pengasuhan permisif indeferen. Penelitian ini analisis dengan One Way Anova untuk menentukan tingkat perbedaan intensi perilaku prososial anak dari setiap gaya pengasuhan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh data bahwa pengasuhan otoritatif mempunyai nilai mean sebesar 68,82, pengasuhan permisif indeferen mempunyai nilai mean sebesar 64,48, pengasuhan permisif indulgen mempunyai nilai mean 63,57 dan pengasuhan otoriter mempunyai nilai mean 63,57. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pengasuhan otoritatif mempunyai nilai mean prososial tertinggi sedangkan pengasuhan otoriter mempunyai nilai mean prososial terendah, dengan perbedaan mean 5,25 dan dengan taraf signifikansi sebesar 0,00. Kata kunci: Intensi perilaku prososial anak, gaya pengasuhan The behavior of children created through parenting style. The study suggesting that the behavior expected by the parents on the child's behavior prososial cause this research aims to know the difference in the behavior of children prososial intention every parenting style. This reasearch is using quantitative methode with use forced choice scale. Research subjects are children aged 10-12 years or students in 5th grade and 6th grade of elementary school totaled 60 children for every parenting style, which is the authoritarian parenting, authoritative parenting, permissive indulgen parenting and permissive indeferen parenting. This research analysis with one way anova to determine degree of difference child's intention behavior prososial every parenting style. Based on research conducted obtained data that authoritative parenting style have mean value 68.82, permissive indeferen parenting have mean valaue 64.48, permissive indulgen parenting have mean 63.57, and authoritarian parenting have mean 63.57. From this research it is known that authoritative parenting can have values mean the highest prososial While the authoritarian parenting style has a value of mean lowest prososial, With corresponding differences in the mean 5.25 and with 0.00 degree of significance Keyword: Intention of prosocial behaviour, parenting style
KONTROL DIRI DAN PERILAKU KONSUMTIF PADA SISWA SMA (DITINJAU DARI LOKASI SEKOLAH) Shohibullana, Imam Hoyri
Cognicia Vol. 2 No. 1 (2014): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/cognicia.v2i1.1818

Abstract

Setiap orang memiliki kebutuhan hidup yang berbeda-beda. Sehingga dari kebutuhan hidup yang berbeda itulah, setiap orangpun berbeda dalam merespon untuk memenuhi kebutuhan tersebut. ada yang memenuhi kebutuhan tersebut secara wajar, dan tidak sedikit dengan cara berlebihan. Dengan cara belanja berlebihan itulah yang memunculkan perilaku konsumtif. Ditambah dengan maraknya Mall dan Departement Store yang ada di sekitar kita saat ini, membuat seseorang mudah mencari dan membeli barang yang mereka inginkan. Tentu perlu adanya kontrol diri dalam individu untuk mengurangi perilaku konsumtif tersebut.Tujuan dari penelitian ini sendiri adalah mengetahui perbedaan kontrol diri dan perilaku konsumtif pada siswa SMA yang bersekolah di dekat Mall dan jauh dari mall. Penelitian ini menggunakan metode non-tes yaitu skala Perilaku konsumtif dan skala kontrol diri dengan model skala likert. Sampel di ambil dari dua sekolah dan masing-masing sekolah terdapat 153 subyek penelitian. Hasil penenelitian menunjukkan bahwa siswa yang bersekolah berdekatan dengan mall memiliki tingkat perilaku konsumtif yang lebih tinggi di bandingkan siswa yang bersekolah jauh dengan mall (F=4.616; Sig=0.032; Sig<0.05). Sedangkan dalam kontrol diri sama-sama memiliki tingkat kontrol diri yang tinggi (F=0.003; Sig=0.959;Sig>0.05). Kata kunci: Perilaku konsumtif, kontrol diri, siswa SMA. Every person has a different need for a life. So from that different need of life, every single person is different in response to meet those needs. there is a reasonable basis to meet those needs, and not a little with excessive way. With the way that led to excessive spending consumer behavior. Coupled with the rampant Mall and Department Store are all around us today, makes someone easy to find and buy the things they want. The purpose of this research was to find out the difference self-control and consumer behavior in high school students who attend school near the Mall and away from the mall. Surely the need for self-control in the individual to reduce the consumptive behavior. This research uses a non-test methode that is the scale of consumer behavior and self-control scale with a Likert scale models. Samples taken from two schools and each school there are 153 research subjects. Results of the research showed that students who attend school close to the mall has a level of consumer behavior is higher compared with the students who attend school away from the mall (F=4.616; Sig=0.032; Sig<0.05). While in control of themselves have high levels of self-control is equally high (F=0.003; Sig=0.959;Sig>0.05). Keyword: Consumer behavior, self-control, high school students.