cover
Contact Name
Fatmala Sari Okaviani
Contact Email
fatmala.oktaviani@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
gentabahterakepri@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Genta Bahtera : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan
ISSN : 25032135     EISSN : 26561085     DOI : -
Core Subject : Education,
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan is a journal of language studies published by Language Agency of Kepulauan Riau (Kantor Bahasa Kepulauan Riau). It is a research journal which publishes various research reports, literature studies, and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics, and other scientific fields related to language studies.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2018): Juni" : 9 Documents clear
KAIDAH MORFOFONEMIK BAHASA SUMBAWA DIALEK SUMBAWA BESAR Rahmad Hidayat
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1133.764 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.42

Abstract

This study aimed to describe morphophonemic rules of Sumbawa language of Sumbawa Besar dialect. The description of the morphophonemic process in this study focuses on the morphophonemic rules based on the entire group of affixed morphemes found in the Sumbawa language of Sumbawa Besar dialect. The data was collected by using Introspektif method and Catat technique. Analyzing data using the Hubung-Banding Menyamakan and Hubung-Banding Membedakan techniques of the Padan Intralingual methods. The presentation of data analysis results using Formal and Informal methods. The affixed morpheme in BSDSB consists of prefixes {ba-}, {raN-}, {ka-}, {kaN-}, {pa-}, {paN-}, {sa-}, {saN-}, and {N-} and infix {-N-}. Each affixed morpheme has several concrete forms of morph as it joins the basic form by affixation. Morpheme {ba-} has four concrete forms, namely {ba-}, {bar-}, {bal-}, and {ra-}. Morpheme {raN-} has four concrete forms, they are {ran-}, {ram-}, {raŋ-}, and {rañ-}. Morpheme {ka-} has only a concrete form of {ka-}. Morpheme {kaN-} has seven concrete forms, namely {ka-}, {kaŋ-}, {kam-}, {kan-}, {kañ-}, {kaŋə-}, and {gan-}. Morpheme {saN-} has five concrete forms, they are {sa-}, {sam-}, {san-}, {saŋ-}, and {saŋə-}. Morpheme {sa-} has only a concrete form of {s-}. Morpheme {pa-} has only a concrete form of {pa-}. Morpheme {paN-} has eight concrete forms of morph {pa-}, {pam-}, {pan-}, {pañ-}, {paŋ-}, {paŋə-}, {par-}, and {pal-}. Morpheme {N-} has six concrete forms of morph {ŋ-}, {ñ-}, {m-}, {n-}, {ma}, and {mar-}. Infix morpheme {-N-} has two concrete forms of morph {-n-} and {-m-}. AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kaidah morfofonemik bahasa Sumbawa dialek Sumbawa Besar. Uraian proses morfofonemik dalam penelitian ini berfokus pada kaidah morfofonemik berdasarkan seluruh kelompok morfem afiks yang terdapat dalam bahasa Sumbawa dialek Sumbawa Besar. Pengumpulan data dilakukan dengan metode instrospektif dan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan teknik hubung-banding menyamakan dan hubung-banding membedakan dari metode padan intralingual. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode formal dan informal. Morfem afiks dalam BSDSB terdiri atas prefiks yakni {ba-}, {raN-}, {ka-}, {kaN-}, {pa-}, {paN-}, {sa-}, {saN-}, dan {N-} serta infiks {-N-}. Tiap-tiap morfem afiks memiliki beberapa wujud konkret berupa morf ketika bergabung dengan bentuk dasar melalui afiksasi. Morfem {ba-} memiliki empat wujud konkret, yaitu {ba-}, {bar-}, {bal-}, dan {ra-}. Morfem {raN-} memiliki empat wujud konkret berupa {ran-}, {ram-}, {raŋ-}, dan {rañ-}. Morfem {ka-} hanya memiliki satu wujud konket, yaitu {ka-}. Morfem {kaN-} memiliki tujuh wujud konkret, yaitu {ka-}, {kaŋ-}, {kam-}, {kan-}, {kañ-}, {kaŋə-}, dan {gan-}. Morfem {saN-} memiliki lima wujud konkret berupa {sa-}, {sam-}, {san-}, {saŋ-}, dan {saŋə-}. Morfem {sa-} hanya memiliki satu wujud konkret yakni {sa-}. Morfem {pa-} hanya memiliki wujud konkret berupa {pa-}. Morfem {paN-} memiliki delapan wujud konkret berupa {pa-}, {pam-}, {pan-}, {pañ-}, {paŋ-}, {paŋə-}, {par-}, dan {pal-}. Morfem {N-} memiliki enam wujud konkret berupa morf {ŋ-}, {ñ-}, {m-}, {n-}, {ma}, dan {mar-}. Morfem infiks {-N-} memiliki dua wujud konkret berupa {-n-} dan {-m-}.
VOKAL BAHASA BUDONG-BUDONG Mardi Nugroho
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2084.075 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.49

Abstract

The Budong-Budong language is an almost extinct language. Number of speakers of Budong-Budong language are 70 people. Therefore, this language should be prioritized for conservation. The efforts included in the conservation programe are the preparation of phonological, morphological, syntactic, and literary or orthographic systems. The problem of the research is to know any vowels are available in Budong-Budong language. The purpose of this research is to find vowels contained in Budong-Budong language and their allophones that are expected to be useful for any preparation of its phonology system. The method used in this research is descriptive. Data collection is done by interview and recording. Data processing is done by the method of matching (referent and opponent referral tool) and the method of distribution (with the technique of minimal pair opposition). This study refers to the theory of Verhar on the concept of phonemes, vowel types, and the identity of phonemes as distinct identities. The result of data analysis is vowels in Budong-Budong as much as five, that are / i /, / e /, / a /, / o /, and / u /. There is a special vowel in Budong-Budong language, i.e. /a/. The /a/ vowel of Budong-Budong has two allophones, i.e. [a] and [_]. The examples of allophone [a] are such as in the following words:  /ako/ [ako] ‘what’, /babuah/ [babu:ah] ‘chest’, and /bulampa/ [bulampa] ‘thigh’. The examples of allophone [_] are such as in the following words: /aso?/ [_So?] ‘rib’, /kanding/ [k_ndiG] ‘forehead’, dan /lima/ [lim_] ‘five’. AbstrakBahasa Budong-Budong merupakan bahasa yang hampir punah. Bahasa Budong-Budong jumlah penuturnya 70 orang. Oleh karena itu, bahasa ini selayaknya diprioritaskan untuk dikonservasi. Contoh upaya yang termasuk dalam program konservasi ialah penyusunan sistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan sistem aksara atau ortografi. Masalah dalam penelitian ini ialah vokal apa saja yang terdapat dalam bahasa Budong-Budong. Tujuan penelitian ini ialah menemukan vokal-vokal yang terdapat dalam bahasa Budong-Budong dan alofon-alofonnya yang diharapkan berguna dalam upaya penyusunan sistem fonologinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan perekaman. Pengolahan data dilakukan dengan metode padan (alat penentunya referen dan lawan bicara) dan metode distribusional (dengan teknik oposisi pasangan minimal). Penelitian ini mengacu pada teori Verhar mengenai konsep fonem, jenis-jenis vokal, identitas fonem sebagai identitas pembeda. Hasil analisis data ialah vokal dalam bahasa Budong-Budong sebanyak lima, yaitu /i/, /e/, /a/, /o/, dan /u/. Ada vokal yang khas dalam bahasa Budong-Budong, yaitu /a/. Vokal /a/ memiliki dua alofon, yaitu [a] dan [_]. Contoh alofon [a] ialah pada kata-kata /ako/ [ako] ‘apa’, /babuah/ [babu:ah] ‘dada’, dan /bulampa/ [bulampa] ‘paha’. Contoh alofon [_] ialah pada kata-kata /aso?/ [_So?] ‘rusuk’, /kanding/ [k_ndiG] ‘dahi’, dan /lima/ [lim_] ‘lima’.
ANALISIS REDUPLIKASI KATA KERJA DALAM KALIMAT BAHASA MANDARIN Niza Ayuningtias
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1977.92 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.54

Abstract

Morphology is part of linguistic study about morpheme and analysing structure and classification of words.There are two kinds of morphemes. They are free morpheme and bound morpheme. Free morpheme is amorpheme that can stand alone as a word. While bound morpheme is a morpheme that cannot stand alone as aword or needs other morphemes. The process discussing about words in morphology is called morphemicprocess or morphology process. Reduplication is a kind of morphemic process. There are one reduplications(reduplication of verb) discussed in this research. The purpose of this research is to describe patterns ofmorphemic reduplication in Mandarin sentences. The theory used in this research is structural morphologytheory from Ramlan an instrument to analyze the data. Structural morphology is a kind of linguistics discussabout the structure and the process of word formation. The method used in this research is qualitative researchmethod which describes about structures and patterns of morphemic reduplication in Mandarin. Based on theresults of the analysis can be seen that the reduplication of verbs there is repetition of the whole and there is alsoa repetition in combination with affix. The pattern of verb reduplication is the repetition of the monosilabelverb has AA pattern, the repetition of infected verbs has A N A pattern and the repetition of the verbs dislabikhas an ABAB pattern AbstrakMorfologi adalah bagian linguistik yang mempelajari morfem serta menganalisis struktur, bentuk,dan klasifikasi kata-kata. Ada dua jenis morfem, yaitu morfem bebas dan morfem terikat. Morfembebas secara morfemis adalah morfem yang dapat berdiri sendiri, sedangkan morfem terikat adalahmorfem yang tidak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan morfem lainnya. Proses morfemis salahsatu di antaranya adalah proses reduplikasi. Reduplikasi yang dibahas dalam penelitian ini adalahreduplikasi kata kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis danpola-pola reduplikasi morfemis dalam kalimat bahasa Mandarin. Teori yang digunakan dalampenelitian adalah teori morfologi struktural oleh Ramlan sebagai alat untuk menganalisis datayang ada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yangbersifat deskriptif dengan memaparkan jenis-jenis dan pola-pola reduplikasi morfemis bahasaMandarin. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa pada reduplikasi kata kerja terdapatpengulangan seluruh dan ada juga yang mengalami pengulangan yang berkombinasi denganafiks. Pola reduplikasi kata kerja yaitu pengulangan kata kerja monosilabel memiliki pola AA,pengulangan kata kerja berinfiks memiliki pola ANA dan pengulangan kata kerja dislabik memilikipola ABABKata kunci : morfologi, morfem, reduplikasi kata kerja
EKSISTENSI SUFISME SASAK DALAM NOVEL SANGGARGURI DAN PERANNYA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT DI PULAU LOMBOK Siti Maryam
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.841 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.44

Abstract

Sasak Sufism is one concept that set the values and norms, in particular the ones in public order Sasak in Lombok island. Its existence more universal when it is stated in the form of literary works in the form of the novel Sanggarguri. The novel through planting and character development Sufism Sasak continue so that the role of Sufism the Sasak can be felt its benefits in people's lives. Therefore, this study aims to describe a form of Sufism Sasak of the novel, along with a variety of its role in the life of society on the island of Lombok in order to be known and manifested in real life by the entire community. In this case, the theory of Roland Barthes semiotik became surgical tools research done by the method of observation in the form of the interview against the author of the novel Sanggarguri and the study of librarianship. As for the research conducted this generates data in the form of 10 kinds of flower or flowers be symbolizing the concept of Sufism Sasak in the novel Sanggarguri. Flower-the flower in addition to conceptual or in denotative meaning, also contains the wisdom of Sufism that can be used as a guideline for the community. In addition, the role of Sufism Sasak in Lombok island in the people's life consists of his role in the fields of education, social, and cultural events. Thus, the concept of Sufism is the concept that the Sasak can not only be a guideline or reference Sasak community, but worth the universal which means that it can be dipedomani by the community outside the Sasak Lombok island or outside. AbstrakSufisme Sasak merupakan salah satu konsep yang mengatur nilai dan norma berkehidupan, khususnya dalam tatanan masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok. Eksistensinya pun semakin universal ketika tertuang dalam wujud karya sastra berupa novel yang berjudul Sanggarguri. Melalui novel tersebut, penanaman dan pengembangan karakter sufisme suku Sasak terus dilakukan sehingga peran sufisme Sasak tersebut dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud sufisme Sasak dalam novel tersebut beserta berbagai perannya dalam kehidupan masyarakat di Pulau Lombok agar diketahui dan diwujudkan dalam kehidupan nyata oleh seluruh masyarakat. Dalam hal ini, teori semiotik Roland Barthes menjadi alat bedah penelitian yang dilakukan dengan metode observasi berupa wawancara terhadap penulis novel Sanggarguri dan studi kepustakaan. Adapun penelitian yang dilakukan ini menghasilkan data berupa 10 jenis kembang atau bunga yang menjadi simbolisasi konsep sufisme Sasak dalam novel Sanggarguri. Kembang-kembang tersebut selain bermakna konseptual atau denotatif, juga mengandung hikmah sufisme yang dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat. Selain itu, peranan sufisme Sasak dalam kehidupan masyarakat di Pulau Lombok terdiri atas perannya dalam bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan budaya. Dengan demikian, konsep sufisme Sasak merupakan konsep yang tidak hanya dapat menjadi pedoman atau acuan masyarakat Sasak, tetapi juga bernilai universal yang artinya dapat dipedomani pula oleh masyarakat di luar suku Sasak atau luar Pulau Lombok.
PERBANDINGAN KARAKTER TOKOH UTAMA PADA NOVEL ATAN (BUDAK PULAU) KARYA ARY SASTRA DAN FILM LASKAR ANAK PULAU PRODUKSI KOMUNITAS FILM BATAM Titik Dwi Ramthi Hakim
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.292 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.56

Abstract

This research is a descriptive qualitative which aims at describing the characters of the main character found in a novel entitled ATAN( ANAK PULAU) written by Ary Sastra and the characters of the main character of a film entitled LASKAR ANAK PULAU produced by Komunitas Film Batam. The data were analyzed, classified, and interpreted by reffering to the elements that help build character marker. The techniques used in analysing the data: (1) the utterances of the narrator, (2) the utterances og the main character, (3) the utterances of another character, (4) the perspective of the character, (5) the setting, and (6) the physical appearance of the character. Finally, it was found that there were many similarities of the characters the main character in the novel and movie mentioned above. AbstrakTujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan karakter tokoh utama pada novel Atan (Budak Pulau) yang ditulis oleh Ary Sastra dengan film Laskar Anak Pulau yang diangkat dari bagian novel yang disebutkan sebelumnya dan diproduksi oleh Komunitas Film Batam.  Data diperoleh dari hasil membaca novel dan hasil simak film kemudian dianalisis dan diklasifikasikan serta diinterpretasikan berdasarkan unsur-unsur yang turut membangunnya sebagai penanda karakter. Penulisan ini berdasar metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik yang digunakan dalam menganalisis karakter tokoh utama pada novel dan film tersebut di atas yaitu, (1)tuturan narator; (2) tuturan tokoh; (3) tuturan tokoh lain; (4) pemikiran tokoh; (5) gambaran latar/ lingkungan; serta (6) gambaran fisik tokoh. Setelah dianalisis terdapat banyak persamaan karakter tokoh utama pada novel dan film tersebut di atas. Karakter tokoh utama pada novel dan film tersebut di atas adalah seseorang yang sederhana, tekad kuat, gigih, religius, penurut, hormat pada orang tua, jujur, lapang dada, berprinsip, sayang keluarga, sabar, rajin, bertanggung jawab, bijaksana/ dewasa, berbakti, dan sedikit rendah diri.Kata kunci: film, karakter, novel, perbandingan,dan tokoh
PERBEDAAN FONOLOGIS BAHASA MELAYU DI DESA CERUK DAN DI PULAU LAUT KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU Tasliati Tasliati
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1650.344 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.39

Abstract

This study aims to describe phonological differences of Malay language in Ceruk village and Pulau Laut, Natuna regency, Riau Islands Province. The data in the form of 200 Swadesh vocabulary was collected by using referring and interview method with the technique of SBLC and recording. Then, the data were analyzed by intralingual matching method with the connecting and comparing technique. The results show that (1) the differences in the form of correspondence are found in two forms, namely perfect correspondence and unperfect correspondence. The perfect correspondences is found in six forms of change: ɛ≈I, o≈U, ɛ≈ə, R≈X, K≈Ɂ, and ə≈a. The unperfect correspondence is found in three forms of change: I≈i, Ø≈X, and t≈d. (2) The differences in the form of variation are found in four forms: (a) the middle rear vowel phoneme becomes the low center vowel (ɔ~a), (b) the addition of one phoneme at the end of a word or protesis (Ø~ə dan Ø~a). (c) the mute phoneme becomes the voiced phoneme (k~g dan p~b), and (d) the addition of one phoneme at the end of a word or paragog (Ø~h dan Ø?). AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perbedaan fonologis bahasa Melayu di Desa Ceruk dan di Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Data berupa 200 kosakata Swadesh dikumpulkan dengan metode simak dan wawancara dengan teknik simak bebas libat cakap (SBLC), teknik rekam, dan teknik catat. Data selanjutnya dianalisis dengan metode padan intralingual dengan teknik hubung-banding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perbedaan berupa korespondensi ditemukan dalam dua bentuk, yaitu korespondensi sangat sempurna dan korespondensi kurang sempurna. Korespondensi sangat sempurna ditemukan dalam enam bentuk perubahan ɛ≈I, o≈U, ɛ≈ə, R≈X, K≈Ɂ, dan ə≈a. Korespondensi kurang sempurna ditemukan dalam tiga bentuk perubahan: I≈i, Ø≈X, dan t≈d. (2) Perbedaan berupa variasi ditemukan dalam empat bentuk: (a) fonem vokal belakang tengah menjadi vokal pusat rendah (ɔ~a), (b) penambahan satu fonem di akhir kata atau protesis (Ø~ə dan Ø~a), (c) fonem tak bersuara menjadi bersuara (k~g dan p~b), dan (d) penambahan satu fonem di akhir kata atau paragog (Ø~h dan Ø?).
MAKNA ADJEKTIVA TANOSHII (楽しい) DAN URESHII (嬉しい) SEBAGAI SINONIM (KAJIAN SEMANTIS BAHASA JEPANG) Mhd. Pujiono; Talia Talia
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1856.644 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.47

Abstract

The research describes the meaning of tanoshii and ureshii which have the same meaning or synonym (ruigigo) in Japanese which is the object of semantic study (imiron). There are many synonyms in Japanese which are very difficult to be paired into  Indonesian language one by one. Even though the synonymous words have the same or almost the same meaning but in the disclosure there are a differences. The differences because the meaning of a word will usually develop because it is influenced by the context or situation in the sentence. Because of these differences, there is a mistake in the language of Japanese which is due to information meaning that is still not complete, especially synonym, so often also cause misunderstandings in communication. This research uses descriptive qualitative method. The steps of research are collecting data using the method refer to the technique record, analyzing data, and presenting the data informally. From the analysis it is found that tanoshii refers more to 'process' when an activity is in progress, whereas ureshii refers more to the 'end' of a process that is usually accompanied by a sense of emotion. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna tanoshii dan ureshii yang mempunyai makna sama atau sinonim (ruigigo) dalam bahasa Jepang yang merupakan objek kajian semantik (imiron). Di dalam bahasa Jepang banyak sinonim dan sangat sulit untuk dipadankan ke dalam bahasa Indonesia satu-persatu. Walaupun kata-kata yang bersinonim tersebut mempunyai makna yang sama atau hampir sama tetapi dalam pengungkapannya terdapat perbedaan. Perbedaan tersebut dikarenakan makna suatu kata biasanya akan berkembang karena dipengaruhi oleh konteks atau situasi dalam kalimatnya. Karena perbedaan tersebut, muncul kesalahan kebahasaan dalam bahasa Jepang yang dikarenakan informasi makna yang masih kurang lengkap khususnya sinonim, sehingga sering juga menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif. Langkah-langkah penelitian adalah mengumpulkan data menggunakan metode simak dengan teknik catat, menganalisis data, dan menyajikan data secara informal. Dari analisis didapatkan hasil bahwa tanoshii lebih merujuk pada ‘proses’ ketika suatu aktifitas sedang berlangsung, sedangkan ureshii lebih merujuk pada ‘akhir’ suatu proses yang biasanya disertai dengan rasa haru.
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM CERPEN ANAK “LAPTOP SI CALON PENULIS” SEBAGAI REFERENSI MENGHADAPI PERSAINGAN DI ERA DIGITAL Rozali Jauhari Alfanani
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.061 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.48

Abstract

The flow of globalization is considered capable of transforming the human person into a different direction. This personal change of human concerns the pattern of upbringing and lifestyle taught by parents. There is also the role of character education implemented in the school environment. Parenting patterns can be defined as patterns of interaction between children and parents, involves the fulfillment of physical needs (such as eating, drinking, etc.) and non-physical needs (such as attention, empathy, compassion, etc.). Parenting patterns play an important role in shaping the character of children as a sense of their responsibility to realize the personal child self-reliant, creative, and innovative. Changes in lifestyle that originally human as social beings that need each other transformed into an individualist attitude that does not need other people. Parenting and lifestyle changes affect a person’s life changes. Therefore, character education should be developed through a comprehensive and integrated approach. The effectiveness of character education does not always have to add to its own program, but it can be through the transformation of culture and life in school environment. The method used in this approach is text analysis based on the values of character education so that it can be known elements that can realize an independent, creative, and innovative person through the literary text of the child. It is expected to prepare the mentality of children in the face of global competition in the digital age. AbstrakArus globalisasi dianggap mampu mengubah pribadi manusia ke arah yang berbeda. Perubahan pribadi manusia ini menyangkut pola asuh maupun gaya hidup yang diajarkan orang tua. Hal lainnya yaitu peran pendidikan karakter yang ditanamkan di lingkungan sekolah. Pola asuh orang tua dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orang tua, yang menyangkut pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dan lain-lain) dan kebutuhan non-fisik (seperti perhatian, empati, kasih sayang, dan sebagainya). Pola asuh orang tua berperan penting dalam membentuk karakter anak sebagai rasa tanggung jawab mereka untuk mewujudkan pribadi anak yang mandiri, kreatif, dan inovatif. Perubahan gaya hidup yang semula manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan berubah menjadi bersikap individualis yang tidak membutuhkan orang lain. Pola asuh dan perubahan gaya hidup mempengaruhi perubahan hidup seseorang. Oleh sebab itu, pendidikan karakter sebaiknya dikembangkan melalui pendekatan terpadu dan menyeluruh. Efektivitas pendidikan karakter tidak selalu harus dengan menambah program tersendiri, tetapi bisa melalui transformasi budaya dan kehidupan di lingkungan sekolah. Adapun metode yang digunakan dalam pendekatan ini adalah analisis teks berdasarkan nilai-nilai pendidikan karakter sehingga dapat diketahui unsur yang dapat mewujudkan pribadi yang mandiri, kreatif, dan inovatif melaluai teks sastra anak. Hal ini diharapkan dapat menyiapkan mentalitas anak dalam menghadapi persaingan global di era digital.
STUDI KONTRASTIF KONSTRUKSI INTEROGATIF POLAR BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA Abdul Gapur; Mulyadi Mulyadi
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 4, No 1 (2018): Juni
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.69 KB) | DOI: 10.47269/gb.v4i1.43

Abstract

This research discusses about interrogative construction of polar in Japanese and Indonesian language. The purpose of this research describes the forms, similarities and differences, and the correspondence of interogative constructions in Indonesian and Japanese. Sources of data are related literature on interrogative constructions and Indonesian and Japanese grammar books. Data collection using techniques of refering and noting.Contrastive analysis is used to analyze data. The he study found that the interrogative contrastive polar in Japanese and Indonesian languages were formed from use of 1) intonation, 2) interrogative particles, and 3) interrogative tags. The interrogative constructions of Japanese and Indonesian polar interrelations are inherent in the intonation aspect as the main thing in the construction of polar interrogation, the use of interrogative particles and the use of nterogative tags in both languages. The difference between polar interrogative constructions lies in the use of more productive ”apa”, “apakah”  and “bagaimana” words in Indonesian and more productive interrogative particles in Japanese polar interrogative. In the correspondence of translations most of the interrogative particles of Japanese are equated with the question 'apakah' in the polar interrogative constructions of Indonesian. AbstrakPenelitian ini membahas tentang konstruksi interogatif polar dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk, persamaan dan perbedaan, dan kesepadanan konstruksi interogatif dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Sumber data adalah literatur yang berkaitan tentang konstruksi interogatif dan buku tatabahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Pengumpulan data dengan teknik catat. Analisis data menggunakan analisis kontrastif dengan pendekatan strukturalis. Hasil penelitian ditemukan bahwa kontrastif interogatif polar bahasa Jepang dan bahasa Indonesia terbentuk dari 1) penggunaan intonasi, 2) partikel interogatif, dan 3) tag interogatif. Persamaan bentuk konstruksi interogatif polar bahasa Jepang dan Indonesia terdapat pada aspek intonasi sebagai hal utama dalam pembentukan konstruksi interogatif polar, penggunaan partikel interogatif dan penggunaan tag Interogatif dalam kedua bahasa. Perbedaan konstruksi interogatif polar terletak pada penggunaan kata tanya ”apa”, “apakah” dan “bagaimana” yang lebih produktif dalam bahasa Indonesia dan partikel interogatif ka yang lebih produktif sebagai penanda interogatif polar dalam bahasa Jepang. Dalam kesepadanan penerjemahan umumnya partikel interogatif ka bahasa Jepang disepadankan dengan kata tanya ”apakah” dalam konstruksi interogatif polar bahasa Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 9