cover
Contact Name
Ahmad Abas Musofa
Contact Email
abas@iainbengkulu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
tsaqofah@iainbengkulu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam
ISSN : 2528732X     EISSN : 26846926     DOI : -
Jurnal kajian kebudayaan Islam yang mencakup tiga wujud yaitu ide, sistem sosial & benda. Sedangkan model kajian sejarah Islam Indonesia dan dunia ialah original history dan reflective history.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER" : 9 Documents clear
DEATH Historiography In Islam dan French historical tradition: Study on Wafiyāt al-A’yān wa Abnāu Abnāi Zamān and Western Attitude Toward death from The Middle Age to The Present Tolib Rohmatillah
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.7863

Abstract

Historiography of death between Arab-Islam and French tradition has different root and models. As Arabian model wafiyat came into being as new systematic mode of writing bibliographical dictionary, it is French la histoire la morte was the French innovation in social history by Annales school. To make clear comparison, two book are selected that are Wafiyāt al-A’yān wa Abnāu Abnāi Zamān by Ibn Khalikan and Attitude tward Death by Philip Aries. To study these two books, comparative historiography is applied to make a comparison and contrast between genre, style and sources. As the result of taking study of comparison, so there are similarity and differences between two historical tradition in the from of content and method of writing history. These two types are similar in one common trait constructed the idea based on death. However, it is clearly different in as much as that Arabic wafiyat is prosopography and has relgious content and intend; meanwhile French death historiography is social history and growth in the idea of study of mentalites.
SEJARAH INDUSTRIALISASI GULA DI CILEGON M Ilham Gilang; Risalahwati Romdhon; Ana Nurhasanah
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.9540

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang sejarah, perkembangan, dampak ekonomi industri gula di Cilegon tahun 2003-2018. Penelitian ini menggunakan metode historis, dengan langkah-langkah; heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa gula merupakan komoditi strategis yang dikenalkan oleh bangsa Belanda. Pada tahun 1930, Indonesia mampu menjadi pengekspor gula kedua terbesar dunia setelah Kuba. Gula juga merupakan salah satu bahan pangan pokok penting setelah beras. Industri gula di Cilegon muncul pada tahun 2003 dan memulai berproduksi pada tahun 2004 ditandai dengan berdirinya PT. Sentra Usahatama Jaya. Berdirinya industri gula yang ada di Cilegon untuk memenuhi kebutuhan gula industri makanan dan minuman. Kehadiran industri gula membawa dampak kehidupan ekonomi yaitu berhasil membuka lapangan pekerjaan, bahkan 8% yang bekerja tidak hanya dari masyarakat Cilegon tetapi dari luar Banten. Selain itu, terjadinya mobilitas masyarakat, yaitu yang awalnya masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Selain menjadi karyawan industri dampak adanya Industri Gula membawa beragam mata pencaharian yang lain, seperti masyarakat membuka usahanya dengan berdagang atau membuka rumah makan disekitar industri. Hal tersebut membawa kesejahteraan masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga.
Dinamika Pergolakan Politik di Mesir Abad 20-21 (Sejak Raja Faruq Hingga Muhammad Mursi) Johan Septian Putra
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.5782

Abstract

Abstract- Egypt since the classical era of Islam to the contemporary era, there have been upheavals that seem endless, especially in the modern era. The political upheaval seems to have become a "culture" that cannot be separated from the Egyptian political community. The purpose of this study is to describe the political dynamics in Egypt in the classical to medieval era and to explain the development of Egyptian politics in the Modern era since the arrival of Europeans to President Morsi in the 21st century. The results of this study are the upheaval of Egypt's political dynamics can not be separated from the role of the military in the flow of democracy and structural government which always experiences gaps and tends not to get finalized, then the transition to changes in Egypt's political form drastically occurred with the revolution of the 20th century by overthrowing the monarchy system. republican system although the democratic side could not be implemented properly since the Nasser era until the Morsi government and ended in 2013.Key Word: Political Dynamics, Political Upheaval, Egyptian Revolution and Military Coup.  Abstrak- Mesir semenjak era klasik Islam hingga era kontemporer telah terjadi pergolakan yang seolah-olah tidak ada habisnya, terutama di era modern. Pergolakan politik tersebut seperti sudah menjadi “budaya” yang tidak terlepas dari masyarakat perpolitikan Mesir. Adapun Tujuan mengkajian materi ini adalah untuk mendeksripsikan dinamika politik di Mesir di era klasik hingga pertengahan dan menjelaskan perkembangan politik Mesir di era Modern sejak kedatangan bangsa Eropa hingga Presiden Mursi di abad ke-21. Hasil penelitian kajian ini adalah pergolakan dinamika politik Mesir tidak terlepas dari peran militer dalam arus demokrasi dan struktural pemerintahan yang selalu mengalami kesenjangan dan cendrung tidak mendapatkan finalisasi kemudian transisi perubahan bentuk politk Mesir secara hebat terjadi dengan adanya revolusi abad ke-20 dengan meruntuhkan sistem monarki kepada sistem republik walaupun sisi demokrasi tidak dapat terlaksanan dengan baik sejak era Nasser hingga pemerintahan Mursi dan berakhir tahun 2013.Kata Kunci: Dinamika Politik, Pergolakan Politik, Revolusi Mesir dan Kudeta Militer.
PEREMPUAN PESISIR DALAM KESENIAN KUDA KEPANG TRI TUNGGAL JAYA LEMPUING KOTA BENGKULU Agus Setiyanto; Suparman Suparman
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.7867

Abstract

Kuda kepang merupakan salah satu produk kesenian tradisional masyarakat Jawa. Kuda kepang juga sering disebut kuda Lumping, jathilan, jarang kepang, eblek, jarang goyang,  dan mungkin masih ada istilah lainnya. Untuk masyarakat Sumatera khususnya Bengkulu, lebih popular dengan sebutan kuda kepang. Bentuk awalnya Kuda kepang merupakan sebuah tarian yang sederhana, tidak memerlukan keahlian dalam olah tari maupun  olah musik. Demikian juga dengan kostum dan tata riasnya.Properti yang dipakainya pun sederhana, berupa kuda-kudaan yang terbuat dari bilahan bambu (kepang) yang berbentuk seperti kuda. Oleh karena itulah kemudian lebih popular dengan nama “kuda kepang”. Musik pengiringnya juga sederhana, yaitu hanya terdiri atas, gong dua buah,  kenong dua buah, kendang, dan terompet. Para penarinya pun semula dilakukan oleh oleh kaum laki-laki saja. Kemudian dalam perkembangannya, para penarinya sudah banyak di dominasi kaum perempuan. Para perempuan pesisir ini pada mulanya hanya sebagai penggembira – penonton pasif dalam setiap pertunjukan Kuda Kepang. Tetapi seiring dengan dinamika zaman, kaum perempuan mulai bergabung dalam kesenian Kuda Kepang Tri Tunggal Jaya.  Sebagian dari mereka ada yang ikut ambil bagian sebagai tukang masak, tukang cuci pakaian (kostum), bagian perlengkapan, dan lain sebagainya.  Persisnya sejak kapan kaum perempuan bergabung dalam kesenian Kuda Kepang sulit dipastikan.
Perkembangan Pendidikan di Afghanistan Pada Masa Pemerintahan Taliban (1996-2001) Anwar Firdaus Mutawally
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.6566

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan pendidikan di Afghanistan pada masa pemerintahan Taliban (1996-2001), bahasan dalam artikel ini mencakup keadaan pendidikan formal yakni sekolah dasar, menengah, dan tinggi serta pendidikan non-formal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode sejarah dengan teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka. Pada masa pemerintahan Taliban, seluruh sekolah dasar dan menengah modern diubah menjadi madrasah dengan kurikulum pemerintah Taliban untuk madrasah negeri dan Dars i-Nizami untuk madrasah swasta. Perempuan di Afghanistan pada masa tersebut dibatasi kebebasannya untuk menempuh pendidikan. Meskipun demikian, lembaga organisasi non-pemerintahan internasional membentuk sekolah modern di pedesaan Afghanistan khusus untuk perempuan. Sistem perguruan tinggi mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Taliban. Menjelang keruntuhan Taliban pada tahun 2001, hanya tersisa 7 perguruan tinggi dari 14 perguruan tinggi yang awalnya diizinkan beroperasi oleh pemerintah Taliban. Faktor yang mempengaruhi kemunduran tersebut ialah represi militer Taliban di dunia pendidikan, dominasi etnis Pashtun, pembatasan pendidikan untuk perempuan, dan sistem pendidikan yang berbeda dari umumnya. Pada masa pemerintahan Taliban berkembang beberapa pendidikan non-formal seperti pendidikan agama Islam untuk anak-anak, perkumpulan kursus menjahit perempuan, dan pelatihan militer oleh al-Qaeda.
PERJALANAN IMAM AL-GHAZALI DARI FILOSUF MENUJU TASAWUF Edi Sumanto
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.6653

Abstract

Jurnal  ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan pemikiran Al-Ghazali dari seorang filosuf yang akhirnya berlabuh pada tasawuf. Dengan metode penelitian kepustakaan yang bahannya bersumber dari majalah, jurnal, dan buku yang berhubungan dengan pembahasan yang ditulis.   Penulis dapat menyimpulkan pertama, bahwa Al-ghazali banyak mempelajari dan membaca karya-karya para filosuf, yang membuatnya ada kritisi terhadap ajaran mereka, menyebabkan seolah-olah beliau ingin menghancurkan filsafat padahal sebenarnya untuk memperbaiki pendapat para filosuf tersebut. Kedua, setelah dialami Al-Ghazali dalam perjalanannya dari filosuf maupun teologi akhirnya beliau lebih tertarik dan fokus pada tasawuf karena membuat jiwanya lebih tenang, sebab ada rasa zuhud, merasa cukup, dan tertuju terhadap keperluan kehidupan alam baka. 
THE GOVERNMENT OF THE ISLAMIC MUGHAL EMPIRE IN JALALUDDIN AKBAR’S ERA: SULH-I-KUL POLICY DETERMINATION Fiana Shohibatussholihah; Ahmad Barizi
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.6709

Abstract

AbstractThis research aims to determine the main factors underlying the glory of the Mughal Islamic empire by using a qualitative approach with a descriptive method. Methods of data collection using literature study of books and ebooks. The results of the research prove that: Jalaluddin Muhammad Akbar was the first Muslim ruler who able to maintain his position in a long time, not merely to fulfill his personal ambitions but to take advantage of his position as king to unite all Mughal society under his rule. To realize this vision, Akbar must legitimize his government and build a strong military superiority among his pluralistic society. The sulh-i-kul or tolerance for all policy that he implemented was able to become a driving tool for several subsequent policies such as the abolition of the jizyah, the establishment of ibadat-khana, and the application of din-i-Ilahi to unite the Mughal community in building a superpower empire based on universal tolerance. Without this basic ideology of sulh-i-kul, the Mughal society at that time could not have become a famous empire.Keywords: Sulh-i-kul; Jalaluddin Akbar; Mughal Empire; Islamic Policy AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor utama yang melandasi kejayaan kerajaan Islam Mughal dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka dari buku, ebook dan sejenisnya. Hasil penelitian membuktikan bahwa: Jalaluddin Muhammad Akbar merupakan penguasa muslim pertama yang dapat mempertahankan kerjaaan Islam dalam waktu lama. Hal ini tidak semata-mata untuk memenuhi ambisi pribadinya tapi untuk memanfaatkan posisinya sebagai raja dalam menyatukan semua masyarakat Mughal di bawah kekuasaannya. Untuk mewujudkan visi tersebut, Akbar harus melegitimasi pemerintahannya serta membangun superioritas militer yang kuat diantara masyarakatnya yang majemuk. Kebijakan Sulh-i-Kul atau toleransi kepada semua yang diterapkannya mampu menjadi alat penggerak beberapa kebijakan berikutnya seperti penghapusan jizyah, pendirian ibadat-khana, dan penerapan din-i-Ilahi untuk menyatukan masyarakat Mughal dalam membangun kerajaan yang superpower berdasarkan toleransi. Tanpa ideologi dasar sulh-i-kul ini belum tentu masyarakat Mughal kala itu dapat menjadi kerajaan yang masyhur.Kata kunci: Sulh-i-kul; Jalaluddin Akbar; Kerajaan Mughal; Kebijakan Islami
PERJUANGAN SUNAN GUNUNG DJATI DALAM PENYEBARAN ISLAM DI JAWA BARAT Muhamad Miftah Farid
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.5724

Abstract

Nama Syarif Hidayatullah atau di kenal dikalangan masyarakat sebagai Sunai Gunung Jati tidak akan pernah hilang tergerus zaman dalam ingatan masyarakat nusantara karena jasa- jasa beliau dalam memperjuangkan tersebarnya agama islam khususnya di wilayah Jawa barat. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan mengenai biografi Sunan Gunung Jati dan bagaimana perjuangan dia dalam menyebarkan islam di jawa barat. Dalam penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan Historiografi. Dari hasil penelitian ini juga diperoleh fakta menarik bahwa Sunan  Gunung Jati merupakan tokoh utama tersebarnya islam di jawa barat. Selain itu, dia juga memiliki garis keturunan yang bersambung kepada Nabi Muhammad Saw melalui jalur Ali bin Abi Thalib yang menikah dengan siti Fatimah. Serta membuktikan bahwa antara Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dengan Faletehan adalah orang yang berbeda, karena dikalangan masyarakat banyak yang menyebutkan bahwa faletehan adalah nama lain dari Sunan Gunung Jati dan menganggapnya orang yang sama.
INTERNASIONALISME DALAM POLITIK ISLAM ABAD KE-20 Frial Ramadhan Supratman
Tsaqofah dan Tarikh: Jurnal Kebudayaan dan Sejarah Islam Vol 7, No 2 (2022): DESEMBER
Publisher : IAIN Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ttjksi.v7i2.8060

Abstract

Sejak keruntuhan Imperium Ottoman pada 1923, politik Islam di berbagai negara Muslim kemudian mulai melepaskan diri dari ide Pan-Islamisme dan mendorong ide nasionalisme berdasarkan etnik dan bahasa. Kemudian tidak lama setelah itu, politik Islam pun menemukan ekspresi melalui internasionalisme pasca Perang Dunia II. Usaha mewujudkan persatuan (ukhuwah) seringkali dikendalikan oleh semangat internasionalisme melalui organisasi-organisasi internasional. Namun usaha ini pun seringkali dikesampingkan atas dasar kepentingan nasionalisme, politik domestik dan dinamika internal dari masing-masing negara Muslim. Artikel ini membahas mengenai bagaimana negara-negara mayoritas Muslim mengekspresikan politik Islam melalui ide internasionalisme. Artikel ini memanfaatkan pendekatan sejarah global dengan menganalisis interaksi dan koneksi antarnegara Muslim sepanjang abad ke-20. Melalui artikel ini penulis berargumen bahwa ekspresi politik Islam di dunia Muslim tidak dapat menjadi homogen hanya dengan semangat internasionalisme. Ide nasionalisme dan visi Dunia Ketiga walau bagaimanapun menjadi penentu bagi negara-negara Muslim dalam membangun hubungan internasional pada abad ke-20.

Page 1 of 1 | Total Record : 9