cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 379 Documents
ESTIMASI SUMBERDAYA BATUBARA DENGAN DATA GEOMETRI DAN KUALITAS YANG TIDAK STASIONER: STUDI KASUS BATUBARA FORMASI BALIKPAPAN Andrew Harryanto Sinaga; Mohamad Nur Heriawan; Agus Haris Widayat
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.08 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.35

Abstract

Endapan batubara memiliki karakteristik berupa kontinuitas spasial yang relatif homogen mengikuti bidang perlapisannya. Karakteristik spasial dari kualitas dan kuantitas seam batubara tersebut dapat diolah berdasarkan data sebaran titik bor. Jika seam batubara memiliki karakteristik kualitas dan kuantitas yang relatif homogen secara spasial maka data disebut stasioner. Namun dalam beberapa kasus data kualitas dan kuantitas seam batubara terkadang memiliki pola yang tidak homogen melainkan memiliki trend tertentu yaitu nilai data cenderung naik atau turun ke arah tertentu secara spasial yang membuatnya menjadi tidak stasioner. Hal tersebut terjadi karena pengaruh faktor geologi tertentu pada saat atau setelah proses pengendapannya. Dalam penelitian ini dibahas mengenai solusi untuk estimasi sumberdaya batubara pada data kualitas dan kuantitas yang tidak stasioner dengan cara mengelompokkan data sebaran titik bor menjadi beberapa bagian secara spasial untuk mengurangi pengaruh trend tersebut. Estimasi sumberdaya batubara dilakukan dengan 2 (dua) pendekatan geostatistik yaitu Ordinary Kriging (OK) dan Kriging with Trend (KT) baik pada seluruh data maupun pada data yang telah dikelompokkan. Hasil estimasi menunjukkan bahwa relative error yang diperoleh, baik dengan OK maupun KT berbeda pada setiap kelompok data. Pendekatan yang memberikan relative error paling kecil akan direkomendasikan untuk estimasi sumberdaya pada data kualitas dan kuantitas batubara yang tidak stationer. Studi kasus yang digunakan dalam penelitian ini adalah salah satu seam batubara di Formasi Balikpapan untuk data ketebalan dan sulfur total.
Analisis Hubungan Antara Peningkatan Travel Speed Truck dengan Match Factor untuk Menunjang Efisiensi Pengoperasian Truck pada Operasi Penambangan Pit Inul East P2B, HATARI Department, PT Kaltim Prima Coal Wahyu Asmoro Nursandi; Agus Siswanto
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.125 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.13

Abstract

Pit Inul East P2B merupakan salah satu area operasional Hatari Department,selain Pit Inul Middle. Berdasarkan plan 2018 material overburden 50.941 kbcmdari Pit Inul East P2B dialokasikan di AB void dump dengan jarak tempuh 4,2 Km. Tantangan besar dalam operasional Pit Inul East adalah dump sequence yang semakin menjauh dan tuntutan untuk menciptakan praktek operasional yang efisien agar tetap menjadi industri pertambangan yang kompetitif. Sebagai persiapan agar Pit Inul East P2B dapat beroperasi sesuai rencana produksi dan cycle time tetap sesuai target, maka pertengahan tahun 2017 technical section Hatari Department menyampaikan gagasan membuat “jalan bebas hambatan” untuk dump truck. Technical section Hatari Department melakukan kajian secara komprehensif hubungan peningkatan travel speed truck dengan match factor. Tujuan akhir dari analisis tersebut adalah menetapkan guide line jumlah truck yang beroperasi bagi operation, serta menganalisis opportunity melakukan internal park up. Gagasan yang disampaikan oleh technical Hatari adalah menciptakan jalan bebas hambatan dengan panjang 4.2 km dengan kualitas jalan meminimalkan undulasi dan memisahkan jalur overburden truck dengan jalur kendaraan ringan, bahkan dengan coal truck. Sehingga truck mampu mengoptimalkan kecepatannya dan meminimalkan cycle time. Project travel speed diberi nama “Everest Road” dan ditargetkan awal tahun 2018 dapat digunakan. Dasar pemikiran Project Everest Road adalah rumus kecepatan dan match factor. Dalam rumus match factor, jumlah truck berbanding terbalik dengan cycle time. Kecepatan merupakan jarak tempuh dibagi waktu tempuh (cycle time). Cycle time berbanding terbalik dengan kecepatan, jika kecepatan maksimal tentu akan menghasilkan cycle time minimal. Sehingga dengan travel speed yang optimal akan menghasilkan cycle time minimal dan pengoperasian truck lebih sedikit atau lebih efisien.Project Everest Road mulai dikerjakan akhir tahun 2017 dan mulai digunakanJanuari 2018. Konsekuensi pengoptimalan kecepatan truck tentu akan berimbasakan munculnya debu dan diperlukan penambahan safety control. Untukmengontrol keselamatan akibat munculnya kenaikan kecepatan truck, maka dilakukan Risk Assessment. Sedangkan kontrol aspek lingkungan akibat timbulnya debu tetap mengacu pada Kepmen 1827K/MEM/30/2018, Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Kegiatan Pengangkutan. Selama penggunaan jalur Everest Road mampu menaikkan travel speed menjadi, sehingga menekan cycle time AB void dump 3.79 menit dan Hatari mampu melaksanakan effisiensi internal park up 3 trucks EH4500.
Korelasi Nilai Rebound Schmidt Hammer Dengan Nilai Uniaxial Compressive Strength (UCS) Seam Batubara A2 dan C Pada Pit 3 Timur Banko Barat, di PT. Bukit Asam, Tbk Andreas Roland Simatupang
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.204 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.30

Abstract

Nilai Uniaxial Compressive Strength adalah gambaran dari nilai tegangan maksimum yang dapat ditanggung sebuah contoh batuan sesaat sebelum contoh batuan tersebut hancur. Hal tersebut merupakan informasi penting dalam menentukan kekuatan dan karakteristik suatu batuan baik massa batuan maupun batuan utuh yang didapat dengan pengujian menggunakan alat UCS. Pada penelitian ini dibuat suatu alternatif dalam menentukan nilai UCS secara instan, yaitu dengan menggunakan Point Load Index dan Schmidt Hammer. Point Load Index dan Schmidt Hammer dinilai sangat mudah dan efektif dalam pengujiannya karena dapat digunakan langsung pada lereng penambangan. Alternatif ini didapat dengan membuat hubungan antara Point Load Index dengan nilai UCS serta Schmidt Hammer terhadap litologi batubara terkhusus pada seam batubara A2 dan C, yang berlokasi pada pit 3 timur banko barat, Sumatera Selatan, pada formasi Muara Enim.
PENERAPAN KONSEP ZERO FUEL BURN DENGAN OPTIMALISASI DESAIN JALAN HAULING DALAM RANGKA EFISIENSI PENGGUNAAN FUEL “ADVANCED ZERO FUEL BURN” Budi Santoso; Arruya Ashadiqa; Safaruddin Safaruddin; Tomi Indrianto; Hisham Hisham
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2861.306 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.7

Abstract

Advanced Zero Fuel Burn merupakan program khusus yang di peruntukkan untuk efisiensi pemakaian bahan bakar pada unit hauler khususnya unit OHT 773 CAT, dengan mengoptimalkan beberapa fitur record data yang dimiliki oleh sistem electronic menggunakan fasilitas ET Tool Downloader Caterpillar, sehingga didapatkan data record dan graphic pemakaian bahan bakar selama unit dioperasikan. Data tersebut di evaluasi dan di entrepetasikan, bahwa ketika unit hauler OHT 773 CAT dioperasikan dalam kondisi bermuatan bisa tercapai ZERO pembakaran bahan bakar di jalan turunan (Downhill) dengan konsisten mengaplikasikan zero throtle, aktif retarder, penyesuaian speed dan gear pada grade road 10-12%. Program ini merupakan tindak lanjut dari hasil report SAT Desember 2017 yang dilakukan oleh Tim Trakindo Utama di Site Seruyung pertambangan emas PT Sago Prima Pratama, di mana secara data diperoleh kategori rate fuel consumption unit OHT773 yang dapat dioptimalkan menjadi lebih efisien dan selanjutnya PT Sago Prima Pratama mengembangkan informasi ini menjadi program khusus untuk mendapatkan pengoperasionalan unit OHT yang lebih ekonomis, produktif dan tentunya tetap memperhatikan aspek safety. Pelaksanaan program studi zero fuel burn juga melibatkan pihak Trakindo Utama sebagai pembimbing di kelas dan dilapangan. 
ALTERNATIF PENGGANTI TITIK PENAATAN PADA PEMBUKAAN PIT PELIKAN SOUTH EXTENSION Yudha Febriana; Zakaria Al Ansor
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1438.937 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.25

Abstract

Pit Pelikan South Extension (PSE) merupakan salah satu tambang baru yangakan dibuka oleh PT. Kaltim Prima Coal (KPC). Versi internal berdasar v70B 2017 diperkirakan terdapat 4,582 juta ton batubara serta 41,075 juta m3 overburden yang bisa dikeluarkan dari perut bumi. Guna mendukung angka tersebut, validasi data diperlukan dengan cara pemboran (eksplorasi) dengan jarak yang rapat 100x100m). Data tahun 1990 memiliki 19 titik lubang, kemudian dari hasil eksplorasi lanjut rencana meningkat menjadi 115 titik lubang. Merapatkan jarak antar lubang berarti menambah bukaan terhadap hutan alami. Sesuai standard operational procedure (SOP) internal perusahaan, aktivitas pemboran dengan jarak 100x100m membutuhkan kolam pengendap berupa titik penaatan. Kedepannya, kolam penaatan ini juga berfungsi untuk menjaga baku mutu air ketika pit sudah dibuka Tantangan di area pit PSE adalah kondisi topografi dimana arah aliran airnya tidak menuju ke satu titik. Kontur yang ada saat ini tersusun seperti jejeran piramid, berbukit curam sempit, dengan 8 titik keluaran air. Luas total daerah angkapan airnya (DTA) 164Ha. Hampir separuh menjadi footprint pit, yakni 80Ha. Area footprint-nya bila dibagi lagi menjadi sub daerah berdasar aliran air terdiri atas 8 sub-DTA. Tiga sub-DTA diantaranya masing-masing harus dibangun kolam untuk menangkap aliran air. Sedangkan 5 sub-DTA yang lain dapat direkayasadengan membuat contour drain untuk mengarahkan aliran ke kolam pompa.Tiga sub-DTA dengan total luasan 56Ha perlu dibuat kolam sebagai syaratsebelum memulai pemboran dan aktivitas penambangan. Pilihannya apakah semua dijadikan sebagai titik penaatan atau bukan? Bila dibuat menjadi kolam titik penaatan, aliran air harus patuh dari ambang baku pH, TSS, Fe dan Mn. Kru water reatment harus tersedia di 3 kolam selama 24 jam. Sedangkan jika tanpa titik penaatan, aliran air harus dibendung kemudian dipompa ke titik penaatan terdekat. Dua pilihan ini harus dipertimbangkan secara tepat, cepat dan hemat.Atas dasar diatas, infrastruktur untuk mengelola air di Pit PSE diputuskandibuat 3 kolam namun tidak dijadikan sebagai titik penaatan. Semua kolamdilengkapi dengan pompa, karena tidak diijinkan sama sekali untuk mengalirkanair ke hilir. Kolam ini sebagai wadah untuk mengumpulkan air dari sub-DTA.Ketika terjadi hujan, kolam akan terisi dari aliran run off. Di elevasi tertentu pompa harus dihidupkan, air diarahkan ke klaster Megaria sebagai kolam penaatan. Dari hasil perhitungan kolam 1 dan 2 harus disediakan minimal pompa berkapasitas masing-masing 0,1m3/s dan kolam 3 berkapasitas 0,2m3/s. Dengan masa layan kolam 3 tahun sampai elevasi batas terluar pit PSE lebih rendah daripada elevasi kolam pompa.
Strategi Investasi Dengan Opsi Beli Atau Sewa Peralatan Pada Pembukaan Tambang Besar Batubesi PT Timah Tbk - Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung M.Muchtar Arifin
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.702 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.2

Abstract

Strategi operasi PT Timah Tbk untuk meningkatkan produksi yaitu membukaTambang Besar (TB) di Pulau Belitung. Tambang Besar diyakini menaikkan nilaitambah yang cukup signifikan. Optimalisasi nilai dilakukan dengan memilih skema investasi beli alat atau menyewa alat dari kontraktor. Pemilihan sewa alat menjadi pilihan terbaik yang mempunyai NPV $ 13,022,000 dengan IRR 43,5% dengan PBP selama 3 tahun. Sedangkan skema pembelian alat mempunyai NPV $ 10,207,000 dengan IRR 26% dengan PBP selama 4 tahun. Penurunan harga timah di bawah 20% dari nilai dasar akan mengakibatkan proyek pembukaan TB Batu Besi dengan skenario membeli alat menjadi tidak menarik, begitu juga jika harga timah di bawah 25% skenario sewa alat menjadi tidak menarik. Peningkatan biaya operasi sebesar 35% dari nilai awal mengakibatkan proyek pembukaan TB Batu Besi baik melalui skenario beli alat ataupun sewa alat menjadi tidak menarik.
DAMPAK UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH: STUDI KASUS PENGALIHAN KEWENANGAN REKLAMASI DAN PASCATAMBANG IUP DALAM RANGKA PMA Dewi Ririn Sihotang; Jajat Sudrajat
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.473 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.20

Abstract

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang PemerintahanDaerah, kewenangan penerbitan Izin Usaha Pertambangan dalam rangkaPenanaman Modal Asing (IUP PMA) dialihkan dari Pemerintah Daerah kepadaPemerintah Pusat. Penerbitan IUP PMA tidak terlepas dari kewajiban penyampaian berkas-berkas terkait aspek perlindungan lingkungan pertambangan. Makalah ini membahas permasalahan-permasalahan yang muncul pada masa pengalihan kewajiban Reklamasi dan Pascatambang IUP dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri (IUP PMDN) yang dahulunya menjadi kewenangan Bupati/Walikota atau Gubernur kepada Direktur Jenderal Mineral dan Batubara atas nama Menteri, sebagai akibat perubahan status menjadi IUP PMA. Pendekatan yang digunakan dalam pemrosesan penyelesaian pengalihan kewajiban tersebut adalah dengan pengelompokan IUP PMA ke dalam kategori/kuadran berdasarkan tingkat kepatuhan terhadap pemenuhan kewajiban yang ada. Kategorisasi IUP PMA tersebut dilanjutkan dengan pola penyelesaian permasalahan administrasi pengalihan yang spesifik untuk tiap kategori/kuadran Pola penyelesaian permasalahan administrasi sebagaimana dijelaskan dalam makalah ini dapat diadopsi oleh Pemerintah Daerah dalam pengalihan IUP kewenangan Bupati/Walikota kepada Gubernur. Pelaku usaha pertambangan juga bisa mendapatkan lessons learned berupa pola penyelesaian permasalahan administrasi yang tengah dihadapi sehingga proses pengalihan dan penyesuaian IUP dapat berlangsung lebih efisien, serta kegiatan usaha pertambangan dapat segera berjalan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada negara, daerah, dan masyarakat sekitar.
Practical Method of Predicting Slope Failure Based on Velocity Value (SLO Method) From Slope Stability Radar Fery Andika Cahyo; Audi Farizka; Ahmad Amiruddin; Rachmat Hamid Musa
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.279 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.14

Abstract

Predicting slope failure is one of the most sought after feature from Slope Stability Radar (SSR). An accurate slope failure prediction will potentially give an ample time to manage risk related with slope stability, wherein the evacuation ofequipment or personal would be executed on a timely manner. The renownedmethod to predict failure among geo-mechanical practitioner is utilizing inversevelocity method, in which collapse will be predicted to happen when the extension of inverse velocity line is intercepted at predefined value that is usually only fractal above zero. The tenet of this method is, if one has acquired the knowledge of inverse velocity value from previous collapses, the next collapse could be predicted based on it with the pretext that both share the same nature and geological feature. The same can be said for predicting collapse based on velocity value. Set of maximum velocity value from several previous collapses will be averaged to determine predefined assumption to predict the next collapse. This paper will demonstrate an alternative method to predict collapse that will use velocity value instead of inverse velocity. This method is called SLO method as proposed by Azania Mufundirwa.This paper will specifically exemplify the practical steps to produce the failureprediction from slope stability radar data, and discuss the characteristic of theprediction yield by this method. Velocity chart with velocity calculation period of60 minutes is first established from particular pixel deemed as the one that showing the most distinguished progressive deformation trend. The velocity data will then be an exported and reprocess as such that the time data will be converted into unit time stamp number. The designated time stamp will then be accumulated, in which the onset of failure, will be regarded as time 0 reference. Log linear chart will be generated in which X-axis will be occupied by velocity value, while Y-axis will depict Velocity x Accumulated time (SLO chart). Collapse can subsequently be predicted by intercepting the predefined assumption of velocity during collapse with the log linear curve from the SLO chart. Two methods, mathematical  graphical, will be presented in this paper in order to give in depth understanding as to how one can predict collapse event with velocity value. Taking account on the study case from iron ore mining, SLO method yielded prediction of failuretime on 10:58 PM 31st January 2016, meanwhile the real failure occur on 11:32 PM 31st January 2016.
PENGARUH JENIS ALTERASI HIDROTERMAL TERHADAP KEKUATAN MASSA BATUAN Wongkar Wongkar; Fernando Mario
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.924 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.31

Abstract

Lereng lokasi penelitian bersifat heterogen sehingga memiliki nilai kekuatanmassa batuan yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh jenis alterasi hidrotermal terhadap kekuatan massa batuan. Nilai sudutgeser dalam merupakan salah satu ciri dari kekuatan suatu massa batuan.Semakin besar nilai sudut geser dalam, maka massa batuan akan cenderung lebih kuat dan stabil ditinjau dari potensi longsorannya. Dalam penelitian ini, nilai sudut geser dalam didapat melalui perangkat lunak roclab yang menggunakan kriteria runtuhan menurut (Hoek and Brown, 2002). Lereng pada lokasi penelitian memiliki 3 nilai sudut geser dalam yang berbeda karena adanyapengaruh alterasi hidrotermal. Nilai untuk alterasi argilic 44°, advanced argilic49°, silicic 55°. Hasil analisis kinematik menggunakan perangkat lunak Dips v5.1menunjukkan alterasi argilic dan advanced argilic lebih berpotensi longsordibandingkan dengan alterasi silicic. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan komposisi mineral tiap jenis alterasi hidrotermal sehingga parameter parameter yang digunakan untuk menghitung nilai sudut geser dalam seperti UCS, GSI, mi value, unit weight menjadi berbeda karena pengaruh alterasi hidrotermal.
PENGAWASAN PENGELOLAAN KESELAMATAN KEGIATAN SLEEP BLASTING PADA TAMBANG TERBUKA MARTABE STUDI KASUS DI PT AGINCOURT RESOURCES Adrianus Adrianus
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.814 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.8

Abstract

Kegiatan peledakan (blasting) salah satu cara yang paling efektif dan efesiendalam teknik pemberaian batuan khususnya di pertambangan emas Martabe oleh karena pentingnya kegiatan peledakan ini maka harus menjaga aspek keselamatan dan keamanan kegiatan peledakan terutama dari aspek sosial dan teknis hal ini berujuan untuk mengurangi terpaparnya jumlah karyawan terhadap kegiatan peledakan, disamping itu juga berdampak mengurangi gangguan lingkungan akibat intensitas peledakan yang rata-rata dilakukan sebanyak 264 kali pertahun, dengan adannya peledakan tidur tersebut disamping waktu peledakan dipindahkan pada sore hari ke waktu istirahat, maka intensitas peledakan juga akan berkurang dengan perkiraan menjadi 132 kali peledakan dalam setahun dari sebelumnya menjadi 264 kali setahun, upaya efisisensi juga dilakukan sebagai dampak dari penurunan harga komoditi yang sangat signifikan pada bulan Desember tahun 2016 harga emas mencapai kisaran terendah yaitu 1.050 USD/Ounce sehingga upaya efisiensi terhadap operational cost serta melakukan upaya peningkatan efektifitas alat dengan mengurangi waktu non produktif, salah satunya adalah waktu yan hilang akibat kegiatan peledakan dengan perkiraan waktu yang hilang akibat kegiatan peledakan sleep blasting mencapai 22 Jam perbulan dimana frekwensi peledakan adalah 22 kali dilakukan setiap bulannya dan dilakukan pada saat jam produktif, dengan dilakuakan sleep blasting dimana peralatan digunakan pada saat istirahat memungkinkan dapat meningkatkan alat pengeboran sebesar 299.287 BCM pertahunnya, alat gali dan alat muat sebesar 242.880 BCM pertahunya alat pengolahan dan peleburan emas sebesar 19.725 ouces pertahunnya dan perak 100.102 ouces pertahunya. Sedangkan dari sisi sosial karena kegiatan pertambangan berdekatan dengan aktivitas masyarakat, maka sleep blasting PT Agincourt Resources mendapat beberapa keluhan dari masyarakat terutama Desa Wek III, Wek IV dan Napa yang berjarak sekitar 2,2 Km dari kegiatan peledakan, berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan dekat dengan desa tersebut hasil pengukuran yang dilakukan sesuai dengan SNI 7570:2010. Apabila kegiatan sleep blasting tidak dikelola dengan baik maka dapat menimbulkan kecelakaan menimbulkan kerugian pada perusahaan bila ditinjau dari aspek biaya, baik berupa direct cost maupun indirect cost , kecelakaan kerja itu bisa terjadidisebabkan oleh 94 tindakan tidak aman(unsafe act) 88%, kondisi tidak aman(unsafe condition)10% dan diluar kemampuan manusia 2%.

Page 2 of 38 | Total Record : 379