cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 379 Documents
PERBANDINGAN ANTARA MODEL BLOK 3D DENGAN ORDINARY KRIGING DAN MODEL 2D DENGAN POLYGONAL UNTUK ESTIMASI SUMBERDAYA TIMAH ALUVIAL DI PULAU BANGKA Anggraini, Olga Padmasari; Heriawan, Mohamad Nur; Hede, Arie Naftali Hawu
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.969 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.34

Abstract

Endapan timah aluvial di Blok I dengan luas sekitar 40 Ha di Pulau Bangka bagian urata merupakan lahan bekas tambang rakyat yang litologinya didominasi oleh tanah bekas (tailing), sisa endapan timah aluvial, dan batuan dasar (kong). Sebaran data secara spasial dan secara statistik dianalisis untuk menguji perilaku data pada setiap periode pemboran (1970-an, 1980-an, dan 2010-an). Pemodelan geologi secara 3D dilakukan dengan perangkat lunak Datamine Studio 3 berdasarkan data pemboran yang selanjutnya dilakukan estimasi kadar dengan metode Ordinary Kriging (OK). Ukuran cell dari proto model 3D yang digunakan adalah 10 m × 10 m × 1 m. Untuk estimasi dengan metode OK, maka dilakukan analisis variogram omnidirectional 3D untuk mendapatkan parameter geostatistik seperti nugget variance, sill, dan range dengan fitting model Spherical. Berdasarkan estimasi dengan metode OK didapatkan sumberdaya terukur timah aluvial sebesar 69 ribu m3 dengan kadar rata-rata 8 kg/m3. Sebagai pembanding, dilakukan pemodelan sumberdaya secara 2D dengan metode Polygonal menggunakan bantuan software AutoCAD 2019 (free trial). Estimasi sumberdaya terukur yang didapatkan berupa bijih timah sebesar 96 ribu m3 dengan kadar rata-rata 13.61 kg/m3.
ANALISA BEBAN KERJA PENGAWAS OPERASIONAL TAMBANG DI MINING OPERATION DIVISION, PT. KALTIM PRIMA COAL Mardiono, Didik
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.277 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.11

Abstract

Berdasarkan surat edaran Kepala Inspektur Tambang pada bulan Juli 2018, datakecelakaan tambang Indonesia menunjukkan bahwa telah terjadi: kecelakaanberakibat fatal (meninggal) 10 orang, cidera berat 38 orang, cidera ringan 38orang. Beberapa penyebab dari kecelakaan tambang ini antara lain kondisi tidakaman karena cuaca, kurangnya pengetahuan karyawan atau pengawas terhadapbahaya dan resiko pekerjaan, kurangnya pengawas dan personil di areal kerja, dan kurangnya kendali manajemen terhadap temuan inspeksi, rasio pengawas, pelatihan pengawas . Salah satu instruksi Kepala Inspektur Tambang adalah pemetaan kembali rasio kebutuhan jumlah pengawas terhadap area kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Divisi Mining Operation yang merupakan salah satu divisi yang bertanggung jawab terhadap operasional tambang di wilayah PT. Kaltim Prima Coal telah melakukan analisa beban kerja pengawas operasional tambang. Beberapa kriteria yang dimasukkan dalam perhitungan analisa beban kerja meliputi:1. Aktifitas Pekerjaan: kriteria ini diukur berdasarkan waktu pengawasan terhadap aktifitas operasi tambang yang dihadapi, dan prosedur-prosedur kerja yang terikat pada pekerjaan tersebut. Kriteria ini mempunyai bobot 22% dari keseluruhan kriteria.2. Jumlah Karyawan/bawahan langsung: Berapa banyak jumlah karyawan atau operator yang secara administrasi dibawah tanggung jawab seorang pengawas. Semakin banyak jumlah karyawan yang menjadi tanggung jawabnya maka semakin besar bobot kerjanya. Kriteria ini mempunyai bobot 16% dari keseluruhan kriteria.3. Jumlah alat yang diawasi: pengukurannya didasarkan pada jumlah alat beroperasi di wilayah/area kerja yang menjadi tanggung jawabnya, seperti alat gali, alat kut, dozer, dll. Bobot kriteria ini adalah 14%.4. Luasan area kerja: Diukur berdasarkan radius kerja, semakin luas area kerja yang menjadi tanggung jawabnya maka semakin tinggi beban kerja seorang pengawas. Bobot kriteria untuk luasan area kerja adalah 14%.5. Fungsi koordinasi: Dalam menjalankan pekerjaannya, seorang pengawas pasti berkoordinasi dengan pihak-pihak luar departemen yang berhubungan dengan pekerjaannya. Semakin banyak fungsi koordinasi maka beban kerja pengawas juga semakin tinggi. Bobot kriteria ini adalah 14%.6. Indikator unjuk kerja: Setiap pengawas yang bertanggung jawab dimasing-masing area kerja mempunyai beban tanggung jawab untuk memastikan indicator unjuk kerja terutama alat tambang bisa tercapai. Semakin banyak indicator unjuk kerja makaka semakin besar beban kerjanya. Kriteria ini mempunyai bobot 20%.Analisa beban kerja pengawas operasional tambang dilakukan pada pengawas yang bertanggung jawab pada area: Loading point, Dumping point, Road, Project, Drill, dll. Dari hasil analisa didapat bahwa beberapa posisi pengawas operasional mempunyai beban kerja yang tinggi, sehingga direkomendasikan menambah pengawas operasi agar beban kerjanya bisa berkurang dan fokus pengawasan terhadap keselamatan kerja bisa meningkat.
PENGARUH DATA NON-STATIONER TERHADAP APLIKASI GEOSTATISTIKA DALAM KEGIATAN ESTIMASI DENGAN METODA ORDINARY KRIGING Permatasari, Claudia Intan; Marwanza, Irfan; Nas, Chairul
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2018: Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.349 KB) | DOI: 10.36986/ptptp.v0i0.28

Abstract

Geostatistik adalah teknik interpolasi dalam statistika yang memperhitungkan hubungan spatial antar data. Lingkup data yang digunakan dalam geostatistik dapat berupa data stationer dan non-stationer. Secara umum, sebagian besar penelitian melakukan estimasi terhadap data yang bersifat stationer dan cenderung menghasilkan estimasi yang baik. Dalam penelitian ini akan dilakukan kegiatan estimasi dengan metoda kriging terhadap nilai kohesi (c) batulempung yang memiliki sifat non-stationer. Ketidakstationeran data dipengaruhi oleh tingginya variabilitas data yang dihasilkan dari sari numerik kohesi (c) batulempung. Ketidakstationeran data dibuktikan dalam hasil statistik spatial yang digambarkan dari hasil variogram ekperimental yang berfluktuasi dan cenderung tidak stabil. Error yang dihasilkan dalam %MAPE terhadap nilai aktual dan nilai estimasi pada kohesi (c) batulempung cukup besar dalam berbagai jarak estimasi yaitu90-100%. Besarnya error yang dihasilkan mempengaruhi optimasi kriging dalam kegiatan interpolasi data. Hasil estimasi kriging kohesi (c) batulempung menunjukkan interpolasi yang dilakukan kriging tidak mampu mengidentifikasi variabilitas data yang dimiliki sehingga hasil estimasi hanya berada pada nilai rata-rata kohesi (c) batulempung
BEST PRACTICES : KAJIAN EFEKTIFITAS PENERAPAN STAKEHOLDERS MAPPING SEBAGAI SISTEM PENCEGAHAN DINI TERJADINYA KONFLIK SOSIAL DI PERTAMBANGAN EMAS PT BUMI SUKSESINDO Muhamad Zambani; Makinudin Marniadi; Budi Nuraini; Tri Sakti Kurniawan
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.87

Abstract

ABSTRAK Pada bulan November 2015 PT Bumi Suksesindo mengalami pembakaran beberapa fasilitas perusahaan oleh aksi masa tolak tambang yang mengakibatkan beberapa fasilitas milik perusahaan rusak parah, mulai dari gudang mesin diesel, genset serta gudang peralatan. Belajar dari pengalaman itu, maka diperlukan sistem pencegahan konflik secara dini agar tidak terjadi lagi kasus yang serupa. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas stakeholders mapping sebagai upaya pencegahan dini terjadinya konflik sosial di pertambangan emas PT Bumi Suksesindo.  Kajian yang telah dilakukan dengan cara pengelompokkan stakeholders berdasarkan internal dan eksternal, ketergantungan stakeholder dengan perusahaan, power dan interest stakeholder, serta posisi stratejik stakeholder maka dapat diketahui bagaimana strategi dan teknik mengelola stakeholders tersebut sehingga tidak berlanjut kepada aksi masa yang lebih besar yang dapat merugikan baik perusahaan maupun pemerintah. Dari analisis terebut diketahui stakeholder kunci yang perlu mendapat perhatian utama dalam pencegahan dini terjadinya konflik adalah kelompok tolak tambang, kelompok “preman jalan” jalur logistic, dan kelompok tapak tambang (kelompok paling dekat dengan operasional tambang).  Pengelolaan hubungan stakeholders dengan yang cara yang tepat selain dapat mencegah terjadinya konflik juga dapat mengenali potensi dan aspirasi stakeholders yang dapat membuka peluang untuk mengembangkan kesejahteraan masyarakat sebagai sebagai prasyarat utama untuk menjamin keberlanjutan perusahaan. Kata Kunci: PT Bumi Suksesindo, stakehoders mapping, sistem pencegahan konflik,  konflik sosial  ABSTRACT In November 2015 PT Bumi Suksesindo experienced the burning of a number of company facilities by the anti-mining group action which resulted in severely damaged company-owned facilities such as diesel engine warehouses, generator sets and equipment warehouses. The lesson learned community relation team really need an early conflict prevention system is needed so that similar cases do not occur again. This study aims to determine the effectiveness of stakeholder mapping as an effort to prevent early social conflicts in the PT Bumi Suksesindo gold mine. The study has been conducted by grouping stakeholders analysis based on internal and external, dependence of stakeholders with the company, stakeholders' power and interests, as well as the strategic position of stakeholders so it can be seen how the strategies and techniques of managing these stakeholders so that it does not continue to greater mass actions and harm both the company and government. From this analysis, it is known that the key stakeholders that need to be given the main attention in the early prevention of conflict are the anti-mining group, the logistical road group, and the community around mining group. Management of stakeholder relations in the right way in addition to preventing conflict can also recognize the potential and aspirations of stakeholders so that it even opens opportunities to develop community welfare as the main prerequisite for ensuring the sustainability of the company. Keywords: PT Bumi Suksesindo, stakeholder mapping, conflict prevention systems, social conflict. 
PENIMBUNAN MATERIAL LUMPUR CAIR DENGAN MENGGUNAKAN METODE SLIDING PAD Siswo Afrianto; Chairul Nur Azmi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.103

Abstract

ABSTRAK Material lumpur dalam area penambangan merupakan material khusus yang perlu penanganan tertentu dalam proses pengangkutan dan penimbunannya di area disposal. Pada umumnya, material lumpur dapat dibedakan menjadi dua, yaitu lumpur original atau lumpur rawa yang sudah terbentuk sebelum aktifitas penambangan dilakukan dan lumpur sedimentasi hasil erosi material insitu maupun material di disposal. Lumpur sedimentasi memiliki karakteristik lebih cair dibandingkan dengan lumpur rawa. Hal ini disebabkan karena pada umumnya material lumpur cair terbentuk pada area sump atau titik terendah pit yang tergenang dengan waktu yang cukup lama. Pada proses pengangkutannya, material lumpur cair dapat diangkut menggunakan unit truk dengan menggunakan vessel khusus untuk menjaga agar muatannya tidak tumpah. Material kemudian diangkut menuju area disposal yang sudah dilakukan kajian terkait aspek geoteknik, untuk menjaga kestabilan lereng tetap terjaga. Pada proses penimbunan material lumpur sedimentasi, unit truk tidak diperkenankan melakukan penimbunan bebas di bibir lereng disposal. Hal ini dikarenakan terdapat potensi ketidakstabilan lereng, sehingga diperlukan jarak aman pada saat melakukan penimbunan. Untuk itu, diperlukan sliding pad (landasan luncur) untuk mengalirkan material lumpur dari jarak aman unit truk ke bibir disposal. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan viskositas lumpur cair sedimentasi. Melihat penimbunan material lumpur cair di disposal memerlukan penanganan khusus, maka makalah ini disusun guna menjelaskan metode penimbunan lumpur sedimentasi di area disposal dengan mempertimbangan aspek teknis, produktifitas, serta aspek keselamatan. Kata kunci : lumpur sedimentasi, disposal, penimbunan  ABSTRACT Mud material in the mining area is a special material that needs certain handling in the process of transporting and storing it at the disposal area. In general, mud material can be divided into two, namely original mud or swamp mud that has been formed before mining activities are carried out and sedimentation sludge as a result of erosion of internal material and material at disposal. Sedimentation mud has more fluid characteristics compared to swamp mud. This is because in general the sludge material is formed in the sump area or the lowest point of the inundated pit with a considerable amount of time. In the transport process, liquid mud material can be transported using a truck unit using a special vessel to keep the load from spilling. The material is then transported to the disposal area which has been carried out studies related to the Geotechnical aspects, to maintain the stability of the slope to be maintained. In the process of dumping sedimentation mud material, truck units are not permitted to carry out free dump at the crest of the slope. This is because there is a potential for slope instability, so that a safe distance is needed when doing mud dumping. For this reason, a sliding pad is needed to drain the mold material from the truck unit's safe distance to the crest disposal. This can be done by utilizing the viscosity of sedimentary liquid sludge. Seeing the accumulation of liquid mud material at disposal requires special handling, so this paper was prepared to explain the method of sedimentation mud accumulation in the disposal area by considering technical aspects, productivity, and safety aspects.  Keywords : sedimentation mud, disposal, dumping 
SISTEM PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG DARI MATERIAL WASTE DAN APLIKASI MODEL ENKAPSULASI PADA BENDUNGAN TSF DI TAMBANG EMAS MARTABE Latipa Henim; Steven Pearce
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.119

Abstract

ABSTRAK Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, baik berupa sumber daya alam pulih maupun yang tidak pulih. Industri pertambangan adalah salah satu aktivitas yang bergerak dalam  mengolah sumber daya alam yang tidak pulih yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif baik dari sisi sosial, ekonomi maupun lingkungan. Air asam tambang adalah salah satu dampak dari industri pertambangan yang harus ditangani secara serius yang terbentuk akibat reaksi mineral sulfida (pirit) dan logam berat yang terpapar ke media air dan udara yang berasal dari batuan yang terbuka pada saat  aktivitas penambangan berlangsung. Sejak tahun 2013, tambang emas Martabe telah menerapkan manajemen air asam tambang (AAT) dalam konstruksi bendungan TSF dengan enkapsulasi sederhana yang dirancang dengan dua kategori utama batuan PAF (Potential Acid Forming) dan NAF (Non Acid Forming) sebagai bagian dari material tanggul TSF konstruksi hilir dan juga mengembangkan basis data karakteristik geokimia material waste di lokasi tambang emas Martabe. NAPP (Net Acid Production Potential) adalah metode standar industri yang digunakan untuk menentukan potensi untuk mengoksidasi dan menghasilkan bahan limbah asam, yang nantinya akan ditempatkan di bendungan TSF dengan metode enkapsulasi. Metode ini bertujuan untuk membungkus material sulfida beresiko tinggi yang sedang di tambang di Martabe dengan lapisan penyegel (sealing layer) dengan mengambil keuntungan dari iklim (curah hujan yang tinggi) dan sifat material ROM (run of mine). Konstruksi lapisan penyegelan dan penjadwalan material waste dilakukan dengan pengembangan strategi operasional pengelolaan limbah yang terperinci dan terintegrasi. Monitoring rutin dengan instrument WRSF (Waste Rock Storage Facility) untuk pengukuran oksigen dan juga dari pengukuran kualitas air menunjukkan kalau enkapsulasi material waste pada embakment TSF berhasil mencegah pembentukan air asam tambang. Kata kunci: material waste, air asam tambang, naf, paf, bendungan tailing, model enkapsulasi  ABSTRACT Indonesia is a country that is rich in natural resources, both in renewable and non-renewable. The mining industry is one of the activities that is engaged in processing non-renewable natural resources that can have positive and negative impacts both in terms of social, economic and environmental aspects. Acid mine drainage is one of the impacts of the mining industry which must be dealt with seriously which is formed due to the reaction of sulfide minerals (pyrite) and heavy metals which is exposed with water and air from rocks during mining activities.Since 2013, the Martabe gold mine has implemented mine acid drainage management (AMD) in TSF dam construction with simple encapsulation designed, with two main categories of PAF (Potential Acid Forming) and NAF (Non Acid Forming) rocks as part of construction TSF embankment material downstream and also develop the geochemical characteristics database of waste material at the Martabe gold mine site. NAPP (Net Acid Production Potential) value is an industry standard method to determine the potential to oxidize and produce acid waste materials, which will be placed in the TSF dam by encapsulation model. This method aims to wrap the high risk sulfide material in a mine at Martabe sealing layer to take advantage of both the climate (high rai fall) and material properties of run of mine (ROM). The construction of sealing layer and scheduling of waste is made possible by the development a detailed and integrated operational waste management strategy. Routine monitoring with the WRSF (Waste Rock Storage Facility) instrument for measuring oxygen and also from measurements of water quality shows that the encapsulation of waste material in TSF embankments successfully prevents the formation of acid mine drainage.  Key words: waste materials, acid mine drainage, naf, paf, tailing storage facility, encapsulation model 
ANALISIS METODE PENGGALIAN PADA MATERIAL LUNAK DENGAN MENGGUNAKAN PC 2000 HINGGA PC 4000 DI TAMBANG LATI, PT BERAU COAL Welly Turupadang; Ichsan Sebastian; Nur Alim K; Bagus Rachmad; Komang Yogatama
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.54

Abstract

ABSTRAK  Tambang Lati merupakan bukaan pit terbesar yang dioperasikan oleh PT Berau Coal (PT BC) dengan target produksi batubara pada tahun 2019 sebesar 14,2 juta Metrik Ton (M/T) dan Stripping Ratio (SR) 12,5. Untuk memenuhi target produksi tersebut, maka diperlukan pengembangan lokasi baru dengan total luas bukaan sekitar 187 ha. Distribusi luasan tersebut meliputi 61% atau sekitar 114 ha merupakan area pengembangan pit berupa material  lunak / rawa dengan estimasi volume yang harus dipindahkan sekitar 14 juta Bank Cubic Meter (BCM), sedangkan sisanya merupakan morfologi area perbukitan gelombang rendah – sedang, hal ini dicirikan adanya dataran luas dengan perbukitan di sekitarnya. Ketersediaan alat gali dan muat yang besar (PC 2000 – PC 4000) di Lati mengakibatkan jumlah material untuk kebutuhan timbunan perlapisan jalan maupun front loading di area rawa (layering) yang digunakan menjadi lebih besar dari perencanaan awal. Hal ini mempengaruhi Stripping Ratio  (SR) yang sangat signifikan dan tingkat keekonomisan Tambang Lati PT Berau Coal. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan data material insitu (tanah lunak / rawa) yang diperoleh dari hasil pemboran Standard Penetration Test (SPT). Penampang atau profil material lunak/ rawa dapat dikelompokkan berdasarkan data hasil pemboran ini, sehingga diperoleh distribusi penyebarannya dan dapat ditentukan secara vertikal maupun horizontal. Distribusi data penampang atau profil material lunak/rawa digunakan pada analisis geoteknik yang dikombinasikan terhadap aspek keselamatan dan operasional dari unit yang digunakan serta dilakukan percobaan langsung di lapangan selama 2 bulan pada lokasi yang acak. Penelitian ini mengevaluasi tingkat kestabilan lereng material lunak/endapan rawa, optimalisasi metode penggalian serta  layering  sehingga dapat mengakomodasi berbagai kepentingan, khususnya aspek keselamatan dan keekonomisan tambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loading material lunak / rawa yang mengkombinasikan hasil kajian geoteknik dan aspek operasional dapat bersinergi sehingga operasional penambangan dapat dilakukan secara aman, efisien dan ekonomis dengan menggunakan alat besar (PC2000 – PC4000) yang tersedia di Lati Mine Operation. Kata kunci : Tambang Lati, Tanah Lunak, Rawa, PT Berau Coal, Stripping Ratio, Standard Penetration Test, Loading rawa, PC 2000, PC 2500, PC 3600 dan PC 4000.  ABSTRACT Lati Mine Operation is the largest open-pit mining operated by PT Berau Coal (PT BC) with a coal production target in 2019 of 14.2 million Metric Tons (M / T) and Stripping Ratio (SR) 12.5. To meet the production target, it is necessary to develop a new location with a total open-pit area of around 187 ha. 61% or around 114 ha of the area are development zones consisting of 14 million Bank Cubic Meters (BCM) of soft materials, while the rest is the morphology of low-moderate hills, this is characterized by a vast plain surrounded by hills. The availability of large excavator and hauler equipment (PC 2000 - PC 4000) to move the overburden materials causes the amount of material for layering needs exceeds the initial plan. This condition will affect Stripping Ratio (SR), which has a significant effect on the economic level of Lati Mine. An evaluation is carried out using insitu data (soft materials) obtained from the results of the Standard Penetration Test (SPT) drilling. Cross section of the soft materials can be grouped by drilling data, so that distribution is obtained and can be vertically or horizontally determined at the Lati mine site. Cross-sectional or soft materials profiles data distribution are then used in the geotechnical analysis combined with the safety and operational aspects of the used-units which had field trial for 1 month at many random locations. This study evaluated the stability of soft materials and the optimization of digging and layering methods so that it can accommodate various interests, especially the mining safety and economic aspects. The results show that soft materials loading which combines the results of geotechnical studies and operational aspects can synergize so that mining operations can be carried out safely, efficiently and economically by large equipment available in Lati Mine Operation. Keywords : Lati Mine Operation, Soft Material, PT Berau Coal, Stripping Ratio, Standard Penetration Test, Soft Material Loading, PC 2000, PC 2500, PC 3600 and PC 4000.
HAUL ROAD CONDITION MONITORING USING SENSORS AND GNSS DATA Muhammad Ardian; Sahala Ruben A.; Reza Ardhianto
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.73

Abstract

ABSTRAK Salah satu faktor agar mendapatkan performa alat angkut yang baik adalah dengan kondisi jalan angkut yang baik. Oleh karena itu, perlu diantisipasi dengan cara melakukan rekayasa engineering terhadap hal yang berpotensi menimbulkan kondisi jalan yang tidak baik. Dalam pembuatan prototype aplikasi ini digunakan data sensor strut pressure data GNSS (Global Navigation Satellite System) sebagai teknologi untuk melakukan pengawasan terhadap kondisi jalan. Penggunaan sistem pengawasan jalan tambang menggunakan data sensor strut pressure dan data GNSS diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas efektivitas dalam pengambilan keputusan terkait dengan kegiatan pengawasan dan pemeliharaan kondisi jalan angkut di area tambang Pit Batu Hijau. Kata Kunci : Jalan Angkut, Fleet Management System, Sensor Strut Pressure, Global Navigation Satellite System, Analisa Data Geospasial  ABSTRACT One of factor to get the good performed of  hauling equipment is good condition of hauling road. Because of this, need to be prevent with engineering method about the things that potential can impact the poor haul road condition. The simulation was performed with using sensor and GNSS (Global Navigation Satellite System) Data as a technology about monitoring haul road condition. Utilizing haul road monitoring system using data sensor and GNSS expect can help to improve the productivity effectivity for interpretation the good decision about monitoring activity and maintain Haul road condition at Pit Batu Hijau.Key Words : Haul Road, Fleet Management System, Sensor Strut Pressure, Global Navigation Satellite System, Geospatial Data Analyst
PENGELOLAAN BATUAN REAKTIF (REACTIVE GROUND) DALAM KEGIATAN PELEDAKAN PADA TAMBANG TERBUKA UNTUK PENINGKATAN KESELAMATAN PERTAMBANGAN Slamet Rachman Jaka; Agung Wibowo; Fajerin Dinata
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.82

Abstract

ABSTRAK PT.Multi Nitrotama Kimia merupakan salahsatu perusahaan jasa pertambangan yang bergerak pada bidang penyedia jasa peledakan dan penjualan bahan peledak terbesar di Indonesia yang bekerjasama dengan banyak perusahaan tambang besar dan terkenal di Indonesia. PT.Adaro Indonesia merupakan salahsatu kostumer dari PT.Multi Nitrotama Kimia yang memiliki indikasi adanya terdapat kondisi batuan reaktif di area operasional penambangannya. Kondisi batuan reaktif ini merupakan suatu kondisi dimana adanya perubahan temperature batuan akibat adanya konten mineral tertentu dalam batuan yang bereaksi dengan Ammonium Nitrate. Jika, kondisi ini tidak diperhatikan, maka berpotensi menimbulkan kondisi tidak aman berupa, peledakan dini. Penelitian dan percobaan dilakukan untuk pemetaan terhadap gambaran kondisi batuan reaktif di beberapa Pit untuk kemudian dimasukkan kepada proses analisa laboratorium untuk mengetahui kondisi reaktif batuan. Uji laboratorium yang dilakukan adalah isothermal test dan mineral content test dengan tujuan mengetahui kondisi reakifitas batuan. Sehingga control dan kelola dalam tindakan preventif bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya peledakan dini. Dengan tingkat ketelitian dan akurasi dalam uji laboratorium yang dilakukan terkait kondisi batuan reaktif, lokasi Pit yang memiliki kondisi batuan reaktif bisa teridentifikasi. Pada lokasi Pit yang positif memiliki kondisi batuan reaktif, PT Multi Nitrotama Kimia memberikan tindakan preventif  dalam campuran bahan peledak inhibitor dan berhasil membuat kondisi batuan reaktif di PT Adaro Indonesia terkelola dan terkontrol dengan baik. Kata Kunci : Batuan Reaktif, Ammonium Nitrate, Peledakan  ABSTRACT PT. Multi Nitrotama Kimia is one of the big mining services company in Indonesia with explosive supply and blasting services as the main business. PT. Adaro Indonesia is one of their customer’s with reactive ground potential problem in field situation. Reactive ground is situation were the ground has an exothermic reaction if mixed with Ammonium Nitrate. This situation getting worst to be premature blasting condition if there is no control of that situation. Researches had been develop to do mapping reactive ground situation at the Pits and get sample to do reactive ground laboratory test. These laboratory tests are held to get preventive action for reactive ground control. With high accuracy from laboratory test and sampling process, all of reactive ground spot in operational area been mapped. Every single location with reactive ground situation has a special treatment, which using an inhibitor bulk explosives and successes to control safety issues related reactive ground situation.    Keyword : Reactive Ground, Ammonium Nitrate, Blasting
REKAYASA GEOTEKNIK UNTUK PENANGANAN SQUEEZING FAILURE DAN PENEMBUSAN AREA AMBRUKAN 1 Bagaskara Widi Nugroho; Suparjono Suparjono; Ryan Pratama
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.98

Abstract

ABSTRAKTambang emas bawah tanah UBPE Pongkor terletak di Kawasan Bayah Dome, Jawa Barat, dengan tipe endapan vein system. Sistem penambangan dilakukan dengan system cut and fill dimana upaya penembusan bijih dilakukan dengan drifting. Salah satu tambang yang memiliki kadar tinggi yaitu di area Tambang Ciurug L600 bagian Central dimana batuan di daerah tersebut memilki karakter high altered dan very weak rock strength sehingga mudah runtuh dan berpotensi untuk squeezing. Area XC 662 merupakan salah satu front yang memilki kadar Au tinggi, namun kondisi batuan yang lunak selalu menjadi permasalahannya. Dalam artikel ini akan dibahas dua cara penanganan front yang sudah dilakukan tim Geoteknik UBPE Pongkor. Kasus pertama pada XC 662 yaitu penanganan geoteknik pada batuan lemah teralterasi argilik kuat dengan tipe runtuhan squeezing failure menggunakan pendekatan Convergent Confinement. Kasus kedua pada XC 662.1 yaitu upaya penembusan pada material ambrukan (rubble material) pada heading yang sudah ditinggalkan kemudian dilakukan penembusan kembali menggunakan pendekatan teknis sederhana yang direncanakan dengan matang dan aman (Professional Judgement, Safe, and Well-Planned Method). Kasus di kedua heading ini memiliki persamaan yaitu stand-up time yang sedikit sehingga potensi delay produksi menjadi pertimbangan. Berdasarkan hasil analisis, ground support di XC 662 menggunakan kombinasi antara shotcrete setebal 15 cm dan cable bolt spasi 1,5 x 1,5 m. Maximum support pressure yang dihasilkan sebesar 2,90 MPa untuk menahan tegangan sebesar 2,16 MPa dengan nilai FS = 1,34. Ground support pada XC 662.1 menggunakan shotcrete yang diaplikasikan secara in-cycle setiap aktivitas penggalian material ambrukan, forepolling pipa spilling 6 m, batang bor, dan bantalan kayu stapling. Pemasangan pipa spilling dan batang bor dilakukan dengan spasi 20-30 cm. Bantalan kayu stapling dipasang di bagian atas forepolling untuk menghindari kontak langsung antara material ambrukan dengan pipa spilling dan batang bor. Desain ground support ini berfungsi baik untuk meningkatkan nilai kohesi pada material ambrukan dan memperpanjang stand-up time. Dari kedua kasus ini diambil kesimpulan bahwa penanganan geoteknik pada heading dengan kondisi very weak rock strength dan high altered harus dilakukan secara in-cycle dan tidak membiarkan span terlalu lama berdiri tanpa penyanggaan.Kata kunci : Cut and fill ; squeezing failure ; material ambrukan ; Convergent Confinement ; Professional JudgementABSTRACTUBPE Pongkor underground gold mine was placed at physiography of Bayah Dome, West Java, which is have vein system gold deposit. It using cut and fill mining system which using drifting mechanism for getting the ore. One of the highest grade mine location was at Ciurug L 600 Central area which have high altered and very weak rock strength characteristics so that easy to failure and have squeezing potential. XC 662 area was the other highest Au grade mine, but have the problem with the rock mass condition. This article will explain two ways about how to solve its problem which is UBPE Pongkor Geotechnical team was did it. First case at XC 662 was the engineering of squeezing failure which has very weak rock-high argillic altered by Convergent Confinement approachment. The second was placed at XC 662.1 is the engineering of rubble material support at the abandoned heading with the Professional Judgement, Safe, and Well-Planned Method approachment. This two headings have low stand-up time so that potential to making production delay. Based on analysis, the ground support of XC 662 using 15cm shotcrete and 1,5x1,5 m cable bolt so that making the maximum support pressure are 2,90 MPa to supporting 2,16 MPa pressure with FS = 1,34. The ground support of XC 662.1 using in-cycle shotcrete after mucking activities, 6m-spilling pipe forepolling, drilling rod, and wood stapling. The forepolling pipe applied with 20-30 cm spacing. Stapling wood applied above the forepolling to prevent the rubble material and spilling pipe-drilling rod contact. Its Ground support design was well-function to improved the rubble material cohesion and increase the stand-up time. The conclusion of this cases are geotechnical engineering design at very weak rock strength-high altered heading should be applied the in-cycle shotcrete and didn’t abandon the front without support for the long time.Key words : Cut and fill ; squeezing failure ; rubble material ; Convergent Confinement ; Professional Judgement

Page 4 of 38 | Total Record : 379