cover
Contact Name
Widia Ardias
Contact Email
wee2d.ardias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltajdid@uinib.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid
ISSN : 14102617     EISSN : 2685466X     DOI : -
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, sebagai media informasi dan forum pembahasan kajian tentang ilmu ushuluddin yang terkait dalam empat aspek bidang keilmuan yakni, Aqidah dan Filsafat Islam, Studi Agama-Agama, Ilmu Al-quran dan Tafsir (Tafsir Hadis), Psikologi Islam. Majalah ini berisi kumpulan tulisan ringkas hasil penelitian, hipotesa, survey dan karya akademik lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 1 (2013)" : 11 Documents clear
DIMENSI PENGALAMAN BERAGAMA Ahmad, Sulthan
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.87

Abstract

Inti pengalaman keagamaan adalah penyaksian terhadap perkara-perkara yang ghaib. Manusia dalam menjalankan agamanya adakalanya dihinggapi kesadaran akan hadirnya suasana kudus, sacred yang sulit untuk dilukiskan dengan bahasa manusia. Para ahli mencoba memahami hakekat terdalam dari fenomena ini, namun mereka kehabisan kosa kata untuk bisa mewakili semua penyaksian itu. Jangankan peneliti, orang yang mengalami itu sendiri tidak bisa menggambarkan dengan jelas dan sempurna melalui bahasa apapun apa-apa yang telah disaksikannya sendiri.
NEOMODERNISME VERSUS NEOTRADIONALISME; FENOMENA KAUM MUDO DAN KAUM TUO PADA AWAL ABAD 20 DI RANAH MINANG Ashadi, Andri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.82

Abstract

Kaum Mudo , sebagai kelompok modernis tampak inklusif terhadap nilai-nilai modern Belanda misalnya dalam hal pendidikan, namun sangat anti pada kolonialismenya. Sementara Kaum Tuo, resisten terhadap pembaharuan dan modernitas—mengharamkan pakai dasi dan jas—justru kurang resisten terhadap penjajah Belanda. Apakah sikap ambivalen tersebut, hanya sebagai respon terhadap kehadiran Belanda sebagai satu-satunya kekuatan politik, atau merupakan sebuah dialektika. Apakah sikap tersebut hanya sebagai sikap politik atau sekaligus sikap keagamaan? Artikel ini menguji dan mengelaborasi asumsi tersebut dengan menggunakan pendekatan sejarah..
ISLAM AND MINANGKABAU CUSTOM IN HAMKA’S VIEW: PAUL RICOEUR’S HERMENEUTIC PERSPECTIVE Widia Fithri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.93

Abstract

Islam dan adat Minangkabau menurut Hamka memilikihubungan dialektika yang saling menguatkan. Keduanya, kendatimemiliki watak dan berasal dari sumber yang berbeda, tumbuhdan hibup dalam kultur Minangkabau. Kekuatan kedua entitatasini menjadi fondasi bagi kemajuan masyarakat Minangkabau.Akan tetapi, memang tidak bisa diabaikan bahwa kedua unsur inimemiliki potensi untuk menimbulkan konflik. Dalam konteks ini,menjadi sangat penting untuk menggunakan pendekatanhermenetik yang diperkenalkan oleh Paul Ricoeur. Pendekatan inimemungkinkan kedua unsur ini menjadi kekuatan pendorongkemajuan masyarakat modern.
LIMA PERSOALAN AKAL MENURUT MUHAMMAD ABDUH BERDASARKAN BUKU HASYIAH Eka Putra Wirman
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.83

Abstract

Di antara pendapat krusial Muhammad Abduh tentang teologi dalam bukunya Hasyiah adalah, Manusia wajib menganalisis keberadaan Allah dan alam semesta berdasarkan nash dan ijtima‟ ulama. Namun akal tidak punya otoritas mewajibkan manusia mengetahui Tuhan dan menentukan baik dan buruk, halal dan haram, kewajiban berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Semuanya itu adalah otoritas wahyu bukan akal. Akal tidak boleh memberikan kewajiban kepada Allah untuk memelihara kemaslahatan manusia. Tidak ada kewajiban Allah untuk menjga kemaslahatan manusia seperti menciptakan kehidupan bagi orang kafir yang memilih telah kafir.
HARUN NASUTION (Sebuah Biografi Intelektual) Amin, Saidul
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.158

Abstract

Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia lazimnya dilakukan oleh organisasi, sepertiMuhammadiyah, NU, Persis, al-Irsyad dan lainnya. Bisa juga melalui kelompok tertentu, sepertiGerakan Kaum Muda di Minangkabau. Namun Harun Nasution tampil berbeda. Dia mampumelukis, mewarnai dan memberi corak baru dalam kanvas perubahan dan pembaharuan pemikiranIslam di Indonesia. Tampil tanpa organisasi dan kelompok namun mampu melahirkan nuansa baruyang signifikan. Siapa sesungguhnya Harun Nasution? Tulisan ini mencoba menapaktilasibiografi inteletual tokoh kontroversi ini.
IJTIHAD DI MATA AMEER ALI Zaim Rais
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.94

Abstract

Ijtihad sebagai fondasi kebangkitan dan kemajuan umat Islam jadi terpinggirkan akibat salah paham terhadap spirit ajaran Islam yang dibawa Rasulullah. Menurut Ameer Ali, Ijtihad upaya yang ampuh mewujudkan kebangkitkan Islam kembali. Jika di Eropa Renesans didorong oleh lahirnya gerakan Reformasi, dengan menyingkirkannya belenggu Ecclesiastisisme, maka dalam Islam, pembaharuan (reform) harus didahului oleh gerakan pencerahan (enlightenment). Untuk mewujudkan berperannya kembali ijtihad harus dilakukan dua hal; Pertama, membebaskan umat dari belenggu pemahaman literal terhadap sumber-sumber pokok ajaran Islam. Kedua, membebaskan umat dari doktrin „keseragaman‟ yang dibentuk oleh forma-lisasi dan institusio-nalisasi paham agama, yang tidak memberi ruang umat memiliki penafsiran yang dapat dipertanggungjawabkan.
ELOK DI AWAK, KATUJU DEK URANG; NILAI MULTIKULTURAL DI MINANGKABAU Faisal Zaini Dahlan
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.84

Abstract

Sumatera Barat yang identik dengan etnis Minang, dikenal sangat menjunjung tinggi adat dan budaya yang berjalin berkelindan dengan ajaran Islam. Adagium Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah menunjukkan dengan jelas kaitan antara adat, budaya, dan agama tersebut. Meski Islam dan etnis Minang mendominasi wilayah ini, tetapi terdapat etnis lain yang sebagiannya beragama non Islam pula. Tetapi mereka hidup dalam keadaan aman dan damai. Hal ini tidak terlepas dari adanya kearifan lokal Minang, elok diawak, katuju diurang.
RAMADHAN STAY: COLLABORATION BETWEEN TRADITION, TOURISM, AND SPIRITUALISM An Exploration of The Local Wisdom in Minangkabau -, Sefriyono
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.85

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan, pada masyarakat pedesaan seperti di Minangkabau, akulturasi Islam dan tradisi lokal terimple-mentasi meskipun tradisi lokal tersebut betentangan dengan Islam—Islam dan tradisi lokal tidak saling mendominasi satu sama lain sebagaimana bisa dilihat dalamMukim Ramadhan yang diperlihatkan oleh Islam pedesaan seperti di Malalo, Sumatera Barat. Dalam rentetan prosesi Mukim Ramadhan ada tiga elemen budaya yang saling menguatkan yakni: tradisilokal, spritualisme, dan wisata.Tradisi lokal bisa dipahami dari sikap-sikap beragama seperti berdo‟a untuk mendapatkan kekuatan fisik, mental, dan kebersihan jiwa sebagai syarat pelaksanaan Mukim Ramadhan yang dilaksanakan di kuburan Tuanku Lima Puluh. Tingginya etos ibadah bisa dipahami dari ungkapan, “bulan di luar ramadhan adalah bulan untuk bekerja, bulan puasa bulan ibadah”. Sementara makna wisata bisa dilihat dari istirahat dari pekerjaan dan menikmati ibadah Ramadhan.
PENDIDIKAN KESEHATAN JASMANI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN -, Hasneli
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.96

Abstract

upaya mewujudkan kesehatan jasmani merupakan keharusan bagi setiap manusia. Manusia yang memiliki fisik yang sehat dan kuat akan dapat menumbuhkembangkan kualitas hidup dan meningkatkan pengabdian kepada Allah dan kepada sesama. Untuk menjadikan jas-mani yang kuat dan sehat dimulai dari memperhatikan makan dan mi-num yang akan dikosumsi, memperhatikan kebersihan badan, pakaian, dan lingkungan, serta mendidik jasmani dengan berolahraga.
PEMBANGUNAN PARIWISATA DALAM PERSPEKTIF ISLAM Shofwan Karim
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/tajdid.v16i1.86

Abstract

Pariwisata sering dianggap banyak oran g sebagai sesuatu yang merusak kehidupan beragama. Pandangan ini dijumpai juga di kalangan banyak oran g Islam. Kebanyakan mereka percaya bahwa Islam mencakup kehidupan di dunia sekarang dan di akhirat kelak. Islam memberi petunjuk dalam berbagai aspek kehidupan manusia yang berhubungan dengan akidah,ibdah, hukum, ilmu pengetahuan dan tek-nologi, budaya, politik, ekonomi dan kehidupan sosial lainnya. Pan dangan yang menganggap pariwisata berbahaya terhadap Islam adalah tidak benar. Meskipun adanya kesalahpahaman di kalangan banyak orang Islam, sangat penting untuk didiskusikan tentang bagaimana pariwisata dapat sejalan dengan prinsip Islam

Page 1 of 2 | Total Record : 11