cover
Contact Name
Moh Cholisatur Rizaq
Contact Email
deskovi@umaha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
deskovi@umaha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
DESKOVI : Art and Design Journal
ISSN : 26545381     EISSN : 2655464X     DOI : -
Core Subject : Art,
DESKOVI : Art and Design Journal is a journal published officially by Universitas Maarif Hasyim Latif. The topics in DESKOVI cover the results of study and creation that can broaden knowledge in the field of art and design in general with a focus on the topic of design processes, design methodology, design development, design history, design discourse, art criticism, art anthropology, art sociology, creative industry and conceptual culture, education and research in the fields of art, performance, product design, interior design and visual communication design.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
PENGARUH KLASTER KERAJINAN ENCENG GONDOK KLINTING TERHADAP SUMBER DAYA MANUSIA SEKITAR RAWA PENING Arfiati Nurul Komariah
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i1.404

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh ketertarikan masyarakat terhadap kerajinan enceng gondok, terutama bagi masyarakat sekitar Rawa Pening, serta guna memberikan wawasan kepada masyarakat umum bahwa enceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gulma itu dapat di eksplorasi dan di eksploitasi menjadi bahan baku kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi. Kemudian dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, melalui pendekatan etnografi sebagai cara untuk menguraikan suatu sistem kelompok sosial dan mempelajari pola perilaku kebiasaan dan cara hidup. Sehingga hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peluang dan pengaruh apa yang dirasakan oleh masyarakat sekitar Rawa Pening, dengan adanya Klaster Kerajinan Enceng Gondok “Klinting”. Karena dari penelitian ini juga dapat diketahui bahwa masyarakat sekitar Rawa Pening dapat menambah penghasilan dan dapat mengurangi adanya dampak buruk dari adanya gulma perairanThis research have purpose to know how far the society toward water hyacinth handicraft especially to Rawa Pening society, and to give a knowledgement to people that water hyacinth all this time known as a weeds could be expoloration and exploitation to be handicraft maertail who have a high value. And then, for other in this research the researcher used qualitative descriptive method, by phenomenological ethnography as mode to analyze social category system and learned behavior pattern of way of living. With the result that from the research was to known the opportunity and the influences of society in Rawa Pening, with this klaster of water hyacinth handycraft “KLINTING”. Therefore, this research was to known that society of Rawa Pening got increased their income and decreased the negative impact of water hyacinth.
TUBUH PEREMPUAN DALAM SENI PERTUNJUKAN STUDY KASUS TARI ANGGUK PUTRI SRIPANGLARAS Risah Mursih
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 1, No 1 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v1i1.278

Abstract

Tari Angguk Sripanglaras dari Kabupaten Kulonprogo merupakan transformasi Angguk putra yang awalnya berfungsi sebagai bagian dari ritual agama, kini berfungsi menjadi hiburan. Perubahan fungsi Angguk sebagai hiburan ditandai dengan perubahan pada pelaku pertunjukan dan bentuk pertunjukan. Dengan ditarikan oleh penari perempuan, Angguk Putri Sripanglaras menjadi sebuah pertunjukan yang populer dan diminati oleh penonton yang didominasi oleh kaum laki-laki. Pendekatan penelitian yang dipilih adalah pendekatan gender. Dari perubahan bentuk pertunjukan, daya tarik Angguk Sripanglaras sangat kuat pada tubuh penari, yaitu tubuh perempuan. Pencitraan secara kultural ditunjukkan melalui tubuh perempuan. Dari pendekatan di atas diperoleh kesimpulan bahwa Angguk berfokus pada tubuh perempuan yang berkaitan langsung dengan inderawi. Penampilan utuh hasil paduan wajah cantik dengan ekspresi penuh senyum, lirikan mata, dengan balutan busana celana pendek ketat (hot-pants) ditambah gerak-gerak kekirig, goyang ngebor, megol, maka lengkaplah sudah bahwa perempuanlah yang membuat ketertarikan para penonton dalam sajian Angguk putri Sripanglaras.Angguk Sripanglaras dance from Kulonprogo is an angguk putra transformation which initially functions as part of religious rituals, now serves as entertainment. Angguk function is changed as entertainment are marked by changes in the performer and the form of the show. By being danced by female dancers, Angguk Putri Sripanglaras became a popular and dominated by male audience. The research approach chosen was a gender approach. From changes in the form of performances, the attraction of Angguk Sripanglaras is very strong on the dancer's body, namely the female body. Cultural imaging is shown through the female body. From the above approach, it can be concluded that Angguk focuses on the female body which is directly related to the senses. The full appearance of the combination of a beautiful face with an expression full of smiles, eye glances, wrapped in tight shorts (hot-pants) plus kekirig movements, ngebor dance, megol, then it's complete that women are the ones who attract the audience in Angguk Putri Sripanglaras.
BENTUK PENYAJIAN TARI KREASI CANGKLAK DI SANGGAR RAMPOE BANDA ACEH Novirela Minang Sari
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i1.408

Abstract

Penelitian ini membahas tentang sebuah karya tari yang diciptakan di Sanggar Rampoe Kota Banda Aceh. Cangklak adalah salah satu tari kreasi yang sudah berkembang, akan tetapi masih mengikat pada pola tradisi. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mendeskripsikan bentuk penyajian dari tari kreasi Cangklak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif guna mendapatkan data-data yang akurat serta memberikan pemahaman terkait dengan bentuk penyajian tari kreasi Cangklak di sanggar Rampoe Banda Aceh. Berdasarkan hasil penelitian terkait dengan bentuk penyajian, tari Cangklak diciptakan pada tahun 2006 oleh Yusri Sulaiman Skm, M. Kes. Tari ini menggunakan iringan musik, seperti rapai, geundrang, seurune kalee. Tari Cangklak adalah sebuah tari yang memvisualisasikan perempuan-perempuan Aceh dengan pesonanya. Gerak tarian yang energik menjadi khas dari tarian ini. Tari Cangklak ditarikan oleh enam orang penari perempuan, jumlah penari tersebut bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang diinginkan atau keadaan pentas yang memiliki ruang besar atau kecil.This research tells about an artwork that created at Sanggar Rampoe Banda Aceh. Cangklak is one of the creation dances has been improved but still based on the traditional dance of Aceh. Therefore researchers are interested in describing the presentation form of Cangklak dance creations. This study uses a qualitative descriptive method to obtain accurate data and provides an understanding related to the form of Cangklak creation dance in the Rampoe studio in Banda Aceh. Based on the results of the study related to the form of presentation, Cangklak dance was created in 2006 by Yusri Sulaiman Skm, M. Kes. This dance uses musical accompaniment, such as rapai, geundrang, seurune kalee. Cangklak dance is a dance that visualizes Acehnese women with their charms. The energetic dance moves are typical of this dance. Cangklak dance is danced by six female dancers, the number of dancers can be adjusted to the desired needs or stage conditions that have large or small spaces.
INGREDIENTS OF RENDANG DALAM PENCIPTAAN KARYA FOOD PHOTOGRAPHY Cindi Adelia Putri Emas
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 1, No 1 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v1i1.289

Abstract

Era globalisasi berdampak positif dan negatif yang membawa perubahan prilaku kehidupan masyarakat, seperti generasi muda lebih memilih makanan cepat saji atau junk food yang berasal dari luar negeri daripada makanan tradisional, khususnya Minangkabau. Fotografi merupakan salah satu media yang dapat digunakan sebagai langkah untuk melestarikan, menjaga, memperkenalkan, dan mempromosikan sebuah objek rempah-rempah yang merupakan bahan dasar dalam masakan Rendang dalam bentuk karya food photography. Jenis fotografi yang digunakan yaitu food photography yang merupakan spesialisasi dari commercial photography bertujuan agar memperlihatkan bahan-bahan masakan atau makanan Rendang agar terlihat menarik yang didukung dengan lighting, komposisi, penataan makanan. Metode penciptaan karya seni ini menggunakan metode konsorsium seni meliputi persiapan, elaborasi, sintesis, realisasi konsep, penyelesaian. Dengan konsep ini diharapkan rempah-rempah dan bahan-bahan dalam masakan Rendang bisa dikenal publik secara luas sehingga menjaga eksistensinya serta tercipta rasa bangga dan ketertarikan terhadap makanan tradisional khusunya Rendang yang menjadi populer di kalangan generasi muda daripada makanan atau masakan luar. Ingredients of Rendang dalam Penciptaan Karya Food Photography ini sebagai langkah awal mendorong fotografer atau pembaca untuk membuat karya food photography dari setiap daerah-daerah yang ada di Indonesia agar makanan atau masakan tradisonal di Indonesia dapat dikenal oleh masyarakat luas.The era of globalization has a positive and negative impact that has brought changes in people's life behavior, as the younger generation prefers fast food or junk food originating from other country rather than traditional foods, especially Minangkabau. Photography is one of the media that can be used as a step to preserve, maintain, introduce and promote an object of seasoning which is the basic ingredient in Rendang cuisine in the food photography. The type of photography used is food photography which is a specialty of commercial photography aimed at showing Rendang food or food ingredients to make it look attractive, supported by lighting, composition, food arrangement. The method of creating this work using the art consortium method includes preparation, elaboration, synthesis, realization of concepts, completion. With this concept, it is expected that spices and ingredients in Rendang cuisine can be known to the public to maintain their existence and create a sense of pride and interest in traditional foods, especially Rendang, which is to be more popular among the younger generation rather than food from other country. Ingredients of Rendang in the Creation of Food Photography Works as a first step encourages photographers or readers to create food photography works from every region in Indonesia so that food or traditional cuisine in Indonesia can be known in all country.
Back Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2 No 1 Juni 2019) Moh Cholisatur Rizaq
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EFEKTIVITAS KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DALAM PEMBELAJARAN SENI MUSIK PADA SMP NEGERI 4 AMBON MALUKU Chrisema Ramayona Latuheru
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i1.405

Abstract

Kurikulum di Indonesia dinilai terlalu kompleks dibandingkan dengan kurikulum yang ada di beberapa negara maju sehingga beban siswa dalam belajar semakin berat. Atas dasar inilah diperlukan KTSP, kurikulum operasional yang dikembangkan dan dilaksankan oleh sekolah. SMP Negeri 4 Ambon merupakan sekolah yang mengembangkan kurikulum sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan sekolah. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah, apa saja kendala dalam pelaksanaan KTSP di SMP Negeri 4 Ambon, bagaimana upaya guru dalam menyelesaikan masalah dalam pelaksanaan KTSP, dan bagaimana upaya guru dalam menyumbangkan pikirannya dalam pelaksanaan pembelajaran musik. Penelitian ini juga dilandasi dengan beberapa teori-teori terdahulu yang telah meneliti efesiensi pembelajaran musik. Proses penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan FGD (Focus Group Discussion) yang diperoleh dari wawancara terbuka dan diskusi terpadu. Hasil penelitian menunjukkan, kendala yang ditemui dalam penerapan KTSP pada pembelajaran seni musik antara lain, kendala siswa dalam mengaransir lagu, guru masih menggunakan ruangan kelas umum pada saat praktek, alat musik yang digunakan belum memadai, alokasi waktu yang masih kurang dan kurangnya tenaga guru. Dalam penerapan KTSP guru berusaha mengatasi kendala-kendala tersebut dengan menyumbangkan pemikirannya melalui solusi-solusi yang diterapkannya, antara lain dengan memudahkan anak mengaransir lagu, melalui lagu sederhana yang diaransirnya dan memanfaatkan waktu diluar jam sekolah untuk menyelesaikan materi yang tertunda.The curriculum in Indonesia is considered too complex compared to other countries so that students in learning is getting harder. On this basis KTSP is needed, an operational curriculum developed and implemented by the school. SMP Negeri 4 Ambon is a school that develops a curriculum in accordance with the characteristics and needs of the school. The problems to be discussed in this study are, what are the obstacles in the implementation of KTSP in SMP Negeri 4 Ambon, how are the efforts of the teacher in solving problems in the implementation of KTSP, and how the teacher attempts to contribute his thoughts in the implementation of music learning. This research is also based on several previous theories that have examined the efficiency of music learning. The process of this research uses qualitative research methods with a case study approach and FGD (Focus Group Discussion) obtained from open interviews and integrated discussions. The results showed that the obstacles encountered in the application of KTSP in the learning of musical arts included the constraints of students in arranging songs, teachers still using public classrooms at the time of practice, inadequate musical instruments, lack of time allocation and lack of teachers. In applying the KTSP the teacher tries to overcome these obstacles by contributing his thoughts through the solutions he applies, among others by making it easier for children to organize songs, through simple songs arranged and utilizing time outside of school hours to complete the delayed material.
MUSIK DALAM UPACARA ADAT POSUO Ilham Watulea
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 1, No 1 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v1i1.282

Abstract

Musik merupakan salah satu aspek penting yang digunakan dalam berbagai upacara keagamaan dan budaya oleh masyarakat seperti upacara kelahiran, pernikahan, kematian dan upacara inisiasi, baik yang bersifat sakral maupun sekuler, termasuk dalam upacara adat posuo (pingitan). Upacara adat posuo yang merupakan sebuah upacara peralihan status dari wanita remaja menuju wanita dewasa pada masyarakat Tolandona-Buton Tengah. Dalam upacara ini, terdapat beberapa instrumen musik perkusi yang digunakan yang disajikan sebagai pengiring berbentuk instrumental yang dilakukan selama proses pelaksanaan upacara berlangsung. Sebagai asumsi awal adalah bahwa musik memiliki makna dan signifikansi dalam upacara ini, baik sebagai pengiring dan pembentuk ataupun pendukung suasana dalam upacara tersebut. Dalam fenomena ini, terdapat dua persoalan yang ingin dikaji yaitu pertama apa makna penyajian musik dalam pelaksanaan upacara adat posuo wolio pada masyarakat Tolandona-Buton Tengah dan kedua mengapa musik dihadirkan dalam upacara adat posuo wolio. Dalam studi ini, penulis menggunakan adalah pendekatan etnomusikologi dan cenderung pada kajian literatur dari beberapa dokumentasi dari foto dan video serta hasil penyelidikan yang pernah dilakukan. Sebagai kesimpulan bahwa musik sebagai cermin dari masyarakat memiliki hubungan dengan perilaku dan kegiatan manusia. Musik yang disajikan dalam suatu upacara keagamaan maupun upacara adat budaya memiliki signifikansi dalam pelaksanaan upacara tersebut baik sebagai pengiring atau pembentuk suasana maupun sebagai bagian dari ritual upacara tersebut. Meskipun dalam menginterpretasikan tidak terlepas dari konteks sosial budaya dan falsafah hidup masyarakat tersebut, artinya ini dapat berbeda pada setiap daerah. Bagaimana musik diperankan oleh kehidupan masyarakat serta bagaimana arti musik bagi satu masyarakat, pemahaman inilah yang mempengaruhi keberadaan dan guna musik bagi masyarakat.Music is one of the important aspects used in various religious and cultural ceremonies by the community such as birth ceremonies, marriages, deaths and initiation ceremonies, both sacred and secular, including in the Posuo (pingitan) traditional ceremony. The Posuo traditional ceremony is a transitional ceremony of status from teenage women to adult women in Tolandona - Central Buton. In this ceremony, there are several percussion musical instruments used which are presented as accompaniments in the form of instrumental performed during the process of conducting the ceremony. As the initial assumption is that music has significance in this ceremony, both as an accompanist and support the atmosphere at the ceremony. In this phenomenon, there are two problems that want to be examined, first, what is the meaning of the presentation of music in the implementation of Posuo Wolio traditional ceremonies in the Tolandona Central Buton and secondly why music is presented in the Posuo Wolio traditional ceremony. In this study, the authors used the ethnomusicology approach and tended to review the literature from some documentation of photos and videos as well as the results of investigations that had been carried out. In conclusion, music as a mirror of society has a relationship with human behavior and activities. Music presented in a religious ceremony or traditional cultural ceremony has significance in the implementation of the ceremony both as an accompanist or forming an atmosphere and as part of the ritual ceremony. Although in interpreting it is inseparable from the socio-cultural context and life philosophy of the community, this means that it can vary in each region. How music is played by people's lives and how music means to one community, this understanding influences the existence and use of music for the community.
KEARIFAN LOKAL SEBAGAI DAYA TARIK WISATA BUDAYA DI DESA SADE KABUPATEN LOMBOK TENGAH Raodatul Hasanah
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i1.409

Abstract

Desa Sade merupakan salah satu desa di Kapupaten Lombok Tengah yang memiliki berbagai kearifan lokal yang tetap dipertahankan sampai saat ini sebagai daya tarik wisata budaya. Kearifan lokal yang terdapat di Desa Sadeterdiri dari Intangible dan Tangible. Metode penelitian ini dilakukan dengan deskriptif kualitatif . Teknik pengumpulan data dilakukann dengan observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi. Kearifan lokal yang terdapat di Desa Sade sebagai daya tarik yaitu bangunan khas suku sasak, tarian Gendang Beleq, tenun, dan Peresean. Desa Sade juga dilengkapi dengan aksesabilitas, amneitas, Ancillaries, dan Community Involvement. Untuk meningkatkan kunjungan wisatwan dilakukan pengembangan tempat dan aktivitas wisata, akomodasi, akses ke tujuan tujuan wisata, sarana pendukung pariwisata, dan juga komunikasi pemasaran pariwisata. Pemasaran pariwisata dilakukan dengan merancang bauran pemasaran, bauran iklan, bauran iklan, dan harga.Sade village is one of the villages in central lombok regency which has various local wisdom that has been maintained to date as a cultural tourism attraction.local wisdom contained in the village of sade consists of tangible and intangible. The research method used is descriptive qualitative.data collection techniques are done by direc observation, interview, and documentation. Local wisdom contained in the village of sade as a cultural tourist attraction is a typical building of sasa tribe, peresean, weaving lombok, gendang beleq dance .sade village is also equipped with accessability, aksesabilitas, amneitas, Ancillaries, and Community Involvement. To increase tourist visits conducted by the development of places and tourism activites, accommodation, access to tourist destinations, tourism support facilities, as well as tourism maeketing communications. Tourism marketiing is done by designing a marketing mix, advertising, and price.
Front Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 1 No 1 Desember 2018) Moh Cholisatur Rizaq
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 1, No 1 (2018): DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PEMBUATAN KREASI LAMPU HIAS DENGAN MEDIA BAMBU DI DESA JANTHO MAKMUR Dedy Afriadi; Saniman Andi Kafri; Hariananda Pratama
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i1.406

Abstract

Jantho merupakan daerah dataran tinggi yang menjadi ibu kota Aceh Besar, kota Jantho menjadi pusat kota dan menjadi pusat administrasi untuk daerah Aceh Besar, meskipun kota Jantho menjadi kota, tetapi kota Jantho masih dominan dengan daerah perhutanan dan perbukitan. Kota Jantho memiliki sumber daya alam yang besar namun belum termanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat dan pemerintah Aceh Besar. Melihat sumber daya alam yang besar menjadi ide dan daya tarik untuk mengolahnya sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah tersebut. Permasalahan yang ada di daerah Jantho adalah kurangnya pembinaan dalam pembuatan kerajinan. Dengan terselenggaranya pengabdian masyarakat diharapkan dapat menambah dan mengembangkan wawasan masyarakat untuk membuat karya yang memiliki nilai jual. Salah satu upaya yang ingin dikembangkan adalah membuat kerajinan lampu hias dengan media bambu, dikarenakan bambu merupakan bahan/ media yang mudah didapatkan di kota ini.Jantho is a highland area that became the capital of Aceh Besar, the city of Jantho became the center of the city and became the administrative center for the Aceh Besar area, even though became a city, but was still dominant with areas of forestry and hills. The city of Jantho has large natural resources but has not been utilized maximally by the community and the government of Aceh Besar. Seeing large natural resources becomes an idea and an attraction to process it so that it can improve the economy of the region. The problem in the Jantho area is the lack of guidance in making crafts. With the implementation of community service, it is expected to be able to add and develop people's insights to create works that have selling value. One effort to be developed is to make decorative lights with bamboo media, because bamboo is a material / medium that is easily available in this city.

Page 2 of 27 | Total Record : 263