cover
Contact Name
Selma Intan Praditya Sari himawan
Contact Email
selma.intan@uai.ac.id
Phone
+6285711856586
Journal Mail Official
lp2m@uai.ac.id
Editorial Address
Kompleks Masjid Agung Al Azhar Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12110
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia
ISSN : 26556277     EISSN : 26568144     DOI : -
Tujuan dari publikasi jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual atau ide dan hasil penelitian yang telah dicapai di bidang layanan masyarakat. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia berfokus pada masalah utama dalam pengembangan ilmu bidang layanan masyarakat.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2019)" : 6 Documents clear
PEMBERDAYAAN SEKOLAH BUDI MULIA BALIKPAPAN MELALUI EDUKASI DAN AKSI PEMBUATAN KOMPOS DENGAN METODE TAKAKURA Muhammad Nurhidayatur Rozikin; Muhammad Kamaluddin; Rachmat Hidayat; Umi Sholikah
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v1i2.340

Abstract

AbstrakSemua proses kehidupan pasti menghasilkan sampah yang jumlahnya akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan beragam aktivitasnya. Sampah merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan masyarakat terutama di daerah Perkotaan khususnya Balikpapan. Menurunnya kualitas lingkungan menjadi permasalahan yang terus membayangi masyarakat. Tercatat dalam Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan pada tahun 2017, indeks pengangkutan sampah ke TPA terus meningkat. Permasalahan akibat kenaikan jumlah penduduk di Kota Balikpapan namun tidak diimbangi dengan kepeduliaan masyarakatnya dalam menjaga lingkungan sekitarnya. Sekolah Budi Mulia Balikpapan menjadi contoh bahwa kualitas lingkungan menjadi polemik yang harus diatasi. Keterbatasan fasilitas, sarana dan pra sarana, serta minimnya perhatian pemerintah. Sehingga menjadikan Sekolah Budi Mulia termasuk dalam kategori kawasan kumuh dengan sistem pengolahan sampah yang buruk. Dalam rangka menyadarkan pentingnya arti menjaga kualitas lingkungan hidup, maka perlu adanya pemahaman melalui program Edukasi dan Aksi pembuatan kompos dengan metode takakura menggunakan bantuan aktivator EM4. Berdasarkan hasil dari program pemberdayaan yang telah dilaksanakan kegiatan ini berhasil memberi pengetahuan kepada siswa di Sekolah Budi Mulia Balikpapan dalam pengelolaan sampah dengan metode takakura melalui kegiatan kampanye lingkungan serta edukasi dan aksi lingkungan. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa kegiatan edukasi dan aksi lingkungan dengan metode takakura dapat menjadi metode yang efektif dalam peningkatan pemahaman dan kepedulian target sasaran terhadap lingkungan di sekitarnya.Kata Kunci – Aksi, Edukasi, Kompos, Pemberdayaan, Takakura AbstractEverything in the life process definitely produces waste. The amount of waste will increase along with the population also increasing and various activities. Waste is an inseparable part of people's lives, especially in urban areas, like Balikpapan. Decreasing environmental quality is a problem that continues to haunt the community. In the Report on the Performance of the Environmental Agency of Balikpapan City in 2017 that community, the index of waste transportation to landfill continues to increase. Problems due to the rising population in Balikpapan but not balanced with the concern of community in maintaining the environment. Budi Mulia Balikpapan School is an example that the quality of environment becomes a polemic that must be overcome. Limited facilities, and the lack attention from goverment make Budi Mulia School include in the catagories of bad waste management system. In order to realize the importance of maintaining environmental quality it is necessary to have an comprehension through an education and composting program with takakura methode using the help of EM4 activators. Based on the results of the empowerment program that has been implemented, this activity succeeded in providing knowledge to students at Budi Mulia Balikpapan School in waste management with takakura methods through environmental campaign activities and environmental education and action. That educational activities and environmental actions using takakura methods can be an effective method of increasing comprehension and awareness of the target towards the surrounding environment.Keywords – Action, Composting, Education, Empowerment, Takakura
PENERAPAN PERMAINAN MOLEGI (MONOPOLI PUZZLE KESEHATAN GIGI) SEBAGAI MEDIA EDUKASI KESEHATAN GIGI DAN MULUT SISWA SD NEGERI 1 BUMI Amelia Rizky Hutami; Nindya Mayaningtyas Dewi; Nur Rohman Setiawan; Nanda Anggita Permata Putri; Septriyani Kaswindarti
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v1i2.341

Abstract

AbstrakKondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat di Indonesia masih memprihatinkan. Dibutuhkan suatu tindakan promotif dan preventif untuk mencegah masalah kesehatan gigi dan mulut yaitu dengan cara edukasi kesehatan gigi dan mulut sejak dini. Terdapat berbagai jenis metode edukasi kedokteran gigi yang biasa digunakan, diantaranya metode ceramah, poster dan video. Berbagai literatur menyebutkan bahwa metode tersebut kurang efektif bagi anak-anak. Terdapat metode yang lebih menarik, mudah dipahami dan menyenangkan bagi anak-anak, yaitu menggunakan permainan edukatif. Salah satu permainan alternatif yang dapat digunakan sebagai media edukasi kesehatan gigi dan mulut adalah permainan puzzle dan monopoli. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui potensi permainan monopoli puzzle kedokteran gigi sebagai media edukasi kesehatan gigi dan mulut. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini diantaranya sosialisasi permainan, pre test, melakukan permainan, dan post test pada siswa siswi kelas IV SD Negeri Bumi 1. Kemudian dilakukan evaluasi untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan pengetahuan pada siswa-siswi tersebut. Hasil yang didapatkan pada kegiatan ini menunjukan adanya peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada siswa. Penggunaan permainan MOLEGI (Monopoli Puzzle Kedokteran Gigi) dapat digunakan sebagai alternatif media edukasi dan berpotensi meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada anak.Kata kunci : Permainan, Anak, Promosi kesehatan, Interaktif AbstractThe oral and mouth health in Indonesia is still considered in an apprehensive condition. Thus, in this circumstances, promotive and preventive works are needed to prevent the oral and mouth health problem by promoting oral and mouth health education since early stage. There are many kind of dental education methods that usually used, such as speech, poster, and video delivering methods. Some literatures mentioned that those methods are less effective for children. That is something more insteresting, easy to understand, and fun method for children, it is using an educational games. One of the alternatives that can be used as an educational media for oral and mouth health is puzzle and monopoly game. This activity aims to know the ability of puzzle and monopoly in dentistry as an oral and mouth educational media. The steps had in this activity included games socialization, pre test, playing games, and post test on fourth grade students of SD Negeri Bumi 1. Then, had an evaluation to know if there any enhancement on student’s knowledge about oral and mouth health. The MOLEGI (Monopoli Puzzle Kedokteran Gigi) Games can be used as an alternative educational media and potentially increasing the knowledge about oral and mouth health for children.Keywords: Games, children, health promotion, interactive
PROGRAM INSPIRASI BELAJAR BAHASA ASING BAGI REMAJA DALAM MENGHADAPI ERA GLOBALISASI Arianty Visiaty; Lusi Lian Piantari
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v1i2.337

Abstract

Abstrak Masalah yang dihadapi oleh Panti Asuhan Harapan Remaja adalah kurangnya motivasi dan inspirasi anak asuh siswa SMP untuk belajar bahasa asing. Tujuan dari kegiatan ini adalah menumbuhkan motivasi dan inspirasi belajar bahasa asing untuk belajar bahasa asing. Salah satu cara untuk menunbuhkan motivasi dan isnpirasi belajar bahasa asing adalah dengan dilakukannya pengenalan bahasa asing dengan konteks yang dekat dengan keseharian anak asuh/siswa. Untuk itu telah diadakan program penumbuhan motivasi dan inspirasi berbahasa asing terutama bahasa Jepang dan Inggris masing-masing selama 2 kali. Hasil dari kegiatan ini adalah munculnya ketertarikan siswa terhadap bahasa asing dan ketertarikan untuk belajar bahasa asing terutama bahasa Inggris dan Jepang. Selain itu terlihat juga peningkatan motivasi belajar bahasa asing selain pelajaran sekolah. Akan tetapi tidak ada peningkatan ketertarikan untuk berinteraksi dengan orang asing. Saran kegiatan ke depan adalah mengadakan yang berkelanjutan dan berkala.Kata kunci: Bahasa Asing, Inspirasi, MotivasiAbstractThis community service activity had purposes to inspire and motivate the junior high school students to learn a foreign language at the Harapan Remaja Orphanage. This orphanage has a problem dealing with foster children’s motivation in learning foreign languages. The result of this activity is the emergence of an interest in foreign languages and learning those languages, especially English and Japanese. After the activities, the result shows that the learners’ motivation is still low. However, the activities related to foreign languages increased the participants’ interests to learn foreign languages, in this context, Japanese and English. It is suggested that the activity can be carried out continuously because raising inspiration and motivation requires enough time.Keywords: Foreign language, Inspiration, Motivation,
PEMBERDAYAAN WARGA KETERBELAKANGAN MENTAL DI DESA KARANGPATIHAN PONOROGO MELALUI FRUTABLE GREDEN Retno Wulandari; Hana Anjasari; Novita Dwi Wulandari; Mitha Nur Jayanti; Gunarhadi Gunarhadi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v1i2.342

Abstract

Abstrak Desa Karangpatihan merupakan salah satu desa yang berada di pelosok selatan-barat Kabupaten Ponorogo, Kecamatan Balong, dimana terdapat sebagian masyarakatnya merupakan penyandang keterbelakangan mental dengan kondisi geografis tanah yang kurang subur dan cenderung tandus karena berdiri di bawah kaki pegunungan berkapur. Faktor geografis, kemiskinan dan tingkat pendidikan yang rendah mengakibatkan warga mengalami pemasalahan pola hidup, khususnya berkaitan dengan konsumsi makanan yang bergizi. Pengadaan program frutable greden bertujuan untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah, sekaligus memberdayakan masyarakat menjadi lebih produktif. Kegiatan dalam program frutable greden meliputi pembangunan frutable greden atau semacam green house, penananaman, serta perawatan tanaman yang dilakukan oleh warga keterbelakangan mental. Hasil panen dari perawatan tanaman dapat dikonsumsi sebagai bentuk pemenuhan gizi warga. Proses pemberdayaan dilangsungkan secara bertahap mulai dari tahap sosialisasi, pembangunan frutable greden, penanaman bibit tanaman, perawatan tanaman hingga pemanenan. Bentuk pemberdayaannya berupa melibatkan partisipasi warga keterbelakangan mental secara aktif dengan bantuan dari kader frutable greden. Kader disini merupakan salah satu anggota keluarga warga keterbelakangan mental yang normal yang dipilih dan bertugas untuk membantu tim dalam menggerakkan pelaksanaan proses pemberdayaan. Hasil pemanenan dari tanaman di green house ini dapat dikonsumsi dijadikan bahan pangan tambahan masyarakat sebagai bentuk pemenuhan gizi.Kata kunci : Green house, Keterbelakangan Mental, Pemberdayaan Masyarakat Abstract Karangpatihan Village is one of the villages in the south-west corner of Ponorogo Regency, Balong Subdistrict, where there are some people who are mentally retarded with geographic conditions that are less fertile and tend to be barren because they stand under the feet of the calcareous mountains. Geographical factors, poverty, and low levels of education result in people having lifestyle problems, especially related to the consumption of nutritious foods. The procurement of frutable greden programs aims to increase the consumption of vegetables and fruits, while empowering people to be more productive. Activities in the frutable greden program include the development of frutable greden or some kind of green house, planting, and treatment of plants by mental retardation people. The harvest can be consumed as a form of nutrition fulfillment. The empowerment process is carried out in stages starting from the stages of socialization, frutable greden construction, growing of plant seeds, maintenance of plants to harvesting. The form of empowerment involves active participation of people with mental retardation with the help of frutable greden cadre. Cadres here are one of the family member of mental etardation people who are selected and haved a task to assist the team as a pioneer  the implementation of the empowerment process. Yield from plants in this green house can be consumed as additional food for the community as nutrition fulfillment. Keywords: Community Empowerment, Green house, Mental Retardation 
PEMBERDAYAAN TUTOR BKB DAN GURU PAUD MELALUI KETERAMPILAN STORYTELLING Nila Fitria; Suwardi Suwardi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v1i2.338

Abstract

AbstrakStorytelling adalah sebuah teknik atau kemampuan untuk menceritakan sebuah kisah, pengaturan adegan, event, dan juga dialog. Program storytelling ini ditujukan bagi tutor BKB dan guru PAUD dikarenakan latar belakang pendidikan tutor BKB dan guru PAUD yang beragam. Adapun pelatihan yang dilakukan sebanyak 3 kali memberikan pengetahuan dan keterampilan storytelling kepada tutor BKB dan guru PAUD. Adapun metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah bentuk intervensi dengan melakukan pelatihan sebanyak 3 kali. Pelatihan pertama ditujukan kepada tutor BKB dan guru PAUD untuk memberikan pengetahuan tentang storytelling. Pelatihan kedua, tutor BKB dan guru PAUD membuat buku cerita dalam bentuk bigbook. Kemudian tutor BKB dan guru PAUD mempraktekkan bagaimana cara bercerita secara peer teaching Pelatihan ketiga ditujukan kepada orang tua murid PAUD dan TK serta tutor BKB dan guru PAUD serta guru TK. Pelatihan ketiga ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan pentingnya storytelling. Kemudian tutor BKB dan guru PAUD mempraktekkan bercerita di depan orang tua murid dan juga anak. Pengetahuan dan keterampilan tutor BKB dan guru PAUD terhadap storytelling meningkat dan program storytelling dapat dijadikan suatu pembiasaan yang dapat dilakuakn di sekolah. Sehingga minat membaca anak menjadi meningkat.Kata kunci: Anak, Storytelling, Tutor BKB AbstractStorytelling is a technique or ability to tell a story, arrange scenes, events, and also dialogue. This storytelling program is intended for BKB tutors and PAUD teachers due to the diverse educational background of BKB tutors and PAUD teachers. The training was conducted 3 times to provide knowledge and storytelling skills to BKB tutors and PAUD teachers. The method used in this training is a form of intervention by conducting training 3 times. The first training was aimed at BKB tutors and PAUD teachers to provide knowledge about storytelling. The second training, BKB tutors and PAUD teachers made storybooks in the form of a bigbook. Then BKB tutors and PAUD teachers practice how to tell in peer teaching The third training is aimed at parents of PAUD and TK students and BKB tutors and PAUD teachers and kindergarten teachers. This third training aims to provide knowledge of the importance of storytelling. Then BKB tutors and PAUD teachers practice telling stories in front of parents of students and children. Knowledge and skills of BKB tutors and PAUD teachers on storytelling have increased and the storytelling program can be used as a habit that can be done at school. So that interest in reading children becomes increased.Keywords: BKB Tutor, Children, Storytelling
PENGEMBANGAN SOSIAL PADA BANK SAMPAH TRI ALAM LESTARI (TAL) MELALUI PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN Didip Diandra
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v1i2.339

Abstract

Abstrak Kewirausahaan sosial menjadi wadah bagi pelaku usaha sosial untuk menggagas, memimpin dan melaksanakan strategi pemecahan masalah sosial secara inovatif melalui kerja sama dalam semua jenis jaringan sosial, serta menjalankan kegiatan usaha yang bernilai sosial di lingkungan masyarakat. Kewirausahaan sosial (masalah sosial, budaya, dan lingkungan) sering kali diasosiasikan dengan sukarelawan (voluntary) dan bukan untuk keuntungan semata (not-for profit). Sampah masih menjadi permasalahan di beberapa daerah. Sebagai ibukota, Jakarta masih menyimpan banyak masalah dengan sampah yang terselesaikan dengan baik sehingga menimbulkan masalah pada lingkungan. Namun bagi sebagian kecil masyarakat, sampah dipandang sebagai peluang yang bisa diproses untuk mendulang uang dari barang-barang yang dibuang. Ilmu kewirausahaan tidak hanya membahas masalah untung dan rugi saja. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah sosial maka akan membawa misi sosial, menciptakan inovasi sosial, serta membuat perubahan sosial yang signifikan ditengah masyarakat. Kehadiran Ibu Tri Sugiarti melalui Bank Sampah TAL ditengah masyarakat dianggap sangat penting dan berkontribusi positif terhadap lingkungan sekitar, namun masih menyimpan masalah dalam manajemen kewirausahaannya yaitu permasalahan yang terkait dengan perencanaan pemasaran, prosedur operasional, standar dan quality control yang masih lemah. Oleh karena itu, perlu adanya pelatihan pengembangan kewirausahaan sosial pada Bank Sampah Tri Alam Lestari untuk menggali potensi kewirausahaan yang sudah ada, lalu mengembangkannya dengan ilmu kewirausahaan dasar dan sosial. Pelatihan ini diberikan dalam bentuk mini workshop berupa sosialisasi serta evaluasi penilaian pada unit usaha yang sedang berjalan. Hasil dari pelatihan didapatkan bahwa entrepreneurship spirit dan kemampuan pribadi (mental) menjadi sangat dominan dalam mencapai kesuksesan bagi social entrepreneur.Kata kunci: Kewirausahaan Sosial, Daur Ulang, Inovasi Produk, Bank Sampah  Abstract Social entrepreneurship has become an essential for every social entrepreneur to create, lead, and pursue an innovative solution to social problems through relationship with others and doing activity that creates social values in society. Social entrepreneurship typically furthers broad social, cultural, and environmental goals and is commonly associated with the voluntary and not-for-profit sectors. Trash has become a problems in society. As capital city of Indonesia, Jakarta seriously fight the waste problems which creates an environmental issues. But for some people, trash has become a solution for raising money if it’s reuse, recycle, and reproduce into valuable and innovative products. Entrepreneurship typically measure performance in profit and return, but social entrepreneurs also take into account a positive return to society which brings social mission, innovation, and change in society. The present of Waste Bank TAL in society is regarded as important as its and contributed positively to environment, but still left some problems in their management such as lack of marketing plan, operational procedures, and quality control. Given training of social entrepreneurship at Waste Bank TAL has become an important to get those potential features of entrepreneurship and develop them altogether. The methods of training is given through mini workshop, socialization, and evaluation on the unit of business. The results shows the entrepreneurship spirit and self motivation (entrepreneurial mindset) has become a dominant in successful social entrepreneur.Keywords: Social Entrepreneurship, Recycle, Product Innovation, Waste Bank 

Page 1 of 1 | Total Record : 6