cover
Contact Name
Lutfiah Ayundasari
Contact Email
lutfiah.ayundasari.fis@um.ac.id
Phone
+6285646664559
Journal Mail Official
jpsi.journal@um.ac.id
Editorial Address
Jl. Semarang No.5 Kota Malang 65145, East Java
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia
ISSN : -     EISSN : 26221837     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia (JPSI) publish original research papers, conceptual articles, review articles and case studies. The whole spectrum of history learning and history education, which includes, but is not limited to education systems, institutions, theories, themes, curriculum, educational values, historical heritage, media and sources of historical learning, and other related topics.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2023)" : 15 Documents clear
PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA (P5) BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MEWUJUDKAN PELAJAR INDONESIA PANCASILAIS: PELUANG DAN TANTANGAN Yasa, I Wayan Putra; Lasmawan, I Wayan; Suharta, I Gusti Putu
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v6i2p239-253

Abstract

Abstract: This study aims to examine the opportunities and challenges of implementing the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) based on local wisdom to create Pancasila students. The method used is a literature review, namely conducting a study of literature sources that discuss three things, namely independent learning and an independent curriculum, implementation of the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), as well as opportunities and challenges. The process of the literature review is carried out through three main stages, namely collecting literature, conducting analysis, and writing the results of the study. The results of the study explain that the independent curriculum implemented in Indonesia is the answer to the problems of education and the increasingly complex developments of the era. Therefore we need a curriculum that can adapt to this situation. In its application in the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) with one of its mandatory themes, namely local wisdom. Implementation of the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) where the themes are environmental awareness, entrepreneurship, drugs, and local wisdom. Specifically related to local wisdom, it is carried out by introducing cultures such as dance, rituals, customs, and other unique things around the school. The process of implementing the Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) has both opportunities and challenges. The opportunities include strengthening Pancasila ideology among students, this will answer the problems of national ideology, especially Pancasila so that it is better understood and can be implemented comprehensively. Furthermore, students who are more nationalist introducing ideology, culture, and history, students must have an attitude of nationalism. Another opportunity is fun and independent learning, teachers and students are encouraged to develop learning according to their needs. Furthermore, creative and innovative teachers and students, the independent curriculum encourages and appreciates the creativity and innovation of teachers and students in implementing it. The last opportunity is the revitalization of local wisdom through cultural performances. Challenges that can arise if not managed properly are ethnocentrism and chauvinism, administrative burdens for teachers, and higher education costs borne by parents.Abstrak:Kajian ini bertujuan mengkaji tentang peluang dan tantangan implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) berbasis kearifan lokal guna mewujudkan pelajar pancasilais. Metode yang dipakai adalah kajian pustaka yaitu melakukan kajian terhadap sumber pustaka yang membahas tiga hal yaitu merdeka belajar dan Kurikulum Merdeka, implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), serta peluang dan tantangannya. Proses kajian pustaka dilakukan melalui tiga tahapan utama yaitu pengumpulan pustaka, melakukan analisis, dan penulisan hasil kajian. Hasil kajian menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka yang diterapkan di Indonesia sejatinya adalah jawaban atas problematika pendidikan dan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah kurikulum yang mampu beradaptasi dengan situasi tersebut.  Dalam penerapannya di Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan salah satu tema wajibnya yaitu kearifan lokal. Implementasi dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dimana tema-temanya adalah kesadaran lingkungan, kewirausahaan, narkoba, dan kearifan lokal. Secara khusus berkaitan dengan kearifan lokal dilakukan dengan pengenalan budaya seperti tari, ritual, adat istiadat, dan hal unik lagi di sekitar sekolah. Proses penerapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) memiliki peluang dan sekaligus tantangan. Peluangnya antara lain penguatan ideologi Pancasila dikalangan pelajar, hal ini menjawab problematika ideologi bangsa khususnya Pancasila agar lebih dipahami dan bisa diimplementasikan secara komprehensif. Selanjut siswa yang lebih nasionalis dengan mengenalkan ideologi, kebudayaan, sejarah siswa pasti memiliki sikap nasionalisme. Peluang lainnya adalah pembelajaran yang menyenangkan dan merdeka, guru dan siswa didorong mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Selanjutnya guru dan siswa yang kreatif dan inovatif, Kurikulum Merdeka mendorong dan mengapresiasi kreativitas dan inovasi dari guru dan siswa dalam menerapkannya. Peluang terakhir adalah revitalisasi kearifan lokal melalui pentas budaya. Tantangan yang bisa muncul jika tidak dikelola dengan baik yaitu sikap etnosentrisme dan cauvinistisme, beban administrasi guru, dan biaya pendidikan yang ditanggung orang tua semakin tinggi.
“MALAM MUSEUM”: PERAN PEMUDA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH PUBLIK DAN PENANAMAN NILAI NASIONALISME Ningrum, Siti Utami Dewi; Faisol, Ahmad
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v6i2p322-347

Abstract

Abstract:Historical discourses often take place at academic desks and lecterns. This makes history, often seen only from an ivory tower. Along with public awareness and interest in history, historical communities emerged that presented history closer to the public outside of academic activities. In Yogyakarta, various historical communities emerged, one of the earliest, namely “Malam Museum”. The community was initiated by youths who present history by the needs of society and the latest generation. This study aims to analyze the extent to which the role of youth embodied in the “Malam Museum” historical community in the process of learning public history and instilling nationalism values. This study uses qualitative methods through interviews and questionnaire surveys conducted on members of the “Malam Museum” historical community and people who participate in community activities. In addition, participatory research was also carried out by the author by participating in activities held by the “Malam Museum” historical community. From the results of the research conducted, it was found that the activities carried out by the historical community “Malam Museum” are an alternative historical education aimed at the public with a non-academic approach. Apart from that, from the activities organized by the historical community “Malam Museum”, the participants gained a new historical understanding in understanding the values of nationalism more concretely, both from direct observations in the field and explanations presented by event speakers. This cannot be separated from the current learning strategy and is by the community, especially the younger generation.Abstrak:Diskursus sejarah seringkali berlangsung pada meja-meja dan mimbar akademik. Hal ini membuat sejarah acapkali dipandang hanya dilihat dari menara gading. Seiring dengan kesadaran dan ketertarikan masyarakat terhadap sejarah kemudian memunculkan komunitas-komunitas sejarah yang menyajikan sejarah lebih dekat ke publik di luar kegiatan akademik. Di Yogyakarta muncul berbagai komunitas sejarah, salah satu yang paling awal yakni “Malam Museum”. Komunitas tersebut diinisiasi oleh pemuda yang menyajikan sejarah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan generasi terkini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran pemuda yang terwadahi dalam komunitas sejarah “Malam Museum” dalam proses pembelajaran sejarah publik dan penanaman nilai nasionalisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan survei kuesioner yang dilakukan terhadap anggota komunitas sejarah “Malam Museum” dan masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan komunitas. Selain itu, dilakukan pula penelitian partisipatoris oleh penulis dengan mengikuti kegiatan yang diadakan oleh komunitas sejarah “Malam Museum”. Dari hasil penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh komunitas sejarah “Malam Museum” menjadi salah satu pendidikan sejarah alternatif yang ditujukan kepada publik dengan pendekatan non-akademis. Selain itu, dari kegiatan yang diadakan oleh komunitas sejarah “Malam Museum”, para peserta mendapatkan pemahaman sejarah yang baru dalam memahami nilai-nilai nasionalisme secara lebih konkret, baik dari pengamatan langsung di lapangan maupun penjelasan yang dipaparkan oleh narasumber kegiatan. Hal ini tidak lepas dari strategi pembelajaran kekinian dan sesuai dengan masyarakat terutama generasi muda.
KIPRAH SUPENI PUDJOBUNTORO DALAM BIDANG POLITIK TAHUN 1945-1963 SEBAGAI NARASI PEREMPUAN DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Bella, Ananda Putri Salsa; Subekti, Arif
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v6i2p419-439

Abstract

Abstract: The involvement and role of women in various fields of life, especially in the political field during the Soekarno Order era, is still less displayed in history. Even though many female figures have made great contributions to Indonesian politics, one of them is Supeni Pudjobuntoro, an ambassador traveling around Indonesia. This article aims to present the female figure as part of agency in historiography. This study describes the history of women through Supeni in the field of politics after independence, precisely in 1945-1963 using historical research methods with five stages, namely topic selection, heuristics in the form of source collection, verification or criticism of sources, interpretation to determine the credibility of historical sources based on facts, and historiography or writing historical facts chronologically. The results of this study show that Supeni had a large share in politics in Indonesia, especially in the era of the Indonesian National Revolution and the leadership of President Soekarno. Supeni was active in organizing the first General Election in 1955 representing the PNI, carried out his foreign policy duties well by lobbying the countries concerned, and contributed to the liberation of West Irian.Abstrak: Keterlibatan dan peran perempuan di berbagai bidang kehidupan terutama di bidang politik pada masa Orde Soekarno masih kurang ditampilkan dalam sejarah. Padahal banyak tokoh perempuan yang memiliki kontribusi besar bagi politik Indonesia, salah satunya adalah Supeni Pudjobuntoro seorang duta besar keliling Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menghadirkan sosok perempuan sebagai bagian dari agensi dalam historiografi. Penelitian ini memaparkan sejarah perempuan melalui Supeni dalam bidang politik masa setelah kemerdekaan tepatnya pada tahun 1945-1963 dengan menggunakan metode penelitian historis dengan lima tahapan yaitu pemilihan topik, heuristik berupa pengumpulan sumber, verifikasi atau kritik sumber, interpretasi untuk mengetahui kredibilitas sumber sejarah berdasarkan fakta-fakta, dan historiografi atau penulisan fakta sejarah secara kronologis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Supeni memiliki andil yang besar dalam politik di Indonesia terutama di era Revolusi Nasional Indonesia dan kepemimpinan Presiden Soekarno. Supeni turut aktif dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum pertama tahun 1955 mewakili PNI, menjalankan tugas politik luar negeri dengan baik dengan melobi negara-negara yang bersangkutan, dan andil dalam pembebasan Irian Barat.
MODEL PEMBELAJARAN ORICON SEBAGAI PERSPEKTIF BARU DALAM MENUMBUHKAN KEMAMPUAN BERPIKIR SEJARAH SISWA Utari, Shela Dwi; Widiadi, Aditya Nugroho; Hudiyanto, Reza
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v6i2p254-263

Abstract

Abstract:Today's development of history learning is very complex, primarily when the independent curriculum is implemented. Students must possess various skills based on learning outcomes in the independent curriculum. One of those skills is historical thinking skills. Based on observations, it was found that teachers still need to learn about historical sources, even though this is very important in learning history. This void raises the problem that students need help to think historically. Based on this, the author wants to develop a learning model with a new perspective by applying historical sources in the learning process. The method used in this study is qualitative, with data collection techniques in the form of distributing questionnaires to history teachers. The data obtained is analyzed through three stages: the data reduction stage, data presentation, and conclusions. The result of this article is that there is a recommendation for the new learning model, Oricon. This Oricon model has five aspects: orientation, identification, collecting, construction, and evaluation. This model can be used by using historical learning resources following the material the teacher wants to explain to foster historical thinking skills. Then students will interact directly and reconstruct historical narratives from sources that have been found. Abstrak:Perkembangan pembelajaran sejarah saat ini sangat kompleks utamanya ketika kurikulum merdeka diberlakukan. Terdapat berbagai keterampilan yang wajib dimiliki oleh siswa berdasarkan capaian pembelajaran pada kurikulum merdeka. Salah satu dari keterampilan itu adalah keterampilan berpikir sejarah (historical thinking skills). Berdasarkan hasil observasi ditemukan guru masih jarang sekali menggunakan sumber sejarah padahal hal ini sangat penting dalam pembelajaran sejarah. Adanya kekosongan ini menimbulkan sebuah permasalahan bahwa siswa belum memiliki kemampuan berpikir sejarah. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mengembangkan sebuah model pembelajaran dengan perspektif baru dengan menerapkan sumber sejarah dalam proses pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa menyebarkan angket kepada guru sejarah. Data yang diperoleh dianalisis melalui tiga tahap, yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari artikel ini yaitu adanya sebuah rekomendasi model pembelajaran baru yaitu Oricon. Pada model Oricon ini terdapat lima aspek yaitu orientasi (orientation), identifikasi masalah (identification), merencanakan dan mengumpulkan informasi (collecting), mensitesis informasi (construction), serta evaluasi (evaluation). Model ini dapat digunakan dengan menggunakan sumber belajar sejarah sesuai dengan materi yang ingin dijelaskan oleh guru sebagai upaya menumbuhkan kemampuan berpikir sejarah. Kemudian siswa akan berinteraksi secara langsung dan merekonstruksi narasi sejarah dari sumber yang telah ditemukan.
ANALISIS PEMANFAATAN CHATGPT DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH OLEH MAHASISWA PROGAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS JAMBI Meihan, Andre Mustofa; Sinurat, Junita Yosephine; Rukmana, Lisa
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v6i2p348-357

Abstract

Abstract: Various technological advances in the education make it easier for students to get various reference sources to help with the learning process. This research aims to analyze the use of ChatGPT by students of the History Education Study Program at Jambi University. As well as looking at the potential risks in using ChatGPT in history learning. In this research, quantitative approach was used. The data were collected by surveys and literature studies. We distributed questionnaires to students. analyzed the results referring to the findings from literature review that have been carried out by researchers. Based on the findings and discussions, it can be concluded that: all students know about the existence of the ChatGPT. The majority of them (45.5 percent) use ChatGPT to obtain information related to learning. The intensity of students using this application is included in the frequent category (50.9 percent). By using ChatGPT students feel helped in learning and obtaining information with a percentage reaching 81.8 percent. Apart from its many benefits, in fact the use of ChatGPT in education also poses various kinds of potential risks. So there needs to be supervision for students when using this application, so that academic ethical and moral values are maintained and upheld so that what they do brings benefits. Abstrak: Berbagai kemajuan teknologi di bidang pendidikan memudahkan mahasiswa untuk mendapatkan berbagai sumber referensi untuk membantu proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan ChatGPT oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Jambi. Serta melihat potensi risiko dalam menggunakan ChatGPT dalam pembelajaran sejarah.  Pada penelitian ini akan digunakan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui survei dan studi literatur. Kami membagikan kuesioner kepada mahasiswa. Hasil analisis mengacu pada temuan dari tinjauan pustaka yang telah dilakukan peneliti.Berdasarkan temuan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa seluruh mahasiswa mengetahui keberadaan ChatGPT.Mayoritas dari mereka (45,5 persen) menggunakan ChatGPT untuk memperoleh informasi terkait pembelajaran. Intensitas mahasiswa menggunakan aplikasi ini termasuk dalam kategori sering (50,9 persen).Dengan menggunakan ChatGPT mahasiswa merasa terbantu dalam belajar dan memperoleh informasi dengan persentase mencapai 81,8 persen. Selain banyak manfaatnya, nyatanya penggunaan ChatGPT dalam dunia pendidikan juga mempunyai berbagai macam potensi resiko. Maka perlu adanya pengawasan bagi mahasiswa dalam menggunakan aplikasi ini, agar nilai etika dan moral akademik tetap terjaga dan dijunjung tinggi agar apa yang dilakukannya membawa manfaat.

Page 2 of 2 | Total Record : 15