cover
Contact Name
Dr. Ide Bagus Siaputra
Contact Email
-
Phone
+62312981246
Journal Mail Official
anima@unit.ubaya.ac.id
Editorial Address
Faculty of Psychology, Universitas Surabaya Jalan Raya Rungkut Mejoyo (Raya Kali Rungkut), Surabaya, East Java, 60293
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
ANIMA Indonesian Psychological Journal
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 02150158     EISSN : 26205963     DOI : https://doi.org/10.24123/aipj
Core Subject : Social,
Anima publishes peer reviewed articles with editors and consultants providing detailed assistance for authors to reach publication. Anima publishes research reports and scientific papers in psychology and/or related sciences with the aim to advance science, knowledge, and theory of psychology.
Articles 651 Documents
Patients With Schizophrenia and Their Everyday Struggle Through the Jungle of Emotional Cues: A Study About the Theory of Mind in Patients with Schizophrenia Katrin Lieck
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The theory of mind is the requirement to understand another person’s emotions and thoughts, and to interpret and make predictions about the other person’s intentions based on that understanding. Research on emotions perception on patients with schizophrenia has shown some difficulties for those to identify emotions in facial expressions or conversational prosody, which would suggest an impairment of the theory of mind in patients with schizophrenia. But a deeper look at the results of those studies indicates that patients with schizophrenia do well have the ability to interpret genuine emotional expressions, in contrary to posed expressions. Research has also shown that patients with schizophrenia are very sensitive to negative stimuli. The findings suggest that patients with schizophrenia might not have an impaired theory of mind but rather a different kind of theory of mind or that they just use their theory of mind differently. Teori akal budi (theory of mind) merupakan syarat untuk mengerti emosi dan pikiran orang lain, dan untuk memaknai dan membuat prediksi keinginan orang itu berdasarkan pengertian tersebut. Penelitian tentang persepsi emosi pada para pasien dengan skizofrenia menunjukkan kesulitan mereka mengidentifikasi emosi pada ekspresi wajah atau prosody (pola irama, tekanan, dan intonasi) percakapan, yang menyiratkan suatu kerusakan teori akal budi pada pasien dengan skizofrenia. Namun, hasil pendalaman studi-studi tersebut menunjukkan bahwa para pasien dengan skizofrenia memiliki kemampuan menginterpretasi ekspresi emosional murni, berlawanan terhadap ekspresi yang ditunjukkan. Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien dengan skizofrenia sangat sensitif terhadap rangsangan negatif. Temuan juga menyarankan bahwa pasien dengan skizofrenia mungkin teori akal budinya tidak rusak namun hanya berbeda atau mereka hanya menggunakan teori akal budi mereka secara berbeda
The Reggio Emilia Approach to Early Childhood Education: An Introduction Julian Liunardi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the last decade, the Indonesian government has become more aware of the importance of the development and education of the early years of children’s lives. Long before Indonesia started its journey in providing quality Early Childhood Education (ECE) for all young children, the people of Reggio Emilia city had developed sound practice in ECE that was well-known all over the world for its quality. This paper presented a literature review and described the Reggio Emilia Approach to ECE. Several suggestions as to how to adapt this approach in Indonesia’s early childhood services were also discussed. Dalam dekade terakhir, pemerintah Indonesia makin menyadari akan pentingnya pendidikan pada tahun-tahun awal kehidupan anak-anak. Jauh sebelum Indonesia memulai perjalanannya dalam memberikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkualitas untuk semua anak- anak, penduduk kota Reggio Emilia telah mengembangkan praktek PAUD yang terkenal berkualitas di seluruh dunia. Makalah ini menyajikan tinjauan literatur dan mendeskripsikan pendekatan PAUD Reggio Emilia. Beberapa saran mengenai bagaimana menyesuaikan pendekatan ini di Indonesia juga dibahas.
Dealing With Earthquake Disaster on Java 2006: A Comparison of Affected and Non-affected People Evelin Witruk; Yumi Lee; Bagus Riyono; Amitya Kumara; Kathleen Otto
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study investigated affected and non-affected people in Indonesia after the earthquake and the volcanic eruption in May 2006. We expected belief in a just world (BJW) and coping styles to be important factors when dealing with natural disasters for disaster attribution and psychopathological symptoms. Overall, 80 affected and 66 non-affected people were asked in the survey about their BJW, coping style, earthquake attribution, and psychopathological symptoms. ANOVAs and path models were used to analyze the data. Results show that people with a strong BJW attribute the disaster as a consequence of human failure. Avoidance coping was correlated with both emotional disturbance and psychological affectedness whereas approach coping was not related to the assessed psychopathological symptoms. Differences in the structural relations for the affected group emerged when compared to the non- affected group. Studi ini meneliti masyarakat di Indonesia yang terdampak dan yang tak-terdampak setelah gempa bumi dan letusan gunung berapi pada Mei 2006. Kami mengharapkan keyakinan terhadap dunia yang adil (DYA) dan gaya koping (coping styles) merupakan factor-faktor penting ketika berhadapan dengan bencana alam terkait atribusi kebencanaan dan gejala psikopatologis. Sejumlah 80 masyarakat terdampak dan 66 tak-terdampak diwawancarai dalam survei tentang DYA, gaya koping, atribusi gempa bumi, dan gejala psikopatologisnya. Untuk menganalisis data digunakan model ANOVA dan jalur. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat dengan DYA kuat mengatribusikan bencana sebagai konsekuensi kegagalan manusia. Koping penghindaran berkorelasi dengan gangguan emosional dan akibat psikologis sedangkan koping pendekatan tidak berkorelasi dengan gejala psikopatologis yang dinilai. Perbedaan dalam hubungan struktural pada kelompok terdampak muncul bila dibandingkan terhadap kelompok yang tak-terdampak.
The Role of Emotional Intelligence, Job Satisfaction and Transformational Leadership Toward Organizational Citizenship Behavior of Nurses Dewi Masruroh; Fathul Himam
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rapid development of hospital industry has led an intense competition in the hospital business. Nevertheless, it is important that nurses demonstrate Organizational Citizenship Behavior (OCB), since OCB could influence organizational effectiveness. Research has shown that emotional intelligence, job satisfaction and transformational leadership have played important roles in OCB. The aim of this study is to examine the role of emotional intelligence, job satisfaction and transformational leadership in nurses’ OCB. The hypothesis was that emotional intelligence, job satisfaction and transformational leadership were the predictors of nurses’ OCB. This study adopted a quantitative method using questionnaires to collect data. Questionnaires used were the OCB, emotional intelligence, job satisfaction and transformational leadership questionnaire. The analysis was carried out using multiple regression analysis. Data analysis with 146 respondents showed that emotional intelligence, job satisfaction and transformational leadership significantly predicted nurses’ OCB (F = 16.062, p < .05) with the contribution of 24.4% to the full model. Perkembangan industri rumah sakit yang sangat pesat menyebabkan persaingan bisnis rumah sakit menjadi sangat tajam. Oleh karena itu, perawat dituntut untuk menampilkan perilaku organizational citizenship behavior (OCB), karena OCB mendukung efektivitas organisasi. Beberapa penelitian telah menemukan kecerdasan emosi, kepuasan kerja dan kepemimpinan transformasional berperan terhadap OCB. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peranan kecerdasan emosi, kepuasan kerja dan kepemimpinan transformasional terhadap OCB perawat. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosi, kepuasan kerja dan kepemimpinan transformasional secara bersama-sama merupakan prediktor dari OCB perawat. Penelitian ini merupakan studi lapangan yang akan menggunakan metodologi kuantitatif, dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner OCB, kecerdasan emosi, kepuasan kerja dan kepemimpinan transformasional. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi ganda. Hasil analisis data terhadap 146 responden menyatakan bahwa variabel kecerdasan emosi, kepuasan kerja dan kepemimpinan transformasional secara bersama sama secara signifikan dapat memprediksi OCB perawat (F = 16.062, p < .05) dengan kontribusi sebesar 24%.
Masuk Angin in Javanese Healthy Lifestyle: A Qualitative Analysis Using Health and Indigenous Psychology Approaches Tommy Prayoga; Yosef Deddy Pradipto
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The term masuk angin (MA) has been widely used among Indonesians in describing the process of the entering of wind into the body, causing illness. The real concept, however, still remain ambiguous as it is only used to describe a cluster of symptoms. The aim of the study was to find out how the Javanese perceive M A to give more detailed explanation of its concept indigenously. The methods used were descriptive qualitative involving interviews and literature analysis. Using two illness cognition models and the view of indigenous psychology combined with the interview results, it was suggested that M A is the indigenous identity of Javanese healthy lifestyle. It acts as a guidance of health and well-being behavior in everyday life, thus become an inseparable culture identity. The study has shown that cultural factors play a role in perceiving eastern medicine. Istilah masuk angin (MA) telah digunakan secara meluas oleh masyarakat Indonesia dalam menjelaskan proses masuknya angin ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit. Namun konsep aslinya masih dipertanyakan karena digunakan untuk menjelaskan beberapa gejala berbeda. Tujuan studi ini ialah mengetahui bagaimana orang Jawa mempersepsikan M A untuk memberikan penjelasan yang lebih mendetail dan membudaya. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif deskriptif dengan wawancara dan analisis literatur. Dengan menggunakan dua model mengenali penyakit (illness cognition) dan pandangan psikologi ulayat yang digabung dengan hasil wawancara, penulis menemukan bahwa MA merupakan identitas ulayat gaya hidup sehat masyarakat Jawa. M A berperan sebagai panduan perilaku sehat di kehidupan sehari- hari, sehingga menjadi identitas budaya yang tidak terpisahkan. Studi ini telah menunjukan bahwa dalam memandang studi kesehatan timur, faktor budaya memiliki perannya tersendiri.
Evaluating the Validity of an Epistemic Belief Questionnaire: Evidence Based on Internal Structure, Content, and Response Process Anindito Aditomo
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of epistemic beliefs is regarded as an important goal of education. Three studies were conducted with preservice teachers in Australia to evaluate the validity of a new instrument that has the potential to measure sophistication of epistemic beliefs in a theoretically grounded manner. Two surveys gathered evidence on internal structure and content, and an interview study collected evidence on response process. Findings indicate that the original model and instrument required modifications. The modified instrument exhibited better internal structure. Interview data show that the instrument prompted respondents to think about the target constructs. However, the interview data also show that there are nuances in respondents’ beliefs about scientific knowledge which were not captured by the written questionnaire. Pengembangan keyakinan epistemologi (ilmu pengetahuan) pada siswa dianggap sebagai salah satu tujuan penting pendidikan. Artikel ini memaparkan hasil tiga studi pada guru- guru magang di Australia mengenai validitas sebuah instrumen baru yang mengukur perkembangan keyakinan epistemologi. Dua studi survei menyajikan bukti tentang konten dan struktur internal, dan sebuah studi wawancara memaparkan bukti mengenai proses merespons. Survei pertama menunjukkan bahwa model original dan instrumennya perlu dimodifikasi. Survei kedua menunjukkan bahwa instrumen hasil modifikasi memiliki struktur internal yang lebih baik. Data wawancara menunjukkan bahwa instrumen tersebut memaksa para responden untuk memikirkan konstruk yang disasar. Namun, data wawancara juga menunjukkan adanya nuansa dalam keyakinan responden tentang pengetahuan ilmiah yang tidak terungkap melalui kuesioner tertulis tersebut.
Supervisor and Co-worker Support and Work Engagement: The Role of Teachers’ Workload Indra Wijaya
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study was to examine the relationship between teachers’ work engagement and support from supervisors and co-workers, as well as to investigate the role of the work- load as a moderator. The participants (N = 118) were selected using a convenience sampling method from three private schools in Surabaya. Data were collected using a questionnaire with five response choices and were analyzed using SPSS 19.0, specifically multiple regression analysis and test of absolute value difference. The results showed that: (a) supervisor and co- worker support were simultaneuously positively related to work engagement (r = .432, p < .05), (b) supervisor support were not statistically significant correlated to work engagement (r = .135, p > .05), (c) co-worker support were positively correlated statistically significant to work engage- ment ( r = .425 , p < .05 ), (d) workload moderated the relationship between supervisor support and work engagement (r = .325 , p < .05), (e) workload moderated the relationship between co-worker support and work engagement (r = .199 , p < .05). These results highlighted the importance of supervisor and co-worker support in predicting teachers’ engagement, moderated by the teachers’ workload. Tujuan studi ini adalah untuk menguji hubungan antara dukungan sosial atasan dan rekan kerja, dan keterikatan kerja, serta untuk menguji fungsi beban kerja sebagai moderator. Subjek (N = 118) adalah para guru yang diperoleh melalui convenience sampling. Data diperoleh menggunakan skala pernyataan tertutup dengan lima pilihan jawaban, yang di- analisis menggunakan uji analisis regresi berganda dan uji nilai selisih mutlak pada SPSS 19.0. Hasil menunjukkan: ada hubungan antara dukungan sosial atasan dan rekan kerja secara simultan terhadap keterikatan kerja (r = .432; p < .05), tidak ada hubungan dukungan sosial atasan dan keterikatan kerja (r = .135; p > .05), ada hubungan dukungan sosial rekan kerja dan keterikatan kerja (r = .425; p < .05). Terdapat hubungan antara dukungan sosial atasan dan keterikatan kerja, dengan beban kerja sebagai variabel moderator (r = .325; p < .05), dan ada hubungan antara dukungan sosial rekan kerja dan keterikatan kerja, dengan beban kerja sebagai variabel moderator (r = .199; p < .05). Disimpulkan bahwa dukungan sosial atasan dan rekan kerja merupakan aspek-aspek penting dalam menumbuhkan keterikatan kerja guru yang dimoderatori beban kerja
Secondary Traumatic Stress and Help-Seeking Behavior of Human Rights Officer: [Secondary Traumatic Stress dan Perilaku Mencari Bantuan Pada Human Rights Officer] Tanlain, Eka Christiningsih; Sukmaningrum, Evi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i2.4675

Abstract

A human rights officer (HRO) is a human rights institution staff whose job is to receive and handle cases of alleged violations of human rights. They are at risk of experiencing secondary traumatic stress (STS) due to continuous exposure to cases of alleged violations of human rights. Left untreated, secondary traumatic stress (STS) will have an impact on the personal and professional life of the human rights officer (HRO). The qualitative-phenomenological analysis of the four human rights officers (HRO) in this study describes the secondary traumatic stress (STS) experienced and explores risk factors and help-seeking behavior which includes intentions and attitudes. The results of the study showed that the study participants showed symptoms of secondary traumatic stress (STS) in the High and Very High categories. This causes participants to become emotional, often think about work, and tend to avoid complainants. Physical reactions were also identified in human rights officers (HRO) who were still active in handling cases, such as getting tired quickly, falling asleep faster, and often having stomach ulcers. The risk factors for secondary traumatic stress (STS) for them are heavy workload, long working hours, increased frequency of case exposure and contact with complainants, handling of severe cases, complaining factors, lack of support from institutions and difficult to distance emotional involvement. All participants had the intention to seek help by informing third parties to receive support, solutions, and information when it became unbearable. Human rights officer (HRO) adalah staf lembaga hak asasi manusia (HAM) yang bertugas menerima dan menangani kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Mereka memiliki risiko mengalami secondary traumatic stress (STS) karena paparan kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terus-menerus. Secondary traumatic stress (STS) yang tidak ditangani akan berdampak pada kehidupan personal dan profesional dari human rights officer (HRO). Kajian kualitatif-fenomenologis pada empat human rights officer (HRO) dalam studi ini menggambarkan secondary traumatic stress (STS) yang dialami dan menggali faktor risiko serta perilaku mencari bantuan yang meliputi intensi dan sikap. Hasil studi menunjukkan bahwa para partisipan studi menunjukkan gejala secondary traumatic stress (STS) dalam kategori Tinggi dan Sangat Tinggi. Hal tersebut menyebabkan partisipan menjadi emosional, sering memikirkan pekerjaan, dan cenderung menghindari pengadu. Reaksi fisik juga teridentifikasi pada human rights officer (HRO) yang masih aktif menangani kasus, seperti cepat lelah, lebih cepat mengantuk, dan sering sakit maag. Faktor risiko penyebab secondary traumatic stress (STS) pada mereka adalah beban kerja yang berat, jam kerja yang panjang, peningkatan frekuensi paparan kasus dan kontak dengan pelapor, penanganan kasus yang berat, faktor pengadu, kurangnya dukungan dari institusi dan keterlibatan emosional yang sulit berjarak. Seluruh partisipan memiliki intensi untuk mencari bantuan dengan bercerita kepada pihak ketiga untuk mendapatkan dukungan, solusi, dan informasi jika sudah tidak tertahankan.
An Equal Match: Simultaneous vs. Sequential Methods in Face Testimony Accuracy: [Setara: Metode Simultaneous vs. Sequential Dalam Keakuratan Kesaksian Wajah] Rahayu, Yusti Probowati; Hartoko, Kevin; Ajuni; Wirawan, Hillman
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i2.4728

Abstract

The number of crimes in Indonesia has increased since 2014. In each crime, there are usually witnesses who testify. Witnesses are important in every process, starting from investigation, prosecution, and trial. There are two methods commonly used in the process of identifying facial testimony, namely the simultaneous method and the sequential method. This study is a quantitative experimental research study that aims to determine differences in the accuracy of testimonies using the simultaneous and sequential methods, with undergraduate students as participants. The results of the cross-tabulation of the accuracy of testimony using the simultaneous and sequential methods (p = .335; p > .05) showed that the accuracy of the testimony was not affected. Correlation tests were also performed on the accuracy of testimony and confidence using the biserial point correlation test. Correlation test results (r = .051; p > .05) show that eyewitness’ confidence is not related to the accuracy of testimony. Jumlah tindak kejahatan di Indonesia meningkat sejak tahun 2014. Pada tiap tindak kejahatan biasanya terdapat saksi yang memberikan kesaksian. Saksi adalah penting dalam setiap proses, mulai dari penyidikan, penuntutan, dan pengadilan. Terdapat dua metode yang umum digunakan saat proses identifikasi kesaksian wajah, yaitu metode simultaneous dan metode sequential. Studi ini merupakan studi penelitian kuantitatif eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan keakuratan kesaksian dengan metode simultaneous dan metode sequential, dengan partisipan mahasiswa dan mahasiswi program sarjana. Hasil tabulasi silang keakuratan kesaksian dengan metode simultaneous dan metode sequential (p = 0,335; p > 0,05) menunjukkan bahwa keakuratan kesaksian tidak dipengaruhi oleh kedua metode. Uji korelasi juga dilakukan terhadap keakuratan kesaksian dan keyakinan diri menggunakan uji korelasi poin biserial. Hasil uji korelasi (r = 0,051; p > 0,05) menunjukkan bahwa keyakinan diri saksi mata tidak terkait dengan keakuratan kesaksian.
Neurotic Trends Among Individuals in Early Adulthood Who Experience Emotional Abuse in Dating Relationships: [Tren Neurotik Pada Individu Dewasa Awal yang Mengalami Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Berpacaran] Kristhi, Nathasya Shesilia; Sukmaningrum, Evi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i2.4897

Abstract

One of many issues in dating relationships is physical or emotional abuse. This issue becomes complicated as this relationship form is often not legally bound. In addition, dating violence is often associated with men as perpetrators and women as victims. Using Horney’s classical theory, the authors aim to explain the personality dynamics of individuals in early adulthood who experience emotional abuse in dating relationships. This study applied a phenomenological qualitative approach. The technique utilized to obtain data was through questionnaires, interviews, and online observations of four participants (one male perpetrator, one male victim, one female perpetrator, and one female victim), whereby each participant was unrelated to each other. A thematic analysis found that participants who were perpetrators of emotional abuse in dating relations had a tendency towards the aggressive type of neurotic trend, based on the need to control and exploit other parties. The dynamics formed in this relationship are behaviors related to controlling and excessive monitoring of partners, silent treatment and avoidance, and intimidating and threatening the partner. Meanwhile, the victims of emotional abuse in dating relationships tend have a tendency towards the compliant type of neurotic trend, that is seen from the need to receive affection, and to have a partner who is powerful and has control over themselves. The dynamics that are formed in this relationship comprise behaviors that tolerate the perpetrator's attitude to survive the relationship, as the victims do not want to lose affection, are still dependent on the perpetrator, and feel that they must concede. Salah satu permasalahan dalam hubungan berpacaran adalah kekerasan dalam hubungan berpacaran, baik secara fisik maupun emosional. Permasalahan ini menjadi rumit karena bentuk relasi ini seringkali tidak terikat secara hukum. Selain itu, kekerasan dalam berpacaran seringkali diasosiasikan bahwa laki-laki merupakan pelaku kekerasan dan perempuan adalah korban. Dengan pendekatan teori klasik Horney, penulis ingin menjelaskan dinamika kepribadian individu dewasa awal yang memiliki pengalaman kekerasan emosional dalam hubungan berpacaran. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis. Teknik yang digunakan untuk memperoleh data adalah dengan menggunakan kuesioner, wawancara, observasi secara daring terhadap empat partisipan (satu laki-laki sebagai pelaku, satu laki-laki sebagai korban, satu perempuan sebagai pelaku, dan satu perempuan sebagai korban), serta setiap partisipan bukan pasangan. Hasil studi melalui analisis tematik menemukan bahwa partisipan sebagai pelaku kekerasan emosional dalam hubungan berpacaran memiliki kecenderungan tren neurotik aggressive type yang didasari kebutuhan untuk mengendalikan dan eksploitasi pihak lain. Dinamika yang terbentuk dalam relasi tersebut adalah perilaku mengontrol atau mengawasi pasangan, merendahkan dan memaki pasangan, mendiamkan dan menghindari pasangan, serta mengintimidasi dan mengancam pasangan. Sementara itu, korban kekerasan emosional dalam hubungan berpacaran memiliki kecenderungan tren neurotik compliant type yang didasari kebutuhan memperoleh afeksi, mendapatkan pasangan yang berkuasa dan memegang kendali atas dirinya. Dinamika yang terbentuk dalam relasi tersebut adalah perilaku untuk mentoleransi sikap pelaku dan bertahan dalam hubungan karena tidak ingin kehilangan kasih sayang, bergantung pada pelaku, dan merasa dirinya harus mengalah.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 40 No 2 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 2, 2025) Vol 40 No 1 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 1, 2025) Vol 39 No 2 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 2, 2024) Vol 39 No 1 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 1, 2024) Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023) Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023) Vol 37 No 2 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 2, 2022) Vol 37 No 1 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 1, 2022) Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021) Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021) Vol. 35 No. 2 (2020): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 2, 2020) Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019) Vol. 34 No. 4 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 4, 2019) Vol. 34 No. 3 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 3, 2019) Vol. 34 No. 2 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 2, 2019) Vol. 33 No. 4 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 4, 2018) Vol. 34 No. 1 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 1, 2018) Vol. 33 No. 3 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 3, 2018) Vol. 33 No. 2 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 2, 2017) Vol. 33 No. 1 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 1, 2017) Vol. 32 No. 4 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 4, 2017) Vol. 32 No. 3 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 3, 2017) Vol. 32 No. 2 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 2, 2017) Vol. 32 No. 1 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 1, 2016) Vol. 31 No. 4 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 4, 2016) Vol. 31 No. 3 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 3, 2016) Vol. 31 No. 2 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 2, 2016) Vol. 31 No. 1 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 1, 2015) Vol. 30 No. 4 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 4, 2015) Vol. 30 No. 3 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 3, 2015) Vol. 30 No. 2 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 2, 2015) Vol. 30 No. 1 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 1, 2014) Vol. 29 No. 4 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 4, 2014) Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014) Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014) Vol. 29 No. 1 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 1, 2013) Vol 28 No 4 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 4, 2013) Vol 28 No 3 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 3, 2013) Vol 28 No 2 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 2, 2013) Vol 28 No 1 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 1, 2012) Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012) Vol 27 No 3 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 3, 2012) Vol 27 No 2 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2012) Vol 27 No 1 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2011) Vol 26 No 4 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 4, 2011) Vol 26 No 3 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 3, 2011) Vol 26 No 2 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 2, 2011) Vol 26 No 1 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 1, 2010) Vol 25 No 4 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 4, 2010) Vol 25 No 3 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 3, 2010) Vol 25 No 2 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 2, 2010) Vol 25 No 1 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 1, 2009) Vol 24 No 4 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 4, 2009) Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009) Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009) Vol 24 No 1 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No.1, 2008) Vol 23 No 4 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 4, 2008) Vol 23 No 3 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 3, 2008) Vol 23 No 2 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 2, 2008) Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007) Vol 22 No 4 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 4, 2007) Vol 22 No 3 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 3, 2007) Vol 22 No 2 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 2, 2007) Vol 22 No 1 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 1, 2006) Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006) Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006) Vol 21 No 2 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 2, 2006) Vol 21 No 1 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 1, 2005) Vol 20 No 4 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 4, 2005) Vol 20 No 3 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 3, 2005) Vol 20 No 2 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 2, 2005) Vol 20 No 1 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 1, 2004) Vol 19 No 4 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 4, 2004) Vol 19 No 3 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 3, 2004) Vol 19 No 2 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 2, 2004) Vol 19 No 1 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 1, 2003) Vol 18 No 4 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 4, 2003) Vol 18 No 3 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 3, 2003) Vol 18 No 2 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 2, 2003) Vol 18 No 1 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 1, 2002) Vol 17 No 4 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 4, 2002) Vol 17 No 3 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 3, 2002) Vol 17 No 2 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 2, 2002) Vol 17 No 1 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 1, 2001) Vol 16 No 3 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 3, 2001) Vol 16 No 2 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 2, 2001) Vol 16 No 4 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 4, 201) Vol 16 No 1 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 1, 2000) Vol 15 No 4 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 4, 2000) Vol 15 No 3 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 3, 2000) Vol 15 No 2 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 2, 2000) Vol 15 No 1 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 1, 1999) Vol 14 No 4 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 4, 1999) Vol 14 No 3 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 3, 1999) More Issue