cover
Contact Name
Dr. Ide Bagus Siaputra
Contact Email
-
Phone
+62312981246
Journal Mail Official
anima@unit.ubaya.ac.id
Editorial Address
Faculty of Psychology, Universitas Surabaya Jalan Raya Rungkut Mejoyo (Raya Kali Rungkut), Surabaya, East Java, 60293
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
ANIMA Indonesian Psychological Journal
Published by Universitas Surabaya
ISSN : 02150158     EISSN : 26205963     DOI : https://doi.org/10.24123/aipj
Core Subject : Social,
Anima publishes peer reviewed articles with editors and consultants providing detailed assistance for authors to reach publication. Anima publishes research reports and scientific papers in psychology and/or related sciences with the aim to advance science, knowledge, and theory of psychology.
Articles 651 Documents
The Dark Triad Personality Traits in Relation to Cyberbullying: The Role of Self-Esteem as a Mediator: [Hubungan Kepribadian Dark Triad dan Cyberbullying: Peran Self-Esteem Sebagai Mediator] Asih, Sali Rahadi; Lutfiyah
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.4113

Abstract

A cyberbullying study in Indonesia found that 84% of young people aged 12-17 years conducted cyberbullying. The consequences of cyberbullying emphasize the importance of studying the predictors and mechanism of cyberbullying. A number of studies have found that cyberbullying is related to Dark Triad personality traits and self-esteem. Dark Triad personality traits consist of three characteristics, namely the traits of: (1) psychopathy, Machiavellianism, and narcissism. This study aims to see the role of self-esteem as a mediator in the relationship between Dark Triad personality traits and cyberbullying in the age of 20-35 years. Participants of this studi consist of 292 individuals where 70.89% of them are women. This study utilizes three scales, namely cyberbullying scale, Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), and Short Dark Triad Scale (SD3). The result of this study finds that self-esteem mediates traits of psychopathy toward cyberbullying. High self-esteem in individuals with traits of psychopathy results in higher trend in conducting cyberbullying. On the other hand, self-esteem may not significantly mediate between the traits of narcissism and Machiavellianism with cyberbullying. Results of this study aims to provide an implication related to the prevention or intervention of cyberbullying. Sebuah studi cyberbullying di Indonesia menemukan sebanyak 84% anak muda berusia 12-17 tahun melakukan cyberbullying. Konsekuensi dari cyberbullying menekankan pentingnya meneliti prediktor dan mekanisme cyberbullying. Sejumlah studi telah menemukan bahwa cyberbullying terkait dengan kepribadian Dark Triad dan self-esteem. Kepribadian Dark Triad terdiri dari tiga karakteristik, yaitu sifat psikopati, Machiavellianisme, dan narsisisme. Studi ini bertujuan untuk melihat peran self-esteem sebagai mediator dalam hubungan antara kepribadian Dark Triad dan cyberbullying pada usia 20-35 tahun. Partisipan studi terdiri dari 292 individu, dengan 70,89% merupakan perempuan. Studi ini menggunakan tiga alat ukur yaitu skala pengukuran cyberbullying, Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES), dan Short Dark Triad Scale (SD3). Hasil studi ini menemukan bahwa self-esteem memediasi sifat psikopati terhadap cyberbullying. Self-esteem yang tinggi pada individu dengan sifat psikopati menghasilkan kecenderungan yang lebih tinggi dalam melakukan cyberbullying. Di sisi lain, self-esteem tidak memediasi secara signifikan antara sifat narsisisme maupun sifat Machiavellianisme dengan cyberbullying. Hasil studi ini diharapkan mampu menyediakan implikasi sehubungan pencegahan atau intervensi cyberbullying.
Adverse Childhood Experiences, Coping Strategies, and Emotional Distress on Young Adults During the COVID-19 Pandemic: [Pengalaman Buruk di Masa Kecil, Strategi Coping, dan Hendaya Emosional Pada Individu Dewasa Muda Selama Pandemi COVID-19] Shanen Emily; Dewi, Zahrasari Lukita
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.4576

Abstract

The purpose of this study was to examine the relationship between adverse childhood experiences and the use of coping strategies on the emergence of emotional distress in young adults during the COVID-19 pandemic. A number of previous studies found an increase in emotional distress in young adults the COVID-19 pandemic. The authors suspect that there is a role of adverse childhood experiences and the use of maladaptive coping strategies on emotional distress during the COVID-19 pandemic. This study utilizes quantitative method with three measuring instruments, namely: (1) Adverse Childhood Experiences (ACEs); (2) Depression, Anxiety, and Stress 42 (DASS-42); and (3) Ways of Coping Scale (WCS). The participants of this study were 278 young adults, whom had at least one adverse childhood experience, and lives in the Jabodetabek area. The results showed that there was a positive correlation between emotional distress and adverse childhood experiences and emotion-focused coping strategies. In addition, emotional distress also has a negative correlation with problem-focused coping strategies. Considering the results of this study, the treatment that needs to be given to young adults who have emotional distress during the COVID-19 is by strengthening the individual's ability to cope with the problems experienced during the COVID-19 pandemic, and involving the acceptance of adverse childhood experiences. Tujuan studi ini adalah meneliti hubungan antara pengalaman buruk di masa kecil dan penggunaan strategi coping terhadap hendaya emosional pada individu dewasa muda selama pandemi COVID-19. Sejumlah hasil studi sebelumnya menunjukkan peningkatan hendaya emosional yang dialami oleh individu dewasa awal selama pandemi COVID-19. Penulis menduga adanya peranan pengalaman buruk di masa kecil dan strategi coping yang kurang adaptif pada hendaya emosional selama pandemi COVID-19. Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan tiga alat ukur, yaitu: (1) Adverse Childhood Experiences (ACEs); (2) Depression, Anxiety, and Stress 42 (DASS-42); dan (3) Ways of Coping Scale (WCS). Partisipan studi ini berjumlah 278 individu dewasa muda, yang memiliki minimal satu pengalaman buruk di masa kecil, dan berdomisili di area Jabodetabek. Hasil studi menunjukkan adanya hubungan positif antara hendaya emosional dengan pengalaman buruk di masa kecil dan penggunaan strategi coping yang berfokus pada emosi. Selain itu, hendaya emosional juga memiliki hubungan negatif dengan penggunaan strategi coping yang berfokus pada masalah. Mempertimbangkan hasil studi ini, penanganan yang perlu diberikan pada individu dewasa muda dengan hendaya emosional selama pandemi COVID-19 adalah dengan memperkuat kemampuan individu dalam mengatasi masalah yang dialami selama pandemi COVID-19, serta melibatkan penerimaan terhadap pengalaman buruk di masa kecil.
The Relationship Between Peer Social Support and Academic Stress Among University Students During the COVID-19 Pandemic: [Hubungan Antara Dukungan Sosial Teman Sebaya dan Stres Akademik Mahasiswa Selama Pandemi COVID-19] Prayitno, Hayyu Aliya; Andayani, Budi
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.4711

Abstract

The sudden transition of the learning environment during the COVID-19 pandemic brings many challenges for university students, potentially leading them to experience higher levels of academic stress. Previous studies have found that peer social support is beneficial to help students deal with academic stress. Therefore, this study aims to find the relationship between peer social support and academic stress among university students during online learning. Peer Social Support Scale and Academic Stress Scale were used as instruments for data collection. A total of 230 undergraduate students from 14 universities in Yogyakarta, Indonesia participated in the study. The participants were students who currently or had attended lecture(s) in the time of learning transformation from physical (face-to-face) to virtual (distance) environment due to social restrictions. A simple linear regression technique was applied to evaluate academic stress as a function of peer social support. This study found that students who receive peer social support experienced lower levels of academic stress during online learning. Further suggestions for students, educational practitioners, and educational institutions were also discussed. Perubahan lingkungan belajar yang tiba-tiba selama pandemi COVID-19 menyebabkan banyak tantangan untuk mahasiswa, dan berpotensi meningkatkan tingkat stres akademik. Sejumlah studi terdahulu menemukan bahwa dukungan sosial teman sebaya berperan membantu mahasiswa mengatasi stres akademik. Maka dari itu, studi ini bertujuan untuk mencari hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan stres akademik pada mahasiswa selama pembelajaran daring. Peer Social Support Scale dan Academic Stress Scale digunakan untuk pengambilan data. Terdapat total 230 mahasiswa dari 14 universitas di Yogyakarta, Indonesia yang berpartisipasi dalam studi. Partisipan adalah mahasiswa aktif yang sedang atau pernah mengikuti perkuliahan selama transisi proses belajar dari pembelajaran tatap muka ke pembelajaran virtual akibat pembatasan sosial. Analisis regresi linear sederhana digunakan untuk mengkaji stres akademik sebagai fungsi dari dukungan sosial teman sebaya. Studi ini menemukan bahwa mahasiswa yang mendapatkan dukungan sosial teman sebaya akan mengalami tingkat stres akademik yang lebih rendah selama pembelajaran daring. Studi ini juga mendiskusikan saran lebih lanjut yang diharapkan dapat berguna untuk mahasiswa, praktisi pendidikan, dan institusi pendidikan.
Schwartz’s Values, Perceived Organizational Support (POS), and Work Engagement: The Mediating Role of Work Meaningfulness: [Schwartz’s Values, Perceived Organizational Support (POS), dan Work Engagement: Peran Mediasi dari Work Meaningfulness] Kurniawan, Christian Kevin; Indrayanti
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.4877

Abstract

Conditions of the situation after the COVID-19 pandemic have an impact on the phenomenon of employee work engagement. Employees who are accustomed to working from home are asked to adjust to the new work design such as hybrid working. By having values and perceived organizational support (POS), employees who can find work meaningfulness will have higher work engagement in any work design after the COVID-19 pandemic. This study aims to examine the role of work meaningfulness as a mediator in the relationship between perceived organizational support (POS) and values toward work engagement. The data collection was carried out online and involved 220 Indonesian employees who worked in various fields. Study participants were recruited by purposive sampling method. Instruments of this study consist of the Survey of Perceived Organizational Support (SPOS), Portrait Values Questionnaire (PVQ), The Work and Meaning Inventory (WAMI), and Utrecht Work Engagement Scale (UWES). The data analysis in this study utilized the PROCESS mediation analysis. The results showed that work meaningfulness significantly had a mediating effect on perceived organizational support (POS) toward work engagement (β = .743; p < .001). Woek meaningfulness also had a mediating effect on values toward work engagement (β = .581; p < .001). Especially for values, work meaningfulness had a significant mediating effect on self-transcendence (β = .129; p < .01), openness to change (β = .120; p < .05), and conservation (β = .220; p < .01), but has no mediation effect on self-enhancement towards work engagement (β = .108; p > .05). This result confirms that having meaningfulness experience during working would increase the role of situational factors (perceived organizational support [POS]) and individual factor (values) toward work engagement. Kondisi pasca pandemi COVID-19 berdampak pada fenomena work engagement karyawan di tempat kerja. Karyawan yang terbiasa bekerja dari rumah diminta untuk menyesuaikan diri dengan desain kerja baru yang berupa hybrid working. Dengan memiliki values dan perceived organizational support (POS), karyawan yang dapat menemukan work meaningfulness akan memiliki work engagement yang lebih tinggi pada kondisi desain kerja apapun pasca pandemi COVID-19. Studi ini bertujuan menguji peran work meaningfulness sebagai mediator dalam hubungan antara perceived organizational support (POS) dan values terhadap work engagement. Pengumpulan data studi dilakukan secara daring dengan melibatkan 220 karyawan dari berbagai bidang. Partisipan studi direkrut dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan Survey of Perceived Organizational Support (SPOS), Portrait Values Questionnaire (PVQ), The Work and Meaningful Inventory (WAMI), dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES). Analisis data menggunakan uji mediasi PROCESS. Hasil studi menunjukkan bahwa work meaningfulness secara signifikan memiliki efek mediasi pada perceived organizational support (POS) terhadap work engagement (β = 0,743; p < 0,001). Work meaningfulness juga mampu memediasi hubungan antara values dan work engagement (β = 0,581; p < 0,001). Khusus untuk variable values, work meaningfulness memiliki efek mediasi pada dimensi self-trancendence (β = 0,129; p < 0,01), openness to change (β = 0,120; p < 0,05), dan conservation (β = 0,220; p < 0,01) terhadap work engagement, namun pada dimensi self-enhancement, work meaningfulness tidak memiliki efek mediasi dalam hubungan antara self-enhancement terhadap work engagement (β = 0,108; p > 0,05). Hasil tersebut mengkonfirmasi bahwa memiliki pengalaman meaningful selama bekerja dapat meningkatkan peran faktor situasional (perceived organizational support [POS]) dan faktor individual (values) terhadap work engagement.
Self-Criticism in Emerging Adulthood With Adverse Childhood Experiences Increases Depression, Anxiety, and Stress: [Kritik Diri Pada Dewasa Awal Dengan Pengalaman Buruk di Masa Kecil Meningkatkan Depresi, Kecemasan, dan Stres] Leman, Helena Kristina; Arjadi, Retha
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.4893

Abstract

The rate of child maltreatment in Indonesia is relatively high. Adverse childhood experiences are associated with poor mental health outcomes on individuals in emerging adulthood. However, the association between adverse childhood experiences and mental health problems has not been explored rigorously in the context of Indonesia. Therefore, this study examines the effect of self-criticism on depression, anxiety, and stress on individuals in emerging adulthood with adverse childhood experiences. Individuals in emerging adulthood, aged 18-25 years, lived in Indonesia, and had a history of adverse childhood experiences, were included as the study sample (N = 450). Participants filled out a self-criticism questionnaire utilizing the Levels of Self-Criticism (LOSC) instrument which measured comparative self-criticism and internalized self-criticism. Depression, anxiety, and stress were measured using Depression, Anxiety, and Stress Scale 42 (DASS-42). The results confirmed that comparative self-criticism and internalized self-criticism significantly contributed to the increase of depression, anxiety, and stress levels in individuals with adverse childhood experiences. This finding informs adults with adverse childhood experiences that managing self-critics may alleviate their mental health problems. Angka kekerasan pada anak tergolong tinggi di Indonesia. Pengalaman buruk di masa kecil dapat membawa dampak buruk pada kesehatan mental individu dewasa. Akan tetapi, asosiasi pengalaman buruk di masa kecil dan masalah kesehatan mental belum banyak diteliti pada konteks Indonesia. Maka dari itu, studi ini menguji pengaruh kritik diri terhadap depresi, kecemasan, dan stres individu dewasa awal yang mengalami pengalaman buruk di masa kecil. Individu dewasa awal yang berusia 18-25 tahun, berdomisili di Indonesia, dan memiliki riwayat pengalaman buruk di masa kecil, dilibatkan sebagai sampel studi (N = 450). Partisipan mengisi kuesioner kritik diri menggunakan alat ukur Levels of Self-Criticism (LOSC) yang mengukur comparative self-criticism dan internalized self-criticism. Depresi, kecemasan, dan stres diukur menggunakan alat ukur Depression, Anxiety, and Stress Scale 42 (DASS-42). Hasil menunjukkan bahwa comparative self-criticism dan internalized self-criticism berkontribusi meningkatkan depresi, kecemasan, dan stres pada individu dewasa awal dengan pengalaman buruk di masa kecil. Hasil ini menjadi informasi penting bagi individu dengan pengalaman buruk di masa kecil bahwa pengelolaan kritik diri bermanfaat untuk mengatasi permasalahan kesehatan mental yang dialami.
The Role of Environmental Attitude as Mediator Between Perceived Sustainability Policy and Spiritual Well-Being Toward Pro-Environmental Behavior: [Peran Environmental Attitude Sebagai Mediator Perceived Sustainability Policy dan Spiritual Well-Being Atas Pro-Environmental Behavior] Soeharso, Silverius Y.; Ningtyas, Lisa Dwi; Sundari, Resy
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.4906

Abstract

This study aims to ascertain the role of the environmental attitude (EA) variable as a moderator in the relationship between perceived sustainability policy (PSP) and spiritual well-being (SpWB) on pro-environmental behavior (PEB). The sampling technique utilized was convenience sampling, and 127 respondents were selected, consisting of lecturers and education staffs at several universities in DKI Jakarta. The measuring instruments utilized are the Pro-Environmental Behavior (PEB) Scale, Environmental Attitude (EA) Scale, Perceived Sustainability Policy (PSP) Scale, and Spiritual Well-Being (SpWB) Scale; with Structural Equation Model (SEM) as the data analysis. The conclusion is that the relationship model consisting of the variables pro-environmental behavior (PEB), environmental attitude (EA), spiritual well-being (SpWB), and perceived sustainability policy (PSP) "fits" and/or significant with the study data, although the relationship between several variables is not significant. Environmental attitude (EA) in this study was not proven to be a mediator between spiritual well-being (SpWB) and perceived sustainability policy (PSP) on pro-environmental behavior (PEB). Insignificant results may be caused by the small size of the samples. University management is suggested to implement pro-environmental policies to create a green and sustainable campus environment. Studi ini bertujuan untuk mengkaji peran variabel environmental attitude (EA) sebagai moderator pada hubungan antara perceived sustainability policy (PSP) dan spiritual well-being (SpWB) terhadap pro-environmental behavior (PEB). Teknik sampling yang digunakan adalah convenience sampling, dan dipilih 127 responden yang terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan di sejumlah universitas di DKI Jakarta. Alat ukur yang digunakan adalah Pro-Environmental Behavior (PEB) Scale, Environmental Attitude (EA) Scale, Perceived Sustainability Policy (PSP) Scale, dan Spiritual Well-Being (SpWB) Scale; dengan Structural Equation Model (SEM) sebagai analisis data. Hasil studi menyimpulkan bahwa model hubungan struktural yang terdiri dari variabel pro-environmental behavior (PEB), environmental attitude (EA), spiritual well-being (SpWB), dan perceived sustainability policy (PSP) “fit” dan/atau signifikan dengan data studi, walaupun hubungan beberapa variabel tidak signifikan. Environmental attitude (EA) pada studi ini tidak terbukti dapat menjadi mediator antara spiritual well-being (SpWB) maupun perceived sustainability policy (PSP) terhadap pro-environmental behavior (PEB). Hasil yang tidak signifikan dapat disebabkan oleh ukuran sampel yang kecil. Manajemen perguruan tinggi disarankan untuk memberlakukan kebijakan pro-lingkungan tersebut, dalam rangka menciptakan lingkungan kampus hijau dan berkelanjutan.
National Resilience in Regards to Drug Problems: The Effects of Perceived Threat and Sense of Coherence: [National Resilience Dalam Masalah Narkoba: Pengaruh Perceived Threat dan Sense of Coherence] Anita Rahma Yeni; Dicky C. Pelupessy
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.5206

Abstract

National resilience studies discuss citizens' perceptions on the state's ability to manage and overcome national stressors. National resilience also refers to the population's feelings about the government's ability to manage the country. Drug problem is an important issue due to its potential to be a source of problems harming the state. Therefore, this study aims to describe the condition of national resilience in terms of perceived threat and sense of coherence in the context of drug problems. The participants involved were 315 individuals spread across 14 cities or regencies in West Kalimantan, recruited online with an age range of 18-57 years old (mean = 24.18). Data collection utilized survey by a questionnaire of the study instruments, being: (1) National Resilience Scale Short Version (NR-13); (2) Perceived Threat Measurement Items; dan (3) Sense of Coherence Scale - 13 (SOCS-13). Data analysis utilized multiple hierarchical regression analysis. Results of data processing show that perceived threat and sense of coherence significantly predict national resilience. Participants who feel more threatened by drugs tend to have lower national resilience level. Participants with higher sense of coherence also tend to have higher national resilience as well. From the two variables, perceived threat is stronger in the association with national resilience. This study’s findings show that the population's feelings during the crisis greatly influenced their assessment of the government's ability to overcome the crisis. Studi national resilience membahas pandangan warga negara terhadap kemampuan negara menghadapi dan mengatasi stresor nasional. National resilience juga merujuk kepada perasaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah mengelola negara. Masalah narkoba merupakan isu penting karena berpotensi menjadi sumber permasalahan yang merugikan negara. Maka dari itu, studi ini bertujuan menggambarkan kondisi national resilience yang ditinjau dari nilai perceived threat dan sense of coherence dalam konteks masalah narkoba. Partisipan studi sebanyak 315 individu yang tersebar di 14 kota atau kabupaten di Kalimantan Barat, yang direkrut secara daring dengan rentang usia 18-57 tahun (mean = 24,18). Pengumpulan data menggunakan metode survei dengan bantuan kuesioner instrumen studi, yaitu: (1) National Resilience Scale Short Version (NR-13); (2) Perceived Threat Measurement Items; dan (3) Sense of Coherence Scale - 13 (SOCS-13). Analisis data menggunakan analisis regresi hierarki berganda. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa perceived threat dan sense of coherence berhasil memprediksi national resilience. Partisipan yang merasa bahwa narkoba sangat mengancam cenderung memiliki tingkat national resilience rendah. Partisipan dengan tingkat sense of coherence tinggi juga cenderung memiliki tingkat national resilience tinggi. Dari kedua variabel tersebut, perceived threat lebih kuat berasosiasi dengan national resilience. Temuan studi ini menunjukkan bahwa perasaan masyarakat semasa krisis sangat berpengaruh terhadap penilaian masyarakat terkait kemampuan pemerintah dalam mengatasi krisis tersebut.
Not to Instantly Increase Manuscript Quantity, but to Accelerate Breakthroughs in Psychology: The Essence of Letter to the Editor (LtE): [Bukan Untuk Meningkatkan Kuantitas Naskah Secara Instan, Melainkan Mengakselerasi Terobosan di Bidang Ilmu Psikologi: Intisari Surat Kepada Editor] Abraham, Juneman; Siaputra, Ide Bagus
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.5489

Abstract

In the field of psychology, we witness and experience rapid development of ideas about humans, especially in the era of the Industrial Revolution 4.0, where psychology will accept the influence of cybernetic ideas. As a researcher in psychology who is diligent in observing human behavior, repeatedly in our minds, various "hypotheses" about the dynamics of human behavior complexes emerge. Especially in Indonesia, the fertile place where the complex dynamics is wrapped in cultural diversity. It is urgent to publish these “hypothetical thoughts” - also a response to the results of peer studies - in a solid, communicative, and persuasive form; so that it can be followed up by peers with pleasure. This is one of the pathways for the development of psychological science which, honestly and regretfully, is still rare by scientific journals of psychology in Indonesia. The way we communicate psychological science, thus, is no longer "accommodated" by one or two forms of scientific publications, such as original articles or reviews (both narrative and systematic). The world of Indonesian scientific publications can learn from the world of journalistic publications that have already accustomed to the communication between the "citizens" of the media. As an example is The Jakarta Post which has a specific rubric for Letter to Editor (LtE) which is very passionate. Hans Selye once wrote one of the legendary Letter to Editors (LtEs), and that letter opened the way for scientific studies on stress. Therefore, ANIMA Indonesian Psychological Journal encourages the readers to send their extraordinary ideas through Letter to Editor (LtE). Following up on this invitation, we will hold activities and develop supporting products. The existence of training, assistance, and guidelines for writing Letter to Editor (LtE) is expected to foster Letter to Editor (LtE) writing habits as an alternative to quality publications, and not as a new variant of academic integrity deviations. Di bidang psikologi, kita menyaksikan dan mengalami perkembangan pesat gagasan tentang manusia, terutama di era Revolusi Industri 4,0, ketika psikologi akan menerima pengaruh gagasan sibernetika. Sebagai peneliti psikologi yang tekun mengamati perilaku manusia, tentu berulang kali terbesit dalam benak kita, berbagai “hipotesis” tentang dinamika kompleks perilaku manusia. Terutama di Indonesia, tempat subur di mana dinamika kompleks itu dibalut dengan keanekaragaman budaya hidup. Sangat mendesak untuk menerbitkan sejumlah “besit hipotetis” itu - juga respons terhadap hasil studi sejawat - dalam bentuk yang padat, komunikatif, dan persuasif; sehingga dapat ditindaklanjuti para sejawat dengan senang hati. Inilah salah satu jalur pengembangan sains psikologi yang, secara jujur dan menyesal, masih langka ditapaki oleh jurnal ilmiah psikologi di Indonesia. Cara kita mengkomunikasikan sains psikologi, dengan demikian, tidak memadai lagi "ditampung" oleh satu atau dua bentuk publikasi ilmiah, seperti artikel orisinal atau reviu (baik naratif maupun sistematik). Dunia publikasi ilmiah Indonesia dapat belajar dari dunia publikasi jurnalistik yang telah lebih dahulu membiasakan kekomunikatifan antar-"warga" media tersebut. Sebagai contoh adalah The Jakarta Post yang memiliki rubrik spesifik Letter to Editor (LtE) yang sangat bergairah. Hans Selye pernah menulis salah satu Letter to Editor (LtE) yang legendaris, dan suratnya membuka jalan bagi studi ilmiah tentang stres. Maka dari itu, ANIMA Indonesian Psychological Journal mendorong pembaca untuk mengirimkan ide luar biasa mereka melalui Letter to Editor (LtE). Menindaklanjuti undangan ini, kami akan menyelenggarakan kegiatan dan mengembangkan produk pendukung. Adanya pelatihan, pendampingan, dan pedoman penulisan Letter to Editor (LtE) diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan penulisan Letter to Editor (LtE) sebagai alternatif publikasi berkualitas, dan bukan sebagai varian baru penyimpangan integritas akademik.
Improving Integrity in Research and Higher Education: An Indonesian Perspective: [Meningkatkan Integritas Dalam Riset dan Pendidikan Tinggi: Sebuah Perspektif Indonesia] Kozok, Uli; Siaputra, Ide Bagus
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.5490

Abstract

Students and lecturers have challenges in publishing the results of their researches and studies as a requirement for graduation, promotion, or performance evaluation for institutions. This can bring up a variety of behaviors in producing scientific papers, ranging from those that should be emulated, questioned, doubtful, to being considered violations. The Indonesian government has issued regulations on academic integrity in producing scientific papers, but there are still new challenges such as misinformation and the use of artificial intelligence. Therefore, there is a need for indicators received together about the level of reasonableness in producing scientific work. This indicator must be relevant globally and accommodative to the local context. To strive for this, it is important to strive for dialogue between the academic community and the government to review publication policies and ensure that the regulations are effective and adaptive to the times and technological progress. Mahasiswa dan dosen memiliki tantangan dalam mempublikasikan hasil penelitian dan studi mereka sebagai syarat kelulusan, kenaikan jabatan, atau evaluasi kinerja bagi lembaga. Hal ini dapat memunculkan beragam perilaku dalam menghasilkan karya ilmiah, mulai dari yang patut dicontoh, dipertanyakan, meragukan, hingga dianggap pelanggaran. Pemerintah Indonesia sudah menerbitkan peraturan tentang integritas akademik dalam menghasilkan karya ilmiah, namun masih ada tantangan baru seperti misinformasi dan penggunaan kecerdasan buatan. Maka dari itu, perlu ada indikator yang diterima bersama tentang tingkat kewajaran dalam menghasilkan karya ilmiah. Indikator ini harus relevan secara global dan akomodatif dengan konteks lokal. Untuk mengupayakan hal tersebut, penting untuk mengupayakan dialog antara sivitas akademika dan pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan publikasi dan memastikan bahwa peraturan tersebut efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.
Epilogue: [Epilog] Surijah, Edwin Adrianta
ANIMA Indonesian Psychological Journal Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24123/aipj.v38i1.5542

Abstract

Epilogue from Edwin Adrianta Surijah regarding their time as an Editor-in-Chief in ANIMA Indonesian Psychological Journal. Epilog oleh Edwin Adrianta Surijah perihal waktu mereka menjabat sebagai Editor-in-Chief di ANIMA Indonesian Psychological Journal.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 40 No 2 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 2, 2025) Vol 40 No 1 (2025): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 40, No. 1, 2025) Vol 39 No 2 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 2, 2024) Vol 39 No 1 (2024): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 39, No. 1, 2024) Vol 38 No 2 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 2, 2023) Vol 38 No 1 (2023): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 38, No. 1, 2023) Vol 37 No 2 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 2, 2022) Vol 37 No 1 (2022): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 37, No. 1, 2022) Vol. 36 No. 2 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 2, 2021) Vol. 36 No. 1 (2021): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 36, No. 1, 2021) Vol. 35 No. 2 (2020): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 2, 2020) Vol. 35 No. 1 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 35, No. 1, 2019) Vol. 34 No. 4 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 4, 2019) Vol. 34 No. 3 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 3, 2019) Vol. 34 No. 2 (2019): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 2, 2019) Vol. 33 No. 4 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 4, 2018) Vol. 34 No. 1 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 34, No. 1, 2018) Vol. 33 No. 3 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 3, 2018) Vol. 33 No. 2 (2018): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 2, 2017) Vol. 33 No. 1 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 33, No. 1, 2017) Vol. 32 No. 4 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 4, 2017) Vol. 32 No. 3 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 3, 2017) Vol. 32 No. 2 (2017): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 2, 2017) Vol. 32 No. 1 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 32, No. 1, 2016) Vol. 31 No. 4 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 4, 2016) Vol. 31 No. 3 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 3, 2016) Vol. 31 No. 2 (2016): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 2, 2016) Vol. 31 No. 1 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 31, No. 1, 2015) Vol. 30 No. 4 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 4, 2015) Vol. 30 No. 3 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 3, 2015) Vol. 30 No. 2 (2015): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 2, 2015) Vol. 30 No. 1 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 30, No. 1, 2014) Vol. 29 No. 4 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 4, 2014) Vol. 29 No. 3 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 3, 2014) Vol. 29 No. 2 (2014): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 2, 2014) Vol. 29 No. 1 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 29, No. 1, 2013) Vol 28 No 4 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 4, 2013) Vol 28 No 3 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 3, 2013) Vol 28 No 2 (2013): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 2, 2013) Vol 28 No 1 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 28, No. 1, 2012) Vol 27 No 4 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 4, 2012) Vol 27 No 3 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 3, 2012) Vol 27 No 2 (2012): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2012) Vol 27 No 1 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 27, No. 1, 2011) Vol 26 No 4 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 4, 2011) Vol 26 No 3 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 3, 2011) Vol 26 No 2 (2011): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 2, 2011) Vol 26 No 1 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 26, No. 1, 2010) Vol 25 No 4 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 4, 2010) Vol 25 No 3 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 3, 2010) Vol 25 No 2 (2010): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 2, 2010) Vol 25 No 1 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 25, No. 1, 2009) Vol 24 No 4 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 4, 2009) Vol 24 No 3 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 3, 2009) Vol 24 No 2 (2009): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No. 2, 2009) Vol 24 No 1 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 24, No.1, 2008) Vol 23 No 4 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 4, 2008) Vol 23 No 3 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 3, 2008) Vol 23 No 2 (2008): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 2, 2008) Vol 23 No 1 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 23, No. 1, 2007) Vol 22 No 4 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 4, 2007) Vol 22 No 3 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 3, 2007) Vol 22 No 2 (2007): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 2, 2007) Vol 22 No 1 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 22, No. 1, 2006) Vol 21 No 4 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 4, 2006) Vol 21 No 3 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 3, 2006) Vol 21 No 2 (2006): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 2, 2006) Vol 21 No 1 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 21, No. 1, 2005) Vol 20 No 4 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 4, 2005) Vol 20 No 3 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 3, 2005) Vol 20 No 2 (2005): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 2, 2005) Vol 20 No 1 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 20, No. 1, 2004) Vol 19 No 4 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 4, 2004) Vol 19 No 3 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 3, 2004) Vol 19 No 2 (2004): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 2, 2004) Vol 19 No 1 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 19, No. 1, 2003) Vol 18 No 4 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 4, 2003) Vol 18 No 3 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 3, 2003) Vol 18 No 2 (2003): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 2, 2003) Vol 18 No 1 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 18, No. 1, 2002) Vol 17 No 4 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 4, 2002) Vol 17 No 3 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 3, 2002) Vol 17 No 2 (2002): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 2, 2002) Vol 17 No 1 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 17, No. 1, 2001) Vol 16 No 3 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 3, 2001) Vol 16 No 2 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 2, 2001) Vol 16 No 4 (2001): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 4, 201) Vol 16 No 1 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 16, No. 1, 2000) Vol 15 No 4 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 4, 2000) Vol 15 No 3 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 3, 2000) Vol 15 No 2 (2000): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 2, 2000) Vol 15 No 1 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 15, No. 1, 1999) Vol 14 No 4 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 4, 1999) Vol 14 No 3 (1999): ANIMA Indonesian Psychological Journal (Vol. 14, No. 3, 1999) More Issue