cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 26 Documents
Search results for , issue "VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021" : 26 Documents clear
PENILAIAN RISIKO KEGAGALAN BENDUNGAN KEDUNGOMBO SEBAGAI DASAR PRIORITAS PEMELIHARAAN BENDUNGAN Rais Buldan; Suharyanto Suharyanto; Sriyana Sriyana
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12616

Abstract

A dams must always be maintained for their performance, function, and safety, so it is necessary to carry out various maintenance, repairs, and rehabilitation on dams that have been built and operating. Priority systems for the implementation of repair and rehabilitation of dams can be arranged based on the status of safety hazards or the level of risk of failure due to natural disasters or other consequences. Based on this, it is necessary to carry out an assessment of the dam to estimate the magnitude of the risk to the dam. According to the Risk Analysis Guidelines, the estimation of the probability of failure can be done using two methods, namely the traditional method and the event tree method. Based on the results of assessment analysis, the risk probability of the Kedungombo Dam with the traditional method and the event tree method is 4,010 x 10-1 and 1,548 x 10-3 where the acceptable limit conditions for the existing dam are a maximum of 1,000 x 10-5. The risk probability value of the Kedungombo Dam does not meet the requirements of an acceptable risk value. Therefore, it is necessary to recommend risk reduction for the risk assessment results. ABSTRAKBendungan harus selalu dijaga kinerja operasi, fungsi, dan keamanannya, sehingga perlu dilakukan berbagai kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan rehabilitasi pada bendungan yang sudah terbangun dan beroperasi. Sistem prioritas pada pelaksanaan kegiatan perbaikan dan rehabilitasi pada bendungan dapat disusun berdasarkan status bahaya bendungan dari segi keamanan atau besarnya risiko terhadap kegagalan bendungan akibat bencana alam maupun akibat lain. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penilaian risiko pada bendungan untuk memperkirakan besarnya risiko bahaya pada bendungan. Berdasarkan Pedoman Analisis Risiko, perkiraan probabilitas kegagalan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode tradisional dan metode pohon kejadian (event tree). Berdasarkan hasil analisis penilaian risiko, probabilitas risiko Bendungan Kedungombo metode tradisional dan metode pohon kejadian sebesar 4,010 x 10-1 dan 1,548 x 10-3 dimana syarat batas yang dapat diterima untuk bendungan eksisting maksimum 1,000 x 10-5. Nilai probabilitas risiko Bendungan Kedungombo tidak memenihi syarat nilai risiko yang dapat diterima. Dengan demikian, diperlukan rekomendasi tindakan pengurangan risiko untuk risiko hasil penilaian tersebut. 
SUBSTITUSI FILLER DENGAN LIMBAH KARBIT TERHADAP CAMPURAN ASPAL PANAS HOT ROLLED SHEET – BASE COURSE (HRS-BC) Putri Devi Pratiwi; Dwi Kartikasari
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11850

Abstract

In hot asphalt mixtures, fillers are used, fillers are used as fillers between coarser aggregate particles, fillers also function to increase the binding energy (cohesion) of asphalt concrete. This study uses waste carbide as an alternative to filler in the HRS-BC asphalt mixture, this study aims to determine the results of the Marshall test, namely stability, VFWA, VMA, VIM, Flow, and MQ. This research uses experimental research method. Composition Variation The substitution of carbide waste used is 0%, 40%, 50%, and 60% of the weight of the filler. The results of the study obtained a mixture of 0% carbide waste with stability values of 871.13 kg, VFWA 75.18 kg, VMA 22.55 kg, VIM 7.01 kg, flow 3.80 mm, MQ 229.29. variation 40% stability value is 629.20 kg, VFWA 65.69 kg, VMA 25.09 kg, VIM 10.05 kg, flow 2.85 mm, MQ 226.52. variation of 50% stability value is 1011.76 kg, VFWA 72.75 kg, VMA 23.15 kg, VIM 7.72 kg, flow 2.50 mm, MQ 410.00. variation of 60% stability value is 1291.26 kg, VFWA 71.67 kg, VMA 23.41 kg, VIM 8.04 kg, flow 2.30 mm, MQ value 562.35. from the results of the study it can be concluded that the use of carbide waste at a variation of 60% is the most effective mixture according to the General Specifications Division 6: 2016 Asphalt Pavement.ABSTRAKDalam campuran aspal panas digunakan bahan pengisi filler,Filler digunakan sebagai bahan pengisi antar partikel agregat yang lebih kasar,filler juga berfungsi meningkatkan energi ikat (kohesi) pada aspal beton. penelitian ini menggunakan limbah karbit sebagai alternatif pengganti filler pada campuran aspal HRS-BC, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengujian marshall test yaitu stabilitas,VFWA,VMA,VIM,Flow,dan MQ. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Eksperimen. Komposisi Variasi Substitusi limbah karbit yang digunakan sebesar 0%, 40%, 50%, dan 60% dari berat filler. hasil penelitian didapatkan campuran limbah karbit variasi 0% nilai stabilitas sebesar 871,13 kg, VFWA 75,18 kg, VMA 22,55 kg, VIM 7,01 kg, flow 3,80 mm, MQ 229,29. variasi 40% nilai stabilitas sebesar 629,20 kg, VFWA 65,69 kg, VMA 25,09 kg, VIM 10,05 kg, flow 2,85 mm, MQ 226,52. variasi 50% nilai stabilitas sebesar 1011,76 kg, VFWA 72,75 kg, VMA 23,15 kg, VIM 7,72 kg, flow 2,50 mm, MQ 410,00. variasi 60% nilai stabilitas sebesar 1291,26 kg, VFWA 71,67 kg, VMA 23,41 kg, VIM 8,04 kg, flow 2,30 mm, nilai MQ 562,35. dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan limbah karbit pada variasi 60% adalah campuran yang paling efektif sesuai Spesifikasi Spesifikasi Umum Divisi 6 : 2016 Perkerasan Aspal.
PENGARUH PENAMBAHAN LIMBAH SERBUK GIPSUM SEBAGAI BAHAN PENGGANTI FILLER PADA CAMPURAN ASPHALT CONCRETE-WEARING COURSE Alimatul Hidayah; Sugeng Dwi Hartantyo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12554

Abstract

Gypsum waste is waste from the remnants of making gypsum lists that cannot be recycled and reused. In this study, gypsum powder was used as a filler substitute (cement). Where cement and gypsum powder waste contains high enough lime (CaO). The aims of study are to determine how the process of making mixtures Aspal Concrete–Wearing Course (AC–WC) by using gypsum powder waste as filler substitute (cement) and results of the Marshall test, namely stability, VFWA, VMA, VIM, Flow, and MQ by using gypsum powder waste as filler substitute (cement).. The method used in this study is experimental method. Gypsum powder waste variation substitution 7%, 8% and 9%  shown the most ideal value of Marshall Properties are gypsum powder waste at 7% variation with Marshall’s highest parameter are Stability 870.95 Kg, VFWA 88.81%, VMA 19.35%, VIM 4.57%, Flow 3.50 mm and Marshall Quotient (MQ) 252.72 Kg/mm. The result that fulfill the criteria in the 2010 General Specification Divison .ABSTRAKLimbah Gypsum merupakan limbah dari sisa-sisa pembuatan list Gypsum yang tidak bisa di daur ulang dan di manfaatkan kembali. Pada penelitian ini limbah serbuk Gypsum digunakan sebagai bahan pengganti Filler . Dimana semen dan limbah serbuk Gypsum memiliki kandungan kapur (CaO) yang cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan campuran Aspal Concrete–Wearing Course (AC–WC) dengan menggunakan limbah serbuk Gypsum sebagai bahan pengganti Filler (semen) dan untuk mengetahui hasil pengujian marshall test yaitu stabilitas, VFWA, VMA, VIM, Flow dan MQ dengan menggunkan limbah serbuk Gypsum sebagai bahan pengganti Filler (semen). Metode yang digunakan pada ini adalah menggunakan metode eksperimen. Subtitusi variasi limbah serbuk Gypsum 7%, 8% dan 9% menujukkan nilai Marshall Properties yang paling ideal yaitu limbah serbuk Gypsum pada variasi 7% dengan parameter Marshall yang paling tinggi adalah Stability 870.95 Kg, VFWA 88.81%, VMA 19.35%, VIM 4.57%, Flow 3.50 mm dan Marshall Quotient (MQ) 252.72 Kg/mm. Hasil tersebut memenuhi kriteria dalam Spesifikasi Umum 2010 Divisi 6.
STUDI KASUS KEMIRINGAN GEDUNG 4 LANTAI AKIBAT KEGAGALAN FONDASI DI PANGKAL PINANG Orlando Orlando; Gregorius Sandjaja Sentosa
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12596

Abstract

Foundation is the lower structure of the building located below the ground that has the function to bear the load of the building. The building has been standing for ± 5 years and the slope of the building is ± 1-20. The authors analyzed soil bearing capacity, settlement and the slope of the building and the possibility of repairing the building for reuse. In 1 pile cap there are 4 bore piles with a depth of 6m-12m, because the pile cap data is not obtained then the size and thickness is assumed and the soil data used is secondary data without lab data derived from soil data in locations adjacent to the building site that is ±100m from the building site. After the analysis, soil bearing capacity is not strong to bear the dead load of the building when using a foundation with a depth of 6m-12m, there is a possibility that the foundation used is not suitable and there is a reduction in the load of the building due to the presence of other buildings that are adjacent to the building in the analysis resulting in a considerable decrease and slope of the building.Fondasi adalah struktur bagian bawah bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah yang mempunyai fungsi memikul beban bangunan. Bangunan ini sudah berdiri selama ± 5 tahun dan  kemiringan bangunan sebesar ± 1-20. Penulis menganalisis daya dukung tanah, penurunan tanah dan kemiringan bangunan dan kemungkinan memperbaiki bangunan agar dapat digunakan kembali. Pada 1 pile cap terdapat 4 buah bore pile dengan kedalaman 6m–12m, karena data pile cap  tidak diperoleh maka ukuran dan ketebalannya diasumsikan dan data tanah yang digunakan adalah data sekunder tanpa data lab yang berasal dari data tanah di lokasi berdekatan dengan lokasi bangunan yang berjarak ±100m dari lokasi bangunan. Setelah di analisis, daya dukung tanah tidak kuat untuk menahan beban mati bangunan bila menggunakan fondasi dengan kedalaman 6m–12m dan ada kemungkinan fondasi yang digunakan tidak sesuai dan terjadi reduksi beban bangunan karena adanya bangunan lain yang berdempetan dengan bangunan yang di analisis sehingga mengakibatkan penurunan dan kemiringan bangunan yang cukup besar.
ANALISIS MODEL KEGAGALAN KONSTRUKSI RUMAH TINGGAL 2 LANTAI AKIBAT RANGKAK DI BAWAH LERENG TIMBUNAN Jeffri Ardianto; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12585

Abstract

Construction of houses on slopes certainly has risks that can cause landslides on the slopes. One of the construction projects on slope area experienced a construction failure which caused the destruction of a 2-storey house. It is suspected that the planning of the building did not take into account the optimal rainfall. The author makes a model analysis similar to that case using a shallow foundation. The subgrade in this case is soft soil from rice fields which is then backfilled with silty clay. The soft soil beneath this embankment experiences creep, where the soil continues to move slowly even without a load. The author analyzes the settlement due to creep manually. The author also analyzes the safety factor of slope stability due to rising ground water levels. Based on the calculation results, the settlement was obtained at 14,8456 cm which is almost close to the maximum settlement limit of 15 cm. While the safety factor obtained from the application of the equilibrium limit before the rain is 1,311 but after experiencing a 5 m increase in ground water the safety factor is 1,032 which is less than 1,25.Keywords: creep, settlement, shallow foundation, slope stabilityPembangunan rumah di daerah lereng tentu memiliki risiko yang dapat menyebabkan kelongsoran pada daerah lereng. Salah satu proyek pembangunan pada suatu daerah lereng mengalami kegagalan konstruksi yang menyebabkan hancurnya rumah tinggal 2 lantai. Diduga dalam perencanaan bangunan tidak memperhitungkan curah hujan optimal. Penulis membuat analisis model yang mirip dengan kasus tersebut dengan menggunakan fondasi dangkal. Tanah dasar pada kasus ini adalah tanah lunak bekas persawahan yang kemudian di timbun dengan tanah lempung kelanauan. Tanah lunak di bawah tanah timbunan ini mengalami rangkak yang dimana tanah terus bergerak secara lambat walaupun tanpa adanya beban. Penulis menganalisis penurunan akibat dari rangkak secara manual. Penulis juga menganalisis faktor keamanan kestabilan lereng akibat dari naiknya muka air tanah. Berdasarkan hasil perhitungan, penurunan total terbesar diperoleh sebesar 14,8456 cm yang hampir mendekati batas penurunan maksimum 15 cm. Sedangkan faktor keamanan yang diperoleh dari aplikasi kesetimbangan batas sebelum hujan sebesar 1,311 tetapi setelah mengalami kenaikan muka air tanah 5 m faktor keamanannya sebesar 1,187 yang dimana faktor keamanan kurang dari 1,25.Kata kunci: rangkak, penurunan tanah, fondasi dangkal, kestabilan lereng
ANALISIS PENAMPANG FONDASI TIANG PANCANG PADA TEPI TANAH REKLAMASI Rendy Rendy; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11056

Abstract

Indonesia is a country with 4th largest population in the world. With that huge amount of population, the land capacity on the mainland is becoming more limited day by day, on the other hand, the unused land on the coast is still not utilized properly. The solution of that problem is by doing reclamation on the coast. Reclamation is an activity to increase the usability of land resources in the eye of the environmental side, social and economy by doing dropping, land drying, or drainage. Usually, the material for dropping reclamation is using cohesive soil. In this research, we will talk about driven pile foundation on reclamation land. Bearing capacity and concrete volume that would be used from every driven pile shape would be compared by paying attention from scouring effect that can decrease the bearing capacity of the pile. In this study, we will show the best driven pile shape that can be used on reclamation land.Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia. Dengan banyaknya penduduk di Indonesia mengakibatkan lahan di daratan semakin terbatas, sedangkan lahan di sekitar pinggir pantai masih banyak yang belum dimanfaatkan dengan baik. Solusi dari permasalahan keterbatasan lahan di daratan tersebut adalah dengan melakukan reklamasi pada daerah pinggir pantai. Reklamasi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan, sosial dan ekonomi, dengan melalui pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Pada umumnya material untuk pengurugan reklamasi adalah menggunakan tanah kohesif. Pada penulisan ini akan dibahas penggunaan fondasi tiang pancang pada tanah reklamasi. Daya dukung dan volume beton yang digunakan dari setiap bentuk tiang pancang tersebut akan dibandingkan dengan memperhatikan efek scouring yang dapat mengurangi daya dukung pada tiang. Sehingga hasil studi ini akan menunjukan bentuk tiang pancang manakah yang paling cocok digunakan pada tanah reklamasi.
ANALISIS MODEL KEGAGALAN RUMAH 2 LANTAI AKIBAT NEGATIVE SKIN FRICTION DAN CURAH HUJAN YANG TINGGI Jeanfrie Chandra; Chaidir Anwar Makarim
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12613

Abstract

ABSTRACTOne of the problems that appear in a project is the presence of soft soil. In projects with soft soil types, it is necessary to manage the soil to increase the bearing capacity of soil. Soil subsidence on soft soil causes friction between the soil and the pile blanket, called the negative skin friction. Negative skin friction should not be neglected because it exerts a large enough force on the load that the pile must support. In addition, in designing an engineer must also pay attention to the optimal rainfall that will occur during the construction of a project and after that has an impact on the quality of the soil and foundation used. The topography of a project also needs to be considered, building a house on the edge of a slope can cause problems with slope instability. Increasing the load on the edge of the slope can reduce the safety factor of a slope. In this study, a modeling analysis will be carried out on a 2-story residential building that causes the house to collapse due to failure of the foundation design, the existence of negative frictional resistance on soft soil, and slope stability. ABSTRAKSalah satu permasalahan yang muncul pada suatu proyek adalah adanya tanah lunak. Pada proyek dengan jenis tanah lunak, perlu dilakukan perbaikan tanah untuk meningkatkan daya dukung tanah. Penurunan tanah pada tanah lunak menyebabkan gesekan antara tanah denan selimut tiang yang disebut fenomena tahanan friksi negatif. Tahanan friksi negatif tidak boleh diabaikan karena memberikan gaya yang cukup besar terhadap beban yang harus ditopang oleh tiang. Oleh karena itu, seorang insinyur harus memperhatikan dan mengetahui mengenai perilaku tanah lunak. Selain itu dalam mendesain, seorang insinyur juga harus memperhatikan mengenai curah hujan optimal yang akan terjadi selama pengerjaan suatu proyek dan setelahnya yang berdampak pada kualitas tanah dan fondasi yang digunakan. Topografi suatu proyek juga perlu diperhatikan, membangun rumah di tepi lereng dapat menyebabkan permasalahan pada ketidakstabilan lereng.  
ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PROYEK SEBELUM DAN SETELAH COVID-19 DI SUMATERA SELATAN (STUDI KASUS PADA PT. SINAR BRAJA MUKTI) Andreas Ronaldo; Hendrik Sulistio
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12408

Abstract

Pandemi covid-19 telah masuk Indonesia sejak maret 2020 dan tentunya menyebabkan dampak yang sangat besar pada berbagai sektor khususnya konstruksi. Pemerintah telah menerapkan berbagai aturan seperti PSBB, PSBB Transisi, PSBB jilid 2, PPKM mikro dan makro. Serta berbagai aturan lain dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah penyebaran covid. Namun tentunya perekonomian harus tetap berjalan. Sehingga untuk dapat mengetahui besarnya dampak dari covid-19 ini dilakukan perbandingan penjadwalan dengan menggunakan metode probabilistik seperti menggunakan metode monte carlo. Daerah yang dijadikan sasaran untuk penelitian kali ini di sumatera selatan. Pada penelitian ini dilakukan menggunakan simulasi monte carlo yang mana memerlukan durasi optimis, pesimis, dan most likely pada setiap proyek. Proyek yang digunakan adalah 2 proyek yang berlangsung di daerah yang sama dengan kondisi yang berbeda. Yaitu sebelum dan setelah covid-19. Proyek pertama yaitu pembangunan Gedung Arsip (sebelum covid-19) dan Proyek kedua yaitu pembangunan Gedung Laboratorium (setelah covid-19). Simulasi monte carlo ini menggunakan software crystall ball dan distribusi yang digunakan adalah distribusi triangular. setelah dilakukan simulasi, akan dilakukan Analisa perbandingan antara durasi pesimis, optimis, most likely,  durasi simulasi, dan durasi yang terjadi dari ke-2 proyek. Hasil yang didapat pada proyek Gedung Arsip (sebelum covid-19) yaitu: durasi optimis 18 minggu, durasi pesimis 39 minggu, durasi most likely 24 minggu, hasil simulasi 28 minggu, dan pelaksanaan 26 minggu. Pada proyek Gedung Laboratorium (setelah covid-19) didapat hasil yaitu, durasi optimis 18 minggu, pesimis 44 minggu, most likely 25 minggu, hasil simulasi 28 minggu, dan pelaksanaan 28 minggu. Hasil pelaksanaan dari ke-2 proyek berada diantara durasi pesimis dan optimis.
STUDI FONDASI TIANG BOR UNTUK JEMBATAN DI LAUT Arvin Arvin; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11062

Abstract

Structurally, the bridge is separated into the upperstructure, and substructure such as foundation. According to its function, the foundation of the bridge supports and transmits the load from the superstructure to a strong and stable layer of soil. The construction of a bridge at sea has a high level of difficulty and risk. There are forces that influence the foundation at sea. The greater the loads that are held by the foundation, the greater the bearing capacity required for the foundation. The foundation used the bored pile casing method. The concept of a bored pile foundation casing method itself uses a steel casing pipe that is installed to a specified depth. This method is used when the borehole is very prone to landslides, so it is very suitable to be applied to soil which is sand below the groundwater level or at sea. In this paper, we will discuss the bearing capacity of the bored pile foundation and the loads that affect the bearing capacity of the foundation. Bearing capacity includes axial and lateral bearing capacity. So the results of this study will show how much effective bearing capacity must be considered when creating a foundation for bridges at sea.Secara struktural jembatan dipisahkan menjadi struktur atas, dan struktur bagian bawah seperti fondasi. Sesuai fungsinya, fondasi jembatan menopang dan meneruskan beban dari bangunan atas jembatan ke lapisan tanah yang kuat dan stabil/solid. Pembangunan jembatan panjang di tengah laut memiliki tingkat kesulitan dan resiko tinggi. Terdapat gaya-gaya yang mempengaruhi fondasi yang dibuat di laut. Semakin besar beban-beban yang ditahan fondasi maka semakin besar pula daya dukung yang dibutuhkan fondasi. Fondasi yang dipakai adalah fondasi tiang bor dengan metode casing. Konsep dari fondasi tiang bor metode casing sendiri menggunakan pipa selubung baja (casing) yang diinstall sampai kedalaman yang ditentukan. Metode ini digunakan bila lubang bor sangat mudah longsor, sehingga sangat cocok untuk diaplikasikan pada tanah yang merupakan pasir di bawah muka air tanah atau di laut. Pada penulisan ini akan dibahas mengenai daya dukung fondasi tiang bor dan beban-beban yang mempengaruhi daya dukung fondasi tersebut. Daya dukung mencakup daya dukung aksial dan lateral. Sehingga hasil studi ini akan menunjukan seberapa besar daya dukung efektif yang harus dipertimbangkan pada saat ingin membuat fondasi untuk jembatan di laut.
IDENTIFIKASI FAKTOR PENYEBAB COST OVERRUN (PEMBENGKAKAN BIAYA) PADA PROYEK RUMAH TINGGAL Jason Christopher; Mega Waty
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12502

Abstract

ABSTRACTThe advancement of the construction sector has made the complexity of a project increase in line with the increasing demands on construction engineers to complete a project on time, in accordance with cost, and prioritize quality. From that statement, a cost overrun problem shows in the process of running the project. Several techniques have been espoused by innovative organizational and managerial practices to reduce the risk of cost overrun from the construction project, but cost overrun in project construction remain as a one of the problem. This study aims to identify the factors that cause cost overrun in residential projects. The process of data collection was carried out using a questionnaire as the instrument. The data from the questionnaire is primary data that will be processed with the help of IBM SPSS 25 software. The identification of the factors causing the cost overrun using the relative important index (RII) method to determine the level of importance of each variable. The results of this study indicate that the project data and information are incomplete (when aanwijzing) and the erroneous estimation of material costs and wages are the main factors causing cost overrun with an RII value ≥ 0,9. ABSTRAK  Majunya sektor pekerjaan konstruksi membuat kompleksitas suatu proyek semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya tuntutan kepada pelaku konstruksi untuk menyelesaikan proyek secara tepat waktu, sesuai dengan biaya, dan mengendepankan kualitas. Dari tuntutan tersebut, timbul suatu masalah cost overrun (pembengkakan biaya) dalam proses berjalannya proyek. Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai organisasi mandiri dan praktisi manajemen untuk mengurangi risiko dari adanya cost overrun (pembengkakan biaya) pada suatu proyek, namun masalah cost overrun tetap menjadi salah satu problema dalam proyek konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya cost overrun (pembengkakan biaya) pada proyek rumah tinggal. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumennya. Data dari kuesioner tersebut merupakan data primer yang akan diolah dengan bantuan software IBM SPSS 25. Pengidentifikasian faktor-faktor penyebab terjadinya cost overrun menggunakan metode relative importance index (RII) untuk menentukan tingkat kepentingan setiap variabel. Hasil dari penelitian ini menunjukaan bahwa data dan informasi proyek kurang lengkap (saat aanwijzing) dan perencanaan estimasi biaya material dan upah yang keliru menjadi faktor paling utama penyebab cost overrun dengan nilai RII ≥ 0,9.

Page 1 of 3 | Total Record : 26