cover
Contact Name
Oke Anandika Lestari, STP, MSi
Contact Email
oke.anandika@gmail.com
Phone
+6282254699599
Journal Mail Official
foodtech@untan.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak, Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan
ISSN : 26554860     EISSN : 26563451     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jft
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan merupakan jurnal yang mempublikasikan artikel riset dan review mengenai teknologi pangan yang terkait aspek kimia pangan, mikrobiologi pangan, rekayasa proses pangan, teknologi hasil pertanian, keamanan pangan, ketahanan pangan, biokimia pangan, pangan fungsional dan gizi pangan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 68 Documents
SENSORY EVALUATION OF NOODLES MADE FROM WALUH (Cucurbita Moschata) FLOUR AND SNAKEHEAD FISH (Channa striata) AS ALTERNATIF FOOD OF HIGH FIBER, VITAMIN A AND PROTEIN Adhyanti Adhyanti; Wery Aslinda; Marlinda Kartika Apandano
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 3, No 2 (2020): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v3i2.44328

Abstract

Food diversification efforts to reduce dependence on wheat flour by exploring other food potentials such as pumpkin pumpkin (Curcurbita Moschata) and snakehead fish (Channa Striata) which have long been known to the Indonesian public need to be done. The aim of this study was to determine the acceptability of noodles made frompumpkin flour and snakehead fish. Type of research is an organoleptic test (hedonic quality) on noodle products with 4 parameters, namely color, aroma, texture and taste. 1: 1: 1), product 2 (0: 1: 1), and product 3 (0.66: 1: 1). The panelists in this study were 25 somewhat trained researchers. The results show that the level of liking (acceptance) for product 1, product 2 and product 3 for color parameters respectively were 68%, 60%, 52%; aroma 40%, 52%, 44%; texture 36%, 48%, 48%; and taste 36%, 52%, 40%. The Kruskal wallis test showed no difference in color, aroma, texture, and taste for the all products. The conclusion is that the color parameters of product 1, product 2, and product 3 are accepted, while the aroma parameter received is product 2, and no texture parameter is accepted, and the taste parameter received is only product 2. It is recommended that further modification of the composition of the ingredients be made so that the texture of the noodles can be more acceptable. 
Isolation Of Fungus Identification And Tempe Nutrition Analysis In The Traditional Market Of Bandung City Ida Ningrumsari; Lina Herlinawati
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 3, No 1 (2020): May
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v3i1.40160

Abstract

Tempe is a traditional food made from fermented soybean seeds. The purpose of this study was to determine the fungus contained in tempeh by isolating and identifying the fungus and analyze the nutrients contained in it. Tempe samples were taken from traditional markets from 3 places. Samples were analyzed in the laboratory, sample analyzes were performed in duplicate. Based on the results of the study found that the fungus contained in tempe are 4 isolates of Aspergillus sp and 1 isolate of Rhizopus sp. Analysis of tempe nutrition that fulfills SNI 3144: 2009 requirements, namely tempe A, protein content 16,11%, fat 9,92% and water 33,459%, while fiber content 5,18% and ash 2,97% do not fulfill SNI 3144: 2009 requirements . Tempe B fulfills the requirements of SNI 344: 2009 for protein content 16,101%, fat 84%, water 37,75%, while ash content 3,12% and fiber 5,36% do not meet SNI 3144: 2009 requirements. Tempe C fulfills SNI 3144: 2009 requirements, namely Protein 16%, Fat 9.84% and Water 33.128%, while ash content 3.128 and fiber 5.128 do not meet SNI 3144: 2009 requirements.
Processing Cindalok Condiment Using Foam-Mat Drying Method Alpina Evi Melianti; Maherawati Maherawati; Sholahuddin Sholahuddin; Asih Melati
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 2 (2021): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v4i2.56720

Abstract

This study was conducted to determine the effect of egg white on the physicochemical and sensory characteristics of grass jelly condiments, using a randomized block design (RAK) consisting of 1 factor 3 treatment levels, where the ratio of egg white and grass jelly concentrations was 50g: 500g, 75g: 500g, 100g: 500g used nine replications so that 27 trials were obtained. Data were analyzed statistically using the ANOVA test, followed by the BNJ test. The Friedman test analyzed organoleptic data for the best treatment using the effective index method. The best treatment of cincalok condiments was found in the ratio of egg white and cincalok concentrations of 100g:500g, namely yield of 79.78%, the water content of 7.91%, the water activity of 0.63, ash content of 4.83%, total protein of 26.03%, total acid 7.39%.
Karakteristik Fisikokimia-Sensoris Fruit Leather pada Berbagai Formulasi Terong Asam (Solanum Ferox Linn)-Nangka (Artocarpus Heterophyllus Lamk) dan Subtitusi Sukrosa dengan Sorbitol Mia Sari; Yohana Sutiknyawati Kusuma Dewi; Lucky Hartanti; Thomas Candra Wasis Agung
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2021): May
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v4i1.56635

Abstract

Buah-buahan sangat digemari dan memiliki segudang vitamin, namun tidak sedikit buah yang memiliki umur simpan yang singkat atau udah rusak, salah satu upaya mempertahankan kualitas buah dapat dilakukan dengan pengolahan menjadi produk fruit leather Penelitian ini bertujuan mendapatkan formulasi terong asam-nangka yang menghasilkan karakteristik fisikokimia dan sensoris terbaik dan untuk mendapatkan subtitusi sukrosa dengan sorbitol yang menghasilkan karakteristik sensoris fruit leather nangka yang disukai. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 1 (satu) faktor terdiri dari 2 tahap, tahap 1 yaitu formulasi terong asam-nangka (F) (100:0, 75:25, 50:50, 25:75, 0:100; 4 kali ulangan). Formulasi terpilih tahap 1 dilanjutkan ke tahap 2 yaitu subtitusi sukrosa dengan sorbitol (S) (30:0, 27,5:2,5, 25:5, 22,5:7,5). Data dianalisis dengan anova pada taraf 5%. Jika formulasi berpengaruh nyata dilanjutkan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Penentuan formulasi terbaik dengan uji indeks efektifitas. Formulasi terpilih tahap 1 yaitu (0g terong asam:100g nangka). Hasil sensoris tahap 2 fruit leather terhadap rasa, aroma warna dan tekstur yang paling disukai yaitu pada formulasi (27,5g sukrosa:2,5g sorbitol). Karakteristik fisikokimia fruit leather kadar air 12,57%, kadar abu 2,56%, total asam tertitrasi 14,40% dan kadar sukrosa 51,66%, dengan hasil sensoris rasa 4,13 (suka-sangat suka), aroma 3,87 (suka), warna 4,17 (suka-sangat suka) dan tekstur 4,10 (suka-sangat suka). Karakteristik sensoris subtitusi sukrosa dengan sorbitol yang paling disukai menghasilkan nilai sensoris rasa 4,10 (suka-sangat suka), aroma 4,00 (suka), warna 4,00 (suka) dan terkstur 4,13 (suka-sangat suka).
Milk Powder Formulation Based on Durian Seed Flour, Cocoa, Wild Honey “Tikung” and Creamer Ester Apriani UT; Yohana S.K. Dewi; Tri Rahayuni
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2022): May
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v5i1.57342

Abstract

Durian seed flour has nutritional value as a food but until now extract of durian seed only to make a powder.  The nutritional content of durian seeds has the potential as an ingredient for making milk especially milk powder so that it can be stored for a long time. The purpose of this study was to obtain a durian seed flour formulation that produces the best physicochemical and organoleptic characteristics of milk powder. The method used was a randomized block design with one factor consisting with 4 formulations. The formulation of milk powder that it made of durian seed flour, cocoa powder, vegetable creamer, honey, carboxymethyl cellulose, lecithin and water showed the best chemical and sensory characteristics. The milk powder has a water content of 6.59%; total soluble solids 10.50 °Brix; ash content 3.26%; protein content 7.73%; fat content 25,742%.  The sensory characteristics of milk powder have acolor 4.17 (prefer); taste 3.23 (like); fragrance 3.73 (like); and overall likes 3.60 (likes). 
Formulasi Blondo Minyak Kelapa dan Tepung Mocaf pada Pembuatan Cake Iasha Ramadhani; Sulvi Purwayantie; Lucky Hartanti
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 2 (2021): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v4i2.56922

Abstract

Cake merupakan salah satu jenis makanan hasil olahan yang berbahan dasar tepung, gula, dan telur. cake mempunyai tekstur empuk, rasa yang enak, manis dan memiliki bau yang khas. Tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai pemanfaatan produk samping dari pembuatan minyak kelapa, yang diaplikasikan dalam pembuatan cake, menentukan formulasi terbaik blondo dan tepung mocaf yang digunakan sehingga dapat diterima berdasarkan analisis kimia dan uji hedonik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan blondo dan tepung mocaf dalam pembuatan cake berpengaruh terhadap kadar lemak dan kadar karbohidrat, namun tidak berpengaruh terhadap kadar air, abu, dan protein cake blondo. Perlakuan terbaik diperoleh dari formulasi blondo 150gr dan tepung mocaf 150gr dengan hasil uji proksimat berupa kadar air 23,03%, kadar abu 0,85%, kadar protein 31,23%, kadar lemak 24,64%, dan kadar karbohidrat 20,87%. Karakteristik sensori cake blondo terbaik yaitu rasa 3,80 (cukup suka), aroma 3,30 (cukup suka), tekstur 4,00 (suka), dan warna 3,50 (cukup suka).
Review: Akar Kayu Bajakah dan Manfaatnya untuk Kesehatan Lulu Zakiyah Hasna; Putri Sehkhaemi; Muhammad Akbar Aviciena
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2021): May
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v4i1.56637

Abstract

Tanaman akar bajakah (S. littoralis) hidupnya merambat pada pohon kayu (Karl) dari suku Phaseolea, memiliki 29 spesies yang tumbuh di hutan tropis Indonesia. Akar bajakah semakin popular di kalangan masyarakat menengah keatas karena diduga memiliki senyawa kimia yang berguna untuk kesehatan. Tanaman memiliki kandungan kimia yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sehingga diperlukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan kandungan metabolit sekunder dan toksisitas ekstrak kulit batang dan akar kayu Bajakah (U. nervosa). Dari metode hasil uji fitokimia menunjukkan baik kulit batang maupun akar kayu mengandung metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, terpenoid, dan fenolat. Apalagi berdasarkan metode hasil uji mortalitas larva udang Artemia salina menunjukkan bahwa baik kulit batang maupun kayunya sangat baik toksik dengan nilai LC50 masing-masing 1,76 dan 2,66 ppm. Terdapat hasil dari kedua ekstrak tersebut berpotensi sitotoksik terhadap kanker sel. Sehingga hasil penelitian menyimpulkan bahwa tanaman akar bajakah dapat digunakan sebagai obat tradisional yang menggunakan bahan alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, dan tumbuh-tumbuhan tersebut mengandung senyawa kimia yang dikenal dengan metabolit sekunder untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.
The Formulation of Aloe Vera (Aloe chinensis Baker) and Calyx of Roselle Flower Petals (Hibiscus sabadariffa L.) For Making Fruit Leather Estha Fresua; Maherawati Maherawati; Lucky Hartanti
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 5, No 1 (2022): May
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v5i1.57343

Abstract

Fruit leather is a diversification of jam products. The main ingredient of fruit leather is potential agricultural product. West Kalimantan is the largest supplier of aloe vera in Indonesian while rosella calyx contains pectin and acids as important factors in the making of fruit leather. The aim of this research is to find a formulation of fruit leather by aloe vera and roselle calyx which produce the best chemical and sensory characteristics. The research design uses a randomized block design one factor (formulation of aloe vera and rosella calyx) by five levels of treatment (80:20, 70:30, 60:40, 50:50, 40:60) and was repeat 5 times. The data obtained were statistically analyzed using ANOVA (α = 5%) and if followed by BNJ test (α = 5%). The results showed that the best formulation based on effectiveness index was aloe vera: roselle calyx (60:40) with a characteristic water content  35.46%; crude fiber content  0.71%; vitamin C content 75.68 mg / 100 g; pH 3.15; calcium content 28,2712 mg / 100 g; 16,16% sucrose. The sensory level produces a hedonic texture scale of 4.6 (likes), colors 4.7 (likes) and taste 4.43 (likes).
Cemaran Mikrobia pada Jajanan Pentol Kuah di Sekitar Universitas Tanjungpura Pontianak Arina Sa’adah; Maherawati Maherawati; Lucky Hartanti; Sri Mulyani
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 2 (2021): October
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v4i2.56924

Abstract

Pentol adalah produk olahan daging yang terbuat dari pati dan campuran rempah. Pentol kuah merupakan jajanan pinggir jalan yang populer karena murah, praktis dan disukai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan cemaran mikroba pada jajanan pentol yang dijual disekitar Universitas Tanjungpura. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Parameter cemaran mikroba diamati dengan metode TPC (Total Plate Count) dan tingkat cemaran bakteri Escherichia coli sp. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel jenuh. Hasil analisis pentol kuah terhadap total mikroba menunjukan 7 dari 10 sampel (70%) melebihi ambang batas maksimum yang ditetapkan SNI 3818:2014. Hasil analisis cemaran bakteri Escherichia coli sp. menunjukan terdapat 7 dari 10 sampel (70%) melebihi ambang batas maksimum yang ditetapkan SNI 3818:2014.
Penggunaan Jeruk Sambal (Citrus Amblycarpa) sebagai Bahan Pengasam Alami Terhadap Sifat Fisikokimia dan Sensori Mayones Syarifah Fatimah Humaira; Yohana Sutiknyawati Kusuma Dewi; Lucky Hartanti
FoodTech: Jurnal Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2021): May
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jft.v4i1.56638

Abstract

Mayones merupakan produk pangan yang dapat menggunakan jeruk sambal sebagai bahan pengasam alami. Mayones adalah emulsi semi solid yang diperoleh dari campuran minyak nabati, kuning telur, asam (cuka dan sari jeruk), bumbu-bumbu, asam sitrat atau asam malat yang fungsinya untuk mempertahankan warna dan aroma. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi jeruk sambal sebagai bahan pengasam alami yang menghasilkan mayones terbaik berdasarkan sifat fisikokimia dan sensori. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan satu faktor perlakuan yaitu konsentrasi jeruk sambal sebagai bahan pengasam yang terdiri dari 6 taraf (10, 20, 30, 40, 50 dan 60 %). Analisa data yang digunakan yaitu ANOVA (Analysis of Variance) dengan taraf 5%. Apabila berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf 5 %. Hasil uji sensori dianalisis dengan uji Friedman. Penentuan perlakuan terbaik pada hasil penelitian mayones dilakukan dengan uji indeks efektifitas. Konsentrasi sari jeruk sambal dalam pembuatan mayones direkomendasikan sebesar 20 % dengan karakteristik pH (4,34), total padatan terlarut (1,05 ⁰Brix), kadar air (8,30 %), kadar protein (1,96 %), kadar lemak (86,04 %) dan kadar vitamin C (2,91 mg/100 g) serta dengan karakteristik sensori warna (3,63), aroma (3,23), rasa (2,90), kekentalan (2,80) dan kesukaan keseluruhan (3,07).