cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Islamophobia dalam Film Ayat-ayat Cinta 2: Analisis Semiotika Roland Barthes Novita Diyah Ayu Pratiwi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0402-03

Abstract

Semiotics of Roland Barthes is one of the critical theories of language studies which introduces a two-stage system of meaning which is then followed by the meaning of mythology. This semiotic model is able to capture the implied meanings of each scene shown in the film. Every scene that appears is not only interpreted denotatively, but also interpreted connotatively. The various connotative meanings will in turn be reduced to a myth that contains certain interests or ideologies that the perpetrators intend to convey. By using Roland Barthes' semiotic theory, this study aims to parse the meanings of the research subject, namely the symptoms of Islamophobia that the director wants to convey to his audience, and to find out how the existence of Muslims who are minorities in their daily lives that tend to be frequently viewed. one eye by the non-Muslim community. The method used is library research, which is a research method that makes library sources such as books, journals, theses and other literature related to research subjects. The results of this study indicate that someone who is indicated to be affected by the symptoms of Islamophobia does not only attack personally, but also extends to several aspects such as alluding to femininity, Islamic culture, and scholarship in Islam. The Islamophobia shown in this film is visualized in various unpleasant acts such as ridicule, vandalism, cultural discrimination, and physical assault.[Semiotika Roland Barthes merupakan salah satu teori kritis dari kajian bahasa yang memperkenalkan sistem dua tahap pemaknaan yang kemudian dilanjutkan dengan pemaknaan mitologi. Model semiotika ini mampu menangkap makna-makna yang tersirat dari setiap adegan yang ditampilkan pada film. Setiap scene yang muncul tidak hanya dimaknai secara denotatif, melainkan juga dimaknai secara konotatif. Makna konotatif yang beragam pada gilirannya akan direduksi menjadi suatu mitos yang bermuatan kepentingan atau ideologi tertentu yang hendak disampaikan oleh  para pelakunya. Dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes, penelitian ini bertujuan untuk mengurai makna dan realitas dari subjek penelitian yaitu gejala-gejala Islamophobia yang ingin disampaikan oleh sutradara kepada para penonton melalui film Ayat-Ayat Cinta 2 serta untuk mengetahui bagaimana eksistensi umat Islam yang menjadi minoritas dalam kesehariannya khusunya di negara Barat yang sering kali dipandang sebelah mata oleh komunitas non-Muslim. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, yaitu metode penelitian yang menjadikan sumber pustaka berupa buku, jurnal, skripsi dan literatur lain yang berkaitan dengan subjek penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seseorang yang terindikasi terkena gejala Islamofobia tidak hanya menyerang secara personal, tetapi meluas ke beberapa aspek seperti menyinggung feminitas, budaya Islam, dan keilmuan dalam Islam. Islamofobia yang ditampilkan dalam film ini divisualisasikan dalam berbagai tindakan tidak menyenangkan seperti ejekan, vandalisme, diskriminasi budaya, dan penyerangan fisik.]
Mewujudkan Social Inclusion: Kontribusi Satunama terhadap Penghayat Kepercayaan di Yogyakarta Aji Baskoro
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-03

Abstract

Indigenous religions have experienced discrimination resulting from repressive policies and nuances that are discriminatory and pragmatic in Indonesia. This paper focuses on the role and contribution of Satunama to promote social inclusion especially among the followers of indigenous faiths in Indonesia. The data was collected through field research, intended to gain primary data from the subjects. The gathered data was analysed using descriptive-analytical approach, in which the primary and secondary data was analysed qualitatively. The existence of government interpretations that distinguish religion from belief has posed serious problems among the followers of indigenous faiths in the country. Legal products made by the government are also very discriminatory in nature as they tend to force those who follow indigenous faiths to identify themselves into official religions which are not necessarily suit their faith. This occurs in the process of issuing ID card, birth certificate, passport and some other documents. The implication is that the followers of indigenous faiths tend to be marginalised and excluded from the mainstream society. Satunama is one of the prominent NGOs in Yogyakarta which is known for its role and contribution to the discourse social inclusion in the society. Satunama is known especially for its efforts to advocate human rights protection for marginal groups and freedom of religion for the followers of indigenous faiths.[Di Indonesia, agama-agama pribumi telah mengalami diskriminasi yang disebabkan oleh kebijakan dan lingkungan represif, diskriminatif dan pragmatis. Artikel ini membahas peran dan kontribusi Satunama dalam mempromosikan keterbukaan atau inklusi sosial khususnya pada para penganut kepercayaan lokal di Indonesia. Data dalam penelitian ini diperoleh dari kajian lapangan yang ditekankan pada perolehan data primer dari subjek-subjek penganut keyakinan lokal. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisa menggunakan pendekatan deskriptif-analitis, dan data primer dan sekunder dianalisa secara kualitatif. Penafsiran pemerintah yang membedakan agama dari keyakinan telah memunculkan masalah di kalangan penganut keyakinan lokal di Indonesia. Kebijakan yang dihasilkan Pemerintah Indonesia sungguh sangat diskriminatif dan seakan cenderung memaksa para penganut keyakinan lokal itu untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai pengikut salah satu agama resmi yang bukan sama sekali seperti yang mereka anut. Ini tentunya terjadi saat proses penerbitan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Akte Kelahiran. Passport dan beberapa identitas diri dan dokumen lain. Ini berdampak pada merasa terpinggirkannya penganut keyakinan lokal dan terkucilkannya dari publik. Satunama adalah salah satu LSM di Yogyakarta yang dikenal karena peran dan kontribusinya dalam wacana-wacana inklusi sosial dalam masyarakat. Satunama dikenal terutama akan upaya-upayanya untuk mendampingi dan mengadvokasi perlindungan hak asasi manusia untuk kelompok-kelompok terpinggirkan serta untuk kebebasan dalam beragama bagi penganut agama lokal.]
Peran Sosial Media sebagai Media Dakwah di Masa Pandemi Virus Corona (Covid-19) di Indonesia Arman Syah Putra
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0401-05

Abstract

This study discuss the issue of preaching in the midst of corona virus outbreaks or covid-19 on social media. As a impact of the spread of corona virus around the world, many activities outside were restricted to stay at home to break the spread of corona virus and spreading it out to the whole world in general and Indonesia in particular. Almost all aspects of work are prohibited from leaving the house, and only important, broad jobs are still permissible such as doctors and nurses. The method used in this research is to conduct a literature review study in looking at the latest research in the use of social media in conducting da'wah, but this time preaching with social media in the midst of the corona virus outbreak. The writer wants to know whether social media in da'wah can be effective in the midst of a corona virus outbreak that does not yet know when it will end.[Penelitian ini, penulis mengangkat isu dakwah di tengah merebaknya virus corona atau covid-19 di media sosial. Sebagai dampak dari penyebaran virus corona di seluruh dunia, banyak aktivitas di luar yang dibatasi dengan harus berdiam diri di rumah untuk memutus penyebaran virus corona demi menekan menyebarkannya. Hampir semua aspek pekerjaan dilarang keluar rumah, dan hanya yang penting yang diperbolehkan seperti dokter dan perawat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan studi literatur dalam melihat penelitian terbaru mengenai penggunaan media sosial dalam berdakwah di tengah merebaknya virus corona. Penulis ingin mengetahui apakah media sosial dalam berdakwah bisa efektif di tengah wabah virus corona yang belum tahu kapan akan berakhir.]
Humanisme Teosentris: Telaah Sosiologi Pengetahuan Pemikiran Kuntowijoyo Isfaroh Isfaroh
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-04

Abstract

This study explores the ideas and thoughts of Kuntowijoyo, especially as they relate to the social construction of his thought on humanism, which is developed through three phases; externalised reality, objectified reality, and internalised reality. The data was collected through library studies, involving reviews of primary and secondary sources. The collected data was analysed using deductive and inductive approach, verstehen method to explore Kuntowijoyo’s ideas of humanism, as well as sociological approach to examine the social construction of his thought of humanism, which is considered theocentric. The finding shows that the thought of Kuntowijoyo oh humanism is socially constructed through dialectical triad, namely: externalised reality, objectified reality, and internalised reality. Such dialectical triad work simultaneously in the development of Kuntowijoyo thought on humanism.[Kaijan ini mencoba menelusuri gagasan dan pemikiran Kuntowijoyo, khususnya berkenaan dengan konstruksi sosial yang membentuk pemikirannya tentang humanisme, yang berkembang melalui tiga fase; realitas eksternal, realitas objektif, dan realitas internal. Data penelitian ini bersumber dati kajian pustaka, termasuk telaah pada sumber primer dan sumber sekunder. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa menggunakan pendekatan deduktif dan induktif, metode verstehen untuk menelusuri konstruksi sosial dari pemikiran Kuntowijoyo mengenai humanisme, yang dianggap sebagai teosentris. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran Kuntowijoyo mengenai humanisme terbentuk secara sosial melalui dialektika triadik, yaitu: realitas eksternal, realitas objektif, dan realitas internal. Dialektika triadik itu secara simultan dapat menggambarkan proses perkembangan pemikiran Kuntowijoyo tentang humanisme.]
Kontribusi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam Studi Disabilitas di Indonesia Liana Aisyah; Arif Maftuhin
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-05

Abstract

Sunan Kalijaga State Islamic University (UIN Sunan Kalijaga) Yogyakarta declared its commitment to become an inclusive university in 2007 with the establishment of its Centre for Disability Studies and Services (now Centre for Disability Services). As a higher education institution, this commitment should be reflected on its organizational structure as well as its three main missions, i.e. teaching and learning, research and publication, and community service and engagement. This study was aimed at examining and mapping UIN Sunan Kalijaga’s contribution to research and publication in the field of disability studies and inclusive education. A mixed-method approach was employed to collect data. Item pooling was conducted through literature study and structured interviews as well as focus group discussion. This was followed by a systematic content analysis to answer the main research question: in what forms has UIN Sunan Kalijaga contributed to research and publication in this field. A further analysis was conducted to examine the extent of its contribution in terms the number and kinds of research and publications and their impact to the academic world.[Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyatakan komitmennya untuk menjadi universitas inklusif pada tahun 2007 dengan pendirian Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (sekarang Pusat Layanan Disabilitas). Sebagai lembaga pendidikan tinggi, komitmen ini harus tercermin pada struktur organisasinya serta tiga misi utamanya, yaitu pengajaran dan pembelajaran, penelitian dan publikasi, serta layanan dan keterlibatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan memetakan kontribusi UIN Sunan Kalijaga untuk penelitian dan publikasi di bidang studi disabilitas dan pendidikan inklusif. Pendekatan metode campuran digunakan dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data. Pengumpulan dilakukan melalui studi literatur dan wawancara terstruktur serta diskusi kelompok yang terfokus. Penelitian diikuti oleh analisis konten sistematis untuk menjawab pertanyaan penelitian utama: dalam bentuk apa UIN Sunan Kalijaga berkontribusi untuk penelitian dan publikasi dalam bidang ini. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk memeriksa sejauh mana kontribusinya dalam hal jumlah dan jenis penelitian dan publikasi serta dampaknya terhadap dunia akademik.]
Aset Penghidupan Penyandang Paraplegia Sebelum dan Setelah Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Bantul Astri Hanjarwati
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0402-04

Abstract

People with paraplegia of victims of the earthquake in Bantul District in 2006 were new disabled people who suffered spinal damage and used a wheelchair for daily mobility. A new diffable is someone who became disabled not from birth but because of an accident, natural disaster and degenerative pain. The number of people with paraplegia in 2006 earthquake was 442 people. The amount is not small that requires policy and treatment so they can continue their lives properly. An assessment of livelihood assets after a disaster (being disabled) is important to do. The purpose of this study is to analyze the differences in the condition of livelihood assets before the disaster, shortly after the disaster and current conditions. The locations of this study were six sub-districts in Bantul Regency with the largest number of paraplegia sufferers with a population of 124 people, and 44 people are taken using stratified random sampling. The data were taken using using a questionnaire. The analysis used is a scale assessment. The research results show that human capital, physical capital and financial capital have decreased from before the earthquake disaster, while social capital has increased in conditions after the earthquake disaster. Improvement of the livelihoods condition from shortly after the disaster to the current condition (10 years after the disaster) is influenced by two factors, they are the livelihood strategies of people with paraplegia and the government, NGO and family support interventions.[Penyandang paraplegia korban bencana gempa bumi di Kabupaten Bantul tahun 2006 merupakan difabel baru yang mengalami kerusakan tulang belakang dan mobilitas sehari-hari menggunakan kursi roda. Difabel baru adalah seseorang yang menjadi difabel bukan sejak lahir tetapi karena kecelakaan, bencana alam dan sakit degeneratif. Jumlah penyandang paraplegia akibat gempa bumi tahun 2006 yaitu 442 orang. Jumlah yang tidak sedikit ini memerlukan kebijakan dan penanganan agar mereka dapat melanjutkan kehidupannya secara layak. Asesmen mengenai aset penghidupan setelah bencana (menjadi difabel) penting untuk dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kondisi aset penghidupan sebelum bencana, sesaat setelah bencana dan kondisi saat ini. Lokasi penelitian adalah enam kecamatan di Kabupaten Bantul dengan jumlah penyandang paraplegia terbanyak dengan jumlah populasi 124 orang, dan diambil sampel dengan metode stratified random sampling sebanyak 44 orang. Pengambilan data dengan teknik survei menggunakan kuesioner. Analisis yang digunakan adalah penilaian skala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal manusia, modal fisik dan modal keuangan mengalami penurunan dari sebelum bencana gempa bumi, sedangkan modal sosial mengalami kenaikan pada kondisi setelah bencana gempa bumi. Peningkatan kondisi aset penghidupan dari sesaat setelah bencana menjadi kondisi saat ini (10 tahun setelah bencana) dipengaruhi oleh dua faktor yaitu strategi penghidupan penyandang paraplegia dan intervensi pemerintah, LSM dan daya dukung keluarga.]
Dinamika Politik Kelas Menengah Indonesia: Pergulatan Politik ICMI Membangun Demokrasi di Era Orde Baru Taufikurrahman Taufikurrahman; Wahyu Hidayat
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-01

Abstract

The political development of a country is determined by the system in force. Indonesia under a new order, for example, ruled by political system with authoritarian. In the new order era, the middle class Muslims did not gain flexibility in expressing their political participation as the impact of intervention and power domination. The changing in the political dynamics occurred in Indonesia in mid 1990s, one of which was characterized by the development of the Indonesian Muslim Scholars Association (ICMI). The emergence of ICMI is considered as the estuary of the long history struggle of the middle class Muslims in Indonesia. ICMI symbolizes the symbiotic relationship between religion and the state, the accommodating relationship between Islam and democracy. The revival of political roles of the middle-class Muslims requires significant changing within the political system, from the authoritarian to democracy.This research employs qualitative research methods with the approach of literature studies (library research) and a descriptive analysis method using especially the Hegemony theory of Anthonio Gramsci. The research aims to describe ICMI's socio-political role in the New Order era. It is found in this study that among the ICMI’s agenda is to develop a comprehensive-built democracy. Democracy is expected to be able to create changes not only in the political field but also in some other areas, including social, economic, cultural and religious. The democratization strategy pursued by ICMI through vertical mobility to establish a more balanced power relationship by taking part in the pendulum of power through the placement of Muslim scholars in the system of government cabinet as well as the ruling party, Golkar. At this point, ICMI plays a significant role as a group of intellectual counter hegemonic. This has resulted in a form non-confrontation relationship between Muslims and the government. Furthermore, ICMI developed the empowerment agenda in order to improve the quality of life of the community as reflected by the objective of ICMI,  symbolised by the five ‘K’ (English: five Q) of ICMI; Quality of life, quality of faith, quality thought/technology, quality of work, and quality of work invention. The agenda was implemented through the chains and linkages of ICMI throughout the country, such as CIDES, the Waqf book Movement, the Perpetual Charity Foundation Orbit Scholarship, MASIKA Study Group, and the publication of Republika newspaper.[Perkembangan politik pada suatu negara sangat ditentukan oleh sistem politik yang diberlakukan. Indonesia dibawah orde baru, dikuasai oleh suatu sistem politik yang bercorak otoriter dan oligarkis. Kelas menengah muslim tidak mendapatkan keleluasaan dalam mengembangkan partisipasi politik sebagai dampak dari adanya intervensi dan dominasi kekuasaan. Perubahan dinamika politik terjadi pada paruh 1990, salah satunya ditandai dengan berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Kelahiran ICMI adalah muara daritapakan panjang sejarah perjuangan kelas menengah muslim di Indonesia. ICMI melambangkan hubungan simbiotis antara agama dan negara, hubungan akomodatif antara Islam dan demokrasi. Kebangkitan peran politik kelas menengah muslim mensyaratkan terjadinya perubahan sistem politik dari yang otoriter menuju demokrasi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Studi Kepustakaan (Liberary Research). Analisis yang dikembangkan menggunakan metode analisis deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran sosial politik ICMI di era orde baru. Ulasan mengenai tujuan tersebut dikaji secara lebih mendalam menggunakan teori Hegemoni Anthonio Gramsci. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa ICMI menginginkan terbangunnya suatu tatanan demokrasi yang komprehensip. Demokrasi yang diharapkan mampu menciptakan perubahan tidak saja pada bidang politik namun juga pada bidang-bidang yang lain; sosial, ekonomi,budaya dan agama. Strategi demokratisasi yang ditempuh ICMI melalui mobilitas vertikal guna membangun relasi kuasa yang lebih berimbang dengan mengambil bagian dalam pendulum kekuasaan melalui penempatan tokoh-tokoh cendekiawan muslim dalam kabinet pemerintahan juga partai penguasa; Golkar. Pada titik ini, ICMI memainkan peranan sebagi kelompok intellectual countre hegemonic. Implikasinya, terbangunnya hubungan yang tidak konfrontatif antara umat Islam dengan pemerintah. Selanjutnya, ICMI mengembangkan agenda-agendapemberdayaan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat sebagaimana yang tercermin dari tujuan ICMI yang disimbolisasi dengan Lima “K”; Kualitas Iman, Kualitas Fikir, Kualitas Karya, Kualitas Kerja dan Kualitas Hidup. Agenda-agenda tersebut direalisasi melalui departemen-departemen organisasi maupun badan-badan otonom yang didirikan seperti CIDES, Gerakan Wakaf Buku, Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orbit, Kelompok Studi MASIKA, hingga penerbitan Koran Republika. Sebagai bagian dari eksponen bangsa dan umat, ICMI berada di garda depan dalam membangun tatanan demokrasi yang sehat, egaliter dan emansipatif-partisipatoris di Indonesia.]
Akhlak Guru dan Penerapannya dalam Pembelajaran di Pesantren Menurut Kitab Adab Ad - Dunya Wa Ad - Diin Siti Chusnit Tamamir Rodhiyah; Moh Aan Khunaifi; Denny Oktavina Radianto
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2021.0501-04

Abstract

Humans have been equipped with a mind, to develop these minds humans must have a high willingness to learn. In the learning process must pay attention to manners / morals, not only students, teachers also have to pay attention to these morals. From this background, researchers are interested in conducting research that aims to understand more about the morals or manners of teachers in carrying out learning activities and their application in learning in Islamic boarding schools. In this study, researchers used a qualitative descriptive research method. The data collection method used by researchers is by conducting interviews with one of the sources to obtain clear information. From the results of the interview, the researcher concluded that there were 13 adab that the teacher had to pay attention to when the teaching and learning process took place, especially in the pesantren environment.[Manusia telah dibekali akal pikiran. Untuk megembangkan akal pikiran tersebut manusia harus memiliki kemauan belajar yang tinggi. Dalam proses belajar-mengajar harus memperhatikan adab/akhlak, tidak hanya anak didik saja, namun guru juga harus mempehatikan akhlak. Dari latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk memahami lebih lanjut mengenai akhlak atau adab guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran serta penerapannya dalam pembelajaran di pondok pesantren. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengambilan data yang digunakan peneliti adalah dengan melakukan wawancara untuk mendapatkan informasi yang jelas. Dari hasil kegiatan wawancara tersebut peneliti menyimpulkan bahwa terdapat 13 adab yang harus diperhatikan guru ketika berlangsungnya proses belajar mengajar terutama di lingkungan pesantren.]
Relasi Suami Istri: Studi Pemikiran Hasbi Ash-Shidieqy, Hamka, dan M. Quraish Shihab dalam Q.S Al-Nisa' Eko Prayetno
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-09

Abstract

This study focuses on identifying the perspectives of three scholars/ commentators of Quran (mufasir), Hasbi ash-Shidieqy, Hamka, and M. Quraish Shihab, on the different patterns of relationship between husband and wife in the household. The patterns analysed in this study are especially based on the three scholars’ interpretation of the quran,  Surah al-Nisa. This surah is one of the Surahs in the Quran to give special attention to women, including the relationship between husband and wife through several verses.This study based on the interpretations of the three Indonesian mufasir, Hasbi ash-Shidieqy and his book of Tafsir al-Bajaan, Hamka in his book of Tafsir al-Azhar, and M. Quraish Shihab in his book of Tafsir al-Misbah. These three mufasir compiled their commentaries in a form of tahlili.  This means that the three commentators interpret the verses of surah al-Nisa's related to the theme of husband and wife relation separately, in order to the surah based on tartib mushafi, while the fragmented discussions are gathered into one discussion corridor.The data is collected using a thematic research and the selection of character research. Thematic research focuses on the discussion on one identified theme, while the selection of character research is based on the unique thinking of the three commentators regarding the theme. The result shows that among the responses of the Quran to the construct the pattern of relationship between husband and wife is through replacement of thoise against the Quran and maintain those that are in line with the rules of the Quran.[Kajian ini menelaah perspektif tiga Sarjana atau ahli Tafsir Qur’an (Mufasir) yaitu, Hasbi ash-Shidieqy, Hamka, dan M. Quraish Shihab tentang perbedaan pola hubungan suami-istri dalam rumah tangga. Pola hubungan yang dianalisis dalam studi ini khususnya adalah pada tafsir dari ketiga mufasir tersebut terhadap Surah an-Nisa. Surat ini adalah salah satu surat dalam al-Quran yang memberikan perhatian khusus pada wanita, termasuk hubungan suami-istri di seluruh ayat di dalamnya.Kajian ini didasarkan pada tafsir dari ketiga mufasir Indonesia di atas, yaitu Hasbi ash-Shidieqy dengan kitab tafsirnya Tafsir al-Bajaan, Hamka dalam Tafsir al-Azhar-nya, dan M.Qiraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah. Ketiga mufasir ini memberikan penjelasan pada tafsir nya dalam bentuk tahlili, yang berarti ketiga mufasir tersebut menafsirkan ayat-ayat dalam surah an-Nisa yang berhubungan dengan hubungan suami-istri secara terpisah dengan tujuan untuk mendasarkan pada tartib mushafi, sementara pembahasan mengenai relasi suami-istri yang terpisah tersebut kemudian dikelompokkan menjadi satu alur pembahasan.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan penelitian tematik dan pemilahan sesuai jenis penelitian. Penelitian tematik ini fokus pada pembahasan mengenai satu tema pembahasan, sementara pemilahan jenis penelitian didasarkan pada pemikiran unik dari ketiga komentator tersebut mengenai tema relasi suami-istri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di antara tanggapan terhadap al-Quran para mufasir tersebut dalam mengkonstruk pola hubungan suami-istri adalah melalui penyesuaian ayat-ayat al-Quran yang sesuai untuk mempertahankan tafsir yang sesuai dengan ajaran al-Quran.]
Etika Eudaimonisme dalam Buddhisme Siti Rokhmatul Umah
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0402-07

Abstract

One of the Eastern Philosophy teachings that emphasizes the moral practices and ethical teachings is Buddhism. However, these teachings are still scattered and not yet systemised. So, it is necessary to identify the pattern and form of the ethics. At first glance, ethics in Buddhism has the same pattern as the ethics of eudaimonism that is made by Aristotle which contains several aspects, namely teleological aspects, self-development, and virtue. This studies employs Aristotle's ethical theory as a theoretical framework to dialogue, analyze, and build ethical concepts that is occurred in the teachings of Buddhism. There are three characters in Aristotle's ethical philosophy, namely teleology, self-development, and virtue. The data were gathered through library research and analysed by interpretation and description methods. The approach that is employed in this paper is a philosophical approach that seeks to find the basic philosophical structure of the teachings of Buddhism in the concept of Aristotle's ethics of eudaimonism. This study shows that the ethics of Buddhism contain teleological aspects that in line with the ethics of eudaimonism, namely, self-development aspects, and virtue aspects. According to Buddhism, the goal of all human action is to attain the highest happiness, namely Nibbana (detachment from suffering). To achieve it one must practicing the Noble Eightfold Path.[Salah satu ajaran filsafat Timur yang menekankan praktik-praktik moral serta ajaran etika adalah Buddhisme. Namun, ajaran-ajaran etika tersebut masih berserakan dan belum tersistem. Maka, perlu diidentifikasi corak atau bentuk etikanya. Sekilas, etika dalam Buddhisme memiliki corak yang sama dengan etika eudaimonisme dari Aristoteles yang mengandung beberapa aspek, di antaranya, aspek teleologis, pengembangan diri, dan keutamaan. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan teori etika Aristoteles sebagai kerangka teoritis dalam mendialogkan, menganalisis, dan membangun konsep etika yang terdapat dalam ajaran Buddhisme. Dalam filsafat etika Aristoteles, terdapat tiga karakter, yaitu teleologi, pengembangan diri, dan keutamaan. Data-data dikumpulkan melalui studi kepustakaan/library research dengan menggunakan metode analisa yaitu interpretasi dan deskripsi. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan filosofis yang berupaya menemukan struktur dasar filosofis dari ajaran Buddhisme dalam konsep etika eudaimonisme Aristoteles. Artikel ini menemukan bahwa etika dalam Buddhisme mengandung aspek yang terdapat dalam etika eudaimonisme, yakni aspek teleologi, yakni pengembangan diri, dan aspek keutamaan. Menurut Buddhisme, tujuan dari segala tindakan manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan tertinggi, yaitu Nibbana (terlepasnya dari penderitaan). Untuk mencapainya adalah dengan mempraktikkan Jalan Mulia Beruas Delapan.]

Page 6 of 17 | Total Record : 161