cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Tasawuf Aa Gym: Studi Pesan Dakwah KH. Abdullah Gymnastiar Diana Sari
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-06

Abstract

The rise of Sufism shows a new existence in Indonesia. Sufism is not only understood as Sufi teachings and traditional institutions (tarekat). A new passion in Sufism in Indonesia has been seen in cities and among the middle classes. Howell’s research shows the rise of Sufism promoted in two ways (1) ‘Ulamas who come from traditional Islamic education and taught their followers in formal education classes and (2) Television preachers who create their programs and regulate and dramatize it in for the television viewers. New nuances by grounding Sufistic values are also carried out by the KH. Abdullah Gymnastiar who connects his spiritual experience with the world of Sufism, including preaching messages that refer to the teachings of Sufism. This research is a qualitative-field research. The primary source in this study is the da’wah message of KH. Abdullah Gymnastiar. Secondary sources refer to religious studies written in Abdullah Gymnastiar’s social media, book literature, journals/articles, or previous studies. This study uses descriptive analysis to read the da’wah message KH. Abdullah Gymnastiar in his lectures and studies. If placed in the development of the history of Sufism, seen from the character of its religious assembly, Aa Gym is included in the category of contemporary Sufism. However, when viewed from the contents of the principal teachings of moral values, related to the material of da’wah, the message expresed by Aa Gym is the teachings of moral science (ilmu Akhlaq). Broadly speaking, the message of da’wah is not classified as Sufism but religious spirituality which is moral because it contains moral teachings as a reform of morality that synergizes the values of physical and spiritual potential.[The rise of Sufism shows a new existence in Indonesia. Sufism is not only understood as Sufi teachings and traditional institutions (tarekat). A new passion in Sufism in Indonesia has been seen in cities and among the middle classes. Howell’s research shows the rise of Sufism promoted in two ways (1) ‘Ulamas who come from traditional Islamic education and taught their followers in formal education classes and (2) Television preachers who create their programs and regulate and dramatize it in for the television viewers. New nuances by grounding Sufistic values are also carried out by the KH. Abdullah Gymnastiar who connects his spiritual experience with the world of Sufism, including preaching messages that refer to the teachings of Sufism. This research is a qualitative-field research. The primary source in this study is the da’wah message of KH. Abdullah Gymnastiar. Secondary sources refer to religious studies written in Abdullah Gymnastiar’s social media, book literature, journals/articles, or previous studies. This study uses descriptive analysis to read the da’wah message KH. Abdullah Gymnastiar in his lectures and studies. If placed in the development of the history of Sufism, seen from the character of its religious assembly, Aa Gym is included in the category of contemporary Sufism. However, when viewed from the contents of the principal teachings of moral values, related to the material of da’wah, the message expresed by Aa Gym is the teachings of moral science (ilmu Akhlaq). Broadly speaking, the message of da’wah is not classified as Sufism but religious spirituality which is moral because it contains moral teachings as a reform of morality that synergizes the values of physical and spiritual potential.]
Nilai Kerukunan Umat Beragama dalam Tradisi Merti Bumi Tunggularum Kabupaten Sleman Rosidin Rosidin
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-02

Abstract

Indonesia is known for its variety of tradition. The ritual of Merti Bumi Tunggularum is among the important traditions which has not been explored in studies. This study explores the origin of Merti Bumi tradition, especially related to the community values of religious harmony. This study employs a qualitative-descriptive approach. The results of this study highlight that: (1) The tradition of Merti Bumi Tunggularum is referred to the respected figure of Kyai Tunggul Wulung, in which his death is commemorated through the ritual of annual Haul held in the community in the month of Sapar 21st. This annual haul has been developed into various traditions, including the Carnival of the Merti Bumi and some other related ceremonies. (2) The ritual of Merti Bumi reflects community’s value of religious harmony as it involves tolerance, equality and mutual cooperation among people from various religious backgrounds in the society.[Indonesia dikenal dengan keragaman tradisinya. Ritual Merti Bumi Tunggularum adalah salah satu tradisi berharga yang belum dieksplorasi dalam studi ilmiah. Penelitian ini menelusuri awal mula tradisi Merti Bumi, terutama yang beekenaan dengan nilai-nilai kerukunan umat beragama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa: (1) Tradisi Merti Bumi Tunggularum merunut pada tokoh Kyai Tunggul Wulung yang sangat dihormati, yang kematiannya diperingati melalui ritual Haul tahunan yang diadakan pada bulan Sapar ke 21. Peringatan ini telah dikembangkan menjadi berbagai tradisi, termasuk upacara Merti Bumi dan upacara lainnya yang berkaitan. (2) Ritual Merti Bumi mencerminkan nilai kerukunan beragama masyarakat karena memegang teguh toleransi, kesetaraan, dan gotong royong timbal balik pada semua lapisan masyarakat dengan berbagai latar belakang agama yang berbeda-beda.]
Studi Yuridis-Sosiologis terhadap Problematika Perkawinan Sejenis di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ajung Kabupaten Jember Tahun 2017 Ahmad Fadoli Rohman
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-04

Abstract

Same-sex marriage is not recognised within Indonesian laws and constitution. The Indonesian Marriage Law, Law No.1/1974, does not give any loophole for same sex couples in Indonesian to officially legalised their marriage. However, there are ways and efforts done by same sex couple in Indonesia to get around  this prohibition. Among the most common ways done by these couples to have their marriage approved by the authority is through falsification of ID and other related documents. The marriage of Ayu and Fadholi (not real name) which was initially passed by the local marriage bureau (KUA) in Ajung, Jembar in 2017, shows that falsification of documents for marriage remains occur among same sex couples in Indonesia. This study examines: 1) What are underlying factors behind the cases of same sex marriage in Indonesia? 2) What strategies commonly done by same sex couples in Indonesia to get around restrictions for their marriage? 3)To what extent Indonesian regulations as well as Islamic law respond to cases of same sex marriage in the community? The data is collected through series interview involving religious judges and other prominent sources. The finding of this study shows that: (1) Sociologically, same-sex marriage done by couples in Indonesia is part of their efforts to get rid of stigma and labelling in the society. (2) The most common strategy undertaken by same-sex couples to have their marriage legally recognised is through falsification of their identity and other required documents for marriage. (3) The Indonesian regulations, including Indonesian marriage law, do not recognised same sex marriage, as well as Islamic law which regards same sex marriage as haram, against the Qur’an and the Hadith.[Pernikahan sesama jenis tidak diakui dalam hukum konstitusi Indonesia. UU Perkawinan Indonesia, UU No.1/ 1974, tidak memberikan ce;ah bagi pasangan sesama jenis di Indonesia untuk secara resmi melakukan pernikahan. Namun, ada cara dan upaya yang dilakukan pasangan sesama jenis di Indonesia untuk mengakali larangan ini. Di antara cara paling lumrah yang dilakukan oleh pasan ini agar pernikahan mereka disetujui oleh otoritas setempat adalah melalui pemalsuan KTP dan dokumen terkait lainnya. Perkawinan Ayu dan Fadholi (bukan nama sebenarnya) yang awalnya disahkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) di Ajung, Jembar pada tahun 2017, menunjukan bahwa pemalsuan dokumen demi pernikahan tetap terjadi di antara pasangan dengan jenis kelamin yang sama di Indonesia. Penelitian ini meneliti: (1) Apakah faktor yang mendasari pernikahan sesama jenis di Indonesia? (2) Strategi apa yang umumnya dilakukan oleh pasangan sesama jenis di Indonesia untuk mengakali larangan pernikahan mereka? (3) Sejauh mana peraturan Indonesia yang hukum Islam menanggapi kasus pernikahan sesama jenis yang terjadi di masyarakat. Data dari penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara yang melibatkan ahli hakim agama dan sumber terkait lainnya. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Secara sosiologis, pernikahan sesama jenis yang dilakukan di Indonesia adalah bagian dari upaya mereka untuk menghilangkan stigma dan label dari masyarakat. (2) Strategi yang lumrah dilakukan oleh pasangan sesama jenis agar pernikahan diakui secara hukum adalah dengan pemalsuan identitas dan dokumen lain yang diperlukan untuk pernikahan. (3) Hukum di Indonesia, terutama hukum perkawinan tidak mengakui pernikahan sesama jenis, begitu pun dengan Hukum Islam yang menetapkan pernikahan sesama jenis sebagai haram karena bertentangan dengan al-Quran dan Hadist.]
Etika Santri kepada Kiai Menurut Kitab Ta'lim Muta'allim di PP. Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta Hasyim Wibowo
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0402-01

Abstract

Education in Indonesia currently, just focuses on educate the brain and skills in carrying out tasks and recoginizing moral values. The absence of moral values shows that there is a reduction in education in Indonesia today. Therefore education should not only talk about how to transfer knowledge for the student, but also transfer good moral values as a whole. Teachers are not only a source of knowledge, but also the role models. Islamic education which is rooted in the culture of Indonesian society is pesantren or boarding school. In daily life at the boarding school, the figure of the kiai is very influential on the personality of the students, this is based on the santri's sense of ta'dzim to the kiai or commonly referred to as tabarukan or ngalap barokah kiai, thus making the students highly esteem and respect their kiai. One of the learning materials that have been taught at the beginning of teaching is the Ta'lim Muta'allim book. The goal is to instill a commendable attitude or commendable morals for the students. The methods used are qualitative and quantitative, namely analyzing carefully the views and responses of the ethics of the santri to the kiai according to the Ta'lim Muta'allim book at the Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien Islamic boarding school in Yogyakarta. The results of the study concluded that the kiai and santri relationship is an ethical relationship. Namely a relationship that gives rise to submission and obedience. These two things will distinguish ethics and etiquette. If ethics deals with the attitude of students who are submissive and obedient, then etiquette deals with the attitude of the santri who are polite. However, this santri ethics does not emerge by itself. This ethic arises because of external influences.[Pendidikan Indonesia saat ini hanya terfokus pada upaya untuk mencerdaskan otak dan keterampilan dalam melaksanakan tugas, sehingga meminggirkan nilai-nilai moral dan akhlak. Absennya nilai-nilai moral dan akhlak ini menunjukkan bahwa terjadi reduksi dalam dunia pendidikan di Indonesia hari ini. Oleh karena itu pendidikan sebaiknya tidak semata-mata hanya berbicara mengenai bagaimana melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada murid, namun juga melakukan transfer nilai-nilai moral dan akhlak yang baik secara menyeluruh. Dengan begitu, guru bukan hanya menjadi sumber ilmu tapi juga suri tauladan. Hanya dengan demikian pendidikan bisa dipahami secara utuh. Pendidikan Islam yang berakar dari budaya masyarakat Indonesia adalah pesantren. Dalam kehidupan sehari-hari di pondok pesantren, sosok kiai sangat berpengaruh terhadap kepribadian santri, hal tersebut didasari oleh rasa ta'dzim santri kepada kiai atau biasa disebut dengan istilah tabarukan atau ngalap barokah kiai, sehingga menjadikan para santri sangat mengangungkan dan menghormati kiainya. Materi pembelajaran yang sudah diajarkan di awal pengajaran salah satunya adalah kitab Ta'lim Muta'allim tujuannya ialah menanamkan sikap terpuji atau akhlak terpuji bagi kalangan santri. Metode yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif, yaitu menganalisis secara cermat tentang pandangan dan tanggapan mengenai etika santri kepada kiai menurut kitab Ta’lim Muta’allim di pondok pesantren Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti menggunakan data primer yang didapat langsung oleh peneliti dari hasil penelitian lapangan dengan instrumen yang sesuai. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa relasi kiai dan santri adalah relasi etis. Yaitu relasi yang memunculkan ketundukan dan kepatuhan. Dua hal ini akan membedekan etika dan etiket. Jika etika menggumuli sikap santri yang tunduk dan patuh, maka etiket menggumuli sikap santri yang sopan lagi santun. Namun demikian, etika santri ini tidak muncul dengan sendirinya. Etika ini muncul karena pengaruh eksternal.]
Semiotics: The Connotatives Signified (Myth) on Several News Headlines About Terror Cases Indicating Islamophobia Artha Nur Restia Panji
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-10

Abstract

In the last couple of years the increasing cases of violence and terror appears to be the most common headlines in the media around the world.  Media platforms seem to use the news of violence and terror as their strategy to attract readers, in which some news appears to be provocative. The terms used in the media also tend to be exaggerative, which mostly beyond the actual context of the cases. Moreover, the media platforms appears to be trapped in Islamophobia attitude, as they tend to use the term ‘terror’ identical to cases of crimes perpetrated only by Muslims. The term ‘terror’ is hardly used in cases of crimes involving non-Muslims, instead the news platform will use such more neutral terms as ‘shooting’ and ‘stabbing.’ This article examines the connotative meaning of the different terminologies used to describe similar cases in the media headline. In the perspective to Critical Discourse Analysis theory, a discourse brought up by news headline is not merely word choices as it expresses more than just linguistic aspect. In fact, it shapes the way the readers portrayed the actual cases, while the terms used in the news headline appear to significantly contribute to the development of certain ideology brought by the media platforms.[Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya kasus kekerasan dan teror menjadi berita utama dan lumrah di media di seluruh dunia. Platform media terlihat menyiarkan berita kekerasan dan teror sebagai strategi mereka untuk menarik khalayak untuk membaca yang mana beberapa berita tersebut cenderung lebih provokatif. Istilah-istilah yang digunakan dalam berita itu juga cenderung berlebihan yang justru berada di luar konteks kasus yang sebenarnya. Selain itu, platform media juga terjebak dalam sikap Islamofobia, dengan cenderung menggunakan istilah ‘teror’ yang identik dengan kasus-kasus kejahatan yang mengarah pada tindakan umat Islam. Istilah ‘teror’ justru jarang digunakan dalam kasus-kasus kejahatan yang melibatkan non-muslim, dan sebaliknya, platform berita itu akan menggunakan istilah yang lebih netral seperti ‘penembakan’ dan ‘penusukan’. Artikel ini mengkaji makna konotatif dari istilah-istilah yang digunakan media platform untuk menyampaikan kasus-kasus tersebut dalam tajuk media. Dalam perspektif teori Analisis Wacana Kritis, sebuah wacana yang diangkat oleh tajuk berita tidak hanya berupa pilihan kata sebab dibalik kata itu terdapat ungkapan yang lebih dari sekedar aspek linguistiknya saja. Bahkan, kata-kata itu turut menbentuk cara pembaca memahami dan menggambarkan kasus-kasus tersebut, padahal istilah-istilah yang digunakan oleh media itu nyatanya memiliki peran penting pada pertumbuhan ideologi tertentu yang dibawa oleh media platform tersebut.]
Agama dan Magis sebagai Acuan Masyarakat Muslim dalam Dunia Bisnis di Era Modern Faizal Ansori
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0401-03

Abstract

Religion and magic in the modern era is very close to the business world. The problem is how Islam views magi which is believed to produce results in the business carried out and also what are the factors that influence people in this era to believe in magial objects (amulets) and spells. The increasingly fierce competition in the business world, makes magi as a tool of choice to increase strength in the business world rather than social media. This paper tries to interpret the religious doctrines used to justify the use of magi in religion. Basically, magi itself is difficult to distinguish in Islam, because of the long history that magi has long been used and has powers that can be used as shortcuts by society, both for healing, strength, business, rejecting the cross from magi and so on.[Agama dan magi di era modern sangat dekat dengan dunia bisnis. Persoalannya adalah bagaimana agama Islam memandang magi yang dipercaya membuahkan hasil pada usaha yang dijalankan dan juga faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat era ini untuk menyakini benda (jimat) dan mantra magi. Semakin ketatnya persaingan dalam dunia usaha, menjadikan magi sebagai pilihan alat untuk menambah kekuatan dalam dunia bisnis dari pada sosial media. Tulisan ini mencoba untuk menginterpretasi doktrin-doktrin agama yang digunakan untuk menjustifikasi penggunaan magi dalam agama. Pada dasarnya, magi sendiri sulit dibedakan dalam Islam, oleh karena sejarah panjang bahwa magi telah lama digunakan dan mempunyai kekuatan yang bisa dijadikan jalan pintas oleh masyarakat, baik untuk kesembuhan, kekuatan, bisnis, tolak balak dari sihir dan lain sebagainya.]
Kontestasi Merebut Kebenaran Agama (Studi Analisa di Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri) Khairil Umami; Arif Wibowo
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2021.0501-03

Abstract

In a socio-cultural society that is pluralistic and still upholds the values of gotong royong or customs in general that appear on the surface, there is no problem that means anything else until it leads to the issue of contestation. This can be seen at a glance in the community in Jatipurno Wonogiri District. However, the reality is that in the midst of the existing diversity, both internal and inter-religious diversity, various problems are often found that alternate between individual, social and institutional issues. The main problem that researchers want to reveal about diversity in Jatipurno District is the issue of contestation in seizing religious truth. In this study, the author wants to reveal two main issues. First, how the socio-historical arena (field) of the community in Jatipurno sub-district plays its role in seizing religious truth. Second, how each contestant plays a capital symbol to reach a habitus in society. To uncovering these two problems, researcher used a sociological approach from Pierre Bourdieu's thinking with a qualitative type of research. From the results of the analysis, it can be seen that although socio-historically the people in Jatipurno District come from the same ethnicity and race, due to the different ideological issues involved, the elites and their members have a desire to maintain their existence and increase the number of their religious organization communities. Before playing the capital symbol, each uses the arena, which the researcher simplifies into three, namely; the arena of institutions, communities and bureaucratic institutions, they use this continuously with a series of methods to form a habitus in society which in the end they play with the various capitals they have.[Dalam sosiokultural masyarakat yang majemuk dan masih menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong atau pun adat istiadat secara umum yang tampak  dipermukaan tidaklah terdapat suatu persoalan yang berarti apa lagi sampai mengarah pada persoalan kontestasi. Hal inilah sepintas yang terlihat pada masyarakat di Kecamatan Jatipurno Wonogiri namun, realitanya ditengah keberagaman yang ada, baik keberagaman interen umat beragama ataupun antar umat beragama sering sekali ditemukan berbagai problem yang silih berganti baik yang berhubungan dengan persoalan individu, sosial kemasyarakatan maupun institusi. Persoalan pokok yang ingin peneliti ungkap terhadap keberagaman di Kecamatan Jatipurno adalah Persoalan Kontestasi dalam merebut kebenaran agama. Dalam penelitian ini penulis hendak menggungkap dua pokok persoalan pertama, bagaimana sosio historis arena (field) masyarakat di kecamatan Jatipurno dalam memainkan perannya dalam merebut kebenaran agama, kedua adalah bagaimana masing-masing kontestan memainkan capital simbol untuk menggapai sebuah Habitus dalam sosial masyarakat. Untung mengungkap kedua persoalan tersebut peneliti menggunakan pendekatan sosiologi dari pemikiran Pierre Bourdieu dengan jenis penelitian kualitatif. Dari hasil analisa dapat diketahui bahwa walaupun secara sosio historis masyarakat di Kecamatan Jatipurno berasal dari suku maupun ras yang sama namun karena persoalan ideologi yang masuk berbeda – beda, sehingga para elite dan anggotanya memiliki hasrat untuk mempertahankan eksistensi dan menambah jumlah komunitas organisasi keagamannya. Sebelum memainkan capital simbol masing-masing menggunakan arena, yang peneliti sederhanakan menjadi tiga yaitu ; arena institusi, komunitas dan lembaga birokrasi, hal ini mereka gunakan secara terus menerus dengan serangkaian metode untuk membentuk suatu habitus dalam masyarakat yang pada akhirnya mereka memainkan berbagai modal capital yang mereka miliki.]
Gagasan Islam Nusantara Sebagai Kearifan Lokal di Indonesia Syarif Hidayatullah
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-01

Abstract

This study employs a philosophical approach to ideas and thoughts of Nahdlatul Ulama (NU), one of largest Islamic mass organisation in Indonesia, in regards to the way this organisation responds to globalization, providing reference especially to their adherence and Muslim society in general. As many other Muslim organisations, NU has been struggling in to deal with globalization issues, along with its challenges, opportunities, and threats. Initiatives and efforts have been initiated by NU leaders to avoid negative impacts of globalisation for the society. In this regards, NU leaders with their discourse of Islam Nusantara are known for their thoughts and approach in maintaining religious harmony, not only among Muslims but also for Indonesian society in general. The Research focuses on three research questions; firstly, what is the main idea behind the discourse of Islam Nusantara?; secondly, what are the approach employed by NU leaders to promote the discourse of Islam Nusantara?; and, thirdly, to what extent the discourse of Islam Nusantara has significance in the context of society’s respond towards globalization? The data collected through literature and documentary study, focusing on primary sources related NU and the discourse of Islam Nusantara. The research found that the idea of Islam Nusantara is an effort to re-establish the contemporary thought of Islam in Indonesia, which allows a process of dialogue between new ideas and thoughts and what have been preserved as heritage from the past. In more specific way, the new idea of Islam Nusantara is basically an effort to interpret the big idea of Pribumisasi Islam, firstly introduced by Abdurrahman Wahid, one of the most prominent NU leaders, in 1980s. The discourse of Islam Nusantara has been actively promoted by NU through its branches in the country as well as its linkages of the prominent figures and scholars. It appears that the discourse of Islam Nusantara is proven to be one of the most prominent contemporary thoughts in Indonesia as they relate to indigenous Islam in Indonesia. Referring to Hegelian’s perspective, the discourse of Islam Nusantara is a form synthesis between globalization, as a thesis, and indigenous Islam, as an anti-thesis.[Kajian ini menggunakan pendekatan filosofis mengenai ide dan pemikiran Ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi terbesar di Indonesia mengenai cara organisasi ini menghadapi globalisasi yang memberikan tuntunan khususnya kepada para anggotanya dan masyarakat muslim secara umum. Sebagaimana organisasi muslim lainnya, NU telah bergulat dalam menangani persoalan-persoalan globalisasi beserta tantangan, peluang, dan ancamannya. Upaya dan inisiatif telah digalakan oleh para pemimpin NU untuk mengatasi dampak negatif untuk masyarakat dari globalisasi. Dalam hal ini, para pemimpin NU dengan wacana Islam Nusantaranya dikenal luas karena pemikiran dan pendekatan mereka dalam menjaga kerukunan umat beragama, tidak hanya umat muslim namun juga bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Fokus kajian ini meliputi tiga rumusan masalah yaitu, pertama, Apakah ide pokok dalam wacana Islam Nusantara? Kedua, pendekatan apa yang digunakan para pemimpin NU untuk menggalakan wacana Islam Nusantara? Ketiga, sejauh mana wacana Islam Nusantara, dalam konteks respon masyarakat terhadap globalisasi memiliki signifikansinya? Data dari kajian ini dikumpulkan melalui studi pustaka dan dokumenter, dengan penekanan pada sumber primer tentang NU dan wacana Islam Nusantara. Dari penelitian ini ditemukan bahwa gagasan Islam Nusantara adalah suatu upaya mengembangkan kembali pemikiran Islam kontemporer di Indonesia, yang memberikan jalan bagi proses dialog antara gagasan dan pemikiran baru dengan warisan masa lalu yang kini masih dipertahankan. Dalam cara tertentu, gagasan Islam Nusantara pada dasarnya adalah sebuah upaya menafsirkan ide besar tentang Pribumisasi Islam yang pertama kali dikenalkan oleh Abdurrahman Wahid, salah satu pemimpin NU yang paling berpengaruh pada tahun 1980. Wacana Islam Nusantara telah secara aktif digalakan oleh NU melalui cabang-cabangnya di Indonesia beserta jaringan para tokoh-tokoh dan ulama NU yang terkemuka dan berpengaruh. Ini menunjukkan bahwa wacana Islam Nusantara terbukti menjadi salah satu produk pemikiran kontemporer yang paling menonjol berkenaan dengan Islam Pribumi di Indonesia. Merujuk pada perspektif Hegelian, wacana Islam Nusantara adalah bentuk sintesis antara globalisasi sebagai tesis dan Islam Pribumi sebagai anti-tesisnya.]
Pengaruh Sosialisasi Kesiapsiagaan Bencana terhadap Pengetahuan Siswa dalam Menghadapi Bencana Tsunami di Desa Kiluan Negeri Risma Inayah; Very Julianto; Anis Khansa Qonita; Triska Adinda Dewi Sri
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-06

Abstract

Indonesia is a country that is geologically located at the confluence of three tectonic plates of the world, has more than 128 active volcanoes, and around 150 rivers. This results in Indonesia being prone to experiencing disasters. The village Kiluan Negeri in Tanggamus (Lampung) is among the areas known for its high disaster risk in Indonesia. This study aims to determine the impact of campaign and education on disaster preparedness on students’ knowledge in dealing with the tsunami disaster in Kiluan Negeri. This research employs a quasi-experimental method, with one group pre-test and post-test design. The research involved subjects from the group of 35 students from junior high school in Kiluan Negeri, SATAP VII-IX SMP. The respondents were recruted through quota sampling, in which all junior high school students present were selected as research subjects. For this research, disaster preparedness training/socialization was carried out three times. Based on the results of the study, it can be concluded that the hypothesis proposed in this study was confirmed, as it is found that there is a significant impact of the training/socialization of disaster preparedness to the knowledge and awareness among students of Kiluan Negeri (0,000 <0.005). This can be seen from the data that the average of awareness/ knowledge before the socialization was only 37.5 and increased to the level of 42.1 after the process. In addition, based on subject categorization, prior to being given disaster preparedness socialization, students who had a high level of knowledge were only 77.2%, then after being given a disaster preparedness socialization, it increased to 92%. It can be concluded, therefore, that students who have high knowledge after the disaster preparedness socialization is 92%.[Indonesia adalah negara yang secara geologis terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, memiliki lebih dari 128 gunung berapi aktif, dan sekitar 150 sungai. Hal ini membuat Indonesia rawan mengalami bencana. Desa Kiluan Negeri di Tanggamus (Lampung) adalah salah satu daerah yang dikenal memiliki risiko bencana tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pelatihan dan pendidikan pada pengetahuan siswa mengenai kesiapsiagaan bencana untuk menangani bencana tsunami di Kiluan Negeri. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen, dengan desain satu kelompok pre-test dan post-test. Penelitian ini melibatkan 35 kelompok  siswa dari SMP di Kiluan Negeri, SATAP VII-IX SMP. Hasil dari responden diolah melalui kuota sampling, di mana semua siswa SMP yang hadir dipilih sebagai subjek penelitian. Untuk penelitian ini, pelatihan/sosialisasi kesiapsiagaan bencana dilakukan tiga kali. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dikonfirmasi, karena ditemukan bahwa ada dampak yang signifikan dari pelatihan/sosialisasi kesiapsiagaan bencana terhadap pengetahuan dan kesadaran siswa Kiluan Negeri (0,000 <0,005). Ini dapat dilihat dari data bahwa rata-rata kesadaran/pengetahuan sebelum sosialisasi hanya 37,5 dan meningkat ke level 42,1 setelah proses. Selain itu, berdasarkan kategorisasi subjek, sebelum diberikan sosialisasi kesiapsiagaan bencana, tingkat pengetahuan siswa memiliki prosentase hanya 77,2%, kemudian setelah diberikan sosialisasi kesiapsiagaan bencana, meningkat menjadi 92%. Dapat disimpulkan, bahwa siswa yang memiliki pengetahuan tinggi setelah sosialisasi kesiapan bencana adalah 92%.]
Identifikasi Kelelawar Pemakan Serangga (Microchiroptera) di Gua Groda, Kawasan Karst Gunung Sewu, Gunungkidul, Yogyakarta Evi Margiyanti
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-08

Abstract

Groda Cave is one of the caves in the Gunung Sewu Karst Area which is used by bats as a roosting place when resting during the day. This study aims to identify insectivorous bats (microchiroptera) in Groda Cave, Karst Gunung Sewu Region, Gunungkidul, Yogyakarta. This research was conducted in July 2016 in Groda Cave, Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta. Morphometric identification is based on body size and body characteristics. The method used is observation. The results of this study are the insect-eating bats found in the Groda Cave area based on morphometry, there are 3 types, namely Rhinolopus canuti, Rhinolopus affinis, and Rhinolopus pusillus.[Gua Groda terletak di Kawasan Karst Gunung Sewu di Gunung Kidul Yogyakarta yang dihinggapi kelelawar saat beristirahat di siang hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelelawar pemakan serangga (microchiroptera) di Gua Groda. Makalah ini berdasarkan data yang dikumpulkan pada Juli 2016 di Gunungkidul, Yogyakarta. Identifikasi morfometrik didasarkan pada ukuran tubuh dan karakteristik tubuh. Metode yang digunakan adalah observasi. Hasil penelitian ini menyoroti keberadaan kelelawar pemakan serangga yang ditemukan di Gua Groda. Berdasarkan morfometri, ada 3 jenis kelelawar di gua Groda, yaitu Rhinolopus canuti, Rhinolopus affinis, dan Rhinolopus pusillus.]

Page 8 of 17 | Total Record : 161