cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 161 Documents
Konsep Hospitalitas Amos Yong dan Dialog Inter-Religius di Maluku Eklepinus Jefry Sopacuaperu
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-08

Abstract

This article aims to explore hospitality as the basic character needed in the development of inter-religious dialogues. The character is reflected in a way of understanding that every religion has its own hospitable characteristic that can be used to start off an effective dialogue. It is also the aim this article to discern the philosophy of “hidup orang basudara” as the characteristic of hospitality among the Moluccans used in developing inter-religious dialogue in Moluccas.[Artikel ini menelusuri hospitalitas (keramah-tamahan) sebagai karakter dasar yang dibutuhkan dalam perkembangan dialog inter-religius. Karakter ini tercermin dalam cara pemahaman yang dimiliki setiap agama yakni karakter hospitalitas yang dapat digunakan untuk memulai dialog yang efektif. Inilah yang menjadi tujuan utama dari artikel ini yaitu untuk memahami falsafah “hidup orang basudara” sebagai bentuk hospitalitas pada masyarakat Mulucans dalam mengembangkan dialog inter-religius di Muloccas.]
Muslim Perkotaan di Tengah Pusaran Pilkada 2017 di Kota Yogyakarta Muh Isnanto
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2018)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2018.0201-09

Abstract

In the 2017 elections in the city of Yogyakarta, which used to be the basis for the number 1 candidate’s voice bag carrying Imam Priyono-Ahmad Fadli suffered defeat, this event if connected with the product 3 times the election in the reform era, this may not have much benefit to the lives of the people, the leaders or respected members of the council are still busy thinking about the bearer party rather than thinking about the interests and or needs of the real people, especially the welfare of the people in general. The problem is how high is the level of concern of urban Muslims in the city of Yogyakarta towards the candidate pair (Paslon) in the 2017 elections and why are urban Muslim communities like that, what are the factors? Research results show that, firstly, the level of concern of the urban Muslim community towards the Regional Head candidates in the 2017 elections. The community has started to use the basis of their rationality and religious awareness by always checking/recognizing their candidate pairs (47%), considering quality by never considering religious attributes 47%, always considering intelligence 53%, not considering gender 70% and ethnicity 69%, always considering 61% personality, 41% expertise, 45% participation. More than half (54%) warned that they knew that a candidate pair was using improper means and refused when a candidate in the election tripped over a case. More than half (52%) did not choose a candidate pair who tripped over the case. Report potential regional head pairs if someone cheats or violates the law. more than half (64%) report to the authorities. Secondly, factors that cause high concern because of the institutionalization of democracy, the election as a shortcut; and religious awareness
Hasan bin Sabbah dan Gerakan Pembaharuan (Da’wah Jadidah) Syiah Isma’iliyah Abad XI Masehi Rahmat Hidayat
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2021.0501-01

Abstract

This article discusses the theological renewal initiated with Hasan bin Sabbah in the teachings of Syiah Isma'iliyah after the internal conflict of the Fatimiyah Dynasty. Hasan bin Sabbah with his Assassin Sect revitalises extremely the Isma’iliyah propaganda to streghthen the charisma of Isma’iliyah in Persia. The theological renewal (da’wah jadidah) in Isma’iliyah doctrin was a manifestation of Hasan bin Sabbah’s rejection to the legitimacy of the Abbasid and Seljuq leadership and the Fatimiyah Dynasty. This research is a library research which uses historical analysis methods which include heuristics, verification, interpretation, and historiography. This research found the results (1) The existence of differences in political interests with the old Isma'iliyah tradition encouraged Hasan bin Sabbah to carry out reforms (tajdid) to break political and cultural relations with the Isma'iliyah Fatimiyah association in Egypt. (2) The reformation carried out by Hasan bin Sabbah in Isma'iliyah theology includes the teachings of ta’limiyyah, the Nizar priesthood, ‘ilm zahir dan batin in Islamic teachings, at-ta’wil al-batini, taqiyyah which constructs the extreme character of the Assassin movement, and the continuity of imam mastur.[Artikel ini bertujuan menganalisis pembaharuan ajaran Hasan bin Sabbah dalam doktrin Syiah Isma’iliyah pasca konflik internal Dinasti Fatimiyah. Hasan bin Sabbah dengan Sekte Assassinnya merevitalisasi propaganda Isma’iliyah secara ekstrim untuk memulihkan kekuatan neo-Isma’iliyah di Persia. Pembaharuan teologis (da’wah jadidah) dalam doktrin Isma’iliyah merupakan manisfetasi penolakan Hasan atas keabsahan kepemimpinan Dinasti Abbasiyah dan Saljuk serta Dinasti Fatimiyah Mesir. Penelitian ini merupakan kajian pustaka (library research) yang menggunakan metode analisis historis yang meliputi heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini mendapatkan hasil (1) Adanya perbedaan kepentingan politik dengan tradisi Isma’iliyah lama mendorong Hasan bin Sabbah melakukan pembaharuan (tajdid) untuk memutuskan hubungan politik dan kultural dengan perkumpulan Isma’iliyah Fatimiyah di Mesir. (2) Pembaharuan Hasan bin Sabbah dalam doktrin neo-Isma’iliyah meliputi ajaran ta’limiyyah, keimaman Nizar, ‘ilm zahir dan batin dalam ajaran Islam, at-ta’wil al-batini, taqiyyah yang mengkonstruksi karakter gerakan Assassin yang ekstrim, dan kontinuitas imam mastur.]
Efektifitas Pelatihan Komunikasi Organisasi Terhadap Management Organisasi Karang Taruna Dusun Kembang Putihan dan Kentolan Lor Desa Guwosari Bantul. Bernicha Rivada
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0302-10

Abstract

This research was conducted in Guwosari village, Kembang Putihan and Kentolan Lor hamlets. The purpose of this study is to determine the effectiveness of organizational communication training on the management of the organization of Karang Taruna Kembang Putihan and Kentolan Lor Hamlet, Guwosari Village, Pajangan, Bantul. The subjects of this study were 21 young people in Kembang Putihan and Kentolar Lor Hamlets, Guwosari Village, Bantul. By using the effectiveness test of training from Simamora (2006). The results of this study have not changed behavior in young people who have attended training.[Penelitian ini dilakukan di Desa Guwosari, Kembang Putihan, dan Kentolan Lor di Bantul Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas dari pelatihan komunikasi organisasi dan dampaknya pada pengelolaan organisasi Karang Taruna di Desa Guwosari, Kembang Putihan, dan Dusun Kentolan Lor. Subjek penelitian ini adalah 21 pemuda di tiga desa tersebut. Tingkat efektivitasnya diukur menggunakan uji efektivitas pelatihan dari Simamora (2006). Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan yang signifikan yang terjadi pada kebiasaan komunikasi dari organisasi pemuda dari tiga desa tersebut yang dihasilkan dari pelatihan komunikasi organisasi yang mereka hadiri.]
Pesan Moral Ayat Isjudū li Ādama dalam Q.S al-Baqarah: 34 dan Q.S. al-Kahfi: 50 (Studi Komparasi Tafsir al-Mishbah dan Tafsir al-Azhar) Muhammad Faishal Haq
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2021.0501-05

Abstract

This paper aims to reveal what is the true moral message in the sentence Isjudu> li A>dama. Therefore, the research focuses on the fragments of these verses in Surah al-Baqarah verse 34 and al-Kahfi verse 50. Understanding the moral message in every verse of the Koran is very important to know. It aims to make the message of the Koran relevant today. In this study, the analysis was carried out on two tafsir works, namely Tafsir Al-Mishbah by M. Quraish Shihab and Tafsir Al-Azhar by Hamka. Both are products of Indonesian interpretation, they use the tah{lily method of interpretation, with the pattern of adabi ijtima'i. However, from the results of the author's analysis using qualitative research methods and literature, and supported by comparative studies with several aspects of the object of study, the conclusion is that the interpretation in the Al-Misbah Tafsir; specifically on the two verses above, it is more comprehensive than the explanation of the Tafsir Al-Azhar. And also, in the Tafsir Al-Misbah, a more dominant moral message is found, in addition to mutual respect, respect and respect as fellow beings, Al-Baqarah verse 34 can be the basis for the obligation to respect those who are knowledgeable. [Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap apa sebenarnya pesan moral pada kalimat Isjudu> li A>dama. Maka dari itu, penelitian terfokuskan pada penggalan ayat tersebut yang ada dalam surat al-Baqarah ayat 34 dan al-Kahfi ayat 50. Memahami pesan moral dalam setiap ayat al-Quran sangat penting untuk diketahui. Hal tersebut bertujuan untuk merelevansikan pesan al-Quran di zaman sekarang. Dalam penelitian ini, analisis dilakukan pada dua karya tafsir, yakni Tafsir Al-Mishbah karya dari M. Quraish Shihab dan Tafsir Al-Azhar karya dari Hamka. Keduanya merupakan produk tafsir nusantara, sama sama menggunakan metode tafsir tah{lily, bercorak adabi ijtima‘i. Namun dari hasil analisis penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan kepustakaan, serta ditunjang dengan studi komparasi/muqaran dengan beberapa aspek obyek kajian dihasilkan kesimpulan bahwa tafsiran dalam Tafsir Al-Misbah; khusus pada dua ayat di atas, lebih komprehensif dibandingkan penjelasan Tafsir Al-Azhar. Dan juga, dalam Tafsir Al-Misbah ditemukan pesan moral yang lebih dominan, selain harus saling memuliakan, menghormati dan menghargai sebagai sesama makhluk, Al-Baqarah ayat 34 dapat menjadi dasar tentang kewajiban menghormati orang-orang yang berpengetahuan.]
Rasionalitas dalam Manajemen Organisasi Masjid: Kasus pada Masjid Jogokaryan Yogyakarta Amrides Amrides
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-07

Abstract

The role of Mosques for Muslim communities has transformed, not only do they serve as a place for worship but also as a center for such social activities as education/learning, da’wah, meetings, and some other community activities. Such roles of the mosque can be seen at Jogokaryan Mosque in Yogyakarta. Since its first development in 1966-1967, the Jogokaryan Mosque has been known as among the prominnet mosques for its religious and social activities. Moreover, Jogokaryan Mosque is better known now as the pioneer for the transformation of Mosques’ role as the center for productive economic activities. The breakthrough efforts initiated by the management of Jogokaryan Mosque play a significant role in the impressive development in the society. This study employs takes the form of qualitative method, using a case study approach. It aims to examine the breakthrough efforts initiated by the management of Jogokaryan Mosque in regard to its administration and other related policies which support the development of the mosque. It is found that that there are two forms of initiatives done by the managemnet of Jogokaryan Mosque, known as formal and substantive rationality. The concept of “irrationality of the rational”, a logical consequence of formal rationality, also emerged as an effort done by the management of  Jogokaryan mosque to make those who are considered irrational as rational.[Peran masjid bagi umat muslim telah bertransformasi, tidak hanya sebagai tempat beribadah semata, namun juga sebagai pusat bagi beberapa aktifitas sosial seperti pembelajaran/pendidikan, dakwah, pertemuan, dan aktifitas komunitas lainnya. Peran masjid seperti itu dapat ditemukan di Masjid Jogokaryan Yogyakarta. Sejak awal perkembangannya pada 1966-1967, Masjid Jogokaryan telah dikenal sebagai masjid yang terkemuka karena tidak hanya aktifitas keagamaan namun juga aktifitas sosialnya. Bahkan, Masjid Jogokaryan lebih terkenal sebagai pionir transformasi peran masjid-masjid sebagai pusat aktifitas ekonomi produktif. Upaya terobosan yang diprakarsai oleh manajemen pengelolaan Masjid Jogokayan berperan penting dan mengesankan dalam perkembangan masyarakat sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri upaya terobosan yang diprakarsai oleh manajemen tamir Masjid Jogokaryan dalam hal administrasi dan aturan terkait lainnya yang mendorong adanya pengembangan masjid. Dalam penelitian ditemukan bahwa ada bentuk inisiasi yang dilakukan oleh takmir Masjid Jogokaryan yaitu, apa yang disebut dengan rasionalitas formal dan rasionalitas substantif. Konsep “irasionalitas dari yang rasional”, adalah bentuk konsekuensi logis dari rasionalitas formal yang merupakan bentuk upaya yang dilakukan oleh manajemen takmir Masjid Jogokaryan untuk menyebut sesuatu yang tidak rasional sebagai termasuk yang rasional juga.]
Teori Ring Structure Raimond Farrin dan Aplikasinya pada Q.S. Al-Baqarah Ahmad Solahuddin
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0401-01

Abstract

Many scholars are confused with the structure of the Koran. In fact, Bell states that the Qur'an needs to re-arrangement because its structure is unstructured. However, that is what later became an attraction for Islamic studies scholar, which denied the Bell thesis and found the structure of the Koran. Next, the study of the structure of the Qur'an is growing rapidly. The final theory of this study is the ring structure theory developed by Raimond Farrin. This paper will focus on discussing Farrin's ring structure theory applied in Sura al-Baqarah. In the end, the authors conclude: Farrin is a scholar in the field of Arab studies who focus on studying classical, middle Arabic literature and the Koran by using ring structure theory. The ring structure theory follows the structuralism paradigm developed by F. De Saussure. The basic assumption of this theory is that humans have an instinct for strucuture, as well as in literature or the like. For literary works, even scripture, structure is important to understand, because meaning is based on this structure. Next, Structure text refers to three models: parallesime (ABAB), Chiasm (ABBA) and concentrisme (ABCBA). In the end, Farrin managed to find the ring in Q.S. al-Fātiḥah, al-Baqarah, al-Anfal, al-Taubah, al-Rahman and al-Nas.[Banyak sarjana yang bingung dengan struktur al-Qur’ān. Bahkan, Bell pada akhirnya menyatakan bahwa al-Qur’ān butuh ditata ulang karena strukturnya tidak terstruktur. Namun, hal itulah yang kemudian menjadi daya tarik bagi sarjana studi Islam, yaitu membantah thesis Bell dan menemukan struktur al-Qur’ān. Berikutnya, studi mengenai struktur al-Qur’ān pun berkembang pesat. Adapun teori terakhir dari studi ini adalah teori ring structure yang dikembangkan oleh Raymond Farrin. Tulisan ini akan fokus untuk mengulas teori ring structure Farrin yang diaplikasikan dalam surat al-Baqarah. Pada akhirnya, penulis menyimpulkan: Farrin adalah sarjana dalam bidang Arab studies yang fokus mengkaji susastra Arab Klasik, pertengahan dan al-Qur’ān dengan menggunakan teori ring structure. Teori ring structure sesungguhnya mengikuti madzhab structuralisme yang dikembangkan oleh F. De Saussure. Asumsi dasar dari teori ini adalah: bahwa manusia memiliki naluri terhadap strucuture, begitu juga dalam bersastra atau sejenisnya. Untuk karya sastra, bahkan kitab suci, structure adalah hal penting untuk difahami, karena makna didasarkan pada structure ini. Berikutnya, Structure teks mengacu pada tiga model: parallesime (ABAB), Chiasm (ABBA) dan concentrisme (ABCBA). Pada akhirnya, dalam studinya Farrin berhasil untuk menemukan ring dalam Q.S. al-Fātiḥah, al-Baqarah, al-Anfal, al-Taubah, al-Rahman dan al-Nas.]
Pemikiran Nurcholis Majid dan Pengembangan Pendidikan Islam: Analisis Spirit Keislaman dan Keindonesiaan Siti Mukaromah
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2019)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2019.0301-09

Abstract

The rise of truth claims, radicalism, religious fundamentalism, and the demand of formalization of the khilāfah al Islāmiyah in Indonesia appears to have triggered disharmony in the society and posed threat to the stability of the state. Among the underlying factors contributing to the issue is the approach and method applied in the teaching system of Islamic Education (PAI) which tend to be doctrinal, normative, and exclusive. This has raised awareness of the need to introduce alternative approach in Islamic Education, to accommodate such discourse as multiculturalism, inclusive education based on the spirit of Islam rahmatan lil ‘ālamīn, and respecting the cultural diversity of Indonesian society. Nurcholish Madjid is one of the most prominent Indonesian scholars who actively promote new discourse in Islamic education as he introduces alternative approach and methods based on the spirit of Islam. This research focuses on Nurcholish Madjid’s thoughts on Islamic spirit and indigenous Indonesian identity, especially the extent to which his thoughts have significance in the contemporary development of Islamic Education in Indonesia. This research employs a qualitative-descriptive approach. The data is collected through documentation and reviews of relevant sources. The data analysis shows that Nurcholish Madjid has important thoughts on Islamic education which can be adopted as new approach in the system of Islamic education in Indonesia. Among his thoughts on Islamic education, based on his grand discourse of Islamic spirit and indigenous Indonesian identity, is the need to introduce new discourses of humanism, egalitarian, democratic and inclusive-pluralist within the system of Islamic education in Indonesia.[Maraknya truth claim, radikalisme, politisasi, dan fundamentalisme agama, serta wacana formalisasi syari’at negara khilāfah al Islāmiyah menyebabkan perpecahan dan mengancam stabilitas negara Indonesia. Persoalan tersebut salah satunya dilatarbelakangi oleh pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang bersifat doktriner, eksklusif dan normatif. Oleh sebab itu, perlu alternatif solusi melalui Pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang multikultural, inklusif dan pluralis dengan berbasis pada spirit keislaman dengan membumikan Islam rahmatan lil ‘ālamīn dan spirit keindonesiaan yang menghargai keragaman (pluralitas). Salah satu pemikir dan cendekiawan muslim Indonesia yang aktif menyuarakan spirit keislaman dan keindonesiaan adalah Nurcholish Madjid. Dengan demikian, subjek dalam penelitian ini ialah Nurcholish Madjid mengenai konsep spirit keislaman dan keindonesiaan dan kontribusinya terhadap pengembangan Pendidikan Agama Islam. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi dengan menganalisis data berupa sumber-sumber dari berbagai literatur yang memiliki persamaan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi pemikiran Nurcholish Madjid mengenai spirit keislaman dan keindonesiaan terhadap Pengembangan Pendididkan Agama Islam ialah terwujudnya pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang humanis, egaliter, demokratis, dan inklusif-pluralis.]
Situs Makam Gunungpring (Studi Tentang Peran Kyai Raden Santri Terhadap Islamisasi di Magelang, Jawa Tengah (1660-1810 M). Adib Abbiya Qowiyyudin
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2020)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2020.0401-04

Abstract

Gunungpring is an area located in Muntilan Magelang, Magelang Regency. there are several tombs of religious leaders of the Mataram Sultanate, one of the figures is Kyai Raden Santri. Kyai Raden Santri is a descendant of Brabu Brawijaya V and brother of one of the first Mataram Sultanate Panembahan Senopati. Kyai Raden Santri is one of the religious, social and cultural figures of the people of Muntilan and surrounding areas who is able to make a significant contribution in the region. Have a religious ability that is high enough so that it can attract the attention of the public to get to know the religion of Islam in various ways ranging from simple to developing the existing potential. Kyai Raden Santri's grave and complex areas were developed in stages through various ways, one of which was the donation of funds from the community and direct assistance from the Yogyakarta Palace to become a religious tourism destination for both local and national communities and develop the potential to provide good facilities to visitors who would visit the tomb Kyai Raden Santri and other tombs in the complex. The approach used in this research is the architecture and sociology approach. The architecture approach is used by researchers to explain the art of building the tomb of Kyai Raden Santri. While the sociological approach is used by researchers to determine role of the Kyai  Raden Santri clerics in the spread of Islam in the Muntilan Magelang region.[Gunungpring merupakan sebuah kawasan yang terletak di Muntilan Magelang, Kabupaten Magelang. Ada beberapa makam tokoh agama Kesultanan Mataram, salah satunya adalah Kyai Raden Santri. Kyai Raden Santri adalah keturunan Brabu Brawijaya V dan saudara dari salah satu Kesultanan Mataram pertama Panembahan Senopati. Kyai Raden Santri merupakan salah satu tokoh agama, sosial dan budaya masyarakat Muntilan dan sekitarnya yang mampu memberikan kontribusi yang cukup berarti di daerah. Memiliki kemampuan beragama yang cukup tinggi sehingga dapat menarik perhatian masyarakat untuk lebih mengenal agama islam dengan berbagai cara mulai dari yang sederhana hingga mengembangkan potensi yang ada. Kawasan Makam dan Kompleks Makam Kyai Raden Santri dikembangkan secara bertahap melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan sumbangan dana dari masyarakat dan bantuan langsung dari Keraton Yogyakarta untuk menjadi destinasi wisata religi baik bagi masyarakat lokal maupun nasional serta mengembangkan potensi yang dimiliki. memberikan fasilitas yang baik kepada pengunjung yang akan mengunjungi Makam Kyai Raden Santri dan Makam lainnya yang ada di dalam kompleks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan arsitektur dan sosiologi. Pendekatan arsitektur yang digunakan peneliti untuk menjelaskan seni membangun makam Kyai Raden Santri. Sedangkan pendekatan sosiologis digunakan peneliti untuk mengetahui peran ulama Kyai Raden Santri dalam penyebaran agama Islam di wilayah Muntilan Magelang.]
Agama, Modernisme, dan Kepengaturan: Agama Lokal Pasca-1965 Karunia Haganta; Firas Arrasy
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2021)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.2021.0501-02

Abstract

This article aims to examine the relationship between the state and local religions which underwent major changes after the September 30, 1965 Movement. Local religions experienced marginalization after the 1965 tragedy, ranging from the stigma of atheism to not being recognized as a religion, but a culture that needs to be fostered and even prevented become a new religion. We analyze local state-religion relations from the perspective of James C. Scott's high-modernism and Michel Foucault's governmentality. In our analysis, the state plays a role in this process of marginalization by reproducing a modernity vision that is full of simplification of the complexity of local religions. Through various policies, the state carries out regulations that aim to change adherents of local religions to being good citizens according to the standards set by the state. The recognition given to local religions is very limited and even shows other discriminatory characteristics of the state such as determining monotheism as the standard of a religion, a criterion that is highly biased in the paradigm of world religions. We conclude that the state is not a solution because of the nature of modernity and the simplification it always contains.[Artikel ini bertujuan untuk mengamati relasi antara negara dengan agama lokal yang mengalami perubahan besar setelah terjadinya Gerakan 30 September 1965. Agama lokal mengalami marginalisasi setelah tragedi 1965, mulai dari stigma ateisme sampai tidak diakui sebagai agama, melainkan suatu kebudayaan yang perlu dibina dan bahkan dicegah untuk menjadi agama baru. Kami menganalisis relasi negara-agama lokal melalui perspektif high-modernism James C. Scott dan kepengaturan (governmentality) Michel Foucault. Dalam analisis kami, negara berperan dalam proses marginalisasi tersebut dengan mereproduksikan visi modernitas yang penuh simplifikasi terhadap kompleksitas agama lokal. Melalui berbagai kebijakan, negara melakukan kepengaturan yang bertujuan untuk mengubah penganut agama lokal menjadi subjek warga negara yang baik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan negara. Pengakuan yang diberikan terhadap agama lokal amat terbatas dan bahkan menunjukkan sifat diskriminatif lain dari negara seperti menentukan monoteisme sebagai standar suatu agama, kriteria yang amat bias paradigma agama dunia. Kami menyimpulkan negara bukan solusi karena watak modernitas dan kepengaturan yang selalu dikandungnya.]

Page 7 of 17 | Total Record : 161