cover
Contact Name
Rio Febriannur Rachman
Contact Email
dakwatunaiais@gmail.com
Phone
+6287855996086
Journal Mail Official
dakwatuna.iais@gmail.com
Editorial Address
Jl. Pondok Pesantren Kyai Syarifuddin Wonorejo Lumajang Jawa Timur 67358
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
Dakwatuna: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam
ISSN : 24430617     EISSN : 26861100     DOI : -
Dakwatuna is Dawah and Islamic communication Journal. It has been published since 2015 provides a forum for scientific communication of thought and research of Islamic Counseling Guidance, Islamic Broadcasting Communication, Dawah Management. Published twice a year, February and August. The editors welcome articles and research reports in the study of Islamic Counseling Guidance, Islamic Broadcasting Communication, Dawah Management.
Articles 4 Documents
Search results for , issue "vol 12 no 2 (2026): agustus" : 4 Documents clear
Dakwah Kerukunan melalui Rekonstruksi Pemahaman Hukum Ucapan Selamat pada Hari Besar Agama Non-Muslim: Pendekatan Teologis, Fikih, dan Maqāṣid al-Syarī‘ah Sofia Fahrany; Muhibuddin Muhibuddin; Zamakhsyari Abdul Majid; Suaebah Suaebah
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4005

Abstract

Research on the understanding of congratulating non-Muslim religious holidays is one of the contemporary fiqh issues that continues to be debated among scholars. Differences of views arise because of differences in understanding the concept of tolerance (tasāmuḥ), religious loyalty (al-walā' wa al-barā'), and social relations between religious people (mu'āmalah). Some scholars prohibit the giving of congratulations because they are considered to have the potential to contain recognition of the teachings and beliefs of other religions, while other scholars allow as long as they do not contain justifications for non-Muslim beliefs and are only intended as a form of social respect and an effort to maintain harmony in community life. This study aims to analyze the law of congratulating on non-Muslim religious holidays based on the postulates of the Qur'an, the hadith of the Prophet, as well as the views of classical and contemporary scholars. The research uses a qualitative approach with the type of library research and normative analysis methods. Data was obtained from primary sources in the form of the Qur'an, hadith, fiqh books, and works of contemporary scholars who discuss the relationship between religious communities. The results of the study show that the difference in law is rooted in the difference in interpretation of the nash and the rules of fiqh used. The view that prohibits is based on the principle of maintaining the purity of the faith and the prohibition resembles non-Muslim religious practices, while the view that allows emphasizes aspects of social welfare, the principle of justice, and the importance of building harmonious relations without sacrificing the Islamic faith. Thus, congratulations can be understood as a form of social interaction that is permissible as long as it is not accompanied by recognition of the theological truths of other religions or participation in their religious rituals. From a da'wah perspective, the findings position respectful interreligious communication as contextual da'wah that preserves Islamic creed while promoting social harmony. The study therefore recommends a wisdom-based da'wah approach that communicates juristic differences proportionally and prevents religious messages from intensifying social polarization.
Digitalisasi Pendidikan Islam dan Dakwah: Model Transformasi Literasi Keagamaan Generasi Z dalam Mendukung Tata Kelola Keagamaan Berdampak Mokhammad Khosim; Achmad Farid; Bambang Subahri
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4040

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola memperoleh, memahami, memproduksi, dan menyebarkan pengetahuan keagamaan, terutama di kalangan Generasi Z. Media sosial dan berbagai platform digital tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga berkembang menjadi ruang pembelajaran Islam dan dakwah yang membentuk pola keberagamaan generasi muda. Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan berupa meluasnya akses terhadap pengetahuan keagamaan, tetapi juga meningkatnya risiko hoaks keagamaan, informasi yang tidak terverifikasi, fragmentasi pesan, pergeseran otoritas keagamaan, serta berkembangnya intoleransi di ruang digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi literasi keagamaan Generasi Z dalam ekosistem digital serta merumuskan model integrasi digitalisasi pendidikan Islam dan dakwah dalam mendukung tata kelola keagamaan yang berdampak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Muqomah Kencong Jember. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, penyajian data, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi literasi keagamaan Generasi Z berlangsung melalui perubahan pola akses pengetahuan dari sumber konvensional menuju media digital, yang menuntut kemampuan tidak hanya dalam memahami informasi, tetapi juga memverifikasi, mengevaluasi, membandingkan, memproduksi, dan menyebarkan informasi keagamaan secara bertanggung jawab. Penelitian merumuskan model transformasi literasi keagamaan melalui lima tahapan, yaitu akses, verifikasi, pemahaman, produksi, dan partisipasi. Integrasi pendidikan Islam dan dakwah digital melalui model tersebut dapat menempatkan Generasi Z sebagai subjek pembelajaran sekaligus aktor dalam ekosistem keagamaan digital. Model ini memiliki relevansi dengan agenda digitalisasi tata kelola dalam Asta Protas Kementerian Agama karena dapat mendukung pengembangan layanan keagamaan yang adaptif, partisipatif, kredibel, dan berorientasi pada dampak sosial. Kata kunci: digitalisasi pendidikan Islam; dakwah digital; literasi keagamaan; Generasi Z; tata kelola keagamaan.
Dakwah di Era Algoritmik: Peluang, Risiko, dan Model Tata Kelola Artificial Intelligence Berbasis Otoritas Keilmuan Islam Achmad Arifulin Nuha; Harry Purwanto
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4048

Abstract

Abstract Artificial intelligence (AI) has shifted digital da'wah from technology-mediated religious communication toward an ecosystem in which content production, curation, personalization, distribution, and interaction are increasingly shaped by algorithms. This study systematically reviews a researcher-provided corpus of 100 publication records on da'wah and AI published between 2019 and 2026. Metadata auditing and title normalization identified five duplicate records, leaving 95 unique publications for substantive synthesis. The review applied descriptive mapping and thematic coding across research focus, methodological approach, AI application, claimed benefits, ethical risks, and governance recommendations. Six thematic clusters emerged: strategy and management; content production and interaction; education and AI literacy; religious authority and fatwa; ethics and information integrity; and regulation and multi-stakeholder governance. The literature indicates that AI can expand reach, accelerate content production, support audience analysis, personalization, accessibility, and knowledge retrieval. However, the same affordances generate risks of hallucinated religious information, fabricated hadith, algorithmic bias, privacy violations, echo chambers, deepfakes, dehumanization, and displacement of scholarly authority. The evidence base remains dominated by conceptual, normative, and qualitative studies, with limited empirical measurement of effects on religious understanding, trust, attitudes, and practice. Based on the synthesis, this study proposes the TAHQIQ-AI governance model, which places AI as a support system rather than an autonomous religious authority and requires source verification, competent human oversight, bias and quality auditing, data integrity, responsible interaction, and institutional accountability. Keywords: artificial intelligence; algorithmic da'wah; religious authority; responsible AI; systematic literature review
Dakwah sebagai Kritik Kekuasaan: Perspektif Al-Qur’an tentang Amar Ma‘ruf Nahi Munkar dalam QS. Āli ‘Imrān [3]: 104 Sunardi Bashri Iman; Mastori; Zenal Arifin
Dakwah Vol 12 No 2 (2026): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54471/dakwatuna.v12i2.4066

Abstract

Penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, dan lemahnya kontrol moral dalam kehidupan publik menunjukkan pentingnya mengembangkan perspektif keagamaan yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan kesalehan individual, tetapi juga memiliki fungsi korektif terhadap kekuasaan. Dalam konteks tersebut, QS. Āli ‘Imrān [3]: 104 tentang amar ma‘ruf nahi munkar penting dikaji karena ayat ini menempatkan aktivitas dakwah dalam kerangka tanggung jawab kolektif untuk mendorong kebaikan dan mencegah kemunkaran. Penelitian ini berangkat dari hipotesis bahwa amar ma‘ruf nahi munkar memiliki dimensi politik-dakwah yang memungkinkan dakwah berfungsi sebagai mekanisme kritik moral dan kontrol sosial terhadap kekuasaan, sekaligus mengarahkan kekuasaan pada prinsip keadilan dan kemaslahatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode library research dan pendekatan tafsīr mawḍū‘ī. Sumber primer berupa QS. Āli ‘Imrān [3]: 104 beserta tafsir klasik dan kontemporer, sedangkan sumber sekunder mencakup literatur tentang dakwah, amar ma‘ruf nahi munkar, politik Islam, etika kekuasaan, dan kontrol sosial. Data dianalisis melalui kajian kebahasaan, komparasi penafsiran, dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa amar ma‘ruf mengandung orientasi afirmatif untuk membangun keadilan, kebaikan, dan kemaslahatan publik, sedangkan nahi munkar memiliki fungsi korektif terhadap penyimpangan moral dan penyalahgunaan kekuasaan. Dakwah dengan demikian dapat dipahami sebagai kekuatan etis yang mengawasi sekaligus mengarahkan kekuasaan agar tetap bertanggung jawab kepada nilai-nilai ilahiah dan kepentingan masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa politik dakwah Al-Qur’an tidak identik dengan perebutan kekuasaan, tetapi mencakup fungsi kritik moral dalam menjaga keadilan, akuntabilitas, dan kemaslahatan kehidupan publik.

Page 1 of 1 | Total Record : 4