cover
Contact Name
Eri Hendra Jubhari
Contact Email
webpdgi@gmail.com
Phone
+628124235346
Journal Mail Official
webpdgi@gmail.com
Editorial Address
Ruko Malino A4. Baruga, Antang, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MDJ (Makassar Dental Journal)
ISSN : 20898134     EISSN : 25485830     DOI : 10.35856/mdj
Core Subject : Health,
The journal receives a manuscript from the following area below Dentistry science and development with interdisciplinary and multidisciplinary approach: Dental Public Health and Epidemiology Oral and Maxillofacial Surgery Dental Conservation and Endodontics Preventive Dentistry Biomedical Dentistry Dental Radiology Pediatric Dentistry Oral Pathology Prosthodontics Traumatology Oral Biology Biomaterials Orthodontics Periodontics
Articles 812 Documents
Tingkat kebutuhan fissure sealant gigi molar pertama permanen pada murid sekolah dasar usia 6-7 tahun Kecamatan Mariso, Kota Makassar: Level of fissure sealant needs for first molar permanent teeth in primary school students ages 6-7 in district mariso, makassar Ayub Irmadani Anwar
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.315 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i2.98

Abstract

Pendahuluan: Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pembinaan kesehatan gigi terutama pada anak usia sekolah perlu mendapat perhatian khusus karena pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang. Pada masa usia sekolah ini anak masih sangat bergantung, termasuk keadaan gigi sebelumnya akan berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut selanjutnya. Murid sekolah dasar merupakan suatu kelompok yang sangat strategis untuk penanggulangan kesehatan gigi dan mulut. Usia sekolah dasar merupakan saat yang ideal untuk melatih kemampuan motorik seorang anak, termasuk diantaranya menyikat gigi. Proses pendidikan kesehatan gigi dan mulut merupakan suatu proses pendidikan yang timbul atas dasar kebutuhan akan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan: penelitian untuk mengetahui tingkat kebutuhan fissure sealant gigi molar pertama permanen pada murid sekolah dasar usia 6-7 tahun sekecamatan Mariso, kota Makassar. Hasil: Menunjukkan kebutuhan perawatan fissure sealant gigi molar pertama permanen berdasarkan usia 6-7 tahun. Pada penelitian ini usia 6 tahun memiliki kebutuhan perawatan fissure sealant lebih banyak yaitu 45 (14,8%) murid dan pada usia 7 tahun 31 (10,2%) murid dan jumlah yang membutuhkan perawatan fissure sealant yaitu 76 (24,9%) murid. Simpulan: Disimpulkan bahwa kebutuhan fissure sealant pada keempat gigi molar pertama permanen yaitu 107 gigi atau 8,77%, paling tinggi pada gigi molar satu kiri bawah yaitu 46 gigi (15,1%), tertinggi kedua yaitu gigi molar satu kanan bawah 40 gigi (13,1%), diikuti dengan gigi molar satu kanan atas 12 gigi (3,9%) dan gigi molar satu kiri atas 9 gigi (3%).
Kuretase gingiva sebagai perawatan poket periodontal Maisaroh Dinyati; Andi Mardiana Adam
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.265 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i2.99

Abstract

Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang memiliki prevalensi cukup tinggi di masyarakat. Penyakit periodontal sering diikuti dengan adanya poket. Poket periodontal bukan merupakan diagnosis suatu penyakit tetapi suatu proses bertambah dalamnya sulkus gingiva secara patologis, merupakan salah satu gambaran klinis penyakit periodontal. Poket dapat melibatkan satu, dua, atau lebih permukaan gigi, dan poket dapat mempunyai kedalaman yang berbeda dan jenis yang berbeda pada permukaan yang berbeda dari gigi yang sama dan pada permukaan aproksimal dari interdental yang sama. Poket dapat juga berbentuk spiral dan lokasinya paling umum di daerah furkasi. Prosedur untuk menghilangkan faktor-faktor etiogenik pada poket periodontal dapat dilakukan dengan kuretase. Manfaat atau tujuan dari kuretase secara umum membuat perlekatan baru terutama pada poket infraboni, mengeliminasi poket gingiva, memperbaiki gingiva menjadi sehat baik warna, kontur, konsistensi dan tekstur permukaannya. Kuretase terdiri dari kuretase subgingiva dan kuretase gingiva, Enap, Menap, chemical curettage, ultrasonic curettage, dan laser curettage. Pemilihan tindakan kuretase tersebut berdasarkan indikasi dan kontraindikasi dari penderita. Penyembuhan setelah dilakukannya prosedur kuretase dan pemilihan obat sistemik dapat diberikan kepada penderita setelah kuretase, serta tindakan yang perlu dilakukan oleh penderita setelah dilakukan kuretase. Kuretase dilakukan berdasarkan indikasi pada pasien misalnya pasien yang memiliki penyakit sistemik sehingga tidak dapat dilakukan perawatan atau tindakan pembedahan.
Prevalensi terjadinya xerostomia setelah dilakukan terapi radiasi pada penderita kanker kepala dan leher Barunawaty Yunus; Wiwik Widya Praja
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.333 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i2.100

Abstract

Latar belakang: Xerostomia adalah salah satu efek samping dari terapi radiasi terhadap kepala dan leher yang paling umum. Keadaan ini merupakan suatu gejala dan bukan penyakit, yang umumnya berhubungan dengan berkurangnya saliva. Bagi pasien keadaan ini sangat tidak menyenangkan begitu pula bagi dokter gigi merupakan masalah yang menyulitkan. Tujuan: mengetahui prevalensi terjadinya xerostomia setelah dilakukan terapi radiasi pada penderita kanker area kepala dan leher. Metode: subyek penelitian ini adalah pasien penderita kanker area kepala dan leher yang menjalani perawatan radioterapi di RSUP Universitas Hasanuddin, subyek kemudian diambil salivanya sebelum dan setelah diberikan dosis total 20 Gy dan dosis total 40 Gy. Analisis data diolah program komputer dengan uji wilcoxon dan taraf signifikansi diterima bila p<0,05. Hasil: rerata curah saliva sebelum radioterapi lebih tinggi daripada rerata curah saliva setelah radioterapi dosis total 20 Gy dan 40 Gy. Simpulan: Radioterapi area kepala dan leher dosis total 20 Gy dan 40 Gy dapat mempengaruhi curah saliva sehingga pasien merasakan gejala xerostomia.
Efektivitas antibakteri ekstrak buah patikala (Etlingeraelatior (Jack) R.M. S.m) terhadap bakteri Enterococcus faecalis Andi Muhammad Fahruddin; Fransiske Tatengkeng; Risnanda Thamrin; Irene Edith Riewpassa
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.204 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i3.101

Abstract

Pendahuluan: Enterococcus faecalis merupakan bakteri penyebab infeksi sekunder terbesar pada perawatan saluran akar. Selain itu, terdapat 57% bakteri Enterococcus faecalis pada subgingiva penderita periodontitis. Saat ini, bahan irigasi untuk membunuh Enterococcus faecalis masih sangat terbatas. Sehingga diperlukan bahan irigasi alternatif yang mudah didapatkan, ekonomis, biokompatibel, dan mampu mengurangi mikrobiota patogen.Tumbuhan patikala (Etlingeraelatior (Jack) R.M. S.m) merupakan rempah lokal kota Palopo, Sulawesi Selatan. Tumbuhan ini mengandung polifenol, flavonoid, dan saponin yang memiliki potensi sebagai antibakteri. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak buah patikala terhadap bakteri Enterococcus faecalis. Metodologi: Penelitian ini menggunakan eksperimental laboratorium dengan post-test only group design. Setelah pembuatan ekstrak buah patikala, dilakukan pengujian konsentrasi hambat minimal dengan konsentrasi 10%, 15%, 20%, 25%, 30% dan 35%. Uji efek antibakteri menggunakan metode difusi untuk membandingkan zona inhibisi ekstrak buah patikala pada berbagai konsentrasi dengan kontrol. Setiap kelompok dilakukan replikasi sebanyak 3 kali. Data dianalisis menggunakan uii one way Anova dan uji LSD. Hasil: Terdapat daya antibakteri ekstrak buah patikala pada berbagai konsentrasi terhadap Enterococcus faecalis. Uji one way Anova didapatkan nilai yang signifikan (P<0,05). Simpulan: Berbagai konsentrasi ekstrak buah patikala memiliki daya antibakteri terhadap Enterococcus faecalis dan berpotensi sebagai bahan irigasi alternatif.
Prevalensi gingivitis terhadap kebiasaan mengunyah satu sisi pada anak usia 6-12 tahun Adam Malik Hamudeng; Ikhlas Bakri
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.199 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i3.102

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi gingivitis terhadap kebiasaan mengunyah satu sisi pada anak usia 6-12 tahun. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional study. Jumlah sampel sebanyak 77 anak usia 6-12 tahun. Teknik pengumpulan data melalui pemeriksaan klinis dengan menggunakan indeks gingiva dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan statistik univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang mengalami gingivitis sebanyak 29 anak (30,2%) dan 25 anak mempunyai kebiasaan mengunyah satu sisi (26,0%). Sebanyak 86,2% penyebab gingivitis karena kebiasaan mengunyah satu sisi. Rata-rata mengalami gingivitis ringan, yakni 93,1%. Disimpulkan bahwa kebiasaan mengunyah satu sisi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan gingivitis. Kebiasaan mengunyah satu sisi rata-rata disebabkan karena adanya gigi yang sakit pada daerah yang tidak digunakan mengunyah.
Ekstrak tongkol jagung (Zea mays L) sebagai bahan desinfektan gigi tiruan terhadap Candida albicans Taufik Abdullah M.; Eri H. Jubhari
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.581 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i3.103

Abstract

Latar belakang: Pemakaian gigi tiruan merupakan perawatan rehabilitasi dalam mengembalikan fungsi pengunyahan dan estetik. Lebih dari 95% plat gigi tiruan dibuat dari bahan resin akrilik yang selalu berkontak dengan saliva, minuman dan makanan sehingga menjadi tempat terkumpulnya stain, karang gigi dan plak. Plak pada gigi tiruan dapat menimbulkan inflamasi pada mukosa dan terjadinya denture stomatitis yang salah satu penyebabnya adalah Candida albicans. Spesies ini berkolonisasi di dalam rongga mulut sebesar 30-60% dan permukaan gigi tiruan yang tidak pas sebesar 60-100%. Jagung (Zea mays L) sebagai tanaman pokok masyarakat Indonesia memiliki tongkol yang merupakan limbah. Kandungan dari tongkol jagung terdiri dari flavonoid dan tannin. Flavonoid merupakan senyawa fenol yang bersifat fungistatik, fungisida, dan bakteriostatik. Kandungan senyawa aktif fenolik dari tongkol jagung dapat diolah menjadi bahan desinfektan yang lebih ekonomis dan efisien. Tujuan: untuk mengetahui potensi ekstrak tongkol jagung sebagai bahan desinfektan terhadap Candida albicans. Tinjauan Pustaka: Candida albicans umumnya terdapat pada permukaan mukosa, penyakit secara tidak langsung merubah organisma, host atau keduanya. Perubahan dari ragi ke bentuk hifa sangat terkait dengan potensi patogen dari Candida albicans. Secara histologi, hifa terlihat hanya ketika Candida memulai invasi, baik superfisial atau di dalam jaringan. Akan tetapi, hifa memiliki kapasitas untuk membentuk perlekatan yang kuat dengan sel-sel manusia membentuk germ tube. Mediator ini mengikat permukaan protein dinding hifa yang dapat menginduksi sendiri fagositosis oleh sel endotel. Komponen fenolik dari tongkol jagung berupa flvonoid dan tanin bertanggung jawab pada aktivitas antijamur melawan Candida albicans. Senyawa fenol berinteraksi dengan dinding sel fungi pada kadar rendah akan mendenaturasi protein dan pada kadar tinggi akan menyebabkan koagulasi protein sehingga sel akan mati. Tanin dapat menghambat pertumbuhan Candida albicans dengan mempengaruhi integritas dinding sel jamur sehingga menurunkan kemampuan perlekatan sel eukariot, menghambat pembentukan germ tube, dan menstimulasi fagositosis. Simpulan: Kandungan fenol dalam ekstrak tongkol jagung (Zea mays L) dapat menjadi bahan desinfektan gigi tiruan terhadap Candida albicans.
Twin Block Ardiansyah S. Pawinru
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.914 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i3.104

Abstract

Pasien pada usia pertumbuhan dengan maloklusi kelas II dentoskeletal sering ditemukan di klinik. Untuk menghindari keparahan lebih lanjut maka disarankan untuk menggunakan alat fungsional pada kasus yang melibatkan skeletal. Alat fungsional telah banyak digunakan sejak aktivator diperkenalkan oleh Andersen, namun penggunaan aktivator memiliki banyak kekurangan seperti bentuk yang menyatu antara maksila dan mandibula sehingga mempersulit pasien untuk membuka mulut, berbicara dan makan, kemudian bentuknya yang besar menyebabkan pasien juga tidak nyaman dan menyebabkan perubahan wajah. Tahun 1977 Clark mengembangkan twin block untuk menjawab kekurangan sebelumnya, yaitu desain yang simple dan terpisah antara mandibula dan maksila menyebabkan pasien lebih nyaman dalam berbicara dan makan sehingga nyaman digunakan dalam waktu yang lama. Twin block adalah alat fungsional yang digunakan untuk mereposisi mandibula menjadi lebih maju pada kasus maloklusi kelas dua dengan mandibula retrusi. Tulisan ini menggambarkan tentang desain dan penggunaan twin block serta efektifitas penggunaannya terhadap koreksi skeletal. Dalam penggunaannya ditemukan akan memperbaiki bentuk wajah, mengurangi overjet dan overbite, relasi molar terkoreksi dan keluhan pasien dapat diatasi.
Tingkat kepedulian anak terhadap kesehatan gigi dan mulut yang berkunjung ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Hasanuddin: The level of children awareness against the oral health to visit the Dental Hospital of Hasanuddin University) Sherly Horax; Aldy Anzhari Ayub
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.595 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i3.105

Abstract

Latar Belakang: Kedatangan anak ke dokter gigi untuk memeriksakan giginya belum merupakan sesuatu yang rutin dilakukan. Berkunjung ke dokter gigi apabila terjadi sesuatu ataupun kelainan pada gigi. Pada penetapan dasar pendidikan dari beberapa penelitian akhir ini, masih kurangnya kesadaran anak ataupun kepedulian anak terhadap kesehatan gigi akibat kurangnya pengetahuan mengenai hal preventif dan perawatan gigi pada anak untuk mendapatkan kesehatan mulut yang optimal. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar, hanya 2,3 % penduduk Indonesia yang menyikat gigi dengan benar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat motivasi, tingkat kooperatif dan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut terhadap kesehatan gigi dan mulut. Bahan dan metode: Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study . penelitian ini dilaksanakan pada bulan september 2016 di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Unhas bagian Ilmu Kedokteran Gigi Anak. Sampel dalam penelitian ini ialah seluruh anak yang berusia 6-17 tahun yang berkunjung ke RSGM Unhas di beri kuesioner dan melakukan pemeriksaan status oral. Teknik pengambilan sampel dengan Accidental sampling. Hasil: hasil uji dengan menggunakan Kruskall wallis test menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat motivasi dan pengetahuan anak yang signifikan terhadap kesehatan gigi dan mulutnya. Pada tingkat kunjungan dan tingkat kooperatif tinggi didominasi oleh pasien yang dijemput oleh operator. Simpulan: Adanya hubungan antara tingkat motivasi dan pengetahuan terhadap kesehatan gigi dan mulutnya dan tingkat kooperatif tertinggi didominasi oleh pasien yang dijemput oleh operator.
Prevalensi maloklusi gigi anterior pada siswa Sekolah Dasar (Penelitian pendahuluan di SD 6 Maccora Walihe, Sidrap): The prevalence of anterior dental malocclusion on elementary school students (A preliminary study in SD 6 Maccora Walihe, Sidrap) Susilowati .
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.009 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i3.106

Abstract

Latar belakang: maloklusi dapat menyebabkan penampilan wajah yang buruk, risiko karies, penyakit periodontal, dan gangguan sendi rahang bila tidak dikoreksi. Salah satu penyebab maloklusi adalah adanya gigi yang persistensi. Tujuan: untuk mengetahui prevalensi maloklusi gigi anterior di SD 6 Sidrap dan mengetahui kemungkinan penyebabnya. Metode: Jenis penelitian adalah survei epidemiologik dengan desain cross sectional study. Subjek adalah siswa SD 6 Maccora Walihe, Kabupaten Sidrap sebanyak 157 anak dengan kisaran usia 6-12 tahun. Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan gigi dan mulut untuk mengetahui oklusi gigi geligi mereka, klasifikasi maloklusi Angle dan kondisi kesehatan gigi dan mulut mereka. Data yang diperoleh ditabulasi secara deskriptif. Hasil: Maloklusi Angle Klas I diperoleh sebesar 84,75 %, Klas II sebesar 6,37%, dan Klas III sebesar 9,88%. Pada pemeriksaan diperoleh prevalensi maloklusi gigi anterior untuk crowding 26,75%, protrusi 9,55%, dan diastema 6,37%. Penyebab utama dari gigi crowding kemungkinan besar adalah adanya gigi yang persistensi, ditemukan sebesar 24,2% dari populasi total. Simpulan: Klasifikasi maloklusi Angle dengan persentase terbesar adalah Klas I, diikuti oleh Klas III, dan Klas II. Jenis maloklusi gigi anterior dengan persentase terbesar adalah crowding, diikuti protrusi, kemudian diastema. Salah stau penyebab terbanyak dari crowding adalah adanya gigi yang persistensi.
Perawatan bedah periodontal pada pasien hipertensi disertai pembesaran gingiva dan abses periodontal (laporan kasus): Management of periodontal surgery on hypertension patient with gingival hyperplasia and periodontal abscess (case report) Arni Irawaty Djais; Hasmawati Hasan
Makassar Dental Journal Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.342 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v5i3.107

Abstract

Masalah dan tujuan penulisan: Pembesaran gingiva disertai abses periodontal merupakan suatu keadaan yang sering dijumpai pada pasien dengan penggunaan obat hipertensi. Pembesaran gingiva menyebabkan sulitnya pasien menjaga kebersihan mulut sehingga berlanjut menjadi abses periodontal dan gigi menjadi goyang. Laporan kasus ini bertujuan melaporkan penatalaksanaan pasien hipertensi disertai pembesaran gingiva disertai abses periodontal dengan teknik bedah periodontal. Laporan kasus: Seorang pria berumur 60 tahun datang ke tempat praktek dengan keluhan gigi goyang dan rasa tidak nyaman pada gigi depan atas dan bawah. Pemeriksaan klinis menunjukkan gingiva yang membesar terutama di daerah interdental, warna merah terang pada attached gingiva dan pus pada margin gingiva, serta gigi 11, 12, 21, 22, 31, 32, 41 dengan kegoyangan 2°, gigi 42 kegoyangan 3°. Pasien memiliki riwayat hipertensi. Penatalaksanaan kasus berupa scalling root planning (SRP), splinting, selective grinding, dan bedah periodontal. Pada kontrol 1 bulan tampak gingiva normal, dan pasien merasa puas dengan hasil perawatan. Simpulan: Bedah periodontal merupakan tindakan yang efektif dalam mengembalikan fungsi gigi pada pasien hipertensi disertai pembesaran gingiva dan abses periodontal sehingga tindakan pencabutan dapat dicegah.

Page 10 of 82 | Total Record : 812


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): Volume 13 Issue 3 Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Volume 13 Issue 2 Agustus 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Volume 13 Issue 1 April 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12 Issue 2 Agustus 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Volume 12 Issue 1 April 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Volume 11 Issue 3 Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11 Issue 2 Agustus 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Volume 11 Issue 1 April 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Volume 10 Issue 3 Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Volume 10 Issue 2 Agustus 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Volume 10 Issue 1 April 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): Volume 9 Issue 3 December 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Volume 9 No 2 Agustus 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 No 1 April 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019 Vol. 8 No. S - 2 (2019): Volume 8 Suplemen 2 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Vol 8 No 2 Agustus 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Volume 8 No 1 April 2019 Vol. 8 No. S - 1 (2019): Volume 8 Suplemen 1 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): Volume 7 No 3 Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Vol 7 No 1 April 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Vol 6 No 1 April 2017 Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Vol 5 No 1 April 2016 Vol. 5 No. S - 1 (2016): Vol 5 Suplemen 1 2016 Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015 Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015 Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015 Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015 Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015 Vol. 3 No. 6 (2014): Vol 3 No 6 Desember 2014 Vol. 3 No. 5 (2014): Vol 3 No 5 Oktober 2014 Vol. 3 No. 4 (2014): Vol 3 No 4 Agustus 2014 Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014 Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014 Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013 Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013 Vol. 2 No. 4 (2013): Vol 2 No 4 Agustus 2013 Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Vol 2 No 1 Februari 2013 Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012 Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012 Vol. 1 No. 4 (2012): Vol 1 No 4, Agustus 2012 Vol. 1 No. 3 (2012): Vol 1 No 3, Juni 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Vol 1 No 2, April 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012 More Issue