cover
Contact Name
Eri Hendra Jubhari
Contact Email
webpdgi@gmail.com
Phone
+628124235346
Journal Mail Official
webpdgi@gmail.com
Editorial Address
Ruko Malino A4. Baruga, Antang, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MDJ (Makassar Dental Journal)
ISSN : 20898134     EISSN : 25485830     DOI : 10.35856/mdj
Core Subject : Health,
The journal receives a manuscript from the following area below Dentistry science and development with interdisciplinary and multidisciplinary approach: Dental Public Health and Epidemiology Oral and Maxillofacial Surgery Dental Conservation and Endodontics Preventive Dentistry Biomedical Dentistry Dental Radiology Pediatric Dentistry Oral Pathology Prosthodontics Traumatology Oral Biology Biomaterials Orthodontics Periodontics
Articles 812 Documents
Penggunaan analisis sefalometri dalam bidang prostodonsi Abdullah Mugan Maruapey; Moh. Dharmautama
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.621 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i2.119

Abstract

Analisis sefalometri dipakai sebagai alat bantu yang sangat penting untuk suatu penelitian dan diagnosis di kedokteran gigi. Aplikasi klinik telah dilakukan secara meluas di bidang ortodontik, tetapi saat ini sefalometri juga telah digunakan oleh prostodontist untuk membantu menegakkan diagnosis dan menyusun rencana terapi khususnya pada kasus pembuatan gigitiruan penuh dan gigitiruan imediat. Pada kasus pembuatan gigitiruan penuh, sefalometrik ini dapat dipakai untuk mendapatkan kembali posisi struktur yang hilang. Hal ini diperoleh dengan mengidentifikasi prediksi hubungan antara gigi dan cranial landmark yang tidak terjadi perubahan-perubahan setelah post ekstraksi. Masing-masing suatu hubungan ditunjukkan tetap antara sudut occlusal plane relatif untuk frankfurt horisontal angle pada satu sisi dan antara sefalometri titik porion, nasion dan anterior nasal spine (PoNANS angle) pada sisi yang lain. Pada oklusi alami yang telah hilang, orientasi occlusal plane dapat direkonstruksi dengan mengukur PoNANS angle secara sefalometri.Pada kasus gigitiruan imediat, sefalometri digunakan untuk menentukan relasi rahang atas dan rahang bawah (klasifikasi Angle) dan untuk menentukan apakah perlu dilakukan alveoplasti atau tidak. Analisis sefalometri pada bidang prostodonsi sangat membantu menentukan ketepatan perawatan rehabilitasi prostodonsi yang akan dan telah dilakukan.
Bahan cetak alginat sebagai media perpindahan Mycobacterium tuberculosis pada stone cast Putu Rusmiany
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.275 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i2.121

Abstract

Penyakit tuberkulosis adalah penyakit menular yang penularannya dapat melalui perantara inhalation of aerosol/droplet from oropharyngeal secretions dan saliva yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Dokter gigi memiliki risiko yang sangat tinggi tertular penyakit dan dapat juga menularkan penyakit antara pasien, dokter gigi, perawat dan bahkan tenaga laboratorium gigi. Penularannya dapat langsung maupun tidak langsung. Penularan dapat melalui bahan cetak yang sering digunakan pada praktek dokter gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahan cetak alginat (hydrocolloid irreversible) sebagai media perpindahan Mycobacterium tuberculosis pada stone cast. Penelitian eksperimental dengan rancangan post test only control group design menggunakan perendaman glutaraldehyde 2% pada alginat selama 10 menit, 15 menit, 25 menit dan tanpa perendaman. Hasilnya menunjukkan tidak ada kontaminasi Mycobacterium tuberculosis pada stone cast setelah dilakukan perendaman bahan cetak alginat selama 10 menit, 15 menit dan 25 menit. Terdapat kontaminasi Mycobacterium tuberculosis pada stone cast pada bahan cetak tanpa perendaman. Disimpulkan bahwa bahan cetak alginat dapat sebagai media perpindahan Mycobacterium tuberculosis pada stone cast.
Pengaruh tingkat keparahan maloklusi terhadap keberlanjutan perawatan ortodontik dengan menggunakan piranti ortodontik lepasan di Rumah Sakit Gigi Mulut Universitas Hasanuddin A. Velaya Qasthalani Achmar; Eka Erwansyah
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.393 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i2.122

Abstract

Oklusi adalah kontak antara gigi geligi rahang atas dan bawah ketika tertutup penuh, sedangkan maloklusi adalah bentuk oklusi gigi yang menyimpang dari normal. Oklusi dikatakan normal, jika susunan gigi dalam lengkung geligi teratur baik serta terdapat hubungan yang harmonis antara gigi atas dan gigi bawah. Dalam hal ini untuk mengukur tingkat keparahan maloklusi yang sangat cepat, akurat dan sederhana pada standar perawatan ortodontik dapat dilakukan dengan menggunakan indeks peer assessment rating (PAR). Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui tingkat keparahan maloklusi terhadap keberlanjutan perawatan ortodontik dengan piranti ortodontik lepasan di bagian ortodonsia RSGMP UNHAS. Dilakukan pengumpulan model studi pada tahun 2008-2009. Diperoleh 100 sampel model studi, diantaranya 70 sampel model studi untuk perawatan selesai dan 30 sampel model studi perawatan tidak selesai. Pada kelompok PAR tanpa pembobotan diperoleh tingkat maloklusi sedang berpengaruh 5,09 kali terhadap tidak selesainya perawatan, sedangkan maloklusi parah berisiko 14,5 kali terhadap tidak selesainya perawatan ortodontik. Pada kelompok PAR dengan pembobotan diperoleh tingkat maloklusi sangat parah berisiko paling tinggi terhadap tidak selesainya perawatan yaitu 13,5 kali. Adapun maloklusi parah memiliki kemungkinan risiko 9,59 kali terhadap tidak selesainya perawatan ortodontik. Disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan maloklusi dengan keberlanjutan perawatan.
Peningkatan suhu sodium hipoklorit terhadap pelarutan jaringan saluran akar dan antimikrob Nurul Wadudah; Aries Chandra Trilaksana
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.917 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i2.123

Abstract

Sodium hipoklorit menjadi pilihan utama bahan irigasi perawatan endodontik karena kemampuan melarutkan jaringan dan antimikrob. Pemilihan konsentrasi sodium hipoklorit masih menjadi perdebatan, berkisar 0 ,5-5,25% bahkan akhir-akhir ini 10%. Konsentrasi yang tepat seharusnya didasarkan pada keseimbangan antara kemampuan antimikrob, pelarutan jaringan, toksisitas, dan kerusakan dentin yang minimal. Akhir -akhir ini pemanasan larutan hingga 50 0 C menjadi populer. Pemanasan awal diharapkan meningkatkan daya larut jaringan dan antimikrob sodium hipoklorit. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui manfaat peningkatan temperatur terhadap efektifitas pelarutan jaringan dan antimikrob sodium hipoklorit.
Gambaran klinis dan rencana perawatan dens invaginatus Amanah Pertiwisari; Hendrastuti Handayani
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.163 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i3.124

Abstract

Berbagai kelainan gigi sering dijumpai oleh dokter gigi. Tidak sedikit dari kelainan gigi tersebut yang memiliki gambaran klinis yang serupa dan dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. Pemahaman yang tepat mengenai kelainan-kelainan tersebut dapat menegakkan diagnosis dan penentuan rencana perawatan yang tepat. Salah satu kelainan gigi yang sering dijumpai oleh dokter gigi ialah dens invaginatus. Dens invaginatus adalah anomali perkembangan gigi yang dapat disebabkan oleh trauma atau infeksi yang menyebabkan invaginasi epitel gigi dari enamel dan dentin ke dalam mahkota atau dari sementum dan dentin ke dalam akar, merupakan kelainan pada gigi yang sedang berkembang. Dens invaginatus dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi permanen. Etiologi dens invaginatus masih kontroversi dan belum jelas. Dens invaginatus dapat menyebabkan karies, pulpitis, nekrosis pulpa dan penyakit periodontal. Gambaran klinis dens invaginatus dapat terlihat normal sampai menunjukkan bentuk yang tidak biasa tergantung pada ukuran invaginasi. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran klinis serta perawatan yang tepat mengenai dens invaginatus, yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dokter gigi mengenai dens invaginatus sehingga tidak salah dalam pemilihan perawatannya.
Regulasi molekuler proses resorbsi alveolar pada gigi sulung Yani Corvianindya Rahayu
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.708 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i3.125

Abstract

Resorbsi akar gigi sulung merupakan proses fisiologis yang terjadi pada pergantian gigi permanen. Sel yang bertanggung jawab pada proses resorbsi tersebut adalah sel odontoklas. Dimana prekursor sel odontoklas tersebut menggalami differensiasi dan memberikan signal untuk memulai proses resorbsi gigi sulung. Makalah ini membahas mengenai mekanisme yang melibatkan proses resorbsi akar gigi fisiologis tanggalnya gigi sulung, oleh karena gigi permanen pengganti maupun yang agenisi serta regulasi molekuler pada proses resorbsi tersebut. Resorbsi akar gigi sulung diregulasi oleh sel retikulum dan folikel gigi permanen melalui sekresi molekul stimulator, seperti sitokin dan faktor transkripsi. Proses resorbsi akar gigi sulung diregulasi menyerupai proses remodeling tulang yang meliputi sistem reseptor ligand yang dikenal sebagai RANK/RANKL (aktivator reseptor dari inti faktor kappa B) Ligand (RANKL). Selain RANKL dan OPG, molekul lain seperti faktor transkripsi terlihat dalam aktivasi osteoklas dan pembentukan odontoblas.
Penatalaksanaan hand foot and mouth disease yang menyerang ibu dan anak Dwi Setianingtyas; Nafi'ah .; Isidora KS; Astrid P; Ramadhan Hardani Putra
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.525 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i3.126

Abstract

Hand foot and mouth disease (HFMD) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh sejumlah virus coxsackie A dan B. Penyakit ini biasanya mengenai anak, tapi dapat pula dijumpai pada usia dewasa muda. Tulisan ini bertujuan melaporkan tentang penatalaksanaan HFMD yang menyerang wanita muda 37 tahun dan anak 4 tahun. Penanganan pada kunjungan pertama berupa medikasi antivirus, antipiretik, multivitamin dan obat kumur. Penderita diedukasi tentang pentingnya isolasi, kemudian dikonsul ke ahli penyakit dalam supaya mendapat penanganan lebih lanjut, lalu dirujuk masuk rumah sakit/opname untuk bed rest dan mendapat perawatan lebih intensif. Hasil akhirnya adalah dengan diagnosis dan penatalaksaan yang tepat, maka HFMD mempunyai prognosis yang baik.
Faktor-faktor stres yang berhubungan dengan pekerjaan dokter gigi praktek swasta di Makassar Muhammad Ilyas; Andi Tenri Sanna; Nita JH; Huzair .
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.382 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i3.127

Abstract

Stres merupakan respon fisiologis, psikologis dan perilaku individu yang mencari adaptasi atau penyesuaian diri dari tekanan internal dan eksternal. Peneliti sebelumnya mengatakan pekerjaan dokter gigi menduduki peringkat yang tinggi dibanding dengan pekerjaan lain sebagai penyebab stres. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor-faktor stres dengan profesi dokter gigi di Kota Makassar. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian adalah dokter gigi yang tinggal di kota Makassar, sebanyak 217 orang. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Tercatat dokter gigi perempuan 171 orang dan laki-laki sebanyak 436 orang, frekuensi penanganan stres praktek dokter gigi swasta sebanyak 145 orang (membuat situasi nyaman 73 orang, motivasi diri 30 orang dan konsumsi obat penenang 42 orang), Jadi ada hubungan faktor-faktor stres dengan pekerjaan praktek dokter gigi swasta di Kota Makassar dengan nilai x hitung = 3,15 (p = 0,03). Disimpulkan dokter gigi praktek swasta lebih banyak dijumpai perempuan dibanding dengan laki-laki, konsumsi obat penenang dan motivasi diri merupakan hal yang paling banyak dilakukan oleh dokter gigi praktek swasta agar situasi terasa nyaman dalam melakukan praktek. Ada hubungan antara faktor-faktor stres dengan pekerjaan dokter gigi praktek swasta di Kota Makassar.
Perubahan elemen resin komposit mikrohibrid setelah direndam di dalam saliva buatan Kholidina Imanda Harahap; Sumadhi Sastrodihardjo; Harry Agusnar
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.736 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i3.128

Abstract

Kondisi lingkungan rongga mulut ketika pemakaian bahan restorasi resin komposit merupakan hal penting yang dapat mempengaruhi sifat resin komposit tersebut. Paparan saliva terhadap resin komposit menimbulkan proses penyerapan air. Penyerapan air pada resin komposit selain dapat menurunkan sifat mekanis dan ketahanannya terhadap keausan, juga dapat merusak ikatan antara matriks dengan filler menyebabkan lepasnya beberapa unsur di dalam resin komposit. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perubahan elemen resin komposit mikrohibrid yang terjadi setelah perendaman di dalam saliva buatan. Pada penelitian ini resin komposit mikrohibrid (Solare F, GC, Jepang) dibuat menjadi sampel berbentuk tablet berdiameter 15 mm dan ketebalan 1 mm. Setelah penyinaran dengan visible blue light selama 20 detik, sampel direndam di dalam saliva buatan dan disimpan di dalam inkubator 37ÂșC selama 2, 4, 6, dan 8 jam. Elemen pada sampel diperiksa dengan menggunakan SEM-EDX (Jeol, JSM-6510LA, Jepang). Dari hasil pemeriksaan terlihat penurunan persentase berat unsur karbon, dari 41,34%berat menjadi 38,58%berat, 33,30%berat, 31,19%berat dan 26,06% berat masing-masing setelah direndam di dalam saliva buatan selama 2, 4, 6, dan 8 jam. Jumlah unsur silikon berubah dari 22,27%berat menjadi 18,80%berat, 21,71%berat, 21,20%berat dan 22,26%berat setelah perendaman. Sedang jumlah oksigen terjadi peningkatan dari 19,02%berat menjadi 34,53%berat, 36,10%berat, 38,80%berat dan 41,54%berat. Terdeteksi juga unsur lain berupa kalium sebanyak 3,22%berat, 4,00%berat, 3,86%berat dan 3,72%berat setelah perendaman 2, 4, 6, dan 8 jam. Unsur magnesium pada komposit resin setelah perendaman 2 jam terdeteksi sebanyak 0,47%berat dan pada 8 jam sebanyak 0,98%berat. Dengan terjadinya penyerapan cairan pada resin komposit menyebabkan pelepasan beberapa unsur yang terkandung pada resin komposit.
Perawatan bleaching internal pada incisivus lateral kiri rahang atas Nadia Suryanti Wongsari; Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.015 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i3.129

Abstract

Diskolorasi pada gigi anterior merupakan masalah estetik. Diskolorasi dapat disebabkan oleh faktor intrinsik, ekstrinsik, maupun kombinasi kedua faktor. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan teknik bleaching Hidrogen peroksida 35% merupakan bahan pilihan yang digunakan untuk memutihkan gigi karena merupakan agen oksidasi yang dapat mengeluarkan radikal bebas untuk memecah ikatan ganda chromophore yang menyebabkan diskolorasi. Pasien pria usia 23 tahun datang dengan keluhan perubahan warna pada gigi insisivus lateral kiri rahang atas. Pemeriksaan klinis menunjukkan diskolorasi pada mahkota dan tes vitalitas negatif. Dilakukan perawatan saluran akar kemudian dilanjutan dengan internal bleaching. Disimpulkan bahwa diskolorasi intrinsik yang disebabkan oleh nekrosis pulpa dapat dirawat secara walking bleach menggunakan hidrogen peroksida 35%.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): Volume 13 Issue 3 Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Volume 13 Issue 2 Agustus 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Volume 13 Issue 1 April 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12 Issue 2 Agustus 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Volume 12 Issue 1 April 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Volume 11 Issue 3 Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11 Issue 2 Agustus 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Volume 11 Issue 1 April 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Volume 10 Issue 3 Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Volume 10 Issue 2 Agustus 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Volume 10 Issue 1 April 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): Volume 9 Issue 3 December 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Volume 9 No 2 Agustus 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 No 1 April 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019 Vol. 8 No. S - 2 (2019): Volume 8 Suplemen 2 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Vol 8 No 2 Agustus 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Volume 8 No 1 April 2019 Vol. 8 No. S - 1 (2019): Volume 8 Suplemen 1 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): Volume 7 No 3 Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Vol 7 No 1 April 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Vol 6 No 1 April 2017 Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Vol 5 No 1 April 2016 Vol. 5 No. S - 1 (2016): Vol 5 Suplemen 1 2016 Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015 Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015 Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015 Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015 Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015 Vol. 3 No. 6 (2014): Vol 3 No 6 Desember 2014 Vol. 3 No. 5 (2014): Vol 3 No 5 Oktober 2014 Vol. 3 No. 4 (2014): Vol 3 No 4 Agustus 2014 Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014 Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014 Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013 Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013 Vol. 2 No. 4 (2013): Vol 2 No 4 Agustus 2013 Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Vol 2 No 1 Februari 2013 Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012 Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012 Vol. 1 No. 4 (2012): Vol 1 No 4, Agustus 2012 Vol. 1 No. 3 (2012): Vol 1 No 3, Juni 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Vol 1 No 2, April 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012 More Issue