cover
Contact Name
Eri Hendra Jubhari
Contact Email
webpdgi@gmail.com
Phone
+628124235346
Journal Mail Official
webpdgi@gmail.com
Editorial Address
Ruko Malino A4. Baruga, Antang, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MDJ (Makassar Dental Journal)
ISSN : 20898134     EISSN : 25485830     DOI : 10.35856/mdj
Core Subject : Health,
The journal receives a manuscript from the following area below Dentistry science and development with interdisciplinary and multidisciplinary approach: Dental Public Health and Epidemiology Oral and Maxillofacial Surgery Dental Conservation and Endodontics Preventive Dentistry Biomedical Dentistry Dental Radiology Pediatric Dentistry Oral Pathology Prosthodontics Traumatology Oral Biology Biomaterials Orthodontics Periodontics
Articles 812 Documents
Serostomia karena obat pada orang tua Zohra Nazaruddin; Erni Marlina
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.712 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i5.77

Abstract

Serostomia adalah terjadinya penurunan fungsi kelenjar saliva sehingga penderita mengeluh kesulitan menelan, bicara, rasa yang tidak nyaman dan sering terjadi infeksi dalam rongga mulut. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai faktor dengan banyak manifestasi di rongga mulut. Dokter gigi sebagai orang pertama yang mengetahui adanya perubahan dalam rongga mulut, diharapkan dapat mengetahui berbagai manifestasi serostomia tersebut sehingga diharapkan dapat membantu mengidentifikasi, apakah kelainan tersebut merupakan akibat penuaan atau hal yang patologis, atau karena penggunaan obat-obatan.
Nasoalveolar moulding pra pembedahan pada penderita celah bibir dan langit-langit Abdullah Mugan Maruapey; Amie .; Irfany .; Edy Machmud
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.709 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i5.78

Abstract

Perawatan bayi dengan celah bibir dan langit-langit (CBL) dilakukan sejak tahun 1950 dengan tujuan untuk melakukan koreksi terhadap cacat tersebut. Nasoalveolar moulding (NAM) hadir untuk mengubah paradigma dari metode konvensional perawatan bayi CBL. Pada metode konvensional terdapat masalah, yaitu kegagalan mengoreksi deformitas kartilago hidung pada penderita CBL unilateral dan bilateral serta defisiensi jaringan kolumela pada bayi dengan celah bibir bilateral. Piranti NAM dibuat dari kawat dan akrilik yang dilekatkan pada feeding plate. Piranti ini dipakai untuk menuntun kartilago hidung, premaksila, dan tulang alveolar pada pertumbuhan dan posisi yang normal pada periode neonatal. Efek penggunaan NAM sebelum dilakukan pembedahan adalah mengurangi tingkat keparahan deformitas oronasal. Teknik NAM memiliki kelebihan mengoreksi kartilago hidung yang immature dan mempertahankan pada posisi yang normal. NAM bertujuan memperpanjang kolumela CBL bilateral sesuai prinsip-prinsip ekspansi jaringan, dengan cara memperpanjang nasal stent dan aplikasi gaya-gaya yang diberikan pada bibir dan hidung. Penggunaan teknik NAM mengurangi surgical scar jika dibandingkan dengan rekonstruksi kolumela konvensional, mengurangi biaya pembedahan dan menjadi standar perawatan pada pusat pelayanan CBL.
Squamous cell carcinoma of the tongue Verawaty Mohan; Andri Hardianto; Kiki Akhmad Rizki
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.698 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.79

Abstract

Neoplasma rongga mulut merupakan keganasan yang jarang ditemukan di negara Barat, namun cukup banyak ditemukan di Asia. Di USA, angka insidensinya berkisar antara 3-4% dari seluruh keganasan, sedangkan di India, dapat mencapai 50% dan menjadi tumor ganas yang terbanyak. Sekitar 90% keganasan rongga mulut ini sangat berhubungan dengan konsumsi tembakau dan alkohol, sedangkan di Asia, berhubungan dengan kebiasaan mengunyah tembakau dan sirih. Predileksi terbanyak yaitu pada lidah 35%, bibir 30%, dasar mulut 15%, gingiva mandibula 12,1%, mukosa bukal 9,7%, palatum dan gingiva maksila 4,7%. Di Indonesia, insiden neoplasma rongga mulut adalah 1,5-5%, terbanyak ditemukan pada usia 55-65 tahun dan dapat bervariasi antara 40-70 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1:1 yang sangat berbeda dengan data dari negara Barat yaitu 4:1. Dilaporkan seorang pasien dengan keluhan benjolan pada ujung lidah bagian bawah kanan, mudah berdarah, dapat digerakkan dan teraba kenyal, tanpa disertai rasa nyeri. Penurunan berat badan disangkal dan pasien tidak merasakan adanya pembesaran KGB di lehernya. Kebersihan mulut pada pasien ini sangat buruk dengan banyaknya lubang gigi. Pasien juga mengeluh gangguan berbicara, mengunyah maupun menelan. Pasien lalu menjalani operasi pengangkatan massa tumor disertai tindakan radikal diseksi leher sebagai tindakan profilaksis. Jaringan yang diangkat diperiksakan ke laboratorium dengan hasil PA yaitu well differentiated squamous cell carcinoma.
Lesi-lesi servikal non-karies Erny Djuhais; Aries Chandra Trilaksana
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.089 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.80

Abstract

Meskipun insiden karies telah menurun dan berhasil dikontrol, ada peningkatan persentase lesi-lesi servikal non-karies (LSNK). Lesi servikal non-karies biasanya ditemui dalam praktek sehari-hari dan terdapat dalam berbagai bentuk, seperti abrasi, erosi dan abfraksi. Pengetahuan tentang etiologi lesi ini penting untuk mencegah lesi lebih lanjut, menghentikan perkembangan lesi yang sudah ada, dan menentukan perawatan yang tepat. Berbagai bukti mendukung etiologi multifaktorial untuk LSNK. Tujuan dari makalah ini adalah untuk meninjau bukti untuk masing-masing faktor etiologi yang berkaitan dengan pengembangan LSNK, diagnosis, dan perawatan untuk lesi-lesi ini.
Karies dental: sebuah paradigm baru Besse Tenri Awaru; Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.456 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.81

Abstract

Diagnosis dan metode perawatan karies gigi telah mengalami perubahan mengikuti perkembangan teknologi dan berbagai penelitian. Pergeseran paradigma di bidang kedokteran gigi difokuskan pada pencegahan penyakit ketika gejala perkembangan awal terdeteksi. Diagnosis diawali dengan pemeriksaan lingkungan dalam mulut dan pemeriksaan saliva. Tujuan dari makalah ini adalah menyajikan pengembangan penilaian faktor risiko karies, pencegahan, klasifikasi karies baru dengan sistem ICDAS dan menentukan perawatan yang tepat.
Uji daya hambat kandungan perak terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus Irene E. Rieuwpassa; Dyan Megasari
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.342 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.82

Abstract

Rongga mulut dapat memberikan kontribusi yang cukup berarti dalam bakteremia. Pada keadaan penurunan imunitas, Staphylococcus aureus biasanya terdapat di dalam mulut yang semula komensal, dapat berubah menjadi patogen sehingga dapat menyebabkan bakteremia dan infeksi sistemik dengan tanda-tanda yang khas seperti nekrosis, peradangan dan pembentukan abses. Ionic silver GT dapat membunuh bakteri patogen dengan melakukan penetrasi ke dalam membran sel bakteri, mengubah ikatan esensial protein dan DNA pada bakteri sehingga menjadi tidak stabil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana daya hambat ionic silver GT terhadap S.aureus yang diisolasi dari pasien yang mengalami stomatitis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ionic silver GT pada konsentrasi 60% memperlihatkan daya hambat minimal, konsentrasi 80% daya hambatnya makin besar dan pada konsentrasi 100% memperlihatkan daya hambat yang paling besar. Dapat disimpulkan bahwa ionic silver GT memiliki daya hambat yang baik terhadap S.aureus pada penderita stomatitis.
Metode pencetakan minimally displacive impression untuk gigitiruan penuh pada pasien epulis fisuratum Asmah Fahmi Rasyid; Cencen T. Yanto; Herawati .; Edy Machmud; Ike Damayanti Habar
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.456 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.83

Abstract

Retensi dan stabilitas gigitiruan penuh dapat diperoleh dengan memperhatikan keadaan anatomi dan fisiologis rongga mulut. Pada kondisi pasien dengan epulis fisuratum akibat pemakaian gigitiruan yang longgar dan tidak stabil, maka retensi dan stabilitas gigitiruan penuh menjadi masalah yang harus ditangani secara tepat. Metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan pencetakan minimally displacive. Pada laporan kasus ini akan dibahas pembuatan gigitiruan penuh pada pasi en epulis fisuratum dengan menggunakan metode pencetakan minimally displacive impression yang bertujuan untuk mencetak daerah pendukung gigitiruan tanpa memberikan tekanan pada mukosa. Studi kasus dilakukan pada pasien dengan epulis fisuratum. Hasil anamnesis menunjukkan pasien pernah menggunakan gigitiruan penuh rahang atas tapi longgar dan patah, sedangkan rahang bawah belum pernah sama sekali. Pada pemeriksaan klinis memperlihatkan denture induced epulis hyperplasia rahang atas dan lingir datar rahang bawah. Pasien menginginkan gigitiruan penuh rahang atas dan bawah serta tidak ada tindakan bedah. Setelah pembuatan gigitiruan yang baru, pasien puas dan dapat mengatasi ketidaknyamanannya dengan gigitiruan sebelumnya. Pasien dapat mengunyah dengan baik dan merasa estetik sudah lebih baik.
Restorasi onlay komposit indirek pada gigi molar kedua rahang bawah kanan Nur Asmah
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.624 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.84

Abstract

Restorasi akhir yang baik merupakan bagian paling penting dari keberhasilan perawatan endodontik, karena dapat mempertahankan sterilitas ruang pulpa dan dapat mencegah terjadinya pencabutan gigi karena kegagalan restorasi. Restorasi komposit terbagi 2 golongan yaitu restorasi komposit direk dan restorasi komposit indirek. Restorasi onlay diindikasikan bila 2 atau lebih bonjol gigi yang hilang dan masih memiliki ketebalan email dan dentin yang masih cukup. Pada kasus ini dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun, gigi 47 sudah dirawat endodontik, ingin ditambal sesuai warna gigi alami, pilihan restorasi adalah restorasi onlay komposit indirek, karena memiliki kekuatan dan estetik yang baik.
Penatalaksanaan pasien cedera kepala dengan fraktur panfasial dan pneumosefalus Muh. Irfan Rasul; M.Z. Arifin; Winarno .
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.097 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.85

Abstract

Pendahuluan Pasien dengan cedera kepala yang datang ke Rumah Sakit sering disertai cedera pada wajah. Panfacial fracture merupakan cedera pada tulang wajah yang melibatkan mandibula, tulang wajah bagian tengah (midface), naso-orbita-ethmoid (NOE) dan tulang frontal. Laporan kasus Pada laporan kasus ini akan dibahas tentang pasien laki-laki berumur 16 tahun yang dikonsulkan ke bagian Bedah Saraf dan Bedah Mulut RSHS dengan keluhan utama penurunan kesadaran dan luka pada wajah akibat kecelakaan. Dari hasil pemeriksaan klinis dan radiologis didiagnosa dengan Mild Head Injury serta skull base fracture anterior dan panfacial fracture dengan pneumocephalus pada daerah frontal. Penatalaksanaan Pada pasien ini dilakukan perawatan konservatif terhadap kelainan cedera kepala dan fraktur sinus frontalis sedangkan fraktur di daerah mid facial dan mandibula dilakukan tindakan ORIF dengan kombinasi antara wire suspensi serta plate dan screw. Kemudian dilakukan kontrol selama kurang lebih 3 bulan setelah operasi menunjukkan hasil yang memuaskan.
Perbandingan gutta-percha dan resin-percha sebagai bahan obturasi dalam perawatan endodontik: sebuah tinjauan pustaka Meiliana Gunawan; Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.901 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v1i6.86

Abstract

Keberhasilan jangka panjang perawatan endodontik berhubungan dengan tiga aspek perawatan yaitu instrumentasi, desinfeksi dan obturasi. Sejak diperkenalkan oleh Callahan pada tahun 1914, gutta-percha telah menjadi bahan obturasi standar dalam perawatan endodontik. Namun, gutta-percha tidak dapat mencegah terjadinya bacterial leakage dan komplikasi lebih lanjut meskipun digunakan bersamaan dengan sealer. Hal ini disebabkan karena ketiadaan ikatan kimiawi antara gutta-percha dan sealer saluran akar. Resin-percha digunakan bersamaan dengan sealer dan primer yang kompatibel dan dapat saling berikatan. Namun, terdapat penelitian yang menyebutkan resin-percha lebih toksik terhadap jaringan dibandingkan dengan gutta-percha. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan informasi mengenai penggunaan gutta-percha dan resin-percha sebagai bahan obturasi dalam perawatan endodontik.

Page 8 of 82 | Total Record : 812


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): Volume 13 Issue 3 Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Volume 13 Issue 2 Agustus 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Volume 13 Issue 1 April 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12 Issue 2 Agustus 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Volume 12 Issue 1 April 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Volume 11 Issue 3 Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11 Issue 2 Agustus 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Volume 11 Issue 1 April 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Volume 10 Issue 3 Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Volume 10 Issue 2 Agustus 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Volume 10 Issue 1 April 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): Volume 9 Issue 3 December 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Volume 9 No 2 Agustus 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 No 1 April 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Vol 8 No 2 Agustus 2019 Vol. 8 No. S - 2 (2019): Volume 8 Suplemen 2 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Volume 8 No 1 April 2019 Vol. 8 No. S - 1 (2019): Volume 8 Suplemen 1 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): Volume 7 No 3 Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Vol 7 No 1 April 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017 Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Vol 6 No 1 April 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Vol 5 No 1 April 2016 Vol. 5 No. S - 1 (2016): Vol 5 Suplemen 1 2016 Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015 Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015 Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015 Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015 Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015 Vol. 3 No. 6 (2014): Vol 3 No 6 Desember 2014 Vol. 3 No. 5 (2014): Vol 3 No 5 Oktober 2014 Vol. 3 No. 4 (2014): Vol 3 No 4 Agustus 2014 Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014 Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014 Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013 Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013 Vol. 2 No. 4 (2013): Vol 2 No 4 Agustus 2013 Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Vol 2 No 1 Februari 2013 Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012 Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012 Vol. 1 No. 4 (2012): Vol 1 No 4, Agustus 2012 Vol. 1 No. 3 (2012): Vol 1 No 3, Juni 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Vol 1 No 2, April 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012 More Issue