cover
Contact Name
Eri Hendra Jubhari
Contact Email
webpdgi@gmail.com
Phone
+628124235346
Journal Mail Official
webpdgi@gmail.com
Editorial Address
Ruko Malino A4. Baruga, Antang, Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
MDJ (Makassar Dental Journal)
ISSN : 20898134     EISSN : 25485830     DOI : 10.35856/mdj
Core Subject : Health,
The journal receives a manuscript from the following area below Dentistry science and development with interdisciplinary and multidisciplinary approach: Dental Public Health and Epidemiology Oral and Maxillofacial Surgery Dental Conservation and Endodontics Preventive Dentistry Biomedical Dentistry Dental Radiology Pediatric Dentistry Oral Pathology Prosthodontics Traumatology Oral Biology Biomaterials Orthodontics Periodontics
Articles 871 Documents
Efikasi terapi angular cheilitis di Bagian Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin berdasarkan prinsip kausatif Ali Yusran; Zohra Nazaruddin; Erni Marlina
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.988 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i6.150

Abstract

Angular cheilitis merupakan suatu lesi, terkadang disertai inflamasi pada commisura labial baik yang terjadi unilateral maupun bilateral, dengan nyeri atau tanpa adanya gejala. Terapi utamanya adalah anti jamur yang didasarkan pada prinsip kausatif. Namun, akhir-akhir terjadi kecenderungan perubahan mikroorganisme khususnya spesies jamur Candida. Jika sebelumnya spesies Candida albicans paling banyak diisolasi sebagai jamur patogen di rongga mulut, namun jumlah spesies Candida lain selain Candida albicans juga semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mikroorganisme penyebab jamur sebagai dasar untuk terapi yang diberikan. Metode yang diterapkan adalah observasional deskriptif. Hasilnya Staphylococcus aureus menjadi mikroorganisme yang paling banyak dijumpai dengan 33,3%, selanjutnya adalah Staphylococcus epidermidis (26,6%), Stahylococcus saproforicus (16,6%), Streptococcus sp (10%), basil negatif (10%), dan Candida tropicalis (3,3%) lesi angular cheilitis dengan Candida tropicalis. Jelas bahwa terapi yang selama ini diberikan berupa anti jamur berdasarkan hasil penelitian ini tidaklah tepat. Akan lebih sesuai jika diberikan anti bakteri, misalnya chlorhexidine gluconate.
Fibrous displasia pada maksila (laporan kasus) M. Hendra Chandha; A. Tajrin
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.688 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i6.151

Abstract

Fibrous displasia adalah sebuah gangguan perkembangan dari tulang yang sedang bertumbuh yang tidak diketahui penyebabnya. Fibrous displasia dapat terjadi pada seluruh rangka tubuh, namun tulang tengkorak, paha, tulang kering, tulang rusuk, lengan atas, akan tetapi panggul merupakan bagian yang paling sering terkena. Pada artikel ini dilaporkan kasus fibrous displasia yang menyerang regio maksila kiri serta penatalaksanaan pasien melalui metode pembedahan. Seorang wanita 30 tahun datang ke tempat praktek dengan keluhan benjolan pada rahang atas kiri, muka tidak simetris, tidak sakit, mukosa daerah sekitar dalam batas normal. Kemudian dilakukan radiografi dengan hasil tampak fibrous displasia. Fibrous displasia pada kasus ini dirawat melalui metode pembedahan dengan cara pengangkatan jaringan tulang yang terkena. Disimpulkan bahwa Laporan kasus ini menitikberatkan pada gambaran klinis, radiologi, patologi, dan metode perawatan secara pembedahan dari fibrous displasia.
The effect of inadequate treatment of 36 that carious Isidora KS; Yoifah R; Cevanti TA; Laksmi D.; Sarianoferni .
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.513 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i6.152

Abstract

Geligi molar pertama permanen yang erupsi ke dalam rongga mulut adalah geligi molar pertama tahang bawah, yaitu pada usia 6 tahun. Pada masa ini, anak-anak masih acuh terhadap kesehatan mulut. Prevalensi karies geligi molar pertama permanen sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, populasi ataupun bangsa. Artikel ini ingin menunjukkan akibat perawatan yang tidak sempurna pada gigi 36 pada anak laki-laki usia 16 tahun. Gigi karies menjadi penyebab abses submandibula, penanganan tidak tepat, menjadi kronis, dan menyebabkan adanya fistula ke angulus mandibula di daerah kulit. Abses subkutan kronis tidak terawat dengan sempurna. Rasa sakit hilang, tetapi deviasi mandibula tetap ada. Pasien tidak dapat membuka mulut secara normal. Tatalaksana kasus dilakukan dengan mengajukan anamnesis secara sistematis, dan pemeriksaan klinis, termasuk foto panoramik. Diskusi kasus dilakukan diantara spesialis bedah mulut, konservasi gigi, radiologi dental dan ilmu penyakit mulut. Simpulan dari kasus ini, anak laki-laki ini diberi pengertian dan nasehat secara seksama tentang apa yang sudah terjadi pada rahang dan pipi kirinya. Disarankan bagi semua yang terlibat dalam perawatan pada daerah oromaksilofasial, untuk sangat seksama melakukan perawatan agar dapat menghemat waktu, dana, maupun mungkin nyawa pasien.
Inclined bite plane for correction anterior crossbite in early permanent dentition Abdul Malik; Arya Brahmanta
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.649 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i6.153

Abstract

Inclined bite plane is a simple functional appliance used in the lower arch jaw which is work as bite jumper. Anterior crossbite is an indicator of skeletal growth problem and developing class III malocclusion. The aim of this case report is to know the mechanism of inclined bite plane as functional appliance for managing class III malocclusion. In this article we would like to present a 11- year-old boy with class III malocclusion, SNA 76 o , SNB 81 o , ANB –5 o , overjet -3 mm, overbite 5 mm and concave facial profile. The use of acrylic resin in lower arch as an inclined bite plane for anterior crossbite correction in early permanent dentition at adolescent is an effective therapy choice.
The aid of panoramic photo for a general practitioner for denture preparation Herawanti YE; Isidora KS; Sarianoferni .; Setyowati O; Sujati .
Makassar Dental Journal Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.25 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v2i6.154

Abstract

Radiographic photo imaging nowadays is needed in almost all areas of health. Faculty of Dentistry students at Hang Tuah University had to accomodate competence-based curriculum (CBC) to face the new horizon in oral health care. This present study presents an older woman, 71 years old who wanted to make a partial denture, both upper and lower jaws. She had ever used a partial denture since about 2 years ago. She felt discomfortable and wanted to make a new one. She was healthy in her age, with no systemic deviation, and she works as a teacher. The management of the case taking her anamnesis, taking the panoramic photo to overview all of the condition in the mouth. With the help of the imaging, continue the preparation of the teeth beside the edentulous areas for the clasps and the mucosa to bare the dentures. Several teeth were treated conservatively. This is important for designing the denture. By applying the CBC, the student was able to wholly treat the patient, just like the competence that hopefully possessed by all of the dentists nowadays. The CBC allows students to make a panoramic photo, to treat conservative, to apply medicine and to screen from the systemic disease, curing the gingiva, or any other else. It was concluded that the CBC students was able to apply all the competences to patients. The CBC students have to fully understand and work hard to carry out their obligations. Hopefully, this condition will prepare them to compete in the era of globalization.
Keakuratan electronic apex locator untuk menentukan panjang kerja Naomi Paramita T.; Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.655 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v3i1.155

Abstract

Menghilangkan seluruh jaringan pulpa, jaringan nekrosis, dan mikroorganisme di dalam saluran akar merupakan kunci keberhasilan perawatan saluran akar. Hal tersebut hanya dapat dicapai jika panjang gigi dan saluran akar ditentukan dengan akurat. Radiografi merupakan cara konvensional yang umum dipakai untuk menentukan panjang kerja. Dibandingkan dengan radiografi, menentukan panjang kerja dengan electronic apex locator akan lebih mudah, cepat, akurat dan tanpa adanya pemaparan radiasi. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui cara kerja dan teknik penggunaan electronic apex locator.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan erupsi gigi permanen pada anak Siti Sarah Aulia Amrullah; Hendrastuti Handayani
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.402 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v3i1.156

Abstract

Pada beberapa kasus, banyak ibu yang mengkhawatirkan jika gigi anak mengalami keterlambatan erupsi dibandingkan dengan gigi anak-anak pada umumnya. Gigi-geligi anak pada umumnya mulai erupsi pada usia sekitar 6-8 bulan dan lengkap sekitar pada usia 2 1 / 2 - 3 tahun. Selanjutnya, pada usia 6-12 tahun, gigi sulung mulai digantikan dengan gigi permanen. Gigi permanen lebih sering mengalami gangguan pada proses erupsi jika dibandingkan dengan gigi sulung. Gangguan proses tumbuh kembang baik gigi sulung maupun gigi permanen dapat mempengaruhi waktu erupsi. Variasi gangguan perkembangan gigi-geligi, biasanya baru dilihat bentuk kelainannya setelah erupsi. Keberagaman perkembangan gigi termasuk erupsi dapat berjalan normal, terlalu cepat, atau terlambat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor lokal dan sistemik. Salah satu penyebab keterlambatan erupsi gigi permanen yaitu keterlambatan erupsi gigi sulung. Selain itu, keterlambatan erupsi juga dapat disebabkan karena ada gangguan pada proses tumbuh kembang, trauma, faktor nutrisi, atau pengaruh penyakit sistemik tertentu. Perbedaan waktu erupsi gigi permanen pada anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Oleh karena itu, hal ini penting untuk dipahami oleh seorang dokter gigi agar dapat menjelaskan kepada orang tua anak tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi setiap tahap perkembangan gigi.
Stepwise Excavation Besse Tenri Awaru; Aries Chandra Trilaksana
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.952 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v3i1.157

Abstract

Perawatan lesi karies yang dalam merupakan tantangan, karena harus memberi perlindungan pada pulpa. Ekskavasi karies pada lesi yang sangat dalam melibatkan risiko terbukanya pulpa, yang akan memperburuk prognosis pulpa. Berbagai macam perawatan telah disarankan untuk menangani lesi karies dalam. Tujuan dari tulisan ini adalah menyajikan metode perawatan lesi karies yang dalam secara lebih konservatif, invasi yang minimal dan mengurangi risiko terbukanya pulpa untuk penanganan klinis dari lesi karies yang dalam, yaitu stepwise excavation.
Pasak fiber reinforced komposit Wahdaniah Masdy; Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.364 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v3i1.158

Abstract

Dibutuhkan waktu yang cukup lama bagi praktisi untuk memahami berbagai keunggulan pasak fiber reinforced composite. Pasak fiber reinforced composite selain mempunyai keuntungan estetik, juga memberikan keuntungan mekanik, fungsional serta klinik. Bahan ini juga mengatasi kelemahan pada pasak logam yakni teknik yang digunakan minimal invasif, lebih mudah diperbaiki, non-galvanik/non-korosif dan mampu mengurangi microleakage apabila disementasi dengan baik. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menjelaskan bahan baru dan tehnik yang dianggap sebagai alternatif yang layak menjadi pengganti pasak logam.
Pengelolaan limbah rumah sakit gigi dan mulut di wilayah Kota Makassar Hasmil Eka Putri; Ritnawati .; Rasmidar Samad
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.118 KB) | DOI: 10.35856/mdj.v3i1.159

Abstract

Pengelolaan limbah Rumah Sakit termasuk Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) akan berdampak terhadap petugas kesehatan, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan limbah RSGM di Kota Makassar. Jenis penelitian studi observasi deskriptif. Desain penelitian menggunakan studi cross sectional. Subjek penelitian yaitu semua institusi kesehatan gigi dan mulut di Kota Makassar, Pusat Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut (PPKGM) Sulsel, RSGM Kandea dan RSGM Tamalanrea). Metode yang digunakan kuesioner modifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hasil observasi menunjukkan bahwa pengelolaan limbah RSGM di Kota Makassar untuk limbah padat pengelolaannya menggabungkan limbah medis dan non-medis dan belum ada pelabelan khusus pada kontainernya. Untuk limbah cair ketiga rumah sakit tersebut tidak melakukan atau menyediakan metode pengelolaan limbah cair sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Selain itu ketiga rumah sakit tersebut juga tidak memiliki rencana pengelolaan limbah secara khusus, baik limbah padat maupun limbah cair dan tidak ada petugas khusus untuk pengelolah limbah. Sehingga dapat disimpulkan RSGM di Kota Makassar tidak memenuhi sistem pengelolaan limbah rumah sakit yang ditetapkan oleh WHO maupun Kemenkes RI.

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025 Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): Volume 13 Issue 3 Desember 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): Volume 13 Issue 2 Agustus 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): Volume 13 Issue 1 April 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Volume 12 Issue 2 Agustus 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Volume 12 Issue 1 April 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Volume 11 Issue 3 Desember 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Volume 11 Issue 2 Agustus 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Volume 11 Issue 1 April 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Volume 10 Issue 3 Desember 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Volume 10 Issue 2 Agustus 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Volume 10 Issue 1 April 2021 Vol. 9 No. 3 (2020): Volume 9 Issue 3 December 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Volume 9 No 2 Agustus 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Volume 9 No 1 April 2020 Vol. 8 No. 3 (2019): Vol 8 No 3 Desember 2019 Vol. 8 No. S - 2 (2019): Volume 8 Suplemen 2 2019 Vol. 8 No. 2 (2019): Vol 8 No 2 Agustus 2019 Vol. 8 No. 1 (2019): Volume 8 No 1 April 2019 Vol. 8 No. S - 1 (2019): Volume 8 Suplemen 1 2019 Vol. 7 No. 3 (2018): Volume 7 No 3 Desember 2018 Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018 Vol. 7 No. 1 (2018): Vol 7 No 1 April 2018 Vol. 6 No. 3 (2017): Vol 6 No 3 Desember 2017 Vol. 6 No. 2 (2017): Vol 6 No 2 Agustus 2017 Vol. 6 No. 1 (2017): Vol 6 No 1 April 2017 Vol. 6 No. S-1 (2017): Vol 6 Suplemen 1 2017 Vol. 5 No. 3 (2016): Vol 5 No 3 Desember 2016 Vol. 5 No. 2 (2016): Vol 5 No 2 Agustus 2016 Vol. 5 No. 1 (2016): Vol 5 No 1 April 2016 Vol. 5 No. S - 1 (2016): Vol 5 Suplemen 1 2016 Vol. 4 No. 6 (2015): Vol 4 No 6 Desember 2015 Vol. 4 No. 5 (2015): Vol 4 No 5 Oktober 2015 Vol. 4 No. 4 (2015): Vol 4 No 4 Agustus 2015 Vol. 4 No. 3 (2015): Vol 4 No 3 Juni 2015 Vol. 4 No. 2 (2015): Vol 4 No 2 April 2015 Vol. 4 No. 1 (2015): Vol 4 No 1 Februari 2015 Vol. 3 No. 6 (2014): Vol 3 No 6 Desember 2014 Vol. 3 No. 5 (2014): Vol 3 No 5 Oktober 2014 Vol. 3 No. 4 (2014): Vol 3 No 4 Agustus 2014 Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014 Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014 Vol. 3 No. 1 (2014): Vol 3 No 1 Februari 2014 Vol. 2 No. 6 (2013): Vol 2 No 6 Desember 2013 Vol. 2 No. 5 (2013): Vol 2 No 5 Oktober 2013 Vol. 2 No. 4 (2013): Vol 2 No 4 Agustus 2013 Vol. 2 No. 3 (2013): Vol 2 No 3 Juni 2013 Vol. 2 No. 2 (2013): Vol 2 No 2 April 2013 Vol. 2 No. 1 (2013): Vol 2 No 1 Februari 2013 Vol. 1 No. 6 (2012): Vol 1 No 6, Desember 2012 Vol. 1 No. 5 (2012): Vol 1 No 5, Oktober 2012 Vol. 1 No. 4 (2012): Vol 1 No 4, Agustus 2012 Vol. 1 No. 3 (2012): Vol 1 No 3, Juni 2012 Vol. 1 No. 2 (2012): Vol 1 No 2, April 2012 Vol. 1 No. 1 (2012): Vol 1 No 1, Februari 2012 More Issue