Articles
871 Documents
Fraktur Le Fort II disertai fraktur basis kranii (laporan kasus): Fracture of Le Fort II followed by fracture of cranial base (case report)
Abul Fauzi;
Netty N. Kawulusan
Makassar Dental Journal Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (463.647 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v7i2.170
Fraktur Le Fort II merupakan fraktur midfacial yang kadang diikuti oleh fraktur basis kranii. Keadaan ini menimbulkan kelainan neurologi. Penanganannya meliputi perawatan kelainan neurologi yang bersifat darurat dan perawatan definitif frakturnya. Tujuan dari penanganan kasus ini adalah oklusi yang merupakan prioritas pada perawatan definitif fraktur Le Fort II. Pada kasus ini, maloklusi yang terjadi pascaoperasi diatasi dengan selective grinding.
Identifikasi bakteri pada saluran akar terbuka dengan periodontitis apikalis: Identification of bacteria at opened root canal compromised with periodontitis apikalis
Irene E. Rieuwpassa
Makassar Dental Journal Vol. 7 No. 2 (2018): Vol 7 No 2 Agustus 2018
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (413.77 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v7i2.171
Periodontitis apikalis merupakan penyakit keradangan gigi yang sering dijumpai pada populasi penderita karies gigi yang tidak dirawat. Bakteri penyebab karies menginvasi pulpa, menginfeksi pada pulpa dan saluran akar, sehingga mengakibatkan gigi nekrosis. Perluasan radang ke pulpa dan saluran akar gigi dapat dimodifikasi oleh kemampuan patogenik dari plak atau faktor resistensi host. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola pemetaan kuman pada saluran akar dengan pulpa terbuka pada pasien periodontitis apikalis. Sampel diperoleh dari pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Hasanuddin dan dilakukan identifikasi kuman pada Laboratorium Biologi Molekuler dan Imunologi Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Dari 161 sampel distribusi kuman Porphyromonas gingivalis (52), Streptococcus (47), Actinobacillus actinomycetemcomitans (31), Pseudomonas (9), Staphylococcus (11), Klebsiela pneumonia (5), Escherichia colli (2), Alkaligines fascialis (2), Candida albicans, dan Enterobacter aerogenus (2). Disimpulkan bahwa bakteri Gram-negatif mendominasi flora yang dikultur dari sampel saluran akar terbuka dengan periodontitis apikalis.
Aplikasi postur yang ergonomi pada dokter gigi selama perawatan klinis di kota Makassar
Sarwo Edy;
Rasmidar Samad
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (402.723 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i2.172
Ergonomi adalah upaya menciptakan sistem kerja yang lebih sehat, aman dan nyaman. Dokter gigi harus memahami tujuan mempelajari ergonomi di tempat praktik untuk menghindari risiko bahaya kerja. Postur tubuh yang ergonomi merupakan hal yang paling sering dihubungkan dengan faktor risiko bahaya kerja. Ada suatu zona pergerakan netral untuk pergerakan yang tidak memerlukan kekuatan otot yang berlebih atau menyebabkan ketidaknyamanan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif. Dari populasi dokter gigi umum yang terdaftar sebagai anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) cabang Kota Makassar sebanyak 258 orang, didapatkan sampel sebanyak 100 orang, sesuai Gay dan Diehl dengan antisipasi drop out 20%. Pada penelitian ini didapatkan postur tubuh ergonomi yang paling sering diabaikan oleh respoden adalah memposisikan kaki dan punggung, sebanyak 27 respoden (27%). Penempatan pedal drive yang berdekatan dengan kaki merupakan postur tubuh ergonomi yang paling jarang diabaikan, sebanyak 9 responden (9%). Terlihat bahwa reponden dengan klasifikasi baik merupakan yang paling tinggi sebanyak 73 respoden (73%), serta klasifikasi sangat baik sebanyak 24 respoden (24%) dan klasifikasi cukup sebanyak 3 respoden (3%). Disimpulkan bahwa dokter gigi di Kota Makassar harus memperhatikan postur tubuhnya agar lebihergonomi saat melakukan perawatan agar terhindar dari bahaya kerja.
Low density lipoprotein sebagai faktor prediktor terhadap penurunan densitas mineral tulang pada osteoporosis
Sitti Rafiah;
Irene Edith Rieuwpassa;
Uleng Bahrun;
M. Iqbal Basri
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (294.004 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i2.173
Osteoporosis merupakan penyakit degeneratif metabolik yang ditandai dengan pengurangan massa tulang dan berisiko terjadi fraktur sehingga mengakibatkan kehilangan kemandirian dan mobilitas. Insiden osteoporosis meningkat sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup. Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk mengetahui peranan LDL terhadap penurunan densitas mineral tulang sehingga diharapkan LDL yang merupakan uji laboratorium sederhana dapat digunakan sebagai penanda untuk memprediksi penurunan densitas mineral tulang. Metode yang digunakan untuk menilai penurunan densitas mineral tulang adalah dengan menggunakan dual energy x-ray absorptiometry (DEXA), sedang pengukuran LDL dengan metode fotometri menggunakan Pentra 400. Hiperkolestronemia telah dikaitkan dengan penurunan densitas mineral tulang. Tingginya kadar kolesterol LDL dapat menyebabkan osteoporosis, dengan aktifnya suatu molekul receptor activator of nuclear faktor kappa β ligan (RANKL) yang dikeluarkan oleh sel imun tubuh. Hasilnya menunjukkan bahwa kolesterol LDL yang tinggi dapat meningkatkan aktivitas selular dalam kehilangan massa tulang yang terlihat pada osteoporosis. Produk oksidasi LDL (oxLDL) mempunyai efek toksik terhadap osteoblas dengan menyebabkan apoptosis osteoblas dan menghambat diferensiasi preosteoblas yang mengakibatkan berkurangnya mineralisasi tulang. Hal Ini menunjukan adanya hubungan antara lipid dan metabolisma tulang. Disimpulkan bahwa LDL akan mengaktivasi pembentukan, fungsi dan diferensiasi osteoklas yang terlibat dalam remodeling tulang penyebab penurunan densitas mineral tulang pada osteoporosis.
Metode pengelolaan tingkah laku secara nonfarmakologi pada perawatan gigi anak di RSGM Unhas
Adam Malik Hamudeng;
Tri Aminah Saptiana
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (288.987 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i2.174
Rasa takut dan cemas dapat mempengaruhi tingkah laku dan tingkat kooperatif anak.Hal ini biasanya disebabkan oleh pengalaman dan persepsi anak yang tidak menyenangkan pada perawatan gigi dan mulut.Pengelolaan tingkah laku perlu dilakukan untuk membangun komunikasi yang efektif, mengurangi rasa takut dan kecemasan pasien, serta membangun hubungan saling percaya dengan anak sehingga anak menjadi kooperatif dan dokter gigi dapat memberikan perawatan gigi yang berkualitas dan mempromosikan dalam diri anak sikap positif terhadap perawatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran metode pengelolaan tingkah laku anak secara nonfarmakologi pada perawatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh mahasiswa kepaniteraan klinik di bagian IKGA RSGMP Unhas. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif.Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2012. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 50 mahasiswa kepaniteraan klinik, ada 20 orang yang tidak menggunakan metode pengelolaan tingkah laku selama melakukan perawatan dan 30 orang lainnya yang menggunakan metode pengelolaan tingkah laku selama melakukan perawatan. Metode pengelolaan tingkah laku yang paling banyak dilakukan oleh mahasiswa kepaniteraan yaitu positive reinforcement social.
Pembuatan gigitiruan sebagian lepasan dengan penyulit torus palatina
Idham .;
Bahruddin Thalib
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (473.404 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i2.175
Torus palatina merupakan suatu eksostosis jinak pada palatum durum sepanjang sutura palatal yang melibatkan prosesus maksila dan palatina, pertumbuhannya sangat lambat dan dianggap sebagai gambaran anatomi normal. Torus palatina adalah tulang cancellous yang ditutupi oleh tulang kompak dan dilapisi dengan lapisan tipis mukoperiousteum, dapat meluas anteroposterior mencapai ujung papila insisivus dan tepi posterior palatum durum. Penatalaksanaan torus palatina saat membuat gigitiruan sebagian melibatkan pembedahan torus atau konstruksi window pada gigitiruan. Pembedahan torus dapat menyebabkan beberapa komplikasi, akan tetapi torus palatina dapat mempersulit penggunaan gigitiruan rahang atas sehingga pembuatan gigitiruan lepasan menjadi sulit. Dalam kasus ini dilaporkan mengenai pembuatan gigitiruan lepasan sebagian dengan torus palatina pada wanita usia 43 tahun dengan keluhan utama gigitiruan atasnya longgar sehingga minta dibuatkan gigitiruan baru. Pasien dilihat pada hari selanjutnya dan merasa nyaman.
Mengatasi akibat pemakaian gigitiruan lama dengan pencetakan teknik windowing
Siwan .;
Henni Koesmaningati
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1000.054 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i2.176
Pembuatan gigitiruan penuh pada pasien dengan mukosa flabby menjadi tantangan tersendiri. Bila kurang tepat mereproduksi mukosa pendukung yang flabby ini, maka akan menyebabkan ketidakstabilan pada gigitiruan penuhnya. Cara mengatasi adanya mukosa flabby ini, beberapa literatur membagi dalam tiga cara, yaitu non bedah, bedah dan gigitiruan dukungan implan. Perawatan secara non bedah merupakan alternatif pertama. Pemasangan implan bukan tanpa risiko, perlu dipertimbangkan berkurangnya volume tulang alveolar. Cara bedah merupakan pilihan terakhir bila cara non bedah tidak dapat mengatasinya. Dilaporkan seorang wanita berumur 59 tahun datang ke klinik Prostodonsia dengan keluhan utama gigitiruan penuh atas longgar. Pemeriksaan intraoral terlihat mukosa yang flabby pada anterior atas yang meluas dari regio kaninus ke kaninus. Pada laporan kasus ini akan dijelaskan salah satu cara non bedah yaitu dengan memodifikasi teknik pencetakan. Teknik ini menggunakan sendok cetak perorangan yang dibuatkan window di daerah flabby. Daerah pendukung non-flabby dicetak dengan bahan zinc oxide eugenol, kemudian daerah flabby dicetak dengan bahan cetak polyvynil siloxane yang sering tersedia dalam praktek kedokteran gigi. Hasil yang diperoleh adalah teknik ini menyebabkan distorsi seminimal mungkin pada jaringan flabby, sehingga didapatkan model kerja yang baik untuk menghasilkan gigitiruan penuh dengan kestabilan optimal.
In office bleaching pada kasus diskolorasi ekstrinsik
Wahyuniwati .;
Juni Jekti Nugroho
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 2 (2014): Vol 3 No 2 April 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (268.596 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i2.177
Keinginan untuk memiliki gigi putih dan senyum yang lebih menarik telah menjadi kebutuhan estetika yang penting bagi banyak pasien saat ini. Pemutihan gigi telah menjadi perawatan kosmetik yang populer di kalangan pasien yang ingin meningkatkan penampilan estetika mereka. Selain itu, penggunaan bahan pemutih gigi telah berkembang pesat di kalangan klinisi yang terutama disebabkan oleh minimnya waktu yang dibutuhkan dalam prosedur pemutihan gigi. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk menyajikan protokol in office bleaching. Makalah ini melaporkan seorang wanita usia 35 tahun, merasa tidak puas dengan warna geligi depannya dan menginginkan perawatan pemutihan gigi. Hidrogen peroksida gel 40% diaplikasikan pada geligi anterior atas dengan mengikuti petunjuk pabrik. Setelah prosedur pemutihan, hasil yang memuaskan dapat dicapai. Disimpulkan bahwa pemutihan gigi adalah perawatan non invasif yang dapat memberikan hasil estetika yang memuaskan.
Obat kumur Nigella sativa sebagai terapi alternatif pada gingivitis
Westy Agrawanty;
Ernie Maduratna Setiawatie
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (272.207 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i3.178
Gingivitis merupakan suatu penyakit inflamasi di gingiva yang mempengaruhi jaringan periodonsium, tetapi tidak menyebabkan kehilangan perlekatan jaringan. Etiologi utamanya adalah bakteri plak sehingga tujuan utama terapi gingivitis adalah untuk mengurangi atau menghilangkan bakteri. Pada kasus ini, obat kumur dari ekstrak biji Nigella sativa digunakan sebagai terapi tambahan setelah perawatan mekanis (scaling dan root planing). Nigella sativa memiliki aktivitas antioksidan dan antimikroba. Seorang pasien wanita berumur 45 tahun dengan keluhan utama nyeri pada gusi depan, sering berdarah jika menyikat gigi dan ada pembengkakan khususnya di gusi depan rahang atas. Pasien tidak memiliki riwayat alergi, penyakit sistemik, dan riwayat penyakit dalam keluarga yang berkaitan. Dari pemeriksaan klinis, tampak gingiva anterior kemerahan dan terdapat inflamasi terutama di daerah margin gingiva rahang atas, dengan GI skor 2 dan BOP grade 2, dengan poket gingiva 4-5 mm. Setelah 4 minggu penggunaan obat kumur dua kali sehari, gingivitis hilang. Tekstur permukaan dan warna gingiva kembali normal, dan kedalaman poket hilang. Disimpulkan bahwa aktivitas antioksidan dan antimikroba obat kumur Nigella sativa efektif menghilangkan gingivitis.
Dampak psikologis dan kualitas hidup anak usia 13-15 tahun yang menderita supernumerary teeth dan agenesis di Kota Makassar
Asmawati .;
Muhammad Kamil Nur
Makassar Dental Journal Vol. 3 No. 3 (2014): Vol 3 No 3 Juni 2014
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (171.517 KB)
|
DOI: 10.35856/mdj.v3i3.179
Kesehatan dalam kaitannya kualitas hidup adalah konsep multi dimensi yang merujuk pada keadaan fisik pasien, psikologis, dan kesejahteraan sosial. Psikologis sangat erat kaitannya dengan kualitas hidup karena berhubungan dengan kepuasan kebutuhan manusia serta mengacu pada kemampuan pasien untuk dapat menikmati aktivitas kehidupan yang normal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan dampak psikologis dan kualitas hidup anak usia 13-15 tahun yang menderita supernumerary teeth dan agenesis di Kota Makassar. Dampak psikologis dan kualitas hidup dapat dideteksi dengan menggunakan instrumen oral hygiene impact profile-14 (OHIP-14). Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan cross sectional study observasional deskriptif dengan menggunakan metode purposive sampling sehingga sampel yang digunakan ialah anak yang menderita supernumerary teeth dan agenesis yang ada di 14 sekolah menengah pertama di Makassar. Jumlah sampel yang ada yaitu 22 orang yang menderita supernumerary teeth dan 2 orang yang menderita agenesis. Dari hasil penelitian diperoleh nilai rerata OHIP-14 untuk supernumerary teeth 6,23±5,511 dan agenesis 1,50±0,707, yang menunjukkan status kualitas hidupnya baik. Sedangkan nilai α > 0,05 sehingga tidak ada dampak dan pengaruh yang signifikan antara Supernumerary teeth dan agenesis terhadap psikologis dan kualitas hidup anak usia 13-15 tahun di Kota Makassar.