cover
Contact Name
Eldha Sampepana
Contact Email
editorjrti@gmail.com
Phone
+625417771364
Journal Mail Official
editorjrti@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT. Haryono/ Banggeris No.1, Samarinda 75124 Tel.Fax: (0541) 7771364/ 745431 Whatsapp : 0821 5541 4969
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Riset Teknologi Industri
ISSN : 19786891     EISSN : 25415905     DOI : 10.26578
Jurnal Riset Teknologi Industri (JRTI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat informasi bidang riset Teknologi Industri berupa hasil riset dan Ulasan Ilmiah bidang Perekayasaan Mesin, Pangan, Kimia Industri, Lingkungan dan Teknik Industri. Akreditasi Kemenristekdikti Akreditasi S2 Vol.10 No.1 Tahun 2016 samapi dengan Vol.14 No.2 tahun 2020. p-ISSN : 1978-6891, e-ISSN : 2541-5905.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 10 No 1 Juni 2016" : 10 Documents clear
Evaluasi Sifat Fisik, Kimia serta Penerimaan Organoleptik Minuman Serbuk Instan Berbasis Tepung Pisang Matang sebagai Alternatif Makanan Sarapan Achmat Sarifudin; Riyanti Ekafitri; Diki Nanang Surahman; Novita Indrianti
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12777.884 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1730

Abstract

Ripe banana flour is potential to be used as snack food or breakfast meals ingredients. This research was aimed to evaluate the instaneous ready to drink ripe banana flour based product including its physcochemical properties and also its sensory acceptance. The product was processed according these following steps: ripe banana flour preparation, banana flakes processing and lastly mixing all ingredients inwhich 30% of ingredients is mix of ripe banana flour and banana flakes with ratio 1:5, 1:2 and 1:1. Result showed that lower banana flake ratio used in the formulation tended to lower the protein and fat content with amount of 1,24-1,77% and 1,15-1,65%, respectively, meanwhile the fiber content increased with range of 0,32-1,30%. This product can be an alternative as breakfast meal with calory value range from 381,71-384,82 kkal/100 gr. The less banana flake used in formulation the less bulk density resulted (0,7-0,73 gr/ml). During short period storage the viscosity of the products were increased with range about 15,45-18,04 cp. Instaneous ready to drink ripe banana flour obtained moderate acceptance from panelist. The best product was a formula which used mix of ripe banana flour and banana flakes 1:2, with the highest overall revenue value (4.87).  As an alternative snack or breakfast meals, this formula gives energy of 161.62 kcal per 42 gram product.ABSTRAKPada penelitian ini dibuat minuman serbuk instan berbasis tepung pisang matang sebagai makanan selingan atau alternatif makanan sarapan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisik, kimia serta penerimaan organoleptik minuman serbuk instan berbasis tepung pisang matang. Produk dibuat dengan tahapan : pembuatan tepung pisang matang, flake pisang, dan minuman serbuk berbasis tepung pisang matang yang 30% formulanya berupa campuran tepung pisang matang dan flake pisang. Perlakuan perbandingan tepung pisang dengan flake pisang 1:5, 1:2, dan 1:1 dianalisa dengan analisa yang meliputi analisa sifat kimia, fisik, dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin sedikit penggunaan flake pisang, kadar protein (1,24-1,77%) dan lemak semakin menurun (1,15-1,65%), sedangkan kandungan serat semakin meningkat (0,32-1,30%). Produk ini dapat menjadi alternatif makanan sarapan dengan nilai kalori yang tidak kurang dari 300 kkal (381,71-384,82 kkal/100 gr). Semakin sedikit penggunaan flake pisang nilai densitas kamba semakin menurun (0,7-0,73 gr/ml) dan viskositas setelah dibiarkan pada suhu ruang 25oC semakin meningkat (15,45-18,04 cp). Minuman sebuk instan ini diterima dengan nilai penerimaan keseluruhan berkisar antara 4,50-4,87 yang artinya netral dan agak disukai. Produk terbaik adalah produk dengan nilai penerimaan over all tertinggi (4,87) yaitu formula dengan campuran tepung pisang dan flake pisang 1:2. Sebagai makanan selingan atau alternatif makanan sarapan, formula ini memberikan energi sebesar 161,62 Kkal per 42 gram produk. Kata kunci : tepung pisang, minuman serbuk instan, makanan sarapan
Analisis Material dan Energi pada Produksi Bio-Briket Arang Tongkol Jagung Wawan Agustina
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7225.286 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1753

Abstract

Production process to yield amount of energy is not quit of use other type of energy, but also in course of corn cob charcoal bio briquette production. Amount of material and energy required in the production process need to be analyzed or reviewed. The purposes of this research is to know the amount of material and energi required to yield one set of functional unit of material ( kg) and energi ( MJ) from bio briquette corn cob charcoal product.  Method used at this research is by studying amount of material and energi used in each step of charcoal corn cob bio briquette production process. Production process stages include carbonization process, charcoal milling (flouring), an adhesives making, mixing charcoal powder with an adhesive and briquette molding. Result of the research show the rendement of charcoal to raw material of corn cob is equal to 19%.  At production process had loss material of equal to 60.61%. The biggest  material loss is on carbon making process is equal to 38.18%. To yield 1 (one) kg of charcoal bio briquette needed 4.96 kg of corn cob, 0.075 kg of tapioca, and 0.68 kg of water. The conversion energi from raw material to product have loss the material of equal to 74.14%. To yield 1 MJ of energi from charcoal bio briquette needed  4.17 MJ of total energy (energy from raw material and process) and 0.30 MJ energi process. ABSTRAKProses produksi untuk menghasilkan suatu energi tidak terlepas dari penggunaan energi lainnya, tidak terkecuali dalam proses produksi biobriket arang tongkol jagung. Jumlah dari material dan energi yang diperlukan dalam proses produksi tersebut perlu dianalisis atau dikaji. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui jumlah material dan energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu satuan unit fungsional material (kg) dan energi (MJ) dari produk biobriket arang tongkol jagung. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan cara mengkaji jumlah material dan energi yang masuk atau yang dibutuhkan pada setiap tahapan proses pembuatan biobriket arang tongkol jagung. Tahapan proses tersebut meliputi karbonisasi, penggilingan arang, pembuatan bahan perekat, pencampuran serbuk arang dengan bahan perekat dan pencetakan briket. Hasil penelitian menunjukkan rendemen arang terhadap bahan baku tongkol jagung adalah sebesar 19%. Pada proses produksi terjadi penyusutan material sebesar 60,61%, penyusutan material terbesar terjadi pada proses karbonisasi yaitu sebesar 38,18%. Untuk menghasilkan 1 kg biobriket arang tongkol jagung diperlukan 4,96 kg tongkol jagung, 0,075 kg tapioka, dan 0,68 kg air. Pada konversi energi dari bahan baku terhadap produk yang dihasilkan terjadi kehilangan sebesar 74,14%. Untuk menghasilkan 1 MJ energi dari biobriket arang tongkol jagung diperlukan 4,17 MJ energi total (energi bahan baku dan proses) dan diperlukan 0,30 MJ energi proses. Kata kunci : Energi, Bio-briket, arang, tongkol jagung, analisis 
Pengaruh Suhu Penyimpanan terhadap Organoleptik, Derajat Keasaman dan Pertumbuhan Bakteri Coliform pada Susu Pasteurisasi Agustina Arianita Cahyaningtyas; Wiwik Pudjiastuti; Ilham Ramdhan
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11158.895 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1732

Abstract

One attempt to reduce the number of pathogenic microbes in milk is through the pasteurization process. This research aims to determine the effect of storage temperature on the organoleptic, acidity (pH) and growth of coliform bacteria in pasteurized milk. Pasteurized milk is stored at the varies of temperature  4°C (observed for 14 days), 10°C-15°C (observed for 14 days) and 25°C-27°C (observed for 22 hours), as well as also conducted an initial analysis pasteurized milk. The parameters were observed among other organoleptic (smell, taste, color, texture), pH and total coliform bacteria. Testing acidity using pH paper, while the growth of coliform bacteria testing done using Total Plate Count method based on ISO 2897 in 2008. The results of this study indicate that storage at 4°C for 14 days, organoleptic pasteurized milk is still good until the day ke- 8, pH progressively decreases, and the growth of coliform bacteria obtained the highest score of 3100x101 CFU / ml. Storage at 10°C-15°C for 14 days, organoleptic pasteurized milk is still good until the 6th day, the pH progressively decreases, and the growth of coliform bacteria obtained the highest score of 5729x101 CFU / ml. Storage at 25°C-27°C for 22 days, organoleptic pasteurized milk is still good until the 9th, pH progressively decreases, and the growth of coliform bacteria obtained the highest score of 4.3 x106 CFU / ml.ABSTRAKSalah satu usaha untuk mengurangi jumlah mikroba patogen pada susu adalah melalui proses pasteurisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu penyimpanan terhadap organoleptik, derajat keasaman (pH) dan pertumbuhan bakteri Coliform pada susu pasteurisasi. Susu pasteurisasi disimpan pada suhu yang bervariasi yaitu suhu 4°C (diamati selama 14 hari), suhu 10°C-15°C (diamati selama 14 hari) dan suhu 25°C-27°C (diamati selama 22 jam), serta dilakukan pula analisa awal susu pasteurisasi. Parameter yang diamati antara lain organoleptik (bau, rasa, warna, tekstur), pH dan jumlah bakteri Coliform. Pengujian derajat keasaman menggunakan kertas pH, sedangkan pengujian pertumbuhan bakteri Coliform dilakukan dengan menggunakan metode Total Plate Count berdasarkan SNI 2897 Tahun 2008. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu 4°C selama 14 hari, organoleptik susu pasteurisasi masih baik sampai dengan hari ke-8, pH semakin lama semakin menurun, dan pertumbuhan bakteri Coliform didapatkan nilai tertinggi sebesar 3100x101 Cfu/ml. Penyimpanan pada suhu 10°C-15°C selama 14 hari, organoleptik susu pasteurisasi masih baik sampai hari ke-6, pH semakin lama semakin menurun, dan pertumbuhan bakteri Coliform didapatkan nilai tertinggi sebesar 5729x101 Cfu/ml. Penyimpanan pada suhu 25°C-27°C selama 22 hari, organoleptik susu pasteurisasi masih baik sampai jam ke-9, pH semakin lama semakin menurun, dan pertumbuhan bakteri Coliform didapatkan nilai tertinggi sebesar 4,3 x106 Cfu/ml.Kata kunci : bakteri coliform, derajat keasaman, suhu penyimpanan, organoleptik, susu pasteurisasi
Pemanfaatan Stearin Kelapa Sawit sebagai Edible Coating Buah Jeruk Fauziati Fauziati; Yuni Adiningsih; Ageng Priatni
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.111 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1754

Abstract

Edible coatings represent preservation techniques also function as a packaging material that is applied directly to food items including fruits. Its use is intended to extend the shelf life and improve the quality of food products and is biodegradable materials that are more environmentally friendly. Research Stearin use as edible coating on citrus fruits have been done. The use of stearin used was 0%, 0.1% and 0.2% combined with gelatin at a fixed amount that is 2 g. Edible coatings applied to citrus fruit which gained the best results are stearin 0.1% with test results shrinkage lowest weight on day 12 amounted to 5.598% for the treatment of immersion and can retain the vitamin C content of 40.3 mg / 100 g and can maintain antioksioksidan to 12 days with the antioxidant content of 74.7%.ABSTRAKEdible coating merupakan teknik pengawetan sekaligus berfungsi sebagai bahan pengemasan yang diaplikasikan secara langsung pada bahan pangan termasuk buah buahan. Penggunaannya dimaksudkan untuk memperpanjang masa simpan dan memperbaiki kualitas produk pangan serta merupakan bahan yang biodegradable sehingga lebih ramah lingkungan. Penelitian penggunaan Stearin kelapa sawit sebagai edible coating pada buah jeruk telah dilakukan. Penggunaan stearin yang digunakan adalah 0%, 0.1% dan 0.2% yang dikombinasikan dengan gelatin dengan jumlah tetap yaitu 2 g. Edible coating diaplikasikan ke buah jeruk dimana diperoleh hasil terbaik yaitu stearin 0.1% dengan hasil uji susut bobot terendah pada hari ke 12 sebesar 5.598% untuk perlakuan celup dan dapat mempertahankan kandungan vitamin C sebesar 40.3 mg/100 gr serta dapat mempertahankan antioksioksidan sampai 12 hari dengan kandungan antioksidan 74.7%. Kata kunci : Stearin, Edible Coating, buah jeruk 
Pemanfaatan Limbah Padat Palm Kernel Cake (PKC) sebagai Sumber Karbon Aktif dengan Proses Kimia Haspiadi Haspiadi; Saibun Sitorus
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11296.895 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1738

Abstract

Solid waste of Palm kernel cake (PKC) is a by product of oil extraction from palm nut pose a serious environmental problem in some factories of Palm Kernel Oil (PKO. Thererfore the research about utilization of palm kernel cake solid waste (PKC) as a source of activated carbon was performed. From this research is to know quality of activated carbon using palm kernel cake as a row material to compare with the SNI 06-3730-1995. The process was carried out is chemical activation method with in laboratory scale using two types activator, which is phosphoric acid and potassium hydroxide at six different concentration 2%, 4%, 6%, 8%, 10% and 12% respectively. Whereas, carbonization was held at temperature of 400oC during 120 minutes. The result indicated that the quality of activated carbon according to key parameters using  the lowest concentration of  activator fulfilling with SNI 06-3730-1995 was produced by H3PO4 6%  with iodine adsorption capacity 769 mg/g. Meanwhile for activator KOH 10% according to key parameters using  the lowest concentration of  activator fulfilling with SNI 06-3730-1995 was produced by with condition of iodine adsorption capacity 778 mg/gABSTAKLimbah padat palm kernel cake (PKC) yang dihasilkan dari proses ekstraksi kernel merupakan permasalahan lingkungan yang serius dibeberapa industri yang mengolah Palm Kernel Oil (PKO). Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk memanfaatkan limbah padat Palm Kernel Cake (PKC) sebagai sumber karbon aktif. Diharapkan dari penelitian ini dapat diketahui mutu karbon aktif yang dihasilkan dibandingkan dengan SNI 06 3730-1995. Proses pengolahan yang dilakukan secara kimia dalam skala laboratorium, menggunakan dua jenis aktivator yaitu H3PO4 dan KOH dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, 10% dan 12%. Karbonisasi dilakukan pada suhu 400 oC selama 120 menit. Hasil uji mutu karbon aktif yang dihasilkan berdasarkan parameter kunci dengan pertimbangan penggunaan bahan kimia dengan konsentrasi aktivator terkecil menunjukkan bahwa pengggunaan aktivator 6% H3PO4  memiliki daya serap terhadap iod sebesar (I2) 769 mg/g, bila dibandingkan dengan SNI 06 3730-1995 telah dapat memenuhi syarat mutu. Sedangkan penggunaan aktivator KOH 10%  dengan pertimbangan penggunaan bahan kimia dengan konsentrasi aktivator terkecil memiliki daya serap terhadap iod sebesar 778 mg/g. Kata kunci :  asam fosfat, kalium hidroksida, karbon aktif, limbah padat, daya serap iod, palm kernel cake
Rancang Bangun Alat Olahan Minyak Kelapa Jantri Sirait; Sulharman Sulharman
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7523.608 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1755

Abstract

Has done design tool is a tool of refined coconut oil coconut grater, squeezer coconut milk and coconut oil heating, with the aim to streamline the time of making coconut oil and coconut oil increase production capacity. The research method consists of several stages, among others; image creation tool, procurement of materials research, cutting the material - the material framework of tools and performance test tools. The parameters observed during the performance test tools is time grated coconut, coconut milk bleeder capacity, the capacity of the boiler and the heating time of coconut oil. The design tool consists of three parts, namely a tool shaved coconut, coconut milk wringer and coconut milk heating devices. Materials used for the framework of such tools include iron UNP 6 meters long, 7.5 cm wide, 4 mm thick, while the motor uses an electric motor 0.25 HP 1430 rpm and to dampen the rotation electric motor rotation used gearbox with a ratio of round 1 : 60. the results of the design ie the time required for coconut menyerut average of 297 seconds, coconut milk wringer capacity of 5 kg of processes and using gauze pads to filter coconut pulp, as well as the heating process takes ± 2 hours with a capacity of 80 kg , The benefits of coconut oil refined tools are stripping time or split brief coconut average - average 7 seconds and coconut shell can be used as craft materials, processes extortion coconut milk quickly so the production capacity increased and the stirring process coconut oil mechanically.ABSTRAKTelah dilakukan rancang bangun alat olahan minyak kelapa yaitu alat pemarut kelapa, pemeras santan kelapa dan pemanas minyak kelapa, dengan tujuan untuk mengefisiensikan waktu pembuatan minyak kelapa serta meningkatkan kapasitas produksi minyak kelapa. Metode penelitian terdiri dari beberapa tahapan antara lain; pembuatan gambar alat, pengadaan bahan-bahan penelitian, pemotongan bahan - bahan rangka alat dan uji unjuk kerja alat. Parameter yang diamati pada saat uji unjuk kerja alat adalah waktu parut kelapa, kapasitas pemeras santan kelapa, kapasitas tungku pemanas serta waktu pemanasan minyak kelapa. Rancangan alat terdiri dari tiga bagian yaitu alat penyerut kelapa, alat pemeras santan kelapa dan alat pemanas santan kelapa. Bahan yang dipergunakan untuk rangka alat tersebut  yaitu besi UNP panjang 6 meter, lebar 7,5 cm, tebal 4 mm, sedangkan untuk motor penggerak menggunakan motor listrik 0,25 HP 1430 rpm dan untuk meredam putaran putaran motor listrik dipergunakan gearbox  dengan perbandingan putaran 1 : 60. Hasil dari rancangan tersebut yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menyerut kelapa rata-rata 297 detik, kapasitas alat pemeras santan kelapa 5 kg sekali proses dan menggunakan kain kassa untuk menyaring ampas kelapa, serta Proses pemanasan membutuhkan waktu ± 2 jam dengan kapasitas 80 kg. Adapun keunggulan alat olahan minyak kelapa ini adalah waktu pengupasan atau belah kelapa singkat rata – rata 7 detik dan tempurung kelapa dapat digunakan sebagai bahan kerajinan, proses pemerasan santan kelapa cepat sehingga kapasitas produksi meningkat dan proses pengadukan minyak kelapa secara mekanis. Kata kunci : penyerut, pemeras, pemanas,minyak kelapa,olahan minyak kelapa.
Pemanfaatan Ekstrak Bunga Rosella sebagai Bahan Pewarna pada Produk Kacang Goyang Fauziati Fauziati; Eldha Sampepana
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.212 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.2072

Abstract

The use of synthetic dyes in food products are not good for health and the environment because there are carcinogenic materials need substitutes namely natural coloring. Rosella flower is one of the natural dyes that can be used on the peanut rocking product with the purpose to find out the color of the resulting component chemical compounds and sugar levels with the levels of acidity (pH) that is 1, 2, 3, 4, 5, 7 fixed and variable solution of extract Flowers Rosella (25 gr of powdered Flower 200 ml: Rosella water) and sugar solution (1 kg sugar : 1 Lt. water). The results showed that levels of acidity (pH) 1 and 2 have purple color; pH 3 pink; pH 4 pink faded; pH 5 and pH 7 is yellow and brownish pea shake products sugar levels generated 3.36% smaller compared to peanut products from the company amounting to rocking 3,38%. While the components of the chemical compound extract of flowers of rosella on the rocking nut products serve as food dyes also have efficacy as a medicine is Xhantosine, 5,5,7,7'- Tetrabromoindigo, Oleic acid, linoleic acid, chemical gamma-tecopherol, Vitamin E or alpha-tecopherol, Squalene.ABSTRAKPenggunaan pewarna sintetis pada produk makanan tidak baik bagi kesehatan dan lingkungan karena bersifat karsinogenik sehinga perlu bahan substitusi yaitu pewarna alami. Bunga Rosella adalah salah satu bahan pewarna alami yang dapat digunakan pada produk kacang goyang dengan tujuan untuk mengetahui warna yang dihasilkan, komponen senyawa kimia dan kadar gula dengan variasi nilai keasaman (pH) yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 7 dan variabel tetap larutan ekstrak Bunga Rosella (25 gr bubuk Bunga Rosella : 200 ml air)  dan larutan gula (1 kg gula : 1 lt air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kadar keasaman (pH) 1 dan 2 memiliki warna ungu; pH 3 berwarna merah muda; pH 4 berwarna merah muda pudar; pH 5 dan pH 7 berwarna kuning kecoklatan dan kadar gula produk kacang goyang yang dihasilkan 3,36% lebih kecil dibandingkan dengan produk kacang goyang dari perusahaan sebesar 3,38%. Sedangkan komponen senyawa kimia ekstrak bunga rosella pada produk kacang goyang yang berfungsi sebagai pewarna makanan juga mempunyai khasiat sebagai obat adalah Xhantosine, 5,5’,7,7’-Tetrabromoindigo, Oleic acid, kimia linoleic acid, gamma-tecopherol, Vitamin E atau alpha-tecopherol, Squalene.Ekstrak, Rosella, pewarna, kadar keasaman (pH), kacang goyang
Pengaruh Kehalusan Serbuk Kasar Sabut Kelapa “Coarse Coir Dust “ dan Jumlah Serat Sabut Kelapa sebagai Plafon Petrus Patandung
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10097.194 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1740

Abstract

Effect of coarse powder fineness coco "coarse coir dust" and coco fiber as a ceiling for the building materials. The purpose of this study is to determine the effect of coarse powder fineness "coarse coir dust" coco fiber and coco fiber amount to the ceiling with additives constant: gypsum, cement 1000 g and 1000 g, at a pressure of 500 kg/cm2. This study was conducted experiment of making the ceiling is arranged in the form Tabelari and graphs to analyze the descriptive datum as well as through two factors, Factor A = degree of fineness of the coconut husk powder consisting of: A1=10; A2=20; A3=30; and A4=40 mesh, Factor B = number of coco fiber retained celebrated 10 mesh; B1=70; B2=75; B3=80 and B4=85 g. The results showed that the weight of the contents of that 1,51-1,87g/cm³, water absorption and flexural strength 22.98-26.48% 20.18-105.18 kg/cm², the ability sawed and nailed properly, field pieces are mixed evenly, not perforated not split apart, cutting edge straight, flat, not contract, as thick, the sheet surface does not crack, not perforated, except treatment A1B1, A1B2, A1B3 and A4B4 is not cracked, somewhat hollow, 4.9-6.00 mm thick, long irregularities, 0.00 to 0.48%, width 0.00 to 0.45% and the thickness of 0.00-20%. Results of the study was that the best treatment was obtained in treatment that is A2B3, A2B4, A3B3, A3B4, A4B3 which generate strong flexural 100.00-105.18 kg/cm 2can be nailed, saws, water droplets do not occur.ABSTRAKPengaruh kehalusan serbuk kasar sabut kelapa “coarse coir dust“ dan serat sabut kelapa sebagai plafon untuk bahan bangunan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh kehalusan serbuk kasar ”coarse coir dust” serat sabut kelapa dan jumlah serat sabut kelapa  untuk plafon dengan menggunakan bahan tambahan yang konstan: gypsum 1000 g dan semen 1000 g, pada tekanan 500 kg/cm2. Penelitian ini dilakukan percobaan pembuatan plafon yang disusun dalam bentuk tabelari dan grafik dengan menganalisis data secara deskriptif serta melalui 2 faktor. Faktor A = tingkat kehalusan serbuk sabut kelapa yang terdiri dari: A1=10; A2=20; A3=30; dan A4=40 mesh,  Faktor B = jumlah serat sabut kelapa yang tertahan diayakan 10 mesh; B1=70; B2=75; B3=80 dan B4=85 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot isi yaitu 1,51-1,87g/cm³, penyerapan air 22.98-26.48% dan kuat lentur 20.18-105.18 kg/cm², kemampuan digergaji dan dipaku dengan baik, bidang potong yaitu campuran yang merata, tidak berlubang tidak terbelah-belah, tepi potong lurus, rata, tidak mengerut, sama tebalnya, permukaan lembaran tidak retak-retak,tidak berlubang, kecuali perlakuan A1B1, A1B2, A1B3 dan A4B4 yaitu tidak retak-retak, agak berlubang, tebal 4.9-6.00 mm, penyimpangan panjang 0.00-0.48% lebar 0.00-0.45% serta tebal 0.00-20%. Hasil penelitian ternyata bahwa perlakuan yang terbaik diperoleh pada perlakuan yaitu A2B3, A2B4, A3B3, A3B4, A4B3 yang menghasilkan kuat lentur 100.00-105.18 kg/cm2 dapat dipaku, gergaji, tidak terjadi  tetesan air. Kata kunci : plafon, serbuk sabut kelapa, semen, gypsum, kuat tekan
Pengaruh Konsentrasi Naoh dan Laju Alir Gas pada Proses Pemurnian Biogas Hermanto Hermanto; Arba Susanty
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6367.939 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1760

Abstract

Biogas contain a number of other impurities such as hydrogen sulfide  (H2S) and carbon dioxide (CO2). The presence of carbon dioxide can decrease the burning calorie value while hydrogen sulfide is corrosive to many metals. Through modification of gas purification equipment (water scrubber), hydrogen sulfide gas (H2S) is captured by water to formed H2SO4, followed by the purification process with NaOH. The water residue will adsorb using silica gel. In this study, the factors to be studied are the variation of the concentration of NaOH and gas flow rate. The purpose of this study was to determine the influence of NaOH concentration and flow rate of gas in the gas content of CO2, H2S and pH value on biogas produced from domestic wastewater. Results of this studyshowed the ability of modification gas purification equipment to reduce the content of carbon dioxide and hydrogen sulfide of biogas. There are significantdifferences of pH, concentration of CO2 and H2S at the inlet and outlet of the reactor purification of biogas.The treatment bygas flow rate (3,75mL/min) and 3N of NaOH concentration significantly influence the change in pH, the concentration of CO2 and H2S. This treatment can reduce the CO2 content (71,9%),  H2S content  (100%) and pH (3,82).ABSTRAKBiogas mengandung sejumlah gas-gas pengotor lain seperti gas hidrogen sulfida (H2S) dan karbondioksida (CO2). Adanya gas CO2 dapat menurunkan nilai kalori pembakaran sedangkan H2S bersifat korosif bagi berbagai jenis logam.Modifikasi alat pemurnian gas (water scrubber) , gas  H2Sakan ditangkap dengan air membentuk H2SO4, dilanjutkan proses  pemurnian dengan NaOH sedangkan sisa air  diadsorbsi menggunakan silica gel. Pada penelitian ini faktor perlakuan adalah variasi konsentrasi NaOH dan laju alir gas.Sehingga tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi NaOH dan laju alir gas pada reaktor pemurnian biogas terhadap kandungan gas CO2 , H2S dan nilai pH pada biogas.Hasil penelitian menunjukkanbahwa kemampuan modifikasi alat pemurnian gas dapat menurunkan kandungan gas CO2 dan H2S biogas. Perlakuan  laju alir (3,75 mL/min) dan konsentrasi larutan NaOH (3N) berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan pH air, konsentrasi CO2 dan H2S. Perlakuan ini dapat menurunkan kandungan CO2 sebesar 71,9%, kandungan H2S sebesar 100% dan nilai pH 3,82.Kata kunci : Biogas, pH, karbondioksida, hidrogensulfida, NaOH dan laju alir 
Performa Pengeringan Kontinyu dan Terputus Pada Biji Kakao Fermentasi dengan Metode Pengeringan Lapis Tipis Sari Farah Dina; Harry P. Limbong
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 10 No 1 Juni 2016
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8981.647 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v10i1.1752

Abstract

This study aims to determine the performance of a continuous and intermittent sun drying of fermented-cocoa bean by using thin-layer drying method. Continuous drying using a solar dryer finned-flat plate collector type which is operated in two modes drying time, daytime and night time. During the day, the cocoa beans are dried in the drying chamber using hot air generated by the solar collectors. In the nighttime, desiccant (CaCl2) was added to the drying chamber that had been isolated. Open sun drying as intermittent drying of cocoa beans is done only on daytime. The drying process is terminated when equilibrium moisture content has been achieved. The results showed that the continuous drying rate higher than the intermittent drying. Dried-cocoa beans produced from continuous drying showed a lower moisture content (7.34% vs 7.50%), a better physical appearance, but the higher the degree of acidity (pH = 5.93 vs. 6.13). Total fat content and free fatty acids slightly lower than the intermittent sun-drying.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa pengeringan kontinyu dan terputus pada biji kakao fermentasi menggunakan metode pengeringan lapis tipis. Pengeringan kontinyu menggunakan alat pengering surya tipe kolektor pelat datar bersirip yang dioperasikan dalam dua mode pengeringan, waktu siang dan waktu malam. Pada siang hari, biji kakao dikeringkan didalam ruang pengering menggunakan udara panas yang dihasilkan oleh kolektor surya. Pada malam hari desikan (CaCl2) dimasukkan kedalam ruang pengering yang telah diisolasi. Penjemuran langsung biji kakao di matahari sebagai pengeringan terputus dilakukan hanya pada sinag hari. Proses pengeringan dihentikan ketika kondisi keseimbangan kadar air dicapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan kontinyu menghasilkan laju pengeringan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan terputus. Biji kakao yang dihasilkan dari pengeringan kontinyu juga menunjukkan kadar air yang lebih rendah (7.34% vs 7.50%), penampilan fisik yang lebih baik, tetapi derajat keasaman lebih tinggi (pH=5,93 vs 6,13). Kadar lemak total dan asam lemak bebas sedikit lebih rendah dibanding penjemuran langsung. Kata kunci : biji kakao fermentasi, pengeringan kontinyu, pengeringan terputus, performa.

Page 1 of 1 | Total Record : 10