cover
Contact Name
Eldha Sampepana
Contact Email
editorjrti@gmail.com
Phone
+625417771364
Journal Mail Official
editorjrti@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT. Haryono/ Banggeris No.1, Samarinda 75124 Tel.Fax: (0541) 7771364/ 745431 Whatsapp : 0821 5541 4969
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Riset Teknologi Industri
ISSN : 19786891     EISSN : 25415905     DOI : 10.26578
Jurnal Riset Teknologi Industri (JRTI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat informasi bidang riset Teknologi Industri berupa hasil riset dan Ulasan Ilmiah bidang Perekayasaan Mesin, Pangan, Kimia Industri, Lingkungan dan Teknik Industri. Akreditasi Kemenristekdikti Akreditasi S2 Vol.10 No.1 Tahun 2016 samapi dengan Vol.14 No.2 tahun 2020. p-ISSN : 1978-6891, e-ISSN : 2541-5905.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol.12 No.2 Desember 2018" : 11 Documents clear
Pengaruh Berbagai Suhu Pirolisis Asap Cair dari Cangkang Sawit sebagai Bahan Pengumpal Lateks Fauziati Fauziati; Ageng Priatni; Yuni Adiningsih
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.445 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4248

Abstract

Asap cair hasil pembakaran cangkang sawit pada proses pirolisis yang diperoleh pada suhu 3000C- 4000C merupakan asap cair yang terbaik yang dapat digunakan sebagai bahan penggumpal lateks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu pembakaran cangkang sawit yang optimal melalui proses pirolisis ,sehingga dihasilkan asap cair yang dapat digunakan sebagai penggumpal lateks. Asap cair hasil pembakaran secara pirolisis pada suhu 300-4000C menghasilkan senyawa aktif yang mempunyai peranan sebagai bahan penggumpal lateks yaitu senyawa asam asetat, senyawa phenol dan pH rendah sebagai bahan anti bakteri dan jamur pada lateks.Pada suhu tersebut dihasilkan anti bakteri /  anti jamur yaitu E. Colli , Staphilococus aureus dan Salmonella dengan kategori kuat dan sangat  kuat. Pada suhu  300-4000C pH yang dihasilkan sebesar 2,8 dan kadar asam  asetat  yang dihasilkan 50,54% dan phenol yang dihasilkan sebesar 32,59% dimana kedua senyawa kimia ini sangat berpengaruh terhadap penggumpal lateks ,juga berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri .Kelebihan asap cair dibandingakan dengan asam formiat yang biasa digunakan sebagai penggumpal lateks adalah disamping senyawa asam asetat juga mengandung senyawa phenol yang berpengaruh terhadap pH dan anti jamur / bakteri  sedangkan asam formiat hanya memberikan pH rendah dan waktu penggumpalan lateks yang cepat .
Pengaruh Cara Penyimpanan Bahan Baku dan Jenis Pelarut terhadap Karakteristik Ekstrak Protein Ikan Gabus (Channa Striata) Sandika Kurniawan; Andi Noor Asikin; Indrati Kusumaningrum
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.466 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4054

Abstract

PIkan gabus banyak ditemukan di perairan Sungai Mahakam Kalimantan Timur. Ikan gabus merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai kandungan albumin yang cukup tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara penyimpanan bahan baku terhadap karakteristik ekstrak protein ikan gabus (C. striata) serta untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut terhadap karakteristik ekstrak protein ikan gabus (C. striata). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama pada penelitian ini adalah cara penyimpanan bahan baku (pendinginan dan pembekuan) dan faktor kedua menggunakan jenis pelarut (NaCl 0,9 % dan HCl 0,1 M). Parameter pengamatan pada penelitian ini adalah rendemen, kadar air, kadar abu, kadar protein dan kadar lemak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance).Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan cara penyimpanan bahan baku tidak berpengaruh terhadap karakteristik ekstrak protein ikan gabus (C. striata), sedangkan jenis pelarut berpengaruh terhadap karakteristik ekstrak protein ikan gabus (C. striata). Hasil terbaik dari penelitian ini diperoleh pada perlakuan cara penyimpanan pendinginan dengan jenis pelarut HCl 0,1 M yang menghasilkan nilai rendemen 3,03 %, kadar air 12,42 %, kadar protein 63,33 %, kadar lemak 1,77 % dan kadar abu 22,48 %.Kata kunci : cara penyimpanan, ekstrak protein, ikan gabus, karakteristik, pelarut                                                                  ABSTRACTSnakehead fish are abundant in Mahakam river, East Kalimantan. Snakehead fish is one of the source of albumin.The aims of this study were to determine the effect of raw material storage on the characteristics of snakehead fish protein extract (C. striata) and to know the effect of solvent type on the characteristics of snakehead fish protein extract (C. striata). This research used Factorial Complete Random Design with three times repetitions. The data obtained were analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) test. The treatment in this study was the first cold storage and frozen storage materials, the second treatment using NaCl and HCl solvent type. The parameters observed in this research include yield, water content, ash content, protein content and fat content. The results of this study indicate that raw material storage does not affect the characteristics of snakehead fish protein extract (C. striata), while the type of solvent was significant effect on the characteristics of snakehead fish protein extract (C. striata). The best result of this research that is from cold material treatment with HCl 0.1 M solvent type has a value of 3.03% yield, 12.42% moisture content, 63.33% protein content, 1.77% fat content and ash content 22.48%.Keyword : storage method, protein extract, snakehead fish, characteristic, solvent
Evaluasi Karakteristik Fisika-Kimia dan Nilai SPF Lotion Tabir Surya Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Anita Dwi Puspitasari; Eka Intan Kusuma Wardhani
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.233 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4242

Abstract

Sinar matahari memiliki banyak manfaat kesehatan tetapi juga dapat menyebabkan masalah kulit, mulai dari yang ringan hingga berat, untuk mencegah masalah tersebut upaya yang biasa dilakukan dengan memakai tabir surya. Bahan alam yang diketahui berkhasiat sebagaitabir surya alami adalah daun kersen yang memiliki kandungan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter fisika dan kimia sediaan lotion tabir surya dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun kersen serta mengetahui nilai SPF sediaan lotion tabir surya dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun kersen.Daun kersen diekstraksi dengan pelarut etanol 70% dan menggunakan metode maserasi. Pengujian karakteristik dan nilai SPF dilakukan pada 4 formula lotion yang masing-masing mengandung ekstrak konsentrasi 0 gram (Formula 1), 1 gram (Formula 2), 2 gram (Formula 3) dan 3 gram (Formula 4).Keempat formula lotion berwarna putih hingga coklat muda, beraroma khas minyak mawar dan berbentuk semi padat dengan viskositas antara 50-63,33 dPas. Lotion yang dihasilkan memenuhi semua persyaratan fisika dan kimia, serta memiliki nilai SPF berturut-turut 0,62 (tidak efektif); 8,7 (proteksi maksimal); 15,2 (proteksi ultra); 20,8 (proteksi ultra).  SPF menunjukkan seberapa kuat tabir surya dapat memberikan perlindungan dari sunburn.Kata kunci:  SPF, Lotion, Tabir surya, Muntingia calabura L.Besides its many benefits for health, sunlight can also cause health problem, such as mild to severe skin problem.to prevent these problems the usual effort is to use a sunscreen.One of the natural ingredients efficacious for sunscreen is the MuntingiacalaburaL. leaves that contain flavonoids. This study aims to determine the physical and chemical characteristics of sunscreen lotion preparations with variations in the concentration of ethanol extract of MuntingiacalaburaL. leaves and to know the SPF value of sunscreen lotion preparations with variations in the concentration of ethanol extract of MuntingiacalaburaL. leaves.Extraction of MuntingiacalaburaL. leaves was carried out by maceration method using 70% ethanol solvent. Characteristics and SPF values were tested on 4 lotion formulas in which each contained 0 gram (Formula 1), 1 gram (Formula 2), 2 grams (Formula 3) and 3 grams (Formula 4) of the concentration extract.The fourth formula lotion is white to light brown,it has a distinctive aroma of rose oil and is semi-solid with viscosity between 50-63.33 dPas. The resulting lotion meets all physical and chemical requirements, and has an SPF value of 0.62 (not effective); 8.7 (maximum protection); 15.2 (ultra protection); 20.8 (ultra protection). SPF is a measure of how much solar energy is required to produce sunburn on protected skin.Keywords: SPF, Lotion, Sunscreen, Muntingia calabura L.
Pengaruh Proses dan Konsentrasi Asap Cair Cangkang Kelapa Sawit terhadap Sifat Fisik dan Cemaran Mikroba Rubber Sheet Ageng Priatni; Fauziati Fauziati; Yuni Adininngsih
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.715 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.3869

Abstract

Asap cair adalah salah satu asam anorganik yang dapat digunakan sebagai penggumpal lateks dimana asap cair memiliki pH 2,8 – 3,2. Asap cair dapat diperoleh melalui pembakaran cangkang kelapa sawit yang banyak mengandung hemiselulosa, selulosa serta lignin  melalui proses pirolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proses dan konsentrasi asap cair cangkang kelapa sawit terhadap sifat fisik dan cemaran mikroba dari lembaran karet dengan cara menggumpalkan lateks segar dengan asap cair konsentrasi 2 %, 6 %, 10 %, 14 % dan larutan asam formiat 2 % sebagai kontrol serta perendaman. Lembaran karet yang dihasilkan kemudian dianalisa kadar airnya, nilai Po dan PRI serta cemaran mikroba (kapang dan Khamir). Penggumpal yang terbaik kemudian diaplikasikan pada pembuatan RSS dan diuji berdasarkan SNI 1903-2011. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa penggumpal terbaik adalah asap cair cangkang kelapa sawit konsentrasi 14 % dan tanpa perendaman dimana diperoleh lembaran karet dengan kadar air 1,52 %, nilai Po 47, nilai PRI 86 serta jumlah kapang 23 koloni/g dan khamir 7 koloni/g. RSS yang diperoleh dari asap cair 14 % bisa digunakan sebagai bahan baku SIR 20.Kata Kunci: Asap Cair, Cangkang Kelapa Sawit, Penggumpal, Lateks, RSS.
Pengaruh Kemasan Botol, Suhu dan Lama Penyimpanan Sirup Ekstrak Bawang Tiwai (Eleutheriana americana Merr) terhadap Metabolik Sekunder dan Mikroba Suroto Hadi Saputra; Eldha Sampepana; Arba Susanty
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.623 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4355

Abstract

Packaging, temperature and storage time, secondary metabolic content and antioxidant capacity of beverage products are important things to note. The purpose of this study was to determine the type of bottle packaging and storage temperature on secondary metabolic content, antioxidant capacity and microbial contamination in tiwai extract extract syrup. The treatment of this study uses a variety of bottle types, namely transparent glass bottles coated with aluminum foil, chocolate bottles, C plastic bottles coated with aluminum foil and variations in storage temperature: room temperature (27OC), 6OC temperature (refrigerator), temperature 20OC (AC room ) The storage time of tiwai extract extract syrup with intervals of 7, 14, 21 days. Based on the results of the study it can be concluded that the use of bottle A, B C packaging with more storage time can reduce the total phenolic compounds, total flavonoids and antioxidant capacity of tiwai onion extract drinks. The storage time of tiwai onion extract drinks was able to survive for 7 days with transparent glass bottles coated with aluminum foil and chocolate bottles at room temperature and 6OC temperature (refrigerator).                                                                 ABSTRAKPengemasan, suhu dan lama waktu peyimpanan, kandungan metabolik sekunder dan kapasitas antioksidan produk minuman merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis kemasan botol dan suhu penyimpanan terhadap kandungan metabolik sekunder, kapasitas antioksidan dan cemaran mikroba pada minuman sirup ekstrak bawang tiwai. Perlakuan penelitian ini menggunakan variasi jenis kemasan botol yaitu A (botol kaca transfaran yang dilapisi aluminium foil), B (botol coklat), C (botol plastik yang dilapisi aluminium foil) dan variasi suhu penyimpanan : suhu ruangan, suhu 60C (lemari pendingin), suhu 200C(ruang AC). Lama penyimpanan sirup ekstrak bawang tiwai dengan interval waktu yaitu 2-21 hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan kemasan botol A, B C dengan makin lama waktu penyimpanan dapat menurunkan total fenol, total flavonoid dan kapasitas antioksidan minuman ekstrak bawang tiwai. Umur simpan minuman ekstrak bawang tiwai mampu bertahan disimpan selama 7 hari dengan kemasan botol kaca transparan yang dilapisi aluminium foil dan botol coklat pada suhu ruang dan suhu 6OC (lemari pendingin).Kata Kunci : Jenis Kemasan Botol, Suhu Penyimpanan, Minuman Sirup Bawang Tiwai, Metabolik sekunder, Antioksidan dan Mikrobiologi
Karakterisasi Sifat Sensoris, Proksimat, Antioksidan, Total BAL, dan Uji Pasar Es Krim berbahan Puree dan Bubuk Mandai Cempedak Anton Rahmadi; Farezza Afia Rohmatul Firdaus; Marwati Marwati
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.852 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4057

Abstract

Mandai cempedak merupakan produk hasil fermentasi bakteri asam laktat yang berasal dari kulit bagian dalam buah cempedak (Artocarpus champeden). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan formulasi es krim berbahan puree atau bubuk mandai cempedak yang kemudian diuji penerimaan konsumennya dalam skala lab dengan jumlah panelis 35 orang pada rentang usia 17-21 tahun, dilanjutkan dengan pengamatan profil proksimat (kadar air, kadar abu, kadar protein, lemak, dan karbohidrat), antioksidan, total bakteri asam laktat (BAL), dan uji penerimaan pasar dengan jumlah respoden 60 orang. Analisis lanjutan terdiri dari antioksidan metode DPPH, daya leleh, dan angka lempeng total BAL. Formula terbaik dari kelompok bahan puree dan bubuk mandai cempedak diujikan kepada masyarakat umum dengan teknik uji konsumen dengan penilaian hedonik dengan parameter rasa, tekstur dan aroma, juga pendapat masyarakat secara umum akan kemampuan bersaing dan harga jual potensial produk ini. Penggunaan puree mandai cempedak pada konsentrasi 100g per formula merupakan pilihan konsumen yang secara hedonik mampu bersaing dengan produk komersial yang diujikan dengan daya leleh es krim mandai cempedak berkisar 16 s.d. 17 menit. Karakteristik es krim puree mandai cempedak adalah kadar air sebesar 62,25±0,07%, kadar abu sebesar 0,874±0,002%, kadar protein sebesar 5,78±0,09%, kadar lemak sebesar 10,53±0,06%, kadar karbohidrat sebesar 26,35±0,05%, total BAL sekitar 4 skala log cfu/mL, dan IC50 terhadap penghambatan DPPH sebesar 66,67±0,19 ppm. Es krim dengan cita rasa baru yang berasal dari mandai cempedak memiliki potensi untuk dipasarkan dengan harga kurang dari Rp. 20.000 per kemasan 200 mLKata kunci : analisis proksimat,es krim, mandai cempedak, tes pasar                                                                 ABSTRACTMandai cempedak is a lactic acid bacteria fermented product originated from the inner skin of cempedak (Artocarpus champeden) fruit. The aim of this research was to produce formulations of ice cream with the addition of mandai puree or powder which were then tested by consumer acceptance in lab scale with 35 participants in the age range of 17-21 years, followed by observation of proximate (moisture, ash, protein, fat, and carbohydrate contents), antioxidant, total lactic acid bacteria (BAL), and a market acceptance test with 60 panelists. The subsequent analysis consisted of antioxidant methods of DPPH, melting duration test, and total BAL plate count. The best formula was tested to the general public by consumer test techniques with hedonic judgment on taste, texture and aroma parameters, as well as general public opinion of competitive ability and potential selling price of this product. The use of puree mandai cempedak at 100 g concentration per formula was the consumer choice which was able to compete with commercial product tested. The melting duration for ice cream mandai cempedak was from 16 to 17 minutes. Characteristics of ice cream with mandai cempedak puree were 62.25±0.07% of moisture, 0.874±0.002% of ash, 5.78±0.09% of protein, 10.53±0.06% of fat, 26.35±0.05 of carbohydrate, 4 scale log cfu/mL of BAL, and IC50 to DPPH inhibition equaled to 66.67±0.19 ppm. The new ice creamproduced from mandai cempedak has the potential to be marketed with price range below Rp. 20,000 per 200 mL of pack size.Keywors: proximate analysis,  ice cream, mandai cempedak, market test
Karakteristik Edible Film Berbasis Karagenan dan Stearin Sawit sebagai Kemasan Pangan Yuni Adiningsih; Fauziati Fauziati; Ageng Priatni
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.18 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.3849

Abstract

ABSTRAKPengemasan produk pangan  menggunakan edible film merupakan salah satu teknik pengawetan pangan untuk meningkatkan daya tahan dan kualitas bahan pangan selama penyimpanan. Penelitian penggunaan karagenan untuk bahan pembuatan edible film telah banyak dilakukan namun perlu ditingkatkan terhadap daya elastisitasnya. Stearin sawit merupakan fraksi minyak sawit yang tersusun dari trigliserida jenuh, memiliki kadar Carbon lebih dari 20 sehingga memiliki sifat padat pada suhu ruang. Stearin merupakan fraksi lemak yang merupakan komponen hidrofobik pada formulasi edible film yaitu untuk memperbaiki fleksibilitas dan dapat menimbulkan efek kilap yang tidak dimiliki oleh Karagenan sebagai hidrokoloid. Edible film sebagai  biopolimer yang terbuat dari protein, karbohidrat dan lemak dapat melindungi produk dari kerusakan fisika, kimia dan mikrobiologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik edible film dari karagenan dengan penambahan stearin turunan kelapa sawit untuk diaplikasikan ke dodol sehingga diketahui daya tahan keawetan produk dodol terhadap cemaran mikroba. Penggunaan stearin yang optimum untuk pembuatan edible film yang diaplikasikan ke dodol sebanyak 0.4 gram dengan komposisi karagenan 0,8 gr dan gliserol 0,5% (v/v) dengan hasil uji  sifat fisik mekanik tensile strength sebesar 110,67 kgf/cm2 dan persen pemanjangan sebesar 25,03%. Hasil uji mikrobiologi penggunaan edible film lebih baik daripada dodol yang diberi kemasan plastik sampai 21 hari. 
Pengaruh Lama Proses Fermentasi terhadap Kadar Asam Sianida (HCN) dan Kadar Protein Pada Kulit dan Daun Singkong Hermanto Hermanto; Fitriani Fitriani
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.5 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4239

Abstract

Pemanfaatan limbah ikutan tanaman singkong untuk bahan campuran pakan unggas  bertujuan untuk mendapatkan karakteristik limbah ikutan tanaman singkong (Kulit dan daun Singkong) dan metode waktu fermentasi yang terbaik untuk menurunkan kadar sianida (HCN) dan kenaikan kadar protein yang terkandung dalam kulit dan daun singkong tersebut.Kulit dan daun singkong yang didapatkan dari petani atau pabrik tapioka/mocaf dibersihkan/dicuci, kemudian di cacah/dihaluskan, dianalisa  kadar asam sianida (HCN), kadar protein, derajad keasaman( pH) dan kadar Serat Kasar.  Hasil uji kadar asam sianida (HCN) pada kulit singkong 231 mg/kg dan daun singkong 183 mg/kg. Hasil uji tingkat keasaman (pH) kulit singkong dan daun singkong segar 6,16 dan 5,89 serta hasil uji serat kasar untuk kulit singkong 2,83 % dan daun singkong 15,35 %. Untuk menurunkan kadar asam sianida(HCN) dan menaikan kadar protein diperlukan proses fermentasi. Setelah difermentasi terjadi penurunan kadar asam sianida untuk kulit singkong menjadi 0,47 mg/kg, terjadi penurunan 99.89 %  dan Daun singkong  menjadi 0,46 mg/kg terjadi penurunan 99,74 %.Kenaikan kadar proteinya pada kulit singkong dari 4,58 % menjadi 10,26 % terjadi kenaikan 124,02 % sedang pada daun singkong dari 8,30 % menjadi 9,57 % terjadi kenaikan 15,30 %. Pada tingkat keasaman (pH) hasil uji kulit singkong segar 6,20, daun singkongnya 5,89, setelah difermentasi terjadi peningkatan derajad keasaman sebesar 3,74 – 4,53.Fermentasi optimal pada hari ke empat dengan konsentrasi ragi tape 0,5 % menurunkan kadar asam sianida (HCN) kulit singkong 17.091,01 % dan daun singkong 5216,46 %, sedangkan kenaikan kadar protein sebesar 48,93 % (kulit singkong) dan 43,49 % (daun singkong).Kata kunci:  Fermentasi, asam sianida, kadar protein, kulit, daun singkong                                                                        ABSTRACTThe utilization of waste by-product of tapioca for a blend of poultryintended to get the characterictics of waste by-product of tapioca (skin and cassava leaves ) and methods of fermentation the best to reduce levels of cyanide(HCN) and a surge of the protein contained in the skin and cassava leaves.The skin of cassava and cassava leaves are right from the farmers or mill tapioca/mocaf be cleaned,  washed, then.-be refined and then analyzed levels of hydrogen cyanide (HCN), levels of protein, degrees (pH) of and levels of fiber.The test results levels of hydrogen cyanide (HCN) on the cassava 231 mg/kg and cassava leaves 183 mg/kg. The testresults were the acidity (pH) of the cassava and cassava leaves of fresh 6,16  and 5,89 as well as the results of the rough to the cassava 2,83 % and cassava leaves 15,35 %. To reduce levels of hydrogen cyanide (HCN) and raise levels of proteins necessary process of fermentation. After fermented the the acid content of cyanide (HCN), for the cassava to 0,47 mg/kg, of 99,89 % and cassava leaves to 0,46 mg/kg of 99,74 %. The protein content of those this late in the cassava of 4,58 % to 10,26 % of the 124 02 % while the cassava leaves of 8,30 % to 9,57 % there is an increase of 15,30 %. At this level of the results of the cassava fresh 6,20 cassava leaves 5,89, after it’s fermented, an increase in acidity 3,74 – 4,53 in the acid.Fermentasi optimum day to four with a concentration of yeast cake, 0,5 % lower levels of hydrogen cyanide (HCN) the cassava 17.091,01 % and cassava leaves 5216,46 % while the protein co
Tepung Talas Bogor Termodifikasi Hasil Oksidasi Menggunakan Hidrogen Peroksida dengan dan Tanpa Iradiasi Sinar UV Riyanti Ekafitri; Yudi Pranoto; Ainia Herminiati; Taufik Rahman
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.895 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.3804

Abstract

Peningkatan mutu tepung talas dapat dilakukan dengan modifikasi secara kimia melalui proses oksidasi menggunakan hidrogen peroksida yang dikatalis dengan iradiasi UV. Tujuan penelitian ini adalah mengamati karakteristik tepung talas yang dioksidasi dengan hidrogen peroksida dan diberi perlakuan dengan dan tanpa iradiasi sinar UV selama waktu tertentu. Rancangan percoban yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 2 faktor: (1) perlakuan tanpa dan dengan iradiasi UV dan (2) waktu reaksi selama 5, 15, dan 30 menit. Analisa yang dilakukan diantaranya: proksimat, kandungan karboksil, nilai L, a, b, sifat pasting, swelling power dan baking expansion. Hasil menunjukkan bahwa komposisi kimia tepung talas bogor terbesar adalah komponen pati (84,03%). Perlakuan oksidasi tepung talas dengan hidrogen peroksida tanpa atau disertai dengan iradiasi UV mengubah sifat fisiko kimia dan baking expansion tepung talas: meningkatkan kandungan karboksil, menurunkan kecerahan warna (nilai L, a, b), meningkatkan swelling power dan baking expansion, meningkatkan peak viscosity, final viscosity, dan breakdown viscosity, menurunkan setback viscosity, peak time dan peak temperature, dibandingkan dengan tepung talas alami. Perlakuan oksidasi hidrogen peroksida dengan iradiasi UV memiliki karakteristik kandungan karboksil yang lebih tinggi, nilai L,a, b yang lebih rendah, dan peak viscosity, final viscosity, serta breakdown viscosity yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan oksidasi hidrogen peroksida secara tunggal. Waktu oksidasi/oksidasi-iradiasi (5-30 menit) tidak berpengaruh signifikan pada sebagian besar parameter uji. Baking expansion tepung talas tertinggi dihasilkan pada perlakuan oksidasi dengan iradiasi UV selama 15 menit sebesar 32,46%.Kata kunci : tepung talas, oksidasi, iradiasi UV                                                                    ABSTRACTTo improve the quality of taro flour can be done by oxidation process using hydrogen peroxide catalyzed by UV irradiation. The objective of this study was to observe the characteristics of taro flour which was oxidized with hydrogen peroxide and treated with and without UV irradiation for a certain time. The experimental design used was a complete randomized design with 2 factors: (1) treatment without and with UV irradiation and (2) reaction time for 5, 15, and 30 minutes. Analyzes conducted include: proximate, carboxyl content, L, a, b, pasting properties, swelling power and baking expansion. The results showed that the largest chemical composition of taro flour was the starch component (84.03%). Oxidation of taro flour with hydrogen peroxide without or with UV irradiation changes the physicochemical properties and baking expansion of taro flour: increases carboxyl content, decreases color brightness (L, a, b), increases swelling power and baking expansion, increases peak viscosity, final viscosity, and breakdown viscosity, decreases setback viscosity, peak time and peak temperature compared with native taro flour. The hydrogen peroxide oxidation treatment with UV irradiation has higher carboxyl contents, lower L, a, b, and peak viscosity, final viscosity, and higher viscosity breakdown than taro flour which was oxidized by hidrogen peroxide without UV irradiation. Oxidation/oxidation-irradiation time (5 to 30 minutes) give no significant effect on almost all parameters.The highest baking expansion of taro flour was produced in the oxidation treatment with UV irradiation for 15 minutes as much as 32.46%. Keywords: taro flour oxidation, UV irradiation 
Recovery Koagulan dari Sludge WWTP Pembangkit Listrik Tenaga Uap sebagai Alternatif Pengolahan Air Limbah secara Kimia Adhi Setiawan; Ahmad Erlan Afiuddin; Qurrotul Aini; Tanti Utami Dewi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.966 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4192

Abstract

Proses koagulasi di wastewater treatment plant (WWTP) menghasilkan produk samping berupa limbah lumpur atau sludge dalam jumlah besar serta belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi terhadap sludge, menganalisis pengaruh konsentrasi asam klorida pada proses recoveri koagulan, serta menganalisis pengaruh dosis koagulan hasil recovery sludge terhadap removal TSS, Zn, dan Fe. Metode karakterisasi sludge menggunakan SEM-EDX, XRD, dan FTIR. Proses recovery koagulan menggunakan metode pengasaman dengan menggunakan HCl pada konsentrasi 1 N hingga 3 N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sludge memilki kandungan Fe sebesar 69,29% wt dalam bentuk Fe(OH)3 dan Fe2O3. Konsentrasi pengasaman dengan HCl 3N menghasilkan SRP dengan kandungan koagulan Fe yang tertinggi yakni sebesar 52,3 mg/L.  Hasil jar tes menunjukkan bahwa penambahan SRP 3 N pada dosis 10 mL/L menghasilkan konsentrasi residual TSS dan Zn paling rendah yakni sebesar 34 mg/L dan 0,01 mg/L.  Besarnya persen removal TSS dan Zn pada SRP 3N dengan dosis 10 mL/L masing-masing sebesar 79,4% dan 9,52%. Namun, removal Fe tertinggi pada SRP 1 N dengan dosis 4 mL/L. Jenis dan dosis SRP yang direkomendasikan untuk menurunkan TSS, Fe, dan Zn antara lain SRP 1 N dengan semua  dosis  yaitu  4  mL/L,  6  mL/L,  8  mL/L,  10 mL/L, serta SRP 1,5 N dan SRP 2 N dengan dosis 4 mL/L.

Page 1 of 2 | Total Record : 11