cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
PENGARUH FREKUENSI DAN WAKTU BACKWASH MEMBRAN TERHADAP PENINGKATAN BIOMASSA PADA BIOREAKTOR MEMBRAN Dissa Samatha; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.2

Abstract

Abstrak: Penyumbatan (fouling) membran terjadi pada penggunaan bioreaktor membran (BRM) saat mengolah zat warna azo, zat warna yang paling sering digunakan dalam industri tekstil. Hal tersebut terjadi karena biomassa yang digunakan dalam pengolahan tertahan di permukaan membran, saat membran melakukan penyaringan. Penyumbatan biomassa biasanya diatasi dengan melakukan pencucian (backwash), dimana frekuensi banyaknya dan lamanya waktu pencucian dapat dilakukan bervariasi sesuai kebutuhan membran untuk menghilangkan biomassa di permukaannya. Pada penelitian ini, BRM yang memiliki tiga tangki, yaitu tangki anoksik, kontak, dan stabilisasi serta saluran pembuangan yang disebut permeat dioperasikan dengan tiga variasi waktu filtrasi dan backwash yang berbeda. Perbedaan waktu filtrasi dan backwash yang dioperasikan pada bioreaktor membran membuat keadaan operasional BRM berbeda tiap variasinya sehingga lingkungan pengolahan akan otomatis berubah juga. Lingkungan pengolahan ini sendiri merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung kehidupan biomassa di dalam pengolahan sehingga perubahan lingkungan akan memberikan efek kepada kehidupan biomassa. Hal tersebut terlihat pada tiap variasi yang dioperasikan mempunyai perbedaan jumlah biomassa yang cukup signifikan satu sama lainnya. Perbedaan ini menandakan bahwa waktu filtrasi dan backwash memberikan pengaruh terhadap peningkatan biomassa di dalam suatu pengolahan dengan bioreaktor membran. Kata Kunci: Backwash, Peningkatan Biomassa, Penyumbatan, Waktu filtrasi dan Backwash  Abstract: Membrane fouling found on membrane bioreactor (MBR) operated for the treatment of azo dye, the most common dye used in textile industry. This fouling phenomenon occurred because the biomass, which used in this treatment, restrained on membrane surface during the filtration process. Usually, this biomass fouling cleaned with operating backwash, which the frequency and duration can vary depend on needs to remove biomass from membrane's surface. In this research, MBR, which has three tanks, anoxic, contact, and stabilization tank and also one waste system called permeate, operated in three different variations of filtration and backwash time. The Difference in filtration and backwash time made the MBR operational condition changed depends on which variation applied and this changed automatically affected the treatment's environment. Moreover, the treatment's environment has been an important factor in supporting biomass life, so it's changed would have an effect on biomass too. This condition happened when three different variations operated in the treatment and gave a significant difference on total biomass. The difference indicated that different filtration and backwash time would give an effect on biomass increasement in the treatment using membrane bioreactor. Key words: Backwash, Biomass Increasement, Filtration and Backwash Time, Fouling
STUDI OPTIMASI PENGGUNAAN LAHAN BASAH TERAERASI UNTUK PENYISIHAN PADATAN TERLARUT PADA AIR TERPRODUKSI Kartika Laksmi Dwimerti; Marisa Handajani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.3

Abstract

Abstrak: Air terproduksi merupakan produk sampingan dari proses produksi indutsri minyak dan gas. Kualitas air terproduksi beragam, namun secara umum memiliki konsentrasi total dissolved solid (TDS) yang relatif tinggi. Pada konsentrasi tinggi, Total Dissolved Solid (TDS) dapat menyebabkan perubahan  rasa pada air, pengendapan mineral dan korosi. Teknologi wetland dapat menjadi alternatif pengolahan yang mudah diterapkan dan relatif murah. Penambahan aerasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penyisihan TDS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh penambahan aerasi pada wetland, waktu detensi/waktu tinggal yang optimum, dan penambahan Cyperus nutans yang digunakan sebagai vegetasi terhadap penyisihan TDS dan parameter lainnya. Sejauh ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan aerasi dapat meningkatkan efiensi penyisihan TDS dibandingkan dengan penelitian sejenis yang tidak menggunakan aerasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan TDS pada reaktor dengan penambahan aerasi lebih tinggi dibandingkan dengan reaktor yang diaerasi.Kata kunci: Air terproduksi, Aerasi, Total Dissolved Solid, WetlandAbstract: Produced water is formed from oil and gas industry's production process.The quality of produced water is very diverse, depends on the tipe of oil, the soil, and many more. However, produced water has a simillar characteristic, which is Total Dissolved Solid. In high concentration,  Total Dissolved Solidscan cause mineral sedimentation, and give a bitter taste in the water. Wetland provide an alternative solution to processed the water. The adding of aeration might increase the removal eficiency of Total Dissolved Solid. The aim of the study is to observe the influence of the addition of wetland aeration, detention time, and also type of plant that used as vegetation. So far, the observation result that the addition of aeration can increase the removal eficiency of Total Dissolved Solid.Key words: aerated wetland, aeration, produced water, Total Dissolved Solid
PENYISIHAN SENYAWA ORGANIK BIOWASTE FRAKSI CAIR MENGGUNAKAN SEQUENCING BATCH REACTOR ANAEROB Lulu Destiana Purwita; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.4

Abstract

Abstrak : Penyisihan senyawa organik dari biowaste fase cair yang berasal dari sampah pasar tradisional dengan sistem sequencing batch reactor anaerob dipelajari pada tugas akhir ini. Satu siklus sistem SBR terdiri dari 5 (lima) fase yaitu pengisian( fill), reaksi (react), pengendapan (settle), pengurasan (decant) dan stabilisasi (idle) ini dijalankan dengan variasi waktu reaksi siklus 1: 7 hari, siklus 2: 6  hari, dan siklus 3: 5 hari dengan beban influen dari sampah asli sekitar 15000 mg/L COD total. Proses seeding dan aklimatisasi dilakukan pada penelitian sebelumnya sehingga biomassa yang digunakan telah beradaptasi dengan limbah biowaste yang akan diolah. Pada proses pengolahan SBR anaerob, siklus 1 dengan waktu reaksi 7 hari menghasilkan penyisihan substrat sebesar 50,31%, siklus 2 dengan waktu reaksi 6 hari menghasilkan penyisihan substrat sebesar 43,82% dan siklus 3 dengan waku reaksi 5 hari menghasilkan penyisihan substrat sebesar 36,36%. Pada siklus 1, pembentukan TAV tertinggi sebesar 2926,64 mg/L, terjadi pada fase pengurasan dengan laju pembentukan sebesar 58,97% dan laju penyisihan sebesar  39.48%. Pada akhir fase stabilisasi terbentuk gas metana sebesar 3%. Pada siklus 2, pembentukan TAV tertinggi sebesar 3461,43 mg/L, terjadi pada fase reaksi, dengan laju pembentukan sebesar 55,81% dan  laju penyisihan sebesar 18,60%. Sampai akhir siklus tidak terbentuk gas metana. Pada siklus 3, pembentukan TAV tertinggi 3732,20 mg/L, terjadi pada fase reaksi, dengan laju pembentukan mencapai 82,57% dan laju penyisihan 53,33%. Akan tetapi pada siklus 3 ini tidak dapat dilakukan pemeriksaan gas dikarenakan kromatografi gas yang digunakan dalam perbaikanKata Kunci: biowaste, sequencing batch reactor anaerob,   Abstract: Removal of organic compounds from liquid phase biowaste derived from the traditional market waste with an anaerobic sequencing batch reactor system studied in this final task. One cycle of the SBR system consists of five phases, namely fill, react, settle, decant and idle, it's executed with variations in reaction time, cycle 1: 7 days, Cycle 2: 6 days, and cycle 3: 5 days with the influent load of original rubbish approximately 15 000 mg / L COD total. Seeding and acclimatization process from previous research, so biomass that used has been adapted to the waste. In anaerobic SBR process, cycle 1 with reaction time 7 days, produce removal organic compounds of 50.31%, cycle 2 with a reaction time of 6 days, produce removal organic compounds of 43.82% and cycle 3 with reaction 5 days, , produce removal organic compounds of 43.43%. In cycle 1, TAV highest rate production of 2926.64 mg / L, occurred at decant phase with formation rate of 58.97% and removal rate of 39.48% and the methane gas is formed by 3%. In cycle 2, TAV highest rate production of 3461.43 mg / L, occurred at react phase with formation rate of 55.81 % and removal rate of 18.60% and has not formed methane. In cycle 3, TAV highest rate production of 3732.20 mg / L, occurred at react phase with formation rate of 82.57% and removal rate of 53.33 % But during the third cycle, gas inspection was not possible due to the gas chromatograph that used in repairs. Keywords: anaerobic sequencing batch reactor, biowaste
PENYISIHAN BESI-MANGAN, KEKERUHAN DAN WARNA MENGGUNAKAN SARINGAN PASIR LAMBAT DUA TINGKAT PADA KONDISI ALIRAN TAK JENUH STUDI KASUS: AIR SUNGAI CIKAPUNDUNG Nisaul Makhmudah; Suprihanto Notodarmodjo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.5

Abstract

Abstrak: Sistem penyaringan pasir lambat merupakan salah satu proses paling awal yang digunakan untuk menghilangkan kontaminan dari permukaan air untuk menghasilkan air minum. Karena kesederhanaan, efisiensi dan keekonomisannya, menjadikan saringan pasir lambat sebagai sarana pengolahan air yang tepat, khususnya bagi pemenuhan kebutuhan air masyarakat di negara-negara berkembang. Saringan pasir lambat (SPL) beroperasi pada tingkat filtrasi sangat rendah (0,1 mL jam-1) dan menggunakan pasir yang sangat halus (0,2 mm). Pada Saringan Pasir Lambat, proses pemisahan kotoran dari air baku terjadi melalui kombinasi beberapa proses yang berbeda seperti (1) mechanical straining, (2) adsorpsi, (3) sedimentasi dan (4) aktivitas biologis serta bio-kimia pada lapisan schmutzdecke. Pada penelitian ini air baku dialirkan menuju saringan pasir lambat dua tingkat dengan kondisi aliran tak jenuh. Kondisi tak jenuh dapat meningkatkan proses aerasi dan biologis yang terjadi pada proses filtrasi.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performansi kinerja dari saringan pasir lambat dua tingkat dalam menyisihkan parameter Besi, Mangan, kekeruhan dan warna yang terkandung dalam air Sungai Cikapundung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saringan pasir lambat ini memiliki efisiensi penyisihan Fe sebesar 77,08 %, Mn sebesar 89,3 %, kekeruhan sebesar 78,96 %, dan warna sebesar 52 %.Absctract : A slow sand filtration system is one of the earliest processes used for removing contaminants from surface waters to produce drinking water. Slow sand filters because of their simplicity, efficiency and economy are appropriate means of water treatment, particularly for community water supply in developing countries. Slow sand filters (SSF) operate at very low filtration rates (0.1 mL h−1) and using very fine sand (0.2 mm). The overall removal of impurities associated with the process of filtration, is brought by a combination of different processes. The most important of which are (1) mechanical straining, (2) adsorbtion, (3) sedimentation, (4) chemical and biological activities in schmutzdecke layer. In this research, double stage slow sand filtration was operated in unsaturated flow condition. The objective of this research  is to determine the performance of double stage slow sand filter during unsaturated flow condition in reducing iron, manganese, turbidity and color  that contained in Cikapundung river water.The results showed that slow sand filter has a removal efficiency: 77.08% of Fe, 89.3 % of Mn, 78.96% of  turbidity, and 52 %  of color. Keyword: Slow Sand Filtration, ,double stage, drinking water, schmutzdecke, unsaturated flow, Cikapundung river, removal efficiency
PENGARUH PUTARAN DAN PENAMBAHAN LUMPUR PADA PENGENDAP BERPUTAR DALAM PENYISIHAN KEKERUHAN Nufikha Indriani; James Nobelia
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.6

Abstract

 Abstrak : Salah satu alternatif untuk mengurangi biaya operasi pengolahan air dengan menggunakan teknik sedimentasi sentrifugal adalah dengan aplikasi kecepatan putaran yang rendah yang menganalogikan kecepatan pergerakan air pada dinding kolom pengendap. Namun, informasi mengenai kecepatan putaran optimum untuk teknik ini masih sedikit. Lumpur sebagai produk samplingan proses pengolahan air umumnya langsung dibuang ke badan air. Padahal, masih terdapat kandungan aluminium di dalam lumpur yang dapat dimanfaatkan sebagai koagulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh putaran dan penambahan lumpur terhadap penyisihan kekeruhan dalam proses pengendapan berputar. Penelitian ini menggunakan sampel air baku sungai Cileueur dan sungai Citarum Atas. Lumpur yang digunakan dalam penelitian ini merupakan lumpur artifisial yang dibuat dalam skala laboratorium. Kecepatan putaran 0, 4, 6, 8, 13 dan 20 rpm diterapkan pada setiap penambahan lumpur 0 mg/l, 5 mg/l, 10 mg/l, 15 mg/l dan 20 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian, putaran dan penambahan lumpur tidak secara signifikan mempengaruhi efisiensi penyisihan kekeruhan pada proses pengendapan berputar. Efisiensi penyisihan kekeruhan untuk sampel air sungai Cileueur meningkat hingga 76,6% pada kecepatan putaran 8 rpm. Sedangkan pada sampel air sungai Citarum Atas penyisihan kekeruhan mencapai 91,9% untuk kecepatan putaran 20 rpm. Penambahan lumpur optimum pada sampel air sungai Cileueur meningkatkan penyisihan kekeruhan hingga 82,3% pada penambahan 10 mg/l lumpur dengan kecepatan putaran 4 rpm. Sedangkan penyisihan kekeruhan terbesar mencapai 87,3 % dengan penambahan lumpur 20 mg/l dan kecepatan putaran 20 rpm. Penambahan lumpur pada sampel air sungai Citarum Atas tidak meningkatkan penyisihan kekeruhan. Penyisihan kekeruhan optimum hanya mencapai 75,4% dengan penambahan lumpur 5 mg/l dan kecepatan putaran 8 rpm. Sedangkan penyisihan kekeruhan terbesar mencapai 95,8% pada penambahan 10 mg/l lumpur dengan kecepatan putaran 8 rpm.
PENGARUH PENAMBAHAN BIOETANOL TERHADAP KONSENTRASI EMISI GAS HC, CO, DAN CO2 PADA MOTOR 2 LANGKAH Ruri Octaviani; moh Irsyad; Iman Kartolaksono Reksowardojo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.7

Abstract

Abstrak : Bioetanol adalah bahan bakar alternatif yang sedang dikembangkan di dunia. Bioetanol memiliki beberapa keuntungan dalam penggunaannya sebagai bahan bakar selain karena sifatnya yang terbarukan bioetanol juga dipercaya dapat menurunkan beberapa emisi kendaraan  bermotor. Bioetanol memiliki kelebihan dibandingkan dengan bensin yaitu bilangan oktan yang lebih tinggi. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan campuran bioetanol pada emisi gas pada motor 2 langkah  dengan variasi putaran mesin dan gigi. Metode pengujian ini dilakukan pada saat keadaan terbebani dan tidak terbebani (idle) dengan parameter pengukuran HC, CO, dan CO2. Pengujian terhadap kendaraan motor dilakukan sebanyak 3 variasi yaitu : uji emisi bahan bakar bensin murni (BE0), uji emisi bahan bakar bioetanol 5% (BE5), dan uji emisi bahan bakar bioetanol 10% (BE10). Dari hasil pengujian diketahui bahwa bioetanol tidak dapat menurunkan emisi gas buang secara keseluruhan. Penambahan bahan bakar bioetanol juga dapat meningkatkan nilai bilangan oktan (RON) dan berat jenis pada campuran bahan bakar. Penambahan bioetanol meningkatkan emisi HC sebanyak 30,65% untuk BE5 dan 188,71% untuk BE10 pada variasi rpm, dan untuk variasi gear 35,54% untuk BE5 dan 221,79% untuk BE10. Sedangkan emisi CO untuk variasi rpm menurun sebanyak 3,7% untuk BE5 dan 14,82% untuk BE10, sedangkan pada variasi gear menurun 18,75% untuk BE5 dan 43,75% untuk BE10. Sementara itu CO2 cenderung menurun pada variasi rpm sebanyak 9% untuk BE5 dan 18% untuk BE10 sedangkan untuk variasi gear terjadi penurunan konsentrasi sebanyak 10% untuk BE5 dan 20,12% untuk BE10.Kata kunci : bioetanol, emisi gas buang, motor 2 langkah. Abstract: Bioethanol is one of the alternative fuels that are being developed in the world. Bioethanol have several advantages in its use because of its renewable and it is also believed to reduce the number of motor vehicle emissions. Bioethanol has advantages compared to the higher octane number of gasoline. Purpose and objective of this study was to determine the effect on the use of bioetanol to the gas emissions concentrations on 2-stroke motorcycle in the variation of rpm and gear. This test method was made during loaded and idle condition with the parameter measurement of HC, CO, and CO2. Tests of motor vehicles conducted three variations, namely: test the pure gasoline fuel emissions (BE0), test of bioethanol fuel emissions 5% (BE5), and test of bioethanol fuel emissions 10% (BE10). BE0 test results will be compared with BE5 and BE10. From the test results, we can conclude that bioetanol can't reduce emissions overall. Addition of bioetanol fuel can also increase the value of octane number (RON) and the weight of the fuel mixture. HC concentrations of bioetanol increases emissions as 30,65%  for BE5 to 188,71%  for BE10 in the variation parameters of  rpm, while for the gears to 35,54%  for BE5 and to 221,79% for BE10 on variation of gear parameters. While the CO emission's concentrations decreased by 3,7% for BE5 to 14,82  for BE10 on variation of  rpm parameters, in addition it also decreased by 18,745%  for BE5 and 43,75%  for  BE10 on variation of gear parameters. Meanwhile, CO2 concentration tends to decrease with the decrease emissions as much as 9% to 18% for BE5 and BE10 on variation of rpm parameters while for the variation of gear parameters the concentrations decrease of 10% to BE5 and 20.12% for BE10.  Key words : bioetanol, gas emission, 2-stroke motorcycle.
PENGARUH KARAKTERISTIK FAKTOR EMISI TERHADAP ESTIMASI BEBAN EMISI OKSIDA NITROGEN (NOx) DARI SEKTOR TRANSPORTASI (STUDI KASUS: WILAYAH KAREES, BANDUNG) Srikandi Novianti; Driejana Driejana
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.8

Abstract

Abstrak : Inventori emisi merupakan salah satu alat yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam permasalahan pencemaran udara. Sektor transportasi telah menjadi sumber pencemar terbesar di perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan estimasi beban emisi menggunakan berbagai database faktor emisi dengan karakteristik yang berbeda . Penelitian dibatasi hanya pencemar oksida nitrogen (NOx) karena merupakan polutan primer dan merupakan salah satu polutan yang memiliki dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Pertama-tama, dilakukan survey transportasi di daerah yang diteliti untuk mendapatkan data aktivitas kendaraan berupa volume dengan pembagian 7 jenis kendaraan dan kecepatan rata-rata kendaraan. Survey transportasi dilakukan pada kondisi weekday dan weekend. Kemudian dipilih database faktor emisi negara Indonesia, Inggris, dan India untuk menghitung beban emisi yang dihasilkan. Berdasarkan hasil survey transportasi dan perhitungan beban yang telah dilakukan diketahui bahwa ruas jalan dengan lalu lintas terpadat adalah jalan Jakarta dan diketahui  menghasilkan beban emisi tertinggi. Diketahui bahwa faktor emisi sangat berpengaruh pada nilai beban emisi. Database faktor emisi Inggris dianggap sebagai faktor emisi yang kemungkinan paling baik untuk diaplikasikan karena faktor emisi yang lebih detail sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan tentu saja memberikan nilai beban emisi yang lebih baik.Abstract : Emission inventory can be used as a tool to make policy decision including air pollution problem. Transportation sector has become the greatest pollutant source in urban area. The objective of this research is to compare emission load estimation using various emission factor databases with different characteristics. This research focused only on Nitrogen oxides (NOx) pollutant. The choice of pollutant is based on the reasons that it is the primary pollutant emitted from vehicle exhaust, the impacts on human health and the environment are well documented. First, transportation survey was conducted to get vehicles activity data such as volume with 7 vehicles classification and vehicles average speed. The survey was conducted at weekday and weekend condition. Then, Indonesia, England, and India factor emission database was chosen for determining emission load. Based on the transportation survey conducted and emission load calculation, it was known that the busiest road was Jalan Jakarta and was known to produce the highest emission load. It was known that emission factor value has a great influence to emission load. England emission factor database deemed to be probably the best emission factor because emission factor database which is more detail and is inacompliance with needs and site conditions, of course, will give a better emission load value.  
PENGARUH PENAMBAHAN LOGAM Zn PADA SERAPAN LOGAM Cu OLEH TANAMAN KIAPU (PISTIA STRATIOTES L) PADA AIR Tania Pramadewi Busran; Indah Rahmatiah S. Salami
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2010.16.2.9

Abstract

Abstrak: Fitoremediasi merupakan salah satu metode  penggunaan tanaman hijau yang bekerja sama dengan mikroorganisme tertentu untuk membersihkan zat kontaminan atau membuat jadi berkurang atau tidak berbahaya. Teknik fitoremediasi merupakan pengolahan secara in situ, yaitu pengolahan yang langsung dilakukan di area yang terkontaminasi. Teknik ini sangat cocok untuk membersihkan area yang terkontaminasi dengan limbah organik, nutrient, atau logam berat berbahaya. Kiapu (Pistia Stratiotes) merupakan salah satu tumbuhan yang hidupnya mengapung pada permukaan air. Tanaman ini dapat hidup di daerah tropis, sub tropis dan daerah yang bertemperatur hangat di seluruh dunia. Biasanya tanaman ini banyak dijumpai di sawah, sungai, dan saluran air. Pada penelitian ini akan diuji kemampuan tanaman kiapu dalam menyerap logam Cu dan Zn yang mencemari sistem perairan tawar khususnya pada kegiatan jarring apung. Kadar logam Cu dan Zn yang terserap oleh kiapu ini diukur dengan metodologi dan teknik-teknik yang telah ada meliputi ekstraksi air, ekstraksi tanaman berupa akar dan daun, dan pengukuran kadar logam Cu dan Zn sampel dengan spektrometer Gamma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan logam Zn pada penyerapan logam Cu di oleh tanaman kiapu. Serta mengetahui perbandingan penurunan konsentrasi campuran Cu dan Zn dengan Cu saja di dalam air serta perbandingan penyerapan konsentrasi campuran Cu dan Zn dengan Cu saja oleh tanaman kiapu. Hasil dari penelitian ini adalah dibuktikan bahwa tanaman kiapu dapat digunakan sebagai tanaman fitoremediator karena memiliki nilai faktor biokonsentrasi > 1 ml/gram.Abstract: Phytoremediation is one method of use green plants that work with certain microorganisms to clean up substances or contaminants or do not make it less dangerous. Phytoremediation is the in situ processing technique, which direct processing performed in the contaminated area.This technique is very suitable for cleaning areas contaminated by organic waste, nutrients, or dangerous heavy metals. Kiapu (Pistia stratiotes) is a plant which life is floating on water surface. These plants can live in tropical, sub tropical and warm temperature regions around the world. Usually these plants are commonly found in rice fields, rivers and waterways. This research will test the ability of kiapu to absorb Cu and Zn metals that contaminate freshwater systems, especially on floating nets activities. Metal content of Cu and Zn absorbed by this kiapu measured by the methodology and techniques that already exist include water extraction, extraction of roots and leaves of plants, and measuring the metal content of Cu and Zn samples with gamma spectrometer. The purpose of this study is to determine the effect of Zn on Cu absorption by kiapu.and reveal the comparative decline in the concentration of the mixture of Cu and Zn with Cu only in the water and the absorption ratio of mixture of Cu and Zn with Cu kiapu only by plants.The results of this research is proven that plants can be used as a plant kiapu phytoremediator because it has a bioconcentration factor values> 1 ml / gram.
PEMAKAIAN REAKTOR ADSORPSI MENGGUNAKAN ADSORBEN LIMBAH LAS KARBID UNTUK MENGOLAH CO2 Ulfi Perdanawati; Kania Dewi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2010)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/tl.2010.16.2.10

Abstract

Abstrak: Adsorpsi merupakan proses penyerapan fluida tertentu pada permukaan solid. Aplikasi adsorpsi banyak digunakan dalam pengendalian pencemaran udara. Pemilihan adsorben merupakan faktor yang penting dalam desain unit adsorpsi. Adsorben yang digunakan selain mampu mereduksi zat pencemar, diharapkan juga memiliki nilai ekonomi rendah dan pada kondisi jenuh tidak berbahaya bagi lingkungan. Limbah las karbid merupakan produk samping dari pengelasan menggunakan gas asetilen. Dalam United States Patent nomor 5997833, disebutkan bahwa slurry limbah las karbid mengandung Ca(OH)2, senyawa alkali hidroksida yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah CO2 melalui proses karbonatasi mineral. Pada penelitian ini digunakan reaktor adsorpsi dengan adsorben limbah las karbid dalam dua variasi bentuk dan empat variasi massa digunakan untuk mereduksi CO2. Penentuan kapasitas adsorpsi CO2 dilihat menggunakan persamaan isotherm Linear, Freundlich, dan Langmuir. Selain itu juga ditentukan kesetimbangan massa antara adsorbat dan adsorben, sehingga dapat diketahui, penyisihan CO2 yang terjadi merupakan hasil reaksi adsorpsi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa efisiensi penyishian CO2 berbeda pada kedua bentuk adsorben, di mana adsorben serbuk memiliki efisiensi penyisihan terbesar. Hasil analisis isotherm membuktikan proses adsorpsi terjadi mengikuti isotherm Langmuir. Analisis kesetimbangan massa menunjukkan bahwa reaksi yang terjadi merupakan reaksi antara Ca(OH)2 dengan CO2 menghasilkan CaCO3.
PENGENDALIAN KONTAMINASI LOGAM BERAT DI INDUSTRI TAHU DENGAN KONSEP HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT (HACCP) Arsyi Nur Fithri; Katharina Oginawati; Muhayatun Santoso
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.1

Abstract

Abstrak:  Tahu merupakan salah satu makanan populer yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia. Proses pengolahan tahu melibatkan banyak alat dan bahan sehingga dibutuhkan suatu sistem penjaminan keamanan pangan, yaitu dengan aplikasi konsep HACCP yang berdasarkan pada sistem pencegahan. Dalam penelitian ini, ditentukan critical control point (CCP) pada setiap tahapan produksi, yaitu pada bahan baku, pengolahan, dan produk akhir dengan  menganalisis potensi bahaya melalui pengamatan langsung di lapangan serta pengujian di laboratorium, terutama terhadap kemungkinan kontaminasi logam berat, yaitu tembaga (Cu) dan seng (Zn). Penelitian ini dilakukan pada suatu industri tahu di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat yang memakai susu sebagai campuran bahan bakunya. Adapun yang menjadi titik uji adalah air baku, kacang kedelai, kedelai giling, susu sapi segar, sari kedelai, serta produk akhir berupa tahu susu putih dan tahu susu kuning. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi rata-rata Cu dalam kacang kedelai dan kedelai giling melebihi kontrol atau batas kritis (baku mutu yang ditetapkan pemerintah), sedangkan konsentrasi rata-rata Zn melebihi kontrol pada kedelai giling, tahu susu putih, dan tahu susu kuning. Dari hasil analisis bahaya tersebut, ditetapkan pemilihan bahan baku dan produk akhir sebagai critical control point (CCP). Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan tindakan koreksi untuk menanggulangi titik kritis yang melebihi kontrol tersebut, antara lain dengan perawatan peralatan dan pemilihan bahan baku berkualitas baikAbstract : Tofu is one of popular foods which frequently consumed by Indonesian people. Tofu production process involves a lot of equipments and ingredients so that required a food safety assurance system through the application of HACCP concept which based on the prevention system. In this study, determined critical control points (CCPs) at each production stage, like in the raw materials, processing, and in the final product by analyzing the potential hazards through field observation and testing in laboratory, especially to the possibility of heavy metals contamination, such as copper (Cu) and zinc (Zn). The research was carried out at a tofu industry in Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat who use milk as the mixture of raw material. Meanwhile, the test points are raw water, soybeans, milled soy, fresh cow's milk, soymilk, and the white milk-tofu and yellow milk-tofu as the final products. Test results show the average of Cu concentration in soybeans and milled soy exceed the critical limit or the control (the quality standard determined by government), whereas the average concentration of Zn exceed the control in milled soy, in the white milk-tofu, and in the yellow milk-tofu. From the results of the hazard analysis, determined the selection of raw materials and the final product  as the critical control points (CCPs). Therefore, evaluation and corrective action needed to tackle the critical points that exceed the control, among others, by equipment maintenance and selection of good quality raw materials.