cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PADA REAKTOR WETLAND Karina Dwi Soedjatmiko; Herto Dwi Ariesyady
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.2

Abstract

Abstrak: Salah satu unsur dalam pengolahan air limbah menggunakan reaktor constructed wetland adalah degradasi polutan oleh mikroorganisme yang terdapat pada tanah. Mikroorganisme membutuhkan nutrient berupa zat organik untuk proses metabolisme, sehingga dapat memanfaatkan zat-zat organik yang terdapat dalam air limbah. Studi ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengetahui karakteristik bakteri yang ditemukan pada reactor wetland tersebut dan menganalisis sifat bakteri berupa kurva tumbuh. Bakteri diisolasi dari tanah pada reaktor, kemudian diidentifikasi menggunakan API 20 NE dan dan diukur kurva tumbuhnya menggunakan metode tidak langsung. yaitu dengan spektrofotometri hingga tercapai fase stasiuner, kemudian diinokulasi ke dalam air limbah domestik untuk mengukur kemampuan bakteri untuk hidup dalam air limbah. Dari kesembilan bakteri yang diisolasi, seluruhnya bersifat Gram negatif dan berbentuk batang atau batang pendek. Identifikasi bakteri menunjukkan bahwa bakteri berasal dari genus Aeromonas, Pseudomonas, Empedobacter, Moraxella, Vibrio, Ralstonia, dan Brevundimonas. Kurva tumbuh untuk masing-masing bakteri menunjukkan bahwa pada bakteri Aeromonas hydrophilia tidak didapat fase lag atau fase lag kurang dari satu jam. Sedangkan dalam perhitungan laju pertumbuhan eksponensial (K), mean doubling time (g), dan konstanta laju pertumbuhan spesifik (µ), didapat bahwa bakteri ini juga memiliki nilai g yang paling kecil. Bakteri yang diinokulasi ke dalam air limbah menunjukkan bahwa seluruh bakteri dapat menyisihkan COD, dengan penurunan COD terbesar oleh Moraxella dan terkecil oleh Pseudomonas luteola.Abstract : One element in treating wastewater using a constructed wetland reactor is the degradation of pollutants by microorganisms found in soil. Microorganisms require various organic substrates to fuel metabolic processes, which can utilize organic substances found in wastewater. This study is conducted to identify and characterize the bacteria found in the wetland reactor and to analyze the bacteria characteristics by mapping a growth chart for each of the bacteria. The bacteria is isolated from the reactor and identified using API 20 NE, and the growth curve is measured using spectrophotometry up to a stationary phase. The bacteria is then inoculated into domestic wastewater to measure the ability of the bacteria to live in wastewater. All nine bacteria that were isolated were Gram negative and were rods or short rods. Identification of the bacteria showed that the bacteria were from the genus Aeromonas, Pseudomonas, Empedobacter, Moraxella, Vibrio, Ralstonia, and Brevundimonas. The growth curve showed that the bacteria Aeromonas hydrophilia did not experience a lag phase or the lag phase was very short. This bacteria also had the shortest mean doubling time (g). Wastewater samples which were inoculated with bacteria showed a decrease of COD in all samples, with the largest decrease by the bacteria Moraxella and the lowest by Pseudomonas luteola.
PENGARUH PENAMBAHAN BIOSURFAKTAN SEBAGAI PRAPENGOLAHAN LUMPUR DALAM MENURUNKAN TPH MELALUI OIL RECOVERY PADA TEKNIK BIOREMEDIASI FASE SLURRY Merry Sianipar; Edwan Kardena
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.3

Abstract

Abstrak: Limbah lumpur berminyak atau COCS adalah polutan yang harus mendapat perhatian dalam industri perminyakan karena jumlah dan kandungan hidrokarbonnya tinggi. Konsep oil recovery sebagai prapengolahan COCS didasarkan pada tingginya minyak yang terkandung dalamnya. Studi ini tidak hanya bertujuan mencegah pencemaran lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi. Pada studi ini, dilakukan pengujian pengaruh biosurfaktan dalam menurunkan konsentrasi TPH pada COCS melalui oil recovery dan pengaruhnya pada degradasi mikroorganisme (petrea) pada bioremediasi Fase Slurry. Dosis pencampuran biosurfaktan meliputi rasio 1:1 dan 2:1 antara biosurfaktan dan COCS. Kecepatan pencampuran 32 rpm selama 18 jam dan didiamkan selama 24 jam. Hasil percobaan menunjukkan terbentuknya 3 fase setelah pencampuran yakni minyak (atas), air (tengah) dan solid (dasar). Sebesar 15 ml net oil berhasil diambil (rasio 1:1) dan 35 ml pada rasio 2:1. Penurunan TPH terjadi dari 20-22% menjadi 11,06-15,86% setelah penambahan biosurfaktan (rasio 1:1) dan turun kembali menjadi 7,5% (hari ke-32) setelah bioremediasi. Sedangkan penurunan TPH menjadi 11,73-14,94% pada rasio 2:1 dan turun kembali menjadi 5,6% (hari ke-9) setelah bioremediasi. Penurunan TPH yang signifikan selama bioremediasi kemungkinan disebabkan oleh biosurfaktan yang melarutkan hidrokarbon sehingga memudahkan bakteri mendegradasinya pada bioremediasi Fase Slurry. Konsentrasi logam berat yang rendah serta kondisi reaktor yang dikontrol pH (6-8) dan kelembabannya (30-80%) mendukung kerja bakteri. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa biosurfaktan sangat efektif sebagai prapengolahan lumpur untuk menurunkan TPH melalui oil recovery dan juga membantu petrea mendegradasi hidrokarbon.Kata kunci: Bioremediasi Fase Slurry, biosurfaktan, lumpur berminyak, oil recovery prapengolahan Abstract : Oily Sludge or COCS is a pollutant that should be concerned in the petroleum industry becaused a large amount and high contaminant content. The concept of oil recovery as a pretreatment of oily sludge is based on the high oil contain in COCS so it is not only aimed at the environmental pollution prevention but also economically. In this study, the focus are the influence of biosurfactant in reducing the TPH through oil recovery and its effects at the petrea in degrading hydrocarbon at Slurry Phase Bioremediation. The ratio between biosurfactant and COCS based on  1:1 and 2:1 ratio. The mixing speed was 32 rpm for 18 hours and stand for 24 hours. The experiment results shows the three separate phases after the addition of biosurfactant the oil (top), water (middle) and solid (bottom). For 15 ml of net oil successfully recovered  at 1:1 ratio and 35 ml at  2:1 ratio. TPH was deceased from 20-22% to 11.06-15,86% by biosurfactant and fell back to 7.5% (day 32 of the bioremediation process). In the 2:1 ratio, 11.73-15.49% TPH is achieved and fell back to 5.6% (day 9). The significantly TPH decreased during the bioremediation may be caused by the hydrocarbon dissolution of biosurfactant process so help the bacteria degradated the hydrocarbon. The low concentration of heavy metal and the controlling of pH (range 6-8) and moisture  (30-80%) were also supporting the work of bacteria. From this study, shown that biosurfactant is very effective as a pretreatment to decrease TPH through oil recovery and also help the petrea degradated the hydrocarbon Key words: Biosurfactant, oil recovery,  oily sludge, pretreatment, slurry phase bioremediation.
RECOVERY MINYAK DARI LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) SPENT BLEACHING EARTH DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT Sri Krisyanti; Sukandar Sukandar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.4

Abstract

Abstrak: Spent bleaching earth (SBE) adalah limbah padat yang dihasilkan dari proses penyulingan minyak dari  industri oleokimia. Spent bleaching earth yang sudah terpisah dengan minyak murni mengandung gums dan kotoran serta sejumlah besar minyak. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, kandungan minyak yang terdapat dalam spent bleaching earth berkisar antara 20%-30% berat spent bleaching earth. Residu minyak spent bleaching earth tersebut di-recovery dengan menggunakan metode ekstraksi pelarut. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu soxhlet dan maserasi. Pelarut yang digunakan yaitu n-heksan dan aseton. Rendemen minyak terbesar dihasilkan dari metode soxhlet dengan menggunakan pelarut aseton dengan kadar 24,14 %. Sedangkan rendemen minyak terkecil dihasilkan dari metode maserasi dengan pelarut n-heksan yaitu sekitar 15,37 %. Kualitas minyak berdasarkan parameter viskositas dan warna minyak terbaik secara menurun yaitu maserasi n-heksan> soxhlet n-heksan> maserasi aseton > soxhlet aseton. Densitas minyak tertinggi yaitu ekstrak minyak metode maserasi dengan pelarut aseton sebesar 0,8838 gr/cm3 dan densitas paling kecil yaitu ekstrak minyak metode soxhlet dengan pelarut aseton yaitu sebesar 0,875 gr/cm3. Persentase asam lemak bebas tertinggi yaitu soxhlet aseton 39,77% atau sama dengan 23,35 mg NaOH/mg minyak dan terendah yaitu 14,27%  atau sama dengan 11,49 mg NaOH/mg minyak berasal dari  metode maserasi dengan pelarut n-heksan. Minyak yang menggunakan pelarut aseton memiliki kualitas kurang baik dibandingkan dengan minyak yang menggunakan pelarut n-heksanKata kunci: Ekstraksi, maserasi, minyak, soxhlet, spent bleaching earth Abstract : Spent bleaching earth (SBE) is a solid waste generated as part of the refining process in the oleochemical industry . The spent bleaching earth thus separated from the oil contains gums and impurities along with significant amount of oils. Based on several previous studied, the content of the oils contained in spent bleaching earth ranged from 20% - 30 % by weight of spent bleaching earth. Spent bleaching earth resisdual oils was recovered by using solvent extraction method. Extraction method used is soxhlet and maceration. While the solvent used are n-hexane and aceton. Yield of oils from soxhlet method using acetone solvent has a highest content oils of 24.14 %. While the lowest yield of oil produced from maceration method using n-hexane solvent is about 15.37 %. Oil quality parameter based on viscosity and color from high  to bad quality is maceration n-hexane>soxhlet n-hexane>maceration acetone>soxhlet acetone. The highest density of oil extract is about 0,8838 gr/cm3, produced by maceration method using acetone solvent. While the lowest is about 0.875 gr/cm3, produced by soxhlet method using acetone solvent. The highest percentage free fatty acid (FFA) is about 39.77 % or same with 23.35 mg NaOH/ mg oil  from soxhlet method using acetone and the lowest is about 14.27% or same with 11.49 mg NaOH/ mg oil  from maceration method using  n-hexane. Extract oil produced from acetone solvent has a less good quality than extract oil from n-hexane solvent.  Key words: Extraction, maceration, oil, soxhlet, spent bleaching earth
EVALUASI KUALITAS AIR TANAH DARI SUMUR GALI AKIBAT KEGIATAN DOMESTIK DI KAMPUNG DARAULIN-DESA NANJUNG Betanti Ridhosari; Dwina Roosmini
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.5

Abstract

Abstrak: Sungai Citarum memiliki tingkat pencemaran tinggi akibat banyaknya sampah, limbah domestik maupun limbah pabrik yang disalurkan ke badan air tersebut. Hal ini menyebabkan banjir di wilayah sepanjang Sungai Citarum salah satunya yaitu Kampung Daraulin di Desa Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Untuk mencegah banjir pemerintah melakukan proyek normalisasi Sungai Citarum dengan mengeruk dan melebarkan sungai serta meluruskan bagian yang berkelok. Bagian tersebut ditutup. Masyarakat di sekitarnya khususnya penduduk di Kampung Daraulin memanfaatkan bagian tersebut sebagai tempat penampungan limbah domestik. Hal ini mengakibatkan turunnya kualitas air sungai tersebut yang dapat mempengaruhi kualitas air tanah di sekitarnya. Penduduk Kampung Daraulin memanfaatkan sumur gali sebagai sumber air untuk kegiatan sehari-hari. Padatnya penduduk di Kampung Daraulin menyebabkan lokasi sumur gali dengan tangki septik sangat dekat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah air tanah di Kampung Daraulin tercemar oleh limbah domestik. Penelitian ini diawali dengan inspeksi sanitasi melalui kuisioner dan dilanjutkan dengan pemeriksaan sampel air tanah di laboratorium. Pemeriksaan sampel air tanah ini dilakukan di beberapa titik sampling dengan menggunakan metode statistika Simple Random Sampling (SRS), meliputi analisa ammonium dengan metode nessler-spectrofotometri, nitrit dengan metode Reaksi Diazotasi-Spektrofotometri, nitrat dengan metode Brucin-Spectrofotometri, Fosfat dengan metode Stannous Chlorida-Spectrofotometri, dan analisa jumlah bakteri Escherichia Coli dilakukan dengan metode Jumlah Perkiraan Terdekat (JPT). Dari hasil pemeriksaan sampel air sumur gali di Kampung Daraulin diketahui bahwa beberapa sumur gali di Kampung Daraulin tercemar akibat limbah domestik.Kata kunci: Air Tanah, Limbah Domestik, Sumur Gali, Sungai dan Tangki Septik Abstract : Citarum River has a fairly high level of pollution because of domestic and industrial waste. The wastes are channeled to the river and that cause flooding in areas along the river. One of the areas frequently affected by floods is Daraulin Village in Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. To prevent flooding, the Government do a project for normalization of Citarum River. This project doing dredge, expand and extend the winding river. Part of  the winding river is closed, but the surrounding community, especially the residents of Daraulin Village, make a river as reservoir for the domestic waste water.  This cause reducting of the water river quality, which can also affect the quality of  groundwater. The residents in Daraulin Village use dug wells as a source of water for their daily activities. The densely populated village cause location between dug wells and septic tank is very close. The study was conducted to determine the groundwater in Daraulin Village polluted by the domestic waste water. The study began with the sanitary inspection with questionnaire and continued with the analysis in the laboratory. The sampling points is using statistical methods Simple Random Sampling (SRS). The laboratory analysis includes the analysis of ammonium with Nessler-spectrophotometry method, analyses nitrit by Diazotasi reaction-spectrophotometry, analyses nitrate by Brucin-Spectrofotometri, phosphate by stannous chloride-Spectrofotometri, and analysis Escherichia Coli by Most Probable Number (MPN). The results of water samples from dug wells in Daraulin village show that some of the dug wells are polluted by domestic waste..  Key words: Domestic Waste, Dug Well, Groundwater,  River and Septic Tank
KAJIAN KOMPOSISI, KARAKTERISTIK, DAN POTENSI DAUR ULANG SAMPAH DI TPA CIPAYUNG, DEPOK Fatimah Zahra; Tri Padmi Damanhuri
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.6

Abstract

Abstrak: Pada tahun 2010, penduduk Kota Depok berjumlah 1.738.570 jiwa (BPS Jawa Barat, 2010) dan dengan mengasumsikan timbulan sampah 2,65 liter/orang/hari maka timbulan sampah Kota Depok dapat diperkirakan yaitu sebesar 4.607 m3/hari. Namun, sampah yang masuk ke TPA Cipayung hanya 2.584 m3/hari atau sekitar 56% dari timbulan sampah total. Beberapa jenis sampah yang masuk ke TPA Cipayung masih memiliki potensi untuk didaur ulang.  Sampel sampah yang diteliti merupakan sampah domestik dan sampah non domestik (diambil dari 3 truk dari kawasan perumahan dan 2 truk dari pasar) yang masuk ke TPA Cipayung. Penelitian dilakukan setiap satu bulan sekali selama 3 bulan. Ditinjau dari komposisinya, sampah Kota Depok terbagi menjadi dua kategori besar, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Dari hasil penelitian, komposisi sampah di TPA Cipayung didominasi oleh sampah organik (63,59%), sampah anorganik recyclable (26,70%), dan sampah anorganik non-recyclable (9,70%). Sampah di TPA Cipayung memiliki potensi daur ulang sebesar 26,70%, dengan pembagian sebagai berikut : plastik sebesar 16,66%, kertas sebesar 8,81%, kaca sebesar 1,02% dan logam sebesar 0,21%. Densitas sampah Kota Depok berdasarkan penelitian ini adalah sebesar 256,98 kg/m3. Uji karakteristik kimia dilakukan untuk sampah organik bertujuan untuk mengetahui karakteristik awal dari sampah sebagai acuan teoritis pencampuran bahan untuk pengomposan sebagai alternatif pengolahan sampah organik. Kadar air sampah organik TPA Cipayung telah memenuhi kriteria yang baik untuk dijadikan kompos (65,23%), namun rasio C / N dari sampah organik TPA Cipayung (15,01) terlalu kecil dari kriteria yang disarankan sehingga memerlukan bahan campuran yang memiliki kadar C lebih tingi. Material terdaur ulang di TPA Cipayung telah banyak tereduksi baik kuantitas maupun kualitasnya akibat berbagai aktivitas seperti pemilahan di sumber, aktivitas pemulungan di sumber dan selama perjalanan ke TPA. Selain itu, material terdaur ulang di TPA Cipayung kondisinya sudah banyak yang rusak sehingga harga jualnya relatif lebih rendah.Kata kunci: aktivitas pemulungan, karakteristik, komposisi, potensi daur ulang, tempat pembuangan akhir. Abstract : In 2010, the total population of Depok City is about 1,738,570 people (West Java BPS, 2010). Assuming the estimated generation rate is 2.65 liters/capita/day, the generation of  Depok City waste can be estimated at 4,607 m3/day. However, the waste that goes to Cipayung Final Disposal Site (FDS) only 2,584 m3/day or about 56% of total waste generated. Some type of waste at Cipayung FDS still has the potential to be recycled. The study was conducted by analyzing the composition of domestic waste taken from 3 trucks from residential area and non-domestic waste taken from 2 trucks from market. The research was conducted once a month for 3 months. In terms of composition, the Depok City waste is divided into 2 major categories, organic and inorganic waste. Based from the research, the composition of waste in Cipayung FDS are dominated by organic waste (63.59%), inorganic recyclable waste (26.70%), and inorganic non-recyclable waste (9.70%). Waste in Cipayung FDS has the potential to be recycled of  26.70%, divided of : plastics for 16.66%, paper for 8.81%, glass and metal for 1.02% and 0.21% respectively. Waste density based on this study is 256.98 kg/m3. Laboratory test performed for the chemical characteristics of organic waste in order to determine the baseline characteristics of the waste as a theoretical reference for material mixing for composting process. The organic wastes in Cipayung FDS has an average moisture content of 65.23% and C / N ratio average of 15.01. This condition shows that the organic waste in Cipayung FDS has not fulfilled the optimum criteria for compostion yet. From the research, it can be concluded that recyclable materials have been widely reduced during the transportation to the Cipayung FDS. Waste reduction is a result of various activities such as sorting at source, scavenging activity on the source and during the transportation to the landfill. In addition, recyclable materials at the Cipayung FDS are already in much damaged condition and the economic values are relatively low.  Key words: characteristics, composition, final disposal site, recycling potential, scavenging activity.
KAJIAN PEMANFAATAN LIMBAH AMPAS TAHU MENJADI KOMPOS DI INDUSTRI TAHU X DI KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT Icha Yulianis Pertiwi; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.7

Abstract

Abstrak: Limbah yang ditimbulkan dari industri tahu, 70%  limbah padat berupa ampas tahu. Dalam penelitian ini dilakukan kajian tentang pemanfaatan limbah ampas tahu mejadi kompos. Metode yang digunakan dalam  proses pengomposan adalah metode takakura secara aerob. Bahan baku yang dipakai adalah limbah ampas tahu dengan campuran daun kering. Pada penelitian ini dibuat tiga variasi antara limbah ampas tahu dengan daun kering yaitu : satu banding empat, satu banding tiga, dan satu banding dua dengan jumlah limbah ampas tahu lebih banyak.Proses pengomposan berlangsung selama 40 hari. Untuk memantau proses pengomposan yang berlangsung, dilakukan monitoring harian terhadap beberapa parameter yaitu : temperatur, PH, dan kadar air. Selain monitoring harian diperlukan juga analisis laboratorium terhadap beberapa parameter yaitu : kadar abu dan kadar volatil. Analisis laboratorium dilakukan setiap tiga hari sekali selama pengomposan berlangsung.Hasil penelitian pengomposan pada kompos jadi menunjukkan bahwa pada ketiga variasi telah sesuai dengan standar ,berdasarkan parameter  yaitu : PH, kadar air, kadar abu, dan kadar volatil. Sedangkan untuk parameter temperatur, ketiga variasi tidak memenuhi teori pengomposan selama proses berlangsung. Hal ini disebabkan karena temperatur tertinggi yang dicapai kurang dari temperatur optimum yaitu 550C.  Untuk variasi satu banding empat adalah 350C dan 340C untuk variasi satu banding tiga dan satu banding dua.Kata kunci: ampas tahu,  pengomposan, dan Takakura. Abstract : An Industry, such as tofu industrygenerates solid waste, and 70% of the solid waste is tofu pulp. This study focuses on the utilization of waste pulp into compost. The method used in the composting process is the Takakura method with aerob process. The raw material used is tofu pulp waste with a mixture of dry leaves. In this study created three variations of the tofu pulp waste with dry leaves, namely: 1:4, 1:3, and 1:2  with the amount of tofu pulpis higher than the leaves.The composting process took 40 days. To monitor the composting process is underway, conducted daily monitoring of several parameters are: temperature, pH, and water content. In addition to daily monitoring, laboratory analysis is required also to some of the parameters :ash content and volatile content. Laboratory analysis done every three days during the composting takes place.The results showed that the mature compost in all three variations are in accordance with the standards and quality that exist, based on the parameters are: pH, water content, ash content, and volatile content.for the parameters of temperature, the three variations do not meet quality standard. This is because the highest temperature for all variations reach below the optimum standard which is 550C. For 1:4 the highest temperature is 350C, and for others, 1:3 dan 1:2 are 340C.  Key words: composting, pulp of tofu, and Takakura
PENGEMBANGAN ALAT UKUR PASIF BERBAHAN LOKAL DALAM METODE PEMANTAUAN OZON DI UDARA AMBIEN Ahmad Daudsyah Imami; Driejana Driejana
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.9

Abstract

Abstrak: Ozon yang berada pada lapisan troposfer merupakan zat pencemar yang berbahaya bagi kesehatan manusia antara lain gangguan pernapasan, iritasi mata dan telinga, serta menimbulkan beberapa penyakit spesifik. Oleh karena itu pemantauan terhadap parameter ini perlu dilakukan. Pada banyak kasus penggunaan difussive sampler  dapat menghasilkan hasil yang valid dan merupakan metoda alternatif dengan biaya efektif apabila dibandingkan dengan metoda aktif. Oleh karena itu pengembangan mengenai alat ukur pasif ini dibutuhkan. Alat ukur pasif yang lazim digunakan merupakan alat ukur pasif yang seluruh bagiannya berasal dari luar negeri sehingga akses terhadap teknologi ini cukup terhambat baik dari sisi dana maupun kemudahan aplikasi. Dengan studi literatur yang cukup dan pengetahuan mengenai bahan material dan bahan kimia, segala bahan untuk bagian dari alat ukur pasif tersebut dapat didapatkan tanpa import. Bahan tersebut antara lain Teflon untuk tabung utama, stainless steel untuk mesh, polimer etilen untuk tutup tabung, dan PTFE untuk filter. Kemudian bahan tersebut dirakit dengan mencontoh Ogawa Passive Sampler. Dari hasil yg diperoleh presisi pengukuran alat ukur pasif berbahan berada dalam rentang 73-93% sedangkan rerata perbedaan dengan alat ukur pasif Gradko dalam rentang 20-42%.Kata kunci: Alat ukur pasif, bahan lokal, Ion kromatografi, Metode pemantauan pasif, OzonAbstract : The ozone compound which is in the troposphere layer is a pollutant that is harmful to human health such as respiratory problems, irritation of the eyes and ears, and also raises some specific diseases. Therefore, monitoring of these parameters is a need. In many cases the use of diffusive sampler can produce valid results and is an alternative method with a cost effective when compared with active methods.  Passive sampler commonly used is a passive sampler that all parts come from overseas so that access to this technology is quite constrained in funds and lack of application. With sufficient literature study and knowledge of materials and chemicals, all materials for passive sampler part can be obtained without import. Materials include Teflon for the main tube, stainless steel for the mesh, polymers of ethylene for the caps, and PTFE for the filter. Then the material is assembled with the example of Ogawa Passive Sampler. Results obtained from measurement of precision the local passive sampler in the range 73-93%, while mean of difference compared to Gradko passive sampler in the range 20-42%.Key words: Ion Chromatograph, local based materials, Ozone, Passive sampler
PENGARUH UMUR LUMPUR TERHADAP KINERJA BIOREAKTOR MEMBRAN DALAM BIODEGRADASI ZAT WARNA AZO REMAZOL BLACK-5 Mohammad Faiz Jatnika; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Masuknya zat warna azo ke lingkungan tidaklah diinginkan tidak hanya karena karena zat warna tersebut memiliki warna yang menurunkan nilai estetik tetapi juga karena beberapa zat warna azo dan penguraiannya bersifat toksik serta mutagenik . Pengolahan zat warna azo umumnya dilakukan dengan kombinasi pengolahan biologi anaerob-aerob, dimana kondisi anaerob berfungsi untuk menurunkan kadar warna, sedangkan kondisi aerob berfungsi untuk mengolah zat organik dan senyawa aromatik yang muncul sebagai hasil biodegradasi zat warna. Senyawa aromatik yang terdapat dalam air akan dapat meningkatkan toksisitas dari hasil pengolahan apabila tidak tercapai pengolahan yang sempurna. Salah satu alternatif pengolahan yang dapat dilakukan adalah dengan bioreaktor membran (BRM), yang merupakan kombinasi proses lumpur aktif dengan sistem membran, di mana membran dapat menggantikan unit gravitasi sedimentasi tradisional dalam proses lumpur aktif yang dapat beroperasi pada beban organik yang tinggi, namun lahan yang dibutuhkan lebih sedikit. Bioreaktor membran terdiri atas tangki anoksik, tangki kontak, dan tangki stabilisasi.. Umpan terdiri dari zat warna azo Remazol Black-5 dan ko-substrat berupa limbah industri tempe sebagai sumber organik. Pada penelitian ini, akan ditinjau pengaruh umur lumpur terhadap kinerja bioreaktor membran (BRM) dalam biodegradasi zat warna azo remazol black-5 . Kinerja bioreaktor membran (BRM) terhadap penyisihan warna dan COD diamati melalui hasil analisis sampel dari tangki umpan, anoksik, kontak, stabilisasi dan effluen yang diambil dari dasar tangki. Hasil kinerja bioreaktor membran mencapai efisiensi tertinggi pada umur lumpur 20 hari, dengan penyisihan warna dan penyisihan COD dalam air limbah mencapai 85%.
PENGUKURAN KONSENTRASI PM10 DAN BLACK CARBON YANG DIHASILKAN OLEH ASAP KEBAKARAN LAHAN GAMBUT DAN HUTAN DI DESA PEKANHERAN, KABUPATEN INDRAGIRI HULU, PROVINSI RIAU Asistia Krisanti; Puji Lestari
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.1.10

Abstract

Abstrak: Setiap tahun penduduk di Desa Pekanheran membuka lahan baru dengan cara membakar lahan. Lahan gambut mengandung banyak unsur karbon dan unsur-unsur lainnya yang menghasilkan gas pencemar saat terbakar. Selain itu, kebakaran lahan juga menimbulkan partikulat yang dapat masuk ke dalam saluran pernapasan dan mengganggu radiasi normal cahaya matahari di atmosfer. Pada penelitian ini dilakukan pengukuran konsentrasi PM10 dan black carbon dengan mengambil sampel sebanyak 15 buah untuk lokasi burning site dan 1 buah sampel background site. Lokasi burning site terletak di Desa Pekanheran, Kabupaten Indragiri Hulu, dimana sampel mewakili kualitas emisi dari lahan terbakar. Lokasi background site yang tidak terkena dampak kebakaran diambil di Kota Pekanbaru. Sampel diambil menggunakan filter jenis mix cellulose fiber dengan alat pengambil sampel aktif MiniVolâ„¢ Tactical Air Sampler (TAS). Dari hasil pengukuran diperoleh konsentrasi PM10 untuk lokasi burning site antara 1.314,54-10.402,03 µg/Nm3 dengan rata-rata konsentrasi sebesar 4.454,81 µg/Nm3 dan konsentrasi background site sebesar 91,06 µg/Nm3. Untuk konsentrasi black carbon sampel wilayah burning site sekitar 22,96 hingga 82,91 µg/Nm3 dengan rata-rata 49,79 µg/Nm3 dan konsentrasi untuk sampel background site adalah 49,93 µg/Nm3. Perbedaan konsentrasi sampel burning site terjadi karena pengaruh kondisi kebakaran dan meteorologi pada saat sampel diambil, sedangkan konsentrasi background site berasal dari asap kendaraan bermotor.Abstract : Every year society in Desa Pekanheran open new land by burning the land. Peat land contains many elements of carbon and other elements which emits pollutant gases when burned. Moreover, land fires also produce particulate matters that can affect respiratory health and interrupt normal radiation of sunlight in the atmosphere. The study is about concentration measurement of PM10 and black carbon by using 15 samples from burning site location and 1 sample from background site location. Burning sites located in Desa Pekanheran, Kabupaten Indragiri Hulu, represent emission quality from burning land. Background site location is unaffected from land fire smoke and located in Kota Pekanbaru. Samples were collected into mix cellulose fiber filter by using active sampler MiniVolâ„¢ Tactical Air Sampler (TAS). The results for PM10 concentrations in burning site locations are between 1,314.54-10,402.03 µg/Nm3 on the average concentration is 4,454.81 µg/Nm3 and concentration in background site location is 91.06 µg/Nm3. While concentrations of black carbon for burning site locations lie between 22.96 until 82.91 µg/Nm3 on the average 49.79 µg/Nm3 and background site gives result of 49.93 µg/Nm3. The difference of concentration in burning site samples was caused by influence from fire condition and meteorology factors when samples were taken, whereas background site concentration was contributed from vehicle smoke.
OPTIMASI EFISIENSI PENGOLAHAN LINDI DENGAN MENGGUNAKAN CONSTRUCTED WETLAND Elsa Try Julita Sembiring; Barti Setiani Muntalif
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 17 No. 2 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.2.1

Abstract

Abstrak: Lindi (leachate) dari landfill menjadi permasalahan bagi lingkungan khususnya untuk air permukaan dan air tanah. Teknologi pengolahan yang diterapkan landfill pada umumnya masih mengeluarkan effluen yang belum memenuhi baku mutu. Dengan demikian masih diperlukan pengolahan lanjutan yang mampu menurunkan kadar pencemar di dalam lindi. Sistem constructed wetland merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan. Constructed wetland merupakan suatu alternatif sederhana dengan biaya rendah yang telah terbukti efektif dalam perbaikan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi optimum constructed wetland aliran bawah permukaan dengan variasi jenis vegetasi, beban COD initial, dan waktu detensi dalam menyisihkan COD, BOD, NTK, Total Fosfat (TP) dan total suspended solid (TSS) pada lindi. Pada penelitian ini digunakan lima buah reaktor constructed wetland yang terdiri dari dua jenis tanaman: Cyperus papyrus dan Canna sp. Salah satu reaktor digunakan sebagai kontrol yakni diberi perlakuan tanpa tanaman. Nilai beban COD initial yang digunakan terdiri dari dua variasi yaitu 1000 mg/l COD dan 1500 mg/l COD, dengan waktu detensi (Td) 2 hari dan 4 hari. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penyisihan tertinggi COD, BOD, dan TSS terjadi pada reaktor Cyperus papyrus dengan efisiensi penyisihan sebesar 94,81 % dan 94,72% untuk BOD dan COD (beban 1000 mg/l COD, Td 2 hari) serta 97,47% untuk TSS (beban 1000 mg/l COD, Td 4 hari). Penyisihan NTK dan TP terjadi pada tanaman Cyperus papyrus dengan efisiensi sebesar 96,36% (beban 1000 mg/l COD, Td 2 hari) dan 92,15%  (beban 1500 mg/l COD, Td 4 hari) Kata kunci: constructed wetland, efisiensi penyisihan, lindi, vegetasi wetland, waktu detensi. Abstract : Leachate from landfills becomes problem for environment, particulary for surface water and groundwater.  Leachate treatment technology applied in landfill generally still discharges effluent that is not meet the quality standards given yet. Thus, following treatment is required to decrease pollutant concentration. The constructed wetland is a method that can be applied. It is a simple low cost technology that has been proven effective in amelioring. This experiment puposes to identify the optimum condition of subsurface flow (SSF) constructed wetland with the variation of vegetations, initial COD loading, and detention time in order to remove COD, BOD, TKN, Total Phosphate (TP) and total suspended solid (TSS) in leachate. In the experiment, there were five reactors consisted of two types vegetation: Cyperus papyrus and Cyperus papyrus. One of the reactor was used as a control that had no vegetation. The COD initial loadings were 1000 mg / l and 1500 mg / l and the detention times (Td) used were 2 days and 4 days. The experiment showed that highest efficiency of COD, BOD, and TSS conducted in Cyperus papyrus reactor with removal efficiency 94.81% and 94.72% for COD and BOD (organic loading 1000 mg / l COD, Td 2 days) and 97.47% for TSS. The highest removal of TKN and TP conducted in Cyperus papyrus with efficiency 96.36% (organic loading 1000 mg / l COD, Td 2 days) and 92.15% (organic loading 1500 mg / l COD, Td 4 days). Key words: constructed wetland,removal effeciency, leachate, wetland vegetation, detention time