cover
Contact Name
Ence Surahman
Contact Email
ence.surahman.fip@um.ac.id
Phone
+6287821191948
Journal Mail Official
ence.surahman.fip@um.ac.id
Editorial Address
Universitas Negeri Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran (JINOTEP) Kajian dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran
ISSN : 24068780     EISSN : 26547953     DOI : 10.17977.um031
JINOTEP (Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran): Kajian dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran is a journal in the field of educational technology that contains literature review, action research, case study research, and empirical findings in scientific disciplines of educational technology.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2014)" : 11 Documents clear
Menciptakan Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas Setyosari, Punaji
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.273 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p020

Abstract

Abstrak: Pembelajaran yang efektif dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang berhasil mencapai tujuan belajar peserta didik sebagaimana yang diharapkan oleh guru . Model pembelajaran efektif, mencakup empat hal pokok, yaitu: 1) kualitas pembelajaran, 2) tingkat pembelajaran yang memadai, 3) ganjaran dan 4) waktu. Sedangkan, kualitas pembelajaran merujuk pada aktivitas-aktivitas yang dirancang dan tindakan-tindakan yang dilakukan pembelajar dan peserta didik, termasuk di dalamnya bahan-bahan atau pengalaman belajar (kurikulum) serta media yang kita gunakan.Abstract: Effective learning can be defined as learning that successfully reaches the learning goals of students as expected by the teacher. Effective learning models, including four main things, namely: 1) the quality of learning, 2) adequate learning levels, 3) rewards and 4) time. Whereas, the quality of learning refers to activities designed and the actions carried out by learners and students, including materials or learning experiences (curriculum) and the media that we use.
Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dalam Perspektif Kurikulum 2013 Marzoan, Marzoan
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.841 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p081

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dalam sudut pandang Kurikulum 2013 sebagai kurikulum baru pengganti kurikulum 2006 (KTSP). Kajian dalam tulisan ini menggunakan metode kajian pustaka dari sumber-sumber primer. Sumber data berupa dokumen. Analisis difokuskan pada upaya menemukan, mengidentifikasi, dan menganalisis secara kritis unsurunsur penting dalam dokumen kurikulum 2013 yang dikaitkan dengan kajian dari beberapa litaratur yang relevan. Dari berbagai dokumen yang dianalisis dapat disimpulkan bahwa dalam Kurikulum 2013 terdapat beberapa perubahan, salah satu yang terkait dengan peran Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah dihapusnya mata pelajaran TIK dan sebagai penggantinya TIK menjadi alat bantu guru dalam proses pembelajaran pada semua mata pelajaran. Hal ini berimplikasi pada pentingnya penguasaan TIK oleh guru. Bila proses pembelajaran dilakukan berbantukan TIK, maka diyakini akan meningkatkan kualitas pembelajaran. Abstract: This paper aims to examine the role of Information and Communication Technology in improving the quality of learning in the perspective of Curriculum 2013 as a new curriculum replacing the 2006 curriculum (KTSP). The study in this paper uses a literature review method from primary sources. Data source in the form of documents. The analysis is focused on efforts to find, identify, and critically analyze important elements in the 2013 curriculum documents that are linked to studies of several relevant literatures. From various documents analyzed, it can be concluded that in the 2013 Curriculum there were a number of changes, one of which was related to the role of Information and Communication Technology was the elimination of ICT subjects and as a substitute ICT became the teacher's aid in the learning process on all subjects. This has implications for the importance of mastering ICT by teachers. When the learning process is carried out assisted by ICT, it is believed that it will improve the quality of learning.
Konsep Pendidikan Muatan Lokal Kecakapan Hidup Berbasis Pertanian Melalui Kebun Sayur Sekolah Andri, Kuntoro Boga
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.237 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p031

Abstract

Abstrak: Implementasi Muatan Lokal (Mulok) kecakapan hidup (lifeskill) dalam pembelajaran di sekolah sangat penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang bermutu guna menjawab tantangan dimasa yang akan datang. Fakta menunjukkan tingkat konsumsi sayur penduduk Indonesia masih di bawah standar kecukupan dari yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO yaitu minimal sebesar 200g/kapita/hari. Sebagai perbandingan, tingkat konsumsi sayur di Thailand ialah 300 kg/kapita/tahun. Negara tetangga yang tingkat konsumsi lebih tinggi dari Indonesia ialah Singapura, yang mengkonsumsi 120 kg/kapita/tahun, kemudian Cina, mengkonsumsi 270 kg/kapita/tahun, dan Kamboja yang mengkonsumsi 109 kg/kapita/tahun. Selain itu konsumsi sayuran perlu ditingkatkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras. Pengkajian penerapan kurikulum kecakapan hidup ini dilakukan dalam rangka mempromosikan peningkatan konsumsi sayur bagi siswa melalui model kebun sayur sekolah. Kebun sayuran sekolah dalam kegiatan ini juga dirancang untuk meningkatkan ketersediaan sayuran bagi konsumsi keluarga. Kebun diatur sedemikian rupa sehingga sayuran dapat dipanen hampir setiap hari dan dirancang menggunakan luas lahan yang kecil karena kebanyakan keluarga di Indonesia tidak memiliki halaman yang luas. Siswa terlibat dalam pemeliharaan tanaman sayuran sebagai latihan bercocok tanam sayur. Setiap panen sayuran direkap dan kandungan gizinya dihitung. Kedepan, perlu penerapan Standar Operasional Presedur (SOP) pelaksanaan kegiatan ini agar dapat berhasil dan mencapai tujuan dari pelaksanaan kurikulum ini.Abstract: Implementation of Local Content (Mulok) in life skills (lifeskill) in learning in schools is very important to create quality human resources to answer challenges in the future. The fact is that the level of vegetable consumption of the Indonesian population is still below the standard of the adequacy of those recommended by the World Health Organization (WHO ie a minimum of 200g /capita/day. For comparison, the level of vegetable consumption in Thailand is 300 kg/capita/ year. higher consumption from Indonesia is Singapore, which consumes 120 kg/capita/ year, then China, consumes 270 kg /capita/year, and Cambodia consumes 109 kg/capita/ year, and vegetable consumption needs to be increased to reduce dependence on rice The assessment of the application of the Life Skills curriculum is carried out in order to promote increased vegetable consumption for students through the school vegetable garden model. The school vegetable garden in this activity is also designed to increase the availability of vegetables for family consumption. The gardens are arranged so that vegetables can be harvested almost every day and designed using the land area small because most families in Indonesia do not have a large yard. Students are involved in the maintenance of vegetable plants as a vegetable farming exercise. Every vegetable harvest is recapitulated and the nutritional content is calculated. In the future, it is necessary to implement the Standard Operating Procedure (SOP) for the implementation of this activity in order to succeed and achieve the objectives of the implementation of this curriculum.
Model Pembelajaran Mandiri sebagai Upaya Peningkatan Usaha Petani Tambak Di Desa Tatelu Sulawesi Utara Wullur, Mozes M.
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.77 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p091

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model pembelajaran mandiri bagi petani tambak terkait dengan motivasi, proses, dan hasil belajar mandiri. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data bersamaan dengan pengumpulan data. Hasil penelitian disimpulkan bahwa: Motivasi belajar mandiri petani meliputi motivasi internal dan eksternal; proses belajar mandiri petani meliputi kesiapan belajar, interaksi belajar, dan implementasi hasil interaksi belajar mandiri; sedangkan hasil belajar mandiri terjadi peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan, dan terjadi peningkatan pendapatan keluarga. Saran bagi petani terus meningkatan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, ikhlas menjadi nara sumber,dan terus menabung, dengan dukungan semua stakeholder yang terkait.Abstract: This study aims to describe the independent learning model for farmer farmers related to the motivation, process, and results of independent learning. This study uses qualitative research. Collecting data through observation, interviews, and documentation. The process of analyzing data together with data collection. The results of the study concluded that: Motivation of farmer independent learning includes internal and external motivation; the farmer's independent learning process includes learning readiness, learning interactions, and implementation of the results of independent learning interactions; while the results of independent learning have increased knowledge, attitudes, and skills, and there has been an increase in family income. Suggestions for farmers continue to improve their knowledge and skills, sincerely become resource persons, and continue to save, with the support of all relevant stakeholders.
Personalized Learning dan Multimedia Berbasis Komputer Masih Perlukah Guru? Mufdalifah, Mufdalifah
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.342 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p050

Abstract

Abstrak: Sejak berkembangnya teknologi infomasi dan komunikasi, banyak klaim dari para teknolog pembelajaran bahwa peran guru akan semakin berkurang dan bahkan berakhir, namun klaim- klaim tersebut sampai saat ini tidak terbukti meskipun teknologi multimedia semakin canggih. Di samping itu model-model pembelajaran juga memberikan dukungan terhadap bentuk-bentuk pembelajaran yang semakin individual, salah satunya adalah personilezed learning yang memberi kesempatan setiap siswa untuk maju dan berkembang menurut kecepatan dan kemampuan masing–masing siswa dalam penguasaan materi dan belajar sesuai dengan keinginan dan kemampuannya masing-masing. Dengan demikian, gabungan antara kecanggihan teknologi multimedia interaktif dan meodel pembelajaran individu semakin menguatkan asumsi bahwa peran guru akan berakhir, oleh karenanya tulisan ini ingin mengakaji secara teoritik apakah kekhawatiran tersebut memang relevan secara teoritik praktik.Abstract: Since the development of information and communication technology, there have been many claims from learning technologists that the role of teachers will diminish and even end, but the claims to date have not been proven even though multimedia technology is increasingly sophisticated. In addition, learning models also provide support for increasingly individual forms of learning, one of which is personalized learning which gives each student the opportunity to progress and develop according to the speed and ability of each student in mastering the material and learning according to their wishes and their respective abilities. Thus, the combination of the sophistication of interactive multimedia technology and the model of individual learning further strengthens the assumption that the teacher's role will end, so this paper wants to theoretically assess whether these concerns are indeed theoretically relevant practices.
Pengembangan Strategi Motivasional Pada Mata Pelajaran PKN Dalam Meningkatkan Prestasi dan Motivasi Belajar Siswa SMP Mandagi, Marthinus
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.712 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p105

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: prestasi belajar siswa dalam matapelajaran PKN pada enam kecamatan di 3 Kabupaten yang ada di SULUT; motivasi belajar siswa SMP pada 6 kecamatan di 3 kabupaten Minahasa; strategi pengelolaan motivasional yang dilakukan guru-guru SMP pada 6 kecamatan di Kabupaten Minahasa; dan mengembangkan model rancangan motivasional untuk matapelajaran PKN. Rancangan penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu: (1) deskriptif prestasi belajar melalui survey dan (2) pengembangkan model Pembelajaran motivasional Matapelajaran PKN SMP. Instrumen yang digunakan untuk memperoleh data motivasi belajar siswa dan strategi motivasional disusun oleh tim peneliti.Subjek penelitian : siswa SMP di enam kecamatan di Kabupaten Minahasa yang mewakili kecamatan yang besar, sedang, dan kecil yaitu siswa serta guru bidang studi PKN di SMP. Untuk uji ahli terdiri atas Ahli Isi, Media, dan Ahli Rancangan.Analisis data yang dipakai untuk memperoleh data motivasi belajar siswa, strategi motivasional yang dilakukan guru adalah analisis deskriptif. Sedangkan untuk mengembangkan model adalah analisis deskriptif berbentuk prosentase kesepakatan di antara para ahli dan subyek penelitian.. Hasil penelitian ini akan dapat digunakan secara langsung oleh perancang pembelajaran yang berupa pedoman dan langkah-langkah dalam merancang pembelajaran yang memperhitungkan aspek motivasi. Sedangkan bagi guru akan diperoleh preskripsi dalam hal bagaimana menerapkan rancangan motivasional dalam pembelajaran PKN Di SMP.Abstract: This study aims to describe: student learning achievement in PKN courses in six sub-districts in 3 districts in the North Sulawesi; learning motivation of junior high school students in 6 sub-districts in 3 Minahasa districts; motivational management strategies conducted by junior high school teachers in 6 sub-districts in Minahasa District; and develop a motivational design model for PKN learning. The design of this study consisted of two types, namely: (1) descriptive learning achievement through surveys and (2) developing motivational learning models for PKN SMP learning. The instruments used to obtain data on student learning motivation and motivational strategies were compiled by the research team. Subjects of study: junior high school students in six sub-districts in Minahasa District representing large, medium, and small sub-districts, namely students and PKN study teachers in junior high school. For an expert, the test consists of Content Experts, Media, and Design Experts. Data analysis used to obtain data on student learning motivation, motivational strategies conducted by the teacher is descriptive analysis. While to develop the model is a descriptive analysis in the form of a percentage of agreement between experts and research subjects. The results of this study will be used directly by the learning designer in the form of guidelines and steps in designing learning that takes into account the motivational aspects. As for the teacher, a prescription will be obtained in terms of how to apply motivational design in learning PKN in junior high school.
Menggagas Solusi Pembelajaran Bahasa Di Tengah Problema Bangsa (Pembelajaran Bahasa Portugis Di Timor Leste) Gonçalves, Agostinho dos Santos
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.684 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p001

Abstract

Abstrak: Masyarakat Timor Leste sampai saat ini masih mengeluhkan keberadaan bahasa Portugis sebagai bahasa Nasional. Keluhan tersebut terjadi di kalangan masyarakat umum ataupun di kalangan pendidikan. Rendahnya penggunaan bahasa Portugis di kalangan masyarakat menyebabkan pembelajaran bahasa Portugis memerlukan pemikiran yang serius. Pembelajaran bahasa Portugis belum dilaksanakan sesuai dengan harapan. Guru-guru bahasa Portugis menjalankan tugas mengajarnya tidak didasarkan pada kewenangan dan kompetensi akademik yang dipersyaratkan. Kurikulum pembelajaran belum sepenuhnya mengikuti kurikulum bahasa Portugis yang diadopsi dan diadaptasi dari Portugal. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu ditemukan solusi yang mampu memberikan kebermanfaatan hasil belajar kepada para siswa. Abstract: The people of Timor Leste still complain about the existence of Portuguese as a National language. Complaints occur among the general public or in education circles. The low use of Portuguese in the community caused Portuguese language learning to require serious thinking. Learning Portuguese has not been implemented as expected. Portuguese language teachers carry out their teaching assignments not based on the required authority and academic competence. The learning curriculum has not fully followed the Portuguese language curriculum adopted and adapted from Portugal. Based on these conditions, it is necessary to find a solution that is able to provide the usefulness of learning outcomes to students.
Kemampuan Berpikir Kritis Warga Negara dan Kekuatan Metode Debat Fuad, A. Jauhar
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.69 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p058

Abstract

Abstrak: Setiap warga negara dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menjalankan kehidupan. Kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan yang mendasar di masa mendatang dalam memutuskan berbagai permasalahan yang muncul dengan cepat dan komplek, keputusan yang diambil juga harus cermat. Warga negara tidak mungkin memiliki kemampuan berpikir kritis jika tidak dibelajarkan sejak awal, dimana kemampuan berpikir kritis akan berkembang dalam proses belajar yang mendorong keterlibatan pebelajar secara aktif, baik secara fisik dan psikis, sehingga tidak akan muncul dalam kegiatan belajar yang pasif, pebelajar tidak memiliki banyak peran. Belajar aktif, mendorong pebelajar untuk mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Mereka mengevaluasi, menganalisi, merefleksi, mensitesis, dan kesimpulan. Pembelajaran aktif dapat ditemukan dalam kegiatan belajar yang memposisikan pebelajar pada peran strategisnya. Metode yang menekankan pembelajaran aktif dapat ditemukan dalam metode debat. Metode ini membahas tema yang baru dan kontoversi, pengembangan kemampuan lisan, dan tertulis; membedakan fakta dari penilaian dan pengetahuan dari keyakinan, dan mewujudkan standar intelektual seperti akurasi, dukungan pembuktian, kejelasan dan logika. Metode ini, merupakan bentuk kontroversi lisan yang terdiri dari presentasi sistematis menentang argumen tentang topik yang dipahami pihak lain. Untuk setiap isu, pasti terdapat berbagai sudut pandang terhadap isu tersebut: alasan-alasan mengapa seseorang dapat mendukung atau tidak mendukung suatu isu. Tujuan dari debat adalah untuk mengeksplorasi alasan-alasan di belakang setiap sudut pandang. Agar alasan tersebut dapat dimengerti secara persuasif.Abstract: Every citizen is required to have the ability to think critically in carrying out life. Critical thinking ability is a fundamental need in the future in deciding various problems that arise quickly and complex, decisions taken must also be careful. Citizens may not have the ability to think critically if they are not taught from the beginning, where critical thinking skills will develop in the learning process that encourages active student involvement, both physically and psychologically, so that they will not appear in passive learning activities, students do not have much role. Active learning encourages students to hear, speak, read and write. They evaluate, analyze, reflect, sensitizes, and conclusions. Active learning can be found in learning activities that position students in their strategic roles. Methods that emphasize active learning can be found in the debate method. This method addresses new themes and controversies, the development of oral and written abilities; distinguish facts from judgment and knowledge of beliefs, and realize intellectual standards such as accuracy, evidence support, clarity, and logic. This method is a form of oral controversy that consists of systematic presentations against arguments on topics understood by others. For each issue, there must be various perspectives on the issue: reasons why someone can support or not support an issue. The purpose of the debate is to explore the reasons behind each point of view. So that these reasons can be understood persuasively.
Strategi Blended Learning Flex Model pada Pembelajaran Administrasi Jaringan Komputer untuk Meningkatkan Pengalaman Belajar Siyamta, Siyamta
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.832 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p122

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya tarik pembelajaran, kemudahan penggunaan feature edmodo untuk pembelajaran serta efektifitas dan efisiensi pembelajaran pada mahasiswa yang menggunakan flex model, dengan mengkombinasikan antara online instruction dan face to face sebagai pelengkap pada pembelajaran administrasi jaringan komputer. Data dikumpulkan dari 30 mahasiswa yang mengikuti pembelajaran administrasi jaringan komputer pada mahasiswa Joint Program VEDC Malang semester 5 tahun 2014. Pembelajaran ini menggunakan blended learning tipe flex model dengan menggunakan Edmodo sebagai social social network (SLN). Untuk mengumpulkan data digunakan skala linkert dengan empat kategori, yaitu sangat setuju (SS) setuju (S), ragu-ragu (R), dan tidak setuju (TS). Berdasarkan data yang diperoleh dari responden, dapat disimpulkan bahwa daya tarik pembelajaran cukup tinggi sebesar 67% menyatakan sangat setuju dan 33 % setuju. Feature edmodo dapat digunakan secara mudah dengan jawaban responden sebanyak 57 % sangat setuju, 40 % setuju dan 3 % ragu-ragu. Sebanyak 55 % menjawab sangat setuju dan 45 % menyatakan setuju, berkaitan dengan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan strategi ini akan diperoleh efektitifas dan efisiensi pembelajaran. Temuan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan strategi baru dalam pembelajaran yang melibatkan social learning network (SLN) untuk pembelajaran.
“Mobile Seamless Learning” Sebagai Model Pembelajaran Masa Depan Ulfa, Saida
Jurnal Inovasi dan Teknologi Pembelajaran Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.278 KB) | DOI: 10.17977/um031v1i12014p011

Abstract

Abstrak: Proses pembelajaran yang timbul secara alamiah adalah salah satu penekanan pembelajaran yang terjadi di abad 21 ini. Perkembangan teknologi bergerak seperti smartphone mendukung pembelajaran terjadi diluar konteks, yaitu dapat terjadi kapan dan dimana saja tanpa terikat waktu dan ruang. Hal ini berpeluang menciptakan pembelajaran yang timbul secara alamiah. Pebelajar dapat diakomodasi untuk dapat belajar kapan saja dan dimana saja sesuai dengan keinginan atau learning mood pebelajar. Oleh sebab itu dibutuhkan konsep dan rancangan yang tepat dalam menyediakan lingkungan belajar yang efektif. Mobile Seamless Learning adalah model pembelajaran yang memuat konsep kontinuitas dan kesinambungan dalam proses pembelajaran yang terjadi tanpa batas waktu dan ruang. Pada tulisan ini menggambarkan konsep umum dalam mengembangkan pembelajaran berbasis Mobile Seamless Learning.Abstract: The learning process that arises naturally is one of the emphases of learning that occurs in the 21st century. The development of mobile technology such as smartphones supports learning occurs outside the context, which can occur anytime and anywhere without being bound by time and space. This has the opportunity to create learning that arises naturally. Students can be accommodated to be able to study anytime and anywhere according to their wishes or a learning mood. Therefore, the right concepts and designs are needed in providing an effective learning environment. Mobile Seamless Learning is a learning model that contains the concepts of continuity and continuity in the learning process that occurs without limits of time and space. This paper describes a general concept in developing Mobile Seamless Learning-based learning

Page 1 of 2 | Total Record : 11