cover
Contact Name
Isna Mutia
Contact Email
isnamutia23@gmail.com
Phone
+6282286585642
Journal Mail Official
jurnalmuashirah@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh, 23111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif
ISSN : 16937562     EISSN : 25992619     DOI : 10.22373/jim
Publisher media for Koran and Hadis with multy perspective. Research with social perspective, psikological perspective, lingusistic perspective, antropology perspective
Articles 241 Documents
Tasbihnya Makhluk Tuhan di Muka bumi Suhemi, Emi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i1.10538

Abstract

The Qur'an tells a lot about the condition of creatures who glorify their Lord, both living things and creatures created as inanimate objects, such as rocks, mountains, and others. Based on the above understanding, the author aims to find out how the verses of the Qur'an describe the exaltation of creatures to His Lord. In this research, the writer uses the descriptive analysis method with the scientific approach of interpretation (hermeneutics). In this study, the authors found 15 verses that tell about beings who are exalted, be they humans, living things, plants (nabataat) or inanimate objects (jamadaa). Linguistically, the word tasbih is a mashdar form of sabbaha yusabbihu-tasbihan, which comes from the word sabh, which is the word to purify Allah SWT. In terminology, at-tasbiih means remembrance by glorifying and purifying accompanied by cleansing God from all shortcomings.AbstrakAl-Quran banyak bercerita tentang keadaan makhluk yang bertasbih terhadap Tuhan-nya, baik itu makhluk hidup maupun makhluk yang tercipta sebagai benda mati, seperti batu, gunung, dan lain-lain. Secara terminologi, at-tasbiih bermakna zikir dengan mengagungkan dan mensucikan disertai dengan pembersihan Tuhan dari segala kekurangan. Berdasarkan pengertian diatas, penulis bertujuan untuk mengetahui bagaimana ayat Al-Quran mendeskripsikan tentang bertasbihnya makhluk kepada Tuhan-Nya. Dalam Penelitian ini penulis menggunakan metode analisis Deskriptif dengan pendekatan ilmu Tafsir (Hermeuneutics). Hasil kajian ini, penulis menemukan 15 ayat yang berceritakan tentang makhluk yang bertaasbih baik itu insan, makhluk hidup tumbuuh-tumbuhan (nabataat) maupun benda mati (jamadaa). Secara bahasa, kata tasbih merupakan bentuk mashdar dari sabbaha yusabbihu-tasbihan, yang berasal dari kata sabh yaitu ucapan menyucikan Allah SWT. 
Pemikiran Kebahasaan Syeikh Al-Shabuni dalam Kitab Shafwat Al-Tafasir: Analisis terhadap Penafsiran Surat Al-Fatihah Suhaimi Suhaimi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9076

Abstract

Sheikh Muhammad Ali al-Shabuni is a contemporary commentator. The book of Tafsir that he composed was a book entitled Shafwat al-Tafasir. This book has been spread to various countries. One of the aspects that he pays attention to when dealing with verses of the Koran is the linguistic aspect, whether in the form of isytiqaq, balaghah, or other. This has its appeal for every researcher of linguistics and tafsir because it is very useful in applying various linguistic theories through the examples of verses in the Koran. This simple paper focused on seeing it, specifically in surah Al-Fatihah. Through this article, it is hoped that it can describe in general the linguistic thoughts of Sheikh al-Shabuni. AbstractSyeikh Muhammad Ali al-Shabuni merupakan salah seorang mufasir kontemporer. Kitab Tafsir yang ia karang adalah kitab yang berjudul Shafwat al-Tafasir. Kitab ini telah tersebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Salah satu sisi yang beliau perhatikan dalam setiap menghadapi ayat Al-Quran adalah aspek kebahasaan, baik berupa isytiqaq, balaghah ataupun lainnya. Hal tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap peneliti kebahasaan dan tafsir, karena hal tersebut sangat bermanfaat dalam mengaplikasikan berbagai teori kebahasaan melalui contoh-contoh ayat dalam Al-Quran. Makalah sederhana ini difokuskan untuk melihat hal tersebut, khusus dalam surat Al-Fatihah. Melalui artikel ini, diharapkan dapat menggambarkan secara umum tentang pemikiran kebahasaan  Syeikh al-Shabuni..
Kisah Sulaiman A.S Dalam Al-Qur'an Muhammad, Muhammad Thaib
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i1.7903

Abstract

Solomon A.s was a prophet and apostle who was sent to his people with revelations to him like the other apostles. However, he was a king who had a large kingdom, so that many kings submitted to him by paying jizyah to him. Solomon was inspired by Allah Most High's knowledge, ingenuity and good political knowledge. At the beginning of his reign he had built Baitul Maqdis and after that he built a fortress in the city of Yurussalem. In carrying out his reign, Solomon A.s had an army of humans, jinn and animals. During preaching to spread the religion of God Almighty, it is supported by miracles like the other messengers of Allah. He ran his kingdom for forty years. Then at the age of fifty-two he died in a state of worship to Allah SWT in a house of worship. No one knows that Sulaiman A.s has died except after termites eat the stick that he held in his hand. After that the jinn and humans only found out that he had died.
Pekerjaan Mulia dalam Perspektif Al-Quran Miskahuddin, Miskahuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i1.10502

Abstract

Work is an obligation for every Muslim who believes in Allah S.W.T. The Qur'an regulates and encourages people to work optimally and correctly in order to get halal and good sustenance to support themselves and their families. The noble work referred to in the Qur'an is a useful job, providing income and profits to meet the external and internal needs of humans so that they are strong in worship to Allah S.W.T in accordance with their abilities. The essence of a noble job in the Qur'an perspective is a pure and lawful job that is legal according to religion when a person gets sustenance and is used sparingly and carefully, not extravagantly and redundantly and adapted to the basic necessities of life as a man who believes and fear Allah SWT.ABSTRAKPekerjaan adalah kewajiban bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah S.W.T. Al-Qur’an mengatur dan mendorong manusia untuk bekerja secara maksimal dan benar guna mendapatkan rezeki yang halal dan baik untuk menafkahkan diri maupun keluarganya. Pekerjaan mulia yang dimaksud Al-Quran tentu saja merupakan pekerjaan yang bermanfaat dan berguna memberikan penghasilan dan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan lahiriah dan bathiniah manusia agar kuat melaksanakan ibadah kepada Allah S.W.T sesuai dengan kesanggupan dan kemampuan hamba Allah itu sendiri. Hakikat pengertian pekerjaan yang mulia dalam perspektif Al-Qur’an adalah suatu pekerjaan murni dan halal yang sah menurut agama manakala seseorang mendapatkan rezeki dan dipergunakan secara hemat dan cermat, tidak boros dan mubazir serta disesuaikan dengan pokok-pokok keperluan hidup sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah S.W.T
Beragam Pendekatan dalam Memahami Hadis Nabi Prabowo, Yudhi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i1.10300

Abstract

Referring to the hadith and understanding it correctly is a must in the life of humankind today. The dimension of Islamic teachings brought by the Prophet Muhammad saw requires getting correct and accurate information. The text of hadith cannot be separated from the impact of the passage of time. The text of the hadith on its journey from the beginning of the Prophet being sent to become an Apostle, from the first teacher, namely the Prophet, to the bookkeeping of hadith and going through several generations, has experienced an impact in the history of its journey with all its consequences. To understand the hadith correctly, the method of understanding it is felt to be very necessary and necessary to understand the true meaning of a hadith text. All of this cannot be separated from the various sequences that an approach must take to obtain a proportional understanding in the present context as a guide to life in the world and the hereafter need to understand well.ABSTRAKBerpedoman kepada hadis dan memahaminya dengan tepat merupakan suatu keharusan dalam kehidupan umat manusia sekarang. Dimensi ajaran agama Islam yang dibawa Rasulullah SAW mengharuskan mendapat informasi yang benar dan akurat. Karena teks hadis tidak terlepas dari dampak perjalanan waktu. teks hadis dalam perjalanannya dari awal Nabi di utus menjadi Rasul, dari guru pertama yaitu Rasulullah sampai kepada pembukuan hadis dan melewati beberapa generasi, telah mengalami imbas dalam sejarah perjalanannya dengan segenap konsekuensinya. Agar dapat memahami hadis dengan benar maka metode dalam memahaminya dirasa sangat perlu dan keharusan untuk memahami maksud sebenarnya sebuah teks hadis, ini semua tidak terlepas dari runtutan beragam yang harus dilakukan sebuah pendekatan untuk mendapatkan pemahaman yang proporsional dalam konteks kekinian sebagai tuntunan hidup dunia dan akhirat yang perlu dipahami dengan baik.    
Korelasi Salat Dengan Fahsha' dan Mungkar Dalam Perspektif Al-Qur'an (Studi QS Al-Ankabut 45) Nurfadliyati, Nurfadliyati
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i1.7908

Abstract

This article aims to explore causality Qs.Al-Ankabut: 45 "Prayer prohibits immorality (fahsha') and wrongdoing (munkar)", There is a cause and effect if prayer is performed, it will prevent the prayer from immorality and wrongdoing. However, Quraish Shihab said that this verse was the subject of discussion and questions of the ulama, especially after seeing many who prayed but the prayer he did not need from immorality and wrongdoing. This is what encourages the author to study this verse, how the meaning of  Islamic prayer in the Qur'an, and what is the meaning immorality (Fahsha') and wrongdoing (munkar) in the Qur'an and how to correlation salat with immorality and wrongdoing. The method is library research, which is research conducted to collect and analyze data sourced from libraries, in the form of books, scientific magazines and various library sources which are used as research references. With data collection and documentation techniques, as for the proposed are various literacy works relating to the subject matter in this study. The results of the authors find that prayers that prevent acts of immorality and wrongdoing are prayers that are done sincerely, done according to the conditions, in harmony, and done with great solemnity, a submissive heart,keeping the prayers and being done continuously and doing sunnah prayers recommended. If the prayer is done in such a way, then the prayer can deter and prevent those who do it from immorality and wrongdoing. 
Sumpah dalam Al-Quran Suhaimi, Suhaimi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 1 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i1.10530

Abstract

Salah satu gaya bahasa yang ditunjukkan Allah swt dalam menyampaikan pesan-pesan suci-Nya dalam Al-Quran adalah dengan menggunakan qasam atau sumpah. Siapa saja yang membaca dan meneliti Al-Quran tentu saja dia pasti mendapati ungkapan yang mengandung sumpah Allah dalam berbagai variasinya, semua itu tidaklah merupakan suatu kebetulan, melainkan memiliki maksud-maksud atau tujuan tertentu yang seharusnya menjadi perhatian bagi siapapun yang meyakini Al-Quran itu sebagai Kalam Allah yang menjadi petunjuk dalam hidup dan kehidupan ini. Bagaimana dan dengan apa Allah bersumpah? mengapa Allah bersumpah? dan apa rahasia dan manfaat sumpah yang terdapat dalam Al-Quran tersebut?. Tulisan sederhana ini diupayakan untuk dapat menjawab berbagai masalah tersebut dengan menelusuri pandangan para ulama Al-Quran dalam berbagai kitab yang mereka wariskan dengan harapan dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk lebih meningkatkan pemahaman kita terhadap Al-Quran itu sendiri. Secara umum dapat dikatakan bahwa sumpah Allah dalam Al-Quran tidak terlepas dari pada isyarat yang jelas agar kita sungguh-sungguh memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan, karena pesan yang disampaikan mengandung tujuan untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.   
Syu'aib a.s dalam Perspektif Al-Qur'an Muhammad Thaib Muhammad
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i2.9104

Abstract

Syu'aib a.s is one of the prophets mentioned ten times in several surahs in the Al-Qur'an al -Karim. His full name is Syu'aib bin Maikiil bin Masyjur ibn Madyan, the son of Prophet Ibrahim a.s and his mother was the son of Prophet Lut a.s. He was sent to Ahlu Madyan who had deviated from the religion of Abraham a.s. Ahlu Madyan lives in a fertile area near the bay of Aqabah. Ahlu Madyan cheated on the scales and did damage to the face of the earth. When Syu'aib a.s delivered his message inviting Ahlu Madyan to return to the true religion, they refused the invitation with great arrogance and humiliation. Even asked Syu'aib to bring something down from the sky and asked Syu'aib a.s to stop preaching. If it doesn't stop they will take it out with the believers from their village. As a result of Ahlu Madyan's denial and arrogance, Allah lowered the heat for seven days, then brought a black cloud so that they took shelter under it. Ahlu Madyan thought it would rain. But Allah sent down a rain of fire and a strong wind so that all of them died lying in their homes. That is how Allah SWT destroyed Ahlu Madyan.AbstrakSyu’aib a.s adalah salah seorang nabi yang yang disebut dalam Al-Qur’an al –Karim sebanyak sepuluh kali dalam beberapa surat. Nama lengkapnya Syu’aib bin  Maikiil bin Masyjur ibnu Madyan Anak Nabi Ibrahim a.s dan Ibunya adalah anak Nabi Luth a.s. Beliau diutus kepada ahlu Madyan yang sudah menyimpang dari  agama Ibrahim a.s. Ahlu Madyan tinggal di sebuah wilayah yang subur dekat  teluk Aqabah. Ahlu Madyan melakukan kecurangan dalam timbangan dan melakukan kerusakan di muka bumi. Ketika Syu’aib a.s menyampaikan dakwah mengajak Ahlu Madyan kembali kepada agama yang benar, mereka menolak ajakan tersebut dengan penuh kesombongan dan penghinaan. Bahkan meminta Syu’aib untuk menurunkan sesuatu dari langit serta meminta Syu’aib a.s untuk berhenti berdakwah. Jika tidak berhenti mereka akan mengeluarkannya bersama orang beriman dari desa mereka. Akibat dari keingkaran dan kesombongan Ahlu Madyan tersebut, Allah menurunkan kepanasan selama tujuh hari, kemudian mendatangkan  awan hitam sehingga mereka berteduh dibawahnya. Ahlu Madyan menyangka hujan akan turun. Akan tetapi Allah menurunkan hujan api dan angin kencang , sehingga semua mereka mati bergelimpangan di rumah mereka masing-masing. Begitulah Allah SWT menghancurkan Ahlu Madyan
Al-Quran, Thibaq, Muqabalah Suhaimi, Suhaimi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 17, No 1 (2020)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v17i1.7904

Abstract

The Koran was revealed in Arabic. This has been emphasized by Allah Ta`ala himself by mentioning the arabiyyan quranan. From that, the Arabic language used by Allah in Al-Quan must be understood and believed to have its own specialties over other languages in the world. In studies related to various branches of Arabic, there are various terms, including thibaq and muqabalah. These two terms are known in the study of the Balaghah wa bil branch of science specifically badi` science. Although these two terms are both related to the beauty of meaning or tahsin of meaning, thibaq and muqabalah also have differences, thibaq is more about the gathering of two opposing things, whereas muqabalah can be in the form of collecting more than two opposing meanings and it can also be other than that. . Because the Al-Quran is in Arabic, of course it is not silent from the two things that are part of the meaning of the tahsin, especially since the Koran is the holy Kalam whose beauty exceeds the beauty of the language used by Arabic linguists throughout the ages. The meaning of tahsin in the form of thibaq and muqabalah in the Koran is quite widely scattered in various letters and verses. This is certainly not a coincidence, but a clear proof that the Koran has the advantage of a language style which is quite beautiful and interesting.
I’jaz Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Ilmu Bahasa Sulaiman, Sulaiman
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v18i2.10696

Abstract

Scholars have used various approaches to understand the Qur'an because of its two main dimensions: the linguistic dimension and its content. Those are a great combination that cannot be matched by anyone, even though all have gathered to match it. One such approach is the stylistic approach. Al-Qur'an has a high uslub/style of language so that it becomes one of its miraculous elements. This study aim to reviewing Surah al-'Ādiyāt using a stylistic approach with library research methods. Surah al-'Ādiyāt, from the point of view of the balaghah holds a myriad of secrets, which can be classified into beautiful uslub. Likewise, from a stylistic point of view, although only in a few lines, the stylistic elements can be obtained beautifully. People who oppose the Qur'an from the polytheists or the People of the Book can slowly be conquered by the beauty of the language of the Qur'an. This is one of the methods of preaching the Prophet Muhammad SAW by prioritizing the elements of beauty.ABSTRAKBerbagai pendekatan telah digunakan oleh para ilmuan untuk memahami al-Qur’an, karena dua dimensi utamanya yaitu dimensi kebahasaan dan kandungannya adalah sebuah perpaduan yang sangat agung yang tak dapat ditandingi oleh siapapun, walaupun semuanya berkumpul untuk menandinginya. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan stilistika. al-Qur’an memilki uslub/gaya bahasa yang tinggi sehingga menjadi salah satu unsur kemu’jizatannya. Dalam mengkaji Surah al-‘Ādiyāt dengan menggunakan pendekatan Stilistika, penulis menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Surah al-‘Ādiyāt, dari sudut pandang balaghah menyimpan segudang rahasia, yang dapat digolongkan ke dalam uslub yang indah. Demikian juga dari sudut pandang stilistika, walaupun hanya dalam beberapa baris saja, namun elemen-elemen stilistika telah dapat didapatkan dengan indahnya. Orang-orang yang menentang al-Qur’an dari golongan musyrikin atau Ahlil Kitab, secara pelan-pelan dapat ditaklukkan oleh keindahan bahasa al-Qur’an. Inilah salah satu metode dakwah Rasulullah Saw. dengan mengedepankan unsur-unsur keindahan

Page 9 of 25 | Total Record : 241