cover
Contact Name
Isna Mutia
Contact Email
isnamutia23@gmail.com
Phone
+6282286585642
Journal Mail Official
jurnalmuashirah@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Kopelma Darussalam Kota Banda Aceh, 23111
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif
ISSN : 16937562     EISSN : 25992619     DOI : 10.22373/jim
Publisher media for Koran and Hadis with multy perspective. Research with social perspective, psikological perspective, lingusistic perspective, antropology perspective
Articles 241 Documents
Langkah-Langkah Al-Qur’an dalam Memberdayakan Ekonomi Masyarakat Miskin A. Gani, Burhanuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12539

Abstract

This paper explores the concern of the Qur'an in empowering the economy of the poor, who desperately need attention from all parties. He is a person who has a steady income, but that income is not sufficient for his daily needs, so the main question in this paper is how the Qur'an cares for the economic empowerment of the poor. The method used in this research is a qualitative method which refers to the books in question. The results of the research conclude that the Qur'an contains steps to empower them, so that their standard of living is equal to that of other people. There are three steps regulated by the Qur'an regarding efforts to empower the poor, namely the provision of capital through voluntary giving (infaq), compulsory giving (zakat) and through paying off kafarah from people who have transgressed Allah's laws.ABSTRAKTulisan ini mengetengahkan tentang kepedulian al-Qur’an dalam memberdayakan ekonomi orang-orang miskin, yang sangat membutuhkan perhatian dari semua pihak. Ia adalah orang yang memiliki penghasilan tetap, tetapi penghasilan itu tidak mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari maka yang menjadi pertanyaan pokok dalam tulisan ini adalah bagaimana langkah-langkah kepedulian al-Qur’an dalam memberdayakan ekonomi orang-orang miskin. Adapun metode yang digunakan daam penelitian ini adalah metode kuaitatif yang merujuk kepada buku-buku yang ebrsangkutan. Hasil peneitian menyimpulkan bahwa al-Qur’an telah memuat langkah-langkah untuk dapat memberdayakan mereka, agar taraf hidupnya setara dengan orang-orang lain. Ada tiga langkah yang diatur al-Qur’an tentang upaya pemberdayaan orang miskin, yaitu pemberian modal melalui pemberian sukarela (infaq), pemberian wajib (zakat) dan melalui pelunasan kafarah dari orang-orang yang pernah melangkahi hukum-hukum Allah
Konsep Khalifah dalam Al-Qur’an (Kajian Ayat 30 Surat al-Baqarah dan Ayat 26 Surat Shaad) Rasyad, Rasyad
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12308

Abstract

There are three opinions about the caliph, the first is Adam as., Which is a human symbol who serves as the caliph., Second, the caliph means the next generation or successor generation., Third, the caliph is the head of state or head of government. Adam and David in the Qur'an are called caliphs, the difference is; Adam became the caliph for the whole earth at the beginning of human history by replacing a group of jinn who had done damage and bloodshed. While David was only the caliph in a certain area, and was appointed by God as the successor of the kings, leaders, and prophets of the Children of Israel who had preceded him. Caliphate is a function that human beings carry out based on the mandate they receive from God. The mandate is in essence to manage the earth in the best possible way, to prosper the people of the earth, and to eradicate tyranny.ABSTRAKAda  tiga pendapat tentang khalifah, pertama adalah Adam as.,  yang merupakan simbol manusia yang berfungsi sebagai khalifah., kedua, khalifah berarti generasi penerus atau generasi pengganti., ketiga,  khalifah adalah kepala negara atau kepala pemerintahan. Adam dan Daud dalam al-Qur’an disebut khalifah, perbedaannya adalah; Adam menjadi khalifah untuk seluruh bumi pada awal sejarah kemanusiaan dengan menggantikan  kelompok jin yang telah melakukan kerusakan dan pertumpahan darah. Sedang Daud hanya menjadi khalifah dalam wilayah tertentu saja, dan ditunjuk oleh Tuhan sebagai pengganti dari raja-raja, pemimpin-pemimpin, dan nabi-nabi Bani Israil yang telah mendahuluinya. Khalifah adalah sebuah fungsi yang diemban manusia berdasarkan amanat yang diterimanya dari Allah. Amanat itu pada intinya adalah mengelola bumi dengan sebaik-baiknya, memakmurkan penduduk bumi, serta memberantas kezaliman. 
Filosofi Pembinaan Anak Shalih dalam Konsep Al-Qur’an Miskahuddin, Miskahuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12744

Abstract

All Muslims who believe in themselves crave pious children as the foundation of hope for the good of family life in this world and eternal happiness in the hereafter. Realizing pious children requires excellent thoughts and strategies with a mature educational process for both parents and intelligent guidance and education for the benefit of the good personality of their children to become pious children. The Qur'an has taught humans about educational strategies and procedures that lead to mental and spiritual development to all religiously devout Muslim family members to prepare pious children as a form of a generation that loves God and obeys all religious teachings perfectly. Every parent would want their child to grow up to be a pious child with akhlaqul karimah to obey Allah, His Messenger, and obediently obey his parents.ABSTRAKSemua orang muslim yang mukmin pasti mendambakan anak shalih sebagai tumpuan harapan kebaikan kehidupan keluarga baik di dunia maupun untuk kebahagiaan di akhirat yang kekal abadi. Mewujudkan anak shalih membutuhkan pikiran dan strategi yang prima dengan suatu proses pendidikan yang matang baik bagi kedua orang tua maupun arahan bimbingan dan pendidikan yang cerdas untuk kemaslahatan kebaikan kepribadian anaknya menjadi anak yang shalih. Al-Qur’an telah mengajarkan manusia tentang strategi dan tata cara pendidikan yang menjurus kepada pembinaan mental spiritual kepada seluruh anggota keluarga muslim yang taat beragama dengan baik untuk mempersiapkan anak yang shalih sebagai wujud sebuah generasi yang mencintai Tuhan dan taat kepada seluruh ajaran agama-Nya dengan sempurna. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang shalih memiliki akhlaqul karimah menta’ati Allah, Rasul-Nya dan patuh menta’ati kedua orang tuanya.
Konsep Manasik/Nusuk dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Maudhu’i) Suhemi, Emi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 1 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i1.12746

Abstract

This research is entitled Nusuk Concept in Al-Qur’an. This research uses a maudhu'i interpretation approach. The steps taken in this approach are collecting verses with the theme of prickling in the Al-Qur’an, then also collecting hadiths on the theme of pricking. As well as several dictionaries that will be used to find an etymological understanding of stabbed. The purpose of this research is to know the concept of nusuk in the Al-Qur’an. What will be discussed in this study is how the concept of pricking in the Koran. The results of this study are that nusuk is not only interpreted as a pilgrimage ritual, but also contains a broad meaning such as zuhud and taqarrub to Allah.ABSTRAKPenelitian ini berjudul konsep manasik/nusuk dalam al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan hermeneutics (tafsir maudhu’i). Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan ini yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang bertemakan manasik-nusuk di dalam al-Qur’an, kemudian juga mengumpulkan hadist-hadist yang bertemakan manasik/nusuk, dan juga menggunakan beberapa kamus yang dijadikan alat untuk menemukan pemahaman manasik/nusuk secara etimologi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui akan konsep manasik/nusuk di dalam al-Qur’an.  Hasil dari penelitian ini adalah bahwa manasik/nusuk itu tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah haji, tetapi juga mengandung makna yang luas seperti zuhud dan taqarrub kepada Allah serta berqurban.
Islah Dalam Pemahaman Qur’an Hadis Zainuddin Zainuddin
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.14058

Abstract

Islah is a term found in the Qur'an and the hadith of the Prophet. Islah comes from the word Ashlaha-yushlihu-ishlahan, which means repair, safety and peace. Islah according to the Qur'an is a person who always reads the Qur'an, remembrance and prayer in the quiet night. Performing islah is doing good deeds in a calm manner and state that can benefit oneself and others. Like the state of a person doing night prayers, it is a reform that is very beneficial to himself and gives good to others, because it can prevent evil deeds and provide good for safety and peace. So something can be seen as reform if it serves to bring value and benefits. On the other hand, acts that cause harm are not called reforms. Thus, the measure of a good or bad charity lies in the value of the benefits or harms it contains. Islah adalah suatu term yang terdapat dalam al-Qur’an dan hadis rasulullah saw. Islah berasal dari kata Ashlaha-yushlihu-ishlahan, yang artinya perbaikan, keselamatan dan perdamaian. Islah menurut al-Qur’an adalah orang yang senatiasa membaca al-Qur’an, zikir dan shalat di waktu malam yang tenang. Melaksanakan islah adalah melakukan perbuatan yang baik dengan cara dan keadaan tenang yang dapat memberi manfaat pada dirinya dan orang lain. Seperti keadaan seseorang mengerjakan shalat malam, adalah suatu islah yang sangat bermanfaat kepada dirinya dan memberi kebaikan kepada orang lain, karena dapat mencegah perbuatan mungkar dan memberikan kebaikan untuk keselamatan dan perdamaian. Maka sesuatu dapat dipandang sebagai islah jika ia berfungsi mendatangkan nilai manfaat. Sebaliknya, perbuatan yang menimbulkan mudarat, tidak dinamakan islah. Dengan demikian, tolok ukur suatu amal baik atau tidak adalah terletak pada nilai manfaat atau mudarat yang dikandungnya.
Waliyullah Al-Dahlawi Muhadditsan Ikhsan Nur
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13322

Abstract

Allah swt expressly conveys that "and indeed We are the ones who guard it (the Qur'an)", but to protect the prophet's hadith from changes in the eyes, false reliance on the name of the prophet or the occurrence of errors in the chain of hadith narration, Allah assigns this task to Muslims more precisely. to hadith scholars. In a hadith narrated by Abu daud "the Prophet SAW said: "Verily Allah will send for this Ummah, at the end of every hundred years, people who will renew their religion". With their diligence, thoroughness and hard work, the traditions that came from the prophet to us today. In the course of Islamic history, various regions seem to share and change roles in reviving the sunnahs of the prophet Muhammad SAW. When the movement for the study of Sunnah in one area declines due to various factors, then other parts of the region will immediately rise to shine brightly in other areas. India or what is known as Al-Hindi has also been transformed into an influential center of Islamic studies, this situation has been going on since the 12th century Hijri. The study of Hadith became one of the most advanced fields in the Indies. These scholars had a major role in the study of hadith such as ahkam hadiths, sanad criticism, ilat hadith, syarah hadith and various other themes. Among the most famous hadith scholars from India is Shaykh Abdurrahim Ad-Dahlawi. Many important writings in the field of hadith that he produced during his life, such as his contribution to the development of hadith in India and other Islamic worlds. He was also a hadith reference in his time and also printed the names of several other great hadith scholars. Here the author will discuss his biography, scientific journey, hadith teachers, famous students in the field of hadith, as well as his work and methods in the field of hadith.ABSTRAKSecara tegas Allah swt menyampaikan bahwa “dan sesungguhnya Kami lah yang menjaganya (al-Quran)”, namun untuk menjaga hadis nabi dari perubahan matan, penyandaran yang palsu atas nama nabi atau terjadinya kesalahan pada sanad periwayatan hadis, Allah bebankan tugas ini kepada umat Islam lebih tepatnya kepada ulama hadis. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu daud, Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang akan memperbaharui  agamanya”. Dengan ketekunan, ketelitian dan kerja keras mereka hadis-hadis yang berasal dari Nabi sampai kepada kita saat ini. Dalam perjalanan sejarah Islam, berbagai wilayah seolah saling berbagi dan berganti peran dalam menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW. Ketika gerakan kajian sunnah di suatu wilayah menurun karena berbagai faktor, maka wilayah bagian yang lain akan segera bangkit bersinar menerangi wilayah lainnya. India atau yang disebut dengan Al-Hindi juga pernah menjelma menjadi pusat kajian Islam yang berpengaruh, keadaan ini berlangsung sejak abad ke-12 Hijriyah. Kajian hadis menjadi salah satu bidang yang paling maju di Hindia, para ulama ini memiliki peranan besar dalam kajian hadis seperti hadis-hadis ahkam, kritik sanad, ilat hadis, syarah hadis dan berbagai tema yang lain. Diantara ulama hadis yang paling terkenal dari India adalah Syaikh Waliyullah Abdurrahim Ad-Dahlawi. Banyak karya tulis penting di bidang hadis yang beliau hasilkan selama hidupnya, sebagai sumbangsih beliau untuk perkembangan hadis di India dan dunia Islam lainnya. beliau juga menjadi rujukan hadis pada masanya dan juga mencetak beberapa nama ulama besar hadis lainnya. Disini penulis akan membahas biografi, perjalanan ilmiah beliau, guru-guru hadis, murid-murid yang masyhur dalam bidang hadis, serta karya dan metode beliau dalam bidang hadis.  
Rahasia Keagungan Ilahi Dibalik Penafsiran Sastra Bint Asy-Syati’ Nasaiy Aziz; Mohd Kalam Daud
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.14061

Abstract

Al-Qur'an in Islam is God's guidance to all humans at all times and throughout the world whose contents must be understood and practiced. To better understand the content and meaning of the Qur'an, a study of the interpretation of the Qur'an is very necessary in order to know the message of Allah behind the texts. The study of the Qur'an actually always experiences a fairly dynamic development, along with the development of socio-cultural conditions and human civilization. This is evidenced by the emergence of works of interpretation, ranging from classical to contemporary, with various styles, methods and approaches used. Bint ash-Syati' is the first female interpreter to live in contemporary times, through language interpretation with a philological and literary approach, which she initiated tries to apply examples of interpretation and apply them in people's lives. It is hoped that the study of the interpretation model will be able to provide a sharper and more specific picture of the method model in question. ABSTRAK Al-Qur’an dalam Islam merupakan petunjuk Allah kepada seluruh manusia di segala zaman dan seluruh dunia yang isinya harus dipahami dan diamalkan. Untuk lebih memahami isi dan makna Al-Qur’an, kajian tafsir Al-Qur’an sangat diperlukan guna mengetahui pesan Allah di balik teks-teksnya. Kajian Al-Qur’an sebenarnya selalu mengalami perkembangan yang cukup dinamis, seiring dengan perkembangan kondisi sosial-budaya dan peradaban manusia. Hal ini terbukti dengan munculnya karya-karya tafsir, mulai dari yang klasik sampai kontemporer, dengan berbagai corak, metode dan pendekatan yang digunakan. Bint asy-Syati’ adalah penafsir perempuan pertama yang hidup di zaman kontemporer, melalui penafsiran bahasa dengan pendekatan filologi dan sastra yang digagasnya mencoba mengaplikasikan contoh-contoh penafsiran dan mengaplikasikan dalam kehidupan masyarakat. Kajian model penafsiran tersebut diharapkan akan dapat memberikan gambaran yang lebih tajam dan spesifik yang dimiliki oleh model metode dimaksud
Analysis of Manhaj Dabt in Surah al-Baqarah: A Study of Manuscripts Al-Quran MSS 4322 by Pangeran Jimat Siti Azwanie Che Omar; Sedek Ariffin
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13341

Abstract

Dabt is described by Muhammad Salim Muhaysin as a discipline related to the method of marking the letters of the Quran. This discipline of knowledge is based on law either in terms of tajwid or the form of recitation. The main focus of this study is to analyze the manhaj ilmu dabt found in surah al-Baqarah in the manuscript al-Quran MSS 4322 collection of the National Library of Malaysia. Manuscript al-Quran MSS 4322 is a handwritten al-Quran manuscript by Pangeran Jimat in Madura, Indonesia. Pangeran Jimat was a sultan who ruled Madura in the 17th century AD. This study was conducted through a philological approach. The method used during this study is the method of data collection through documentation method by analyzing the text of the Qur'an MSS 4322. The findings show that analysis of dabt knowledge in the manuscript of al-Quran MSS 4322 clearly shows the writing of dabt manuscript al- Quran MSS 4322 does not follow the actual method of dabt knowledge such as the complete harakat, tanwin, mad, sabdu, sukun and hamzah, but is more in line with the normal writing pattern. The findings show, the author submits a proposal so that this study can be done continuously on other surah especially aspect dabt Therefore, this manuscript of the Qur'an is a great manuscript that will enhance the dignity and writings of previous scholars academically and more authoritatively to the digital generation, especially in the field of the Qur'an.ABSTRAKDabt dijelaskan oleh Muhammad Salim Muhaysin sebagai suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan metode penandaan huruf-huruf Al-Qur'an. Disiplin ilmu ini berlandaskan hukum baik dari segi tajwid maupun bentuk tajwidnya. Fokus utama penelitian ini adalah menganalisis manhaj ilmu dabt yang terdapat dalam surah al-Baqarah dalam manuskrip al-Quran MSS 4322 koleksi Perpustakaan Negara Malaysia. Naskah Al-Quran MSS 4322 adalah naskah Al-Quran tulisan tangan oleh Pangeran Jimat di Madura, Indonesia. Pangeran Jimat adalah seorang sultan yang memerintah Madura pada abad ke-17 Masehi. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan filologis. Metode yang digunakan selama penelitian ini adalah metode pengumpulan data melalui metode dokumentasi dengan menganalisis teks Al-Qur'an MSS 4322. Hasil penelitian yang diperoleh pada analisis pengetahuan dabt dalam naskah al-Quran MSS 4322 jelas menunjukkan penulisan dabt mushaf al-Quran MSS 4322 tidak mengikuti metode pengetahuan dabt yang sebenarnya seperti harakat lengkap, tanwin, mad, sabdu, sukun dan hamzah, tetapi lebih sesuai dengan pola penulisan normal. Sebagai hasil dari temuan penelitian ini, penulis mengajukan proposal agar penelitian ini dapat dilakukan secara berkelanjutan pada surah-surah Al-Qur'an lainnya di Perpustakaan Negara Malaysia yang belum dikaji secara komprehensif yang berasal dari dunia Melayu. Oleh karena itu, naskah Al-Qur'an ini merupakan naskah besar yang akan meningkatkan harkat dan martabat tulisan para ulama terdahulu secara akademis dan lebih berwibawa kepada generasi digital khususnya di bidang Al-Qur'an.
Pengarusutamaan Gender dalam Penafsiran Al-Qur’an Menurut Amina Wadud Muhsin Samsul Bahri; Nushadiqah Fiqria
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13522

Abstract

Islam is a just religion. Justice covers all levels and groups of people, whether male or female, young or old, everything has been regulated according to its portion. Islam has honored women and made them equal to men in terms of worship, work, and rituals to draw closer to Allah. But in reality, some of these things are not really found in the facts of life. In conducting this search, the researcher used the thematic-analytical method by focusing the search on Amina Wadud's hermeneutics. From this search, the researcher found that Amina Wadud's interpretation method was a form of adoption of Fazlurrahman's hermeneutics. The difference between the two lies in the focus of the study and the perspective of the interpreter in which in this case the focus of Amina Wadud's study is on gender verses with Amina Wadud's perspective as a woman. From the research, it can be understood that Amina Wadud hopes that efforts to interpret the verses of the Qur'an, especially those relating to women, must be understood holistically because from a holistic method an interpretation of the Qur'an will be obtained which has meaning and content in harmony with the context of modern life.ABSTRAKIslam merupakan agama yang adil. Keadilan tersebut mencakup segala tingkatan dan golongan manusia baik itu laki-laki atau perempuan, muda maupun tua, segalanya telah diatur sesuai porsinya. Islam telah memuliakan perempuan dan menjadikan posisinya sama dengan pria dalam hal beribadah, bekerja, dan ritual-ritual untuk mendekatkan diri pada Allah. Namun pada kenyataannya, beberapa hal tersebut tidak benar-benar ditemukan dalam fakta kehidupan. Dalam melakukan penelusuran ini, peneliti menggunakan metode tematik-analitis yaitu dengan memfokuskan penelusuran terhadap hermeneutika Amina Wadud. Dari penelusuran ini peneliti menemukan bahwa metode interpretasi Amina Wadud merupakan bentuk adopsi dari hermeneutika Fazlurrahman. Perbedaan antara keduanya terletak pada fokus kajian dan perspektif interpreter yang mana dalam hal ini fokus kajian Amina Wadud adalah ayat-ayat gender dengan perspektif Amina Wadud sebagai perempuan. Dari penelitian, dapat dipahami bahwa Amina Wadud mengharapkan upaya penafsiran terhadap ayat al-Qur`an terutama yang berkaitan dengan perempuan harus dipahami secara holistik karena dari metode holistik akan diperoleh interpretasi al-Qur`an yang mempunyai makna dan kandungan selaras dengan konteks kehidupan modern.
‘Ibadurrahman dalam Perpekstif Al-Qur’an: Studi Hermeneutics/Tafsir Maudhu’i Emi Suhemi
Jurnal Ilmiah Al-Mu ashirah Vol 19, No 2 (2022)
Publisher : Forum Intelektual Qur'an dan Hadits Asia Tenggara (SEARFIQH) Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v19i2.13546

Abstract

‘Ibadurrahman is an expression in Arabic which consists of 2 words, namely Ibad and arrahman. Ibad means servant, in the Qur'an it is usually indicated for those who believe, those who obey the commands of Allah and His Messenger. While arrahman means the most merciful. So, ‘Ibadurrahman is a servant of Allah who was given honor by Allah as a most merciful servant. This research is entitled ‘Ibadurrahman in the perspective of the Koran Al-Quran by using a hermeneutics approach (tafsir maudhu'i). The steps taken in this approach are collecting verses with the theme of ‘Ibadurrahman in the Al-Quran, then also collecting hadiths on the theme of ‘Ibadurrahman criteria, and also using several dictionaries which are used as tools to find an etymological understanding of Ibadurrahman's criteria. The purpose of this research is to know the criteria of Ibadurrahman in the Al-Quran. The result of this research is that it is found that there are ten criteria from ‘Ibadurrahman.ABSTRAK‘Ibadurrahman adalah ungkapan dalam bahasa Arab yang terdiri dari 2 kata yaitu Ibad dan ar-Rahman. Ibad artinya hamba, dalam al-Qur'an biasa ditunjukkan untuk orang-orang yang beriman, orang-orang yang ta'at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan ar-Rahman artinya yang maha pengasih. Jadi, ‘Ibadurrahman adalah hamba Allah yang diberi kemulian oleh Allah sebagai hamba yang maha penyayang. Penelitian ini berjudul ‘Ibadurrahman dalam Perspektif Al-Quran penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutics (tafsir maudhu’i). Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan ini yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang bertemakan ‘Ibadurrahman di dalam al-Qur’an, kemudian juga mengumpulkan hadist-hadist yang bertemakan kriteria ‘Ibadurrahman, dan juga menggunakan beberapa kamus yang dijadikan alat untuk menemukan pemahaman kriteria ‘Ibadurrahman secara etimologi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kriteria ‘Ibadurrahman dari sudut pandang penafsiran  al-Qur’an.  Hasil dari penelitian ini adalah  ditemukan pemahaman yang bervariasi tentang penafsiran dari kriteria  ‘Ibadurrahman.

Page 11 of 25 | Total Record : 241