cover
Contact Name
SYARIATI
Contact Email
jurnalsyariati@gmail.com
Phone
+6285643277998
Journal Mail Official
jurnalsyariati@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Sains Al-Qur`an
Location
Kab. wonosobo,
Jawa tengah
INDONESIA
SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum
ISSN : 24599778     EISSN : 25991507     DOI : https://doi.org/10.32699/syariati
Jurnal Syariati adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Sains Al-Qur`an. Terbit pertama kali tahun 2015. Jurnal ini fokus pada studi Al-Qur`an dan Hukum dengan berbagai pendekatan keilmuan. Redaksi mengundang para ahli, peneliti, dan segenap civitas akademika untuk menulis artikel sesuai dengan topik jurnal. Artikel yang dimuat tidak selalu mencerminkan redaksi ataupun institusi lain yang terkait dengan penerbitan jurnal. Frekuensi terbit jurnal Syariati (Jurnal Studi Qur`an dan Hukum) ialah bulan Mei dan November (2) dua kali setahun. Jurnal ber ISSN Nomor 2459-9778.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 242 Documents
Reakatualisasi Nasakh dalam Perspektif Sosiologis Nashih Muhammad; Eko Sariyekti; Sumarjoko Sumarjoko
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.2105

Abstract

Artikel ini tentang reaktualisasi konsep nāsākh yang sangat penting dan relevan berdasarkan kenyataan sosiologis, bahwa dalam waktu kurang dari 22 tahun terdapat beberapa ketentuan hukum awal Al-Qur'an telah mengalami peruberubahan beberapa kali dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Perubahan siklus sosial, moral, dan budaya merupakan fakta yang diakui oleh ahli hukum dan dipertimbangkan dalam penentuan teori dan tradisi hukum Islam. Nāskh adalah salah satu gagasan paling relevan di sekitar aturan yang disediakan dalam Al-Qur'an yang menghubungkan firman Tuhan dengan kehidupan orang beriman. Nāsākh menjadi hal yang penting dalam pengembangan metodologi Islam. Pada prinsipnya, ulama Muslim menerima adanya nāsākh, tetapi terbatas pada syariat Islam terhadap syariat samawi sebelumnya. Adapun mengenai adanya nāsākh dalam syariat Islam terutama terhadap al-Qur’an para ulama terdapat perbedaan. Diskursus terhadap pergantian teks hukum (nāsākh) atau tidak adanya pergantian menjadi perdebatan dikalangan ulama fiqh (fuqaha). Persoalan ini sangat penting dalam sejarah perkembangan hukum Islam. Karena terkait langsung terhadap proses pelaksanaan ijtihad oleh ulama ahli fiqh. Pengambilan dan penetapan hukum membutuhkan penalaran logis seorang mujtahid. Berkaitan dengan hal tersebut penulis bermaksud membahas tentang teori nāsākh yang diperlukan dalam kajian hukum Islam dan bentuk-bentuk nāsākh yang dipraktikan oleh ahli fiqh serta bagaimana aktualisasi konsep nāsākh dalam persoalan kontemporer.
Perang dalam Al-Qur`an dan Alkitab ahmadiy ahmadiy
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.2364

Abstract

Dalam Islam, peperangan selalu identik dengan kata jihad. Legitimasi terhadap kebolehan berperang pun sering disandarkan pada ayat-ayat yang secara eksplisit memuat kata ini. Ada sebanyak 35 kata jihad dengan berbagai derivasinya yang tersebar di berbagai ayat dan surat yang berbeda. Banyak dalil-dalil nāqli yang berkaitan dengan mulianya menegakkan jihâd fî sabîlillâh bahkan perintah untuk menumbuhkan keberanian mengorbankan harta dan jiwa. Dengan demikian terasa wajar jika seseorang dengan prespektif religious normatifnya sangat antusias mengorbankan jiwa raganya atas nama jihad. Meskipun banyak tujuan jihad dilakukan, namun secara khususnya, kata jihad dimaksudkan untuk i’lâ`an li kalimâtillâh atau mengangkat agama Islam ke derajat tertinggi, membela, dan memeliharanya dari segala upaya perusakan. Secara teknis, jihad dalam Alkitab juga mengandung unsur yang metafisis berupa ketaatan pada Tuhan. Jihad merupakan perjuangan yang tidak dibatasi pada upaya fisik semata tapi termasuk pada perjuangan menjaga ajaran agama. Ayat ini dipertegas dengan ayat II Tim 2:5 dan I Kor 9:25. Ayat tersebut menjelaskan bahwa jihad merupakan kesungguhan yang tidak hanya jiwa tapi juga raga. Sebagaimana jihad dalam Al Quran, interpretasi seruan jihad dalam Alkitab juga tidak benarkan hanya berpijak pada makna literal teks semata. Pemahaman tekstual akan menjadikan perang sebagai pembenaran teologis bagi oknum jihad. Perang yang menghalalkan darah musuh termasuk mereka yang tidak terlibat perang, pembakaran, penjarahan, semua kejahatan kemanusiaan itu (crimes against humanity) bukanlah ajaran yang dimaksudkan oleh agama. Namun, jika interpretasi berhenti disitu, sikap-sikap fundamentalistik dapat menguat dalam penyelesaian masalah melalui kekerasan dan perang. Mengedepankan aspek teologis berarti melestarikan hak asasi manusia.
Keunikan Makna Pada Lafaẓ Al-Burûj Kajian Perbandingan Tafsir Al-Kasyâf dan Al-Azhar Malyuna Milyari Faidah; Abdul Rofi’
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.2542

Abstract

Al-Qur`an merupakan kitab suci berupa bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang terpelihara. Di dalamnya terdapat surat-surat yang tiap ayat-ayatnya terdiri dari lafaẓ-lafaẓ yang memiliki makna yang dalam, luas, dan juga indah. Dari segi bahasanya yang indah, banyak para mūfāṡṡiṙ yang mengulik pemaknaannya dengan sentuhan bahasa yang indah dan unik pula. Penulisan ini bertujuan untuk dapat mengetahui keunikan makna yang terkandung dalam lafadz āl-būrūj di Q.S Āl-Būrūj. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dan memperoleh data dari studi pustaka yang bersumber dari literasi kitab, jurnal dan lainnya. Sumber data pokok yang digunakan adalah menggunakan kitab tafsir Āl-Kāṡyāf karya al-Zamakhsyāri dan kitab tafsir Āl-Āżḣāṙ karya Buya Hamka. Hasil penelitian menyebutkan bahwa lafaẓ āl-būrūj memiliki keunikan makna dari segi penafsirannya yang luas dan juga indah. Dalam kitab tafsir Āl-Kāṡyāf dijelaskan bahwa āl-būrūj adalah dua belas rasi bintang. Dan dalam kitab tafisr Āl-Āżḣāṙ disebutkan bahwa āl-būrūj dianggap sebagai perhentian tempat singgah, atau disebut mānāẓil. Āl-būrūj, yaitu rasi bintang, gugusan bintang, tempat persinggahan bulan, dan juga kedua belas rasi bintang (yang juga kita kenal dengan sebutan zodiak) yang kesemuanya dapat dijadikan sebagai penunjuk banyak hal bagi umat manusia. Sebagai penunjuk arah mata angin yang berfungsi mempermudah pekerjaan, berfungsi untuk memudahkan urusan agama, bahkan hingga dijadikan hal-hal berbau mitologis. Dalam kajian mūqāṙān makna āl-būrūj dalam tafsir Āl-Kāṡyāf menggambarkan pemaknaan āl-būrūj sesuai dengan apa yang dirā`yūkan oleh mūfāṡṡiṙ. Sedang dalam tafsir Āl-Āżḣāṙ mengandung makna ke-ijtimā`iān. Yaitu dengan adanya penjelasan bahwa “būrūj” atau rasi bintang adalah rasi bintang yang juga menjadi tempat persinggahan bulan pada setiap tahunnya.
Penanggulangan Kasus Human Trafficking di Indonesia Melalui Peran International Organization Of Migration (IOM) linda ikawati
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.2659

Abstract

Human Trafficking atau yang sering disebut dengan perdagangan orang merupakan bentuk kejahatan yang melanggar Hak Asasi Manusi (HAM). Perkembangan zaman yang semakin modern dan globalisasi yang semakin berkembang merubah pola kehidupan yang semakin kompleks mulai dari peningkatan sarana prasarana trsansportasi, kecanggihan elektronik, menjadi pemicu terjadinya kejahatan lintas negara atau trans- national organized crime (TOC). Indonesia termasuk negara yang memasok pekerja migran dengan tujuan diperdagangkan, terutama bagi perempuan dan anak. Dalam penegakan secara nasional maupun internasional peran pemerintah, badan legislatif, dan penegak hukum seringkali kurang memiliki kemampuan dan keahlian yang memadahi dalam proses penanganan. Sehingga hal ini sangat dibutuhkan perhatian khusus. Melihat kelemahan dalam penegakan hukum atas kasus human trafficking yang dimana kasus ini semakin berkembang dengan berbagai modus operandinya, salah satu Internatioanal Organization for Migration (IOM) yang bergerak di bidang migrasi, secara khusus telah berkontribusi dalam upaya memperkuat kapasitas penegakan hukum di Indonesia dalam menanggulangi kasus Human Trafficking, diantaranya melalui kegiatan pelatihan khusus, seminar, pemberian modul atau buku panduan, dan kurikulum yang berkaitan dengan trafficking.
Telaah Kitab Tabaqât Al-Kubra Imam Bukhari: Menelusuri Sejarah Periwayat Hadis Hilmy Pratomo Pratomo
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.2660

Abstract

Mengkaji hadits dalam konteks ke-Indonesia-an akan menjadi sebuah kajian yang cukup menarik. Terlebih jika dikaji dalam konteks organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang memiliki corak dan madzhab tertentu. Salah satu organisasi keagamaan dan kemasyarakatan di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama, atau biasa disingkat dengan NU. Organisasi yang diikuti oleh sebagian besar umat Islam Indonesia ini
Manajemen Pelayanan Prima Perspektif Etika Bisnis Syariah Studi KSPPS Melati Wonosobo Vivi Pujiarti; Mila Fursiana Salma Musfiroh
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.2667

Abstract

Etika bisnis Syariah merupakan perilaku bisnis yang menjadi salah satu konsep dasar ekonomi syariah. Bagi sebuah perusahaan berbasis Syariah segala aspek yang ada harus diterapkan sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah melalui perilaku-perilaku bisnisnya. Dalam model bisnis jasa seperti Lembaga Keuangan Syariah kegiatan pelayanan sudah seperti sampul perusahaan yang harus didesain dengan baik, salah satunya dengan memperhatikan etika bisnis yang diterapkan terutama dalam pemberian pelayanan prima kepada pelanggan. Artikel ini menjelaskan pandangan etika bisnis syariah khususnya berkaitan dengan pola-pola pelayanan Rasulullah SAW yang meliputi murah senyum, ramah, menepati janji, senang memberi hadiah dan adil terhadap penerapan manajemen pelayanan prima yang dilakukan oleh perusahaan. Pengumpulan data melalui wawancara terstruktur. Analisis data menggunakan analisis diskriptif dengan tahapan reduksi data, display data, dan conclution drawing. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan manajemen pelayanan prima di KSPPS Melati Wonosobo yang diimplementasikan melalui pelaksanaan program-program pelayanan prima antara lain yaitu, program sistem jemput bola, program 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun), program pelayanan menggunakan bahasa krama, program reward untuk karyawan terbaik, program pelayanan 24 jam, dan program pelatihan untuk anggota dan karyawan, tidak bertentangan dengan etika bisnis syariah dan program-program pelayanan prima yang dilakukan telah memenuhi konsep prinsip-prinsip pelayanan prima A3 (Attitude, Attention dan Action).
Konsep Ummāh Al-Wāsthi Perspektif Hermeneutika Mohamed Thalibi Mohammad Akmal Hikmawan
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.3364

Abstract

Dalam mengulas kandungan al-Qur`an, para mufassir era kontemporer selalu berusaha menawarkan metode-metode yang dianggap relevan untuk diterapkan pada zaman sekarang. Mohamed talibi sebagai salah satu pemikir muslim kontemporer berusaha menyuguhkan pemahamannya dalam Islam, seperti pemikirannya tentang Muslim moderat. Dalam memahami kandungan ayat, Mohamed Talibi berusaha mengompromikan dengan arah perkembangan zaman tanpa meninggalkan dasar-dasar yang berkaitan. Sebagai seorang pemikir muslim yang diakui keilmuannya, tidak ada salahnya jika membahas pemikirannya mengenai pembacaan al-Qur`an yang dapat membawa kita untuk menjadi manusia yang berwawasan luas, penuh dengan toleransi dan kedamaian seperti yang disuarakan oleh Mohamed Talibi dalam bukunya Ummāh al-Wāsath.
Qitâl dan Relevansinya Terhadap Radikalisme Penafsiran Ibnu Taimiyah Terhadap Q.S At-Taubah Ayat 5 dan 29 Brillian Fikhra Andrian
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.3365

Abstract

Isu-isu kekerasan dan radikalisme di Indonesia semakin hari kian marak. Berbagai tindakan anarkis dan teroris seakan menjamur di negeri yang memiliki banyak keragaman umat beragama ini. Tindakan-tindakan yang merugikan publik serta apalagi agama tersebut tidak tidak sering dilatar belakangi terhadap uraian ayat- ayat suci al- Qur’an. Al- Qur’an dimengerti bagaikan wahyu yang melegalkan aksi-aksi tersebut, wacana radikalisme dalam tiap agama senantiasa memperkenalkan nama Tuhan. Ini bisa dipahami sebab agama mempunyai otoritas yang kokoh di atas bermacam kekuatan lain. Tercantum Islam, yang semenjak dini kelahirannya mendeklarasikan diri bagaikan agama yang sarat dengan nilai-nilai kedamaian, ajaran-ajarannya oleh sebagian orang sering kali dijadikan justifikasi atas bermacam aksi kekerasan. Salah satu penyebabnya merupakan uraian yang galat atas ayat- ayat al- Qur’an, spesialnya dalam Q. S at-Taubah ayat 5 serta 29 yang mengulas tentang jihâd serta perang (qital), sebab ayat tersebut disinyalir jadi faktor Gerakan radikalisme. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji ayat-ayat tersebut dengan memusatkan perhatian pada makna dan konteks historisnya untuk menghasilkan pemahaman yang benar dan komprehensif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa jihâd dan perang dalam Al-Qur’an berbeda dengan radikalisme. Tujuan utama jihâd adalah kesejahteraan manusia, bukan perang. Oleh karena itu, jihâd adalah kewajiban setiap Muslim dalam hidupnya, sedangkan Qital itu bersyarat, bersifat sementara, dan merupakan pilihan terakhir yang tidak ada cara lain selain perlawanan fisik. Lebih jauh, pelaksanaan perang harus memenuhi persyaratan yang sangat ketat.
Teologi Perubahan Sosial di Dunia Islam Muhammad Faizul Husnayain; Agus Salim
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.3366

Abstract

Islam adalah agama yang terus mendorong umatnya senantiasa berkembang dan memberikan maslahat pada kehidupan. Sayangnya banyak kaum muslim yang jutru mencukupkan diri untuk ibadah sebagai suatu indikator kesalihan, akibatnya kaum muslim justru tidak berkembang dan terkesan jumud selama beberapa abad lamanya. Kondisi ini bertentangan dengan ajaran Islam yang mendorong manusia untuk lebih inovatif, progresif dan kreatif dalam mengupayakan kebaikan (fāstābiqūl kḣāirāt) hidup. Dalam penelitian ini peneliti akan menguraikan bagaimana pola perkembangan pemikiran teologi Islam dalam mepengaruhi perubahan social masyrakat. Metode penitian dalam penitian ini adalah kualitatif dan jenis penilitannya Ribrrary Riserch atau penelitian kepustakaan, di mana data penelitian diambil dari data pustaka lalu kemudian temuan data dikelolah dan dianalisa sesuai dengan pola perkembangan pemikiran teologi. Manfaat penitian ini adalah untuk mengetahui bahwa teologi dapat mengkaji aspek kehidupan dan dapat memecahkan masalah social yang berkembang pada masa tertentu.
Relasi Maqâṣid dengan Dalil-Dalil Fiqih Syamsul Falah; Arif Al Wasim
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 2 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.3367

Abstract

Artikel ini akan membahas hubungan maqâṣid asy-syarî’ah dengan berbagai dalil fiqih, baik yang disepakati maupun yang diperselisihkan. Syari’ah mempunyai spirit mencari maṣlaḣat dan menghindari mafsadat. Teks-teks suci keagamaan (Al-Qur`an dan Sunnah) tidak selalu memberi jawaban yang terperinci dan konkrit atas kemaslahatan, tetapi dalil-dalil utama tersebut menjadi standar pasti terhadap eksistensi maṣlahat, dan senantiasa terbuka lebar ruang untuk berijtihad dan beristinbâṭ. Konsep maqâsid secara terus-menerus mengalami proses transformasi konseptual mulai dari nilai hingga pendekatan. Sebagai nilai, maqâṣid syarî’ah adalah bagian integral dalam kajian maṣlaḥah mursalah, istiḣsân dan qiyās dalam kajian usul fikih. Maqâṣid mempunyai hubungan yang erat bagaikan Asal dan Cabangnya jika dihubungkan dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Ketika Maqâṣid disandingkan Dalil seperti, al-Ijmâ’, al-Qiyâs, al-maṣlaḣah al-Mursalah, Istihsân dan Sadd aż-Żara`i’, maka Maqâṣid merupakan spirit yang dijadikan dasar dalam menerapkan dan mengaplikasikan 5 metode ijtihad tersebut. Maqâsid ṣyari’ah merupakan tujuan utama dari pada fiqih itu sendiri yang merupakan wujud interpretasi dari sumbernya (al-Qur’ân dan sunnah) untuk mencapai maslahahummat