cover
Contact Name
Dwi Septian Wijaya
Contact Email
admin@jurnalmedikahutama.com
Phone
+6281334291827
Journal Mail Official
admin@jurnalmedikahutama.com
Editorial Address
Jl. Gas Alam No. 59 Curug Cimanggis Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Medika Hutama
ISSN : 27158039     EISSN : 27159728     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Hutama adalah jurnal hasil penelitian, studi kasus, dan tinjauan pustaka di bidang Kesehatan dan Kedokteran
Articles 533 Documents
Uji Efek Pemberian Antibakteri ekstrak Daun Kitolod (Isotoma Longiflora (L) Presl.) terhadap Staphylococcus Aureus Retno Mareintika
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antibacterial is a substance that can inhibit or kill infectious pathogenic bacteria. Infection is caused by pathogenic bacteria that enter and multiply in body tissues. Bacterial conjunctivitis is caused by one of the most common bacteria with varying degrees of staphylococcus aureus. Kitolod has bioactive substances such as alkaloids, flavonoids, and saponins. The higher the concentration value of kitolod leaf juice (Isotoma longiflora), the higher the inhibition of the growth of Staphylococcus aureus bacteria, namely at a concentration of 100% with an inhibitory power of 17,18333 mm. The purpose of this research method is to determine the effect of giving Kitolod Leaves to conjunctivitis caused by Staphylococcus Aureus. The method used in conducting this research is literature review from various national and international journals. From several studies, it was found that there was an effect of giving Antibacterial extract of Kitolod Leaf (Isotoma Longiflora (L) Presl.) against Staphylococcus Aureus
PENGATURAN POLA MAKAN TERHADAP KEBERHASILAN TERAPI PCOS Adenias Lutfia Ningrum
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PCOS infertility is caused by anovulation, wherein the follicle develops only 10 mm in size and PCOS develops when the ovaries are stimulated to produce excess amounts of androgen hormones. Diet and regular exercise can reduce body weight and have an effect on hormone levels in the circulation. The purpose of the article is to determine dietary regulation on the success of PCOS therapy. The article was compiled by searching the literature sources through Garuda and Sinta's database from 2000-2019 with a total of 14 articles. The keywords used in the search were PCOS, non-pharmacological therapy, and diet. The method used for analysis is systematic literature review which identifies, assesses, and then interprets all findings in a study to answer a research question by summarizing the results of the study. The results of the search for articles found that dietary regulation can increase the success of PCOS therapy. Types of food that can improve the function of the reproductive system are foods that contain lots of folic acid, iron, vitamin C, vitamin E, vitamin B6, zinc, aluminum, and calcium. Weight loss can affect the menstrual cycle because a decrease in body fat percentage will occur along with weight loss so that it can reduce the risk of menstrual cycle disorders, improve the ovulation process, and improve fertility levels.
PENGARUH ASUPAN KALSIUM TERHADAP INDEKS MASA TUBUH (IMT) M Fauzan Abdillah Rasyid
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indeks massa tubuh (IMT) merupakan cara pengukuran berat badan yang disesuaikan dengan tinggi badan, dihitung mengunakan cara berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat tinggi badan dalam meter (kg/m 2 ), IMT telah di buktikan berkorelasi kuat dengan estimasi persentase lemak tubuh .Di indonesia sendiri menurut data riset kesehatan dasar(riskesdas) tahun 2013 IMT orang indonesia adalah 13,5% untuk dewasa usia 18 tahun ke atas masuk pada kategori kelebihan berat badan dan 28,7% masuk kedalam kategori obesitas yang diharapkan bahwa angka ini di usahakan menurun.Berdasarkan penelitian di dapatkan bahwa mekanisme kerja kalsium berhubungan dengan peran kalsium dalam metabolisme pada jaringan adipose yang dapat mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan dan menurunkan sintesis lemak.
Potensi Metformin pada Terapi Dermatologi mahala ramah
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metformin menjadi terapi lini pertama DM tipe 2 terutama pada pasien yang disertai obesitas, dengan efek anti-hiperglikemik. Metformin memiliki efek farmakologis yang luas dan telah banyak laporan mengenai efek metformin sebagai antiinflamasi dan kanker. Sehingga metformin berpotensi tidak hanya untuk terapi diabetes tetapi dapat digunakan pada terapi dermatologi. Beberapa penelitian melaporkan efek manfaat metformin pada inflamasi kulit seperti psoriasis, akantosis nigrikan, hidradenitis supurativ. Mekanisme dari metformin yaitu sebagai efek anti –hiperglikemik, inhibitor NFkB, mengubah jaringan sitokoin. Efek anti-hiperandrogenisme merformin terkonfirmasi merupakan efek utama pada beberapa penyakit kulit inflamasi. Dengan mekanisme penghambatan faktor nuklear kappa B (NFkB) dan jalur sinyal mTOR metformin berpotensi sebagai anti kanker pada kulit.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PASIEN DIABETES MELITUS Anggi Marta Dwi Sasmita
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2017, jumlah penderita DM di dunia diprediksi mengalami peningkatan dari 425 juta jiwa pada tahun 2017 menjadi 629 juta jiwa pada tahun 2045. Dari jumlah tersebut, Asia Tenggara mengalami peningkatan dari 82 juta jiwa pada tahun 2017 menjadi 151 juta jiwa pada tahun 2045 dengan Indonesia berada di peringkat ke-7 sebagai negara yang memiliki penderita DM terbanyak dan diperkirakan memiliki 5,4 juta penderita DM pada tahun 2045 serta memiliki angka kendali kadar gula darah yang rendah. Penyakit ini merupakan penyakit kronis dengan kompleksitas tinggi sehingga diperlukan pengobatan yang berkelanjutan. Penyakit DM tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikelola tergantung dengan manajemen diri dan gaya hidup pasien DM. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan DM saat ini masih menjadi masalah besar yang cukup penting dalam pengelolaan DM. Kepatuhan pasien adalah kesesuaian perilaku pasien dengan aturan dan ketentuan yang diberikan tenaga kesehatan. Brunner dan Suddart (2002) mengemukakan terdapat beberapa faktor mempengaruhi kepatuhan pasien, yaitu: jenis kelamin, usia, suku bangsa, status pendidikan dan status ekonomi. Fleischhacker (2003) berpendapat bahwa kepatuhan dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, psikopatologi dan gangguan kognitif. Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2010) mengemukakan terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi perilaku kesehatan, antara lain: faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pemungkin (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing factors).
HUBUNGAN KADAR PROSTATE SPECIFIC ANTIGEN (PSA) DENGAN DERAJAT HISTOPATOLOGI KANKER PROSTAT Panca Bayu Pamungkas
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker prostat merupakan sel jaringan prostat yang tumbuh secara abnormal, yang disebabkan karena pertumbuhan dan perkembangan yang tidak terkontrol dari sel – sel kelenjar prostat. Penegakan diagnosis kanker prostat dapat dilakukan dengan colok dubur, pengukuran kadar serum prostate specific antigen (PSA), biopsi prostat dan sidik tulang, CT scan atau MRI dan foto thorak. Prostate Specific Antigen (PSA) tersusun atas enzim glikoprotein. PSA dapat disekresikan oleh sel epitelial prostat baik yang normal, hiperplastik maupun ganas. Pada penderita kanker prostat, biasanya didapatkan peningkatan kadar serum PSA. Penilaian diferensiasi sel tumor pada kanker prostat, biasanya menggunakan sistem penilaian skor Gleason. Skoring Gleason merupakan salah satu penegak prognosis kanker prostat yang paling kuat. Metode yang digunakan oleh penulis untuk menganalisis hubungan antara kadar PSA dengan derajat histopatologi kanker prostat adalah dengan studi literatur dari berbagai jurnal penelitian nasional dan internasional. Dari berbagai penelitian nasional dan internasional tersebut didapatkan hasil adanya hubungan positif antara kadar PSA dengan derajat histopatologi kanker prostat. Yang berarti, semakin tinggi kadar serum PSA maka semakin tinggi pula derajat histopatologi kanker prostat yang dinilai dengan skor Gleason. Hal ini dapat terjadi karena keduanya merupakan indikator diagnostik prognosis kanker prostat dan derajat histopatologi yang buruk menandakan semakin rusaknya lapisan sel basal dan membran sel basal, serta memperburuk terjadinya angiogenesis yang akan menyebabkan kebocoran serum PSA ke dalam sirkulasi darah sehingga kadarnya dalam darah tinggi.
HUBUNGAN KATEGORI WILAYAH PUSKESMAS TERHADAP KETERSEDIAAN DOKTER GIGI DI PUSKESMAS: ANALISIS DATA RIFASKES 2019 Muhammad Irfan
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakmerataan tenaga kesehatan merupakan isu klasik yang masih menjadi permasalahan hingga saat ini. Dokter gigi merupakan salah satu tenaga kesehatan yang wajib dimiliki setiap Puskesmas namun sampai saat ini masih ada Puskesmas yang tidak memiliki dokter gigi terutama Puskesmas yang berada di wilayah terpencil. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder RIFASKES 2019. Unit analisis yang digunakan adalah Puskesmas secara total coverage. Kategori wilayah Puskesmas memiliki hubungan yang signifikan terhadap ketersediaan dokter gigi (p = 0,0005). Puskesmas yang ada di wilayah pedesaan dan perkotaan sama-sama memiliki peluang yang lebih besar dalam penyediaan dokter gigi di Puskesmas dibandingkan dengan Puskesmas di wilayah terpencil (OR = 3,8 dan 15,7 CI 95%). Diperlukan perhatian khusus dari berbagai stakeholder terkait dalam penyediaan dokter gigi di Puskesmas dalam hal beban kerja, penyediaan insentif, pelatihan, jenjang karir, infrastruktur pendukung yang memadai dan kebijakan lain yang strategis baik dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Diagnosis dan Manajemen Penyakit Ginjal Kronis (PGK) Vika Kyneissia Gliselda
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chronic kidney disease (CKD) is a global public health problem with an increasing prevalence and incidence of kidney failure, poor prognosis and high costs. The prevalence of CKD increases with the increasing number of elderly population and the incidence of diabetes mellitus and hypertension. According to the results of the 2010 Global Burden of Disease, CKD was the 27th leading cause of death in the world in 1990 and increased to 18th in 2010. In Indonesia, treatment of kidney disease is the second largest health insurance provider after heart disease. In 2015, the global economic burden related to diabetes was US$1.31 trillion, and this is a sizable global economic burden. Chronic kidney disease (CKD) is the 16th leading cause of years of life lost worldwide. Appropriate screening, diagnosis, and management by primary care physicians are: necessary to prevent adverse CKD-related outcomes, including cardiovascular disease, end-stage renal disease, and death. Chronic kidney disease initially does not show signs and symptoms but can progress to kidney failure. Kidney disease can be prevented and managed and the chances of getting effective therapy are greater if caught early.
Perbedaan Daya Antibakteri Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) Varian Bangkok dan California Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli Naufal Atthariq Muhammad
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Escerichia coli merupakan salah satu bakteri flora normal yang dapat bersifat patogen apabila dipengaruhi factor predisposisi. Bakteri ini sering menimbulkan penyakit seperti diare, diare berdarah, infeksi saluran kemih, hingga mengitis. Selain sering menimbulkan penyakit bagi manusia bakteri ini merupakan salah satu bakteri yang sering ditemukan resisten terhadap obat golongan antibiotik, sehingga diperlukan adanya agen alternatif pengganti. Salah satu agen alternatif yang dapat dijadikan sebagai alternatif adalah tanaman obat yang memiliki sifat antibakterial, salah satunya adalah tumbuhan pepaya yang sering dimanfaatkan daging buah dan daunnya untuk dikonsumsi. Di Indonesia terdapat banyak jenis pepaya namun yang paling sering dibudidayakan adalah varietas bangkok dan california. Mengacu pada hal tersebut maka dilakukan studi literatur terkait perbedaan efektivitas ekstrak daun pepaya varietas bangkok dan california. Dari hasil studi literatur didapatkan data bahwa secara umum diameter zona hambat yang dihasilkan ekstrak daun pepaya varietas bangkok lebih besar dari varietas california, namun berdasarkan uji statistik mengemukakan bahwa perbedaan daya antibakteri diantara keduanya cenderung sama.
Perbedaan Daya Antibakteri Berdasarkan Pelarut Pada Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Salsabila Almira Taufani
Jurnal Medika Hutama Vol. 2 No. 04 Juli (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pepaya merupakan tanaman tropis yang dikenal memiliki banyak khasiat bagi kesehatan seperti sebagai antioksidan, antiinflamasi, antifungi, hingga antibakteri. Banyak penelitian yang sudah dilakukan terhadap manfaat dari bagian-bagian tumbuhan pepaya, terutama penelitian terhadap daun pepaya. Ekstrak daun pepaya terkenal dapat menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri karena memiliki kemampuan antibakterial. Mayoritas peneliti di Indonesia yang meneliti daya antibakteri ekstrak suatu bahan yang berasal dari tumbuhan menggunakan etanol sebagai bahan pelarut dalam proses pembuatan ekstrak. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui jenis pelarut apa yang paling cocok digunakan untuk mengekstraksi daun pepaya sehingga hasilnya paling optimal. Metode penelitian ini adalah studi literatur dengan menggunakan data sekunder dari penelitian yang sebelumnya sudah dilakukan. Hasil studi literatur mengungkapkan bahwa dari beberapa senyawa pelarut yang digunakan pada ekstraksi daun pepaya yang diujikan pada bakteri Escherichia coli, Bacillus cereus, dan Staphylococcus aureus etanol merupakan senyawa paling tinggi tingkat optimalisasinya sedangkan heksana yang paling rendah tingkat optimalisasinya dilihat dari diameter zona hambat yang terbentuk.