cover
Contact Name
Dwi Septian Wijaya
Contact Email
admin@jurnalmedikahutama.com
Phone
+6281334291827
Journal Mail Official
admin@jurnalmedikahutama.com
Editorial Address
Jl. Gas Alam No. 59 Curug Cimanggis Depok
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Medika Hutama
ISSN : 27158039     EISSN : 27159728     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Medika Hutama adalah jurnal hasil penelitian, studi kasus, dan tinjauan pustaka di bidang Kesehatan dan Kedokteran
Articles 533 Documents
GANGGUAN KESEHATAN MENTAL YANG DISEBABKAN OLEH PENDIDIKAN JARAK JAUH TERHADAP MAHASISWA SELAMA PANDEMI COVID-19 Jessica Febriyanti
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Jarak Jauh merupakan metode pendidikan yang peserta didik terpisah dengan pendidikan dan media pembelajarannya melalui teknologi informasi dan komunikasi dan media lain. Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) merupakan metode baru pembelajaran melalui jaringan yang diberlakukan sejak awal tahun 2020 yang merupakan salah satu langkah penurunan angka penyebaran COVID-19. Pendidikan Jarak Jauh dapat memberikan dampak terhadap psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak psikologis mahasiswa yang disebabkan oleh Pendidikan Jarak Jauh di masa pandemi COVID-19. JJenis penelitian ini menggunakan metode studi literature review dengan data yang berasal dari hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan dengan metode pencarian menggunakan metode pencarian Patient or Problem, Intervention, Comparison, Outcome (PICO). Pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dalam langkah menurunkan angka penyebaran COVID-19 menyebabkan menurunkan aktivitas, penurunan interaksi dengan teman atau kerabat, peningkatan pemakaian telepon genggam menyebabkan perasaan jenuh hingga menimbulkan gangguan psikologis pada mahasiswa. Kesimpulan dari artikel penelitian ini yaitu pemberlakuan Pendidikan Jarak Jauh memberikan berbagai dampak terhadap mahasiswa diantaranya yaitu gangguan kesehatan mental seperti gangguan cemas, gangguan kepribadian, dan depresi.
Hubungan Hipertensi Gestasional dengan Angka Kejadian BBLR Tasya Ivani Syafira Tasya
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka Kematian Bayi (AKB) adalah indikator pertama dan utama yang digunakan dalam menentukan derajat kesehatan anak sebagai cerminan dari status kesehatan masyarakat. Sebagian besar penyebab kematian bayi dan balita adalah dikarenakan masalah yang terjadi pada bayi baru lahir atau neonatal (umur 0-28 hari) dimana menyumbang angka sebesar 45%. Salah satu faktor penyebab dari berat bayi lahir rendah (BBLR) adalah preeklamsia berat pada kehamilan. Pada pasien dengan preeklamsia terjadi penurunan perfusi plasenta dan hipoksia, iskemi plasenta diperkirakan menyebabkan disfungsi sel endotel dengan merangsang pelepasan substansi yang toksik terhadap endotel. Kelainan ini menyebabkan perfusi jaringan yang buruk pada semua organ, meningkatkan resistensi perifer dan tekanan darah, meningkatkan permeabilitas sel endotel, serta menyebabkan kebocoran cairan dan protein intra vaskular serta akhirnya menyebabkan volume plasma berkurang. Hasil tersebut dapat dijelaskan karena saat ibu hamil mengalami hipertensi, asupan makanan terhadap janin menjadi terhambat disebabkan adanya penyempitan pembuluh darah. Asupan makanan yang terhambat akan menyebabkan perkembangan janin dalam kandungan menjadi terhambat. Pada akhirnya bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah. Menurut Badan Kesehatan Dunia, angka kejadian hipertensi terus meningkat secara global dan pada tahun 2025 diprediksi sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia akan mengalami hipertensi, hal ini akan menjadi sebuah tantangan besar bagi dunia. Hipertensi dalam kehamilan, perlu penanganan khusus karena dapat menurunkan aliran darah ke plasenta,yang akan mempengaruhi persediaan oksigen dan nutrisi pada bayi. Hal ini akan memperlambat pertumbuhan bayi dan meningkatkan risiko saat melahirkan.
Food-related Adverse Reactions: Alergi dan Intoleransi Makanan Sheldy Prawibowo
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Food-related adverse reactions can be in the form of food allergies that are mediated by immunity and food intolerance which is mediated by non-immunity. Food allergies and intolerances are often misunderstood by health professionals, patients, and the public. Therefore, the aim of this literature review is to critically review data relating to food allergies and food intolerances. Method. This research is a literature review involving 15 literature sources with the keywords used, namely 'food allergy and food intolerance' with the publication year between 2013- 2020. The abstract and full text of the journal are read and examined, then an analysis of the contents contained inthe objective is carried out. research and research results / findings. Result. It is estimated that one fifth of the population believes they have an adverse reaction to food. Food allergies are different from food intolerance. Some food allergies may be life threatening. The most common food allergens are cow's milk, eggs, peanuts, tree nuts, soybeans, shellfish and fish. Allergic reactions vary from urticaria to anaphylaxis and death. Food intolerance affects15-20% of the population which may be due to pharmacological effects of dietary components, noncoeliac gluten sensitivity or damage to digestive system enzymes and transportation. The most helpful diagnostic test for food intolerance is a food elimination diet to achieve symptom improvement followed by a gradual reintroduction of food.
Faktor Risiko Kanker Payudara Syifa Hero
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cancer is a non-communicable disease characterized by the presence of abnormal cells that can grow uncontrollably and have the ability to attack and move between cells and body tissues. Breast cancer is the most common cancer in women and the second leading cause of related death after lung cancer. This disease is a health problem that tends to increase every year. Breast risk factors are known to avoid cases of this disease. The purpose of this paper is to determine the risk factors for breast cancer. The method used is literature research by searching for the words cancer, breast, malignancy, breast cancer, and mammary in Google Scholar and Pubmed. Searching the literature from both national and international journals then summarizes the discussion and comparison of the results presented in the article. From several studies conducted, the risk factors for breast cancer are a family history of breast cancer, gestational age of the first child, age at birth of the first child, nulliparous parity, history of breastfeeding, obesity, and physical activity.
Penggunaan Artemisia absinthium L. dan Artemisia abrotanum L. di Bidang Kosmetologi BEBY KELIDIA JEZMI
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Over the past few years, there has been an increasing interest in research on the chemical and biological activities of Artemisia species, including Artemisia absinthium L. and Artemisia abrotanum L. A. absinthium is an annual herbaceous plant that grows to a height of 80 cm and A. abrotanum where the flowering tips of shoots, dry, and has a gray-green color, slightly bitter taste and spicy citrus aroma. This species is found to have various functions, one of which is in the field of cosmetology. To find out more about the use of Artemisia absinthium L. and Artemisia abrotanum L. in the field of cosmetology using the method, namely the study of literature from international journals by summarizing the topic of discussion and comparing the results presented in the article. The use of Artemisia absinthium L. and Artemisia abrotanum L. various parts of the plant in cosmetic production, namely the extract part is then used as a source of cosmetic raw materials, especially in Southeast Asia, North America and Europe.
DIABETES MELITUS GESTASIONAL: DIAGNOSIS DAN FAKTOR RISIKO Farhan Kamali Adli
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus gestasional (DMG) merupakan suatu keadaan intoleransi glukosa pada ibu hamil yang sebelumnya belum pernah didiagnosis menderita diabetes melitus sehingga terjadi peningkatan kadar gula darah selama kehamilan. DMG merupakan suatu komplikasi kehamilan yang umum dan baru dapat didiagnosis pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Penegakkan diagnosis DMG dapat menggunakan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) sebagai gold standard dan juga mengidentifikasi faktor risiko yang ada, seperti usia, Indeks Massa Tubuh (IMT), riwayat keluarga, dan lainnya. Pencegahan dan penanganan yang utama untuk DMG adalah perubahan gaya hidup seperti asupan pola makan dan aktifitas fisik dan apabila dengan perubahan gaya hidup masih belum tertangani, maka pengobatan dengan medikamentosa dimulai. DMG yang tidak tertangani sejak dini dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat kepada kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, penulis melakukan literrature review untuk memberikan bagaimana penegakkan diagnosis dari DMG dan mengidentifikasi faktor risiko sehingga DMG dapat dideteksi lebih awal
Gambaran Klinis Sindrom Cerebral Palsy Tipe Diskinetik Kaltihennah Oktavia Frauprades
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dyskinetic cerebral palsy is a type of cerebral palsy that causes impaired motor and postural functions. This neurological disorder is one of the most common causes of permanent limitation of movement in children. The purpose of this literature review is to summarize the clinical presentations of patients with dyskinetic cerebral palsy. The method used in this paper is a systematic review of scientific articles that have been published in the last ten years. The results obtained in this literature review show the typical movement disorders found in dyskinetic cerebral palsy patients in the form of dystonia and choreoathetosis which can be accompanied by non-motor symptoms.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN ASUPAN ZAT BESI (FE) TERHADAP IBU HAMIL PENDERITA ANEMIA Dery Windika Ramadhani
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia is a condition in which the level of hemoglobin (Hb) in the blood is less than normal. Anemia in pregnant women is still a health problem in Indonesia. Based on the 2018 Riskesdas report, the prevalence of anemia in Indonesia is 48.9%. The most common cause of anemia in pregnant women is knowledge and lack of iron intake. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and intake of iron (Fe) on pregnant women with anemia. The method used is a literature review by searching for the keywords anemia, knowledge, and iron intake on Google Scholar and Pubmed. Searching literature from both national and international journals then summarizes the discussion topics and compares the results presented in the articles. From several studies conducted, it was found that knowledge and intake of iron (Fe) had a significant relationship to the incidence of anemia in pregnant women.
Efektifitas Tadalafil Sebagai Medikasi Untuk Penderita Benign Prostate Hiperplasia dan Disfungsi Ereksi: Indonesia Avissa Medina Kamalia
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Benign prostate hyperplasia (BPH) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya proliferasi otot polos dan epitel dalam zona transisi prostat. Lower urinary tract symptoms (LUTS) merupakan kumpulan gejala yang biasa dikeluhkan oleh pasien BPH, meliputi gejala intermitensi, frekuensi, urgensi, nokturia, dribbling, dan retensi urin. Meskipun cenderung memiliki prognosis yang baik, tidak sedikit penderita BPH yang mengalami penurunan kualitas hidup. Masalah seksual menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi skor kualitas hidup mereka. Berdasarkan penelitian, telah ditemukan adanya hubungan BPH/LUTS dan disfungsi ereksi (DE). Melalui penemuan persamaan patofisiologi antara BPH dan DE ini kemudian menciptakan kemungkinan untuk mengobati kedua kondisi tersebut dengan pengobatan yang sama. Tadalafil, khususnya dengan dosis 5 mg dinilai efektif untuk digunakan dalam mengobati BPH dan DE.
Hubungan Kebiasaan Mengonsumsi Kopi Dengan Penyakit Kardiovaskular Eriza Kultsum Rahmaningsih Soetardi
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 01 Oktober (2021): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan semakin berkembangnya jenis dan varian dari kopi ini, semakin juga bertambah jumlah masyarakat yang menjadikan mengonsumsi kopi sebagai kebiasaan sehari-hari. Selain itu, kopi ini diminati oleh setiap kalangan mulai dari kalangan remaja, dewasa, maupun kalangan lansia. Cita rasa yang kuat pada kopi diperoleh dari senyawa kimiawi yang kompleks serta dominan yaitu kafein. Kafein merupakan sejenis senyawa yang bersifat antagonis terhadap kerja senyawa adenosine (senyawa dalam otak yang bisa membuat seseorang cepat tertidur) sehingga membuat seseorang tidak mengantuk usai meminum kopi dan memiliki energi ekstra atau dapat menyebabkan seseorang mengalami insomnia sesaat. Kadar asupan kafein yang tinggi akan membuat terjadinya peningkatan konsentrasi plasma homosystein yang mana apabila terjadi peningkatan konsentrasi plasma tersebut akan membuat meningkat pula resiko penyakit kardiovaskular. Dari hasil analisis literature review, kopi digolongkan sebagai minuman psikostimulant yang akan menyebabkan orang tetap terjaga, mengurangi kelelahan, dan memberikan efek fisiologis berupa energi. Individu yang terbiasa minum kopi mempunyai risiko yang lebih rendah untuk terkena penyakit stroke atau PJK dibandingkan dengan responden yang tidak terbiasa minum kopi setelah dikontrol oleh faktor konfounding yaitu jenis kelamin dan tekanan darah. Sehingga terlihat dari beberapa penelitian terhadap responden tanpa komorbid seperti hipertensi dan riwayat penyakit jantung sebelumnya, hubungan kebiasaan mengonsumsi kopi dapat menjadi efek protektif terhadap penyakit kardiovaskular seperti stroke, penyakit jantung coroner, dan infark miokard.