cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6281229463400
Journal Mail Official
inyomansantiawan@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah Dukuh Macanan Baru, Morangan, Mojayan, Kec. Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57414 Telepon: (0272) 3352795
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Aksara: Jurnal Agmaa Hindu
ISSN : 2085272X     EISSN : 26589832     DOI : -
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu yang menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi sosial dan budaya menggunakan perspektif interdisipliner. Lingkup Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu adalah: Studi agama Hindu seperti Fisafat, Etika dan Upacara Studi sosial dan budaya seperti sosiologi masyarakat Hindu Sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 2 (2017)" : 7 Documents clear
NILAI UPACARA PUTRIKA DI DUSUN GAJARO DESA METUK KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI Wibowo, Gatot
Widya Aksara Vol 22 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.127 KB)

Abstract

Kemampuan akal dan budi manusia dalam bentuk pikiran dan perasaan sering mengalami keterbatasan sehingga kedinamisan aktualisasi terhadap esensi yang mutlak diluar dirinya, manusia merealisasikan dalam bentuk ritual spiritual, wujudnya dapat dilihat dalam upacara yajna menurut konsep agama Hindu. Upacara adalah bagian Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yang merupakan aktivitas dan tindakan manusia dalam rangkaian urut sistematis, dan formalistic, yang digunakan dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan beserta manifestasinya dengan didasari yajna. Melakukan upacara yajna merupakan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyag Widhi Wasa yang diyakini sebagai rutinitas beragama yang amat penting, karena upacara yajna dapat diibaratkan cokro mangilingan jika disalah arti fungsikan kehidupan sat cit ananda bhuwana agung dan bhuwana alit  tidak dinamis dan cenderung munculnya akidah baru. Upacara putrika merupakan salah satu bentuk realisasi dari panca yajna spesifik manusia yajna yang dilakukan masyarakat Hindu di Kabupaten Boyolali bagi keluarga Hindu yang tidak mempunyai anak laki-laki. Upacara putrika  bertujuan mengangkat status derajat anak perempuan sejajar anak laki-laki agar kama roh leluhur pihak perempuan tidak terputus dan bisa menjelma kedunia di system perkawinannya agar tujuan jagadhita ya ca iti dharmah menuju moksa dapat tercapai.
OPTIMALISASI PENGEMBANGAN OBYEK WISATA CANDI UNTOROYONO DI DUKUH NAYAN, DESA KALANGAN, KECAMATAN PEDAN, KABUPATEN KLATEN Wisnu Wardani, Dewi Ayu
Widya Aksara Vol 22 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.244 KB)

Abstract

Pemilihan lokasi ini dengan alasan keberadaan pengembangan Candi Untoroyono menjadi objek wisata didukung oleh beberapa potensi melestarikan budaya Jawa dengan pengenalan Aksara Djawa, Budaya memakai jarik, menanamkan nilai-nilai budi pekerti orang Jawa andap asor, tepo sliro, berbakti kepada orang tua, Inspirasi anak bangsa menumbuhkan kembali rasa cinta tanah air, agar anak bangsa lebih peduli dengan Indonesia. Terkait dengan daya  tarik pemanfaatan Candi sebagai objek wisata, pengelolaan Candi Untoroyono perlu dioptimalkan dengan pembenahan, serta menyediakan fasilitas, ciptakan kenyamanan dan tingkatkan keamanan dengan demikian pendapatan dari distribusi pengelolaan akan lebih tinggi dan langsung bisa dinikmati untuk pelestarian Candi. Dalam tulisan ini akan ditelusuri serta dikaji rumusan masalah yakni : bentuk optimalisasi pengembangan obyek wisata Candi Untoroyono, (2) Faktor-faktor yang mendorong optimalisasi pengembangan obyek wisata Candi Untoroyono, (3) makna optimalisasi pengembangan obyek wisata Candi Untoroyono. Hasil yang didapat dari tulisan ini adalah sebagai berikut : Bentuk optimalisasi pengembangan obyek wisata candi Untoroyono Awal Dioptimalisasi, kreativitas memperindah candi, pengoptimalan tahun 2015 sampai sekarang, Langkah kunjungan wisata di Candi Untoroyono, Pengunjung membaca tata tertib Candi Untoroyono, Tata cara masuk candi bagi para  wisatawan : Membersihkan diri,Mengisi Buku Tamu, Mengisi Kotak Amal, Memakai Jarik, Pengenalan Motif Batik dan maknanya, Pemakaian hena menggunakan aksara Jawa, Menerima penjelasan tentang Candi Untoroyono, Melakukan kelas syailendra/meditasi dibantu oleh Bapak Suhardi, Para pengunjung menuliskan Inspirasi untuk bangsa Indonesia di kertas, Para pengunjung wajib menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syukur untuk menumbuhkan cinta tanah air, Napak tilas Aji Saka, Minum Air Kendi Candi Untoroyono, beberapa orang mempercayai air candi Untoroyono dapat menyembuhkan penyakit, membuat aura lebih berkharisma, Minuman Khas Candi Untoroyono yaitu wedang cantor terbuat dari asam Jawa dan bermanfaat untuk menetralisir racun, memperlancar peredaran darah, antibiotik alami tubuh, menjaga kesehatan dan kebugaran, mengeringkan dan menghilangkan jerawat, menurunkan berat badan, awet muda dan terkenal ampuh mengusir roh-roh jahat, Penyewaan Ragam hias untuk selfi, Sesi Foto Bersama. Terjadinya optimalisasi pengembangan obyek wisata Candi Untoroyono disebabkan oleh faktor-faktor yang mendorong, baik intern maupun faktor ekstern. Faktor intern yaitu faktor pola pikir masyarakat pendukung, adanya kreativitas masyarakat berekspresi, dan motivasi peningkatan kesejahteraan. Adapun faktor-faktor eksternal yaitu perkembangan pariwisata, kapitalisme dan industri budaya, peran media massa dan hegemoni pemerintah. Makna Optimalisasi Pengembangan Obyek Wisata Candi Untoroyono: Makna Religius, Makna Pelestarian Budaya, Makna Identitas Sejarah, Makna Kesejahteraan Masyarakat Desa Kalangan, Makna Pendidikan.
PELAKSANAAN AJARAN MANUSA YADNYA DALAM MEMBENTUK KARAKTERMANUSIA YANG BERBUDI LUHUR Sugiman
Widya Aksara Vol 22 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.432 KB)

Abstract

Sesuai dengan ajaran agama Hindu dan tujuan hidup menurut Agama Hindu kita dituntut untuk berusaha penerapan nilai-nilai ajara agama Hindu dalam kehidupan sehar-hari. Pemerintah atau Negara Kesatua Republik Indonesia mengharapkan agar bangsa memiliki karakter dan kepribadian yang luhur karena sesuai dengan Dasar Negara Kita Pancasila. Selaras dengan ajaran agama Hindu untuk mewujudkan dan membentuk karakter manusia yang berbudi luhur . Dengan dilaksanakan ajaran manusia Yadnya untuk mengangkat dan membangkitkan rasa tanggung jawab terhadap diri manusia menuju kesempurnaan hidpnya di dunia ini. Dengan adanya ajaran Manusa Yadnya mulai dari Upacara bayi dalam kandungan samapi dengan Upacara Perkawinan atau Wiwaha Samkara semuanya dilandasi dengan kesucian keiklasan dan cintakasih, unsur-unsur tidak baik yang menyebabkan manusia tersesat terjerumus dalam penderitaan semuanya harus dikendalikan disingkirkan. Pengendalian diri dalam membangkitkan kesadaran untuk mewujudkan manusia yang memiliki karakter dan berbudi luhur baik melalui ritual maupun spiritual perlu ditingkatkan dengan berbagai jenis upacara manusia yadnya dan masing-masing upacara memiliki maksud dan tujuan-tujuan tertentu. Upacara Manusa Yadnya pada prinsipnya untuk pembersihan dirinya ke tarap hidup yang lebih sempurna baik secara lahir maupun batin. Dalam keluarga sangat penting dalam membentuk karakter manusia yang berbudi luhur dengan diawali dari keluarga dan banyak sekali yang perlu diperhatikan bagaimana untuk melaksanakan ajaran Manusa Yadnya dalam keluarga.
PENGARUH UTSAWA DHARMA GITA PADA PESERTA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN 2017 Santiawan, I Nyoman
Widya Aksara Vol 22 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.725 KB)

Abstract

Utsawa Dharma Gita tingkat nasional merupakan ajang kompetisi bagi lembaga Hindu yang ada di Indonesia. Dalam penyelenggaraan kegiatan Utsawa Dharma Gita banyak persiapan yang harus dilakukan. Bagi setiap daerah, tantangan yang paling menjadi kendala setiap tahunya untuk diluar daerah bali adalah melengkapi formasi peserta lomba. Disamping itu, kendala lainya adalah kurangnya pendampingan peserta pada saat melakukan latihan beberapa penyebab, masih kurangnya minat generasi untuk mengikuti kegiatan lomba. Dari hasil penelitian yang didapat, di luar daerah Bali perlu diadakannya kerja sama yang mendalam antara lembaga Hindu dan Guru Agama Hindu. Dengan peran Guru Agama Hindu inilah menjadi jalan keluar dalam kendala kesulitan dalam melengkapi formasi peserta. Melalui pendekatan yang dilakukan guru, dapat menarik minat siswa untuk mengikuti perlombaan. Hasil penelitian membuktikan pendampingan yang rutin menjadikan peserta lebih percaya diri dan dapat menyelesaikan setiap kendala yang dihadapi peserta. Penelitian ini memeberikan idnikato, siswa atau generasi yang ikut lomba utsawa dhrama gita mengalami perubahan yang cukup signifikan. Yaitu peserta menjadi meningkat sradda dan bhakti, mengenal dan mencintai kebudayaan serta mendapat nilai-nilai pendidikan, seperti nilai pendidikan religi, nilai pendidikan budaya dan nilai pendidikan sosial. Dengan mengikuti lomba, kemandirian dan kebahagiaan generasi Hindu dapat tercipta dan memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi generasi muda Hindu.
PERAN PEREMPUAN DALAM ERA GLOBALISASI Setyaningsih
Widya Aksara Vol 22 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.437 KB)

Abstract

Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang sama sebagai makhluk paling mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Namun, dalam masyarakat di berbagai tempat terdapat perbedaan pandangan tentang status perempuan sehingga muncul konstruksi yang berbeda-beda mengenai kedudukan perempuan. Hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya pandangan tersebut, seperti pelabelan yang dikaitkan dengan sifat ataupun fisik laki-laki dan perempuan. Misalnya, laki-laki dikonsepsikan sebagai makhluk yang lebih kuat jika dibandingkan dengan perempuan. Dari segi fisik atau biologis laki-laki lebih kekar dan tegap sehingga diasumsikan lebih memiliki kekuatan  dibandingkan dengan perempuan. Pada akhirnya, gambaran kondisi fisik seperti itu mempengaruhi konsep pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dikonsepsikan bekerja di luar rumah atau wilayah publik, sedangkan wanita dikonsepsikan bekerja dalam bidang yang terkait dengan urusan di dalam rumah tangga atau wilayah domestik. Lebih jauh keutamaan seorang perempuan atau wanita di dalam kitab suci Veda dinyatakan memiliki sifat innovatif, cemerlang, mantap, memberi kemakmuran, diharapkan untuk cerdas menjadi sarjana, gagah berani dan dapat memimpin pasukan ke medan pertempuran dan senantiasa percaya diri. Dari pandangan tersebut di atas, bila kita mengkaji bahwa peserepsi masyarakat Hindu tentang perempuan adalah sama-sama mulia, sama-sama memiliki potensi dan fungsi sesuai dengan kodrat dan tanggung jawabnya masing-masing, artinya seorang perempuan bila mampu mengembangkan potensinya dengan baik, mampu melaksanakan swadharmanya dengan baik maka wanita benar-benar mendapatkan penghargaan yang sangat mulia.
TRADISI SELAMATAN SERIBU HARI MASYARAKAT HINDU KABUPATEN BLITAR Sujaelanto
Widya Aksara Vol 22 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.322 KB)

Abstract

Selamatan merupakan ajaran tradisi Jawa untuk menyelamatkan jiwa orang yang sudah meninggal dunia. Seperti masyarakat Kabupaten Blitar baik yang beragama Hindu maupun Islam upacara selametan seribu hari dalam perjalannya mengalami perubahan. Proses dan bentuk  selamatan seribu hari di Kabupaten Blitar  masih dilaksanakan serta ada yang mengalami pergeseran bentuk ritualnya. Pergeseran bentuk pelaksanaan selamatan seribu hari disebabkan oleh pengaruh perubahan jaman. Pada jaman sekarang ini masyarakat Hindu di Kabupaten Blitar tetap melaksanakan tradisi selamatan seribu hari. Pergerasan bentuk pelaksanaan selamatan seribu hari masyarakat Hindu disesuaikan dengan tata nilai ajaran Hindu. Selamatan seribu hari menggunakan perhitungan sesuai dengan rumus-rumus tradisional. Perhitungan mencari hari pelaksanaan selamatan seribu hari dilakukan oleh tokoh masyarakat setempat. Tahapan pelaksanaan selamatan seribu hari dilaksanakan mulai dari mencari perhitungan hari, persiapan membuat sesaji dan hidangan, membangun kijing, selamatan awal, pitra puja, selamatan besar. Bentuk selamaten seribu hari masyarakat Hindu Kabupaten Blitar dari bentuk upakara adalah menggunakan ayam adalah sederhana, menggunakan kambing adalah sedang dan menggunakan sapi/ kerbau adalah selamatan dalam bentuk besar.  Penggunakan sarana upakara selamatan seribu hari merupakan simbul status social masyarakat. Nilai dalam selamatan seribu hari terdapat nilai  religi, dan nilai social.
UPACARA DUKUTAN DI DESA NGLURAH KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR Budiandya, I Putu
Widya Aksara Vol 22 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.715 KB)

Abstract

Upacara Dukutan selalu diadakan pada wuku Dukut, wuku ke 29 dari 30 wuku yang dikenal oleh masyarakat Jawa.Upacara Dukutan bagi masyarakat setempat adalah sebuah keharusan demi keselamatan seluruh warga masyarakat dan segenap anak cucu serta keturunan mereka.Upacara Dukutan adalah bukti nyata bahwa masyarakat tetap menjunjung tinggi nilai budaya dan tetap menjalin hubungan erat dengan leluhur.Dalam penelitian ini menggunakan metode observasi Partisipan karena peneliti ikut terjun langsung dalam penelitian, metode wawancara terstruktur karena peneliti menggunakan wawancara yang sistematis kepada informan sesuai dengan pedoman wawancara, dan studi dokumen Purposive sampling karena peneliti menentukan informasi sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan rumusan masalah yang diteliti maka pada penelitian ini menggunakan Teori Interaksional Simbolik, Teori Fungsional Struktural, Teori Behaviorisme dan Teori Religi. Hasil penelitian terhadap upacara Dukutan diperoleh tiga bahasan sebagai berikut : Analisis terhadap prosesi atau rangkaian ritual diperoleh gambaran konservatif tentang sikap masyarakat dalam menyambut dan melaksanakan upacara Dukutan yang menyangkut persiapan upacara yang didahului dengan pembuatan sesaji menumbuk jagung pertama kali, mempersiapkan isi sesaji, mempersiapkan sesaji yang dipersembahkan kepada Danyang, sesaji yang dipersembahkan di Candi Menggung. Sesaji yang dibuat penduduk,pengumpulan sesaji, pedoaan sesaji dan upacara persembahyangan Danyang, Pembacaan Ikrar Dukutan dan acara makan bersama. Dalam fungsi dan makna upacara Dukutan muncul gambaran fungsi integritas sosial, fungsi pelestarian budaya dan upacara Dukutan bermakna simbolik, kekerabatan dan religius. Sedangkan nilai-nilai Pendidikan dalam upacara dukutan adalah nilai pendidikan tatwa, nilai pendidikan etika, nilai pendidikan acara dan nilai instrinsik.

Page 1 of 1 | Total Record : 7