cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 504 Documents
EVALUASI POTENSI PRODUKSI BUNGA YLANG-YLANG H O B I R, .
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n2.2003.70-73

Abstract

Tanaman ylang-ylang (Canangium odoratum f. genumea), merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang nilainya cukup tinggi. Evaluasi potensi produksi bunga bertujuan untuk mendapatkan individu- individu yang produksi bunganya linggi untuk diteliti lebih lanjut dalam mendapatkan pohon unggul sebagai sumber benih Penelilian dilakukan di Sukamulya lahun 2000-2002 pada areal petanaman 1 ha (± 200 pohon) Petanaman berumur 12-15 tahun Evaluasi dilakukan dalam 2 tahap. Pada lahap petama, evaluasi dilakukan secara visual. Pohon-pohon yang dipilih adalah pohon dengan penampilan baik dengan ciri-ciri morfologis khas ylang-ylang, yaitu berbatang lurus, percabangan terkulai, permukaan batang licin dan terdapat bekas cabang (scars). Dari sekitar 200 pohon (erpilih 15 pohon yang berpenampilan paling baik. Pada lahap kedua, ke 1 5 pohon tersebut diamati petumbuhan dan produksi bunganya selama tiga tahun berturut-turut Hasilnya menunjukkan bahwa petumbuhan yang meliputi lingkar batang dan jumlah cabang tidak berbeda antar pohon. Sebaliknya produksi bunga sangat beragam antar pohon. Rata-rata produksi selama liga tahun berkisar antara 652-12 551 g/ph/tahun. Berdasarkan produktivitas dan fluktuasi produksi antar musim telah tcrpilih lima pohon yang produksi bunganya paling tinggi, yaitu No. 2/143, 8/06, 12/64, 14'113, dan 15/16 dengan produksi masing-masing 7 177, 8 352; 7 177; 12 551, dan 12 398 g/ph.Kata kunci : Canangium odoratum f. genumea, cvaluasi, potensi produksi ABSTRACT Evaluation of the potency offlower yield of Ylang-ylangYlang-ylang (Canangium odoratum f genumea) is the essential oil producing crop, which has high economic value. An evaluation of yield potential was aimed al selecting high yielding individuals which arc futher selected lo produce outstanding individuals as seed source. The evaluation was conducted in Sukamulya (Sukabumi) from 2000-2002 on the area of I ha ((+ 200 trees) Ihe trees was 1 2-15 years old. The evaluation was performed in 2 stages In Ihe irst stage the evaluation was conducted visually and based on Ihe specific morphological characters of ylang-ylang, which has erect trunk, plain surface, drooping branches and showing scars on Ihe surface of the trunk. From about 200 trees, 15 trees were selected as showing ihe best performance. In the second stage, the 15 selected trees were evaluated for their growth performance, including trunk circumference, number of branches and yield of fresh flowers for 3 years. Result showed that the trunk circumferences and the number of branches were nol different among the trees On the other hand, the yield of flowers was greatly variable, cither between the trees or between seasons. The average yield of flower in 3 year observation ranged from 652 to 12 551 g-'trcc/ycar. Based on the productivity the highest yielding trees were No. 2/143, 8/06, 12/64, 14/113, and 15/16 with the yield of flowers 7 177, 8 352; 7 177; 12 551, and 12 398 g'tree/ycar respectively.Key words : Canangium odoratum f. genumea. evaluation, yield potency
POTENSI DUA ISOLAT LOKAL Pleurotus sp. SEBAGAI ANTAGONIS TERHADAP Ganoderma sp. ACHMAD, ACHMAD; YULISMAN, DEKA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n4.2011.174-178

Abstract

ABSTRAKPleurotus sp. merupakan salah satu jamur yang lebih dikenalsebagai jamur pangan. Selain sebagai jamur pangan, jamur tersebut jugadilaporkan memiliki kemampuan antimikrobial. Dalam penelitian inidipelajari potensi isolat lokal Pleurotus sp. sebagai antagonis terhadapfungi patogen Ganoderma sp. yang merupakan penyebab penyakit pentingpada tanaman perkebunan terutama kelapa sawit. Penelitian dilakukan diLaboratorium Penyakit Hutan Fakultas Kehutanan IPB dari bulan Julisampai dengan Oktober 2004. Penelitian menggunakan dua isolat lokalPleurotus sp.1 dan Pleurotus sp.4 yang merupakan koleksi LaboratoriumPenyakit Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Inokulum Ganoderma sp.diperoleh dengan mengisolasi langsung tubuh buah dari tegakan mahoniyang tumbuh di samping Laboratorium Penyakit Hutan. Uji antagonismein vitro dilakukan dengan metode oposisi langsung dalam cawan petriberdiameter 9 cm. Peubah yang diamati adalah jari-jari koloni patogenyang tumbuh ke arah antagonis dan terdapat atau tidaknya zonapenghambatan pada batas kedua koloni jamur. Analisis data dilakukandengan uji-t berpasangan untuk perlakuan yang relevan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa keberadaan kedua isolat antagonis mampu memper-lambat pertumbuhan menjari Ganoderma sp. Zona penghambatanterbentuk hanya pada antagonisme Ganoderma sp. dengan Pleurotus sp.4tetapi tidak pada antagonisme dengan Pleurotus sp.1. Hal tersebutmenunjukkan perbedaan mekanisme antagonisme pada kedua isolat.Kata kunci: Pleurotus ostreatus, Ganoderma sp., antagonisme, antibiosisABSTRACTThe Antagonistic Potentid of Two Local Isolates ofPleurotus sp. against Ganoderma sp.Pleurotus sp. is mushrooms which is more famous as a foodfungus. Aside from being a food, this fungus is also reported to haveantimicrobial capabilities. This research studied the potential of localisolates Pleurotus sp. as antagonists to pathogenic fungi Ganodermasp. Research conducted at the Laboratory of Forest Disease, Faculty ofForestry IPB, from July to October 2004. The study used two local isolatesPleurotus sp.1 and Pleurotus sp.4 which were collectioned from ForestDisease Laboratory of the Faculty of Forestry, IPB. Ganodermasp. inoculum was obtained directly by isolating the fruit body on themahogany stands growing beside the Forest Disease Laboratory.Antagonism in vitro test was conducted using direct opposition in the petridish, 9 cm in diameter. Variables measured were the radius of pathogencolonies which grew in the direction to antagonist colony, and the presenceor absence of inhibition zone at the border of both fungal colonies. Thedata were analyzed with paired t-test for the relevant treatment. The resultsshowed that the existence of two antagonistic isolates were able to inhibitthe growth of Ganoderma sp. Inhibition zone was formed only on theantagonism of Ganoderma sp. with Pleurotus sp.4 but not in antagonismwith Pleurotus sp.1. This shows the mechanism difference of antagonismon both isolates.Key words: Pleurotus ostreatus, Ganoderma sp., antagonism, antibiosis
SAFETY AND EFFICIENCY OF XYLEM WATER TRANSPORT IN TWO CASHEW (Anacardium occidentale L.) STRAINS AT THE SEEDLING STAGE PITONO, JOKO; MAKOTO, TSUDA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n4.2012.156-161

Abstract

ABSTRACTAs cashew trees are grown by transplanting seedlings, the seedlingoften suffers from drought damaged due to prolonged dry season. Previousstudy found that the ability to maintain water transport in xylem related todrought resistant character. To determine whether there was trade-offbetween the ability to maintain water transport in xylem and an efficiencyof water transport, differences in xylem vulnerability to dysfunction,hydraulic conductance, and the relationship to xylem vessel diameter wereexamined in two cashew strains. The xylem vulnerability to dysfunctionwas evaluated by the applied pressure which induced 50% loss of stemhydraulic conductivity (P 50 ). The hydraulic conductance on root, stem, andleaf were determined with High Pressure Flow Meter (HPFM). Variationsin the P 50 values were found between A3-1 and Pangkep, whereas thevalues were 1.75 and 0.50 MPa, respectively. However, since there was nodifference in the hydraulic conductance and the vessel diameter, the trade-off between the ability to maintain water transport in xylem and anefficiency of water transport did not occur in cashew. It was suggested thatgood combination of efficiency and safety of water transport enables A3-1to strongly uptake soil water either in dry or wet season resulting in goodadaptation to drought prone environment, and the P 50 value would besuitable parameter for evaluating drought tolerance of cashew at theseedling stage.Key words: cashew strain, vessel, xylem dysfunction, hydraulicconductance, droughtABSTRAKPengembangan jambu mete secara transplanting sering diikuticekaman kekeringan pada bibit akibat musim kering yang berkepanjangan.Studi awal memperlihatkan bahwa kemampuan xylem mempertahankanfungsi transportasi air merupakan karakter pertahanan penting terhadapcekaman kekeringan. Untuk mengetahui apakah terjadi kompensasi antarakemampuan pertahanan fungsi xylem dan tingkat efisiensi transportasiairnya dilakukan pengujian pada aspek kepekaan fungsi xylem, hantaranhidraulik, dan ukuran vesselnya. Kepekaan fungsi xylem ditentukan darinilai tekanan udara yang menyebabkan kehilangan 50% hydraulicconductance (P 50 ). Nilai hydraulic conductance pada akar, batang, dandaun ditentukan dengan menggunakan metode High Pressure Flow Meter(HPFM). Hasil pengujian menunjukkan terdapat perbedaan nilai P 50diantara dua strain jambu mete yang diuji, yakni secara berturut-turut 1,75dan 0,50 MPa pada strain A3-1 dan Pangkep. Karena tidak disertaiperbedaan pada hydraulic conductance dan ukuran vesselnya, makadisimpulkan tidak ditemukan nilai adanya mekanisme kompensasi antarakemampuan pertahanan fungsi xylem dan tingkat efisiensi pengangkutanair. Hal ini memungkinkan A3-1 tetap dapat menyerap air tanah secaracukup, baik pada musim kering maupun musim basah, dan mampuberadaptasi dengan baik di daerah rawan kekeringan. Dan nilai P 50 dapatdijadikan sebagai parameter representatif untuk evaluasi toleransi bibitjambu mete terhadap cekaman kekeringan.Kata kunci:  strain jambu mete, vessel, fungsi xylem, hydraulicconductance, cekaman kekeringan
EFISIENSI PEMUPUKAN NPK PADA TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) PRIBADI, EKWASITA RINI; RAHARJO, MONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n4.2008.162-170

Abstract

ABSTRAKPemberian pupuk N, P, dan K yang tepat jumlah, dan jenis padatanaman temulawak, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaanpupuk dan biaya sehingga produksi dan pendapatan yang diperoleh akanoptimal. Untuk itu dilakukan pengujian beberapa dosis pupuk urea, SP-36dan KCl pada temulawak di Kebun Percobaan Sukamulaya pada tanahLatosol dengan ketinggian tempat 350 m dpl, tipe iklim C (klasifikasiSchmidt dan Ferguson). Penanaman dilakukan pada bulan Agustus 2006dan panen dilakukan bulan September 2007. Percobaan ini menggunakanrancangan acak kelompok (RAK) yang disusun secara faktorial dengan 3kali ulangan. Faktor pertama, kedua dan ketiga adalah pupuk urea (N),SP-36 (P) dan KCl (K) masing-masing dengan dosis 100 kg/ha, 200 kg/hadan 300kg/ha. Ukuran petak percobaan adalah 3,75 m x 4 m per perlakuan/ulangan. Percobaan menggunakan bibit temulawak nomor harapan Fdengan jarak tanam 75 cm x 50 cm. Sebagai pupuk dasar diberikan pupukkandang dengan dosis adalah 20 ton pupuk kandang. Pupuk SP-36, danKCl diberikan sesuai dengan perlakuan yang seluruhnya diberikan padasaat tanam. Sedangkan pupuk urea diberikan sesuai dengan perlakuanmasing-masing 1/3 bagian pada umur 1, 2, dan 3 BST (Bulan SesudahTanam). Tanaman dipanen pada umur 10 bulan setelah tanam (BST).Peubah yang diamati meliputi; data asupan (input) berupa penggunaansarana produksi usahatani, penggunaan tenaga kerja dan peralatan, sertadata keluaran (output) berupa hasil rimpang segar, simplisia kering, danrendemen ekstrak temulawak. Harga masukan dan keluaran yangdigunakan mengacu pada harga standard/pasar yang berlaku pada saatpenelitian dilakukan. Analisis efisiensi teknis dan ekonomis digunakanuntuk menentukan dosis pemupukan yang paling baik untuk dikembang-kan. Hasil penelitian menunjukkan, berdasarkan beberapa kriteria analisisefisiensi teknis dan ekonomis pengembangan temulawak nomor harapan Fdianjurkan menggunakan dosis pemupukan an-organik yang rendah yaitu200 kg/ha urea, dan SP-36 dan KCl masing-masing 100 kg/ha. Dengandosis pemupukan tersebut diperoleh : (1) produksi rimpang, kurkuminoiddan xanthorizol masing-masing 2.277 kg, 33,24 dan 73,26 kg per 1.000 m 2lahan, (2) tingkat pendapatan bersih Rp. 344.500/1.000 m 2 lahan, rasiobiaya operasional terhadap pendapatan kotor 23,13%, rasio pendapatandikurangi biaya operasional terhadap pendapatan kotor 76,87%, danefisiensi ekonomi tiap perlakuan pemupukan dibanding kontrol (urea,SP36 dan KCl masing-masing 100 kg/ha) 5,08.Kata kunci : Curcuma xanthorrhiza Roxb, kajian finansial, pupuk NPK,nomor harapan FABSTRACTEfficiency of NPK Fertilizer Application on Java Turmeric (Curcumaxanthorrhiza Roxb)Efficiency of inorganic fertilizers application is determined byeffective type and fertilizers dosage. Current experiment was designed tocompare the efficiency of application of three levels dosage of urea, SP-36, and KCl on java turmeric farming system. The experiment wasconducted at Sukamulya (Sukabumi) Experimental Garden on latosol soiltype, 350 m above sea level, with climate type A of Schmidt andFerguson’s climate classification from August 2007 to September 2008.Treatments were combination of 100 kg/ha, 200 kg/ha, and 300 kg/ha ofeach urea, SP36, and KCl fertilizer. The treatments were designed infactorial randomized block with three replications. Organic fertilizer(manure) was applied to all experiment plots at planting time with dosageof 20 tons/ha. SP36 and KCl fertilizer were applied at planting time, whileurea fertilizer was applied in three equal parts, separately, on plantingtime, one and two months after planting time. Java turmeric promisingline of F was used as plant materials and planted at 75 cm x 50 cm plantedspacing. Physical and economic efficiency analysis of the each treatmentunit was used to evaluate the efficiency of fertilizer application withtreatment-related costs were assumed as variable costs. Results showedthat based on physical and economic efficiency, fertilizer combination of200 kg urea/ha, 100 kg SP36/ha, and 100 kg KCl/ha was the most efficientdosage with yield of rhizome, curcuminoid and xanthorhizol at the dosagelevel per 1000 m 2 were 2.277 kg, 33,24 kg, and 73,26 kg respectively.Moreover, that were gained crop value Rp. 344.500/1.000 m 2 , operatingexpense ratio 23,13%, net farm income from operation ratio 76,87%, andeconomic efficiency each treatment compare to control 5,08 times.Key words: Curcuma xanthorrhiza Roxb, financial analysis, NPKfertilizer, promising line F
PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP VIABILITAS BENIH TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.) SUMARTINI, SIWI; MULYANI, SRI; ROCHMAN, FATHKUR
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n2.2014.87-92

Abstract

ABSTRAKPermasalahan dalam pengembangan tembakau rakyat adalah dayaberkecambah benih yang rendah. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh perendaman benih terhadap daya berkecambahbenih tembakau (Nicotiana tabacum L.). Penelitian dilaksanakan dilaboratorium Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada bulan Meisampai dengan Juli 2013. Perlakuan disusun dalam rancangan petakterbagi dan diulang empat kali. Sebagai petak utama adalah tujuh varietastembakau lokal, yaitu V1 = Kemloko1; V2 = Kemloko2; V3 = Kemloko3;V4 = Kasturi1; V5 = Kasturi2; V6 = Grompol Jatim1; dan V7 =Bojonegoro1. Sebagai anak petak adalah: R1 = Tanpa perendaman(kontrol); R2 = perendaman selama satu jam dalam air; R3 = perendamanselama satu jam dalam larutan KNO 3  (0,1%), dan R4 = perendamanselama satu jam dalam larutan KNO 3 (0,2%). Setelah perlakuanperendaman, benih tembakau dikecambahkan menggunakan metode Uji diAtas Kertas. Pada setiap ulangan, sebanyak 100 benih tembakaudikecambahkan pada media kertas merang yang diletakkan di dalampetridish berdiameter 9 cm. Perkecambahan dilakukan di dalamgerminator tipe IPB dengan suhu 23 o C dan kelembaban nisbi 87-93%.Parameter yang diamati adalah daya berkecambah, panjang kecambah,panjang akar kecambah, dan indeks vigor kecambah. Perendaman benihtembakau menggunakan air, larutan KNO 3 0,1% dan larutan KNO 3 0,2%selama satu jam sebelum benih disemaikan, dapat meningkatkan dayaberkecambah dan panjang kecambah varietas Kemloko1 dan GrompolJatim1. Perlakuan perendaman benih dengan air berpengaruh positif padavarietas Kemloko1 yang ditunjukkan dengan daya berkecambah tertinggi,sedangkan perendaman dengan larutan KNO 3 0,2% berpengaruh negatifpada varietas Bojonegoro1 yang ditunjukkan dengan daya berkecambahpaling rendah. Perlakuan perendaman dengan air maupun larutan KNO 3(0,1% dan 0,2%) menunjukkan pengaruh yang berbeda-beda terhadapparameter daya berkecambah, panjang kecambah, panjang akar kecambah,dan indeks vigor kecambah pada semua varietas tembakau yang diuji.Kata kunci: Nicotiana tabacum L., perendaman, KNO 3 , viabilitas benihABSTRACTLow germinability of seeds is one of major problems in tobaccodevelopment. The aim of this study was to determine the effect of primingon tobacco (Nicotiana tabacum L.) seed viability. The research wasconducted in the laboratory of the Indonesian Sweeteners and Fiber CropsResearch Institute during May to July 2013. The treatments were arrangedin a split plot design with four times of replication. The main plots wereseven tobacco varieties namely V1 = Kemloko1; V2 = Kemloko2; V3 =Kemloko3; V4 = Kasturi1; V5 = Kasturi2; V6 = Grompol Jatim1; and V7= Bojonegoro1. The subplots were priming seeds for one hour namely R1= without priming (control); R2 = priming for one hour on water; R3 =priming for one hour on KNO 3  (0,1%) solution, and R4 = priming for onehour on KNO 3 (0,2%) solution. After priming, seeds were germinated usingthe Upper Paper Test method. A hundred of seeds were sown on strawpaper media in a petridish diameter 9 cm of each replication. Parametersmeasured were germination percentage, shoot and root length, andseedling vigor index. Priming tobacco seed with water or KNO 3  (0.1 and0.2%) solution for one hour before seeds were germinated significantlyimproved germination percentage and shoot length of Kemloko1 andGrompol Jatim1 varieties. Priming tobacco seed with water had positiveeffect on Kemloko1 variety which resulted the highest germinationpercentage but had adversely effect on Bojonegoro1 variety which resultedthe lowest germination percentage. Priming tobacco seeds with water orKNO 3 (0.1 and 0.2%) solution resulted different effect on germinationpercentage, shoot and root length, and seedling vigor index parameters forall tobacco varieties were observed.Key words: Nicotiana tabacum L., priming, KNO 3 , seed viability
PERANAN SEMUT (Oecophylla smaragdina dan Dolichoderus sp.) DALAM PENGENDALIAN Helopeltis spp., dan Sanurus indecora PADA JAMBU METE KARMAWATI, ELNA; WIKARDI, E. A.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n1.2004.1-7

Abstract

Serangga berperan penting pada petumbuhan dan perkembangan serta produktivitas tanaman jambu mete. Di daerah Lombok, Nusa Tcnggara Barat telah diidcntiikasi lebih dari 90 jenis serangga yang meliputi serangga hama, musuh alami, penyerbuk dan serangga lainnya. Helopeltis spp. dan S. indecora merupakan serangga hama yang menonjol di wilayah tersebut. Beberapa musuh alami juga telah ditemukan, terutama semut yang bcrfungsi sebagai predator bagi Helopeltis spp. Akhir-akhir ini ketiga jenis serangga tersebut sering bcrada bersamaan dalam satu tanaman. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pcranan semut dan intcraksinya dengan Helopeltis spp. dan S. indecora. Penelitian dilaksanakan di Dusun Sambik Rindang dan Sambik Jengkel, Lombok Barat dai bulan Mei sampai dengan Nopember 2003 Penelitian tcrdiri atas 3 kegiatan yang satu sama lain saling menunjang, yaitu (a) penelitian lapang, (b) penelitian semi lapang, dan (c) penelitian rumah kaca/pot. Pada penelitian lapang keadaan lingkungan tidak dikendalikan. pengamatan dilakukan dengan penarikan contoh. Penelitian lapang ditunjang oleh penelitian semi lapang, yaitu hanya salah satu faktor lingkungan yang dikendalikan (faktor populasi semut : 0, 5, dan 10 koloni per 5 tanaman). Penelitian semi lapang kemudian ditunjang oleh penelitian rumah kaca/pot. Pada penelitian ini tiga faktor dikendalikan/diperlakukan yaitu populasi semut, populasi Helopeltis dan populasi Sanurus indecora. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa hama utama yang dominan di Dusun Sambik Jengkel berbeda dengan hama utama yang dominan di Dusun Sambik Rindang. Di Sambik Jengkel, Helopeltis lebih dominan dibandingkan dengan i'. indecora, walaupun S. indecora ditemukan tapi tidak sebanyak serangan Helopeltis. Di Sambik Rindang terjadi sebaliknya, 5. indecora lebih dominan bila dibandingkan dengan Helopeltis. Semut cukup berperan dalam mengendalikan populasi Helopeltis. Dai data yang diperoleh sampai bulan Oktober 2003 diketahui bahwa persentase pucuk yang terserang Helopeltis lebih kecil pada kelompok-kelompok tanaman yang dibei perlakuan semut, begitu pula populasi nimfa dan imagonya. Tidak demikian yang terjadi dengan ,S'. Indecora, populasi nimfa dan imagonya tidak dipengaruhi oleh kehadiran semut. Pada kelompok tanaman yang dibei perlakuan semut, populasi S. indecora justru lebih banyak. Namun demikian, jumlah bunga yang diserang S. indecora lebih banyak pada pucuk yang tidak ada semutnya. Oleh sebab itu, khusus pada bunga, 5. indecora tidak akan datang kalau pada bunga tersebut ada semutnya. Pada pucuk yang telah diserang 5. indecora, semut tidak mengganggu kecuali kalau Helopeltis tidak ada, semut akan memangsa nimfa-nimfa S. indecora.Kata kunci: Anacardium occidentale, jambu mete, Helopeltis spp., nektar, Sanurus indecora, semutABSTRACTRole of ants (Oecophylla smaragdina and Dolichoderus sp.) in controlling Helopeltis spp. and Sanurus indecora on cashew plantInsects have important roles in cashew growth and productivity. In Lombok, West Nusa Tenggara, more than 90 kinds of insects have been identiied including pest, natural enemies and pollinators. Helopeltis spp. and S. indecora are the main pests in this area. Ants were found to be the predator of Helopeltis spp. Nowadays the three kinds of insects sometime exist in one plant, therefore the objective of this research was to ind out the interaction among Helopeltis spp., S. indecora and ants. The research was caried out in Sambik Rindang and Sambik Jengkel, West Lombok from May to November 2003. There were 3 activities of research (a) ield trial, (b) semi-ield tial, and (c) glass house trial. In the ield trial, the environment conditions were not treated as ixed variables, the observations were done by sampling This ield trial was supported by semi ield trial, only one factor was used as a treatment (ants population) that had 3 levels : 0, 5, and 10 colonies per 5 plants. The semi ield trial was also supported by glass house trial. In this trial 3 factors were used as treatments ants population, Helopeltis spp. and Sanurus indecora population. The result showed that the main pest found in Sambik Jengkel was different from the main pest found in Sambik Rindang. In Sambik Jengkel, Helopeltis spp. was dominant, while in Sambik Rindang £ indecora. Ants had an impotant role in controlling Helopeltis population. The data obtained up to October 2003 revealed that the percentage of damaged shoots was less in the ants-invested plant than that without ants Meanwhile, the population of 5. indecora was not affected by ants incidence, however the number of flowers atacked by £ indecora were more in the shoots without ants. If shoots were previously attacked by S. indecora, the ants would not bother the insects, but when there was no Helopeltis spp. in the plant, the ants would atack the nymphs of S. indecora.Key words : Anacardium occidentale, cashew plant, ants, Helopeltis spp., nectarc, Sanurus indecora
KERAGAMAN GENETIK KELAPA DALAM BALI (DBI) DAN DALAM SAWARNA (DSA) BERDASARKAN PENANDA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA (RAPD) S. PANDIN, DONATA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n2.2010.83-89

Abstract

ABSTRACTKeragaman genetik dan hubungan kekerabatan dalam populasikelapa Dalam Bali (DBI) dan Dalam Sawarna (DSA) dianalisismenggunakan penanda RAPD. Penelitian dilaksanakan di LaboratoriumBiologi Tumbuhan, Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati danBioteknologi, Institut Pertanian Bogor pada Februari-Mei 2007. Bahanyang digunakan dalam penelitian sebanyak 10 individu dari masing-masing populasi. Primer acak digunakan dalam analisis terdiri atas 10primer -10 mer yaitu OPA-02, OPA-08, OPA-10, OPA-13, OPA-20,OPB-08, OPB-11, OPB-12, OPB-15, OPB-20. DNA diekstraksimenggunakan metode Rohde yang telah dimodifikasi, konsentrasiditetapkan menggunakan metode Sambrook. Untuk melihat tingkatkekerabatan antar individu berdasarkan pola pita RAPD dari setiap primerdigunakan program NTsys ver. 2,0 (Program Numerical Taxonomy andMultivariate Analysis), sedangkan untuk analisis gerombol digunakanmetode UPGMA untuk membuat dendogram. Koefisien keragaman antarindividu dalam populasi kelapa DBI berkisar antara 2,4% – 30,7% denganrata-rata 21,7%, dan untuk populasi kelapa DSA antara 1,5% – 22,4%dengan rata-rata 12,7%. Jarak genetik individu-individu dalam populasikelapa Dalam Bali (DBI) cukup jauh menunjukkan bahwa keragamangenetik dalam populasi Dalam Bali masih tinggi, sehingga seleksi untukmaksud perbaikan sifat masih sangat memungkinkan. Pada populasikelapa Dalam Sawarna (DSA) jarak genetik individu-individu dalam sudahsemakin sempit, artinya keanekaragaman genetik antar individu di dalampopulasi DSA sudah sangat rendah oleh karena itu seleksi untuk maksudperbaikan sifat harus dilakukan dengan selektif. Hubungan kekerabatanantar populasi kelapa Dalam Bali dan Dalam Sawarna sebesar 44% artinyajarak genetik kedua populasi ini cukup jauh yaitu 56%. Sehingga jikaindividu-individu terseleksi dari kedua populasi tersebut disilangkan, akandiperoleh keturunan yang memilikinilai heterosis tinggi.Kata kunci: Kelapa Dalam Bali, kelapa Dalam Sawarna, keragamangenetik, hubungan kekerabatan, RAPDABSTRACTGenetic Diversity of Bali Tall (DBI) and Sawarna Tall(DSA) Coconuts Based  on  Random  AmplifiedPolymorphic DNA (RAPD)Genetic Diversity of Bali Tall (DBI) and Sawarna Tall (DSA)coconuts based on Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) wasobserved. Ten plants were used in each population. The objectives of thisresearch were to determine genetic diversity within-and inter-population ofBali Tall (DBI) and Sawarna Tall (DSA) coconuts, and geneticrelationship of those population based on RAPD (Random AmplifiedPolymorphic DNA). Research was done in Plant Biology Laboratory ofCenter Research of Genetic Resources and Biotechnology, InstitutPertanian Bogor, February – May 2007. DNA extraction was done bymodified Rohde method and to determine the concentration and quality ofDNA by Sambrook method. Ten RAPD 10-mer were used namely OPA-02, OPA-08, OPA-10, OPA-13, OPA-20, OPB-08, OPB-11, OPB-12,OPB-15, OPB-20. To find out the level of genetic relationship betweenindividuals based on RAPD banding pattern of each primer, we usedNTsys program ver. 2.0 (program Numerical Taxonomy and MultivariateAnalysis System), whereas for the analysis of clustering UPGMA methodis used to create a dendogram. These ten RAPD primers could separateDBI and DSA in each group. Genetic diversity within-population of BaliTall coconut population varied from 2.4 to 30.7% with average of 21.7%.So that, opportunity to improve characters in DBI coconut populationcould be done by selection. Genetic diversity within-population ofSawarna Tall coconut population progressively was narrow, ranging from1.5 to 12.4% with average 12.7%, so the selection in order to do characterimprovement in this population could be done selectively. Geneticrelationship between DBI dan DSA populations was far enough (54%), sothe crossing between those population will be good for charactersimprovment.Key words : Bali Tall coconut, Sawarna Tall coconut, genetic diversity,genetic relationship, RAPD
PENGARUH ROTASI KENAF TERHADAP PRODUKSI PADI DAN JAGUNG SANTOSO, BUDI; SASTROSUPADI, ADJI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 3 (2003): September, 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n3.2003.91-97

Abstract

Tingkat kesuburan tanah dapat diperbaiki melalui pemberian bahan organik, hijauan tanaman ke dalam tanah atau diadakan rotasi tanaman. Kenaf merupakan tanaman semusim berumur 120 hari yang sesuai dirolasi dengan padi dan jagung. Penelitian rotasi kenaf dengan padi dan jagung dilaksanakan di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri pada musim tanam 1992/1993 sampai dengan 1994/1995 pada tanah regosol cokelat keabuan Tinggi tempat 70 meter di atas permukaan air laut dengan tipe iklim C3 menurut sistem klasiikasi Oldeman Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh rotasi tanaman kenaf dengan tanaman padi dan jagung terhadap peningkatan hasil padi dan jagung setelah lanaman kenaf seta perubahan ciri-ciri tanah tetentu sepeti kandungan C, N dan KTK di lahan irigasi Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang sebanyak tiga kali. Seluruh perlakuan ada 12 macam rotasi. Ukuran petak 14 m x 10 m. Padi yang ditanam varietas IR-64, jagung varietas CPI dan kenaf He. G4. Jarak tanam padi, jagung dan kenaf beturut-turut 20 cm x 20 cm; 75 cm x 30 cm dan 20 cm x 15 cm Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penanaman kenaf dapat meningkatkan kesuburan tanah yang meliputi C-organik. N-total dan KTK tanah, baik pada tahun petama maupun pada tahun petama dan kedua. Hasil padi pada tahun petama tanpa kenaf, satu dan dua kali tanam kenaf sebelum padi masing-masing sebesar 5.19, 5.25, dan 6.24 ton/ha. Pada tahun petama dan kedua tanpa tanam kenaf dua dan liga kali tanam kenaf sebelum padi, masing-masing sebesar 4 68, 4.98, dan 5.23 ton/ha. Hasil jagung pada tahun petama tanpa kenaf dan satu kali tanam kenaf sebelum jagung, masing-masing sebesar 3.70 dan 4 47 ton/ha.Kata kunci: Kenaf, rotasi tanaman, padi, jagung, irigasi, kesuburan tanah ABSTRACTEffect of kenaf rotation on paddy and corn yieldThe fetility status of soil could be improved through the application of organic matter, fresh green plant or crop rotation practices. An experiment on kenaf-paddy-com rotalion was conducted ai Canggu Village, Pare Sub District, Kediri District from 1992/1993 to 1994/1995 on grey brown regosol. The altitude was 70 m above sea level, and the climate type was C3 according to Oldeman classiication. The purpose of the study was to know the effect of kenaf rotation on paddy and com yields and some soil characteristic change ater kenaf planting in irrigalcd land. The cxperimenl was arranged in a randomized block design with three replications. All treatments consisted of 12 kinds of rotations. Plot size was 14 m x 10 m. The variety of paddy, com, and kenaf used in this experiment were IR-64, CPI and He G4 respectively. The plant spacing were 20 cm x 20 cm; 75 cm x 30 cm and 20 cm x 15 cm respectively. The result indicated that the frequency of growing kenaf enhanced C- organic, Total-N and CEC status. Paddy yield in the irst year of growing none, once and two times of kenaf before paddy obtained 5.19; 5.25 and 6.24 ton/ha respectively. Paddy yield in the irst and second year of growing none, two and three times of kenaf before paddy obtained 4.68; 4.98 and 5.23 ton/ha respectively. Corn yield in the irst year of none and once of kenaf before com obtained 3.70 and 4.47 ton/ha respectively.Key words : Kenaf, plant rotation, paddy, com, irrigation, soil fetility
PENDUGAAN DAYA GABUNG DAN HETEROSIS KETAHANAN TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) TERHADAP PENYAKIT BUSUK BUAH (Phytophthora palmivora) RUBIYO, RUBIYO; TRIKOESOEMANINGTYAS, TRIKOESOEMANINGTYAS; SUDARSONO, SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n3.2011.124-131

Abstract

ABSTRAKKlon kakao unggul berdaya hasil dan bermutu hasil tinggi sertaresisten terhadap penyakit utama perlu dikembangkan melalui pemuliaantanaman dan tersedianya informasi tentang parameter genetik diharapkandapat membantu memecahkan masalah tersebut. Pendugaan parametergenetik dapat dilakukan dengan analisis persilang dialel. Penelitianbertujuan untuk menduga parameter genetik ketahanan tanaman kakaoterhadap infeksi P. palmivora, menggunakan analisis persilangan setengahdialel. Bahan tanaman terdiri atas lima klon kakao (ICCRI 3, TSH 858,DR 1, ICS 13 dan Sca 6) yang tergolong rentan hingga tahan terhadapinfeksi P. palmivora yang digunakan sebagai tetua dan 10 galur hibrida F1hasil persilangan antar lima klon. Penelitian dilaksanakan di KebunPercobaan Kaliwining Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia,Jember, Jawa Timur dari tahun 2008 hingga 2009. Untuk setiap kombinasipersilangan dievaluasi 20 bibit dan diulang tiga kali. Untuk mengetahuirespon bibit hibrida F1 terhadap infeksi P. palmivora, daunnya diinokulasidengan inokulum zoospora dan disungkup dengan plastik untuk menjagakelembapannya (>90%). Pengamatan luas bercak akibat infeksi P.palmivora dilakukan enam hari setelah inokulasi dan digunakan untukmenghitung intensitas penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwakakao klon DR 1, ICS 13, dan ICCRI 3 mempunyai DGU yang palingtinggi dibandingkan dengan tetua lainnya. Selanjutnya, persilangan antarklon kakao DR 1 x ICS 13, dan TSH 858 x Sca 6 mempunyai DGKtertinggi sehingga kombinasi persilangan ini berpeluang untuk menjadipenghasil hibrida baru yang resisten terhadap P. palmivora. Kombinasipersilangan yang menunjukkan nilai heterosis tertinggi adalah DR1 x ICS13, DR1 x Sca 6, dan ICS 13 x Sca 6.Kata kunci: Heterosis, hibrida F1, DGU, DGK, intensitas penyakitABSTRACTEstimation of Heterosis and Combining Ability forResistance Against Black Pod Disease (Phytophthorapalmivora) in Cacao (Theobroma cacao L.)High yielding and disease resistance of cacao clone needs to bedeveloped through breeding program. Availability of genetic parametersfor various agronomic importance characters in cacao would be veryuseful and beneficial for cacao breeding activities. Estimation of variousgenetic parameters could be done by analyzing F1 arrays generated fromsemi-diallele crosses among a number of parents. The objectives of thisresearch were to estimate genetic parameters for resistance against P.palmivora infection in cacao using F1 arrays generated from semi-diallelecrosses among five cacao clones. Five cacao clones (DR 1, TSH 858, ICS13, ICCRI 3, and Sca 6), representing an arrays of clones with increasedresistance against P. palmivora infection, were used as parents to generate10 F1 hybrid arrays. This research was conducted at KaliwiningExperimental Station, Indonesian Coffee and Cacao Research Institute,Jember, Indonesia, during the period of 2008 to 2009. At most 20seedlings were evaluated for each F1 hybrid and the evaluation wasreplicated three times. To evaluate the response of the seedlings against P.palmivora infection, their leaves were inoculated with zoospore of P.palmivora. Relative humidity around inoculated leaves was maintained at>90% by wrapping them with plastic bag. The sizes of leaf necroseresponse due to P. palmivora infection were observed during six days afterinoculation and the disease intensity was calculated based on this recordedsymptoms. Results of the experiments indicated that cacao clones (DR 1,ICS 13, and ICCRI 3) were the highest in general combining ability(GCA) for resistance character than the other two clones. Moreover, F1hybrid originated from crosses between DR 1 x ICS 13, and TSH 858 xSca 6 were the highest in specific combining ability (SCA) for resistancecharacter. Therefore, this combination crosses might be used to developenew hybrid combinations resistance against P. palmivora infection.Combination crosses showing highest heterotic value for resistance againstP. palmivora infection were DR 1 x ICS 13, DR1 x Sca 6, and ICS 13 xSca 6.Key words : Heterotic effects, F1 hybrid array, GCA, SCA, diseaseintensity
PENGARUH WAKTU TANAM SORGUM PADA SISTEM TUMPANGSARI TEMBAKAU TERHADAP SIFAT AGRONOMIS DAN KIMIAWI TEMBAKAU RACHMAN, ABDUL
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v8n2.2002.67-72

Abstract

Percobaan lapang telah dilakukan di Kebun Percobaan Pekuwon, Bojonegoro, 1992, untuk mcmpelajai sifat-sifat agronomis dan kimiawi tembakau pada berbagai waktu tanam sorgum pada sistem tumpangsai tembakau + sorgum. Percobaan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan enam ulangan. Perlakuan terdiri dai 5 taraf waktu tanam sorgum yaitu 4 dan 2 minggu sebelum tanam tembakau, bersamaan dengan waktu tanam tembakau, 2 dan 4 minggu setelah tanam tembakau. Ukuran petak 10.8 m x 12.0 m. dengan 240 tanaman tembakau per petak dan 720 tanaman sorgum per petak. Analisis N, P, K, nikotin, dan gula beturut- turut dengan Kyeldhal, Spektrofotometi, Flamefotometi, Titrasi dengan NaOH dan Luff-Schroll. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dengan mempcrcepat waktu tanam sorgum dari 4 minggu setelah tanam tembakau menjadi 4 minggu sebelum tanam tembakau sangat menurunkan pertumbuhan, hasil dan mutu. Scbaliknya perlakuan tersebut meningkat¬ kan kadar N-total, P, dan K, dan hasil sorgum tumpangsai, serta tidak berpengaruh pada kadar nikotin, gula, nisbah/nikotin, dan N/nikotin tembakau. Pada keadaan kering yang dialami oleh percobaan ini walaupun hasil tembakau rendah namun mutu hasil masih dalam kisaran yang baik dan persaingan dikuasai oleh tanaman sorgum.Kata kunci: Nicotiana tabacum, sorgum bicolor, tumpangsai, waktu tanam ABSTRACTAgronomics and chemicals properties of tobacco under different planting dates ofsorghum in tobacco -Horghum intercropping systemThe ield expeiment was conducted at Pekuwon Expeimental Station, Bojonegoro, in 1992, to study the agronomic and chemical propeties of tobacco grown under diferent planting dates of sorghum in tobacco+sorghum intercropping system. The expeiment was arranged in randomized block design, with 6 replications. The treatment consisted of 5 levels of sorghum planting, 2 and 4 weeks ater tobacco planting. Plot size was 10.8 m x 12.0 m, with 240 and 720 plants of tobacco and sorghum respectively. The methods for analyses N, P, K, nicotine and sugar analyses were Kyeldhal, Spectrophotometry, Flame photometry, Titration with NaOH, and Luf-Schroll, respectively. The growth, yield, and quality of tobacco were decreased sharply, but the N, P, K contents of the leaves were increased by accelerating planting date of sorghum from 4 weeks ater to 4 weeks before tobacco planting. The content of nicotine, sugar, sugar/nicotine. N/nicotine of the leaves were not afected by this treatment. In dry condition, although the yield of tobacco was low, but the quality was in good category, and the competition in tobacco ♦ sorghum intercropping system was dominated by sorghum.Key words : Nicotiana tabacum, sorghum bicolor, intercropping, planting date

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue