cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
KELAPA GENJAH SEBAGAI SUMBER GULA DAN POTENSI PENGEMBANGAN Dwarf Coconut as Sugar Source and Development Potential Santosa, Budi
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.76-83

Abstract

ABSTRAKBuah kelapa adalah hasil tanaman kelapa yang dimanfaatkan secara luas untuk produk pangan dan non pangan. Pada tingkat petani, produk utama yang diolah dari buah kelapa, yaitu kopra dan kelapa butiran. Pendapatan yang diperoleh petani dengan hanya mengolah kedua produk tersebut sangatlah rendah, karena harga kopra dan kelapa butiran cenderung berfluktuasi. Pada kondisi ini, peran petani sebagai penyedia bahan baku, sehingga pada saat harga kopra mengalami peningkatan, petani tidak menikmati nilai tambahnya. Oleh karena itu perlu dilakukan usaha untuk menghasilkan produk alternatif yang dapat dihasilkan pada tingkat petani.Nira merupakan hasil alternatif tanaman kelapa selain buah.Nira kelapa merupakan cairan berwarna bening yang dihasilkan dengan cara menyadap bunga kelapa yang belum mekar. Nira kelapa dapat diproses menjadi gula kelapa yang mempunyai aroma dan rasa yang khas. Gula kelapa merupakan bahan baku utama pada industri kecap. Saat ini tanaman kelapa yangumumnya disadap adalah kelapa tipe Dalam yang sudah tua dan batangnya tinggi, sehingga sangat berisiko terhadap keselamatan tenaga penyadap. Solusi yang dapat dilakukan, yaitu menyadap nira dari kelapa tipe Genjah karena kelapa Genjah lebih cepat berbunga, batangnya lebih pendek dan lambat bertambah tinggi dibandingkan kelapa Dalam. Produksi nira kelapa Genjah berkisar 0,8-2,0 liter/hari/tandan. Strategi yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan benih kelapa Genjah dalam rangka peremajaan dan perluasan tanaman, yaitu 1) melakukan eksplorasi dan seleksi populasi kelapa di daerah-daerah sentra industri gula kelapa maupun daerah lainnya untuk mendapat aksesi kelapa Genjah baru dan 2) melakukan perakitan untuk menghasilkan varietas kelapa unggul baru berproduksi tinggi, berbatang pendek dan lambat bertambah tinggi. ABSTRACT.Coconut fruit is the result of coconut plants that are widely used for food and non-food products. At the farm level, the main products processed from coconut fruits are copra and dehusked coconut. The farmers earning by only processing these two products is very low, because the price of copra and dehusked coconut tends to fluctuate. In this condition, the farmers as providers of raw materials, so that when copra prices tend to increase, farmers did receive the added value. Therefore, efforts need to be done to produce alternative products that can be produced by farmers. Neera is an alternative product of coconut plants which is produced by tapping unopened of coconut flowers. Neera can be processed into coconut sugar which has a distinctive aroma and taste. Coconut sugar is the main raw material in the soy sauce industry. Recently, coconut plants that are generally tapped are old coconut that has a high stem, so it is very risky for the safety of the tapping personnel. To solve the problem is utilized Dwarf coconut varietiesas sources of neera, because it flowering is faster, the stem is shorter and slower to grow compared to Tall varieties. The neera production of Dwarf coconut is ranging from 0.8 to 2.0 liters/day/bunch. Strategies that can be done for supplying the needs of Dwarf coconut seeds such as: 1) exploring and selecting coconut populations in the coconut sugar industry centers and other areas to obtain new fast coconut accessions and 2) creatingnew superior coconut varieties which having high productivity, short trunksand slow grow.  
KOMPONEN BIOAKTIF KOPI BERPOTENSI SEBAGAI ANTIDIABETES / The Potency of Bioactive Compounds of Coffee as Antidiabetis Tarigan, Elsera Br; Herawati, Dian; Giriwono, Puspo Edi
Perspektif Vol 19, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n1.2020.41-52

Abstract

Recently, the popularity of coffee is gaining popularity. The researcher found that the benefit of coffee was not refreshing only but also improved the quality of health. These effectsexistdue to the natural bioactive compounds found in the coffee. The bioactive compounds of coffee have activity as an antioxidant, anti-inflammation, anti-microbe, and recently as antidiabetic. The major compounds found in coffee were chlorogenic acid, trigonelline, diterpene, and Maillard reaction product (exp.melanoidin). The objective of this study was to explore the bioactive compounds of coffee and the potency antidiabetic, conducted by in-vitro, in-vivo, clinically, and epidemiology intergrately. The in-vitro analysis shown thatcoffee had activity asan inhibitor a-glucosidase, the compounds were chlorogenic acids. In the in-vivo study,coffee brewwas able to reduce blood glucose concentration of a rat model of type-2 diabetes by increasing insulin sensitivity. Caffeine and chlorogenic acids probably had an antagonist effect on glucose response. At the early stage of a clinical study, blood glucose concentration tend too increasedacutely and gradually reduces along with insulin sensitivity higher. A chlorogenic acid had a potency to decrease blood glucose concentration byseveral mechanisms such as -glucosidase inhibitory and raise insulin sensitivity. Furthermore, epidemiology studied shown that the efficacy of coffee consumption in the long-termwas able to reduce the risk of diabetes type 2. The effectiveness of coffee as antidiabetic depends on some factors such as gender and variation of coffee such asvariety, brewing technique, and frequency consumption of coffee.ABSTRAK Konsumen kopi saat ini makin meningkat, kepopulerannya ditandai dengan industri hilir kopi yang merebak di tengah-tengah masyarakat. Konsumsi kopi selain memberikan efek menyegarkan juga memiliki manfaat dalam meningkatkan taraf  kesehatan konsumennya. Komponen bioaktif pada kopi memiliki aktivitas seperti antioksidan, antiinflamasi, antimikroba dan antidiabetes. Kandungan biokatif kopi yang berperan dalam aktivitas tersebut adalah asam klorogenat, trigonelin, diterpen dan produk reaksi Maillard (cth.melanoidin). Tujuan dari tulisan ini adalah menggali senyawa bioaktif yang terdapat pada kopi dan potensinya sebagai antidiabetes secara terpadu baik secara in-vitro, in-vivo, klinis dan epidemiologi. Berdasarkan penelitian secarain–vitrobahwa komponen bioaktif kopi yang berperan dalam menghambat aktivitas a-glukosidase adalah asam klorogenat. Secara in-vivobahwa seduhan kopi yang dikonsumsi oleh tikus penderita diabetes menghasilkan kadar glukosa darah yang menurun karena peningkatan sensitivitas insulin. Efek kafein kemungkinanberlawanan dengan asam klorogenat terhadap glukosa darah. Pada awal pengujian secara klinis kadar glukosa darah akan meningkat secara akut dan kemudian menurun seiring meningkatnya efek asam klorogenat. Asam klorogenat akan berperan dalam menghambat transportasi glukosa dan meningkatkan sensitivitas insulin. Penelitian secara epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jangka waktu yang lebih lama dapat menurunkan resiko penyakit diabetes mellitus tipe 2. Persentase penurunan penyakit diabetes melitus dipengaruhi oleh faktor gender dan variasi kopi seperti jenis, teknik menyeduh dan frekuensi konsumsi kopi.
BUDIDAYA LADA BERPINDAH: KASUS LADA BANGKA BELITUNG Daras, Usman; Gusmaini, .
Perspektif Vol 15, No 2 (2016): Desember, 2016
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v15n2.2016.96-109

Abstract

The province of Bangka Belitung islands are producing areas of black pepper from which Muntok White Pepper wellkown over the world is produced. Unportunetely, the exported commodity is obtained through traditional agricultural system, where cultivated lands of the crop commonly move from one site to others, after 2-3 times of harversting seasons. In establishing of pepper vine orchards, farmers usually open secondary forests (forested lands) and followed by burning any dried parts of cut plants. This may result in declining of soil fertility, productivity of the crop, and its economical life as much humus and soil organic matter is burned as well. The growth of pepper vines will become worse since farmers commonly do not look after the crops properly, including added fertilizers adequately. In the future, such approach may not be maintained due to narrowed land-ownership generated by increase of population and other land use purposes. Therefore, fixed cultivation of the crops may be a single solution in growing pepper vines at Babel. In other words, the crops should be cultivated intensively by introducing proper management of the crops. Any main factors believed to be causes why farmers do so should be identified. The approach is expected to improve productivity, economical life of the crop more than 7 years) and sustainable.
PERBANYAKAN ILES-ILES ( Amorphophallus spp.) SECARA KONVENSIONAL DAN KULTUR IN VITRO SERTA STRATEGI PENGEMBANGANNYA Conventional Propogation and In Vitro Culture of Iles-Iles (Amorphophallusspp.) and Its Development Strategy Ibrahim, Meynarti Sari Dewi
Perspektif Vol 18, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v18n1.2019.67-78

Abstract

ABSTRAK Iles-iles (Amorphophallus spp.) tergolong ke dalam suku talas-talasan yang saat ini karena kandungan gizinya mulai dilirik sebagai bahan baku pangan fungsional. Nilai ekonomi Iles-iles ada pada kandungan glukomanannya. Glukomanan merupakan suatu senyawa polisakarida jenis hemiselulosa yang bersifat hidrokoloid, larut dalam air, rendah kalori, dan bebas dari gluten. Sifat ini menjadikan tepung glokomanan selain untuk kebutuhan bahan pangan, juga digunakan untuk bahan baku industri. Permasalahan dalam pengembangan tanaman iles-iles sebagai alternatif pengganti pangan antara lain ketersediaan bahan baku yang tidak dapat terpenuhi secara kontiyu. Hal ini kemungkinan besar karena siklus hidupnya yang lama, dan masih banyak petani maupun masyarakat yang belum mengetahui prospek tanaman iles-iles, sehingga belum tertarik untuk membudidayakannya. Ketersediaan bahan baku secara kontiyu tentu saja memerlukan bahan tanam yang tidak sedikit. Untuk menyediakan benih tanaman iles-iles, perbanyakan dapat dilakukan secara konvensional dan secara in vitro.  Secara konvensional perbanyakan menggunakan umbi batang merupakan cara yang lebih praktis dibandingkan bulbil, biji atau stek daun.  Pada  kultur in vitro, penggunaan tangkai daun (petiol)  paling efisien dibandingkan eksplan lainnya. Media multipikasi tunas terbaik adalah Media MS yang diberi kombinasi Thidiazuron (0,2 mg/1) dan Benzylaminopurine (0,5 mg/1). Jumlah tunas yang didapatkan melalui kultur in vitro jauh lebih banyak (37 tunas) dibandingkan perbanyakan konvensional yang hanya menghasilkan 1 tunas. Untuk perakaran, media terbaik menggunakan MS yang diberi IBA 1,0 mg/l. Informasi perbanyakan iles-iles secara konvensional dan kultur in vitro serta stategi pengembangannya diharapkan dapat membantu mengatasi masalah ketersedian  benih.  ABSTRACT Iles-iles (Amorphophallus spp.) belongs to the taro family, which has gained increasing attention due to its nutritional content for functional food materials. The economic value of Iles-iles lies in the glucomannan content that is a hemicellulose type polysaccharide compound that is hydrocolloid, water soluble, low in calories, and free of gluten.  Additionally, iles-iles is also potential for industry. However, sustainability in iles-iles supply is one main problem due to its long life cycle and its potential is not yet known among farmers and communities hence lack of interest in cultivating. Thus, providing sufficient planting materials is required which can be achieved through propagation, both conventionally and nonconventionally using in vitro culture. Conventional propagation using stem tubers is more practical than bulbates, seeds or leaf cuttings. In in vitro culture, previous studies on  several explants found that the use of petiol is most efficient compared with other explants.  The best media for multiplication is  combination of thidiazuron (0.2 mg/1) and Benzylaminopurine (0.5 mg/1). The number of shoots obtained through in vitro is much more (37 shoots ) than conventional propagation which only produced 1 shoot. For rooting, the best medium is MS which is given IBA 1.0 mg / l. Information on conventional propagation of iles-iles and in vitro culture and it development strategies are expected to help solving the problem of seed availability.
PERBANYAKAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) MENGGUNAKAN MEDIA DASAR ALTERNATIF SECARA IN VITRO In vitro multiplication of Patchouli uses alternative primary medium Amalia, Amalia
Perspektif Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n2.2018.139-149

Abstract

Benih sangat menentukan dalam keberhasilan usahatani nilam. Perbanyakan benih secara konvensional vegetatif sangat mudah menularkan penyakit dan membutuhkan waktu yang relatif lama, seperti benih nilam yang diperbanyak selama ini dengan setek. Cara ini memiliki kendala, yang diharapkan dapat diatasi dengan teknik kultur jaringan. Media merupakan faktor utama dalam perbanyakan kultur jaringan. Perbanyakan dan perkembangbiakan tanaman nilam dengan metode kultur jaringan secara umum sudah dapat dilakukan tetapi untuk keberhasilannya sangat tergantung pada jenis media, terutama bila ditinjau dari sisi ekonomi. Karena aplikasi teknologi kultur jaringan untuk tanaman nilam masih dirasakan mahal. Tulisan ini mengulas tentang penggunaan media untuk menekan biaya media kultur jaringan yaitu dengan menggantikan media dasar MS (Murashige-Skoog), ZPT dan vitamin dengan media dasar alternatif dan air kelapa 10%. Air kelapa merupakan salah satu diantara beberapa persenyawaan kompleks alamiah yang sering digunakan dalam kultur jaringan. Sedangkan media dasar alternatif berupa pupuk daun dapat berfungsi sebagai penyedia unsur hara makro mikro  dengan komposisi  N:P:K (20:20:20). Hal ini untuk mengatasi permasalahan, agar media kultur jaringan menjadi relatif murah, dan harga jual benih lebih terjangkau. Air kelapa yang digunakan berasal dari kelapa hijau yang dicirikan dengan volume air masih memenuhi buah dan keadaan endosperm (daging kelapa) yang belum menebal.  Tetapi meski bahan alternatif ini sudah banyak digunakan untuk media pengganti kultur jaringan karena relatif mudah tersedia, murah, menghasilkan benih seragam dan sehat, ternyata belum dapat menunjukkan hasil yang setara dibandingkan dengan penggunaan media MS dalam perbanyakan tunas nilam secara kultur jaringan. Oleh karena itu berbagai penelitian  perbanyakan tanaman nilam dengan berbagai metode kultur jaringan agar menghasilkan benih yang murah, sehat, seragam dan dalam jumlah besar masih perlu terus diupayakan. ABSTRACT The quality of seeds are very  important in patchoulli cultivation. Cutting multiplication seeds are usually easy in transmitting diseases and relatively need a long time to grow. So far patchouli seeds  obtained conventionally with cutting has some constraints, hence tissue culture techniques becomes the solution once. The success of propagation and breeding of plants with tissue culture methods in patchouly is already conducted but is still expensive to be implemented. The paper review patchouli tissue culture propagation  by replacing basic media MS (murashige-skoog, Growth Regulating Substances (GRS) and vitamine with alternate  basic medium and 10% coconut water Coconut water is one of several natural complex compounds that are often used in tissue culture. The alternative medium as leaf fertilizer can serve as a micro and macro nutrient provider with composition N: P: K (20:20:20). Hopefully, It could become the solution to make tissue culture of patchoulli seeds cheaper and more available. Actually, eventhough the overall substitution of MS medium with full alternative media has already used in limited areas, it has not able yet  showing equal results with the use of basic medium MS media in tissue culture patchouli multiplication. Therefore, the researches on patchouli tissue culture should be continued to achieve the huge number, healthy, unity, and unexpensive seeds. 
PENINGKATAN DAYASAING LADA(Piper nigrum L.) MELALUI BUDIDAYA ORGANIK Enhancement of Pepper (Piper nigrum L.) Competitiveness Through Organic Cultivation Kardinan, Agus; Laba, I Wayan; Rismayani, Rismayani
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.26-39

Abstract

ABSTRAKLada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman rempah yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dan penghasil devisa terbesar ketujuh pada kelompok tanaman perkebunan. Daerah pengembangan lada di Indonesia sebagian besar berada di Lampung, Bangka, Kalimantan dan Sulawesi. Indonesia bukanlah Negara terbesar pemasok kebutuhan lada di tingkat dunia, namun Indonesia merupakan negara pemasok lada nomor tiga di dunia. Negara pemasok kebutuhan lada terbesar di dunia adalah Vietnam, disusul oleh Brazil. Salah satu kunci keberhasilan Vietnam adalah diterapkannya budidaya lada yang baik didukung oleh pemerintah dan swasta, sedangkan di Indonesia sebagian besar perkebunan lada adalah milik petani dengan teknik budidaya yang beragam seringkali tidak sesuai dengan SOP budidaya lada yang dianjurkan. Bersaing secara kuantitas dirasa berat untuk Indonesia, karena sampai saat ini produktivitas lada di Indonesia masih relatif rendah. Banyak permasalahan yang dihadapi oleh petani lada di Indonesia di antaranya mutu dari produk lada yang masih rendah. Untuk meningkatkan daya saing lada salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas produk lada, melalui budidaya organik. Di tingkat internasional, produk organik mendapatkan harga premium, dihargai lebih mahal, karena selain produknya dianggap sehat juga konsumen rela memberikan harga lebih sebagai bentuk apresiasi bagi produsen organik yang telah berbudidaya ramah lingkungan, sehingga dianggap pahlawan lingkungan. Makalah ini menguraikan tentang budidaya tanaman lada secara organik dengan harapan dapat ikut memberikan kontribusi dalam rangka peningkatan dayasaing lada Indonesia di Pasar dunia, sekaligus mendukung program pemerintah mewujudkan “Seribu Desa Organik”. ABSTRACTPepper (Piper nigrum L.) is a spice crop that has a high economic value, the seventh largest income earner in the plantation crop. The pepper development areas in Indonesia are mostly in Lampung, Bangka, Kalimantan and Sulawesi. Indonesia is not the bigest Country to supply international market, however Indonesia is number three to supply international market. The largest supplier of pepper needs in the words is Vietnam, followed by Brazil. One of the keys factor of Vietnam's success is the application of good pepper cultivation practice supported by both the government and the private sector, while in Indonesia most of the pepper plantations belong to farmers with diverse cultivation techniques that are often not following the recommended Standard Operation Procedure of pepper cultivation.To compete with other countries quantitatively is not easy for Indonesia, since the productivity of pepper in Indonesia is still low. One effort to anticipate this is by increasing pepper competitiveness through organic cultivation (Qualitatively). Internationally, organic produce/ product will have premium price, since the organic product is more healthy and as an appreciation from the consumers to the producer that the producers have implemented ecofriendly farming and  also consumers assume that the producer  is as an environmental hero. This paper describes organic pepper cultivation in the hope of contributing to improve the competitiveness of Indonesian pepper in the world market and also on supporting the successfull of Goverment of Indonesia program on actualizing of  “Thousands of Organic Village Program”  
PENGELOLAAN BIOMASSA TANAMAN DALAM BIOINDUSTRI PERKEBUNAN MENDUKUNG PENGEMBANGAN BIOENERGI Plant Biomass Management in Plantations Bioindustry Supporting Bioenergy Development Wulandari, Suci; Sumanto, Sumanto; Saefudin, Saefudin
Perspektif Vol 18, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v18n2.2019.135-149

Abstract

Biomassa tanaman perkebunan dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan, dan bioenergi. Hasil penelitian dan perkembangan teknologi telah mendorong pemanfaatan biomassa bagian-bagian tanaman tersebut. Tanaman perkebunan memiliki potensi besar untuk menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan energi terbarukan. Pemetaan potensi biomassa telah banyak dilakukan pada tanaman perkebunan, seperti pada: tebu, kakao, kelapa sawit, kemiri sunan, jarak pagar, kopi, kelapa dalam, karet dan teh. Pengembangan sistem produksi pangan dan biomassa untuk pembangkit energi melalui sistem multi tanam berbasis komoditas perkebunan telah dikembangkan.  Di Kabupaten Aceh Timur telah dilakukan pengembangan sistem agroindustri juga memanfaatkan semua produk samping, mendorong daur ulang dan pemanfaatan residu. Pemanfaatan potensi bioenergi masih dihadapkan pada berbagai kendala distribusi, kontinuitas pasokan bahan dan aspek ekonomi. Menyikapi hal tersebut langkah strategis dapat dilakukan melalui: analisis neraca karbon, alokasi lahan, pemanfaatan lahan, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, dukungan teknologi, fokus pada nilai tambah yang tinggi dan perbaikan tata kelola. Selanjutnya perbaikan pada pengembangan sistem pangan energi terpadu dapat ditempuh melalui: (1) sosialisasi dari inovasi teknologi, (2) membentuk kawasan-kawasan pertanian terpadu di daerah sentra pengembangan dan (3) memperkuat kelembagaan petani untuk mengembangkan agroindustri.   ABSTRACTBiomass from estate crops can be used for food, feed, and bioenergy. The results of research and technological developments have encouraged the utilization of biomass of these plant parts. Plantation crops have great potential to produce biomass that can be utilized in the development of renewable energy. Mapping of biomass potential has been carried out in plantation crops, such as: sugar cane, cocoa, oil palm, candlenut, jatropha, coffee, deep coconut, rubber, and tea. The development of food and biomass production systems for energy generation through a commodity-based multi-cropping system has been developed. In East Aceh District an agro-industrial system development has also been carried out utilizing all byproducts, encouraging recycling and utilizing residues. The utilization of bioenergy is still faced with various distribution constraints, continuity of material supply and economic aspects. In response to this, strategic steps can be taken through carbon balance analysis, land allocation, land use, sustainable use of resources, technology support, focus on high added value and improved governance. Furthermore, improvements to the development of integrated energy food systems can be pursued through (1) socialization of technological innovations, (2) establishing integrated agricultural areas in plant centers and (3) strengthening farmer institutions to develop agro-industries. 
PROSPEK INSEKTISIDA NABATI BERBAHAN AKTIF METIL EUGENOL (C12H24O2) SEBAGAI PENGENDALI HAMA LALAT BUAH Bactrocera Spp. (Diptera : Tephritidae) Prospect of Methyl Eugenol (C12H24O2) as Active Ingredient of Botanical Insecticide for Fruit Flies Control Bact Kardinan, Agus
Perspektif Vol 18, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v18n1.2019.16-27

Abstract

ABSTRAK  Pengendalian organisme pengganggu tanamam (OPT) di bidang hortikultura, khususnya dengan pestisida cukup tinggi, yaitu dapat mencapai 30% dari biaya usahataninya.  Salah satu OPT di bidang hortikultura adalah hama lalat buah (Bactrocera spp.) yang mengakibatkan buah muda rontok, buah menjadi busuk dan berbelatung dengan kerusakan berkisar antara 30 - 60%, bahkan tidak jarang menggagalkan panen.  Petani sangat bergantung kepada pestisida kimia sintetis yang sering menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan pengguna.  Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan adalah dengan penggunaan insektisida nabati, yaitu dengan memanfaatkan tanaman yang mengandung bahan aktif metil eugenol (C12H24O2), seperti Melaleuca bracteata, Ocimum sanctum, Ocimum minimum dan Ocimum tenuiflorum. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai potensi insektisida nabati berbahan aktif metil eugenol yang dapat digunakan sebagai pengendali hama lalat buah Bactrocera spp. Minyak atsiri yang dihasilkan dari hasil penyulingan gabungan tanaman tersebut mengandung metil eugenol ± 80%. Dari minyak atsiri tersebut dibuat beberapa formula, diantaranya ; (1) atraktan lalat buah berbentuk cair/minyak; (2) lem perangkap/sticky trap dan (3) umpan beracun/poisonous bait. Pemanfaatan senyawa ini sebagai pengendali lalat buah melalui penggunaan umpan beracun dan lem perangkap dilengkapi umpan sari buah (essence) a,l, mangga, belimbing, jambu biji, jeruk, apel dan nenas serta gula kelapa mampu menurunkan intensitas serangan lalat buah pada mangga sebesar 38,6 - 58,9%. Penggunaan perangkap berwarna kuning dapat meningkatkan efektivitas pengendalian lalat buah.  ABSTRACT Pest control in horticulture commodities need high cost, especially for buying pesticide that can reach about 30% of total expenses. One of the pest problems in  horticulture is fruit fly (Bactrocera spp) which causes young fruit fall, the fruit becomes rotten and contain magot/larva with damage ranging from 30 - 60%,  even rarely causing fail in harvest. Farmers rely heavily on synthetic chemical pesticides that often have a negative impact on the environment and user health. An alternative eco-friendly control is the use of botanical insecticide by using plants containing active ingredient of methyl eugenol (C12H24O2), such as Melaleuca bracteata, Ocimum sanctum, Ocimum minimum and Ocimum tenuiflorum. The essential oils resulted from  distillation of the mixed plant above contain methyl eugenol ± 80%. Some products can be made from the essential oils containing methyl eugenol, i.e. (1) Attractant in the form of liquid/oil; (2) Glue/sticky trap and 3) Poisonous bait. The objective of the paper is to inform the pottency of botanical insecticide containing active ingredient of methyl eugenol for controlling fruit flies Bactrocera spp.
TEKNOLOGI PENYAMBUNGAN (GRAFTING) MENDUKUNG PENGEMBANGAN, PEREMAJAAN DAN REHABILITASI PERTANAMAN JAMBU METE / Grafting Technology for Support Extensification, Replanting, and Rehabilitation of Cashew Plantation Suryadi, Rudi
Perspektif Vol 17, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n2.2018.85-100

Abstract

Initially cashew cultivation was aimed at marginal land conservation. A tight spacing (3 m x 3 m) so that the crown can cover the ground as quickly as possible to prevent soil erosion during rain and deciduous cashew leaves will add soil organic matter. Therefore aspects of plant productivity have not been a concern. As the price of cashew nuts tends to increase every year. This can encourage farmers to try cashew crops more seriously. At present, cashew cultivation is not only an effort to conserve marginal land, but also as a source of income for farmers, especially in Eastern Indonesia (KTI). Until 2016, Indonesia's cashew area had reached 514,491 ha with production of 137,094 tons. However, the level of productivity is considered still low, namely 430 kg logs/ha/year, far below India and Nigeria in the range of 900-2,286 kg logs/ha/year. Some factors that cause low productivity of Indonesian cashew are (1) the quality of plant material used, (2) disruption of pests and diseases, (3) maintenance of plants, and (4) the number of old plants (> 30 years). For this reason, efforts need to be made to increase the productivity of cashew, by implementing grafting technology in the extensification, replanting and rehabilitation of cashew. Research related to the grafting has been done quite a lot and produced, both grafting in nurseries and directly on the field (top working). The production potential of 9 superior varieties released ranged from 5.97 - 37.44 kg logs/trees/year or an average of 16.70 kg logs/trees/year. If the extensification, replanting and rehabilitation activities apply the grafting technology using the stem from superior varieties, it will be able to increase the productivity of Indonesian cashew to 1,670 kg logs/ha/year or increase by 300% from current productivity. AbstrakAwalnya penanaman jambu mete bertujuan untuk konservasi lahan marjinal. Jarak tanam rapat (3 m x 3 m) agar tajuk dapat secepat mungkin menutup permukaan tanah untuk mencegah erosi permukaan tanah saat hujan dan daun jambu mete yang gugur akan menambah bahan organik tanah. Oleh sebab itu aspek produktivitas tanaman belum menjadi perhatian. Seiring perkembangan harga kacang mete cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal tersebut mampu mendorong petani untuk mengusahakan tanaman jambu mete lebih serius. Saat ini penanaman jambu mete tidak hanya sebagai usaha konservasi lahan marjinal, namun menjadi sumber pendapatan petani, terutama di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sampai 2016, luas areal mete Indonesia telah mencapai 514.491 ha dengan produksi 137.094 ton. Namun, tingkat produktivitas dianggap masih rendah yaitu 430 kg gelondong/ha/tahun, jauh dibawah India dan Nigeria pada kisaran 900-2.286 kg gelondong/ha/tahun. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas jambu mete Indonesia yaitu (1) mutu bahan tanaman yang digunakan, (2) gangguan hama dan penyakit, (3) pemeliharaan tanaman, dan (4) banyaknya tanaman tua (>30 tahun). Untuk itu perlu ditempuh upaya meningkatkan produktivitas jambu mete, dengan menerapkan teknologi penyambungan pada kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi pertanaman jambu mete. Penelitian terkait penyambungan sudah cukup banyak dilakukan dan dihasilkan, baik penyambungan di pembibitan maupun langsung di lapang (top working). Potensi produksi dari 9 varietas unggul yang dilepas berkisar antara 5,97- 37,44 kg gelondong/pohon/tahun atau rata-rata 16,70 kg gelondong/pohon/tahun. Apabila kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi menerapkan teknologi penyambungan menggunakan batang atas dari varietas unggul, akan mampu meningkatkan produktivitas jambu mete Indonesia menjadi 1.670 kg gelondong/ha/tahun atau meningkat 300 % dari produktivitas saat ini. 
PERSPEKTIF KETERSEDIAAN GULA DOMESTIK DAN SWASEMBADA GULA NASIONAL Perspective of Domestic Sugar Availability and National Sugar Self-sufficiency Yonas Hangga Saputra
Perspektif Vol 19, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n1.2020.63-78

Abstract

This article aims at reviewing the perspective of domestic sugar availability and national sugar self-sufficiency. The review result shows that the existence of sugar as one of the basic needs of the Indonesian people is faced with a gap between production (2.5 million tons/year) and consumption (5.7 million tons/year), caused Indonesia has to import 3.2 million tons of sugar annually. During the last five years (2011-2015), the growth of sugar import (3.42%/year) was higher than those of consumption (3.19%/year), productivity (3.01%/year), and production (2.27%/year). In order to anticipate such conditions, the government has prepared a roadmap to increase production with a target of self-sufficiency in sugar. Therefore, it is required a comprehensive solution to solve sugar problems from cultivation aspect at upstreamlevel, processing aspect at midstream level, up to marketing aspect at downstream level. Coordination, participation, and cooperation among stakeholders are absolutely necessary while eliminating sectoral ego institutionally. It is purposed to support the availability of domestic sugar and the national sugar self-sufficiency.ABSTRAK Artikelini bertujuan mengulas perspektif ketersediaan gula domestik dan swasembada gula nasional Hasil ulasan menunjukkan bahwa keberadaan gula sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat Indonesia berhadapan dengan kondisi kesenjangan antara produksi (2,5 juta ton/tahun) dengan konsumsi (5,7 juta ton/tahun), sehingga Indonesia harus mendatangkan gula impor sebesar 3,2 juta ton per tahun. Selama kurun waktu lima tahun terakhir (2011-2015), laju pertumbuhan impor gula (3,42%/tahun) lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan konsumsi (3,19%/tahun), produktivitas (3,01%/tahun), dan produksi (2,27%/tahun). Dalam rangka mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah telah menyusun peta jalan peningkatan produksi dengan target swasembada gula. Untuk itu diperlukan solusi komprehensif dalam mengatasi permasalahan gula mulai dari aspek budidaya di bagian hulu, aspek pengolahan di bagian tengah, hingga aspek pemasaran di bagian hilir. Koordinasi, partisipasi, dan kerja sama antar pemangku kepentingan terkait mutlak diperlukan seraya menghilangkan ego sektoral pada masing-masing pihak. Tujuannya adalah dalam rangka mendukung ketersediaan gula domestik dan swasembada gula nasional.