cover
Contact Name
Agus Budiharto
Contact Email
phpbun_2006@yahoo.co.id
Phone
+622518313083
Journal Mail Official
deciyantos@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1 Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Perspektif, Review Penelitian Tanaman Industri
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Articles 201 Documents
Allelopathy on estates crops and its control techniques and utilization prospects MUHAMAD DJAZULI
Perspektif Vol 10, No 1 (2011): Juni 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n1.2011.%p

Abstract

Soil fertility is an important factor of abiotic growth environment on growth and production. Soil fertility it self is influenced by macro and micronutrient status and toxic compound in the soil. Once of toxic compound released by plant and it can affect other plant growth and their growth it self. Information of allelopathy in estate crps are limited. Allelopathyc compounds are released from the plant as root exudate, vapour from leaf in a gas form through stomata, foliar leacheate, decomposition product of dead plant parts, and microorganism tranformation. For example, a significantly decreased of ginger and patchouli productivity at second cultivation at fertile soil and no pest attack, indicated that ginger and patchouli released autotoxic allelopathy compound. Arabica coffee released 1.3.7-trimethylxanthin com-pound that is potentially inhibit lettuce germination and also produce autotoxic allelopathy compound of caffeine. It was found some alleloptathy compounds produced by patchouli such as coumaric acid, hydroxi benzoic acid, adific acid, and sinapic acid. Application of liming, active carbon, Salicilic acid, MgSO.7 H2O, soil micoorganism, and rotation system using aromatic plant especialy, mint, basil, sage and oregano were able to reduce allelopathy compound and improved productivity of land and plant. It was reported that some allelopathic compounds can be utilized as a potentially organic herbicide. Key words: Allelopathy, estate crops, management, growth inhibitor, organic herbicide
STRATEGI AKSELERASI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI KACANG METE DI SULAWESI TENGGARA / Acceleration Strategy for Developing Cashew Nuts Agriculture Industry in Southeast Sulawesi Julian Witjaksono
Perspektif Vol 17, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v17n1.2018.67-75

Abstract

ABSTRAKTanaman perkebunan mampu memberikan kontribusi yang besar bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional. Di Sulawesi Tenggara, selain kakao, jambu mete merupakan tanaman yang telah lama menjadi tumpuan hidup masyarakat khususnya di lahan-lahan kering marginal. Namun, kondisi pertanaman pada saat ini cukup merisaukan dilihat dari umur tanaman yang sudah sangat tua yang mengakibatkan penurunan produktivitas tanaman. Rendahnya produktivitas berdampak pada ekonomi masyarakat petani khususnya di sisi hilir akibat dari kurangnya suplai gelondongan untuk industri olahan kacang mete. Agroindustri kacang mete di Sulawesi Tenggara berkembang cukup pesat selama beberapa puluh tahun terakhir namun saat ini usaha pengolahan kacang mete tersebut menunjukan kelesuan akibat tidak adanya upaya untuk pengembangan industri rumah tangga tersebut. Oleh sebab itu strategi percepatan sangat dibutuhkan agar usaha pengolahan kacang mete yang merupakan industri rumah tangga dan tersebar di beberapa kabupaten sentra produksi agar dapat terus berkembang sebagai sumber ekonomi masyarakat. Akselerasi tersebut dapat dimulai dari sisi hulu, yaitu 1) introduksi paket teknologi pada lahan tanaman yang belum menghasilkan untuk, 2) peremajaan tanaman pada lahan tanaman yang tidak menghasilkan, dan 3) penyediaan bibit tanaman unggul lokal yang bersertifikat. Kemudian dari sisi hilir, program akselerasi meliputi 1) penyediaan skim kredit tanpa agunan bagi industry pengolahan kacang mete, dan 2) dukungan mekanisasi yaitu alat kacip semi otomatis skala rumah tangga. Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah dukungan kelembagaan ekonomi. Model LEM (Lembaga Ekonomi Masyarakat) sejahtera seperti yang telah berkembang di Sulawesi Tenggara untuk petani kakao dapat diintroduksi pada masyarakat petani jambu mete. ABSTRACTCrop estate in Indonesia has contributed highly to the Gross Domestic Bruto (GDP). In Southeast Sulawesi, after cocoa, cashew nuts domestically as the supporting live for farmers in the marginal dry land. However, current condition of cashew nuts plantation is getting worrying due to aging crop with consequently decreasing plant productivity. This is will have impact of low economy of farmers live particulary for people who work in the downstream industry due to the low supplay of shell nuts. In the past few years cashew nuts agroindustry in Southeast Sulawesi is growing fastly but now this industry is getting down. This is because there is no supporting program to help people who work in the home industry. Therefore, acceleration strategies are needed to support this industry which has spread out across the county producer in Southeast Sulawesi in order to grow the economic household. Acceleration program should be implemented firstly in the upstream side, Viz. 1) Introduction of technological package of cashew nut crop in the plant area of not produce yet, 2) Plant rehabilitation program in the area of old crop, and 3) providing certification nurseries program by using local high yield variety. Moreover, in the downstream side acceleration strategies are 1) providing loan program with low interest without collateral guarantee, and 2) mechanization program by providing semi authomatic machine of peeling shell for home industry. Another which is important about strengthening program of local economic institutional. LEM sejahtera which has been implemented for cocoa farmers is a good model and successfully implemented across the county of cocoa farmers household in Southeast Sulawesi. This model could be introduced for cashew nut farmers.
Strategi Pengembangan Bio-etanol Berbasis Sagu di Maluku SJAHRUL BUSTAMAN
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKBio-etanol  adalah  cairan  biokimia  dari  proses fermentasi  karbohidrat  dengan  bantuan  mikro-organisme, dan dilanjutkan dengan proses distilasi. Upaya   pengembangan   bio-etanol   sudah   begitu mendesak,  terutama  bertujuan mengurangi  beban penderitaan  masyarakat  akibat  kenaikan  BBM  dan pasokan yang tidak menentu pada masyarakat yang tinggal  di  pulau  kecil  dan  terpencil.   Tulisan  ini memberikan gambaran tentang bio-etanol yang dapat diproduksi di Maluku. Hasil analisis faktor kekuatan, kelemahan,  kesempatan  dan  ancaman  pada pengembangan industri  bio-etanol  di Maluku, memberikan   prospek yang  baik. Strategi pengembangan bio-etanol dikelompokan atas beberapa pola skala usaha seperti skala rumah tangga, UMKM, komersial  dan  pola  plasma-inti.  Kebijakan  Pemda Maluku diperlukan untuk mendukung pembangunan bio-etanol   dalam   usaha   meningkatan   pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja.Kata kunci: Metroxylon spp., pengembangan bio-etanol, Maluku. ABSTRACTStrategy of Bio-ethanol Development Base on Sago in MoluccasBio-ethanol   is   biochemical liquid  produced by fermentation of carbohydrate with microorganism and followed by distillation. The development of the bio-ethanol is urgently needed as to help reducing the public burden due to the increasing of oil price and uncertainly oil supply especially for Moluccas society in small island. This paper shows that bio-ethanol can be  produced  in  Moluccas.  SWOT  analysis  results showed that bio-ethanol industry development gave good prospect. Strategy of bio-ethanol development can be recommended by some pattern such as house hold scale, small-micro scale, commercial scale and nucleus-plasm pattern. The regional authority should be convinced about the necessity of supporting bio-ethanol production in order to increasing community income and absorbing labor.Key words: Bio-ethanol development, moluccas.
Oryctes rhinoceros L. dan Usaha Pengendaliannya dengan Metarrhizium anisopliae MICHELLIA DARWIS
Perspektif Vol 2, No 2 (2003): Desember 2003
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v2n2.2003.31-44

Abstract

Oryctes rhinoceros L. banyak menimbulkan kerugian ekonomi, baik stadia imago maupun pra dewasa. Larva berada pada tumpukan bahan organik yang digunakan pada pembibitan ataupun pada areal bukaan baru, sehingga hama Oryctes menjadi semakin pening diperhaukan dalam usaha budidaya kelapa. Keberadaan hama Oryctes perlu terus dipantau agar populasinya selalu berada di bawah batas ambang ekonomi 5 imago/ha. Salah satu cara pengendaliannya adalah secara hayai dengan menggunakan cendawan pato-genik Metarrhizium anisopliae. Pada percobaan Iaboratorium, konsentrasi konidia 1 juta/ 1 kg media sarang dapat efekif menimbulkan 100% kematian larva Oryctes dua minggu setelah inokulasi. Untuk aplikasi di Iapangan, disamping jumlah konidia yang perlu diperhatikan adalah daya viabilitas, paling tidak 85% atau lebih, biakan murni, idak terkontaminasi, kemasan harus baik, didistribusikan dalam waktu relaif cepat, mudah diaplikasikan, dan diaplikasikan sebelum musim hujan. Tidak diragukan lagi kemampuan cendawan Metarrhizium dalam mengendalikan hama Oryctes. Namun kadang kala ditemukan hasil yang kurang memuaskan, karena idak memperhatikan persyaratan minimal ataupun cara aplikasi di Iapangan yang kurang sempuma. Aplikasi penaburan biakan Metarrhizium di Iapangan adalah 15 - 20 g/m2 media sarang. Pengendalian di lapang yang paling sukses adalah di KP. Pakuwon, efektivitas cendawan Metarrhizium dapat menimbulkan 85,6%-93,8% mortalitas larva Oryctes. Pengendalian yang tidak terlalu sukses ditemukan di Desa Kukup, Gunung Kidul : efekivitas Metarrhizium hanya menimbulkan 63,57% - 68,8% mortalitas larva Oryctes, sedangkan pengendalian yang tidak sukses ditemukan di Kabupaten Jombang, h anya 0,4% saja terjadi mortalitas larva Oryctes. Kemudian pengamatan pada gejala kerusakan daun kelapa terjadi peningkatan yaitu 2,5 guntingan/pelepah, jauh berada di atas batas ambang ekonomi 1,0 guntingan/pelepah.Kata kunci: Kelapa, Oryctes rhinoceros, pengendalian hayai, Metarrhizium anisopliae.
Crotalaria juncea L: Fiber Crops for Green Manure and Biological Control for Nematode . DJAJADI
Perspektif Vol 10, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v10n2.2011.%p

Abstract

Most of Indonesian agricultural land has very low (less than 1% C) soil organic matter content which is unsuitable to support sustainability agricultural system.  As a fiber crop, Crotalaria juncea (sun hemp) possesses many characteristics of a green manure, growing vigorously to provide good ground coverage, performing symbiosis with rhizobium to fix nitrogen, and being a source of organic matter.  Incorporation green biomass of sun hemp with soil in soil tillage, contributed to soil N content of 52.7 kg N/ha and increased cane yield of 61 tones/ha at one year planting time.  In agricultural soil dominated by sand particle (86% sand content), addition of 1.6% C juncea mixed with 10% clay soil, has improved soil physical characteristic (increasing of aggregate stability, declining bulk density, and increasing soil water content), soil chemical characteristics (increasing soil N, P and C organic), and soil biological characteristics (increasing population of bacteria and fungi).  Furthermore, sun hemp can suppress population of parasitic soil nematode. The using of sun hemp as a green manure might be an essential component of sustainability agriculture system.Key words: C juncea, green manure, nematode, soil fertility, sustainability agriculture.
PENEKANAN FLUKTUASI PRODUKSI CENGKEH (Syzygium aromaticum) DENGAN MEKANISME FISIOLOGI / Suppression of Fluctuations Clove (Syzygium aromaticum) Production With Fisiology Mecanism Ireng Darwati
Perspektif Vol 16, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v16n2.2017.%p

Abstract

ABSTRAKProduksi tanaman cengkeh berfluktuasi setiap 3-4 tahun sekali,  disebabkan variasi perubahan iklim yang berpengaruh terhadap fitohormon dan juga ekspresi gen pembungaan. Perubahan iklim yang sangat sensitif pada tanaman cengkeh yaitu perubahan musim penghujan, penyinaran dan suhu. Hujan yang cukup dan diikuti musim kering 2-3 bulan sangat dibutuhkan untuk induksi pembungan dan perkembangan bunga cengkeh. Pembungaan cengkeh dikendalikan oleh faktor genetik, fisiologi, iklim dan cara budidaya yang saling berhubungan. Hujan yang terus menerus akan mempengaruhi penyinaran matahari berdampak pada mekanisme kerja gen CONSTANS (CO) yang mengatur gen pembungaan. Perubahan tunas vegetatif dan generatif diatur oleh ekspresi gen TFL1, gen ini juga akan mempengaruhi ekspresi LFY dan AP1 untuk perkembangan infloresen. Curah hujan yang optimal dan nutrisi yang cukup akan meningkatkan pertumbuhan tunas tanaman sehingga kandungan GA dan auksin endogen meningkat, dan berpengaruh pada inisiasi pembungaan yang berdampak terhadap menurun produksi serta menyebabkan fluktuasi hasil.  Fluktuasi hasil cengkeh dapat dilakukan dengan pemberian zat penghambat pertumbuhan (retardant) dengan cara mengatur volume pembungaan. Beberapa penelitian aplikasi retardant yang telah dilakukan dapat menekan fluktuasi hasil cengkeh dengan baik. Pada tanaman cengkeh umur 5 tahun dengan pemberian paklobutrazol 2g/pohon dapat meningkatkan bobot kering bunga sebesar 2,68%. Sedangkan cengkeh umur 8 tahun dengan aplikasi paklobutrazol 2,5 g/poho dan 30 tahun dengan paklobutrazol 5g/pohon memberikan hasil bunga kering 6,038 kg/pohon dan15,75kg/pohon secara berurutan lebih tinggi dibanding tanpa pemberian retardan. ABSTRACT Clove plant production fluctuates every 3-4 years, this is due to variations in climate change that affect the phytohormone and also the expression of flowering gene. Climate change that is very sensitive to clove plants that changes the rainy season, irradiation and temperature. Adequate rain and followed by 2-3 months dry season is required for the induction and development flowering of clove. Cloves flowering is controlled by genetic, climatic and related physiology. Continuous rain will affect light intencity exposure and is associated with CONSTANS (CO) genes that depend on photoperiods, thus affecting other flowering genes.  Changes of vegetative to generative shoots are governed by TFL1 gene expression, this gene will also affect the expression of LFY and AP1 for the development of inflorescence. High rainfall and sufficient nutrients will increase the growth of bud shoots so that the content of GA and auxin endogenous increases. Increased GA will suppress the initiation of flowering so that production will decrease and may cause fluctuations of the product. To overcome the fluctuation of production can be giving retardant to prevent excessive flowering and also increase the flowering so that the difference of production each year are not too high. Some studies of retardant applications that have been performed show good results. In cloves aged 5 years with the provision of 2g/tree paclobutrazol can increase the weight of dry flowers by 2.68%. While the 8-year-old cloves with the application of 2.5g/tree paclobutrazol and 30-year-old with 5g/tree paclobutrazol gave 6.038kg/tree and 15.75kg/tree dried flowers higher than without application of retardant, respectively. 
Peluang Pengembangan Agave Sebagai Sumber Serat Alam BUDI SANTOSO
Perspektif Vol 8, No 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n2.2009.%p

Abstract

ABSTRAKAgave   merupakan   tanaman   penghasil   serat  alam potensial   dengan   keunggulan   serat   kuat,   tahan terhadap kadar garam tinggi, dapat diperbaharui dan ramah   lingkungan.   Serat   alam   agave   banyak dimanfaatkan   antara   lain   dalam   industri   rumah tangga, bahan interior mobil dan tali-temali. Produksi serat agave dunia pernah mencapai 300.000 ton yang dihasilkan dari Brazil, China, Kenya, Tanzania, Mada-gaskar,  Indonesia  dan  Thailand.  Agave  masuk  di Indonesia pada awal abad ke-19, yaitu sebelum perang dunia ke II.  Pada tahun 1939, salah satu perkebunan besar di Indonesia telah menanam agave seluas 10.000 hektar dengan produksi serat sebesar 23.000 ton, dan Indonesia pernah menghasilkan serat agave sebanyak 80.000 ton. Namun, dalam perkembangan selanjutnya pertanaman agave  semakin menurun.    Pada  tahun 2007 kebutuhan serat agave internasional 319.000 ton, namun produksi serat hanya mencapai 281.800 ton sehingga masih kekurangan pasokan sebanyak 37.200 ton.  Kebutuhan serat agave dalam  negeri periode 2006-2009 mencapai 1.982 ton/tahun; sebagian besar, yaitu 1.340 ton dipasok dari luar negeri, sisanya 642 ton diperoleh dari dalam negeri.  Rendahnya harga serat    agave    merupakan    salah    satu    kendala pengembangan  di  dalam  negeri; harga  serat agave dalam   negeri   hanya   Rp. 5.000,-/kg   dibandingkan dengan harga serat impor mencapai Rp. 9.000,-/kg. Input teknologi untuk mengembangkan industri serat agave sebenarnya sudah cukup memadai dan apabila tanaman  ini  diusahakan  dengan  asupan  teknologi yang   ada   maka   usahatani   agave memberikan keuntungan yang cukup signifikan dengan B/C ratio 1,29.  Dengan demikian pengembangan tanaman agave di dalam negeri masih prospektif, terutama di daerah yang secara tradisional sudah mengembangkan agave, seperti  di  Jawa  Timur  yang  memiliki    agroklimat, kesuburan tanah dan jenis tanah yang sesuai, seperti di Kabupaten Pamekasan, Sumenep, Sampang, Banyu-wangi,  Jember,  Lumajang,  Malang,  Blitar,  Tulung-agung, Trenggalek, Pacitan, Ngawi, Tuban, Bojonegoro dan Lamongan.Kata kunci: Agave cantala, A. sisalana, serat alam, lahan batu kapur, industri kelengkapan mobil.ABSTRACT Prospect of Agave Development as A Source of Natural FiberAgave is a prospective natural fiber-producing crop with superior fiber strength, resistant to high salinity, can   be   renewable,   and   environmentally   friendly. Agave natural fiber is widely used among others in household industry, interior materials and rigging. The world production of agave fiber had reached 300,000 tons  produced  by  Brazil,  China,  Kenya,  Tanzania, Madagaskar, Indonesia, and Thailand.  Agave was first introduced to Indonesia in the early 19th century that is before the World War II.  In 1939, one of the big estates in Indonesia planted 10,000 acres of agave with fiber production of 23,000 tons, and Indonesia had produced agave fiber as much as 80,000 tons. However, in the further  development  the  cultivation  of  agave  was declined. In 2007, the international demand of agave fiber   was            319,000   tons;   nevertheless,   the   fiber production  was  only  reached  281,800  tons,  so  still shortages of 37,200 tons.  In 2006-2009, the domestic demand of agave fiber reached 1,982 tons/year; most of 1,340 tons were supplied from abroad, the rest (642 tons)  was  supplied  from  the  country.  One  of  the constraints in the national development of agave fiber was the low of price. The domestic price of agave fiber was only Rp. 5,000/kg compared to the price of fiber import (Rp. 9, 000,-/kg). In fact, technological input to improve  the  fiber  industry  of  agave  was  quite sufficient,  if  this  crop  is  cultivated  with  existing technology  input;  thus,  the  agave  farming  system provides significant benefit with the B/C ratio of 1:29. Hence,  the  domestic  development  of  agave  is  still prospective especially in areas that traditionally had developed agave as in East Java that has suitable agro-climate,   soil   fertility,   and   soil   type   such   as   in Pamekasan, Sumenep, Sampang, Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ngawi, Tuban, Bojonegoro, and Lamongan districts.Key word: Agave cantala, A. sisalana, natural fiber, lime  stones area, car assesories industries.
PENINGKATAN PRODUKSI DAN MUTU RIMPANG BENIH JAHE PUTIH BESAR MELALUI APLIKASI ZAT PENGATUR TUMBUH The Production and Quality Improvement of Big White Ginger Seed Rhizomes by Plant Growth Regulator Aplication Devi Rusmin; Muhammad Rahmad Suhartanto; Satriyas Ilyas; Dyah - Manohara; Eny - Widajati
Perspektif Vol 19, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/psp.v19n1.2020.29-40

Abstract

Permasalahan utama dalam pengembangan tanaman jahe putih besar (JPB) adalah   terbatasnya ketersediaan rimpang benih bermutu dalam jumlah yang mencukupi, pada waktu diperlukan oleh pengguna. Permasalahan tersebut antara lain disebabkan oleh produksi dan mutu rimpang benih yang masih rendah, serta bobot rimpang benih yang cepat menyusut dan mudah bertunassaat di penyimpanan. Penulisan ini bertujuan untuk menginformasikan kepada pengguna tentang karakter pola pertumbuhan, keseimbangan hormonal dan perubahan fisiologis yang menjadi faktor perhatian utama dalam peningkatan produksi dan mutu JPB melalui aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT).Peningkatan produksi dan mutu dapat dicapai dengan penggunaan rimpang benih  bermutu yang diperoleh  melalui: penentuan pola pertumbuhan, pengaturan keseimbangan hormon, baik secara alami (pengaturan iklim mikro), maupun dengan pemberianZPT selama proses produksi di lapangan dan di penyimpanan. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) Pola pertumbuhan tajuk dan rimpang JPB selama pembentukan dan perkembangannya secara umum diklasifikasikan atas  tiga fase yaitu: fase lambat 1–4 bulan setelah tanam (BST), cepat (> 4–6 BST), dan pemasakan (> 6 BST).Rimpang benih JPB umur 7 BST sudah dapat digunakan sebagai bahan tanaman. (2) Perbedaan lokasi tanam dan umur panen mempengaruhi pola keseimbangan hormon endogen tanaman (rasio hormonABA/GA dan ABA/sitokinin (Zeatin) dan mutu rimpang benih JPB. Rasio ABA/sitokinin (zeatin) yang lebih tinggi pada rimpang benih umur 7 BST (5,0) dan 8 BST (4,7) dibanding rimpang benih umur 9 BST (4,2) untuk rimpang benih asal Nagrak, sehingga mampu memicu dan mempertahankan dormansi sehingga benih JPB lebih tahan disimpan.  (3) Periode dormansi benih rimpang JPB pecah setelah disimpan selama 2 bulan dan merupakan periode kritis atau periode yang tepat untuk aplikasi perlakuan penundaan pertunasan. (4) Aplikasi PBZ 400 ppm meningkatkan produksi JPB yang dinyatakan dalam bobot basah (22%) dan jumlah rimpang cabang (68%), dengan karakter rimpang: kecil, ruas pendek dan bernas, serta meningkatkan mutu dan daya simpan dibanding tanpa PBZ. (5) Aplikasi PBZ 1000 ppm, pada suhu ruang simpan 20 – 22 ºC, dapat menekan susut bobot sebesar 15% dibanding kontrol, setelah disimpan selama 4 bulan dan dapat menekan persentase rimpang bertunas sebesar 26% setelah 3 bulan disimpan.Permasalahan utama dalam pengembangan tanaman jahe putih besar (JPB) adalah   terbatasnya ketersediaan rimpang benih bermutu dalam jumlah yang mencukupi, pada waktu diperlukan oleh pengguna. Permasalahan tersebut antara lain disebabkan oleh produksi dan mutu rimpang benih yang masih rendah, serta bobot rimpang benih yang cepat menyusut dan mudah bertunassaat di penyimpanan. Penulisan ini bertujuan untuk menginformasikan kepada pengguna tentang karakter pola pertumbuhan, keseimbangan hormonal dan perubahan fisiologis yang menjadi faktor perhatian utama dalam peningkatan produksi dan mutu JPB melalui aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT).Peningkatan produksi dan mutu dapat dicapai dengan penggunaan rimpang benih  bermutu yang diperoleh  melalui: penentuan pola pertumbuhan, pengaturan keseimbangan hormon, baik secara alami (pengaturan iklim mikro), maupun dengan pemberianZPT selama proses produksi di lapangan dan di penyimpanan. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) Pola pertumbuhan tajuk dan rimpang JPB selama pembentukan dan perkembangannya secara umum diklasifikasikan atas  tiga fase yaitu: fase lambat 1–4 bulan setelah tanam (BST), cepat (> 4–6 BST), dan pemasakan (> 6 BST).Rimpang benih JPB umur 7 BST sudah dapat digunakan sebagai bahan tanaman. (2) Perbedaan lokasi tanam dan umur panen mempengaruhi pola keseimbangan hormon endogen tanaman (rasio hormonABA/GA dan ABA/sitokinin (Zeatin) dan mutu rimpang benih JPB. Rasio ABA/sitokinin (zeatin) yang lebih tinggi pada rimpang benih umur 7 BST (5,0) dan 8 BST (4,7) dibanding rimpang benih umur 9 BST (4,2) untuk rimpang benih asal Nagrak, sehingga mampu memicu dan mempertahankan dormansi sehingga benih JPB lebih tahan disimpan.  (3) Periode dormansi benih rimpang JPB pecah setelah disimpan selama 2 bulan dan merupakan periode kritis atau periode yang tepat untuk aplikasi perlakuan penundaan pertunasan. (4) Aplikasi PBZ 400 ppm meningkatkan produksi JPB yang dinyatakan dalam bobot basah (22%) dan jumlah rimpang cabang (68%), dengan karakter rimpang: kecil, ruas pendek dan bernas, serta meningkatkan mutu dan daya simpan dibanding tanpa PBZ. (5) Aplikasi PBZ 1000 ppm, pada suhu ruang simpan 20 – 22 ºC, dapat menekan susut bobot sebesar 15% dibanding kontrol, setelah disimpan selama 4 bulan dan dapat menekan persentase rimpang bertunas sebesar 26% setelah 3 bulan disimpan. ABSTRACT The main problems in the development of big white ginger plant (BWG) is the limited availability of quality seed rhizomes in sufficient quantities, at the time required by the user. Its caused by the production and quality of seed rhizomes are still low, and the seed rhizomes weight are rapidly shrinking and sprouting when in the storage. This Overview aims to inform users about the character of the pattern of growth, the balance of hormonal and physiological changes that are primarily focused on the production and seed quality improvement BWG through the application of plant growth regulator (PGR). Increased production and quality can be achieved by the use of quality seed rhizomes obtained through: determination of growth patterns, hormonal balance regulation, both naturally (microclimate regulation), as well as by application of growth regulators (ZPT) during the production process in the field and in storage. Some research results showed that: (1) The growth pattern of the canopy and GWB seed rhizomes during its formation and development is generally classified into three phases: slow phase 1-4 months after planting (MAP), fast (> 4-6 MAP), and maturty (> 6 BST). (2) Differences in planting location and harvest age affect the balance pattern of plant endogenous hormones (ABA / GA and ABA / cytokinin (zeatin) hormone ratios) and the BWG seed rhizomes quality. ABA / cytokinin ratios are higher in BWG seedlings aged 7 MAP (5.0) and 8 MAP (4.7) compared to 9 MAP (4.2) for seed rhizomes from Nagrak, so they are able to trigger and maintain dormancy so Its are more resistant to storage. (3) The dormancy period of BWG seed rhizomes break after stored for 2 months and this is a critical period or an appropriate period for sprouting inhibition treatment. (4) Application of PBZ 400 ppm increased production and quality of BWG seed rhizomes, namely: wet weight (22%) and number of branch rhizomes (68%) with rhizome characteristics: small, short and filled out internodes compared without PBZ. (5) Application of PBZ 1000 ppm, at a storage temperature of 20-22 ºC, can reduce weight loss by 15% compared to control, after stored for 4 months and also can reduce the sprouting percentage of rhizomes by 26% after stored for 3 months.
Pengelolaan Ekosistem Untuk Pengendalian Hama Lada I WAYAN LABA; IWA MARA TRISAWA
Perspektif Vol 5, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v5n2.2006.%p

Abstract

ABSTRAKHama merupakan salah satu kendala produksi lada di Indonesia.  Serangan hama terjadi sejak tanaman masih di pembibitan hingga produktif di lapangan.  Hama menyerang   berbagai   bagian   tanaman   antara   lain bunga, buah, pucuk, cabang, dan batang. Di Indonesia dikenal tiga hama yang menyerang pertanaman lada yaitu  penggerek batang (Lophobaris piperis Marsh.), pengisap buah (Dasynus piperis China) dan pengisap bunga (Diconocoris hewetti (Dist.)).  Populasi penggerek batang selalu ada di lapangan pada berbagai stadia (telur, larva, pupa, dan dewasa), sedangkan pengisap bunga dan buah populasinya  ditemukan pada musim bunga  dan  buah.  Pengendalian  hama  lada  pada umumnya petani menggunakan insektisida sintetik. Alternatif   lain   yang   dapat   digunakan   untuk mengendalikan   hama   lada   adalah   pengelolaan ekosistem, sehingga dapat meningkatkan pemanfaatan musuh alami antara lain parasitoid. Untuk meningkatkan  populasi  parasitoid  dapat  dilakukan konservasi   musuh   alami   melalui   tanaman   sela, tanaman  penutup  tanah  atau  penyiangan  terbatas. Tanaman  sela  yang  dapat  digunakan  antara  lain Arachis sp.,  Orthosiphon sp. Ocimum sp. dan  Coffea sp.Kata kunci: Lada, Piper nigrum, hama, bioekologi, pengendalian, ekosistem ABSTRACTEcosystem Management for Controlling Black Pepper PestPest is one of the obstacles of black pepper production in Indonesia.  The pest attacks all parts of the plant such as inflorescens, fruits, shoots, branches and stems at nursery as well as in the field. In Indonesia black pepper was infested by 3 species of pests, namely stem borer,  Lophobaris  piperis  Marsh,  pepper  berry  bug, Dasynus piperis China and lace bug, Diconocoris hewetti (Dist.).  The population of stem borers always presents in the field with different stages (egg, larvae, pupa and adult), while lace bug and pepper berry bug are found in the field during flowering and fruit stages. Control of black pepper pests by farmers is usually using syntetic pesticide. Other alternative to manage black pepper  pest  namely  ecosystem  management  and natural enemy such as parasitoid.  To increase the natural enemy population can be done by natural enemie   conservation   through   cover   crops,   mix cropping and limited weeding. Arachis sp., Orthosiphon sp., Ocimum sp. and Coffea sp. plants can be used in cropping system with black pepper.Key Words: Black pepper, Piper nigrum, pest, bioecology, management, ecosystem
Strategi Peningkatan Produktivitas Lada dengan Tajar Tinggi dan Pemangkasan Intensif serta Kemungkinan Adopsinya di Indonesia USMAN DARAS
Perspektif Vol 14, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v14n2.2015.113-124

Abstract

RINGKASANLada merupakan salah satu komoditas ekspor tradisional penting Indonesia. Capaian produktivitasnya secara nasional masih rendah (< 1.0 ton/ha), di bawah produktivitas negara penghasil utama lada lain seperti Vietnam, Brazil dan Malaysia. Banyak faktor yang diperkirakan berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas. Faktor tersebut dapat berupa kendala teknis maupun non teknis. Di antara sejumlah kendala teknis, aspek agronomi seperti kebiasaan petani menggunakan tajar pendek (+3.0 m), pemupukan dan pemangkasan yang tidak optimal diduga kuat berkontribusi terhadap masih rendahnya capaian tersebut. Penggunaan tajar tinggi (> 5 m) disertai pemangkasan optimal, baik terhadap tanaman pokok lada maupun tajar hidupnya sangat berpotensi meningkatkan produktivtas rata-rata lada nasional lebih dari 1,5 ton/ha/th. Produksi dan produktivitas lada nasional diharapkan dapat lebih besar lagi apabila disertai penerapan aspek budidaya menanam lada lebih dari satu pohon per tajar. Sosialisasi dan penerapan ketiga aspek budidaya lada tersebut pada tingkat lapang secara terencana dan berkesinabungan diharapkan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas lada nasional.Kata kunci: Lada, produktivitas, tajar hidup, pemang-kasanABSTRACTStrategy in Increase Productivity of Black Pepper With High Supports, Intensified Pruning and Its Adoption Possibility in IndonesiaBlack pepper is an important and traditional export commodity of Indonesia. The mean productivity of Indonesian black pepper is low (< 1 ton/ha) which is much lower than those of other producing countries such as Vietnam, Brazil and Malaysia. There are number factors influencing the low productivity of black pepper vines in the country, both technical and non-technical constraints. Among them, agronomic aspects such as the use of short supports or standards of about + 3.0 m in height, and unintensified pruning of both black pepper vines and its live supports are believed to contributing low in yields of the crop. In other words, the use of live supports with height of more than 5.0 m, followed by intensified pruning of black pepper vines and its live supports are able to increase the mean national productivity of the crop of higher than of 1,5 tons ha/year. Higher in yields or productivity of black pepper vine may be achieved if farmers not only adopt the two agronomic aspects but also other recommended cultural practices do. Hence, socialization and implementation of the improved cultural practice technologies for the crop is needed in the future, in turn, higher in yield or productivity of the crop as well as income of farmers be achieved.Keywords: Black pepper, productivity, live supports, pruning

Page 11 of 21 | Total Record : 201